Sajak Rindu

Sajak Rindu
CHAPTER 8: CAFE


__ADS_3

CAFE COFFEE


Di pojok cafe dengan hiasan lampu kerlap-kerlipnya, dan nuansa sendu ditambah dengan tawa riang wanita yang sesekali mengundang senyum para lelaki disekitarnya.


Tawanya bukan yang membahana, hanya sekedar tawa riang. Tapi wajah mereka, sopan santunnya mereka saat bercerita menjadi sorotan beberapa orang yang memandang tak suka dan ada beberapa yang tak henti menatap.


Tak lama kemudian, datanglah Abi beserta antek-anteknya. Adit, Aryo, dan Arka.


"Assalamualaikum" Sapa Abi kepada Anna, Ayni, Aira, dan Alisha.


"Waalaikumsalam" Jawab mereka serempak.


"Mas, temen-temenya Mas Abi sudah datang?" Tanya Anna kepada Abi.


"Udah kok. Masih di parkiran. Nanti nyusul." Jelas Abi.


"Oh, ya. Mas Abi, kenalin. Ini teman-teman Anna. Yang pakai jilbab cokelat itu namanya Ayni, yang pakai pakai jilban pink itu Aira. Terus yang pakai jilbab ungu itu Alisha." Terang Anna kepada Abi. Abi menyambutnya dengan senyum ramah tanpa bersalaman dengan kawan Anna.


Teman-teman Abi datang.


"Assalamualaikum." Sapa three musketeers itu serempak.


"Waalaikumsalam." Jawab mereka yang sedang duduk berbincang.


Tempat duduk mereka itu dengan meja panjang dan kursi yang panjang. Jadi untuk perempuan dan laki-laki duduknya berhadapan. Kecuali Anna dan Abi bukan behadapan tapi berdampingan.


"Hallo... gue Arka." Sapa Arka kepada teman-teman.


"Hi, gue Adit." Sahutnya.


"Hallo, saya Aryo." Jawabnya sopan.


"Hi, aku Aira." Ucap Bila.


"Hallo, aku Alisha." Kata Icha


"Hallo, saya Ayni." Ujar Ayni.


"Karena semua sudah saling kenalan, order makanan udah belum? Kalau belum order sekarang aja, ya." Ujar Arka.


Adit yang biasanya heboh, slengean, pecicilan, aktif. Ini kok tiba-tiba jadi pendiam seribu bahasa.


"Mas Abi, Adit tumben banget diam aja. Biasanya kan doi paling hebring." Tanya Anna kepada Abi dengan berbisik. Takut Aditnya dengar.


"Iya, ya, dek. Kenapa tuh anak. Tumben banget." Jawab Abi yang memperhatikan Adit.


"Apa karena duduk di depan cewe kali?" Ucap Anna masih dengan berbisik.


"Hm? Masa iya? Enggak ah. Adit mah ada cewe depan mata gak pake busana juga doi mah santai aja." Ucap Abi enteng.


"Hemm... apa karena Ayni? Ayni kan perempuan berhijab, cantik, sopan. Apa karena itu? Kasihan aku jadinya Mas. Adit jadi pendiam banget." Ujar Anna dengan muka memelas kepada Pak Ficky.


"Mungkin aja. Karena setau Mas, Adit itu hampir gak pernah punya temen perempuan yang berhijab. Yang paling hobi nongkrong di club kan Adit." Jawab Abi dengan entengnya.


"Woiiy... penganten baru. Dempet banget duduknya. Udeh kayak bayi kembar siam. Tolong ya ini, malam minggu. Jangan nambahin kengenesan ini dong." Ucap Arka kepada Abi dan Anna. 😆


Ucapan Arka mengundang gelak tawa di meja itu.


"An, gue penasaran deh. Lo kan baru banget nih kenal sama Abi. Terus, lo nikah sama dia. Emang gak kaku gitu? Gak canggung?" Tanya Aira.


"Yang gue rasain sih enggak, ya Ra. Gak ngerti deh gue. Kayak apa ya, pernah gak sih lo ketemu sama orang yang gak lo kenal. Terus pas lo ngeliat, lo ngobrol, lo klik banget sama dia. Nah, itu yang gue rasain ke Mas Abi. Gue ya... gak tau, kalau Mas Abi nya gimana. Hahaha..." Jelas Anna.


"Belum pernah ngerasain yang macem klik klik-an gitu sih gue, An." Ujar Aira.


"Terus, terus kalau Abi gimana? Waktu pertama kali ketemu Anna? Jail ya, anaknya? Hahaha..." Lanjut Aira bertanya ke Abi.


"Sama kayak istriku." Jawab Abi singkat.


"Jiaahh... istriku. Lagu lu, Bi. Lagu lama kaset kusut lu. Hahaha..." Sahut Arka.


"Yeee... bilang aja pengen." Ucap Abi.


"Bi, masa cuma gitu jawabannya. Suka juga gak sama Anna?" Tanya Alisha yang kini menyambar ingin tau jawaban Abi.


"Justru yang jatuh hati duluan itu gue. Kalau Anna kayakny setelah nikah, baru jatuh cinta. Iya, gak, dek?" Tanya Abi dengan senyum menggodanya.


"Hehehe... Iya." Anna hanya cengar-cengir kuda.


"Udah dong... interogasi Anna sama Abi nya. Sekarang mending ngobrol yang lain aja." Ucap Aryo.


"Mau ngobrolin apaan, Yo?" Jawab Adit. Baru bersuara dia.


Abi yang bukan tipe orang suka basa-basi. Ia langsung bertanya kepada Adit.


"Dit, lo kenapa dari tadi diam saja. Tumben amat." Tanya Abi.


"Gak apa-apa." Jawab Adit singkat.


"Jawaban lo macem perempuan yang lagi ngambek. Lembek lah, kau." Sahut Arka.


"Bodoamat!" Ucap Adit bersungut-sungut.


Saat itu Ayni, izin untuk ke toilet bersama dengan Anna. Ketika di toilet, Ayni menangis sejadi-jadinya. Anna yang melihat kejadian itu terkejut bukan kepalang.


"Ay, kamu kenapa? Ya, Allah... Ayni..." Ucap Anna yang sangat terkejut. Karena Ayni tidak biasa-biasanya seperti ini. Ia menangis hingga sesenggukan.


"Ay, kenapa? Ada apa?" Tanya Anna dengan mengelus lembut punggung Ayni.


"Annaaa... Mas Adit__" Suaranya tercekat ketika ingin bercerita.


"Adit kenapa? Ngapain kamu? Hah?!" Ujar Anna yang saat itu benar-benar tidak mengerti.

__ADS_1


"Mas Adit, lelaki yang dulu dijodohkan denganku, tapi saat sudah harinya kami menikah, ia pergi, meninggalkan aku dan semua keluarga. Kamu inget kan kejadian itu? Aku pernah cerita sama kamu." Pecah sudah tangis Ayni.


"Ya, Allah... Ay... maaf, aku gak tau tentang itu sejak tadi. Kenapa kamu gak langsung cerita sama aku? Kenapa gak bilang?" Ucap Anna yang langsung memeluk tubuh Ayni.


"Sakit banget, Annaa..." Suara tangisnya kembali terdengar.


"Sakit yang aku sendiri tak tau harus bicara seperti apa?" Ucapnya yang masih dengan tangis sesenggukannya itu.


Saat itu ponsel Anna berdering tertulis di ponselnya "My husband".


"Assalamualaikum, Mas Abi." Ucap Anna.


"Waalaikumsalam. Dek, kamu masih di toilet? Masih lama gak? Ini nanti makananya keburu dingin lho..." Terang Abi yang berbicara di ponselnya, cukup ramai dengan suara-suara di sekitarnya.


"Iya, Mas Abi. Sebentar ya."


"Jangan lama-lama ya, sayang." Saat Abi berkata seperti itu. Riuh ramai sekali orang-orang disekitar Abi. Dengan meledek Abi.


"Iya, Mas Abi. Anna lagi nemenin Ayni nunggu kendaraan online." Ujar Anna yang sedang berdiri di samping Ayni.


"Lho, kenapa Ayni pulang duluan?" Tanya Abi yang bingun dengan situasi tersebut.


"Ayni pamit pulang duluan, sudah di telpon ibunya tadi. Nanti kalau sudah selesai disini, Anna langsung kembali kesana, ya." Jelas Anna kepada Abi.


"Oooh... yasudah. Langsung cepat kesini ya." Ucapnya mengakhiri percakapan.


"Iya. Assalamualaikum." Anna.


"Waalaikumsalam." Abi menjawab.


Setelah berakhir panggilan telpon Anna dan Abi. Kendaraan online yang dipesan Ayni pun, datang.


"Anna... maaf ya... aku egois kalau aku seperti ini. Tapi aku masih harus menyiapkan hati, An. Tolong sampaikan maafku kepada semua yang ada di dalam. Bahagialah dengan suamimu Anna__" Belum sempat Ayni selesai bicara, Adit datang dengan berlari menghampiri Ayni.


"Ay... hhh... kenapa... hhh... kamu pulang?" Suara Adit yang tersengal-sengal karena berlari, membuat hati Ayni tidak tega sebenarnya. Tapi, tidak! Ayni masih cukup sakit saat mengingat kejadian itu.


"Maaf, Mas Adit. Ayni, harus pulang." Jawabnya dengan berlalu dan say good bye ke Anna. Anna yang melihat keadaan itu, ia langsung masuk kembali ke Cafe memberikan kesempatan untuk mereka bicara berdua.


"Ayniii... Mas mohon. Sebentarrr, saja. Di sini." Ucap Adit yang memohon dengan sangat kepada Ayni.


"Maaf, Mas. Permisi." Ucap Ayni yang langsung masuk ke dalam kendaraan mobil online tersebut. Di dalam mobil, Ayni menangis sejadinya tanpa suara. Adit? Diam mematung dan membisu tanpa suara. Tidak ada yang tersisa selain perih di hati.


******


Terkadang Tuhan mengirimkan seseorang hanya untuk sekedar singgah dan membiarkan kita melatih hati untuk berjuang dan mengerti arti tidak melupakan, namun menerima.


******


Di dalam Cafe orang-orang di meja panjang tersebut masih dibuat bingung dengan situasi dimana Ayni pergi setelah dari toilet dan Adit yang mendengar Ayni pulang, langsung berlari secepat kilat menyusulnya dan juga, izin pulang tanpa berpamitan langsung. Abi yang melihat situasi seperti ini, langsung menanyakan kepada Anna.


"Dek, cerita sama Mas Abi, ada apa sebenarnya ini? Ayni, Adit. Kami bingung." Ucap Abi lembut ke Anna dengan mengelus pipi Anna.


"Cha, Ra. Lo pernah denger ceritanya Ayni yang dia sudah mau menikah, tapi ternyata calon suaminya kabur entah kemana?" Tanya Anna dengan suara bergetar, menahan tangisnya mengingat sahabatnya Ayni yang bercerita begitu pilu sakitnya.


"Emang kenapa An? Kok tiba-tiba nanya itu?" Tanya Aira yang gak peka dan dengan polosnya dia bertanya sambil asyik nyemil kentang gorengnya.


"Laki-laki itu, Adit. Aditya Harris Pratama. Sahabatmu Mas Abi." Penjelasan Anna sontak membuat semua yang ada di meja panjang terkejut. Sangat. Bahkan Abi, Aryo, dan Arka tidak menyangka bahwa diamnya Adit karena itu. Harus sidang pleno, nih. Batin Abi.


"Jadi itu alasannya kenapa sejak tadi Adit diam saja?" Tanya Abi ke Anna.


"Sepertinya. Dan... Ayni..." Suara Anna tercekat, sulit untuk meneruskan ceritanya.


"Ayni menangis sejadi-jadinya saat di toilet. Aku gak tega lihat Ayni, Mas..." Ucap Anna yang kemudian mulai terjun bulir-bulir air dari matanya. Abi memeluknya dan mengecup hangat ubun-ubun Anna.


"Gue coba telpon Adit, bentar." Ucap Aryo.


Nada sambungnya mengatakan ponsel Adit tidak aktif.


"Kayaknya percuma, Yo. Dihubungin saat ini juga gak bisa. Biar dia sendiri dulu. Nanti kalau sudah tenang, dia pasti datang ke kita." Terang Abi yang memang selalu bisa jadi penengah mereka. Sama seperti Anna.


Malam semakin larut, Aira, Alisha pamit pulang. Tadinya mau Aryo dan Arka yang anter pulang. Tapi mereka menolak. Tak baik malam-malam diantar pulang oleh laki-laki. Menurut Aira dan Alisha.


Tinggal, tersisa Aryo, Arka, Adit, dan Anna. Yang jalan menuju parkiran mobil. Saat itu mobil Abi di parkir dekat dengan pinggir jalan.


Saat itu Anna sedang ingin menyebrang setelah mengantar teman-temannya naik kendaraan mobil online. Ketika sampai di dekat mobil Abi, ada mobil lain yang melintas dengan kecepatan tinggi dan...


Baaaammmm!!!


Mobil itu menabrak pohon, bagian depannya hancur, mobil sudah mengeluarkan asap. Pengendaranya diketahui sedang dalam kondisi tak sadarkan diri dan dibawah pengaruh alkohol.


Saat kejadian itu, Abi menarik lengan Anna denga cepat dan memeluknya, hingga jatuh terguling ke tanah.


"Abiii... Anna..." Panggil Arka yang saat itu ia sedang menuju mobilnya. Namun, ketika melihat kejadian tersebut, ia berlari menghampiri mereka.


"Bi, An, kalian gak apa-apa? Ada yang luka? Kita ke Rumah Sakit sekarang ya?" Tanya Aryo bertubu-tubi. Karena Aryo yang parkir mobil tidak jauh dari Abi pun sangat terkejut.


Abi beringsut bangun dan segera memeluk Anna. Yang saat itu kening Anna terbentur benda tumpul, batu. Hingga berdarah dan membuat Anna setengah sadar.


"Anna, Ya, Allah. Sayang, bangun! Aku mohon, bangunlah!" Ucap Abi sambil menepuk lembut wajah Anna yang sudah bersimbah darah itu. Abi juga terluka, tapi hanya lecet yang tak ia hiraukan. Pikirannya kalut melihat istri yang dicintainya sudah bersimbah darah.


Abi langsung membopong Anna ke mobil dan melajukan mobilnya ke RS. Aryo dan Arka mengikuti dari belakang. Mengawasinya karena Abi sedang kalut, takut terjadi apa-apa.


DI RUMAH SAKIT (SOENGGONO HOSPITAL)


Gak jauh-jauh dari keluarga Abi emang. Sekaya apa itu keluarga. Belum cukup perusahaan, sekarang Rumah Sakit. Anna... kau sungguh beruntung Mbaknya... 😄


"Dokter, Suster... tolong istri saya, Dok." Ia menggendong Anna masuk ke dalam ruang IGD (Instalasi Gawat Darurat).


Abi membaringkan Anna di tempat tidur RS. Saat itu Anna mulai tersadar.


"Mas, dimana aku?" Tanyanya sambil meringis kesakitan memegang keningnya dan melihat darah.

__ADS_1


"Berdarah?" Tanyanya bingung.


"Sayang? Kamu sudah sadar? Sayang, sebentar ya, dokter segera datang." Ucap Abi yang mengelus lembut kepala Anna.


"Abimanyu!" Panggil seorang Dokter Perempuan cantik nan elok. Yup, Dokter Maira. Dokter muda yang cantik. Istri dari Dokter Reza.


"Tante Mai. Tante, tolong istri Abi." Jawabnya yang agak kaget, Tantenya tugas malam itu. Dr. Maira segera memeriksa Anna.


"Abi, istrimu harus dijahit keningnya. Sekitar 5 jahitan. Lukanya tidak parah." Jelas Dr. Maira ke Abi.


"Tapi kenapa Anna tak sadarkan diri, tant?" Ujar Abi yang khawatir dengan kondisi Anna.


"Dia hanya shock dan pening yang cukup berat. Tidak apa, Abi. Tidak perlu khawatir. Kami segera siapkan untuk menjahit keningnya." Dr. Maira memanggil suster untuk membantunya menjahit luka di kening Anna.


"Mas Abi, Anna gak mau. Sakit..." Rengek Anna kepada Abi.


"Sayang... gak perlu takut. Mas Abi disini." Ujar Abi dengan menggenggam tangan Anna.


Dr. Maira senang sekali melihat Abi sang ponakan yang sudah berangsur sembuh dari traumanya. Butuh waktu lama, sangat lamaa... untuk Abi mencapai titik ini. Dulu, ia begitu menderita. Melihatnya saja sudah membuat sakit apalagi yang merasakan.


Anna meringis kesakitan dan meneteskan air mata ketika jarum sudah mulai menyelusuri kulitnya. Perih, ngilu, semua ia rasakan. Abi? Gak usah ditanya. Berkali-kali ia mengecup tangan istrinya, mengucapkan kata-kata yang menenangkan, mengecup kembali tangan istrinya. Begitu khawatir Abi dengan Anna.


Anna sudah boleh langsung pulang, setelah Abi di bersihkan dan diobati juga lecet-lecet di lengan kekarnya itu. Kalau Anna tidak memaksanya, mungkin Abi tidak mau dibersihkan atau diobati lukanya.


Setelah selesai semua, mereka pulang, Aryo dan Arka yang menunggu sejak tadi pun juga pulang. Lelah sekali hari ini, pikir Anna.


"Dek, kita mampir ke supermarket dulu ya. Di apartment gak ada makanan siap saji." Ujarnya kepada Anna.


"Nanti Anna yang masak. Kan sayurannya masih banyak." Jawabnya.


"Enggak. Kamu gak boleh ngapa-ngapain. Harus istirahat full. Biar Mas nanti yang masak." Ucapnya sambil menggenggam tangan Anna dan mengecupnya.


"Emang Mas Abi bisa masak?" Tanya Anna dengan candanya.


"Yee... gini-gini juga Mas Abi chef terkemuka. Di rumah. Hehehe..." Ujarnya sambil nyengir kuda.


Mengundang Anna ikut membubuhkan senyum juga karena bercandaan suaminya. Anna menggenggam tangan Abi dan mengecupnya.


"Makasih, ya sayang... maaf sudah buat kamu khawatir." Senyum Anna ke Abi yang begitu lembut.


Tentu Abi senang dengan perlakuan istrinya yang mungkin buat sebagian orang, itu adalah hal biasa. Tapi buat Abi, tidak. Hal itu sangat luar biasa. Abi melajukan mobilnya dengan cepat karena ingin segera sampai di apartment.


******


APARTMENT ABI


Sampai di apartment, Anna bersih-bersih dan berganti baju. Sambil menunggu Abi bersih-bersih, Anna memasak di dapur.


Anna merasa kepalanya pusing. Hingga ia hampir terjatuh ke lantai kalau Abi tidak segera menangkapnya.


"Mas..."


"Dek, Mas kan tadi sudah bilang, tidak usah memasak. Biar Mas saja. Kamu istirahat. Mas gak mau kamu kenapa-kenapa, sayang." Ucap Abi dengan lembut dan membelai wajah Anna. Abi mendudukkan Anna di kursi makan.


"Makasih, sayang..." Ucap Anna dengan mengecup pipi Abi. Bahagianya Anna mempunyai suami yang begitu pengertian dan perhatian seperti Abi.


Setelah makan dan minum obat. Mereka istirahat. Jam sudah menunjukkan pukul 11:45 malam.


"Mas Abi, besok kontrol ke Dr. Reza kan ya?" Tanya Anna sedang mengecek jadwal kontrol suaminya di buku catatan.


"Iya. Kamu di rumah aja, dek. Mas nanti pergi sendiri aja." Kata Abi.


"Anna mau ikuutt..." Rengek Anna kepada Abi yang sedang bersandar di kasur.


"Tapi kan kamu masih sakit sayang... di rumah saja ya..." Ucap Abi yang kemudian menaruh ponselnya di nakas.


"Anna mau ikut, pokoknya..." Ucapnya dengan manja dan beringsut ke dalam pelukan Abi.


"Dek, kamu masih perlu istirahat. Tadi aja hampir pingsan. Nanti malah capek. Hm?" Ujar Abi ke Anna yang seraya mengelus lembut kepala Anna.


"Yasudahlah." Ujar Anna dengan melepas pelukannya ke Abi dan memunggungi suaminya.


"Sayang..." Panggil Abi ke Anna sambil mengecup pundak Anna lembut.


"Yasudah, besok Anna ikut deh, ya." Ujar Abi yang tidak tahan melihat istrinya ngambek dengannya.


"Beneran?" Tanya Anna dengan mata berbinar-binar.


"Thank you, honey. I love you." Ucap Anna dengan meberikan ciuman bertubi-tubi ke pipi Abi.


"I love you more, honey." Ucap Abi.


Abi yang tak sanggup lagi menahan hasratnya, mendaratkan ciuman dibibir Anna dengan begitu lembut. Kali ini, Anna membalasnya tanpa kata dan hanya menikmati.


*****


DI RUMAH AYNI: DI KAMAR


Ayni sampai rumah langsung masuk kamar dan menangis tersedu-sedu. Untungnya Ayah dan Bunda sedang pergi ke Solo karena ada acara keluarga. Saat Ayni di Cafe, Bunda sempat menelpon agar Ayni tidak pulang terlalu larut. Karena esok paginya ia harus menyusul ke Solo.


"Mas Adit, kenapa kamu datang lagi Mas? Setelah Ayni berusaha keras menata hati ini. Ya, Allah... Mas. Ayni sungguh rindu." Pecah sudah tangis Ayni, yang terisak bersama sesengguknya.


******


APARTMENT ADIT


Adit yang langsung terduduk lemas di kasur, merebahkan dirinya, dan mengusap wajahnya kasar. Mengingat semua yang pernah ia lakukan kepada Ayni. Melihat Ayni sekarang, begitu hancur dan sakit hatinya. Telah menyia-nyiakan perempuan seindah itu. Betapa bodohnya Adit.


"Sumpah, Dit. Lo bodoh banget!" Ucapnya sambil menangkupkan kedua tangannya di wajah dan mentikkan air mata.


"Ayni, tunggu Mas Adit. Ya, Allah... aku merindukannya..." Isak tangis Adit yang hanya didengar oleh benda tak bernyawa.

__ADS_1


\*\*\*


__ADS_2