
RUMAH SAKIT JANTUNG
Kondisi Ayah Aira sudah tidak menentu. Aira dan Arka tidak bisa mengulur waktu lagi.
"Ra, waktu kita gak banyak. Ikuti apa yang Ayahmu mau. Menikahlah denganku." Ucap Arka dengan wajah sendunya dan membungkukkan tubuhnya untuk sejajar dengan Aira.
"Tapi, Pak..." Ucap Aira sudah dengan genangan air mata.
"Udah, gak usah tapi-tapian. Ganti baju dulu sekarang, ya. Habis itu kita kembali ke ruangan untuk melaksanakan akad nikah. Ayo." Ajak Arka kepada Aira.
Ayah, Bunda, Alina, Mama, dan Papa semua sudah siap menunggu Arka dan Aira untuk pelaksanaan ijab kobul.
"Pak Arka.." Panggil Anna sebelum masuk ruangan Ayahnya.
"Kenapa Ra?" Tanya Arka dengan santai.
"Bapak yakin dengan keputusan ini?" Tanya Aira dengan embun air matanya.
"Sangat yakin." Ucap Arka dengan seulas senyum bahagianya.
"Aira, kamu perlu tau, bahwa hari ini adalah hari di mana saya ingin melamarmu dan serius denganmu. Itu planning saya di awal." Terang Arka yang sukses membuat Aira terkejut.
"Tapi Allah punya kehendak lain. Kita diizinkan untuk saling mengikat janji sekarang. Dihadapannya, dihadapan orang-orang yang kita sayang, dan melengkapi ibadah kita." Lanjut Arka.
"Jalani apa yang Allah mau Ra. Meski kamu belum mencintaiku. Aku akan berusaha membuatmu mencintaiku." Ucap Arka dengan menatap lekat mata Aira.
"Bapak salah. Saya sudah mencintai bapak sejak awal kita bertemu." Batin Aira.
Awal bertemu, Aira dan Arka di setiap moment pertemuan antara Abi dan Anna yang sedang berkumpul. Durasi mereka ngobrol sebenarnya tidak banyak.
Tapi durasi rindu mereka yang makin membuncah. Namun, tak bisa saling mengungkapkan. Apalagi Aira tau sekali siapa Arka dan siapa Aira.
Hingga mereka dipertemukan dalam satu project bersama selama beberapa bulan. Mungkin Allah tidak ingin mereka manambah dosa.
Maka diberikanlah jalan seperti ini. Dipertemukan pada kondisi di mana mereka juga tidak pernah meminta.
Jodoh, rezeki, dan hidup mati seseorang gak akan ada yang pernah tau.
*****
Akad nikah, ijab kabul pun selesai dikumandangkan. Aira dan Arka resmi menyandang status suami-istri.
Ayah Aira pun kondisinya sudah mulai stabil. Keinginan orangtua itu aneh memang. Tapi mereka sangat tau betul apa yang baik dan buruk untuk anknya.
Ayah dan Bunda Aira serta Mama dan Papa Arka senang sekali melihat anak sulung dan anak bontotnya menikah. Kebetulan Aira anak pertama dari dua bersaudara Aira (sulung) dan Alina (bontot). Sedangkan Arka tiga bersaudara Amar (sulung), Arini (tengah), dan Arka (bontot).
Dua keluarga tersebut menyaksikan ijab kabul syah dan sakralnya meski di sebatas ruangan namun sangat private.
*****
Setelah menginap beberapa hari di RS Ayah Aira akhirnya diizinkan pulang oleh dokter dan dirawat di rumah.
Aira mengantar Ayahnya, Bunda, serta Alina untuk pulang ke rumah dan istirahat yang layak di rumah.
Sesampainya di rumah, Aira mengabari Arka bahwa ia sudah sampai rumah Ayah dan Bunda. Arka saat itu sedang ada pertemuan dengan salah satu vendor untuk kantornya jadi tak sempat untuk membantu Aira.
Aira tak pernah mempermasalahkan hal itu karena ia memang sosok perempuan yang tangguh dan mandiri. Sudah biasa melakukan apapun sendiri.
"Ra..." Panggil Bunda dari balik pintu kamar Aira.
"Iya, Bund..." Jawab Aira yang seraya membuka pintu kamarnya mempersilahkan Bundanya untuk masuk.
Mereka duduk dan berbincang riang dengan kejadian-kejadian belakangan yang membuat kepala pening dan begitu cepat terjadinya.
"Aira... ndok... kamu kan sekarang sudah menjadi istri syah secara hukum dan agama dengan Arka. Jaga sikapmu ya, ndok..." Ujar Bundanya Aira.
"Iya, Bunda. Insyallah Aira usahain gak bar-bar lagi. Hehehe..." Ucap Aira dengan khas cengir kudanya itu.
"Kamu tuh ndok... gak pernah ada seriusnya. Ingat istri tidak boleh melawan suami. Biduk Rumah tangga itu bukan sebuah perjalanan yang mudah. Tapi bukan juga sebuah perjalanan yang sulit. Akan terasa sulit jika yang berjuang hanya satu orang. Tapi jika dilakukan bersama-sama akan lebih mudah. Bunda tau kamu khawatir kalau Arka menikahimu hanya karena keinginan Ayah." Jelas Bunda.
"Kok Bunda tau? Aira kan belum cerita." Ucapnya heran dengan Bundanya yang tau sekali kekhawatiran anaknya.
"Tau dong... anak Bunda. Masa Bunda gak tau. Arka sudah cerita sama Bunda waktu kamu sedang di RS menunggu Ayah di ruangan." Ujar Bunda.
"Arka bilang, kalau kamu masih merasa ragu karena takut menghalangi mimpi Arka yang ingin menikah dengan wanita yang dicintainya. Padahal kau tau, ndok? Wanita yang Arka cintai itu kamu. Sejak awal ia sudah menaruh hati padamu, ndok. Hanya saja kamu selalu membuat tembok besar antar kamu dan Arka." Lanjut Bunda Aira bercerita.
"Bunda juga cerita tentang pengalamanmu kepada Arka yang sangat diremehkan oleh orang yang berada. Oleh laki-laki yang kamu sayangi tapi orangtuanya tidak merestui kalian karena kasta kalian berbeda. Kamu disakiti dengan kata-kata menohoknya. Bunda cerita ke Arka supaya Arka tidak menduga-duga." Bundanya Aira.
"Sekarang ia sudah tau kenapa kamu sangat menjaga jarak dengannya dan Bunda juga tau, kalau kamu itu sudah sayang dengan Arka sejak awal. Wajahmu selalu bersemu merah jika bercerita tentang Arka." Ucap Bundanya Aira.
"Ndok... kalian memang sudah ditakdirkan saling melengkapi berdua. Mungkin tanpa permintaan Ayahpun kalian akan menikah jika Allah menghendakinya." Ujar Bunda yang menutup petuahnya dengan memeluk erat tubuh sang putri sulungnya.
Aira yang mendengar wejangan dari Bundanya menangis haru. Betapa keras dan egoisnya Aira selama ini. Ia sudah bertekad untuk tidak akan menyia-nyiakan momentnya bersama Arka.
"Aira sayang banget Bund sama Mas Arka. Sangat sayang... hingga hanya bisa mencintainya seorang." Ucap Aira dengan berderai air mata.
"Aira jahat banget ya Bund sama Mas Arka?" Ucapnya.
__ADS_1
"Enggak kok. Kamu baik banget sama aku." Jawab Arka yang sejak tadi mendengar perbincangan Ibu dan anak tersebut.
"Arkaa... sudah datang, Nak. Kok Bunda gak denger kamu ketuk pintu?" Ucap Bunda seraya berdiri dan Arka bersalaman mencium punggung tangan Bundanya Aira.
"Sudah ketuk pintu dan ucap salam. Tapi kayaknya lagi pada sibuk curcol. Jadi Arka ke kamar Ayah dulu, lihat Ayah sama ngobrol sebentar. Biar kalian bisa curcol. Pas Arka kembali kesini, kirain udah selesai, eh... masih berepisode ternyata. Hahaha..." Ucap Arka jelasnya.
"Hahaha... maaf deh... Bunda keasyikan ngobrol sama Aira. Yasudah, kamu masuk deh. Bunda mau lihat Ayah dulu. Ndok, bikinin minum dulu tuh suamimu." Ujar Bunda yang seraya menepuk pundak Arka. Mengisyaratkan semangat untuk Arka.
"Mas, mau dibikinin apa? Teh atau kopi?" Tanya Aira yang seraya mengambil tas kerja Arka dan melepas jaketnya.
"Enggak dulu deh, dek. Mas cuma mau rebahan sebentar." Arka langsung saja merebahkan tubuhnya di kasur Aira.
"Mas Arka gak mau mandi dulu? Badannya bau acceemm nih..." Ucap Aira yang menggelitik tubuh Arka.
Bukan malah bangun, tapi justru Arka menarik tubuh Aira ke dalam pelukannya.
"Mas, malu ah, ntar ada Bunda sama Ayah. Ada Alina juga. Udah mandi dulu." Ucap Aira dengan menangkupkan telapak tangannya di pipi Arka dan menggoyang-goyangkan pipi Arka hingga bibir Arka berbentuk sudut.
Chhuu...
"Mas Arka..!" Ucap Aira yang terkejut ketika Arka mencium bibir Aira.
Arka sontak tertawa melihat reaksi dari istrinya. Senang betul Arka sekarang.
"Habis kamu lucu sih dek. Hehehe..." Ucap Arka tanpa bersalah.
"Iihh... Mas Arka. Udah mandi dulu sana. Aku siapin air hangat biar badanmu hangat." Ucap Aira seraya bangun dari tidurnya.
"Mandi berdua ya... hehehe..." Ucap Arka dengan melayangkan senyum manisnya. Membuat hati Aira berdegup tak beraturan.
"Gak disini juga dong Mas... gak enak sama orang rumah. Udah, ayo, mandi dulu." Ucap Aira dengan mengecup singkat pipi Arka.
Arka mandi. Aira menyiapkan makan malam untuk Arka dan keluarganya. Malam itu mereka makan malam bersama. Arka dan Aira menginap di rumah Ayah dan Bundanya Aira.
Setelah selesai makan dan berbincang malam sebentar, mereka masuk kamar masing-masing.
Arka langsung merebahkan tubuhnya di kasur Aira. Aira tau bahwa suaminya begitu lelah.
"Sayang... sini." Ujar Arka yang meminta Aira untuk berbaring disampingnya.
"Kenapa sayang?" Ucap Aira yang berbaring di samping Arka dan mengelus lembut wajah Arka.
"Pengen peluk kamu." Ujar Arka yang menangkupkan wajahnya di dada Aira.
"Ada apa Mas?" Tanya Aira dengan suara lembut dan mengelus lembut rambut Arka.
"Ke siapa? Untuk apa?" Tanya Aira.
"Ke adek. Untuk menerima Mas Arka sebagai suamimu." Ujar Arka.
Aira mengangkat wajah Arka dan mencium keningnya.
"Makasih ya Mas, sudah sangat sabar menghadapi sifat Aira yang begitu keras kepala dan egois." Ucap Aira dengan rasa bersalahnya.
Arka hanya diam dan menatap lembut wajah Aira.
"Jangan lihat Aira gitu dong, Mas..."
"Kenapa?" Tanya Arka.
"Hatiku berdegup kencang. Hehehe..." Ucap Aira yang rona merah pipinya membuat Arka gemas.
"Aku sayang banget, dek sama kamu. Sangat mencintaimu. Jangan pernah tinggalin aku." Ujar Arka yang memeluk kembali tubuh Aira.
"Mana bisa Aira tinggalin Mas Arka. Orang cintanya sudah sama Mas Arka." Ucap Aira yang membuat Arka beringsut mendekati bibir merah meronanya Aira dan menciumnya.
"Mas..." Ucap Aira manja.
"Jangan disini. Masih ada orang rumah. Gak enak nanti di dengar. Hehehe..." Ucap Aira kepada Arka.
"Iyaa... Mas tau. Masih ada Alina yang dibawah umur. Hehehe..." Ucap Aryo dengan melayangkan ciuman dibibir Aira.
Mereka saling menautkan bibir mereka dengan lembut. Arka melumat bibir Aira yang empunya bibir, tidak mengerti harus gimana.
"Mas, Aira gak paham caranya gimana...." Ucap Aira dengan polosnya.
"Hahaha... dek, kissing itu gak usah diajarin dan gak pake cara. Tapi pake feeling." Ucap Arka masih dengan tawa riangnya.
"Hoohh... hahaha... Aira mana tau... kan belum pernah." Ucap Aira dengan malu dan tawa ringannya.
"Tau kok. Makanya Mas pelan-pelan. Nunggu adek sampe bisa melakukannya, baru Mas mau." Ujar Arka yang mencium lembut kening Aira.
"Makasih ya, sayang... untuk kesabaran hatimu. Aira sayanggg sekali sama kamu Mas. Bahkan menatapmu saja membuatku rindu." Ujar Aira yang membuat Arka semakin mendekapnya erat.
"Oh, iya, dek. Kita udah bisa pindah ke rumah kita ya. Rumahnya pengantin baru. Gak besar mungkin. Tapi cukup buat kita. Besok kita pindah ke sana ya?" Ucap Arka yang sedikit melonggarkan dekapannya ke Aira agar mudah untuk berbicara.
"Aku ikut Maskuuh ajaah... hehehe..." Ucap Aira dengan manja.
__ADS_1
"Kamu bisa manja juga? Gemesss..." Ucap Arka yang seraya mencubit pipi Aira dan melumat lembut bibir Aira.
Kali ini Aira menanggapinya. Lumatan demi lumatan membuat keduanya semakin hanyut dalam gelapnya petang itu.
*****
"Bund, hari ini Arka sama Aira resmi untuk pindah dari rumah Bunda sama Ayah ya. Arka sudah ada tempat tinggal untuk kami. Arka izin bawa Aira ke tempat kami tinggal ya, Bund, Yah..." Ucap Arka ketika mereka semua berbincang pagi.
"Iya, Ka. Gak apa. Bawalah Aira. Dia istrimu. Kamu berhak untuk melakukan itu. Tolong jaga baik-baik putri kesayangan Ayah yah... sayangi dan cintai dia selagi senang maupun susah." Wejangan dari Ayahnya Aira.
"Iya, Yah. Insya Allah, Arka bertanggung jawab untuk amanah tersebut." Ucapnya dengan tegas dan gagah.
"Kalian mau pindahnya hari ini?" Tanya Bunda kepada Aira dan Arka.
"Iya Bund. Mas Arka bilang, aku gak perlu bawa pakaian-pakaianku." Ucap Aira.
"Maksud Arka supaya gak banyak bawa barang bawaan aja Bund. Jadi kalau menginap disini, gak perlu bawa-bawa baju. Biar gak ribet aja sih... hehehe..." Jelas Arka.
"Iya bener, Ka. Perempuan kan ribet. Ayah setuju tuh." Ujar Ayah yang semangat sekali meng-iyakan ucapan Arka.
"Hahaha... Ayah senang betul." Ucap Alina yang sejak tadi asyik dengan novelnya.
*****
Aira dan Arka melaju dengan mobilnya Mercedes Benz GLC Class berwarna dark grey itu.
Di dalam mobil Aira sedang membaca pesan singkat dari teman-temannya.
"Mas, Anna, Ayni, sama Alisha mau minta ketemu. Bolehkah?" Tanya Aira kepada Arka.
"Kapan dek?" Tanya Arka yang sedang menyetir.
"Sabtu besok. Di Cafe biasa. Boleh?" Tanya Aira agak takut-takut tidak diizinkan oleh Arka.
"Boleh kok. Kita ketemu, kita jelasin semua ke mereka. Mereka pasti khawatir banget nunggu kabar kita." Ujar Arka yang memberhentikan mobilnya di depan rumah mewahnya.
"Rumahnya ini Mas?" Tanya Aira terperangah dengan kemewahan rumah ini.
"Iya. Adek gak suka ya?" Tanya Arka yang seraya turun dari mobil dan menggandeng Aira masuk ke rumahnya.
"Suka. Sukaaa bangeett..." Ucap Aira dengan senyum sumringahnya.
"Alhamdulillah... Mas seneng kalau kamu suka. Yuks, masuk." Ucap Arka dengan merangkul Aira.
"Mbok Mar..." Panggil Arka kepada asistant rumah tangganya tersebut.
"Iya tuan..." Jawab Mbok Mar dari arah dapur.
"Mbok, kenalin ini istri saya. Yang kemarin saya ceritain ke Mbok Mar." Ujar Arka dengan seulas senyum bahagianya.
"Aira. Salam kenal Mbok Mar. Mohon bantuannya ya." Ucap Aira dengan sopan.
"Duh, Nyah, jangan terlalu sopan begitu. Mbok Mar jadi canggung. Hehehe.." Canda Mbok Mar.
"Iya deh. Tapi jangan panggil Nyah dong... panggil nama aja." Ujar Aira yang memang merasa tidak nyaman dipanggil Nyonyah. Agak gimanaa gitu di dengarnya.
"Iya, baik. Nyah.. eh, Non." Ucap Mbok Mar.
Mereka menyudahi acara perkenalan singkatnya. Hari itu Arka meminta cuti kepada Big Boss Abi karena akan pindahan rumah katanya.
Arka menunjukkan semua sudut ruang rumah mereka supaya Aira tidak bingung nantinya. Rumah luas dengan dilengkapi fasilitas ng-gym, kolam berenang, arena untuk barbeque. Entah berapa meter persegi rumahnya.
Mereka tiba di ruangan utama. Kamar tidur. Arka langsung merebahkan tubuhnya di kasur.
Aira yang melihatnya hanya mengulas senyum dan membuka tirai korden kamar tidurnya supaya cahaya matahari bisa masuk.
"Gimana dek? Suka gak rumahnya?" Tanya Arka dengan wajah sumringahnya.
"Suka kok. Suka banget. Hehehe..." Tawa renyah Aira membuat Arka ingin sekali mendekap tubuhnya.
"Makasih ya Mas... Aira bahagiaaa... sekali..." Ucapnya sambil berbaring disamping Arka dan mengecup ringan bibir Arka.
"Mari kita bangun keluarga kecil kita disini ya, sayang." Ucap Arka seraya mengecup kening Aira.
"Iya Mas." Ucap Aira dengan mendekap erat tubuh suaminya yang berbisep-bisep tersebut.
*****
seberapapun kau menolak takdir
jika itu sudah untukmu
ya, untukmu
tak bisa kau hindari
tak bisa kau pungkiri
__ADS_1
*****