
Setelah pulang dari Mall dan acara perbincangan malam itu, Anna, Abi, Ina, Dimas, Dito, dan Arka pulang ke rumahnya masing-masing.
ABIMANYU'S HOUSE
"Mas Abi..." Panggil Anna dengan suara lembutnya ketika melihat Abi yang masih berkutat dengan laptop nya.
"Iya dek..." Jawab Abi yang pandangannya masih tertuju pada benda elektronik tersebut.
"Mas Abi, masih lama?" Tanya Anna dari balik pintu ruang kerja Abi di rumahnya.
"Belum tau, dek. Soalnya besok udah harus diserahin ke team project untuk di riview." Terang Abi.
"Oh, yasudah. Anna duluan ke kamar ya, Mas." Ucapnya dengan seulas senyum.
Anna tidak marah kepada Abi karena kesibukannya. Hanya saja ia sedang rindu. Walau hanya sekedar ingin berbincang ringan.
Anna menutup pintu ruang kerja Abi dan kembali ke kamarnya dengan hati sedih. Namun, yasudahlah... ini resikonya menikahi pewaris tunggal perusahaan terbaik se-Indonesia dan se-mancanegara itu.
Anna berbaring di kasur dan merebahkan tubuhnya disana. Ia bergerak miring dan tak terasa bulir air mata mengalir di ujung matanya. Segera saja ia hapus.
Abi yang sedang serius mengedit gambar tetiba teringat pembicaraan antara dia dan Om Reza. Jangan pernah menyia-nyiakan waktu dengan orang yang kamu sayang.
Abi segera mengesave editannya dan mengirim email. Mematikan laptop dan menghampiri istrinya di kamar.
"Dek..." Panggil Abi ke Anna. Namun, tak dilihatnya Anna di kamar.
"Anna..." Panggil Abi kemudian.
"Sayang..." Panggil Abi dengan wajah mulai agak panik karena tak menemukan istrinya di kamar.
"Mas Abi..." Panggil Anna dengan suara paraunya.
Sontak membuat Abi terkejut melihat Anna berada di ruang ganti pakaian dengan tubuh tergeletak di lantai dan bersimbah darah di perutnya.
Tertusuk !
"Astagfirullah... Anna..." Teriak Abimanyu yang terlihat begitu terkejut dan sangar khawatir dengan Anna.
"Ya, Allah, sayang..." Ucapnya yang sudah dengan mengalir air matanya karena rasa bersalahnya meninggalkan Anna.
Abi memanggil semua ART nya. Mereka pun terkejut namun tak banyak tanya, mereka langsung sigap ada yang menelepon polisi dan ada yang menyupir untuk Abi membawa Anna ke RS.
FLASHBACK ON
Anna saat itu sedang berbaring di kasur. Namun, ia merasa tak nyaman dengan pakaiannya dan ingin berganti pakaian.
Saat menuju ruang ganti pakaian Anna melihat dua orang laki-laki yang sedang mengacak-acak ruang ganti pakaian.
Anna berteriak minta tolong, namun tak ada yang mendengar. Anna sempat melawan dengan taekwondo dan judo yang sabuk hitamnya punya.
Lawannya pun sempat kuwalahan melawan Anna karena Anna terlalu kuat. Sampai salah satu dari mereka menyerang Anna dengan menusukkan pisau ke perutnya di saat Anna sedang meninju orang yang satunya.
Jatuh tersungkurlah Anna di ruangan tersebut. Entah apa yang mereka cari, namun Anna menemukan sebuah microSD yang sempat Anna genggam di tangannya.
Kedua orang tersebut pergi tanpa berkata dan meninggalkan Anna bersimbah darah begitu saja.
"Mas... Ab..ii..." Panggil Anna dengan sisa tenaganya.
FLASHBACK OFF
RS. SOENGGONO
"Dokteeerrr...!!! Dokterrr!!!" Teriak Abi dengan berlari dari lobby ke UGD.
Aldi dan Reza yang saat itu sedang bertugas segera menghampiri Abi.
"Astagfirullah. Abimanyu! Apa yang terjadi?!" Teriak Om Reza kepada Abi yang begitu terkejut.
"Bi, ada apa ini? Anna kenapa?" Tanya Aldi.
"Om, Al, please... selamatin istri gue. Gue mohon." Ucap Abi dengan panik dan tangisnya.
Reza dan Aldi segera membawa Anna ke ruang operasi.
"Bi, gue gak tau ada kejadian apa. Tapi, lo harus hubungin Mas Adi (Papanya Abi Kakaknya Dr. Reza). Untuk penjagaan yang ketat buat Anna." Ujar Reza kepada Abi.
"Bi, don't panic. Focus. Jangan sampai trauma kamu balik lagi. Om Reza mohon. Tenang dan fokus. Okey. Serahin Anna sama Om Reza dan Aldi." Ujar Om Reza.
Abi segera menghubungi Papa Adi dan Mama Rani. Dilanjutkan menghubungi Ayah Bagas dan Bu Anin.
Untungnya mereka semua sedang ada di Jakarta maka segera mereka ke RS.
Dengan berlari dan tergesa-gesa mereka menghampiri Abi yang menunggu di depan ruang operasi.
"Abiii... Anna gimana?" Ujar Bu Anin.
"Masih di dalam Bu. Sedang ditangani oleh Om Reza dan Aldi. Doakan baik-baik semua ya, Bu." Ucap Abi dengan menggenggam kedua tangan Bu Anin.
"Bi, kok bisa begini?" Tanya Mama Rani dengan derai air matanya.
"Maafin Abi, ya Ma, Bu. Abi lengah menjaga Anna." Ujar Abi yang menahan rasa sakit dihatinya melihat istrinya terbaring dan terluka seperti itu.
Abi menceritakan kepada Ayah Bagas dan Papa Adi tentang kejadiannya.
"Bi, mungkin gak kalau orang itu datang lagi? Dia sudah tau kelemahanmu, Nak..." Ujar Papa Adi dengan nada khawatir.
"Abi, apa yang Ayah bisa bantu?" Ucap Ayah Bagas.
Jenderal mah ngerahin anak buah juga bisa. Yang nyerang salah orang tuh... udah bikin anak jenderal berdarah-darah.
"Yah, Pa, Abi perlu bodyguard."
"Pa, boleh tolong bantu Abi cari tau siapa dibalik penyerangan ini? Kalau benar memang orang itu kembali lagi. Abi sudah kuat Pa. Jauh lebih kuat. Karena ia salah berurusan dengan orang yang salah. Berani melukai Anna, berarti ia berani mempertaruhkan nyawanya ke Abi." Ujar Abi dengan mantap.
__ADS_1
Suster keluar dari ruang operasi.
"Maaf, apa kalian keluarga Bu Anna Maheswari Prayogo?" Tanya Suster tersebut.
"Iya. Sus, saya suaminya." Ucap Abi tegas.
"Pak, Bu Anna kehilangan banyak darah. Bu Anna butuh donor darah. Golongan darah Bu Anna adalah (A-) kami hanya ada satu kantong. Sedangkan Bu Anna butuh 3-4 kantong. Adakah yang bergolongan darah yang sama dengan Bu Anna?" Tanya Suster tersebut.
"Saya Sus!" Ucap Abi mantap.
"Golongan darah saya sama dengan istri saya. Ambil sebanyak yak istri saya mau Sus." Ujar Abi dengan sendu diliputi khawatirnya.
"Saya Suster!" Ucap Dika yang berlari dari arah koridor menghampiri keluarganya di depan ruang operasi.
"Ambil darah saya. Untuk Mba Anna." Ucap Dika dengan menahan tangisnya.
"Baik, kalian boleh ikut kami." Ujar suster tersebut.
Saat pengambilan darah
"Bang, Ayah sudah cerita sama Dika semua saat Dika perjalanan ke RS." Panggil Dika ke Abi.
Dika memanggil Abi dengan sebutan Abang karena Anna melarang Dika memanggilnya Mas Abi.
Dika ingat sekali saat Anna bilang "Yang boleh panggil Mas Abi dengan sebutan Mas cuma Anna. Yang lain gak boleh panggil Mas. Itukan panggilan sayang Anna ke Mas Abi."
Semenjak itu, Dika memanggil Abi dengan sebutan "Abang/Bang" demi Kakak tercintanya.
"Maaf ya Dik, Abang lengah jaga Mbakmu Anna. Abang terlalu sibuk dengan urusan kantor." Suara Abi tercekat ketika ia mengingat kembali Anna yang mengetuk pintu ruang kerjanya dan Abi ingat betul wajah Anna sendu ketika Abi bilang masih perlu waktu untuk menyelesaikannya.
"Bukan Bang Abi yang salah. Emang keadaan aja. Namanya manusia Bang... gak ada yang perfect. Yang sempurna itu Allah." Ucapnya dengan seulas senyum.
Sungguh, Abi beruntung sekali bertemu dengan keluarga Anna. Ia bertemu dengan mertua yang sangat ia hormati dan sangat menyanyanginya seperti anak sendiri.
Adik ipar yang berasa seperti adik kandung. Sudah dewasa ia sekarang. Tak kalah tampan dengan Abang iparnya.
Dan anak sulungnya yang sangat Abi cintai. Sangat. Begitu ia cintai. Abi tak tau harus bagaimana jika tak ada Anna.
"Bang, Dika siap bantu apapun. Buat Mba Anna." Ujar Dika dengan tatapan sendunya.
Abi tau bahwa Dika juga sama terpukulnya dengan Abi. Tapi ia tak ingin mengungkapkannya karena menghargai dan menghormati Abi.
"Makasih ya Dik. Abang pasti bilang kalau butuh apapun ke kamu." Ujar Abi dengan menyunggingkan seulas senyum.
Setelah pengambilan donor...
Reza dan Aldi keluar dari ruang operasi. Semua, Abi, Ayah Bagas, Bu Anin, Papa Adi, Mama Rani, dan Dika menunggu jawaban dari Om Reza dan Aldi.
"Abi, Anna selamat. Ia sudah melewati masa kritisnya. Walaupun goresannya cukup lebar, tapi tidak melukai rahimnya." Aldi menjelaskan bagian yang cukup penting untuk di dengar.
Buat Abi, Anna selamat, itu sudah membuatnya bahagia. Itu sudah lebih dari cukup.
"Bi, sepertinya ada perlawanan dari Anna. Karena tadi Om lihat ada bekas guratan biru di leher Anna. Kemungkinan Anna di cekik dari belakang dengan seutas tali." Ucapan Reza membuat tubuh Abi lemas.
"Abi, Anna akan kita pindahkan ke ruang rawat inap malam ini. Jaga dia baik-baik. Karena sejak di ruang operasi, ia sempat terbangun sebentar dan menyebut nama lo." Ucap Aldi dengan memegang pundak Abi.
Anna dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP Room tersebut.
"Abi, temui Om Reza di ruangan." Ujar Reza kepada Abi.
"Ayah, Bu, Ma, Pa, Dik, saya tinggal sebentar ya. Abi titip Anna. Kabari Abi segera jika ada perubahan kondisi Anna." Ucapnya yang dengan berat hati.
Mereka pun berjaga bergantian. Pengawal yang diminta Abi oleh Papanya sudah bersiaga di dekat ruangan dan begitupun dengan Ayah Bagas yang sudah menyiapkan beberapa mata elang untuk berjaga di sekitar RS. Karena kemungkinan penyerang itu akan kembali untuk mengusik Anna dan Abi.
Saat Abi di ruangan Dr. Reza disana juga ada Aldi.
"Abi, Om hanya ingin memastikan psikis mu baik-baik saja. Om harap kamu bisa mengikuti semua permintaan Om Reza tanpa protes." Ujar Om Reza.
Abi pun menurutinya. Daripada di kasih 1 album full omelan Om Reza. Maka, Abi turuti saja deh. Setelah selesai di cek
"Keren kamu, Bi. Kamu bisa melawan traumamu. Hebat!" Ujar Om Reza.
"Obatnya Abi itu cuma Anna, Kak." Ujar Aldi dengan senyumnya.
"Eh, Al, tadi lo kenapa langsung jelasin ke rahimnya Anna? Kan di jelasin dulu tusukan di perut Anna seharusnya, bukan?" Tanya Reza bingung kepada Aldi.
"Iyaa... tapi kan yang mereka butuh informasi bukan gimana dan dimana Anna tertusuk. Tapi gimana kondisi rahimnya. Kan ditusuknya di perut."
"Perut bukannya rahim? atau mungkin ada yang berpikir, kalau yang ditusuk perut, rahimnya ikut kena? Padahal gak kayak gitu, sebelum menuju rahim, itu tusukan, si pisau haru melewati dinding perut." Ujar Aldi.
"Tapi, Bi. Luka bekas tusukannya Annya lumayan panjang. Kamu masih nafsu?" Ledek Reza.
"Om, sempet banget bahas kayak gitu? Abi gak kepikiran malah Om... mau ada sayatan kek, mau ada goresan kek, Abi gak peduli. Yang penting Anna kembali ke sisi Abi, Anna siuman, Abi bisa peluk Anna lagi. Itu udah cukup buat Abi. Gak lebih." Ujarnya dengan tatapan nanar.
"Santai Bi... santai... tenang, Insya Allah Anna gak apa. Semoga dia lekas siuman." Ujar Aldi dengan menepuk pundak Abi.
"Tapi Bi, biasanya perempuan itu agak kurang percaya diri dengan bekas lukanya. Kalau ternyata Anna mau menghilangkan bekas luka dengan harga yang mahal gimana, Bi?" Tanya Reza. Usilnya Omnya sama ponakan sendiri.
"Abi turutin Om. Mau berapapun biayanya buat Abi gak akan masalah. Yang penting Anna ada disamping Abi. Anna baik-baik aja dan sehat, udah lebih dari cukup buat Abi. Abi gak pernah mempermasalahkan fisik Anna." Jelas Abi.
"Duh, ampun. Ponakan Om Reza udah cinta mati kayaknya." Ujarnya sambil menampilkan cengiran kudanya.
Setelah perbincangan konyol antara Reza, Aldi, dan Abi, Abi kembali ke kamar menemui Anna.
Abi mengucapkan terima kasih dan maaf kepada Mama, Papa dan Ayah, Ibu, serta Dika untuk bantuannya.
Abi meminta mereka untuk pulang dan istirahat. Namun mereka tak ingin. Mereka akan pulang jika Anna benar-benar sudah sadar.
Akhirnya mereka memutuskan untuk menginap di apartment Reza yang jaraknya cukup dekar dengan RS.
Di VVIP room hanya Abi dan Anna. Hati Abi sakit sekali melihat Anna terbaring lunglai karena dirinya.
Abi menggenggam tangan Anna, mengecup dalam punggung tangan Anna dan mengecup kening Anna cukup lama dengan meneteskan bulir air matanya.
__ADS_1
"Maafin Mas, ya sayang. Maafin Mas yang lengah menjagamu. Aku mohon, bangun sayang..." Bisik lirihnya di telinga Anna.
"Aku mencintaimu Anna... kumohon, segeralah bangun. Aku disini untukmu sayang." Ucap Abi sambil mengecup kembali kening Anna.
Yang empunya sampai bangun...
"Mas gak mau cium bibir Anna?" Ujarnya yang baru saja membuka mata.
"Anna... sayang... kamu sudah sadar?" Abi senang sekali. Begitu senangnya hingga ia menitikkan air mata dan mengecup kening Anna cukup dalam dan lama.
"Cium bibirnya enggak?" Ledek Anna dengan seulas senyumnya.
Tanpa menunggu lama, Abi langsung melumat bibir Anna dan menyudahinya dengan kecupan lembut Abi.
"Dek, apa yang sakit? Hm?" Tanya Abi lembut... sekali.
"Ini sakit..." Ucap Anna sambil menunjuk dadanya.
"Adek ada yang luka di dada? Mas panggilin Aldi sama Om Reza ya." Abi ingin beranjak dari duduknya. Namun Anna mencegahnya.
"Dada Anna sakit bukan karena luka berdarah. Tapi karena melihat laki-laki yang aku sayang menangis karena aku. Kok Anna dosa banget ya? Udah buat Mas Abi sedih betul seperti ini?" Ujarnya dengan mengelus lembut pipi Abi. Abi mengecup lembut telapak tangan Anna.
"Sayanggg... gak ada yang berdosa. Gak ada. Makasih, dek. Kamu sudah sadar. Itu cukup buat Mas Abi senang." Ujarnya dengan senyum dan mengecup kembali telapak tangan Anna.
Anna senang sekali melihat Abi yang tersenyum. Bagai obat untukknya yang sedang merasakan nyeri di sekujur tubuhnya.
Abi segera menghubungi kedua orangtuanya dan mertuanya. Ia juga memanggil Aldi dan Om Reza untuk mengecek Anna kembali.
"Bi, mungkin fisiknya Anna baik-baik aja. Tapi lo harus bersiap sama psikisnya." Ujar Om Reza yang berbicara di luar ruangannya. Anna masih berbincang dengan Aldi.
"Maksud Om? Anna akan trauma?" Tanya Abi dengan khawatir di wajahnya.
"Anna punya phobia gelap bukan?" Tanya Om Reza.
"Iya dan itu sudah mulai berkurang Om." Ujar Abi.
"Kemungkinan akan muncul kembali. Traumanya dia akan ruang gelap. Karena ia di serang saat di ruangan yang meski tidak terlalu gelap, tapi suasananya gelap. Ngerti kan maksud Om?" Jelas Om Reza.
"Abi, untuk sementara ini, jangan jauh-jauh dari Anna dan Anna bukan wanita bodoh. Dia sangat cerdas. Secerdas dia tau bahwa ia akan mengalami trauma dengan kejadian ini dan secerdas dia menyembunyikan rasa takutnya." Lanjut Om Reza.
"Kamu harus peka Abi dengan apa yang dirasakan Anna. Mungkin ucapan atau tindakanmu akan menyinggung Anna. Sekiranya wajahnya mulai agak kecewa atau sedih, segera rengkuh dia. Jangan biarkan berlarut. Karena akan mempengaruhi psikisnya."
"Apapun keluhannya, jangan pernah lelah mendengarnya. Dia perempuan yang kuat fisikinya dan sangat cerdas mengelola emosinya. Jarang ada wanita seperti itu. Jadi tetap dampingi dan jangan menyalahkan. Dengarkan saja dan temani dia terus. Karena itu yang dia butuhkan."
"Abimanyu, kamu boleh menyiapkan pengawal untuk Anna. Tapi kawal ia dalam jarak jauh. Jika Anna bilang ia tidak nyaman, kamu segera jauhkan pengawalnya dan kamu yang harus ada disampingnya. Jangan biarkan dia sendiri. Apapun yang terjadi. Ingat, Abi. Jangan pernah menyia-nyiakan orang yang mencintaimu dan yang kamu cintai. Jika kau tak ingin menyesal seumur hidupmu."
"Anna akan cerita tentang apa yang ia rasakan. Pasti. Hebatnya lagi, ia akan sangat jujur dan rasional dengan keadaannya. Dan kamu Abimanyu, juga harus berpikir secara rasional tapi tetap gunakan hatimu. Demi wanita yang kau cintai." Jelaa Reza panjang x lebar.
"Apa traumanya akan berkepanjangan? Atau bisa kita cegah atau kita kurangi mungkin?" Tanya Abi khawatir.
"Tidak akan berkepanjangan jika kejadiannya tak terulang. Jika kejadiannya terulang, kemungkinan terburuknya, dia akan merasa sangat down dan merasa ia yang salah lalu ujungnya dia akan meninggalkanmu. Dengan dalih kepercayaannya bahwa kamu akan aman dan bahagia tanpanya." Penjelasan Om Reza kali ini berhasil membuat Abi terduduk lemas dan mengusap wajahnya lesu.
"Abimanyu! Jangan menyerah. Sekarang kamu yang harus kuat. Jangan biarkan bayangan traumamu itu muncul kembali. Demi wanita yang kamu cintai Abi. Sekarang ada Anna yang harus kamu jaga. Kamu harus kuat. Lebih dari apapun." Ucap Om Reza dan menepuk pundak Abi untuk memberikan semangat.
Pembicaraan mereka usai bersamaan dengan Aldi yang baru keluar dari ruang rawat Anna.
"Abi, Anna nyariin lo tuh. Dia bilang "Masa harus ditusuk dulu baru diperhatiin. Hahaha..." Begitu masa dia bilangnya. Hahaha... koplak dah istri lu___" Belum sempat Aldi melanjutkan ucapannya, Abi segera masuk ke ruangan. Tak ingin meninggalkan Anna sendiri.
"Mas Abi dari mana? Lama banget diskusinya sama Om Reza?" Tanya Anna yang sedang meminum air mineral di botol.
Ia ingin menutupnya kembali, tapi entah kenapa begitu lemas tangannya. Lalu Abi yang membantunya menutup botol tersebut.
"Maaf ya sayang... Mas kelamaan diluar." Ujar Abi yang segera membaringkan tubuhnya di samping tubuh Anna.
"Masa harus ditusuk dulu baru diperhatiin? Hahaha..." Ujar Anna dengan tawa renyahnya.
"Maafin Mas ya dek... Maaf, Mas terlalu egois dengan urusan Mas Abi." Ujar Abi yang mendekap erat tubuh Anna.
"Mmm... di maafin gak ya? Di maafin apa di cuekin aja ya? Hehehe..." Ujarnya dengan tawanya.
"Dimaafin dong... masa Mas di cuekin. Disayang dan dicantai juga boleh." Ucap Abi dengan senyum cengiran kudanya.
"Uduh uduh... aku digombalin... hahaha... aah..." Tawa Anna yang terhenti karena merasa jahitan di perutnya begitu sakit saat tertawa.
"Kenapa dek? Apa yang sakit? Dimana yang sakit? Mas Abi panggilin Aldi ya? Dia yang operasi kamu. Dia yang ta___" Belum sempat Abi menyelesaikan ucapannya, Anna sudah mencium bibir Abi untuk menghentikan pertanyaan beruntunnya.
"Anna rinduuu sekali sama Mas Abi. Sangat rindu." Ujarnya dengan senyum tapi mata yang berkaca-kaca.
"Mas jauh lebih merindukanmu, sayang... teramat sangat." Ucap Abi dengan menghapus air mata Anna dengan ibujarinya.
"Sungguh?" Tanya Anna.
"Iya. Sungguh. Mas Abi gak akan ninggalin adek lagi. Nyuekin adek lagi. Sibuk dengan urusan Mas lagi. Mas Abi janji." Ujar Abi dengan mencium pelipis Anna.
"Mas, jangan pernah membuat janji yang Mas sendiri tidak tau Mas akan menepatinya atau tidak. Anna tidak ingin berharap lebih. Karena Anna tau, rasanya sakit."
"Menunggu janji Mas Abi yang berkata tak akan meninggalkan Anna tapi nyatanya Mas terlalu sibuk dengan urusan Mas Abi."
"Hingga Anna sempat terpikir, apa Anna sudah tak dibutuhkan lagi? Apa Anna harus pergi saja? Iya? Harus begitu?" Ucapan Anna membuatnya melepaskan pelukan eratnya kepada Abi.
"Apa Anna harus menjadi seperti sekarang ini? Terluka dulu baru Mas menengok? Apa sebegitu pentingnya urusanmu Mas?" Tanya Anna yang meluapkan segala emosinya kepada Abi.
Abi?
Dia diam seribu bahasa. Tak ada ucapan apapun dari mulutnya. Karena ia tau, istrinya butuh meluapkan segala emosi yang ia punya. Memang, Abi yang tidak peka dengan hal itu.
Anna menangis tersedu, terisak, hingga sesenggukan. Abi ingin menghapus air mata Anna tapi tangannya dihalau lembut oleh Anna.
Perih, pilu, sakit sekali hati Abi yang telah membuat wanita yang dincintai dan mencintainya menangis terisak seperti ini.
Hancur sudah hati Abi melihat Anna begitu sakit menangis dalam heningnya malam.
"Dek, Mas mohon. Sudahi sedihmu sayang. Hatiku pilu melihatnya." Teriak Abi dalam batinnya. Abi hanya mendekap Anna serta mengecup dalam dan lama ubun-ubun Anna.
__ADS_1
Anna tak bergeming. Ia menangis dalam diamnya malam. Isak tangisnya merobek perih hati Abi. Namun, tak ada yang bicara. Mereka diam tanpa kata.
*****