Sajak Rindu

Sajak Rindu
CHAPTER 16: BAKU HANTAM


__ADS_3

BANDARA ADISOEMARMO


Pagi itu Aldi dan Ayni bersiap untuk berangkat ke Jakarta. Ayni akhirnya pulang bersama dengan Aldi karena Ayah Tyo dan Bunda Ita akan baik-baik saja di Solo.


Supir Eyang yang mengantar mereka. Hanya Eyang Kakung dan Eyang Putrinya yang mengantar keberangkatan Aldi dan Ayni. Ayah Tyo masih belum bisa berjalan jauh sedangkan Bunda Ita menemani Ayah.


Sesampainya di Bandara ternyata Mama Isty dan Papa Bowo sudah menunggu. Mama Isty memeluk Ayni dengan lembut. Menepuk punggungnya bahwa Ayah dan Bunda akan baik-baik saja dan mereka akan menjaganya.


Jam keberangkatan pesawat sudah dekat, Aldi dan Ayni segera masuk ke pesawat. Mereka sudah berpamitan sebelumnya.


Menuju pesawat, ponsel Aldi terus berdering. Dari Rumah Sakit. Sepertinya memang ia harus sesegera mungkin ke Rumah Sakit. Pikir Ayni.


1 jam lebih mereka di dalam pesawat yang akhirnya sampai di Jakarta. Di perjalanan, Ayni terlihat pucat. Aldi yang seorang dokter langsung saja tau bahwa istri sedang tidak enak badan. Kecapean mungkin. Pikir Aldi.


Sesampainya di bandara Soetta mereka dijemput oleh sopir Aldi. Mang Udin namanya.


"Pagi, Pak Aldi." Sapanya ramah. Ia agak heran. Tumben sekali Pak Aldi bersama perempuan. Biasanya sendiri kalau pulang tugas. Batinnya.


"Mang, ini kenalin, istri saya. Ayni." Ujarnya yang sontak membuat si Mamang terkejooedd...


"Ya, Allah. Bapak MBA (Maried By Accident)??" Tanyanya dengan shock.


"Hussh! Sembarangan. Ini perempuan yang dijodohin sama saya. Yang waktu itu pernah saya ceritain waktu Papa ke Jakarta. Udah, ayo buruan. Saya sudah telat. Harus ke rumah sakit lagi." Jelas Aldi kepada si Mamang.


Belum saja mereka naik ke mobil, Ayni izin ke Aldi mau ke toilet. Perutnya rasanya gak karuan. Mualnya bukan main.


"Wuuiihh... Pak Aldi tokcer euy, baru juga beberapa hari udah langsung isi tuh Bu Ayni. Beda Dokter mah ilmunya. Hihihiii..." Ucap Mang Udin dengan candaannya.


"Alhamdulillah Mang... kalau emang hamil. Berarti saya lelaki tulen. Hahaha..." Candanya kepada si Mamang.


"Emang Bu Ayni, beneran isi Pak? Waahh... Bapak maju tak gentar ya... Hahaha..." Ledek Mang Udin.


"Ledekin aja terus... Ayni kayaknya masuk angin. Soalnya dari pas berangkat tadi dia bilang badannya gak enak. Terus pas saya cek di pesawat, bener aja. Demam kayaknya. Terus kecapean. Masih shock kali dia punya suami dadakan yang ganteng banget." Terangnya kepada Mang Udin.


"Iya. Ganteng banget. Kalau di lihat dari ujung Monas. Hahaha..." Pecah tawa mereka. Tak lama Ayni datang.


"Udah selesai? Jalan sekarang?" Tanya Aldi.


"Iya. Mas. Sudah. Ayo, pulang. Nanti Mas Aldi makin kesiangan." Ujar Ayni yang lemas sekali setelah mengeluarkan semua isi perutnya.


Perjalanan pulang di dalam mobil.


"Mang, kita pulang dulu ke rumah ya." Ucap Aldi kepada Mang Udin.


"Mas, anter Mas Aldi dulu aja. Nanti kamu keburu kesiangan lho. Dari tadi ponselmu bedering terus." Ujar Ayni yang masih lemas sekali dan bersandar di dada bidang Aldi.


"Tapi kamu lagi sakit ini lho... panas gini badannya. Demam kamu tuh tinggi, 39°. Istirahat di rumah." Ujar Aldi dengan lembutnya.


"Iyaa... Ayni tau Mas. Tapi itu kasihan pasien-pasienmu nunggu. Udah, kita ke Rumah Sakit dulu." Ucap Ayni dengan tegas.


"Mang Udin, kita Rumah Sakit ya. Nanti setelah anter Bapak, baru pulang." Ujarnya.


"Siap Bu! Laksanakan! Boss! Inget pasal satu dalam rumah tangga." Jawab Mang Udin.


"Pasal apaan deh Mang?" Tanya Aldi.


"Pasal 1 istri selalu benar. Pasal 2, jika istri salah kembali ke pasal 1." Sontak saja perkataan Mang Udin membuat Aldi dan Ayni tertawa. Dan Ayni semakin memeluk erat tubuh Aldi. Aldi, mengecup lembut ubun-ubun Ayni.


*****


RS. MITRA SOENGGONO


Sesampainya di Rumah Sakit Aldi hanya mengambil beberapa pakaian dan tas kerjanya. Deringan ponselnya membuatnya berlari kecil.


"Mas Aldi, gak ada niatan buat pamit sebentar sama Ayni?" Tanyanya sambil tersenyum. Ayni tau bahwa suaminya kalau buru-buru ada saja yang tertinggal.


"Eh, iya! Lupa! Udah punya istri. Belum pamitan. Hehehehe..." Ujar Aldi dengan khas cengar-cengirnya.


"Sama istri lupa?" Ayni hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Maaf, dek... Mas kerja dulu. Assalamualaikum." Ucapnya dengan mencium lembut kening Ayni.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, sayang... semangat kerjanya." Ujar Ayni sambil mencium punggung tangannya.


Lalu Aldi berlalu pergi masuk ke Rumah Sakit. Saat itu ada seseorang yang memperhatikan mereka berdua. Sakiitt sekali hatinya melihat Ayni dan Aldi yang begitu mesra.


*****


Aldi masuk ke ruangan yang tertera di papan pintu CEO Hospital.


Di ruangan tersebut sudah ada beberapa Dokter bedah yang sedang berdiskusi tentang salah seorang pasien yang membutuhkan pembedahan sesegera mungkin namun haruz di planning. Karena tidak bisa buru-buru.


Setelah selesai dari meeting. Dr. Reza langsung memberikan bingkisan yang dititipkan Dr. Maira kepadanya dan harus di berikan kepada Dr. Aldi.


"Apa ini Kak?" Tanya Aldi bingung.


"Ini titipan dari Maira. Buat lo sama istri lo." Jawab Reza enteng.


"Kan gue belum cerita kalau gue udah nikah sama Ayni." Ujarnya sambil duduk di depan meja CEO.


"Itu hebatnya perempuan. Maira tuh pakai feeling dia. Mengira-ngira. Ternyata benar. Hahaha..." Ujarnya.


"Any way thanks Kak." Jawab Aldi beranjak dari kursinya dan jalan melangkah keluar. Tetapi...


Bbrraakk...


Suara pintu di buka paksa.


"B******k!!! Buuugghh". Pukulan keras menimpa wajah tampan Aldi yang ia sampai tersungkur ke lantai.


Laki-laki itu tidak tinggal diam. Dia memukul wajah Aldi, menendang perutnya, mencengkram kerah baju Aldi, lalu mengangkatnya dan meninju wajahnya.


"Lo bilang, lo sobat gue!! Apanya yang sobat?? A****g". Ucap laki-laki tersebut masih dengan marah yang menggebu-gebu.


Reza kemana?


Ada di situ lagi ngeliatan aja. Mau lihat mereka adu kekuatan sampe mana. Sambil nyemil kentang goreng sarapan yang di bawakan oleh sang istri.


"Lemah lo!! Laki macam apa lo yang lemah kayak gini??!! Gimana bisa lo ngelindungin Ayni kalau lo lemah kayak gini!! Dasar b******n!!!!! Lo nikahin Ayni, karena lo mau balas dendam sama gue, HAH??!!!!" Aditya masih sangat emosi. Ia berteriak, memukul, menendang, meninju Aldi.


*****


Di mobil perasaan Ayni tidak enak sekali. Ayni sudah kalut perasaannya dan meminta Mang Udin untuk putar balik ke Rumah Sakit.


Ayni turun dari mobil dan berlari memasuki lift. Ia naik ke lantai paling atas. Ke ruang CEO. Mas Aldi tadi kalau tidak salah bilang, ia ada meeting dengan team dokter bedah di ruang CEO. Ayni bisa naik ke atas karena ia bilang harus sesegera mungkin bertemu dengan Dr. Reza. Ini menyangkut hidup dan mati.


Ting...


Suara pintu lift terbuka dan ia mendengar suara gaduh di ruang CEO.


"Mas Aldiii...!!" Pekik Ayni.


Seketika membuat Adit diam membisu.


Ayni menyambar Aldi dengan tangisnya. Reza yang sedang asik makan kentang goreng. Terpaksa menghentikannya.


"Ya, Allah, Mas... kenapa sampai seperti ini?" Ujarnya dengan isak tangis.


Aldi bangun dan membelai wajah Ayni dengan senyum lembutnya.


"Ayni! Sebaiknya kamu keluar. Aku belum selesai dengan Aldi. Keluar!" Ucap Adit tegas tapi tidak membentak.


"Melihat suamiku dipukuli seperti ini, anda pikir saya akan diam saja? Tidak! Anda salah!" Ayni pun juga terpancing emosi.


Adit tidak tega sebenarnya melihat Ayni menangis seperti ini. Aldi memberi pengertian kepada Ayni bahwa ia baik-baik saja dan meminta Ayni untuk keluar.


Aldi memberi kode ke Reza untuk membawa Ayni keluar dari ruangannya.


"Tapiii, Mas... hiks hiks..." Ucapnya yang sudah tidak bisa ia uraikan dengan kata-kata.


"Sayanggg... aku mohon, tunggu di luar ya..." Ucap Aldi lembut sekali dengan mengusap air mata Ayni. Perih rasanya hati Aldi melihat Ayni yang menangis tersedu seperti itu.


Reza membawa Ayni keluar. Baru sampai di ambang pintu, Adit sudah siap melayangkan tinjunya lagi kepada Aldi. Namun, Ayni menghalanginya.

__ADS_1


Bbuuugghh....


Ayni jatuh tersungkur. Adit diam terpaku. Tak ada maksud hati untuk memukul Ayni. Reza diam membisu begitu shock melihatnya.


"Astagfirullah, Ayniii!!!" Teriak Aldi menghampiri tubuhnya yang tersungkur.


Aldi yang melihat luka di wajah Ayni, tidak tinggal diam. Ia yang tadinya tak ingin melayangkan tinjunya, sekarang begitu geram. Melihat istrinya terluka karena dipukul oleh sahabatnya sendir.


Buugghh


Tinju yang dahsyat dari Aldi. Aldi tak berbicara sepatah katapun. Ia hanya meninju, wajah Adit berkali-kali, sampai Reza datang menghentikannya.


"Aldi!! Cukup!! Kau bisa membunuhnya kalau seperti ini!!!" Ucap Reza dengan suara lantang dan tegasnya. Aldi berhenti dan mehampiri Ayni yang masih tergeletak tak berdaya.


Ia menggendong Ayni ke ruang UKS CEO. Karena tak mungkin dia membawa ke bangsal pasien. Mau jadi apa RS ini ramainya.


Adit diobati oleh Reza dan ia menelpon Dito yang sedang menunggunya di bawah. Adit pulang dengan wajah biru-biru dan tertunduk lemas. Ia melewati ruang UKS CEO sekilas dan melihat Aldi yang sedang mengobati Ayni dengan teliti. Ayni yang memegang wajah Aldi dengan tetesan air matanya, membuat Adit semakin perih hatinya.


"Dek, kenapa keras kepala banget sih, Mas bilang keluar saja. Kenapa malah masuk lagi ke dalam ruangan?" Ucap Aldi yang sungguh tak tega rasanya ia melihat istrinya dengan wajah biru-biru seperti itu.


"Mas..." Ujarnya sambil bangun dari tempat tidurnya dan duduk di pinggir kasur berhadapan dengan Aldi yang duduk di kursi, di depannya.


"Aku yang luka kecil ini tidak seberapa sakit. Lebih sakit luka yang kamu punya, sayang... disini." Ucap Ayni dengan menepuk lembut dada Aldi.


"Padahal udah aku umpetin lho, gak cerita supaya kamu gak tau." Ujarnya dengan canda.


Ayni memegang wajah Aldi. Menangkupkan di kedua tangannya dan mengecup lembut bibir Aldi. Yang dibalas lumatan lembut oleh Aldi.


*Udah halal mah bebasss (authornya somplak😆).


"Dek, terusin di rumah ya..." Canda Aldi.


"Tapi aku lagi demam. Nanti ketularan. Ntar aja kalau aku udah sembuh ya." Ucap Ayni dengan candanya.


"Yeee... tadi dipancing. Sekarang udah ketangkep dilepas." Ujar Aldi dengan mencibikkan bibirnya.


Anna memegang wajah Aldi, mengangkatnya sedikit dan mencium lembut bibir Aldi kembali. Aldi tak pernah menyia-nyiakan moment itu. Dibalasnya ciuman Ayni dengan lumatan yang lembut. Sebelum Aldi sampai puncaknya, Ayni melepas ciumannya dan mencium lembut kening Aldi.


"Kamu selalu bisa bikin aku jatuh cinta, Mas..." Ucapnya lembut.


"Harus! Karena aku suami kamu. Masa depanmu dan kamu, selamanya untukku. Hanya Allah yang mampu memisahkan kita karena ajal. I love you, Ayni. Istriku." Ucapnya dengan jelas dan suara berat di telinga Ayni.


"Kenapa baru bilang sekarang?" Ucap Ayni dengan menangis tersedu.


Aldi bingung seketika. Wanita itu ajaib. Pikirnya.


"Bilang I love you nya kenapa baru sekarang? Padahal, hiks hiks... aku udah bilang sayang sama Mas hiks hiks... dari awal. Tapi, hiks hiks... Mas Aldi gak pernah jawab. Aku pikir kamu memang gak cinta sama aku dan hanya menikah karena dijodohkan. Huu... huuu... hiks hiks, tapi sikap kamu lembut banget sama aku... hiks hikss... jahat...! Huuaa... hiks hiks..." Jelas Ayni kepada Aldi.


Aldi sama sekali tidak tau kalau selama ini Ayni memikirkan sejauh itu. Aldi memang bukan laki-laki yang romantis. Kalau mesum, iya. Kan sama istri mesumnya... 😆


"Maafin aku kalau sikapku buat kamu salah paham. Aku bukan laki-laki yang pandai mengungkapkan perasaan dengan kata, sayang... maaf ya... Aku sungguh mencintaimu. Sangat. Teramat sangat. Hingga aku begitu takut saat kamu bertemu Adit di pesawat. Mas pikir kamu akan lebih memilih Adit. Ternyata, kamu bilang sayang ke Mas sebelum ijab-kabul. Kamu pilih Mas Aldi. Kamu tau, hatiku begitu ingin terlonjak keluar saking bahagianya. Aku bukan laki-laki romantis yang sering memberi ucapan cinta atau hadiah bunga dan sebagainya. Tapi aku belajar untuk melakukan hal romantis itu hanya dengan istriku. Kamu, Ayni." Jelas Aldi kepada Ayni yang masih menangis sesenggukan.


"Hiks, hiks... hiks... pelukk..." Ucapnya manja sekali.


*Wooyy, wooyy, ruang CEO itu.


*Biarin sama suaminya ini (author koplak😑)


Aldi pun memeluk Ayni dengan lembut dan hangat.


"Kamu selalu berhasil buatku jatuh hati berkali-kali dengan orang yang sama. Setiap waktu aku selalu jatuh hati sama kamu, Mas. Anna uhibbuka fillah." Ucap Ayni dengan mengecup pipi Aldi.


*****


*percaya saja bahwa Tuhanmu akan mempertemukanmu dengan orang yang tepat di waktu yang tepat


tunggu dan bersabarlah*


*****


Sabaaaarrr ya mblooo 😁

__ADS_1


__ADS_2