Sajak Rindu

Sajak Rindu
CHAPTER 41: KESAYANGANKU


__ADS_3

Isak tangis Anna sudah tak lagi terdengar oleh Abi. Abi sepanjang malam mendekap Anna. Rasanya tak ingin pisah ia dengan Anna.


Anna begitu kecewa dengan Abi yang terlalu sibuk dengan urusannya. Abi mengabari teman-temannya di kantor. Ia menyerahkan keseluruhan project pada Arka, Adit, dan Aryo.


Abi ingin fokus dengan kesehatan Anna. Abi hanya akan mengontrol sesekali saja tentang project tersebut.


Abi terbangun ketika ponselnya bergetar. Ia mendapatkan info orang yang berusaha mencelakai Abi dan Anna.


Abi mendengar semua info tersebut dan orang itu bukanlah orang yang dulu pernah melukai Abi dan kakaknya.


Ia adalah orang pesaing bisnis Abi yang tidak suka perusahaan Abi memenangkan bisnis ini. Namun, Abi tak tinggal diam. Dia terus mencari informasi untuk mengetahui siapa pelakunya.


Terdengar kasur berdecit, Anna rupanya yang sedang terbangun tengah malam.


"Dek, kok bangun? Kenapa?" Tanya Abi yang duduk di kursi dekat tempat tidur Anna.


"Iya, Mas."


"Ada yang sakit, dek? Dimana? Sebelah mana, dek?" Tanya Abi bertubi-tubi.


"Anna gak apa. Cuma kebangun aja." Ujarnya yang begitu dingin kepada Abi.


"Anna... adek, masih mau diam saja seperti ini sama Mas Abi?" Tanya Abi.


"Kasih Anna waktu ya Mas. Biar Anna sendiri dulu." Ujarnya sudah dengan mata berkaca-kaca.


Abi tak banyak berkomentar. Abi hanya diam mengikuti alur Anna. Ia mengelus lembut kepala Anna.


"Mas..." Panggil Anna dengan suara paraunya.


"Iya dek" Jawab Abi dengan suara beratnya.


Abi menghampiri Anna. Berbaring dengan Anna di ranjang yang sama dan berdampingan.


Wajah mereka hanya berjarak 1cm dengan mereka berhadap-hadapan. Abi melihat jelas titik air mata yang deras mengalir dari mata Anna yang terpejam.


"Dek, Mas mohon... usaikan tangismu, sayang..." Ucap Abi kepada Anna sembari menghapus air mata Anna.


"Jika memang dengan mendiamkan Mas atau bahkan membenci Mas Abi dapat membuatmu lebih senang dan lega, tak apa. Mas Abi tak apa. Sungguh." Ujarnya dengan mengecup kening Anna.


"Anna mana sanggup untuk membencimu Mas Abi. Kalau mencintaimu, aku sanggup." Ucap Anna dengan mata sendu dan senyum sumringahnya.


Abi tak banyak berkata. Ia terus mendekap erat Anna dan menciumi kening Anna berkali-kali.


"Mas Abi, maafin Anna ya..." Ucapnya sudah dengan derai air mata. Ia menatap lekat kedua mata Abi.


"Kamu gak perlu minta maaf, dek. Kamu gak salah. Mas yang lengah untuk jaga kamu. Mas Abi yang seharusnya minta maaf." Ujar Abi.


"Peluukkk..." Ucap Anna dengan manjanya.


"Mas Abi hari ini gak boleh kemana-mana pokoknya. Harus sama Anna. Hiks... hiks..." Ucapnya dengan manja dan diiringi isak tangis Anna.


"Iya. Mas gak akan kemana-kemana. Mas Abi buat Anna pokoknya. Hari ini sampai seterusnya. I love you, honey." Ucap Abi dengan mencium pelipis Anna.


"Maafin Anna ya Mas... yang membuat hati Mas Abi sakit mendengar perkataan Anna. Maaf Mas... Anna begitu kecewa dengan sikap Mas Abi. Hati Anna terluka... hiks... hiks... hiks... Anna__ hiks..." Tak sanggup Anna melanjutkan kalimatnya.


Abi yang mengetahui apa yang ingin di ucapkan oleh Anna hanya mendekap erat Anna.


"Ssstt... sudah. Adek tidak perlu memikirkan hal itu. Bukan jadi prioritas kita sekarang. Sekarang Mas mau adek sembuh. Adek bisa aktif seperti sebelumnya. Mas kangen sama gombalannya kamu, dek. Hehehe..." Terang Abi kepada Anna.


"Anna sayang Mas Abi." Ucapnya dengan mendekap erat tubuhnya kepada Abi.


"Mas Abi juga sangat menyanyangimu Anna. Terima kasih istriku." Ujar Abi yang mengecup ubun-ubun Anna.

__ADS_1


Mereka saling mendekap satu sama lain karena udara dingin menggigit kulit.


"Mas... dingin..." Ucap Anna yang sudah menggigil tubuhnya.


Abi yang mengetahuinya segera menyelimuti Anna dan memeluk erat Anna ke dalam dekapan hangatnya.


"Adek masih merasa dingin? Mau di matiin aja AC nya, sayang?" Tanya Abi dengan suara lembutnya.


"Jangan di matiin Mas. Nanti Mas Abi meleleh. Kayak es batu kena panas. Hehehe..." Ledek Anna kepada Abi.


"Hahaha... kamu tuh dek, ada aja bahasanya. Yaudah, suhunya Mas Abi naikin aja ya. Kamu gak kedinginan, Mas gak kegerahan." Ujar Abi menyarankan kepada Anna. Anna hanya mengangguk tanda ia setuju.


"Mas, tadi Mas Abi teleponan sama siapa? Boleh Anna tau?" Tanyanya dengan mendongakkan kepala kepada Abi.


"Sama detektif swasta yang Mas mintai tolong untuk mencari tau siapa orang yang berani mengusik aku dan kamu, dek." Jelas Abimanyu.


"Kok aku berasa lagi main drama ya... hehehe... terus udah ketemu?" Tanya Anna kemudian.


"Udah tapi baru praduga aja. Jadi aku minta detektif itu untuk mencari tau lebih dalam." Terang Abi.


"Anna jadi takut Mas kalau mau pergi-pergi. Apa gak apa kalau Anna pergi-pergi sendiri?" Tanya Anna dengan wajah tidak yakinnya.


"Buat sementara adek harus pakai pengawal dulu ya. Bukan karena Mas gak percaya atau gak mau kamu bergaul, tapi Mas Abi membatasi ruang gerakmu supaya lebih mudah untuk menjagamu, sayang..." Jelas Abi.


"Tapi ngawalnya jangan deket-deket ya Mas. Kalau lagi pas di sekolah kan gak enak, cuma guru pake di kawal-kawal. Apa kata mereka?? Heboh pasti. Hahaha..." Ucap Anna dengan senyum sumringahnya.


"Iyaa... sayang... nanti Mas suruh pengwal aku tidak terlalu jauh dari kamu, ya." Ujar Abi.


"Mas Abi"


"Iya dek. Kenapa?"


"Kemarin Mas sibuk apa? Sampai seserius itu? Anna sampe dilupain." Tanyanya yang mulai agak tenang.


"Oh, gitu..."


"Maaf ya dek... Mas suka lupa kalau sudah mengerjakan sesuatu pasti berlarut. Sampai adek panggil Mas Abi gak dengar. Maaf ya sayang..." Ujar Abi.


"Iyaa... dimaafkan. Anna juga gitu kok. Suka lupa waktu kalau sudah kerja." Ujarnya dengan seulas senyum.


"Tapi adek tuh gak pernah lupa sama Mas Abi. Buktinya sesibuk apapun kamu, kamu tetap bisa masak-masakan yang enak buat Mas. Mas kangen masakannya adek." Terangnya panjang lebar.


"Itu kan emang sudah jadi tugas Anna sebagai istri Mas Abi. Nanti kalau Anna sudsh sembuh, Anna masakin buat Mas Abi." Ujar Anna.


"Iyaa... sembuh dong dek... Mas kangen banget sama adek." Ujarnya seraya mengecup ubun-ubun Anna.


"Pasti Mas... aku pasti sembuh. Doakan ya... aku juga akan berusaha cepat sembuh." Ujar Anna seraya mengelus pipi Abi.


"Tadinya teman-teman banyak yang mau kesini. Tapi Mas gak izinin." Ujar Abi.


"Lho, kenapa?" Tanya Anna bingung.


"Karena Mas maunya, Anna sama Mas Abi aja. Mas Abi mau sama Anna tanpa ada gangguan. Bahkan Om Reza sama Aldi datang saat kamu benar-benar butuh baru aku panggil, kalau tidak, tidak perlu kesini." Terang Abi. Penjelasan Abi membuat Anna tersenyum lebar.


"Mas Abiii... kamu tuh kalau sudah maunya, maunya deh. Gak bisa di ganggu gugat. Kasian kan merek Mas. Gak boleh begitu. Kan kita juga masih ada waktu setelah mereka pergi atau sebelum mereka datang." Jelas Anna.


"Iya, tau. Tapi Mas gak suka dek. Orang lagi pengen berdua, tapi malah ada laler yg ganggu." Ujar Abi dengan sungutannya.


"Pokoknya, selama kamu sakit, Mas Abi yang rawat. Tanpa ada gangguan." Jawab Abi lantang.


"Sayang... gak bisa begitu. Kan kamu juga ada kerjaan. Pasti ngurusin kerjaan dulu dong?" Ujar Anna.


"Enggak. Buat apa jadi Boss kalau masih ngerjain sendiri. Anak buah banyak. Dikerahkanlah. Bossnya istirahat, leyeh-leyeh." Ujar Abi yang sontak membuat Anna tertawa.

__ADS_1


"Mas Abi... sayangku... kamu lucu banget sih. Segitunya mau ngerawat Anna. Makasih ya kesayanganku..." Ujar Anna dengan mengecup lembut pipi Abi.


"Yang bibir gak sekalian, dek?" Ucap Abi.


"Enggak. Kalau Mas yang minta biasanya suka aneh-aneh. Hahaha..." Ujar Anna dengan tawanya.


"Ya Allah... tega banget. Mas Abi marah sih." Ujar Abi yang memonyongkan bibirnya.


"Uduuhh... udaha mulai bisa ngambek. Sayang..." Ujar Anna deng merapatkan tubuhnya ke Abi.


"Habis kamu gitu." Ujarnya dengan sedikit memalingkan wajahnya.


"Beneran marah nih? Oh, yasudah... Anna mundur dulu deh..." Ujar Anna seraya melepaskan pelukannya.


"Enggak, enggak, hehehe... kesayangannya Mas galak nih kalau marah." Ujar Abi dengan menarik Anna kembali ke pelukannya.


"Hahaha... kamu lucu banget sih Mas. Wajah sama sifat kok bentrok. Penampilan kamu itu maskulin dan macho banget. Tapi... hatimu itu lho Mas... lembuuttt sekali... sabar banget menghadapi aku yang emosinya masih naik turun ini." Ujar Anna dengan mengecup singkat bibir Abi.


"Bukannya adek yang sabar banget menghadapi Mas Abi? Mas Abi selalu buat kamu khawatir. Selalu buat kamu nungguin Mas Abi. Kamu wanita yang paling sabar, sayang... makasih istriku..." Ucap Abi seraya mengecup kening Anna.


"Mas sebentar lagi kan anak-anak libur. Anna mau jalan-jalan sama Mas Abi ya... kita backpackeran. Sama Mas Abi aja tapi. Kayaknya seru. Hehehe..." Ujar Anna.


"Ayo, mau kemana emang adek? Udah ada tempat tujuannya blm?" Tanya Abi dengan menyingkap rambut Anna di wajahnya.


"Emm... pengen ke Yogyakarta. Nikmatin suasana Yogya sama Mas Abi." Ujar Anna dengan senyum manisnya.


"Ke Yogya? Kalau ke Turki mau? Kita cobain naik balon udara." Tanya Abi.


"Ke Turki butuh waktu berapa lama ya, Mas?" Tanya Anna.


"Gak lama. Seperti kita kemarin ke Korea. Di Turki banyak tempat romantis lho..." Ujar Anna.


"Mas sudah pernah ke Turki sebelumnya?" Tanya Anna.


"Sudah. Mas berjanji sama diri Mas sendiri. Kalau nanti Mas menikah dan sudah punya istri Mas mau ajak istri Mas naik balon udara dan berkunjung ke Blue Mosque. Tempat itu aku suka banget, dek." Jelas Abi.


"Kok sama sih Mas? Anna juga punya keinginan seperti itu. Anna mau naik balon udara dan ke Blue Mosque." Ucap Anna dengan senyum sumringahnya.


"Kita satu hati berarti, dek."


"Satu hati, satu frekuensi, ya Mas..."


Tertawa riang sekali malam itu mereka.


"Aku mencintaimu Anna Maheswari Prayogo. Lebih dari apapun. Jangan pernah kejutkan Mas Abi dengan hal-hal seperti ini lagi ya, sayang... Mas tak sanggup." Ucap Abi dengan mata sendunya.


"Anna juga mencintai Mas Abi lebih dari apapun. Anna gak bisa janji untuk gak buat Mas Abi khawatir. Kan Anna mah bar-bar banget. Hehehe..." Ujarnya yang membuat Abi tertawa.


Mereka menikmati dinginnya malam dengan dihiasi canda tawanya.


"Adek itu kesayangannya Mas Abi yang sangat Mas Abi cintai. Kamu itu duniaku sayang..." Ucap Abi sambil mencium pipi Anna.


"Mas Abi itu, hero nya Anna. Selalu biss lindungin Anna dari apapun. Anna uhibbuka fillah." Ucap Anna yang menangkupkan wajahnya di leher Abi.


"Makasih sayang... sudah menjadikan aku pahlawanmu. I love you." Ucapny sembari mengecup ubun-ubun Anna.


Setelah lama berbincang mereka lelah dan tertidur bersama.


******


manfaatkan waktu kalian bersama dengan orang yang kalian cintai. Karena kehilangan orang yang kalian cintai, seperti bumi yang tak mempunyai langit.


******

__ADS_1


__ADS_2