
KEDIAMAN ABI DAN ANNA
Pagi itu, Anna sedang duduk di pinggir kolam renang melihat sang suami yang tengah asyik berenang.
"Mas, sudah yuk berenangnya. Sarapan dulu." Ujar Anna memanggil Abi yang meluncur menuju Anna.
"Adek bikin sarapan apa?"
"Roti sandwich sama susu. Mas hari ini selain ketemu sama Dr. Reza, kemana lagi?" Tanya Anna sambil memberikan handuk kepada Abi yang sedang telanjang dada itu.
"Gak ke mana-mana. Emang adek ada janji mau pergi?" Tanya Abi yang sambil memasukan sepotong sandwich ke mulutnya.
"Gak ada. Anna besokkan udah masuk ngajar. Mau langsung pulang aja. Mau istirahat. Nyiapin energi sama nyiapin batin. Hahaha..." Ujar Anna sambil berbaring di kursi panjang dekat kolam renang.
"Kok nyiapin batin? Kenapa?" Tanya Abi bingung.
"Di sekolah kan Bu Gurunya banyak yang nge-lambe Mas. Tau kalau Anna udah nikah dan gak bilang-bilang, itu mah udah pasti jadi topik hangat. Bukan hangat deng, panaaazzzz... hahaha..." Ucap Anna dengan mengibas-ngibaskan telapak tangannya ke dekat wajahnya.
"Ohh... hahaha... lucu aja Bu Guru begitu. Besok Mas anterin ke sekolah. Biar sekalian kenalan sama Bu Guru. Hehehe..." Ujarnya sambil meminum segelas susu.
"Mas Abi ke kantor jam berapa emang besok? Nanti kalau nganterin Anna ke kantornya telat." Ucap Anna sambil bangun, berdiri dari tempatnya, mengambil tisu dan mengelap bekas makanan di pinggir bibir Abi.
"Adek lupa? Mas Bossnya? Hahaha... belagu banget ya?" Ucap Abi tertawa senang.
"Iya, iya, Boss." Ucap Anna sambil tersenyum.
*****
RUMAH SAKIT
Anna dan Abi sedang bersiap untuk menuju RS menemui Dr. Reza atau lebih tepatnya Om Reza.
Hari itu Abi mengenakan poloshirt hitam, jaket warna hijau tua, celana jeans, sepatu kets, dan rambutnya diikat. Karena rambut Abi itu panjang, jadi sering diikat cepol.
Anna? Anna gak kalah kerennya. Ia memakai baju longdress hijau army kotak-kotak dan jilbab polos panjang sedada dengan warna senada, tas ransel hitamnya, dan sepatu kets.
Anna tidak terlalu suka memakai sepatu heels atau flat shoes karena pasti akan melukai jari kakinya yang mungil, yang letaknya dipaling ujung.
Mereka siap di mobil Range Rover Sporty Black nya Abi. Meluncur menuju RS bertemu dengan Dr. Reza.
Tak lama berselang, mereka sampai di pelataran RS yang masih dalam bagan organisasi Basupati Soenggono Groups tersebut.
Anna dan Abi menjadi pusat perhatian seisi RS. Cantik dan ganteng. Abi dengan tingginya 187cm dan Anna dengan tubuh mungilnya 165cm menjadi terlihat begitu serasi. Tapi mereka (Anna dan Abi) tak merasa aneh dengan tatapan nitizen maha benar tersebut.
"Assalamualaikum" Sapa kedua pengantin yang sudah hampir frustasi di kerjai oleh Om nya itu.
"Waalaikumsalam" Jawab Dr. Reza dan Dr. Maira dengan wajah senang dan senyum sumringahnya.
"Aannnaaa... aaaa... lama sekali tak bersua kitaa..." Ujar Dr. Maira yang pasti heboh kalau ada Anna.
"Hallooo... Tante... apa kabar? Iya, lama banget kita gak ketemu. Sehat kan Tant?" Tanya Anna seraya memeluk dan menepuk punggung Dr. Maira.
"Alhamdulillah, kami semua sehat. Kalian mau check up ya?" Tanya Dr. Maira.
"Iya, Tant. Habis dikerjain sama Om Reza aku." Ujar Abi yang seraya bersalaman dengan Dr. Maira dan memberikan salam high five dengan Dr. Reza.
"Dikerjain gimana maksudnya?" Tanya Dr. Maira bingung.
"Iya. Dikerjaiin selama 1 bulan gak boleh deket sama istri aku. Karena untuk menetralisir traumaku. Termasuk berhubungan suami-istri. Kejam." Ujar Abi yang saat itu duduk di sofa panjang nan empuk berwarna putih sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa dan merentangkan tangannya di belakang punggung Anna.
"Hah?! Seriusan?! Ya, Allah... suamiku kok tega banget sama ponakannya sendiri di siksa lahir batin gitu." Ujar Dr. Maira.
"Mai, aku bukannya menyiksa. Justru aku menyelamatkan rumah tangga mereka. Masa gara-gara trauma Abi, nanti pas lagi hot-hotnya traumanya muncul. Kan gak seru. Lagi asyik, digantungin. Kasihan Anna nya." Jelas Dr. Reza.
"Emang kamu masih suka kumat gitu, Bi?" Tanya Dr. Maira.
"Kalau lagi sama Anna enggak. Tapi waktu aku tugas diluar, ketemu sama perempuan selain Anna, itu kadang masih suka keringat dingin dan pening banget. Tapi kalau udah sama Anna, gak pernah sekalipun ngerasa kayak gitu. Kayak sama Tante Mai, sama Mama, aku baik-baik saja." Terang Abi kepada Dr. Maira dan Dr. Reza.
"Berarti reaksi traumamu sudah mulai mengerucut. Ke perempuan yang tidak dekat denganmu. Merasa tidak aman dan tidak nyaman?" Tanya Dr. Maira.
"Mungkin. Gak ngerti juga Tant. Tapi sama Anna, malah gak bisa jauh. Seperti ada magnet yang narik aku ke Anna." Jelas Abi.
"Tapi, pernah gak kamu merasa gak nyaman atau gak aman saat dekat dengan Anna?" Tanya Dr. Maira.
"Gak ada sama sekali. Gak ada rasa khawatir sedikitpun. Malah kangen terus mau peluk. Hehehe..." Ujar Abi sambil merangkul Anna mendekatnya dan Anna mengelus lembut pipi Abi.
"Duh, mesranyaa... aku juga bisa sama suamiku seperti itu. Ya, Mas, ya?" Tanya Dr. Maira ke Dr. Reza yang di balas ciuman di pipi Dr. Maira oleh Dr. Reza yang membuat Dr. Maira tersenyum riang.
"Yaudah, sini Bi. Om check dulu." Ujar Dr. Reza.
Saat Dr. Reza mengecek Abi. Para wanitapun berbincang ria.
"Anna, berarti kamu belum malam pertama dong?" Tanya Dr. Maira dengan bingung.
Anna hanya tersenyum mendengar pertanyaan Dr. Maira.
"Yaampun... itu si Abi, nyia-nyiain kamu banget ya?" Ucap Dr. Maira.
"Gak disia-siain kok Tante. Mas Abi itu baik banget sama Anna dan sangat romantis." Ujar Anna dengan senyum sumringahnya.
"Hah?! Abi romantis?!! Mimpi apa dia? Pantas hujan. Hahaha..." Ujar Dr. Maira yang heran sekali dengan perubahannya Abi. Tapi ia bersyukur karena semenjak menikah dengan Anna, Abi terlihat seperti manusia biasa. Bukan patung yang berjalan. Tanpa ekspresi dan arogan.
__ADS_1
Tak lama mereka berbincang, Dr. Reza dan Abi keluar dari ruang pemeriksaan. Abi terlihat tersenyum bahagia ke Anna.
"Anna, kamu pasti senang. Selamat malam pertama ya." Ujar Dr. Reza.
Anna yang cukup terkejut langsung berhambur memeluk Abi. Tangis haru Anna pun pecah. Abi memeluknya dengan sangat erat.
Trauma Abi tetap masih ada. Hanya saja untuk perempuan yang tidak dekat dengannya. Jikalau dengan istrinya, Mama, Tante atau keluarga dekat ia tak apa.
Abi memeluk dan mencium kening Anna cukup lama. Membuat Dr. Reza dan Dr. Maira yang melihatnya jadi malu sendiri.
Anna dan Abi pamit pulang kepada Om dan Tantenya tersebut. Dalam perjalanan Abi tak pernah berhenti menciumi punggung tangan Anna.
Setelah sampai di rumah, mereka bersih-bersih, dan istirahat. Tidak makan malam, karena mereka sudah makan diluar.
"Dek, sini sebentar sayang, Mas mau ngobrol sama adek." Ujar Abi yang meminta Anna duduk di atas kasur di dekatnya. Anna pun menurutinya dan duduk di samping Abi.
"Kenapa Mas?" Tanya Anna bingung.
"Dek, kamu mau kapan siapnya melakukan hubungan suami istri? Karena Mas Abi gak mau kalau kamu merasa terbebani." Ujar Abi. Karena Abi tau, Anna senang untuk melakukannya tapi pasti ada kekhawtiran di diri Anna.
"Kok Mas Abi tanya gitu? Anna memutuskan menikahi Mas Abi artinya Anna sudah sepenuhnya menyerahkan diri Anna ke Mas Abi. Mau kapanpun Mas Abi mau, Anna harus kasih. Kenapa? Mas Abi ragu ya?"
"Bukan ragu, sayang.. hanya saja, Mas gak mau kamu nantinya malah menyesal telah melepas kegadisanmu. Mungkin kamu sudah banyak dengar tentang malam pertama itu seperti apa. Menurut mereka asyik, belum tentu menurut kamu itu asyik." Jelas Abi.
"Sayang, Mas sama sekali tidak meragukanmu. Mas hanya tidak ingin melakukan hal tersebut tanpa persetujuanmu. Apalagi ini hal yang pertama buat kamu dan aku. Mas hanya menunggu sampai kamu siap dan yakin. Ini tidak ada hubungannya dengan perasaan ya, dek. Sampai kapanpun Mas cintanya sama kamu. Udah gak bisa dikutak-kutik lagi hatinya." Ujar Abi dengan mengelus lembut rambut Anna dan mencium ubun-ubunnya.
"Makasih ya sayang... Mas Abi sangat memikirkan perasaan Anna. Kelihatan ya wajah Anna yang khawatir?" Tanya Anna ke Abi.
"Sangat. Kamu gak ngomong, Mas tau dek. Udah kebaca semua. Makanya Mas Abi tanya dulu sama adek." Ucap Abi.
"Maaf ya Mas. Udah buat Mas jadi khawatir juga. Sebenarnya yang Anna khawatirkan, Anna bisa gak ya buat Mas Abi senang nanti saat berhubungan intim? Mas Abi kecewa gak ya kalau Anna mainnya gak bagus? Mas Abi akan puas atau tidak ya? Banyaaak sekali pertanyaan-pertanyaan tersebut di kepala Anna. Mungkin itu yang buat Anna terlihat khawatir." Terang Anna. Anna menundukkan kepalanya karena malu.
"Sayaangg... lihat Mas Abi." Abi mengangkat dagu Anna.
"Dek, Mas, gak pernah sekalipun berpikir seperti itu. Kamu sudah sabar menunggu Mas dengan semua kekurangan Mas, Mas Abi sudah sangat bersyukur. Sangat senang. You are my world, honey."
"Lalu, untuk apa Mas sedih hanya karena ini pengalamanmu yang pertama? Tidak mudah menahan hasrat cinta seperti itu lho, dek. Tapi kamu? Kamu mampu untuk menahannya dan melakukannya."
"Bahkan Mas Abi sendiri, belum tentu bisa. Justru malah adek yang sering mengingatkan Mas Abi. Maaf ya sayang, Mas sudah buat kamu sekhawatir ini." Jelas Abi.
"Tidak perlu minta maaf Mas. Itu semua Anna lakukan, karena ingin melihat Mas Abi senang. Jadi, mau kapan?" Tanya Anna dengan binar matanya.
"Adek siapnya kapan?" Tanya Abi.
"Kapan aja siap. Buat Mas Abi." Jawab Anna dengan senyum sumringahnya.
"Hahaha... makasih ya sayang..." Ucap Abi yang mencium lembut kening Anna.
"Tapi gak sekarang. Karena kamu besok sudah masuk mengajar. Besok malah bangunnya kesiangan. Kamu juga gak bisa jalan nanti. Besok aja ya. Adek gak apa-apa? Kamu kecewa, sayang?" Tanya Abi kepada Anna yang menatap lekat mata Anna.
Anna itu ekspresif banget. Dia senang, marah, sedih, kecewa, khawatir, kelihatan semua di wajahnya.
Anna tau, sangat tau, bahwa ia kecewa dengan jawabannya Abi. Tapi ia juga sangat paham. Bahwa Abi mengkhawatirkannya.
"Dek, maaf kalau Mas buat kamu kecewa dengan jawaban Mas. Tapi, adek pasti tau, kenapa Mas Abi melakukan itu." Jelas Abimanyu yang sangat mengetahui bahwa istrinya kecewa.
Abi juga tidak ingin melakukannya tapi Abi tau, bahwa Anna akan sangat sakit sekali jika mereka melakukan hubungan suami istri sekarang.
"Iya, Mas... Anna tau kok." Ujarnya dengan senyum yang berat sekali.
"Atau adek mau melakukannya sekarang? Mas gak apa kalau adek maunya sekarang." Ujar Abi yang sangat tau istrinya kecewa. Tak tega Abi melihat Anna seperti itu.
"Tidak Mas. Tidak apa. Sudah, tidur yuk. Besok Mas kan juga harus ke kantor." Ujar Anna yang kemudian membaringkan tubuhnya di kasur.
Entah mengapa, hati Anna begitu sakit. Mungkin Anna yang terlalu lebay dan sensitif mendengar perkataan Abi. Lahar panas dari mata Anna pun mengalir, tanpa Abi ketahui.
Abi tidur dengan memeluk Anna dari belakang. Ia tau ternyata kalau Anna menangis.
"Sayang, maafin Mas. Maafin Mas Abi buat kamu sedih lagi." Ujarnya yang begitu tak tahan melihat istrinya menangis.
"Jangan menangis sayang. Duniaku runtuh." Ucap Abi berbisik ke Anna.
"Maafin Mas Abi." Ucap Abi sambil mengecup dalam kepala Anna.
Anna tidak bergeming. Ia tetap berbaring memunggungi Abi. Entahlah, hatinya begitu sensitif. Mendengar perkataan Abi, sudah membuatnya sedih.
*****
Paginya, Anna bangun dan memasak di dapur. Menyiapkan sarapan untuk Abi. Ia sudah telat. Walaupun ia belum mulai mengajar, tapi Anna harus meeting untuk membahas rancangan pembelajaran anak.
"Mas, Mas Abi... bangun, Mas." Anna mengguncang pelan tubuh Abi tapi tidak ada respon dari yang empunya badan.
Akhirnya Anna meninggalkan memo singkat di nakas bersama dengan sarapan yang ia buat.
"Mas Abi, maaf Anna berangkat duluan ya. Anna sudah kesiangan. Anna tadi udah bangunin Mas, tapi Mas gak bangun-bangun. Sarapannya di nakas ya. Baju kantor Mas Abi sudah Anna siapkan di ruang ganti. Hari ini Anna mungkin pulang sore." Ini di memo yang ia tempel dekat nakas.
"Mas Abi, maaf, Anna butuh waktu sendiri dulu. Kalau sudah tenang, Anna akan menghubungi Mas Abi. Maaf kalau Anna terlalu egois. Maafin Anna ya Mas. Aku sangat mencintaimu _Your Lovely Wife_ Anna." Memo yang tertempel di nampan sarapan Abi.
Abi bangun dan melihat sarapan di nakas yang sudah di siapkan Anna. Ia membaca setiap memo yang Anna tempelkan di meja.
"Sayanggg, maafin Mas Abi." Dengan terduduk lesu, Abi mengusap wajahnya.
__ADS_1
Abi bangun, mandi, sarapan, ia memakai baju kantor yang sudah disiapkan istrinya. Ia turun dan bertemu dengan Mbok Nah kepala asistant rumah tangga Abi dan Anna.
"Den, sudah mau berangkat? Sarapannya sudah di makan den?" Tanya Mbok Nah dengan runtutan pertanyaan.
"Sudah Mbok Nah." Jawab Abi singkat.
"Den, maaf kalau Si Mbok terdengar ikut campur. Tapi apa den Abi sama non Anna sedang berselisih paham?" Tanya Mbok Nah.
"Kenapa Mbok?" Tanya Abi yang sedang menaruh tasnya di kursi ruang tamu untuk membenarkan dasinya.
"Tadi pagi, saya melihat non Anna sedang menangis terisak di ruang sholat. Bahkan saat membaca Al Qur'an, air matanya tak bisa terbendung lagi. Menangis tersedu-sedu. Mbok gak tega lihatnya den." Ujar Mbok Nah.
Perkataan Mbok Nah memberhentikan aktifitas Abi yang sedang mengkancingkan lengan kemejanya.
Abi hampir jatuh terduduk mendengarnya. Perih sekali hatinya. Ingin sekali ia berlari dan menemui Anna.
Tapi tak bisa. Anna memintanya untuk menunggunya. Ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Anna.
"Den, Mbok lupa. Tadi pagi ponselnya non Anna jatuh. Ketiban penggorengan. Retak sudah tak berbentuk." Ucap Mbok Nah.
"Kok bisa Mbok?" Tanya Abi heran.
"Iya, den Abi. Non Anna itu walaupun kesiangan berangakat ngajar, tetep aja mau bikin sarapan buat den Abi. Katanya, kalau gak buat sarapan untuk den Abi, paginya terasa kurang. Romantis banget ya den, non Anna itu. Udah den, marahannya. Emang betah marahan lama-lama sama Non Anna? Mbok sih gak betah. Orang cantik gitu di anggurin." Ujar Mbok Nah yang seketika membuat Abi tersenyum.
"Iya, ya Mbok. Abi terlalu bodoh menyia-nyiakan bidadarinya Abi." Ujar Abi yang membuat Mbok Nah bergidik ngeri mendengar Bidadari dari kata Abi.
"Iya, bidadari tak bersayap ya den? Hehehe..." Ujar Mbok Nah yang membuat Abi tersenyum geli.
"Tapi gimana dong Mbok Nah. Anna tadi tulis di memo kalau dia hari ini mau sendiri dulu gak pengen dihubungin. Terus Abi mesti gimana?" Tanya Abi yang duduk di sofa sambil melonggarkan dasinya. Udah rapi, dilonggarin lagi dasinya. 😅
"Kalau tipe Non Anna sudah bilang seperti itu, berarti memang benar Non Anna tidak ingin diganggu. Berarti Den Abi yang harus sabar nunggu." Ujar Mbok Nah.
"Iya, Mbok. Benar. Abi yang sekarang bergilir sabar nunggu Anna." Jawabnya dengan tatapan nanar.
Hari itu, Abi hanya sebentar ke kantor. Jam 11:00 ia pamit pulang lebih awal oleh timnya. Abi pergi ke toko handphone untuk membelikan yang baru buat Anna.
Abi mengurus semua sendiri. Ia datang ke sekolah Anna dan menitipkannya kepada satpam sekolahnya.
"Selamat siang, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" Tanya Pak Giman. Yang tertera di papan nama bajunya.
"Selamat siang, Pak. Saya Abi. Suaminya Anna." Jawab Abi lantang.
Sontak membuat Pak Giman dan Bang Dul (OB Sekolah Bumi Pertiwi) terbelalak dan sangat terkejut.
"Maaf, Pak. Anna yang dimaksud Bapak itu salah satu Bu Guru yang mengajar di sekolah ini?" Tanya Bang Dul.
"Iya. Anna Maheswari Prayogo. Istri saya." Ucap Abi dengan seulas senyumnya.
"Maaf, Pak. Disini yang statusnya menikah itu Bu Maya Kepala Sekolahnya, Bu Vita adminnya, Bu Putri, Bu Mila dan Bu Riri. Kalau Bu Anna, saya belum pernah dengar beliau sudah menikah, ya Pak." Jelas Pak Giman.
"Sama Bu Ina. Udah Pak Giman. Kan barusan kita shock. Nikah sama Boss kita. Pak Dimas. Lupa apa?" Ujar Bang Dul.
"Hahaha... maaf ya Pak Giman dan Bang Dul. Sudah membuat kalian terkejut. Tapi memang saya dan Anna sudah menikah. Kami baru melangsungkan akad nikah dan ijab kabul. Untuk resepsinya menyusul. Jadi mungkin kalian belum tau sepenuhnya. Tapi, sungguh. Saya ini suami syahnya Anna." Terang Abi kepada Bang Dul dan Pak Giman.
"Jantung saya shock berat ini Dul. Dari tadi pagi, kejutan kok gak habis-habis ya..." Ucap Pak Giman yang seketika mengundang tawa.
"Maaf ya Pak Abi. Kami sempat curiga sama Bapak." Ujar Bang Dul si sang OB.
"Iya Bang Dul. Gak apa. Saya ke sini juga cuma mau titip ini aja kok." Abi menyodorkan satu paper bag yang berisi ponsel untuk Anna.
"Dan satu lagi." Abi menyodorkan 2 paper bag untuk Pak Giman dan Bang Dul. Ponsel juga.
Karena Anna pernah cerita bahwa Pak Satpam di sekolahnya susah sekali dihubungi karena ponselnya masih yang zaman daholooee... OB di sekolahnya pun juga sama. Sudah punya ponsel, tapi layarnya sudah retak-retak. Abi hanya ingin membantu sebagian keinginan Anna.
Pak Giman dan Bang Dul mengucapkan banyak terima kasih kepada Abi. Abi saat itu langsung pulang, yang sebenarnya ia ingin sekali bertemu Anna.
Pak Giman memberikan ponsel titipan Abi kepada Anna dan Bang Dul membawakan makanan ringan yang dititipkan Abi untuk Anna dan Bu Guru yang lain.
"Bu Anna, ada titipan dari Pak Abi. Suaminya." Ujar Pak Giman yang tanpa bersalah dan sontak membuat semua orang diruangan tersebut terkejut terkecuali Ina. Karena ia memang sudah tau sejak awal.
*****
*To My Husband
I LOVE YOU
in the morning
in the middle of the day
in the hours of we're together and
togethers we are away*
Anna mengirimkan pesan singkat itu ke Abi.
Abi melihat pesan singkat tampil di layar ponselnya. Seketika Abi tersenyum bahagia.
*****
duniaku kembalilah
__ADS_1
aku sendu tanpamu, sayang...
******