Sajak Rindu

Sajak Rindu
CHAPTER 46: SEKEDAR BERBINCANG


__ADS_3

Saat itu Anna dan Abi sedang berkeliling Istanbul dengan sentuhan langit malamnya. Anna menggandeng tangan Abi yang kekar.


"Dek, Mas Abi laper deh. Makan yuk..." Ajak Abi.


"Boleh... Mas Abi mau makan apa?" Tanya Anna yang melingkarkan tangannya di lengan Abi.


"Mmm... apa ya? Sambil lihat-lihat deh yuk." Ajak Abi yang berkeliling sambil melihat-lihat tempat makan.


Akhirnya sampai lah mereka pada satu tempat makan yang menyajikan beragam makanan.


"Mas, pesannya jangan banyak-banyak. Anna yang setengah porsi aja." Ujar Anna kepada Abi.


"Kan adek dari tadi di pesawat juga dikit makannya. Banyakan dikit gak apa ya, sayang. Nanti kamu sakit." Ujar Abi yang khawatir dengan kondisi Anna. Agak pucat sih memang.


"Enggak Mas. Dikit aja ya..." Anna senang jika bertravelling ke Turki.


Tapi untuk makan, Anna tak begitu suka dengan menu yang ada dagingnya. Apapun jenis daging dan masakannya.


"Yaudah, yang penting adek makan deh. Benar kata Ibu Anin. Anna itu bukan tipe yang mudah untuk mencicipi makanan yang ada dagingnya." Ucap Abi kemudian.


"Hehe... maaf ya Mas..." Ucap Anna seraya menyandarkan kepalanya di bahu Abi.


Cuaca disana cukup dingin. Untung datengnya sama pasangan halal. Bisa berpelukaann... 😆


"Adek ngantuk ya?" Tanya Abi yang tahu betul kalau istrinya sudah mulai bergelendotan dengannya itu ada dua hal, kalau gak ngantuk, ya manja. 😁


Kalau kali ini ngantuk nih... keliatan dari mata Anna agak sayu gitu.


"Enggak. Dingiiinn..." Ucap Anna yang semakin mengeratkan lingkaran tangannya di lengan Abi.


"Sini, peluk Mas Abi.." Ujarnya yang kemudian mendekap erat Anna.


Abi sengaja memilih tempat duduk yang agak memojok dan bersandar pada dinding. Karena Abi tau, jam segini Anna pasti sudah mulai mengantuk.


"Mas Abi..." Panggil Anna yang berada di dekapan Abi.


"Ada apa sayang...?" Jawabnya.


"Makasih ya Mas, untuk kebahagian ini. Anna senangg... sekali." Ujarnya yang mendongakkan kepalanya melihat Abi dengan seulas senyum.


Seketika itu juga Abi mencium bibir Anna dan melumatnya. Cukup lama dan dalam, adegannya gitu.


"Mas sangat mencintaimu, dek. Sangat. Alhamdulillah jika kamu bahagia bersama Mas Abi." Ucap Abi dengan tatapan sendunya.


"Hh... Anna selalu kalah dengan tatapan sendunya Mas Abi. Kok ya, suami aku ganteng banget?" Ujar Anna yang membenamkan kepalanya di dada bidang Abi.


"Aku begini gantengnya juga bukan Mas yang minta. Hahaha..." Ujar Abi dengan tawa lepasnya. Anna hanya mencubit manja suaminya.


Saat makanan datang:


"Bu nedir?(What is this?)" Tanya Anna kepada salah satu pelayan.


"Bu geleneksel türk yemeğidir. (This is traditional Turkish food)." Ujar sang pelayan.


"Teşekkür ederim (Thank you)." Ucap Anna.


"Rica ederim (You are welcome)." Ujar sang pelayan.


"Kamu nanya apa, Dek?" Tanya Abi kepada Anna yang bingung dengan istrinya sedang berbicara apa.


"Anna tanya, ini makanan apa? Terus pelanyannya bilang, ini makanan tradisional Turkey. Anna bilang terima kasih. Terus pelayan bilang sama-sama gitu." Ujar Anna sambil mengambil piring, sendok, dan garpu untuk sang suami.


"Makasih sayang..." Ucap Abi yang sudah disiapkan peralatan makan.


"Rica ederim, sayın." Ucap Anna yang membuat Abi mengerutkan alisnya tanda tidak mengerti.


"Sama-sama, sayang..." Ucap Anna kembali mengartikannya.


"Ohh... hahaha..." Tawa Abi dengan riang.


Makan malam hari itu tidak banyak hanya mencicipi beberapa makanan seperti Kumpir, Baklava, Kebab, dan Manti.


Anna dan Abi begitu romantis. Anna menyuapi Abi dengan tangannya sendiri. Abi yang begitu manja ingin disuapi Anna.


"Adek gak mau coba Kebab nya? Enak lho..." Ujar Abi dengan meledek Anna.


"No, thank you." Ucap Anna sambil menyilangkan tangannya.


Abi hanya tertawa ringan sambil mengusap-usap kepala Anna.


"Mas gak suka tomat ya?" Tanya Anna.


"Iya. Tomat, belimbing, yang asem-asem deh. Mas gak suka." Ucap Abi.


"Kalau makanan rasa manis gimana? Suka?" Tanya Anna dengan menyuapkan satu sendok kentang ke mulut Abi.


"Enggak. Kalau terlalu manis atau pedes gak suka. Yang sedang-sedang aja deh rasanya pokoknya." Terang Abi.


"Terus masakannya Anna gimana? Enak gak? Baru nanya setelah selama ini masak ya? Hahaha..." Ujar Anna dengan tawa riangnya.


"Hahaha... setelah sekian lama baru nanya. Tapi masakanmu itu enak. Enak banget. Bikin betah di rumah. Hehehe..." Ucap Abi dengan senyum pasta giginya.


"Alhamdulillah kalau enak. Kalau dirasa Anna masaknya ke asinan atau terlalu pedas, kasih tau ya Mas. Anna lebih suka jujur pahit dibanding bohong manis. Hahaha..." Ujar Anna.


"Iyaa... Mas Abi pasti bilang. Kita ini pasangan yang paling jujur. Gak ada yang bisa kode. Hahaha..." Ucap Abi dengan tawa riangnya.


"Hahaha... iya Mas. Bener. Anna tipe perempuan yang kalau suka dan gak suka pasti bilang."


"Kalau ingin sesuatu atau cemburu, Anna pasti bilang. Paling gak bisa memendam gitu. Aku kan baik hati dan tidak sombong. Hahaha..." Ujar Anna dengan tawa renyahnya.


"Hahaha... iya, Dek. Kelihatan dari awal Mas Abi kenal kamu, kamu itu orangnya blak-blakan banget. Kalau ngomong jujur."


"Jujur banget bahkan terkadang bikin sakit hati. Tapi apa yang kamu bilang itu bener. Makin nyebelin kan tuh. Jujur dan benar lagi. Hahaha..." Ucap Abi dengan tawanya.


"Iya Mas... maaf ya. Lambe kan begini emang... Hahaha..." Ujar Anna dengan riangnya. Abi pun jug sama, tertawa begitu geli.


"Haduuhh... dek... sakit perut Mas Abi. Ketawa mulu dari tadi." Ucap Abi.


"Yee... tertawalah sebelum tertawa itu dilarang Mas. Hahaha..." Ujar Anna dengan tawa riangnya.


"Ada-ada aja kamu, dek. Oh, ya besok kita mau trip kemana nih? Biar bisa prepare." Ujar Abi dengan menyuapkan kebab ke mulutnya.


"Emm... aku mau naik balon udara. Di Cappadocia." Ujar Anna dengan senyum sumringahnya.


"Ohh... okay. Terus habis makan adek mau kemana? Mau jalan-jalan dulu atau langsung ke hotel?" Tanya Abi dengan meminum Cay (Teh) Turki.


"Mm... mau jalan-jalan dulu kayaknya. Mau lihat Turki di malam hari. Hehe..." Ujar Anna dengan meminum Limonata (Ice Lemon).


"Okay. Kita jalan-jalan dulu deh." Ujar Abi sembari meminum kembali Cay nya.

__ADS_1


*****


"Masya Allah... Mas Abi... indah sekali pemandangan malamnya..." Ucap Anna dengan mata berbinar.


"Cantik ya, Dek. Kerlap-kerlip." Ucap Abi dengan melakukan backhug kepada Anna.


"Kerlap-kerlip?" Anna.


"Kupandang langit


penuh bintang bertaburan


berkelap kelip seumpama intan berlian


tampak sebuah lebih terang caha nya


itulah bintang ku bintang kejora yang indah selalu." Anna bernyanyi dan Abi tersenyum riang.


"Kamu tuh dek... udah kayak Saipul Jamal. Hahaha..." Ucap Abi dengan tawanya.


"Hehehe... keinget aja sama lagu itu. Tiba-tiba Mas..." Ujar Anna dengan senyum pasta giginya.


"Mas Abi, kan Mas suaranya bagus tuh kalau bernyanyi. Boleh kali, Anna di nyanyiin. Satu lagu aja. Hehehe..." Ucapnya sambil melengos tak melihat Abi.


"Suara Mas Abi biasa aja. Biasa nyanyi di kamar mandi. Kan adek tau. Heheh... ntar telingamu gatel dengar suara Mas Abi. Hahaha..." Ucapnya dengan meledek Anna.


"Huuh... yasudah kalau gitu." Ucap Anna yang memandang pemandangan malam lagi.


*****


Abi mengajak Anna untuk berkunjunga ke salah satu cafe milik temannya di Turki tersebut.


"Mas, masih jauhkah?" Tanya Anna yang melingkarkan tangannya di lengan Abi.


"Enggak kok dek, 5 menit lagi. Adek capek ya?" Tanya Abi dengan menatap Anna.


"Enggak. Anna senang sekaliii... bisa lama-lama sama Mas Abi... hihihi..." Ujar Anna yang senyum sumringah.


Abi yang gemas denga sikap manja sang istri mengecup ubun-ubun Anna.


"Mas..." Panggil Anna.


"Iya, Dek?" Jawab Abi.


"Anna mau itu..." Tunjuk Anna dengan ice cream chocolate yang di jajakan di sebrang jalan.


"Boleh. Mas beliin. Mas Abi kesana. Adek, tunggu aja disini. Soalnya kayaknya ngantri." Ujar Abi.


"Okay. Anna tunggu disini ya." Ucap Anna yang menunggu di pedestrian.


"Tunggu, ya sayang." Ujar Abi dengan mengelus lembut pipi Anna. Anna mengangguk tanda mengiyakan.


Abi menyebrang dan mengantri ice cream chocolate untuk istri tercinta. Setelah menunggu lama, Abi melihat Anna dan melambaikan tangan kepada Anna. Tanda bahwa ia akan segera menyusulnya.


Anna memberikan tanda bahwa ia yang akan menyebrang dan menyusul Abi. Karena letak cafe teman Abi berada tak jauh dari tempat ice cream tersebut.


Anna menunggu hingga lampu berubah warna hijau dengan tanda gambar pejalan kaki.


Anna beranjak dari tempatnya dan melangkahkan kakinya ke zebra cross. Namun, saat ia melangkah ada sedan hitam melaju dengan kecepatan tinggi.


Mobil itu sengaja mengarahkan kemudinya kepada Anna. Dan...


Anna jatuh tersungkur karena di tarik oleh seorang laki-laki. Abi yang melihat kejadian tersebut, sangat terkejut dan menjatuhkan ice cream yang ia beli.


Abi berlari tak pandang lampu lalu lintas. Ia menerobosnya sudah dengan hati yang gelisah, hancur tak karuan jika terjadi sesuatu dengan Anna.


Para pengawal mereka pun segera meringkus dan mengamankan sang pengemudi.


"Annaaa..." Teriak Abi dari jauh dan sambil berlari.


"Anna, Ya Allah... sayang..." Ucap Abi yang dengan nafas memburunya menghampiri Anna yang sedang terduduk di pedestrian.


"Mas Abiii... hiks..." Ucapnya dengan air mata.


"Ya Allah... Anna..." Abi langsung memeluk erat Anna. Mengecup ubun-ubunnya.


Hati Abi sungguh terlonjak tajam. Ia terduduk lemas melihat istrinya yang luka-luka seperti itu.


"Sayang... yang mana, yang luka? Sakitnya sebelah mana, hm?" Tanya Abi yang berusaha menenangkan hatinya dan bertanya dengan suara selembut mungkin.


"Sakit semua... hiks... hiks... hiks..." Ujar Anna dengan merintih.


"Kita ke rumah sakit ya." Abi membopong Anna dan Anna melingkarkan tangannya di leher Abi dengan menangis terisak karena begitu shock dan merasakan sakit di sekujur tubuhnya.


Pengawal Abi dan Anna segera bertindak cepat. Ada yang mengawal Anna dan Abi. Ada yang membawa si pengemudi ke kepolisian.


Sesampainya di rumah sakit, dokter memberi tahu Abi bahwa ada luka Anna yang harus di jahit.


Abi mengiyakan. Karena darah yang keluar dari pelipis Anna tak berhenti.


Bekas jahitan Anna di kening yang sebelumnya, robek karena terbentur aspal.


Akhirnya dokter melakukan tindakan segera untuk memberikan jahitan diluka yang sebelumnya dan luka yang baru.


"Sayang... kalau tidak dijahit lukanya, akan infeksi nanti. Mas Abi mohon... sekali. Ikuti permintaan Mas Abi ya... buat Mas Abi senang. Ya?" Ucap Abi dengan sangaatt... lembut lalu mengusap kepala Anna.


Akhirnya setelah bujuk rayu Abi, Anna mau melakukannya. Dengan syarat, Abi tak boleh kemana-kemana. Harus di dekat Anna.


Abi menuruti mau istrinya tersebut. Ia menggenggam erat tangan istrinya. Anna menjerit ketika jarum suntik membius lukanya.


*Sakitnya kayak ngeliat mantan nikah sama sahabat yang nikung.


*Bodoamattt 😑


Abi tentu tak tega. Sakit sekali melihat Anna lebam dan terluka seperti itu. Abi sangat geram dengan pengendara tersebut.


Setelah sekian lama kegiatan menjahit kening tersebut, Abi diminta dokter menebus obatnya untuk penghilang nyeri yang dirasa oleh Anna.


"Dek, tunggu sebentar ya. Mas mau ambil obatnya dulu." Ucap Abi yang beranjak dari kursi tunggu. Namun Anna menariknya.


"Mas Abi segitu teganya sama Anna? Udah diobatin. Terus ditinggal gitu aja? Hiks... hiks..." Ucap Anna dengan sisa tenaganya.


Abi mengalah. Ia meminta pengawalnya yang menebus obat untuk istrinya.


"Dek, Mas kan hanya ke depan situ. Gak jauh dari tempat kamu nunggu. Adek juga biss lihat Mas Abi." Ucap Abi dengan lembut. Memberi pengertian kepada Anna.


"Mas... bukan masalah jauh atau dekatnya. Mas tau gak rasanya ketakutan? Hiks..., Mas tau rasanya dihantam benda tajam dan tumpul dalam jarak waktu tak lama? Hiks... Mas tau ketakutan Anna? Apa iya Anna harus cerita lagi sama Mas Abi? Hiks... hiks..." Terang Anna panjang lebar.


Saat Abi melihat tangan Anna yang bergetar, tak sanggup ia meninggalkan istrinya seperti ini. Anna benar-benar ketakutan.

__ADS_1


Ucapan Om Reza kembali terngiang di telinga Abi. Jangan sampai Anna mengalami shock untuk yang kedua kalinya.


Karena akan membuka phobia gelapnya dan membuatnya hilang kesadaran. Yang lebih parahnya, dia akan tidak percaya diri dan merasa menjadi pengganggumu Abi. Dia akan pergi tak akan lagi mau kembali padamu, Abimanyu.


Tiba-tiba Abi teringat ucapan Om Reza yang berada dipikirannya.


"Sayang..." Ucap Abi yang membuat Anna berdiri beranjak dari duduknya.


"Anna mau sendiri dulu, Mas." Ucapnya sambil menghapus air matanya. Anna sedih sekali.


"Dek... maafin Mas Abi. Maafin Mas ya... Mas terlalu menganggap enteng kejadian ini tanpa memikirkan kondisi psikismu." Abi memeluk Anna dari belakang.


"Kenapa baru tau sekarang, Mas? Hiks... hiks..." Ucapnya dengan isak tangis.


Belum sempat Abi meneruskan pembicaraannya dengan Abi. Pengawalnya datang menghampiri.


"Malam, Pak Abimanyu. Maaf Pak, saya mengganggu." Ucap sang pengawal.


"Iya. Bicaralah." Ucap Abi dengan tegas.


"Pak Abi. Setelah kami selidiki. Sepertinya ada yang tidak suka melihat Bapak senang. Ada yang memerintahnya untuk mencelakai Bu Anna." Ucap si pengawal.


"Apa???!!! Siapa dia??!!" Ucap Abi dengan geram.


"Dia akan memporak-porandakan perusahaan Basupati Soenggono Groups jika bapak masih bersama Bu Anna. Itu yang disampaikan dari si pengemudi Pak." Ucap sang pengawal yang sukses membuat Anna semakin ingin pergi dari Abi.


Anna melepas genggaman tangan Abi dan berlari keluar RS. Abi yang mengetahuinya, langsung menyusul Anna.


Pikiran Abi kalut, ia berteriak memanggil Anna.


"Annaaa... Annaaa Maheswari Prayogo. Berhentiii...!!!" Ucapan Abi tak di dengar Anna.


Anna berlari menjauh dari Abi hingga ia tiba di taman dan tiba-tiba...


BRRUUKKK


Anna bertabrakan dengan sesosok laki-laki tinggi besar dan tegap yang sedang berjalan memasuki RS. Abi yang melihatnya berlari dengan kecepatan penuh.


"Annaa...!!!" Teriak Abi yang melihat Anna tertabrak laki-laki tersebut. Tubuh Anna jatuh tersungkur ke lantai.


Laki-laki yang menabraknya ingin membantunya, namun Abi dengan sigap menghampiri Anna.


"Sayangg... kamu gak apa? Yang mana yang sakit?" Tanya Abi.


"Anna Maheswari?" Tanya seorang laki-laki tersebut.


Abi menengok dan mendongakkan kepalanya kepada laki-laki tersebut. Siapa laki-laki ini yang mengenal istriku? Batin Abi.


"David?" Ucap Anna yang berusaha berdiri dibantu Abi.


"Hi" Sapa David.


*Panas wooy... panas... AC nyalain apa... kipas gak ada, kipas? 😄


"Tadinya aku tak percaya kalau yang hampir tertabrak itu kamu, jadi aku hanya menarikmu. Tadi aku pergi mencari apotek membelikanmu obat. Tapi, saat aku kembali, kau sudah tak disana. Bagaimana lukamu?" Terang David kepada Anna.


"Lukaku? Baik. Oh, iya. Tadi suamiku yang langsung membawaku ke RS. Mas Abi, ini David. David ini Mas Abi. Suamiku." Ujar Anna yang cukup shock bertemu dengan David disana.


"David." Ucapnya sambil bersalaman.


"Abimanyu." Ucapnya dengan tegas.


Anna yang tau bahwa Abi akan merass cemburu dengan kehadiran David, segera melingkarkan tangannya di lengan Abi.


"Sebelumnya terima kasih, David. Sudah menolongku. Maaf, merepotkanmu." Ujar Anna dengan seulas senyum.


"Terima kasih David. Atas bantuanmu yang menolong istri saya. Saya sungguh berterima kasih." Ucap Abi dengan tegas dan menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan dengan David.


"Sama-sama." Ucap David getir.


"Senang bertemu denganmu David. Tapi, maaf. Aku dan suamiku harus segera pergi. Sekali lagi, terima kasih telah menolongku." Ujar Anna dengan seulas senyum dan berjalan menjauh dari David.


Anna menggandeng lengan Abi dan mengajaknya pergi dari situ.


"Anna..!!" Panggil David.


"Iya." Jawab Anna singkat dan membalikkan tubuhnya ke David. Abi pun ikut membalikkan tubuhnya ke David.


"Apa bisa kita bicara berdua saja? Ada yang ingin aku sampaikan." Ucap David kepada Anna.


"Maaf, David. Jika ingin bicara, silahkan disini." Ujar Anna dengan tegas.


"Kenapa? Hanya sebentar." Ucap David.


Anna tak menjawab. Ia langsung membalikkan tubuhnya dan mengajak Abi pergi.


"Anna..!!!" Teriak David.


"Apa kau tak bisa mempunyai dua orang suami?" Ucapan David sontak membuat urat-urat Abi mengeras.


Abi geram. Ia sudah mengepalkan tangannya.


*Waduuhh... nekat ya Abangnya... emang ya... rumput tetangga itu lebih indah. 🤣✌


Anna yang mengetahuinya langsung meredam emosi Abi.


"Mas..." Ucap Anna lembut dengan mengelus punggung Abi dan lengannya.


"Tidak!" Ucap Anna dengan lantang dan tegas.


"Anna, kau tau aku sangat mencintaimu. Selama ini aku belajar Agama Islam untuk kamu. Untuk kita bisa bersatu. Apa yang kau dapat dari lelaki itu, hah?" Ucap David berapi-api.


Anna tak ingin menanggapinya. Ia mengajak Abimanyu pergi dari situ. Anna khawatir Abi akan terpancing emosi.


"Annaaa Maheswari!!" Panggil David dengan lantang.


"David Park! Saya sudah bersuami. Saya sangat mencintainya." Tegas Anna kepada David.


"Tapi aku masih sangat mencintaimu Anna..." Ucap David dengan nada yang lemah sekarang.


"Aku rela kau jadikan suami keduamu. Tak masalah. Aku sangat mencintaimu." Ujar David.


"Mas Abi, ayo." Ajak Anna yang menggandeng tangan Abi.


Abi bingung. Anna sangat tegas. Anna tak bergeming sama sekali saat David memanggilnya berulang kali.


Abi yang tadinya emosi, sekarang agak lebih tenang. Ia menarik Anna ke dalam pelukannya.


"Maafin, Mas Abi, sayang..." Ucapan Abi sontak membuat Anna meneteskan kembali bulir air matanya.

__ADS_1


*****


__ADS_2