
APARTMENT
Pagi harinya, Anna menggerakkan badan untuk bangun dari tidurnya. Ia melihat bagian depan tubuh suaminya yang terpampang tubuh kekar dan roti sobeknya, dibubuhi dengan rambut halus yang berjajar rata di dada, makin menambah ke maskulinan suaminya itu. Salah fokus Anna.
Ia tersenyum dan mengecup lembut bibir Abi. Kemudian, memindahkan lengan Abi untuknya agar dapat bergerak bangun dari tempat tidur.
Anna membersihkan diri, lalu masuk ke dapur dan mulai berkutat dengan alat perangnya di sana. Abi yang masih tidur, meraba-raba kasur namun, tidak dirasanya ada Anna. Ia membuka mata dan mendengar suara bising di dapur.
"Anna... alarm pagimu khas sekali." Gumam Abi yang masih agak malas bangun pagi ketika weekend.
Abi bersih-bersih, kemudian menyusul Anna di dapur dan memeluknya.
"Morning, honey." Ujar Abi dengan mengecup pipi Anna.
"Morning, hubby." Ucap Anna sembari memberikan kecupan singkat di pipi Abi.
"Masak apa, dek?" Tanya Abi yang sedang sibuk mengunyah tempe goreng kesukaannya.
"Masak udang asam manis." Ujar Anna. Abi mencuci tangan dan kembali masuk ke kamar karena mendengar bunyi ponselnya.
Tertera di layar ponselnya "Arka"
"Abimanyu! Sue, kemana deh lo dari tadi gue telpon gak diangkat-angkat." Ucap Arka
"Sorry, sorry. Gue lagi di dapur tadi. HP nya di kamar, gak denger." Sahut Abi.
"Bi, Adit ngabarin lo gak?" Tanya Arka disebrang yang terdengar tersengal-sengal. Karena habis joging pagi.
Abi keluar sembari masih berbincang dengan Arka di telpon. Abi duduk di kursi makan dengan membantu Anna menyiapkan peralatan makannya.
"Gue tanya Aryo, doi juga gak tau. Dihubungin gak bisa. Masih hidup gak tuh anak. Gue gak ngerti deh." Ucap Arka. Di sebrang terdengar suara kesalnya.
"Ya udah, biarin dulu aja. Butuh waktu sendiri mungkin dia. Nanti gue juga coba hubungin deh." Ucap Abi yang menutup telpon mengakhiri percakapannya dengan Arka.
"Adit, belum ada kabarnya ya Mas?" Tanya Anna yang sejak tadi mendengarkan percakapan suaminya dengan Arka.
"Belum, dek. Ini Mas, telpon gak aktif hp nya. Dulu juga Adit pernah menghilang kayak gini. Gegara cewe juga. Bedanyaaa___" Belum sempat Abi meneruskan kata-katanya, Anna memotongnya.
"Bedanya yang sekarang tantangannya lebih hebat. Iya, ya Mas?" Tanya Anna.
"Kamu tauuu aja... iya. Kalau memang Adit mau sama Ayni, bukankah tantangannya dunia akhirat?" Ujar Abi dengan senyum merekahnya.
"Kok kamu malah senyum-senyum, Mas? Bukannya khawatir temannya lagi galau. Malah senyam-senyum gitu." Ucap Anna sambil memberikan Abi satu piring nasi beserta lauk pauknya.
"Karena Mas tau, Adit gak semudah itu menyerah. Dia akan kembali seperti Adit yang dulu. Adit yang santun tapi tetap santai. Tidak yang begajulan seperti sekarang." Ucap Abi.
"Ntar Adit selesai dari galaunya, ketemu Ayni langsung jadi alim ya." Tawa renyah Anna sukses membuat Abi gemas dengan mencubit pipi Anna yang berisi.
*****
RUMAH SAKIT: Dr. REZA
"Heeiiyyy... Abiiii... sang keponakan yang paling jelek seduniaa..." Sapa Dr. Reza ke Abi. Abi dibilang jelek, lha terus gantengnya kayak apa??? 😄
"Apaan sih, Om. Biasa aja dong." Jawab Abi dengan jutek.
"Pagi, Om Reza." Sapa Anna dengan sopan santun.
"Pagi Anna... memang ngobrol sama Anna itu lebih enak daripada sama kamu, Abimanyu." Ujar Om Reza seraya mengambil stethoscope untuk memeriksa kondisi Abi.
Setelah di cek, sana dan sini, Om Reza menyimpulkan bahwa trauma Abi jauh berkurang dari sebelumnya. Walaupun mungkin akan kambuh tapi tidak sesering dulu.
"Tuh, kan, Bi. Om bilang juga apa. Kamu tuh harusnya nikah aja dari dulu. Untuk menghilangkan trauma itu. Gak percaya sih kamu sama Om." Ujar Om Reza kepada Abi yang masih sibuk membenarkan bajunya. Karena melihatnya, Anna membantu Abi untuk membetulkan bajunya.
"Tapi, Abimanyu. Walaupun traumamu sudah mulai berkurang banyak, kamu belum bisa melakukan hubungan suami-istri ya. Kamu sudah melakukannya ya? Jawab Om dengan jujur." Tanya Om Reza dengan wajah digalak-galakin. Padahal gak niat gitu juga. Mau ngeledek Abi aja.
"Enggak, Om Reza. Abi belum melakukannya. Sampai bahkan Abi pening sendiri." Ucap Abi dengan menghela nafas.
"Mas Abi sakit? Kok pening?" Tanya Anna dengan polosnya.
"Bukan pening karena sakit, Anna. Tapi karena menahan hasrat bercinta." Jawab Om Reza sambil melirik Abi yang sejak tadi melototinya.
__ADS_1
"Ohh... hahaha... maaf, ya Mas..." Jawab Anna dengan senyum manis dua lesung pipinya tersebut.
"Abi, sepertinya kamu masih harus menahan hasratmu lebih lama lagi___" Om Reza belum melanjutkan Abi sudah menyambarnya.
"Om, yang bener dikit dong. Berapa lama lagi?" Tanya Abi dengan kesal. Anna yang disampingnya, mengelus lembut lengan Abi.
"Berapa lama lagi, Om?" Merendah suara Abi.
"Satu bulan." Jawab Om Reza singkat.
"Astagfirullah, Om Reza! Om mau menghukum Abi? Suruh aja Abi push up 100 kali dengan one hand stand daripada 1 bulan menahan diri seperti itu!" Ucapnya dengan kesal.
"Karena Om tau kamu bisa push up one hand stand makanya Om yakin, kamu bisa menahan hasrat itu." Jawab Om Reza dengan senyum jahilnya.
"Lalu untuk apa aku harus menahannya selama itu?" Tanya Abi sudah dengan emosi yang lebih tenang.
"Untuk memperkuat tubuhmu dalam menghadapi shock yang ditimbulkan karena luapan bahagia. Terlalu bahagia juga bisa mempengaruhi reaksi tubuhmu. Ngerti kan maksud Om?" Jelas Om Reza dengan menatap Abi tegas.
"Hanya hubungan suami-istri atau tidak boleh bersentuhan selama sebulan penuh itu Om Reza?" Tanya Anna ingin mengetahuinya. Ia juga ingin suaminya bisa sembuh, pasti akan Anna bantu sekuat Anna.
"Bersentuhan boleh. Gandengan tangan atau kissing, tidak apa. Tapi kalau Anna merasa Abi sudah masuk ke puncak panas suhu tubuhnya, jauhkan diri kamu, An. Karena singa tidak akan tinggal diam melihat mangsanya. Hahaha... Yang penting tidak berhubungan suami-istri dulu, untuk menetralisir reaksi tubuh Abi terhadap emosi yang ditimbulkan. Anna, tolong dibantu suamimu ya..." Ucap Om Reza lembut.
"Okey, Om Reza." Jawab Anna dengan entengnya. Tapi tidak dengan Abi yang tertunduk pasrah.
"Om gak kasih kamu obat. Karena Om ingin mengurangi obat buat kamu. Om yakin, kamu bisa tahan tanpa obat. Om gak mau kamu bergantung pada obat-obat gak bermutu ini." Terang Om Reza.
"Anna, tolong bantu Om Reza untuk selalu mencatat emosi Abi selama satu bulan ini dan ceritakan reaksinya." Ujar Om Reza.
"Siap! Om Reza" Jawab Anna.
"Kenapa harus Anna?" Tanya Abi bingung.
"Karena istrimu lebih waras dibanding kamu." Ucap om Reza sambil berlalu dan meminta Abi pergi karena ada pasien lagi yang sedang mengantri.
*****
APARTMENT ABI
"Mas, mandi dulu. Aku udah masakin makanan kesukaan Mas Abi." Ujar Anna yang duduk disamping Abi, di tempat tidur.
"Aku gak laper." Jawabnya datar.
"Hhhm.... yasudah, Anna makan sendiri kalau gitu. Mas mau Anna bikinin teh? Atau susu?" Tanya Anna ke Abi yang tidak menjawab.
Anna beranjak dari tempat tidur dan pergi membiarkan Abi di kamar. Anna selesai makan, ia kembali ke kamar. Abi masih sama dengan posisi tubuhnya di kasur.
Malam ini, Anna tidur di ruang tengah. Ia tidur di sofa, berteman dengan selimut dan bantal. Anna sedih, itu mungkin gambarannya saat ini. Anna menangis dalam diamnya malam, hingga terbawa lelap.
Abi keluar kamar tidur. Ia melihat istrinya yang tidur di sofa dengan berselimut dan menelungkupkan badannya karena dingin malam.
Perih hati Abi, melihat istrinya seperti itu. Ia masuk ke dapur dan melihat makanan kesukaannya. Tumis tauge tahu dan tempe kesukannya. Belum tersentuh. Ada pesan di atasnya.
"Kalau udah selesai ngambeknya, makan ya... Love you, honey. 😘" Anna menulisnya dan membubuhkan emoticon cium.
Terenyuh sekali hati Abi yang melihat tulisan itu. Betapa bodohnya ia yang mendiamkan istrinya tanpa sebab. Bukan Anna yang salah. Tapi dia. Tak terasa air mata Abi jatuh. Terlalu bodoh jika ia menyia-nyiakan istrinya.
Abi mengambil piring dan makan masakan istrinya. Anna, selalu bisa membuat Abi jatuh cinta setiap hari dengannya karena masakannya begitu lezat.
Abi merapikan semua setelah makan. Ia jalan menuju ruang tengah, dan tak sengaja melihat buku catatan yang dibawakan oleh Om Reza.
"Setelah pulang dari RS bertemu Om Reza, suamiku ngambek. Ia menelungkupkan tubuhnya di tempat tidur. Imut sekali, buatku. hehehe... meski sedih karena harus jauh beberapa waktu dengannya, tapi untuk Mas Abi, Anna akan lakukan apa saja. Cepat sembuh suamiku." Lagi-lagi Abi dibuatnya haru oleh Anna. Ia menaruh buku catatan itu di meja ruang tamu.
"Maafkan Mas, ya dek. Maafkan aku, sayang." Abi mengecup lembut kening Anna. Abi menggendong Anna ke kamar tidur. Ia tidur dengan memeluk Anna. Abi sangat mencintainya.
*****
Anna merasa tubuhnya sulit digerakkan, setelah ia tersadar.
"Ya, Allah. Mas Abi?" Ucapnya lirih.
"Ini sih, namanya nyolong start duluan." Ujar Anna sambil tertawa terkekeh. Anna mengangkat tangan Abi dan beringsut bangun dari tidurnya.
__ADS_1
Anna bersih-bersih dan menyiapkan pakaian Abi untuk ke kantor. Abi harus ke kantor karena setau Anna, Abi harus bertemu dengan tamu dari Swiss. Gak paham deh urusan kantor.
"Honey... wake up..." Anna membangunkannya. Abi menggeliat dan membuka matanya perlahan.
"Ayo, Mas... katanya hari ini ada meeting penting. Sudah jam 6:30. Bangun, sayangg..." Ucap Anna sembari memberikan Abi handuk untuk segera mandi.
Abi yang biasanya memeluk dan mencium istrinya, kali ini, tidak. Karena perintah Dr. Reza itu. Mandi, bersih-bersih, udah wangi, udah ganteng. Pas mau pakai dasi, Abi meminta Anna memasangkan dasi ke Abi.
"Tapi Anna terakhir pake dasi waktu SMA, Mas. Kalau hasilnya jelek, jangan marah ya... hahaha" Ujarnya sambil memasangkan dasi berwarna hitam corak garis lembut itu.
"Anna tau, Mas tinggi, bisa kali nunduk dikit." Ucapnya sambil memonyogkan bibirnya.
"Hahaha... iya, iya. Maaf, dek." Abi pun menundukkan tubuhnya yang 185cm. Abi menunduk aja, Anna masih jinjit buat memasangkan dasi, iyalah... cuma 165cm. Coba tolong itu tinggi badannya di kondisikan. 😆
Katanya kalau perempuan bantu pakein dasi laki-laki, itu ada energi sensualnya. Masih gak paham maksudnya gimana. Tapi pas tau Anna makein dasi Abi dan Abi yang dipakein dasi sama Anna, baru ngerti kenapa sensual.
Anna mendekatkan tubuhnya ke Abi untuk membenarkan lipatan dasi Abi. Sedangkan Abi, pasti mau tidak mau harus mendekatkan juga tubuhnya ke Anna.
Saat itu, Anna merasakan bahwa badan, ekspresi wajah dan reaksi tubuh Abi yang panas, membuat Anna untuk menyudahi sensualnya memasangkan dasi kepada suami. Hahaha... koplak sih... tapi energinya kuat banget.
"Mas Abi, inget tugasnya Dr. Reza ya..." Ucap Anna seraya mengacungkan ibu jarinya ke Abi. Abi hanya menghela nafas.
"Dek, maafin Mas ya. Kemaren gak seharusnya Mas mendiamkan kamu." Ucap Abi ketika Anna mengambil jas Abi yang ukurannya 3 kali lipat badannya.
"Gak ada yang perlu minta maaf dan dimaafin. Anna paham. Sudah gak usah sedih gitu. Semangat dong! Katanya suamiku itu kalau di kantor sosok Boss yang angkuh, jutek, sombong, kaku, kasar, ketus, arogan. Tapi gantengnya bisa melukai hati wanita. Bener gak tuh?" Ucap Anna sambil tertawa riang ke Abi.
"Udah puas ngeledeknya?" Tanya Abi dengan bersungut-sungut.
"Eejjieehh... manyun, manyun... kode keras minta di kiss tuuhhh... Hahaha..." Ujar Anna dengan tertawa keras dan pergi meninggalkan Abi yang masih sibuk dengan berkas-berkas di kamarnya.
"Anna, tunggu satu bulan lagi ya. Mas Abi balas nanti." Ucapnya dengan senyum merekah. Hah, istrinya itu selalu bisa menghibur hati Abi yang suram.
Anna menemani Abi sampai lobby apartment.
Di lift.
"Dek, hari ini ada acara gak?" Tanya Abi.
"Emm... kayaknya mau ke toko buku. Mau browsing buku anak-anak. Buat referensi ngajar nanti. Kenapa Mas?" Terang Anna.
"Enak ya jadi guru. Murid libur, guru libur. Murid jalan-jalan, guru jalan-jalan. Makmur hidup. Hahaha..." Ujar Mas Abi ke Anna.
"Banyak Mas yang bilang gitu. Tapi kan mereka belum pernah terjun langsung ke dunia pendidikan seperti apa. Hehehe..." Ucap Anna dengan cengar-cengirnya.
"Iya juga sih. Kapan-kapan, ajak Mas Abi ke sekolah ya, mau lihat adek ngajar gimana. Hihihi..." Ujar Abi yang menunjukkan gigi putih bersihnya itu.
"Boleh... tapi jangan kaget ya. Karena Anna akan berubah menjadi guru yang galak tapi manis. Hahaha..." Jawabnya dengan tawa riang.
Ting... Pintu lift terbuka.
"Kayaknya mobilnya Mas Abi sudah ada." Ucap Anna ke Abi dengan mencium tangan Abi, sekilas.
"Yaudah, Mas berangkat dulu ya. Kamu kalau mau pergi hati-hati. Ingat masih luka tuh kening. Kabarin Mas terus. Angkat telponnya." Ucap Abi dengan wejangannya.
"Okey."
"Mas Abii..." Panggil Anna ke Abi yang saat itu Abi sedang membuka pintu mobil. Anna mendekati Abi.
"Kenapa, sayang?" Tanya Abi dengan wajah teduhnya. Anna suka tatapan lembut Mas Abi seperti ini. Buat Anna jantungnya selalu berdetak cepat.
Anna mendekatkan tubuhnya ke Abi, meminta Abi untuk menunduk dan berbisik ke Abi.
"Jangan lupa selalu mencintaiku." Ucapnya dan mengecup pipi sang suami.
Membuat Abi semakin ingin memeluknya. Menggemaskan sekali istriku ini. Batinnya.
"I Love you, honey." Ucapnya yang membuat sekeliling lobby melihatnya. Buat Anna, gak malu. Abi? Gak pernah malu. Mereka tampak bahagia.
Abi melambaikan tangan dan masuk ke dalam mobil Range Rover Black Sport nya menuju kantor. Anna? Masuk lift, bersih-bersih apartment dan rapi-rapi untuk bersiap bertemu dengan teman mengajarnya.
\*\*\*
__ADS_1