Sajak Rindu

Sajak Rindu
CHAPTER 14: CURHATAN AYNI


__ADS_3

BUTIK AYNI


Anna melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia sesegera mungkin datang ke butik Ayni. Anna tidak enak membuat teman-temannya menunggu. Sewaktu di apotek, teman-temannya meminta Anna untuk membeli cemilan.


Akhirnya, Anna memarkiran mobil Range Rover Sport milik Abi di depan supermarket. Anna membeli beberapa cemilan, membayarnya, kemudian menaruhnya di jok sebelahnya.


Sampai di depan butik Ayni, Anna memarkirkan mobilnya. Sejak di mobil tadi Anna sedang memikirikan cara untuk membicarakan tentang Dr. Aldi dan Adit kepada Ayni.


"Ay, itu customer lo yang baru? Kece bener mobilnya. Hahaha..." Celetuk Aira.


"Eh, iya deh Ay, itu mobil paling keren. Pelanggan baru, Ay? Artis kali... Hahaha..." Ledek Alisha.


"Kayaknya bukan deh. Perasaan gak ada. Artis paling yang kemaren aja. Ini siapa ya?" Ujar Ayni.


Sontak mata mereka terbelalak ketika melihat sahabatnya turun dari mobil mewah tersebut. Yup, Anna. Mata mereka terbelalak. Anna bawa mobil Range Rover ? Rezeki emang ya, punya laki tajiirrr...


"Assalamualaikum..." Sapa Anna kepada karyawan-karyawan di butik Ayni.


"Waalaikumsalam..." Ucap mereka serempak.


"Mbak Ann kemana aja, baru keliatan?" Tanya salah satu pegawai.


"Lagi banyak kerjaan. Sibuk ngurus suami. Hahaha..." Jawab Anna dengan candanya.


"Ayni ada?" Tanya Anna.


"Ada Mba An. Di atas. Di ruangan Bu Ayni." Jawabnya.


"Ok. Thank you." Ujar Anna sembari memberikan beberapa cemilan yang ia belikan untuk karyawan Ayni juga.


Anna menaiki tangga. Letak ruangan Ayni berada di atas. Yang ruang pertama untuk ruang kerja dan ruang kedua, untuknya beristirahat. Sedangkan ruang yang ketiga untuk para karyawannya isoma (isitirahat, sholat, makan).


"Assalamualaikum... teman-teman... Aahhha... kangeeeenn..." Ucap Anna dengan semangatnya. Ia memeluk semua teman-temannya. Udah kayak teletabis. Hahaha...


"Eh, cumi. Gue pikir lo lupa gak jadi kesini." Ucap Aira yang kalau bicara emang begitu bahasanya.


"Gak mungkin gue lupa. Kalau telat mungkin. Hehehe..." Ujar Anna.


"Apa kabar ciinn...?" Tanya Alisha ke Anna.


"Alhamdulillah kabar baik, Cha. Lo gimana kabarnya? Project makin banyak kayaknya. Laki numpuk dong? Hahaha..." Ledek Anna ke Alisha.


"Anna sekalinya diem, diem banget. Sekalinya ngomong celetukannya bikin orang pengen nendang." Ucap Alisha yang mencibikkan bibirnya.


"Hahahaha... kalau udah kumpul, pasti rame. Seneng gue." Ujar Ayni.


"Apa kabar, Bu Haji?" Tanya Anna yang masih menyimpan senyum lesung pipinya.


"Kabar baik, Nyaah... eh, udah gitu belum sih julukannya? Hahaha..." Ujar Ayni yang dengan candaanya.


"Auw amat..." Ucap Anna sambil ngeloyor mengambil cemilan-cemilan yang tadi dibawanya dan menaruhnya di tengah-tengah mereka.


"An, itu kening lo kenapa?" Tanya Ayni.


"Ohh, ini biasa... lagi kangen aspal. Hehehe..." Ucapnya sambil lalu hanya karena tidak ingin membuat teman-temannya khawatir.


"Lo kesini udah izin suami lo belum?" Tanya Alisha.


"Udah. Mas Abi udah mengizinkan. Tadi pagi baru gue anterin Mas Abi ke bandara. Ada tugas ke luar Negeri." Terang Anna.


"Luar Negerinya mana An?" Tanya Aira


"Benua Eropa. Swiss kalau gak salah." Jawabnya sambil membuka cemilan singkong dihadapannya.


"Ke Swiss aja? Apa ada Negara lain juga?" Tanya Ayni.


"Enggak. Ke 3 atau 4 Negara gitu kalau gak salah. Lama deh pokoknya. Tapi Benua Eropa semua." Jelas Anna kepada teman-temannya.


"Ke Turki gak tuh An?" Tanya Aira yang antusias sekali.

__ADS_1


"Kayaknya iya. Gak paham gue juga. Belum nanya sama Papa Adi, mertua gue. Yang tau jadwalnya soalnya beliau." Jawab Anna.


"Emang kenapa, Ra?" Tanya Anna.


"Kalau ke Turki, nitip bungkusin, cowok Turki satu. Yang ganteng, bewoknya tipis. Hahaha..." Celetuk Aira kepada Anna.


"Pertanyaannya, itu laki Turki, kalo udah dibawa ke Indonesia, doi mau gak sama lo? Hahaha..." Ujar Alisha dengan candanya membuat bibir yang dimonyongkan.


"Eh, kita kan kesini mau dengerin Ayni curcol. Kok jadi lo berdua yang heboh." Ucap Anna mencoba menengahkan.


"Ay, lo mau cerita apa?" Tanya Anna.


"An, gue sebenarnya mau tanya sama lo. Waktu lo dijodohin itu gimana?" Tanya Ayni yang sudah mulai terasa panas matanya dan tumpahlah...


Ayni ini haluuss... sekali hatinya. Mudah terharu, mudah menangis dan menangisnya Ayni itu bukan karena cengeng atau lemah. Justru kalau sampai dia nangis, kita baru tau kalau dia punya masalah. Karena diantara Anna, Aira, Alisha, dan Ayni, orang yang paling jarang curhat itu Ayni. Sekarang puncaknya Ayni ngeluarin unek-uneknya. Kita yang harus gantian jadi pendengar.


"Waktu gue dijodohin? Itu kejadiannya cepet banget Ay. Bahkan gue sendiri aja gak tau kalau gue dijodohin. Yang kayak gue pernah cerita ke lo semua. Dalam waktu 1 minggu gue sama Mas Abi dari yang belum kenal sama sekali, sampai sekarang jatuh cinta masing-masing. Ahaai..." Ujar Anna yang mulai memerah pipinya.


"Gue juga dijodohin, kawan..." Ujarnya dengan nada yang lirih.


"Lo dijodohin? Sama siapa?" Tanya Aira yang shock.


"Iya. Ayah sama Bunda ke Solo minggu lalu. Gue disuruh nyusul ke Solo juga. Setelah gue sampai Solo, malamnya Ayah & Bunda cerita kalau Ayah & Bunda mau jodohin gue sama anak dari sahabat Ayah. Lo tau kan, Ayah gue jantungnya lemah. Gue gak bisa nolak." Jelas Ayni kepada teman-temannya.


"Tapi, Ay, lo udah browsing belum calon suami lo kayak apa? Lo udah tanya ke Bunda sama Ayah belum?" Tanya Alisha.


"Udah. Bunda sama Ayah juga meyakinkan gue kalau kali ini mereka tidak akan salah. Tidak seperti kejadian yang dulu." Ayni menundukkan kepalanya dan mulai meneteskan air mata.


Aira menggeser tubuhnya, Anna dan Alisha mendekatkan jarak mereka ke Ayni.


"Lo udah coba lihat calon lo belum? Minta foto apa sosmednya doi?" Tanya Aira.


"Udah. Gue udah lihat fotonya. Gue juga udah tau profesinya. Latar belakang keluarganya. Insyaa Allah, ia calon imamku yang baik, kawan." Ujar Ayni dengan membuat seulas senyum di bibirnya.


"Ay, gue boleh tanya sesuatu?" Tanya Anna dengan memastikan bahwa Ayni sudah baik-baik saja.


"Iya, An. Boleh. Tanya aja. Lo mau tanya apa? Kok serius gitu?" Ucap Ayni yang sudah mulai mereda tangisannya.


Pertanyaan Anna mengundang tepukan keras di pundak dan di tangan Anna dari Aira dan Alisha yang membuat Anna meringis kesakitan.


Belum aja Mas Abi lihat, kalau Mas Abi lihat, kalian pasti diomelin, huh. Batin Anna.


"Hei... sudah, sudah, Ra, Cha. Kasihan Anna, sakit dipukul gitu." Ujar Ayni yang berusaha menengahi. Bundanya anak-anak, hehehe...


"Enggak kok Anna. Gue gak merasa keberatan dengan pertanyaan itu. Kalau ditanya apakah gue berharap Adit lagi? Enggak. Sama sekali enggak. Alhamdulillah gue masih menjalani istiqarah, dan jawabannya bukan Adit. Tapi laki-laki tersebut. Entah siapa namanya, tapi seperti ada magnet yang menarik aku untuk mengenalnya lebih dekat. Perasaan apa itu, gak paham juga. Hati tuh pengennya sama dia." Jelas Ayni.


"Sama dia? Itu maksudnya sama yang baru dijodohin ini? Siapa deh namanya?" Tanya Alisha.


"Dr. Aldi namanya." Jawab Anna enteng. Seketika semua mata tertuju kepada Anna. Saat itu, Anna merasa sedang dihujam berbagai pertanyaan.


"Ayo, cerita. Lo tau apa?" Tanya Aira yang sudah menodongkan pertanyaan. Membuat Anna semakin mengkeret. Berceritalah Anna.


"Jadi gini ceritanya. Tadi kan gue ke RS. Mitra Soenggono mau obatin luka di kening ini. Terus berobatnya sama Dr. Aldi Dewangga Wibowo atau biasanya dipanggil Dr. Aldi. Nah, saat gue mau masuk RS, Dr. Maira manggil gue." Lanjut Anna bercerita.


"Dr. Maira itu Tantenya Mas Abi. Suaminya Dr. Maira yang punya RS. Mitra Soenggono. Namanya Dr. Reza. Dr. Aldi itu tadinya tugas di Afrika, cuma di telepon sama Dr. Reza untuk kembali ke Indonesia karena di RS. Mitra Soenggono kekurangan Dokter bedah. Dr. Aldi itu adik kelas Dr. Reza dan Dr. Maira sewaktu kuliah di New York. Dr. Aldi juga sohibnya suami gue, Mas Abi."


"Dr. Aldi mendapat telepon dari Papanya. Terus yang bersihin luka gue Dr. Maira. Setelah Dr. Maira bantu gue bersihin luka, Dr. Aldi baru selesai menerima telepon, masuk lagi kan tuh ke ruangan. Ditanya sama Dr. Maira, yang nelepon siapa, terus ada apa. Teruss..."


"Ceritalah Dr. Aldi ke Dr. Maira bahwa Dr. Aldi dijodohkan dengan anak teman Papanya. Dr. Aldi minta foto calon istrinya ke Papanya. Dikirimlah foto tersebut. Yang bikin gue shock adalah, foto itu, fotonya Ayni."


Anna menarik nafas...


"Dr. Aldi juga sama terkejutnya kayak gue. Dr. Maira sampe diam seribu bahasa saking shocknya. Yang lebih shock lagiii... Dr. Aldi itu sahabatnya Aditya Reynand Wicaksono. Adit!! Sahabat dekat Dr. Aldi dan kegalauan pun melanda..." Anna menangkupkan kedua bibirnya menandakan ceritanya sudah selesai.


Aira dan Alisha tidak bisa menutupi rasa shocknya. Terlihat dari wajah mereka berdua yang begitu terkejut.


Ayni? Dia sungguh terkejut hingga menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Siapa yang tidak terkejut mendengar cerita tersebut. Anna yang tidak mengalami secara langsung saja terkejut. Apalagi Ayni. Tak terbayang perasaan Ayni seperti apa.

__ADS_1


"Ay... Ayni... gue minta maaf, kalau cerita gue bikin lo sedih atau galau. Beneran, gue gak ada maksud seperti itu." Ujar Anna dengan memegang pundak Ayni.


"Gak ada yang salah Anna. Justru gue mau makasih sama lo. Udah ceritain semua ke gue. Makasih ya, An. Juara deh kalo jujur lo tuh." Ayni mengacungkan ibu jarinya sambil mengelap air matanya.


Tak lama, ponsel Ayni berdering. Dilayar ponselnya tertera "Bunda".


" Assalamualaikum, Bunda. Kenapa Bund?" Sapa Ayni.


"Ayah, ndok. Ayah masuk Rumah Sakit. Jantungnya kumat. Segeralah ke Solo, ndok. Rumah yang di jakarta, titipkan dulu ke Mbok Mar." Ucap Bunda dari sebrang yang suaranya sudah panik memburu.


"Iya, Bund. Ayni terbang ke Solo sekarang." Ujarnya dengan terburu-buru menutup telepon.


"Kenapa Ay?" Tanya Anna.


"Ayah masuk Rumah Sakit. Jantungnya kumat. Gue harus balik sekarang ke Solo." Ucap Ayni yang sudah panik.


"Ayni, tenang dulu! Kita bantuin! Sekarang lo tenang. Lo rapihin dulu baju dan perlengkapan yang lain, kita bantu untuk cari tiket pesawat dan gue anter lo ke bandara. Okey. Tenang dulu ya..." Ujar Anna yang sedikit membuat Ayni lebih tenang sambil mengusap-usap punggung Ayni.


Alisha membantu Ayni merapikan pakaian dan mengepaknya di koper. Untungnya di butik, Ayni menyediakan pakaian ganti.


Aira sibuk mencari tiket pesawat melalui online. Aira paling jago kalau cari-cari barang, tempat atau tiket-tiket online macem gini.


Anna menyiapkan mobil dan berbicara kepada karyawan Ayni. Anna menginformasikan untuk sementara butik di handle oleh Alisha, Aira, dan Anna.


Untuk hari itu, butik tutup lebih awal.


Alisha dan Ayni turun membawa koper beserta Aira. Anna sudah menunggu di mobil. Sebenarnya semuanya bisa menyetir. Hanya saja yang kondisinya masih bisa fokus menyetir hanya Anna. Alisha sibuk menenangkan Ayni dan Aira sibuk mencari-cari tiket pesawat.


Anna menyalakan mesin mobilnya dan meluncur ke bandara Soetta.


Tak lama mereka sampai di bandara. Anna memarkir mobil dan menyusul teman-temannya yang sudah masuk duluan ke bandara.


"Gimana, Ra. Udah bisa tiketnya?" Tanya Anna yang bergegas menghampiri Aira.


"Udah kok, An. Ini udah gue ambil." Jawab Aira dengan menunjukkan 1 tiket pesawat.


"Berangkat jam berapa pesawatnya?" Tanya Anna sambil menggiring Aira berjalan menuju Alisha dan Ayni.


"Jam 17:00 disini terteranya." Jawab Aira.


"Yaudah, kita tunggu sini aja kali ya. Suruh mereka kesini deh. Bentar gue telepon dulu." Ujar Anna yang merogoh ponselnya di tas dan menelepon Alisha.


Alisha dan Ayni pun menghampiri Anna dan Aira. Ayni masih terduduk lemas. Ingin sekali Anna menemaninya. Tapi gak bisa... Anna harus pulang karena besok ia ada seminar lagi.


Pengeras suara mengumumkan bahwa penumpang pesawat B***k A*r segera masuk.


Ayni bersiap masuk. Namun, Anna menghentikan langkah Ayni.


"Ay, dengerin gue. Apapun yang terjadi disana. Jangan pernah pikirkan masa lalu lagi. Lo harus maju. Gak boleh lemah. Gue tau, Ay. Hati lo kemana. Tapi gue juga tau, lo gak mau egois. But, please just for this time you have to selfish. You have to rich your happiness with someone that you love. Okey." Ucap Anna kepada Ayni dengan memegang pundaknya.


"Iya, Anna. Gue paham. Peluk sini..." Ujar Ayni yang memeluk sahabatnya seperti seorang Ibu. Namanya juga Bundanya anak-anak.


"Ay, harus kabarin kita terus. Apapun yang terjadi. Gak boleh kita dilewatin." Pesan Aira kepada Ayni.


"Ay, kalau jadi akad nikah, tanyain suami lo punya adek atau kakak gak yang siap nikahin gue lahir batin." Ujar Alisha yang sontak membuat mereka semua tertawa.


"Bodoamat, Cha." Jawab Anna dengan malas.


"Makasih ya semua... bye. Assalamualaikum." Ucap Ayni.


"Waalaikumsalam, Bundaaa..." Anna, Aira, dan Alisha. Penurut ya. Baguuss...


*****


DI DALAM PESAWAT


Ayni masuk ke pesawat dengan pikiran yang berkecamuk. Sampai-sampai ia tak tau kalau ada tas di atasnya yang hampir jatuh di kepala Ayni.


Untung ada seorang laki-laki yang membantunya menahan tas tersebut. Bapak-bapak yang mempunyai tas tersebut segera meminta maaf kepada Ayni.

__ADS_1


"Terima kasih, ya Mas___" Suaranya tercekat. Saat ia melihat laki-laki itu.


\*\*\*


__ADS_2