
ABIMANYU'S HOUSE
"Mbok Nah, Mas Abi lagi ng-gym ya?" Tanya Anna pagi itu ke Mbok Nah yang sedang sibuk mencuci sayuran.
"Mbok Nah belum lihat tuh Non. Kayaknya sih gitu. Denger musik jedag-jedugnya mah." Ucap Mbok Nah.
"Hmm... Anna lihat dulu deh Mbok." Ujarnya dengan di-iyakan oleh Mbok Nah.
Anna menuju ruang gym Abi. Benar saja kata Mbok Nah, Abi sedang ng-gym. Kalau gak jogging ya ng-gym. Abi itu rajin olahraga dan olah tubuh. Makanya, walaupun sudah mencapai kepala tiga usianya masih seperti usia 20'an.
"Mas Abi" Panggil Anna.
"Oh, dek. Hhh... kenapa?" Tanyanya yang seraya meneguk satu botol air mineralnya.
"Ayo, sarapan dulu." Ucap Anna yang salah tingkah tak tau harus lihat ke arah mana.
Karena saat itu Abi hanya mengenakan kaos hitam tak berlengan dan celana pendek hitam serta keringat yang membanjiri tubuhnya. Makin hot dan sexy di mata Anna.
"Anna tunggu di ruang makan ya." Ucap Anna yang sesegera mungkin memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan rona pipinya.
Abi yang melihat istrinya merona di pipi, justru menambahkannya dengan mendekap Anna dan melumat bibir Anna.
Anna yang tak bisa berkutik di peluk oleh tubuh kekar Abi, hanya bisa pasrah dan... nikmatin aja... hahaha 😆
"Mas, udah. Ayo, sarapan dulu." Ucapnya dengan semu merah pipinya.
"Iya, Mas bersih-bersih dulu. Nanti menyusul." Ucap Abi dengan suara beratnya dan mengecup kening Anna.
Anna berlalu setelah memberikan ciuman lembut pada pipi Abi.
*****
Ketika Anna dan Abi sarapan, ponsel Anna berdering. Tertera dilayarnya "Aira". Anna sesegera mungkin mengangkat teleponnya.
" Assalamualaikum, Ra." Sapa Anna.
"Waalaikumsalam, An. Lo di mana?" Tanya Aira.
"Di rumah. Lagi sarapan sama Mas Abi. Kenapa?" Tanya Anna.
"Ntar siang jadi ketemu kan?" Tanya Aira.
"Iya. Ayah lo gimana kabarnya? Kata Icha udah dibawa pulang?" Tanya Anna yang khawatir dengan sohibnya itu.
"Alhamdulillah baik, An. Makasih ya buat perhatiannya. Doain aja semoga Ayah sehat terus." Ucap Aira.
"Iyaa... pasti. Gak usah terima kasih gitu kali. Kayak sama siapa aja luh. Eh, tapi nanti kita ketemu satu paket lho." Ucap Anna.
"Hah?! Satu paket? Maksudnya?" Tanya Aira bingung.
"Iyaa, satu paket sama suami kita. Hahaha... lo sama siapa nanti? Ntar melongo lagi. Hahaha..." Canda Anna.
"Yeee... emang yang punya suami lo doang. Gue juga punya keleeuss... hahaha..." Ujar Aira dengan candanya.
"Siapa? Oppa oppa lo itu? Hahaha..." Ujar Anna dengan tawa riangnya.
"Bukaan... ini beneran. Sama Mas Arka." Ucap Aira lantang dan jelas.
Sontak membuat Anna dan Abi tersedak dan batuk-batuk ketika makan. Yang kebetulan ponsel Anna di loud speaker jadi Abi pun bisa mendengarnya.
"Siapa, Ra? Arka??" Tanya Abi yang cukup terkejut dengan ucapan Aira.
"Iye. Gue. Ngapa dah luh? Kaget banget?" Ucap Arka di sebrang sana yang sudah mengambil alih ponsel Aira.
"Waahh... dahsyat sohib gue. Gilaak... Hahahahaha..." Lepas sekali tawa Abi dan sangat tidak menyangka Arka akan menikah dengan seorang perempuan. Padahal Arka paling terkenal gak bisa komit kalau sama perempuan.
"Iyaa... manusia kan punya wujud perubahan, Bi. Gak paham banget deh lo." Ujar Arka dengan wajah yang bersungut.
Percakapan mereka di telepon berlangsung ramai. Sampai Anna menyudahinya karena sudah terlalu lama.
Siang hari Anna dan Abi sudah bersiap untuk bertemu teman-temannya.
Abi mengenakan pakaian maskulin hitam-hitamnya. Polo shirt hitam, jaket hitam, celana jeans panjang hitam, dan sepatu hitam. Blackout.
Kalau Anna mengenakan longdress hitam motif bunga dengan jilbab hitam polos panjangnya sedada, sepatu kets hitam, dan mini black backpack.
Simple looks
*****
ARYO'S HOUSE
Alisha yang sedang memilah-milah baju Aryo untuk pertemuan dengan sohibnya siang ini, cukup sibuk.
Ia menyiapkan pakaian Aryo dengan T-shirt putih, jaket cokelat, celana jeans hitam panjang, dan sepatu kets warna putih.
Sedangkan Alisha menyiapkan longdress cokelat susu dengan motif kotak-kotak, jilbab polosnya warna cokelat, sepatu putih, dan slig bag cokelat susunya.
__ADS_1
"Waahh... sibuk banget kamu, dek?" Tanya Aryo yang baru saja selesai mandi. Ia masih mengenakan handuk putih yang dililitkan di pinggulnya.
"Iya, Mas. Aku lagi nyiapin bajunya Mas Aryo. Kayak gini style nya. Gak apa?" Tanya Alisha ke Aryo.
Aryo yang melihat istrinya begitu perhatian hingga terlihat antusias sekali menyiapkan pakaian untuknya, segera saja memeluknya.
Menciumi pipi Alisha yang chubby itu secara bertubi-tubi. Alisha yang hanya bisa pasrah dengan tubuh mungilnya di dekap oleh sang suami cukup menerima saja ciuman Aryo.
"Hahaha... Mas... udah. Nanti kita telat ketemu sama temen-temen." Ucap Alisha dengan memukul manja dada Aryo yang bidang tersebut.
"Habis aku gemes sama pipi kamu. Gigit ya... hehehe.." Ujarnya yang benar-benar gemas melihat pipi Alisha yang chubby itu.
"Eh, masa di gigit. Emang pipi ku apel? Hahaha... udah ganti baju dulu. Ini suka gak? Kalau enggak, Icha ganti." Jawabnya dengan menunjukkan susunan baju yang di mix and match oleh Alisha.
"Suka. Kamu tau selera style nya Mas Aryo ya?" Ujarnya kepada Alisha dengan merengkuh pinggang Alisha dan mengecup lalu melumat bibirnya.
"Mas, emang yang semalem kurang?" Tanya Alisha dengan wajah herannya kepada suaminya yang tak henti-hentinya menghujani dengan ciuman.
"Kurang. Mau lagii... hehehe..." Ujar Aryo yang ditepuk lengannya oleh Alisha.
"Hahaha... nanti lagi ya sayang... kita sekarang harus siap-siap. Aku udah terima banyak pesan dari teman-temanku nih." Ujar Alisha.
"Give me kiss first." Ucap Aryo yang agak manja ya hari itu sama Alisha.
"Mas Yo, manja nih... manja banget sih suamikuuuhhh..." Alisha mengecup kedua pipi Aryo dan melumat bibir suaminya tersebut.
Kecupan bibir yang hangat berubah menjadi lumatan-lumatan hasrat cinta keduanya.
*****
ALDI'S HOUSE
"Mas... ayo dong... mandi dulu, sayang..." Ajak Ayni yang susah sekali membangunkan Aldi.
"Kiss me." Ucap Aldi yang sudah memonyongkan bibirnya ke Ayni.
Ayni menyambutnya dengan mengecup singkat bibir Aldi.
"Udah, yuk. Mandi dulu." Ajak Ayni yang memegang lengan kekar Aldi untuk bangun dari kasur.
Alih-alih bangun dari kasur, Aldi malah menarik lengan Ayni dan mendekapnya di samping Aldi hingga wajah mereka berjarak hanya 1cm.
"Mas Aldi... ayo dong, sayang... gak enak nanti di tungguin sama temen-temen yang lain." Ucap Ayni kepada Aldi.
"Sebentar dek. 10 menit aja. Seperti ini. Aku kangen kamu." Ujarnya yang begitu manja dengan menangkupkan wajahnya di dada Ayni.
"Dek, kok kamu sexy banget? Pagi-pagi udah bikin pusakanya Mas berkedut." Ucap Aldi yang masih menangkupkan wajahnya di dada Ayni.
"Hahaha... Mas... dari semalem juga aku pake baju ini. Berarti Mas gak tau ya?" Ujar Ayni yang merasa gemas dengan suaminya.
"Maaf... Mas Aldi terlalu capek sepertinya. Sampai gak merhatiin adek." Ucapnya dengan beringsut menyamakan posisi tidurnya seperti Ayni.
"Iyaa... aku paham kok. Yasudah, sekarang bangun, mandi, kita sarapan, terus berangkat, yuk." Ujar Ayni yang berusah bangkit dari dekapan Aldi.
"Sebentar lagi. Aku mau berdua aja sama kamu. Seperti ini. Sebentaaarrr saja." Ujarnya dengan manja.
Ayni tak bisa berkutik. Ia hanya mengikuti maunya Aldi. Aldi mencium lembut bibir Ayni yang merah merona dan melumatnya dalam-dalam.
Setelahnya mereka mandi dan bersih-bersih, sarapan, dan bersiap pergi, Aldi menyiapkan mobil BMW X7 nya.
*****
ARKA'S HOUSE
"Mas Arka, ayo dong... masa tidur lagi sih. Tadi habis sarapan langsung mandi harusnya." Ujar Aira yang sedang sibuk memilah baju untuk Arka.
"Sebentar dek... Mas masih ngantuk." Ujarnya
Aira menyiapkan baju untuk Arka, t-shirt hitam polos, jaket denim, celana jeans hitam panjang, dan sepatu putihnya.
Sedangkan Aira menyiapkan pakaian longdress polos abu-abunya dengan jilbab motif bunga, slig bag hitam, dan flatshoes abu-abu.
"Kamu lagi siapin baju aku?" Tanya Arka yang memeluk Aira dari belakang.
Saat itu Aira tengah sibuk melipat kembali baju-baju yang tidak dipakai.
"Iya. Gimana Mas?" Tanya Aira yang menunjukkan baju untuk Arka.
"Bagus. That's my style." Ucapnya seraya mengecup pipi Aira.
"Makasih ya sayang... udah repot-repot nyiapin baju buat aku." Jawabnya seraya mengusap lembut pipi Aira.
"Iya, Mas. Aira suka kok melakukannya. Udah, sekarang Mas Arka mandi. Ayo, kasian nanti mereka menunggu. Kita kan jadi pemeran utama hari ini. Hahaha..." Ujar Aira yang tau betul ia akan mendapat sidang akbar oleh teman-temannya.
"Iya, iya. Mandi, mandi." Ucap Arka seraya pergi dan membawa handuk ke kamar mandi.
*****
__ADS_1
CAFE COFFEE
Mereka semua berkumpul di meja panjang kayu besar berwarna cokelat tersebut yang sudah di pesan Alisha sejak kemarin.
Namanya perempuan kalau ketemu pasti heboh. Tapi hebohnya bukan yang cengengesan dan cekikikan gak jelas.
Sampai Aldi membuka pembicaraan.
"Gimana, gimana, Ar? Cerita dong..." Ucap Aldi kepada Arka.
"Sorry bro, dadakan banget." Ucap Arka yang mulai menceritakan kisahnya dengan Aira. Hingga mereka menikah.
"Wahh... gue gak nyangka, Ar." Ujar Aryo.
"Gak nyangka gimana maksud lo?" Tanya Arka bingung.
"Gak nyangka karena lo bisa berkomitmen dengan satu perempuan. Seorang Arkaaa... hahaha..." Ujar Aryo dengan tawa riangnya membuat satu meja tersebut tertawa.
"Kan setiap orang berhak untuk berubah. Mungkin dengan adanya Aira bisa mengubah Arka lebih bisa bertanggung jawab dengan hidupnya. Gak galau-galauan lagi. Hahaha..." Ujar Aldi dengan ledekannya.
"Puas lo pada. Ngeledekin gue? Ledek aja terooss..." Ucap Arka dengan mencibikkan bibirnya.
"Bi, kok lo gak komen sih? Gue jadi takut." Ujar Arka dengan wajah merindingnya.
"Gue No comment lah. Hidup, hidup lo, yang jalanin. Susah, senang lo yang harus hadapi sama istri lo. Apapun yang terjadi." Ujar Abi.
"Gue cuma mau bilang. Inget, Ar... ini pernikahan. Bukan persinggahan. Dikala lo sendu lo kapan aja bisa ke sini. Tidak! Bukan. Ini ikatan janji suci yang lo buat berdasarkan keputusan lo." Lanjut Abi.
"Tanggung jawab dan kesabaran lo sebagai lelaki di uji disini. Harus bisa jadi contoh yang benar dan baik buat istri dan lo harus bisa jaga istri lo tetap pada track nya Allah." Ucap Abi.
"Kita ini termasuk lelaki beruntung. Mendapatkan seorang istri yang sudah menutup auratnya. Yang karakter istri kita bukan karakter yang mudah ditindas." Abi.
"Perempuan-perempuan hebat yang ada di samping lo yang akan menentukan surga buat lo nanti. Buat kita sebagai suaminya dan pastikan kita sebagai lelaki pantas untuk menjadi taman syurga oleh istri-istri kita." Abimanyu.
"Gue juga masih belajar untuk jadi suami yang pantas menjadi taman syurganya Anna. Yang penting balancing life aja. Kerjaan kita itu banyak godaannya. Yang memicu kita sebagai lelaki dituntut untuk menjaga pandangan." Abimanyu.
"Bro, wanita itu hatinya selembut kapas. Sekali aja lo lukai, lo gak bisa balikin seperti awal. Ini sih yang diajarin istri gue ke gue. Ya, dek?" Tanya Abi dengan seulas senyumnya kepada Anna.
"Iya, Bi. Gue juga masih berusaha untuk jadi suami yang pantas buat istri gue. Apalagi ilmu agama gue masih cetek banget." Ujar Aryo.
"Ngomongin soal ini jadi inget. Gue dari kemarin nganggurin Ayni karena jadwal operasi bedah yang ampun deh padet banget. Sampe lupa mau hubungin Ayni. Dosa banget gue ya sama istri gue?" Ujar Aldi yang mengelus lembut kepala Ayni.
"Enggak kok Mas... kan Mas Aldi sudah bilang dari awal sama Ayni akan sangat sibuk. Ya gak apa-apa." Ucap Ayni dengan seulas senyum manisnya.
"Kadang kita laki-laki itu suka menganggap enteng tentang komunikasi, ya. Padahal komunikasi itu penting banget. Meski cuma sekedar se-hai se-hi. Nanya hal-hal macem udah makan apa belum. Sebenarnya itu bangun chemistry antara suami sama istri, lho." Jelas Abimanyu.
"Iya sih... kita laki-laki terlalu menganggap remeh hal-hal macem gitu. Padahal istri nunggu kabar kita ya. Ckckck... laki-laki emang." Ucap Aldi.
"Makasih lho... sudah sadar diri atas semuanya... hahaha..." Ujar Ayni.
"Tapi kita perempuan juga mengakui bahwa kami sering buat kalian berpikir dalam dengan bilang "gak apa-apa" padahal lagi kenapa-kenapa. Iya gak? Hehehe..." Ucap Aira.
"Iya. Bikin orang puyeng sendiri. Hahaha..." Ucap Arka.
"Seharusnya kalau sudah menikah tak ada lagi kata-kata itu. Ungkapin aja semuannya sama suami kita. Suka tidak suka, pahit atau manis, tapi dengan cara yang sopan." Ujar Alisha.
"Lo pernah begitu An?" Tanya Aira.
"Pernah. Waktu Mas Abi lagi tugas ke Europe kan sempet berminggu-minggu, ya Mas? Hehehe..." Ucap Anna dengan cengiran kudanya.
"Iya, waktu itu emang perusahaan lagi hactic banget. Gue beneran lupa buat ngehubungin Anna dan sampe pada titik dimana gue dapat kabar kalau ada penguntit masuk ke apartment gue. Baru sadar, kalau gue udah punya istri yang lagi nungguin gue." Ujar Abi.
"Dari situ gue belajar. Apa yang udah ada sama lo, apalagi istri yang pengertian banget sama lo, udeh... gak usah neko-neko. Meskipun ada yang lebih cantik atau yang lebih dari istri lo, lo harus inget. Dari awal lo sudah berjanji untuk jaga dia. Kalau lo ngelanggar janji itu, ya... neraka siap nyambut lo. Gitu aja. Hehehe..." Terang Abimanyu.
"Beda dah yang pengalaman perjodohan paling awal mah... Hahaha..." Ujar Aryo.
"Beda lah... jurusnya aja beda. Walaupun satu perguruan." Ucap Aldi dengan candaannya.
"Tapi bener yang dibilang sama Abi. Kita beruntung menikahi perempuan yang sudah menutup auratnya. Yang mempunyai nilai plus untuk karakternya. Karena anak-anak kita nanti madrasah awalnya ada di istri gue dan istri kalian." Ujar Aldi.
"Iya, Al. Allah tuh sayang banget sama kita. Kita diberikan jalan yang mudah untuk mendapatkan tambatan hati kita. Ini ujiannya. Sanggup gak kita ajak istri ke jalan Allah. Masya Allah... tausiyah cinta. Hahaha..." Ujar Arka.
Para istri? Mendengar saja celotehan suaminya yang begitu kagum dengan para suaminya.
Tidak hanya hebat dalam bidangnya, tapi hebat juga dalam mendidik dan mengerti pola pikir istrinya.
*****
*jarak, harta, jabatan, status sosial
tidak akan berlaku
jika Allah sudah berkata:
"Dia Jodohmu*".
*****
__ADS_1
source from pinterest @tausiyahcinta_