
Anna turun menggunakan lift. Masjid memang berada di bawah dekat parkiran. Sesampainya di masjid, Anna menyimpan sepatu di rak wanita dan mengambil wudhu.
Sambil menunggu ashar, Anna menyempatkan kembali untuk melantunkan ayat-ayat Al Qur'an. Setelah membaca beberapa ayat, Anna sholat qobliyah ashar. Selesai salam, Anna memanjatkan doa kepada Allah. Dalam doanya, ia menangis terisak.
Ia menangis karena perkataan Budenya, perkataan orang-orang yang menganggap betapa memalukannya profesinya di keluarga Prayogo. Anna begitu sedih, sakit sekali hatinya dan itu hanya ia tampakkan ketika ia berdoa kepada Allah.
Anna tak ingin Ayah dan Ibunya mengetahui betapa pilu hatinya yang selalu dianggap sebagai orang yang memalukan untuk keluarga Prayogo. Anna selama ini diam. Ia hanya bercerita kepada Allah melalui doa yang ia panjatkan. Ia meminta dikuatkan imannya, dilembutkan hatinya, dan dilapangkan dadanya.
Anna tak sendiri, ketika ia menangis terisak, mungkin Anna tak menyadari bahwa sejak tadi laki-laki itu memperhatikan Anna.
Anna menyudahi sholatnya dan mengambil wudhu kembali, setelah berwudhu dan bercermin membenarkan jilbabnya, ia kembali ke masjid, dengan mata yang sembab meski sudah di usap dengan air wajahnya, tetap saja belum berkurang.
Ketika Anna sedang memakai mukena, lelaki tersebut masuk masjid setelah selesai berwudhu. Pikir Anna, ini kan laki-laki yang tadi sholat dzuhur berjamaah dengan Anna. Dengan memberanikan diri Anna mendekati laki-laki tersebut untuk mengajak sholat jamaah.
"Mas, yang tadi dzuhuran bareng ya? Boleh jamaah lagi Mas? Ashar ini?" Tanya Anna kepada si laki-laki tersebut dengan senyum manisnya.
"Boleh. Saya mulai sekarang. Silahkan ambil posisi." Ucapnya tegas.
Perasaan tadi waktu dzuhur itu laki baik deh. Kok sekarang jadi jutek banget. Astagfirullah, Anna mengibas-ngibaskan tangannya di depan mukanya karena sudah berpikir negative kepada sang laki-laki tersebut.
Masjid itu sepi tak berpenghuni ketika Anna dan laki-laki itu melaksanakan sholat berjamaah. Ini masjid mungkin sengaja dilengangin sama Allah, biar sholat berjamaahnya khusuyuk. Siapa tau jodoh ya, Anna... 😊
Setelah selesai salam, keduanya memanjatkan doa. Ketika Anna sedang membuka kemudian melipat mukena, laki-laki tersebut berdiri dan melangkahkan kakinya keluar masjid.
"Mas, terima kasih." Ucap Anna seraya membawa mukena dan berlenggang keluar masjid.
Laki-laki itu tidak menjawab. Ia hanya mengangguk meng-iya-kan ucapannya Anna. Ketika sang laki itu duduk di teras masjid untuk pakai kaos kaki dan sepatu, Anna sempat memperhatikannya.
Baru engeh kayaknya si Anna, kalau laki-laki tersebut tampan. Laki-laki berfisik sempurna, pikir Anna. Tingginya kayaknya hampir sama seperti aktor Korea Selatan. Lee Min Ho namanya. Tingginya... wajahnyaaa... sepertinya blasteran. Wajahnya indonesia ada sentuhan Arabnya. Karena hidungnya begitu mancung, mirip sama seluncuran anak TK. Saking mancungnya ya... Yang uniknya, rambutnya gondrong sepundak dan diikat cepol sama dia.
Style nya unik banget, ucap Anna membatin. Sadar karena diperhatikan Anna, laki-laki itu menoleh ke Anna dengan sorot mata elangnya dan wajah yang bringasnya seperti singa yang siapa menerkam mangsa. Ya Allah, serem amat. Seketika itu juga, Anna menundukkan wajahnya dan langsung bergegas masuk kembali ke gedung.
Sampai di lobby Anna mendapat pesan singkat di Line dari Dika.
Dika: Mba An, di mana? Ditungguin sama Ayah sama Ibu. Mau pulang nih.
Anna: Iya. Lagi di lobby mau naik ke atas.
Dika: Gak usah naik ke atas lagi. Langsung ambil mobil aja. Kita tunggu di lobby.
Anna: Yee... katanya mau lo aja yang bawa mobil. Kok jadi gue lagi?
Dika: Iyee... ntar sampe lobby gue yang bawa. Udeh, buru cepet.
Anna: Iyaaaa... berisik.
Anna kemudian berlari kecil menuju parkiran untuk mengambil mobil. Karena terburu-buru ia tidak melihat ada lubang di depannya dan...
Gubrraakk
"Aauuww... Aduh..." Rintih Anna. Ia melihat sekeliling, tak ada orang. Jadilah ia akan malu jika banyak orang melihat. Udah gede, masih aja jatuh. Tersandung pula. Kakinya sepertinya agak terkilir dan telapak tangannya merah karena lecet. Berdarah.
Laki-laki itu melihat kejadiannya. Tapi ia tidak bisa menghampiri. Badannya serasa panas, ia berlari memasuki mobil Range Rovernya.
Ruam-ruam di tubuh kembali muncul, trauma itu kembali timbul di bayangannya. Ingin sekali ia teriak. Ia tidak suka keadaan ini. Begitu menyiksanya.
Dengan tergopoh-gopoh Anna memasuki mobil berwarna dark grey tersebut lalu menyalakan mesin mobil dan meluncurkan mobilnya di depan lobby.
Sampai di lobby Anna mengklakson Ayah, Ibu, dan Dika. Ia turun dari mobil dan meminta Dika untuk mengendarainya. Dika bingung dengan luka yang ada di telapak tangan Mbanya itu dan kenapa jalannya pincang-pincang gitu.
__ADS_1
"Mba An, lo kenapa deh? Kok jalannya pincang-pincang gitu?" Tanya Dika heran seraya mengambil kunci mobil yang diberikan Mbanya kepada Dika.
"Jatoh. Terkilir tadi di parkiran mobil." Jawab Anna yang masih meringis kesakitan. Tapi, Dika? Malah tertawa geli.
"Yak elaahh... lo Mba. Udah gede masih aja jatoh. Kayak bocah dah lo. Sini gue bantuin jalan. Ada-ada aja deh lo." Ucap Dika yang masih dengan tawa meledeknya.
Ayah Bagas dan Ibu Anin serta Mama Rani dan Papa Adi melihat Anna yang jalan pincang-pincang itu langsung menghampiri Anna.
"Kamu kenapa, Ndok?" Tanya Bu Anin dengan wajah yang khawatir kepada Anna.
"Anna gak apa Bu'e. Cuma tadi pas mau ke mobil di parkiran ada lubang di jalan, Anna gak lihat, terus ke sandung, jatoh deh. Mungkin karena buru-buru. Tapi cuma lecet-lecet aja. Kalau kaki kayaknya terkilir deh." Terang Anna yang tidak ingin membuat orangtuanya khawatir. Sambil nyengir kuda.
"Yaampun, Ndok, lain kali hati-hati, ndak usah buru-buru. Ada lagi, ndak yang luka?" Tanya Mama Rani ke Anna yang sama khawatirnya seperti Bu Anin.
"Ndak ada kok Tante Rani. Insya Allah gak apa." Jawab Anna dengan ramahnya.
"Kok manggilnya Tante sih. Mama dong, aku kan sahabatnya Bu'e mu itu. Lagian juga sebentar lagi kita jadi menantu dan mertua." Ujar Mama Rani dengan khas candaannya itu.
"Haduh, kamu tuh ya Ran, bocor banget. Udah dibilangin nanti dulu. Malah diucapin. Rani, Rani." Ucap Bu Anin sambil tertawa geli melihat tingkah sahabatnya yang tak pernah berubah sejak SMA.
Mobil Range Rover yang dibelakang mengklakson agar mobil Anna maju. Ayah Bagas dan Papa Adi masih asyik mengobrol.
"Yah, Bu'e, ayo. Ngantri nih". Ucap Dika yang menyetir saat itu.
Anna masuk bersama dengan Bu Anin di kursi belakang dan Ayah Bagas di kursi samping kemudi menemani Dika.
Anna sempat kepikiran ingin menanyakan maksud omongannya Tante Rani apa ya? Menantu? Mertua? Saat Anna sedang memikirkannya, tangan Bu Anin sudah mengoleskan obat ke luka Anna yang lecet di tangan.
" Aauuww, Bu'eee... Astagfirullah. Perih ini. Pake aba-aba dong Bu'e..." Ujar Anna yang saat ini sedang meringis kesakitan.
"Lagian kamu tuh, ndok, ndok, jalan kok gak hati-hati. Orang kok setiap hari jatoohh... terus. Gimana nanti kalau sudah punya suami. Masa mau merengek begini terus. Mbok yo dikurangi ngono lho ceroboh'e. (Coba cerobohnya dikurangin)." Ujar Bu Anin panjang lebar. Yang membuat para lelaki tertawa geli melihat Anna yang di ceramahi oleh Bu Anin.
1,5 jam kemudian
Setelah sampai rumah, mereka bersih-bersih, makan malam bersama. Saat makan malam, Ayah Bagas bicara, setelah sholat isya kita berkumpul di ruang keluarga. Ada yang ingin Ayah Bagas sampaikan. Anna dan Dika pun meng-iya-kannya. Bu Anin sepertinya sudah tau apa yang ingin dibicarakan oleh Ayah Bagas. Setelah makan, mereka ambil wudhu dan sholat isya berjamaah. Selesai sholat isya berjamaah, Ayah mengajak keluarganya berkumpul di ruang tengah.
"Ndok, le, sini." Panggil Ayah Bagas seraya membawa minyak goreng untuk Anna yang sejak tadi meringis kesakitan karena terkilir.
Anna yang baru dari toilet langsung mengahampiri Ayahnya. Dika-pun sama, ia baru selesai membuat kopi untuk Ayah dan dirinya. Heran deh, tuh anak gak ada kenyang-kenyangnya.
Anna duduk di samping Ayah Bagas, karena Ayah Bagas memintanya untuk duduk sambil meluruskan kaki dan dipijit oleh Ayah Bagas.
"Lo sih, Mba, ada aja pake jatoh segala. Jadi bikin kerjaan Ayah kan tuh. Masa Ayah disuruh mijitin gitu. Gak sopan. Huh!" Ujar Dika yang bicara dengan memonyongkan bibirnya.
"Iihh... rese lo. Yang tadi nyuruh gue ngambil mobil buru-buru siapa. Kan lo juga. Jadilah gue kayak gini sekarang. Ya gegara lo juga tauk!" Ucap Anna sambil bersungut-sungut.
"Yeee... gue kan nyuruh lo ambil mobil. Bukan nyuruh lo jatoh. Wlee." Ucap Dika dengan menjulurkan lidahnya.
"Iihh... bodo ah. Ngeselin banget sih lo!" Jawab Anna dengan melipat kedua tangannya di dada sambil memonyongkan bibirnya.
"Ibu perlu bikinin ring tinju gak? Kalo perlu, itu di halaman belakang masih bisa, mau pake pisau apa pake balok kayu?" Sahut Bu Anin yang dari dapur membawakan cemilan buah apel dan buah pisang.
Ayah Bagas hanya menjadi pendengar yang baik untuk ketiga makhluk ciptaan Allah yang sangat ia sayangi itu. Belum tentu ia akan menemukan moment ini lagi jika anak-anaknya nanti sudah berkeluarga.
Urut-mengurutnya pun selesai, debating juga selesai, ketika Ayah Bagas kembali dari dapur untuk cuci tangan karena habis mengurut Anna menggunakan minyak goreng. Tak lupa Anna mengecup lembut pipi Ayahnya dan mengucapkan terima kasih karena sudah dibantu untuk urut.
"Sudah selesai dramanya? Episode yang ke berapa sekarang?" Tanyanya yang mengundang tawa istri dan anak-anaknya.
"Ayah, katanya tadi ada yang mau di obrolin. Mau ngobrol apaan deh, Yah?" Tanya Dika sambil mengambil satu buah pisang dan melahapnya.
__ADS_1
"Gak apa, Ayah cuma mau berita up to date dari kalian aja." Canda Ayah Bagas yang lagi-lagi mengundang gelak tawa keluarga kecilnya.
"Dari Ibu, deh. Gimana Bu anak-anak sama kateringnya? Lancar?" Tanya Ayah kepada istrinya.
"Katering Alhamdulillah lancar, Yah. Gak ada masalah, apalagi semenjak ada tambahan katering dari Bu Ira. Makin sibuk Ibu. Anak-anak? Ayah lihat sendiri deh itu gimana mereka." Jawabnya penuh canda.
"Alhamdulillah... sekarang Ayah sudah bisa bantu-bantu ibu. Karena Ayah memang sudah menjelang masa-masa pensiun. Iya, anak-anak emang begitu ya... belum aja ngerasain jadi Ayah sama Ibu." Jawab Ayah dengan senyum sumringahnya.
"Kalau kamu gimana, Dika? Sekolah Penerbangannya kesulitan gak?" Tanya Ayah kepada Dika.
"Alhamdulillah, Yah. So far so good. Tapi kalau Dika bisa lulus tahun depan, Dika bisa lanjutin study Dika ke New York, Yah. Seperti Ayah waktu dulu ya?" Terang Dika kepada Ayah.
"Waahh... bagus itu, Dika. Nambah pengalaman dan pengetahuanmu. Boleh berusaha, tapi ingat. Jangan lupa berdoa dan istirahat." Ujar Ayah mengingatkan Dika. Yang diingatkan, memberikan hormat kepada Ayah Bagas tanda ia menyetujuinya.
"Kalau kamu, Ndok? Piye? (Kalau kamu, Nak? Gimana?)" Tanya Ayah kepada Anna.
"Gimana? Maksudnya, Yah?" Tanya Anna yang sedang sibuk mengupas pisang dari kulitnya.
"Ya... sudah ada calon yang mau di kenalin ke Ayah sama Ibu belum?" Ayah Bagas berbicara hati-hati takut menyinggung hati anak gadisnya ini.
"Belum ada, Yah. Emang Ayah sama Ibu ada?" Tanyanya dengan bercanda.
"Ibu sih sama Ayah ada. Tapi kamunya mau gak?" Ucap Ibu kepada Anna.
"Kalau itu pilihan Ayah sama Ibu, Insyallah Anna mau. Anna percaya pilihan Ayah dan Ibu itu pasti yang terbaik. Karena ingin melihat anaknya bahagia. Iya gak? Hehee..." Jawab Anna jelas.
Sebenarnya sejak Ayah Bagas meminta mereka untuk berkumpul dan ada yang ingin diobrolkan, Anna sudah tau, topik inti pembahasannya adalah jodoh untuk Anna. Namun, Anna hanya diam dan menunggu Ayahnya untuk berbicara.
"Ayah senang mendengarnya, Ndok. Kalau kamu benar setuju. Ayah dan Ibu langsung menghubungi teman Ayah." Ujar Ayah Bagas yang langsung mengambil ponsel dan siap menghubungi temannya itu.
"Yah, bentar, bentar. Ini langsung di telpon? Secepat itu?" Tanya Anna kepada Ayah Bagas yang membuat Ayahnya berhenti sejenak memegang ponsel.
"Lha, iya, Ndok. Harus cepat ini. Karena Mama dan Papanya harus pergi lagi ke New York." Jawab Bu Anin menjelaskan kepada Anna yang saat itu masih melongo bingung karena terlalu cepat menurutnya.
"Ndok, Ayah tidak ingin kamu pacar-pacaran. Sudah cukup pacar-pacaran itu. Sudah bukan umurmu untuk pacaran lagi. Lagi pula dalam islam juga kan tidak boleh berpacaran. Ayah percaya, calon suamimu ini laki-laki yang bertanggung jawab, bisa di andalkan, cerdas, sopan dan ramah terhadap orangtua. Yang paling penting sholat 5 waktunya gak pernah bolong." Terang Ayah kepada Anna dengan tegas.
"Ndok, kamu kan tau, Ayah akan pensiun. Dimasa pensiun Ayah, Ayah ingin membuka usaha memperluas katering Ibumu sampai ke luar Negeri. Ayah bertemu dengan sahabat yang baru saja pulang dari New York. Ayah, Ibu, Om, dan Tante yang akan menjadi mertua mu itu, sudah bersahabat lama dengan Ayah dan Ibu. Kami sudah punya janji. Jika anak kami besar nanti, kami akan menjodohkannya. Dengan syarat kedua anak setuju. Sekarang kamu yang bilang, kamu setuju dengan perjodohan ini. Makanya Ayah mau langsung menghubungi Om dan Tante." Jelas Ayah Bagas.
"Ndok, Ayah dan Ibumu khawatir. Kalau kami pindah dan tinggal di New York, kamu sendiri di sini bagaimana? Kami tidak bisa selalu ada buat kamu. Umur gak pernah ada yang tau, ndok. Akhirnya Ayah dan Ibu memutuskan untuk menjodohkan kamu dengan anak dari Om dan Tante itu. Setidaknya di Jakarta kamu ada teman. Dika? Dika kan masih di Yogya. Malahan dia tahun depan mau ke New York, kalau prestasinya bagus. Kamu makin sendiri dong di sini. Betul, memang ada sanak saudara. Tapi apa tidak merepotkan mereka? Mereka juga punya kesibukan yang lain. Ayah tau, kamu itu perempuan yang mandiri. Ayah tau kamu mampu bertahan sendiri tanpa Ayah dan Ibu. Tapi, ndookk... sekuat-kuatnya perempuan, semandiri-mandirinya perempuan, ia tetap butuh laki-laki. Percaya sama Ayah dan Ibu bahwa calonmu ini baik untukmu. Dia adalah laki-laki yang mampu membuatkan taman syurga di akhirat nanti, ndok." Terang Ayah begitu jelas.
Entah kenapa saat itu membuat mata Anna menjadi panas dan... ambyaarrr berjatuhan air mata Anna mendengar ucapan Ayahnya. Bu Anin merangkul pundak Anna dan mengusap air matanya.
Anna tak menyangka ternyata Ayahnya yang selama ini ia kenal galak, disiplin, kaku, ternyata sangat memikirkan masa depan anaknya. Begitu khawatirnya Ayah dan Ibu terhadap Anna.
"Uwes to, ndok. Ojo nangis, mengko ayune kurang. (Udah ya, Nak. Jangan nangis, nanti cantiknya berkurang)." Ucap Bu Anin dengan candanya.
Dika yang melihat moment itu, bukannya sedih tapi malah makin menjadi meledek Anna.
"Udah Mba, An. Terima aja perjodohannya. Belum tentu besok-besok ada yang mau sama lo." Ucap Dika dengan terkekeh.
Bu Anin memukul ringan pundak Dika dan Anna yang mendengar itu kembali bersungut-sungut.
"Jadi gimana, ndok? Setuju ya?" Tanya Ayah Bagas meyakinkan Anna lagi.
"Iya, Yah. Tapi, kalau anak laki-laki dari sahabat Ayah itu gak setuju, jangan dipaksa ya, Yah. Jangan pake ngancem-ngancem pokoknya. Anna gak mau ada hal-hal seperti itu." Terang Anna jelas.
"Iya. Ayah janji gak akan ada ancaman atau keterpaksaan." Ucap Ayah Bagas dengan mengelus lembut rambut Anna.
__ADS_1
\*