
DI KEDIAMAN PRAYOGO
Bruuggg...!!!
"Mas Abii... Ya Allah...." Teriak Anna ketika Abi jatuh pingsan dihadapannya.
Semua orang yang ada di sana; Papa Adi, Mama Rani, Bu Anin, Ayah Bagas, Dika, Eyang Kung, Eyang Ti, Pak Man, dan Bi Surti sangat terkejut dengan kejadian ini.
Papa Adi segera menelpon Dokter pribadi Basupati Soenggono. Yang lain, seperti Ayah Bagas, Dika, dan Pak Man mengangkat tubuh Mas Abi di sofa yang agak besar dan panjang di ruang tengah.
Anna duduk disamping Abi dan mengelus lembut tangan suaminya tersebut. Namun, tangan itu masih terus bergetar. Hingga Anna melihat ada titik-titik kecil merah di area wajah dan tangan Abi. Suhu badan Abi pun panas tinggi.
Anna bingung, tidak tau harus melakukan apa. Saat ia mendekati Abi dengan mengelus tangan Abi, tangan itu bergetar hebat. Namun, saat Anna menjauh dari Abi, tangan itu tidak bergetar.
"Feelingku gak enak." Batin Anna.
Tak lama kemudian seorang laki-laki masuk ke rumah Anna dengan jas putih dan mengkalungkan stetoskop di lehernya.
"Reza! Kau sudah datang?" Tanya Papa Adi dengan tergesa-gesa.
"Iya, Di. Apa yang terjadi dengan Abi?" Tanya Dokter Reza kepada Papa Adi.
"Aku menikahkan Abi dengan gadis ini (menunjuk Anna). Selesai ijab kobul, penghulu meminta Anna untuk bersalaman dengan Abi. Namun, yang terjadi malah tubuh Abi bergetar hebat, keringat dingin, tapi suhu badannya panas, dan muncul ruam-ruam." Jelas Papa Adi kepad Dokter Reza.
"Hhhh... Abi, Abi. Keponakan tersayang Om Reza. Mau sampai kapan kamu begini, Bi? Mau sampai kapan kamu menanggapi trauma itu." Ucap Dokter Reza kepada Abi yang masih berbaring.
Dokter Reza memeriksa Abi dan memberikan resep obat kepada Papa Adi. Setelah Abi bangun, segera minumkan obatnya. Dokter Reza tak bisa lama, karena ia harus segera ke luar kota ada pertemuan Dokter di salah satu RS di Surabaya.
*****
"Ma, Pa, boleh Anna minta penjelasan, ada apa ini sebenarnya?" Tanya Anna begitu penasaran.
"Ndok." Ucap Mama Rani. Rasanya air mata sudah tidak bisa terbendung lagi ketika hendak ingin menceritakannya.
"Ndok, Abi, mempunyai PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). Ia mengalami ini semenjak kepergian perempuan yang dia sayangi. Kakak kandungnya. Akyla Putri Basupati Soenggono. Namun, sayangnya peristiwa keji itu membuat putri sulung Mama kehilangan nyawa." Terang Mama yang terdengar suaranya tercekat di tenggorokan.
"Abi dan Akyla mengalami kasus penculikan ketika kami di New York. Saat itu Kyla dan Abi ingin berjalan-jalan tanpa pengawalan. Karena biasanya kemanapun mereka pergi selalu ada bodyguard. Namun, hari itu, Kyla meminta izin kepada Mama Rani dan Papa Adi untuk berjalan-jalan tanpa pengawalan."
"Awalnya Papa tidak mengizinkan mereka untuk pergi tanpa pengawalan. Tapi, Kyla dan Abi terus merengek kepada Mama dan Papa. Akhirnya kami pun menurutinya." Lanjut Mama Rani bercerita
"Saat itu Kyla berjanji akan menjaga Abi. Ia berjanji bahwa tidak akan melukai Abi. Kenapa sampai Kyla berani berjanji seperti itu? Karena Abi memang satu-satunya penerus Basupati Groups. Basupati Groups harus diwariskan kepada seorang anak laki-laki dari keturanan Basupati Soenggono. Oleh karena itu kami sangat memperketat pengawalan terutama kepada Abi. Karena pesaing perusahaan di sana begitu licik dan kejam. Mereka tidak ingin Abi menjadi penerus Basupati Groups, makanya pesaing-pesaing itu ingin selalu melukai Abi dan Kyla."
"Hari itu Kyla dan Abi pergi ke taman hiburan. Mereka bersenang-senang naik wahana yang ada di sana. Kami tetap meminta pengawal ada disekitar mereka namun mengawasinya dari jauh. Namun, saat mereka jalan pulang..." Mama Rani sempat berjeda menceritakannya. Mengingat kembali kejadian itu, membuatnya begitu pilu.
"Kyla dan Abi di culik oleh segerombolan orang berbadan tegap dan kekar memakai baju hitam. Para pengawal kami langsung mengejarnya. Kyla dan Abi di bawa ke sebuah gedung kosong yg gelap gulita tak berpenghuni. Dan di sekitar gedung itu adalah hutan. Di sana mereka disiksa. Abi dipukuli hingga berdarah-darah dan Kyla..." Mama Rani tercekat. Tak sanggup menceritakannya. Lalu Papa Adi yang bercerita.
"Kyla disiksa, dipukuli, dan diperkosa oleh lebih dari 3 orang. Saat itu Kyla berusia 18th. Belum lama merayakan ulang tahunnya. Ia melindungi Abi dengan segenap kemampuannya. Hingga saat salah seorang tersebut ada yang ingin menusuk Abi dengan pisau, Kyla melindungi Abi, ia tertusuk, dan tewas seketika." Papa Adi melanjutkan ceritanya.
"Abi, melihat semua kejadian itu. Yang membuatnya trauma hingga kini. Ia tidak berani untuk mendekati perempuan, karena takut melukai perempuan itu. Setiap ia berusaha untuk dekat dengan perempuan berkali-kali Abi mengalami hal ini. Bukannya ia tidak berobat/terapi. Abi terapi dengan Dokter Reza, Om nya. Hingga saat di New York muncul berita bahwa Abi adalah seorang homosexual karena karyawan hanya melihat Abi akrab dengan laki-laki. Tapi terhadap perempuan ia begitu galak, jutek, kasar, dan ketus. Terkesan arogan. Bukan, tapi memang arogan."
"Hal itu membuat Papa dan Mama sedih. Karena Abi yang urakan, Abi yang ramah, Abi yang lembut, tak lagi kami temukan. B******n itu sudah membuat putri kesayangan Papa meninggal dan membuat putra kesayangan Papa mengalami trauma, Papa tidak tinggal diam. Sampai saat ini Papa masih mencari manusia itu." Dengan geram Papa Adi menceritakannya.
"Sampai akhirnya Dokter Reza meminta Papa untuk mencarikan wanita sebagai istri Abi. Wanita yang mampu membantu Abi untuk menghilangkan trauma tersebut. Anna, Ndok, maafkan Papa Adi dan Mama Rani yang tidak menceritakannya dari awal. Maafkan kami, Anna." Ucap Papa Adi begitu menyesalnya.
Anna diam, berusaha mencerna apa yang baru saja diceritakan oleh Papa Adi dan Mama Rani. Entah mengapa, hati Anna begitu perih melihat Abi yang terbaring lemas tak berdaya. Anna mengakuinya. Ia jatuh hati kepada Abi.
"Ma, Pa, tidak perlu minta maaf. Justru Anna yang ingin meminta maaf. Karena Anna, Mas Abi jadi pingsan seperti ini. Maafkan Anna." Ucap Anna seraya menghapus air matanya yang mengalir begitu saja ketika melihat Abi.
"Ndok, kamu tidak salah dan jika memang kamu mau mundur untuk membatalkan pernikahan ini, tak apa. Mama dan Papa terima. Meski Mama sayang sekali sama kamu, Ndok. Mama sangat senang saat kamu menyetujui perjodohan ini. Tapi, jika melihat kondisi Abi, jika kamu ingin mundur, ndak apa Anna." Ujar Mama Rani dengan sedihnya.
Anna duduk mendekati Mama Rani dan memeluknya erat.
"Ma, terima kasih. Karena Mama, Papa, Ayah, dan Ibu, Anna berhasil melepas status jomblonya Anna." Dengan senyum sumringahnya Anna.
"Jadi, kamu ndak mundur, ndok? Tetap mau jadi istri Abi?" Tanya Mama Rani dengan binar matanya.
"Iya dong. Mas Abi sudah jauh-jauh ke sini. Bergegas dari kesibukannya di Singapore dan menghampiri Anna di sini. Masa Anna mau mundur dengan kondisinya Mas Abi. Tidak! Gak ada dalam kamus Anna mundur sebelum berperang." Jelas Anna dengan tawa ringannya.
"Ma, kalau laki-laki itu mampu menyempatkan waktu sibuknya untuk dua hal, ia adalah laki-laki yang patut diperjuangkan." Senyum Anna saat menjelaskannya.
"Dua hal? Apa?" Tanya Bu Anin.
"Hal pertama laki-laki yang ditengah kesibukannya, ia mampu menyempatkan waktu untuk beribadah dan yang kedua, sesibuk apapun laki-laki itu, ia mampu menyempatkan waktu untuk wanita yang dicintainya atau untuk keluarganya. Ia adalah sosok laki-laki yang patut untuk diperjuangkan. Mas Abi? Mas Abi mempunyai dua hal itu. Jadi, Anna Insyallah mampu untuk menjadi partner hidupnya Mas Abi." Terang Anna dengan senyum manisnya.
Kedua keluarga itu, keluarga Basupati Seonggono dan keluarga Prayogo sangat senang mendengar Anna yang begitu bijak menanggapi permasalahan ini. Senyum bahagia tampak di wajah mereka.
Anna tau betul menghilangkan trauma itu sangat tidak mudah. Tapi setidaknya dengan adanya Anna, ia bisa membantu Abi mengurangi traumanya tersebut.
"Sayanggg... Ndok, Mama senaaanggg sekaliii kamu mau menerima Abi apa adanya seperti ini." Ucap Mama Rani dengan bahagianya dan mencium pipi kanan dan kiri Anna. Senang sekali Mama Rani mendapatkan menantu seperti Anna.
"Anna juga sayang sama Mama Rani." Ucapnya sambil mengelus-elus punggung Mama Rani.
******
Melihat Abi yang terbaring di sofa, Anna tidak tega. Akhirnya ia meminta Dika dan Pak Man untuk membawa Abi ke kamarnya.
Ayah Bagas, Papa Adi, Dika, dan Pak Man sedang berbincang di kebun belakang rumah Anna. Mama Rani, Bu Anin, Bi Surti dan Anna sedang memasak di dapur untuk menyiapkan makan malam.
__ADS_1
"Ma, Bu, Anna ke kamar dulu ya, mau lihat Mas Abi sebentar." Ucap Anna yang membawa satu gelas air hangat dan bubur.
Ketika di kamar, Anna melihat Abi sedang berusaha bangun dari tempatnya. Anna segera menaruh nampannya di meja dekat kasur.
"Mas Abi, sudah bangun?" Tanya Anna yang begitu khawatir dengan Abi.
"Iya. Masih agak pusing aja sedikit. Aku di mana?" Tanyanya dengan suara berat.
"Di kamar Anna, Mas. Tadi Mas Abi sempat tak sadarkan diri." Jelas Anna dengan duduk di kursi samping tempat tidur dan duduk agak menjauh dari Abi. Anna hanya tidak ingin membuat Abi pingsan lagi karenanya.
"Dek, sini." Panggil Mas Abi dengan menepuk pinggir kasur. Mengisyaratkan kepada Anna untuk duduk mendekat dengannya.
Anna menghampiri Abi dengan agak takut-takut. Ia menarik kursinya mendekat kepada Abi.
"Anna, duduk di sini." Ucap Abi dengan menepuk pinggir kasur, sekali lagi.
"Tapi... Mas..." Ucap Anna meragu.
"Anna..." Ucap Abi memintanya dengan jelas. Dengan berat hati, duduklah Anna di pinggir kasur dekat dengan Abi. Di satu sisi Anna senang karena bisa melihat wajah Abi begitu jelas. Namun, di sisi lain, Anna takut kalau-kalau Abi akan jatuh pingsan lagi.
"Boleh Mas izin pegang tanganmu, dek?" Tanya Abi kepada Anna yang sejak tadi menundukkan wajahnya.
"Boleh, Mas. Kan kamu sudah menjadi suamiku. Apapun yang Mas mau lakukan, Anna mengizinkan." Terang Anna kepada Abi yang diikuti senyuman lembutnya.
"Terima kasih. Terima kasih banyak." Ucap Abi dengan senyum manis yang dibubuhi lesung pipinya sambil *** lembut telapak tangan Anna.
"Untuk apa, Mas?" Tanya Anna.
"Untuk semuanya." Jawab Abi
"Anna gak ngerti." Ujar Anna dengan wajah yang bingung dan kedua alisnya yang ditautkan.
"Terima kasih karena sudah mau menerimaku sebagai suamimu yang mempunyai banyak kekurangan ini." Jelas Abi.
"Mas, kok berterima kasih sama Anna? Justru Anna yang mau minta maaf, sudah menyusahkan Mas Abi dan malah membuat Mas jadi seperti ini sekarang." Ucap Anna dengan mengusap punggung tangan Abi.
"Gak perlu minta maaf, dek..."
"Dan Mas, juga gak perlu berterima kasih..."
"Hahahaha..." Mereka saling tatap, tersenyum menunjukkan kedua lesung pipi mereka, dan tertawa bersama.
Seperti sudah lama mengenal, mereka seperti sudah saling mengerti satu sama lain. Hanya dengan menatap, mereka sudah tau maksud masing-masing.
Intermezzo dikit: Pernah gak sih, readers nemuin orang seperti itu? Belum lama bertemu, belum lama kenal, tapi pas ngobrol, udah klik banget. Nah, itu, yang di rasain sama Anna dan Abi.
"Ini aku lagi coba. Ada reaksi apa di aku? Hehehe..." Jawab Abi dengan senyum candanya.
"Iihh, jahat. Nanti kalau pingsan lagi gimana? Seneng banget ya bikin Anna shock?" Ucap Anna dengan memukul lembut punggung tangan Abi. Sambil tersenyum. Usil sekali suaminya ini. Batin Anna.
"Hahaha... habis wajahmu lucu banget, dek. Seneng aja ada yang khawatir sama aku." Ujarnya sambil tersenyum canda.
"Mas Abi, jangan senyum." Ucap Anna sembari berdiri dari duduknya.
"Kenapa, dek?" Tanya Abi bingung.
"Bikin Anna cinta sama Mas." Jawabnya seraya mengambil nampan yang berisi air hangat dan bubur. Seketika, tawa Abi pecah.
"Hahahahaha... kamu itu dek, ada-ada saja. Buat kamu jatuh cinta sama aku mudah ya? Akunya senyum aja, kamu sudah jatuh cinta." Ucap Abi masih dengan tertawa geli.
"Yaa... gak apa Mas. Asal jangan pas sudah sayang-sayangnya ditinggalin. Kan nyesek." Ucap Anna dengan tertawa ringan. Selera humor mereka berdua itu cukup unik memang.
Meski mereka sedang bercanda, tapi Anna tak luput pandangannya memperhatikan wajah dan tangan Abi, Anna takut membuat tubuh suaminya itu menjadi ruam merah karena terlalu dekat dengannya.
Abi sadar akan tatapannya Anna yang khawatir akan dirinya. Lalu, Abi menaruh nampan yang di bawa Anna di nakas dan menarik lengan Anna yang sekarang posisi mereka sangat dekat. Anna sudah berada di dada Abi dengan menerima pelukan hangatnya.
"Mas Abi, jangan seperti ini. Nanti Mas___" Belum sempat Anna melanjutkan kata-katanya, Abi sudah menjawab.
"Nanti aku pingsan lagi? Dek, kalau sampai aku peluk kamu seperti ini dan tidak ada ruam atau sampai pingsan, itu berarti aku gak apa-apa." Jelas Abi dengan mengelus lembut wajah Anna.
"Mas Abi dengar semua pembicaraan, Anna dengan Mama dan Papa?" Tanya Anna dengan melepas pelukan Abi.
"Tidak dengar pun, Mas rasa adek sudah tau semua. Karena kondisi Mas yang aneh buat kamu. Mama dan Papa juga pasti sudah cerita semua. Benar, bukan?" Jelas Abi kepada Anna.
"Iya, Mas. Mama Rani dan Papa Adi sudah cerita semua tentang Mas Abi dan kondisi Mas." Ujar Anna dengan menatap wajah Abi lekat.
"Lalu, kamu masih menerima aku menjadi suamimu? Dengan segala kondisiku seperti ini?" Tanya Abi dengan menatap Anna lekat.
"Iya, Mas." Jawab Anna
"Anna tidak merasa malu dengan kondisi Mas Abi? Tidak takut, karena mungkin kita belum tentu bisa sedekat ini setiap harinya? Bahkan adek gak tau kalau Mas akan pingsan seperti tadi bagaimana? Tidak menyesal menikah dan menjadi pendamping hidup Mas Abi?" Tanya Abi beruntun kepada Anna. Yang saat ini justru malah disambut senyum oleh Anna. Karena Anna tau, Mas Abi sedang tidak percaya diri.
"Untuk jawab pertanyaan Mas Abi. Yang pertama: Anna tidak malu dengan kondisi Mas. Kenapa Anna harus malu? Kondisi Mas tidak merugikan siapa-siapa. Justru malah merugikan diri Mas sendiri. Lalu apa yang harus membuat Anna malu?" Jawab Anna jelas.
"Yang kedua: Anna tidak takut. Meski Anna tidak bisa dekat dengan Mas Abi, tapi Anna bisa selalu lihat wajah Mas Abi, senyum Mas Abi, semua aktifitas yang Mas Abi lakukan Anna bisa lihat. Anna masih beruntung, Mas. Karena Anna masih diberi kesempatan untuk melihat Mas Abi dari jarak dekat. Di luar sana, masih banyak perempuan yang tidak bisa dekat dengan pujaan hatinya. Tapi, Anna bisa melihat sepuas Anna. Bersyukur kan Mas?" Terangnya dengan senyum sumringah.
"Menyesal? Tidak. Justru Anna menyesal kalau Anna tidak bisa mendampingi Mas Abi sebagai seorang istri, sahabat, dan partner hidup." Jawab Anna tegas.
__ADS_1
Abi yang mendengar jawaban Anna, langsung menarik Anna kepelukannya.
"Mas, Mas Abi... gak enak masih ada Mama sama Papa, Ayah, Ibu juga." Anna berbicara sambil memberontak dari pelukannya Abi.
"Berarti kalau gak ada Mama, Papa, Ayah, Ibu, kita bisa ya? Berdua aja... hehehe..." Ucap Abi dengan senyum jahilnya.
"Mas Abi sendiri, kenapa mau menikahi Anna?" Tanyanya dengan melepas pelukan Abi karena Anna ingin melihat wajah Abi dengan jelas.
"Because I love you. I'm falling in love with you, at the first time." Jawab Abi.
"Kok bisa? Jatuh cinta pada pandangan pertama nih ceritanya?" Tanya Anna.
"Karena suaramu merdu saat membaca lantunan ayat Al Qur'an." Jawab Abi.
"Alhamdulillah masih ada yang cinta sama suaraku." Ujar Anna dengan tawa renyahnya.
"Hahaha... kamu tuh dek. Gak bisa serius ya ngobrol sama kamu." Ujar Abi yang saat itu tertawa geli sekali mendengar perkataan Anna.
"Jangan terlalu serius, Mas. Ntar jadinya kaku kayak kanebo kering." Ujar Anna lepas tawanya.
Seketika tawa Abi pecah. Lucu sekali istrinya ini. Pikirnya. Abi yakin, traumanya akan cepat hilang dengan Anna disampingnya. Beruntungnya Abi disandingkan dengan perempuan seperti Anna.
"Mas, boleh Anna bicara?" Tanyanya.
"Kan dari tadi juga, adek udah bicara." Jawab Abi dengan candanya.
"Yang ini beneran serius." Ujar Anna dengan senyum-senyum.
"Iya... boleh. Mau bicara apa sayang?" Tanya Abi dengan suara berat tapi lembut. Membuat Anna jadi merona pipinya.
"Yah, dipanggil sayang. Nge-blank deh aku." Jawab Anna dengan menampilkan deretan gigi putihnya.
"Hahahaha... dek, beneran deh. Ini kamu, mau Mas Abi daftarin Stand Up Comedy gak?" Ucapnya yang masih tertawa terbahak-bahak.
"Habis... Mas Abi bikin Anna salah fokus mulu. Jadi lupa deh tuh mau ngomong serius apa. Ntar dulu deh." Jawab Anna.
"Emang Mas Abi kenapa? Salah apa coba?" Tanyanya masih menahan tawa karena ucapan istrinya tersebut.
"Kenapa? Salah apa? Ya Allah, Mas... kamu itu terlalu tampan. Saking tampannya, ibuk-ibuk juga jatuh hati sama kamu. Untung gak di deportasi dari Indonesia karena terlalu tampan." Jawab Anna dengan senyum candanya.
"Hahaha... dek, Ya Allah, segitunya..." Ucap Abi masih dengan tawanya.
"Udah dong, Mas Abi... jangan ketawa terus. Nanti hati Anna makin dag dig dug." Ujar Anna bercanda.
"Kalau kayak gini, trauma Mas sama perempuan hilang seketika ya..." Ucap Abi dengan masih menahan tawanya.
"Trauma sama perempuan lain aja dong. Jangan sama istri. Sedih banget melihat istrinya langsung pingsan. Berasa jelek banget Anna. Mas melihat Anna langsung gemeteran, panas, ruam-ruam, Ya Allah... hina banget kok sepertinya saya yah?" Jawab Anna dengan bersungut-sungut kepada Abi.
"Maaf ya, sayang... Aku buat kamu sedih ya? Siapa yang bilang kamu jelek? Aku tuh tadi gemeteran cuma karena terkejut aja melihat kok ada ya perempuan imut banget sepertimu." Ucap Abi dengan candanya.
"Imut ya? Kayak marmut? Udah imut belum?" Anna berucap dengan memonyongkan bibirnya di depan Abi. Seketika...
Chu...
Abi mendaratkan bibirnya di bibir Anna secara singkat dan sepintas.
"Ya Allah, Mas Abi. Gak make kode, main langsung nyamber aja."
"Dek, itu baru sepintas, kamu udah kaget banget. Kalau lama gimana coba? Aku udah jadi perkedel jagung kali ya?" Seru Abi dengan mencubit gemas pipi Anna dan tertawa geli.
"Bibir Anna udah gak perawan lagi." Ucapnya sambil memanyunkan bibirnya.
"Itu manyun-manyun gitu, ngasih kode lagi apa gimana?" Ledek Abi ke Anna.
"Yee... situ mah pengennya begitu. Untung halal, kalau enggak, taekwondo sabuk hitamku melayang di Mas Abi." Sahut Anna dengan menunjukkan kepalan tangannya.
"Kalau gitu aku terima pake kungfu." Sahut Abi candanya.
"Kungfu apaan? Kungfu panda?" Ujar Anna dengan tertawa geli.
"Mas, coba Anna cek wajah Mas Abi, ruam-ruam gak? Dari tadi Anna deket-deket Mas Abi terus." Ujar Anna khawatir karena sejak tadi mereka bersenda gurau terus.
"Enggak. Aku gak apa." Jawab Abi dengan santai.
"Seriusan? Coba bentar, Anna lihat." Paksa Anna dengan menangkupkan telapak tangannya di wajah Abi, dan apa yang terjadi?
Chu...
Anna mengecup pipi Abi dan berlalu meninggalkannya di kamar Anna.
"Dek, kamu tanggung jawab ya..." Ucap Abi yang begitu gemes melihat tingkah istrinya itu.
"Dasar jail. Gemesin." Ujar Abi.
\*
__ADS_1