Sajak Rindu

Sajak Rindu
CHAPTER 20: HEART TO HEART


__ADS_3

DI RUMAH ABI DAN ANNA


Anna bangun ketika alarm berbunyi Pkl. 3:15. Ia membuka mata dan melihat suaminya berada di depan matanya.


"Aku tertidur sejak dari bandara, sepertinya." Pikir Anna. Saat itu ia begitu lelah.


Menunggu seharian untuk mendapatkan surprise dari sang suami. Bahagia sekali Anna. Buat Anna, Abi ada di depan matanya, bisa dipeluknya itu sudah membuatnya bahagia.


Anna membangunkan Abi dengan sentuhan lembut di wajah Abi.


"Sayangg, bangun yuk, sholat dulu." Ucapnya yang disertai dengan usapan lembut di pipi Abi.


"Mas Abi... bangun sayang... kita sholat malem dulu, ya..." Ucapnya sekali lagi dan Abi menggeliat bangun.


"Eemm... iya. Aku bangun." Abi mulai mengucek mata, bangun dari tidurnya, duduk sebentar menghadap Anna sang istri.


"Udah bangun? Wudhu yuk." Ajak Anna.


"Okey!" Ujar Abi.


Abi dan Anna sholat malam berjamaah. Doloeee sebelum menikah, Anna hanya sholat malam sendiri. Sekarang impiannya tercapai. Sholat malam bersama imam yang sah secara status. Status hati dan status di KTP 😆


Mereka menunggu shubuh yang dilanjutkan dengan joging pagi.


"Dek, di daerah sini enak lho, buat joging paginya." Ujar Abi kepada Anna yang sedang mengenakan jilbab.


"Oh, ya? Anna belum tau kan Mas. Semalam sudah pulas tertidur. Hehehehe... maaf ya... Anna kayaknya capek banget itu." Ucap Anna sambil mengikat tali sepatu yang sejak tadi terasa sulit sekali.


"Kamu capek nangis ya?" Tanya Abi dengan mendudukkan tubuhnya di hadapan Anna untuk membantu sang istri mengikat tali sepatu.


"Enggak kayaknya. Tapi kurang tidur. Karena beberapa hari ini jadwal seminar lumayan padat." Jawabnya dengan senyum sumringahnya karena tali sepatunya sudah dibantu ikat oleh Abi.


"Yuks, kita joging." Ujar Anna kepada Abi dengan semangat !!


Mereka berdua joging bersama sambil menyapa tetangga di lingkungan mereka. Bersalaman dan bertegur sapa.


Sepanjang mereka joging bersama, banyak sekali perempuan yang melihat Abi dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Anna hanya tersenyum lucu melihat para perempuan tersebut. Usilnya Anna keluar. Mulai ngegombalin suaminya.


"Mas, kamu tau gak persamaan kamu sama aku apa?" Ujar Anna dengan wajah sumringahnya.


"Sama-sama suka joging?" Ucap Abi sembarang.


"Bukan. Belum tepat."


"Yaah... apa dong persamaannya?" Tanya Abi penasaran.


"Sama-sama saling mencintai." Ucap Anna seketika membuat Abi yang sedang minum, menyembur dari mulutnya. Ia tertawa terbahak-bahak. Anna pun juga. Digombalin lagi deh sama Anna.


Setelah dirasa sudah beristirahat cukup. Abi mengaja Anna untuk pulang. Karena ia mulai tidak nyaman dengan pandangan orang-orang di taman. Terutama perempuan, yang senang sekali melihat Abi dan berbisik dibelakang, bahwa Abi sangat tampan.


"Dek, udahan yuk jogingnya. Udah rame." Ujar Abi yang memang tidak terlalu suka dengan lingkungan yang ramai.


"Okey.!" Anna yang tau dengan karakter suaminya hanya mengiyakan saja.


Setelah di rumah, mandi dan bersih-bersih, Anna membuat sarapan untuk Abi. Tidak sulit, hanya brokoli, wortel, dan buncis rebus dengan mayonaise.


"Dek..." Ucap Abi yang memeluk Anna dari belakang.


"Kenapa Mas?" Tanya Anna yang sibuk dengan rebusan-rebusan sayurannya itu.


"Adek, gak kangen sama Mas Abi?" Tanyanya tetiba saja.


"Mau kangen banget apa kangen aja? Hahaha..." Ujar Anna dengan candaannya.


"Kangen pake banget dan sangat." Ucap Abi yang menciumi tengkuk Anna.


"Sarapan dulu ya Mas." Ucap Anna dengan menepuk lembut wajah Abi dengan telapak tangannya.


"Masih pagi, sayang... Lagipula masih ada 3 hari lagi untuk titah sang Dr. Reza. Hehehe..." Ujar Anna yang membuat Abi sukses memonyongkan bibirnya.


"Iyaa..." Jawabnya agak bad mood.


Selesai sarapan, Abi duduk di halaman belakang rumah yang dipenuhi dengan tumbuhan hijau.

__ADS_1


Abi menyesap kopi kesukaannya. Anna datang dengan membawa segelas green tea. Minuman favoritnya. Anna duduk bersebelahan dengan Abi.


"Ngapain Mas?" Tanya Anna yang kemudian menaruh green tea-nya di dekatnya.


"Gak ngapa-ngapain. Duduk aja." Jawabnya dengan seulas senyum manis yang memperlihatkan dua lesung pipinya.


"Jangan senyum seperti itu dong..." Ujar Anna yang jadi salah tingkah melihat senyuman Abi.


"Emang kenapa?" Tanya Abi yang sekarang bingung dengan menautkan kedua alisnya.


"Bikin Anna jadi makin cinta. Hahaha..." Ucap Anna yang seketika membuat Abi ikut tertawa.


"Mas dari pagi kena gombalan kamu terus ya?" Ujarnya.


"Tapi suka kan... suka kan... hahaha..." Ucap Anna dengan tawanya.


"Suka banget. Lucu sih kamunya. Bikin Mas Abi makin rindu." Ucap Abi yang berusaha gombalin Anna.


"Hahaha... aku digombalin." Ujar Anna dengan senyum lesung pipinya.


"Sini, dek." Ajak Abi yang meminta Anna untuk duduk mendekat.


"Kenapa, Mas?" Tanya Anna bingung.


"Ndak apa. Mas kangen sama kamu." Ujarnya.


"Oh, karena rindu. Kirain karena nafsu. Hahaha..." Pecah sudah tawa mereka berdua.


"Mas, Anna mau nanya boleh?"


"Perasaan Mas gak enak nih. Hahaha..."


"Yeee... cuma mau nanya, mantan Mas Abi berapa banyak?" Tanya Anna sambil menyesap green tea nya.


"Mantan apa nih?" Tanya Abi yang menyesap kopi buatan Anna. Abi heran, apapun makanan atau minuman yang dibuat oleh istrinya selalu enak.


"Mantan pacar. Ya kali, mantan sopir?" Ucap Anna dengan candanya.


"Ahaha... mantan pacar? Gak punya." Jawab Abi masih tersenyum geli mendengar ucapan istrinya tersebut.


"Yang beneran jadi pacar gak ada. Kalau sekedar dekat ada. Kan adek tau, Mas gak bisa dekat sama cewe." Ucap Abi dengan mengelus lembut kepala Anna.


"Gak bisa dekat perempuan kan bukan berarti gak bisa cinta sama perempuan, Mas?" Tanya Anna.


"Iyaaa... tapi emang gak ada yang beneran srek banget gitu." Ujar Abi.


"Anna pikir Mas Abi cewenya di mana-mana." Sahut Anna dengan senyum candanya.


"Hahaha... boro-boro di mana-mana dek. Mas bisa ngobrol dekat sama cewe aja Alhamdulillah." Jawabnya dengan seulas senyum.


"Dibilang jangan senyum begitu. Nanti aku cinta." Ujar Anna dengan mencibikkan bibirnya.


"Bagus dong. Biar cintanya terus-terusan buat Mas Abi. Hehehe..." Ucapnya dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Yeee... lanjut dong Mas... ceritain soal Mas Abi. Anna kan belum tau banyak. Buat jaga-jaga aja kalau pas ketemu orang diluar, nanya tentang Mas Abi, Anna bisa jawab. Biar gak di nyinyir mulu." Ujar Anna yang senang menggoda Abi.


"Hahaha... emang siapa yang nyinyir? Kamu tuh dek, dek..."


"Kalau makanan kesukaan, minuman, baju, style, tas, pokoknya benda-benda yang macem begitu, aku udah khatam." Ujar Anna.


"Hahaha... dek, dek. Kamu tuh ya, lucu banget. Mas Abi itu, gak punya mantan pacar. Kalau dekat ada. Itupun cuma teman kampus Mas. Mas Abi punya prinsip gak mau pacaran. Maunya langsung nikah dan Alhamdulillah, ketemunya sama kamu dek." Jelas Abi dengan senyum manisnya.


"Senyumnya Mas Abi manis banget, bikin candu. Hahahaha..." Ujarnya.


"Senangnya jadi wanita pertama dan semoga yang terakhir buat Mas Abi." Ucap Anna dengan mengelus lembut wajah Abi dan Abi mencium lembut telapak tangan Anna.


"Amin... jangan semoga dong dek. Harus gitu. Yang pertama dan terakhir. Satu-satunya." Sahut Abi.


*****


"Dek, masuk yuk ke dalam. Udah mulai panas." Ujar Abi.


Anna pun meng-iyakan. Saat masuk ke rumah, Abi mendahului Anna untuk masuk ke kamarnya dan Anna bertemu dengan Mbok Nah. Asisten rumah tangga Abi dan Anna. Untuk memberikan uang saku kepada Mbok Nah untuk keperluan rumah.


Abi sudah merebahkan tubuhnya di kamar. Saat Anna masuk, ia mengisyaratkan kepada Anna untuk merebahkan tubuhnya disamping Abi.

__ADS_1


Anna mengikutinya. Saat itu Abi langsung memeluk Anna, dan mencium kening Anna.


"Mas Abi, makasih ya... selalu buat Anna bahagia." Ucapnya dengan mencium punggung tangan Abi.


"Mas malah berpikir belum bisa membahagiakan kamu dek." Abi.


"Enggak kok. Anna selalu bahagia dengan semua yang Anna dapat dari Mas Abi. Panggilan sayang, candaannya, perlakuan Mas Abi. Sikap Mas yang sangat mengistimewakan Anna sebagai istri Mas Abi. Itu sudah buat Anna senang. Buat istri senang itu pahala lho Mas... hehe..." Terang Anna.


"Sama tadi, makasih ya... udah bantu Anna ikat tali sepatu. Anna agak kesulitan kalau mengikat tali sepatu. Hehehe..." Ujar Anna.


"Kamu tuh emang beda ya dek." Ucap Abi.


"Bedanya?"


"Gak semua pasangan mampu mengungkapan rasa terima kasih, maaf, dan kata tolong, terhadap pasangannya sendiri. Tapi kamu? Kamu mampu melakukan itu dan yang paling penting, kamu gak sungkan atau gengsi untuk bicara hal seperti itu." Jelas Abi.


"Kamu itu perempuan yang tangguh dek. Kamu tau itu?" Tanya Abi.


"Mas suka atau gak suka sama perempuan tangguh?" Tanya Anna dengan menatapa wajah Abi.


"Siapapun laki-lakinya, mereka pasti suka dengan perempuan yang tangguh. Bukan berarti dengan perempuan yang manja, mereka gak suka. Laki-laki suka dengan perempuan yang manja atau tangguh. Asal tetap pada porsinya." Jelas Abi.


"Mas suka karaktermu yang tidak berlebihan. Tapi terkadang suka lupa aja kalau kamu punya suami. Jadi apa-apa kamu kerjain sendiri. Bagus sih... tapi boleh lah... sesekali manja sama suami gak selalu mandiri." Terang Abi dengan senyum.


"Maaf ya... suka lupa. Hehehe... dan terima kasih sudah mengingatkan Anna. Selalu ingatkan Anna ya Mas, kalau-kalau ada sikap atau perkataan Anna yang memberatkan hati atau menyakiti Mas Abi." Ujar Anna dengan senyum manisnya dan mengelus wajah suaminya.


"Pasti. Adek juga bisa melakukan hal yang sama ke Mas Abi." Ujarnya tersenyum manis.


"Mas Abi, sejak kapan Mas jatuh hati sama Anna? Kan kita belum pernah ketemu." Tanya Anna kepada Abi.


"Nah, itu. Lucunya hidup. Belum saling kenal, belum pernah bertemu, tapi bisa saling mencintai. Sedangkan yang sudah kenal berbulan-bulan atau mungkin sudah menjalin hubungan bertahun-tahun, tapi belum bisa menjalin hubungan mencapai pelaminan." Terang Abi.


"Kalau nanya Mas, kapan jatuh hati sama adek, Mas jawabnya sejak ditakdirkan Allah kita bersama. Kalau kita tidak ditakdirkan bersama, saat Mas Abi pertama kali melihatmu, tidak ada yang namanya kata suka. Jangankan suka, kagum aja enggak. Kalau Allah menghendaki."


"Tapi ternyata, kamu dek, yang bisa meluluh lantahkan hati Mas yang seperti batu. Kamu yang justru menyembuhkan Mas dari trauma. Padahal bertahun-tahun Mas berobat ke psikolog, tapi hasilnya nihil. Hanya menenangkan sesaat. Sejak Mas menikah sama kamu, semua berubah." Jelas Abi kepada Anna yang sedang berbaring menatapnya.


"Berubah lebih positif atau negatif? Hehehe..." Ujar Anna.


"Lebih positif. Mas sudah bisa senyum, sudah bisa bercanda, sudah bisa sedikit banyak terbuka kepada orang lain, sudah bisa menerima pendapat orang lain yang biasanya Mas hanya menginginkan apa yang Mas inginkan dan yang paling penting, Mas bisa menyembuhkan trauma Mas dengan bantuan istri Mas. Keren gak tuh? Hehehe..." Ucap Abi sambil tertawa riang.


"Anna bahagiaaa... sekali melihat Mas Abi tersenyum seperti ini. Anna senang dan sangat bersyukur ditakdirkan Allah bersama Mas Abi." Ujarnya dengan senyum dua lesung pipinya.


"Anna harap kita bisa selalu mesra seperti ini ya, Mas..." Ucap Anna yang dengan manja mendekap suaminya.


"Aku mah bisa aja dek... tapi biasanya perempuan itu kan kalau sudah jadi istri, jadi ibu, apalagi ibu-ibu sosial media, pasti sibuk banget. Ntar lupa sama suaminya. Hahaha..." Ujar Abi dengan tawa riangnya membuat Anna mencibikkan bibirnya.


"Namanya perempuan Mas... sebenarnya perempuan itu gak ribet kok Mas. Perempuannya mah gak ribet. Yang ribet itu moodnya. Hahahahahah..." Ucap Anna dengan tertawa riang sekali.


"Hahaha... iya bener, bener kamu dek. Gak ribet sih... cuma mau bikin gantung diri para lelaki ya... kalau udah ada kata " pikir aja sendiri salah kamu di mana!" Hahaha... beneran deh dek, itu bikin cowo mau tenggelam aja dilautan lepas. Hahaha..." Ujar Abi dengan tawa kencangnya.


"Hahaha... kasihan cowonya ya Mas. Kalau Anna biasanya akan bilang. Anna suka atau tidak suka. Misalnya, Anna jeleous saat Mas terlalu sibuk dan gak ada waktu untuk Anna, Anna akan bilang. Tapi dengan cara yang baik." Ucap Anna.


"Cara yang baiknya seperti apa?" Tanya Abi.


"Tunggu sampai Mas Abi pulang kantor. Istirahat dan sudah santai. Baru bicara. Misal, Mas, boleh ngobrol? Kalau jawaban Mas, " boleh", aku lanjutin. Aku langsung bilang ke Mas Abi kalau "aku itu kesel, bete, sebel, marah, gondok, Mas terlalu sibuk dengan urusan kantor", Anna akan bilang semua unek-unek Anna ke Mas Abi." Anna berucap.


"Tapi pastikan dulu bahwa Mas Abi sudah tenang dan Anna juga udah dingin otak dan hatinya. Jadi pas ngobrol gak pake urat lagi. Gitu. Hehehe..." Ujar Anna.


"Iya, kamu tuh emang paham banget karakter orang ya dek. Jadi santai aja melihat karakter orang-orang dari yang nice sampai yang gesrek. Hahaha..." Ujar Abi.


"Gak heran kalau temanmu di mana-mana. Kalau Mas kan bisa dihitung pakai jari teman Mas siapa saja. Itu aja ribut mulu gak kelar-kelar. Hahaha..." Ucap Abi dengan tawanya.


"Iya ya, Mas. Temenku emang super banyak. Di mana juga ada. Berasa punya pengawal banyak. Padahal mah temen. Makanya sering dapet undangan nikah setiap weekend. Hahaha... untung udah nikah. Jadi gak baper. Hahahahahahaha..." Tawa Anna diikuti Abi yang begituuu geli mendengar pembicaraan Anna.


Pagi menjelang siang itu percakapan mereka begitu ringan tapi cukup bermanfaat. Bisa saling mengenal karakter satu sama lain.


******


*kalau kita mau saling mengenal karakter masing-masing pasangan kita


seharusnya tak ada lagi kata "baper"


mengerti karakter seseorang itu mungki tidak butuh waktu lama tapi untuk memahami karakter seseorang butuh waktu seumur hidupmu*


******

__ADS_1


__ADS_2