
ABIMANYU'S HOUSE
Abi dan Anna sedang menikmati hari libur mereka. Anna bangun dari tidurnya dan melihat jam sudah Pkl. 13:30. Abi merasakan gerakan Anna yang terbangun dari pelukannya.
"Dek..., mau kemana?" Tanya Abi dengan mata masih terpejam dan suara seperti bergumam.
"Ke toilet, Mas.." Jawab Anna dengan suara lembut.
Abi bangun dan melihat pesan singkat di ponselnya. Tertera nama "Aryo" di layar ponselnya.
"Bi, ada yang mau gue ceritain ke lo. DARURAT!" Pesan singkat Aryo.
Sontak Abi terkejut melihat pesan singkat itu. Langsung saja Abi menelepon Aryo. Namun, ponsel di sebrang sana tidak ada jawaban. Abi khawatir dengan kondisi perusahaan, pikirinya.
Anna yang baru keluar dari toilet bingung dengan Abi yang sejak tadi mondar-mandir memegang ponsel dan sesekali menelepon seseorang.
"Mas Abi... ada apa?" Tanya Anna dengan mengelus lembut punggung Abi.
"Eh, dek. Udah selesai urusan di toiletnya? Hehehe..." Ujar Abi yang sedang berusaha menghindari kontak mata dengan Anna. Hanya sekedar tidak ingin membuat Anna khawatir dengan kekhawatirannya.
"Sudah. Mas Abi kenapa? Kok mondar-mandir gitu?" Tanya Anna dengan suara lembuutt... sekali.
Abi merengkuh tubuh mungil Anna dan memeluknya. Ia meluapkan semua kekhawatirannya kepada Anna dengan memeluknya.
Anna yang tau bahwa Abi sedang mengkhawatirkan sesuatu, ia tak lagi tanya. Karena yang Abi butuhkan saat ini bukan sebuah pernyataan bahwa ia harus sabar atau pertanyaan "ada apa?/kenapa?".
Yang Abi butuhkan hanya sekedar pelukan dan pendengar yang baik. Se-kepo apapun, Anna berusaha untuk mengunci rapat mulutnya. Karena Abi sedang membutuhkan kenyamanan.
Kok Anna bisa tau Abi butuh pelukan? Karena jika kita menyayangi seseorang dan mencintai seseorang, kita pasti tau apa yang pasangan kita rasakan bukan?
Disaat itu, Anna tau sekali bahwa yang dibutuhkan Abi bukan sebuah pernyataan atau pertanyaan darinya. Abi hanya butuh seseorang untuk berbagi kekhawatirannya.
Lalu apa yang dilakukan Anna?
Anna diam. Hanya diam. Mengunci rapat-rapat mulutnya. Mengigit erat lidahnya.
Kenapa?
Karena pasangan kita tidak akan nyaman jika terus menerus mendapat pertanyaan ataupun pernyataan.
Apa perlu sampai seperti itu?
Perlu. Jika pasangan kita butuh waktu untuk bercerita. Kalau sudah seperti ini, bagaimana? Caranya hanya satu. Menunggu dan diam.
Menunggu hingga pasangan mau untuk bercerita dan diam saat pasangan bercerita. Menjadi pendengar itu terkadang bisa melatih kesabaran, lho... hehehe...
Selain itu, pasangan juga pasti akan meminta bantuan untuk sebuah solusi dari permasalahannya. Hal ini baik untuk meningkatkan keromantisan diantara pasangan.
"Tadi Aryo kirim pesan ke Mas, kalau dia mau ngobrol sama Mas dan dia bilang, darurat. Mas kan jadi kepikiran kantor, dek." Ujar Abi yang masih memeluk Anna.
"Lalu?" Tanya Anna yang seraya melepas pelukannya Abi dan melingkarkan tangannya di tengkuk Abi.
"Mas sudah coba hubungin Aryo, tapi gak diangkat." Ucap Abi dengan lesu dan memeluk Anna kembali.
Sepertinya memang pelukan itu dibutuhkan oleh Abi. Anna mengelus lembut rambut Abi.
"Sudah coba hubungi Adit atau Arka?" Tanya Anna.
"Sudah. Gak ada yang angkat juga." Ujarnya sambil melepas pelukannya, berjalan ke tempat duduk di teras kamar.
Anna berjalan menghampiri Abi. Ia berdiri di depan Abi. Abi menarik lengannya dan mendudukkan Anna di pangkuannya.
"Mas harus gimana dong?" Tanya Abi ke Anna dengan mendekap tubuh Anna dan menenggelamkan kepalanya di dada Anna.
"Mas Abi mau langsung ke kantor aja? Hm?" Tanya Anna dengan mengelus lembut rambut Abi dan mencium lembut pelipis Abi.
"Harus banget ya, weekend ke kantor???" Ucapnya agak kesal.
"Lho, terus mau gimana? Pilihannya hanya dua Mas. Kamu mau langsung cek ke kantor apa yang terjadi dan kamu lebih tenang atauuu.. mau menunggu saja di rumah, tapi tak ada yang merespon panggilan dan Mas Abi harus sabar menunggu. Gimana?" Jelas Anna kepada Abi.
"Hhh... yaudah deh. Mas ke kantor." Ujarnya yang terdengar lesu.
"Tapi sama kamu, dek..." Ucap Abi sambil mendongakkan kepalanya ke Ann.
"Iyaa... nanti Anna temenin. Mau berangkat sekarang?" Tanya Anna.
"Nanti deh 10 menit lagi. Menenangkan hati sama pikiran dulu." Jawab Abi sambil menyandarkan tubuhnya di sofa teras.
"Mm... gitu. Yasudah, Anna keluar ya..." Ujar Anna. Namun, Abi menarik lengan Anna kembali dan Anna terduduk kembali di pangkuan Abi.
"Mau keluar kemana? Orang aku bisa tenang karena kamu disini, dek." Ucap Abi dengan memeluk Anna dan membenamkan wajahnya di dada istrinya tersebut.
"Oh... yasudah, Anna disini deh. Gak kemana-mana" Ujar Anna dengan seulas senyum manisnya.
Abi mengecup lembut bibir Anna. Ciuman yang bermula manis tersebut menjadi ciuman panas yang membuat lidah mereka saling bertaut. Hingga Abi menggigit kecil bibir Anna.
"Mas... sakit dong adek..." Ucapnya sambil tertawa kecil.
__ADS_1
"Hehehe... maaf. Masmu mesum banget ya? Dari tadi gak selesai-selesai." Ucap Abi yang mengundang tawa Anna.
"Hahaha... baru tau? Mas dari kemarin kemana aja?" Ucap Anna dengan tawa riangnya.
"Yee... seneng banget ngeledekin suaminya. Lagi pula, kamu itu yang terus membangkitkan semangatnya Mas. Seperti sekarang. Pakai night gown yang transparan dan lingerienya tampil semua di layar mata Mas Abi. Siapa yang bisa berhenti coba?" Ujarnya panjang x lebar. 😆
"Hoohh... jadi karena lingerie... yaudah, besok Anna pake sarung sama mukena aja deh. Supaya tidak menimbulkan hasrat berlebih. Hahaha..." Ujar Anna dengan candaannya.
"Yaa... gak gitu juga dek. Tapi emang dari semalem tuh kamu menggoda banget. Mas sudah mau berhenti waktu kita di toilet. Tapi, kamu malah pakai handuk yang memperlihatkan lekuk tubuhmu itu, lho dek, membuat hasrat Mas Abi timbul lagi. Jadi, yaudah, lanjutin deh episode ke 3 nya. Itupun belum selesai." Terang Abi kepada Anna.
"Hasrat yang sungguh luar biasa ya? Hahaha..." Gurau Anna ke Abi.
"Hahaha... iya. Maaf ya... Masmu mesum banget. Tapi aku suka." Ucap Abi yang seraya mendekatkan tubuh Anna dalam pelukannya dan berbisik ke telinga Anna.
"Karena kamu seksi dan begitu agresif. I love it." Ujar Abi yang bisikannya membuat Anna cukup bergidik merasakan desiran di telinganya.
Abi menggendong Anna ke tempat tidur. Ia menciumi bibir Anna dan melumatnya hingga ke pelosok dalamnya. Saat sedang seru-serunya, ponsel Abi berdering.
"Angkat dulu Mas..." Ucap Anna yang melepaskan ciuman Abi.
Abi yang terlihat enggan meninggalkan bibir Anna tidak menghiraukan deringan ponsel dan kembali menciumi dan melumat bibir Anna.
Segera saja Anna hentikan dengan kecupan lembut Anna. Kalau tidak seperti itu, bisa masuk episode 5 nanti. 😂
"Mas Abi... angkat dulu teleponnya, ya. Sayangkuu..." Ucap Anna lembuutt sekali dengan mengelus lembut wajah Abi.
Abi bangun dari posisinya dan mengangkat telepon yang deringannya mengganggu moment nikmat bersama istrinya.
Dilayar ponsel tertera "Aryo".
"Abimanyu! Lama banget angkat teleponnya." Ucap Aryo dari sebrang ponselnya.
"Lo aja yang lama. Gue hubungin gak diangkat-angkat." Ucap Abi agak kesal kepada Aryo.
Anna yang saat itu duduk di samping Abi mendengar percakapan mereka karena Abi mengeraskan suaranya. Ia mengelus lembut lengan Abi. Maksudnya untuk tidak emosi menggebu seperti itu.
"Ada yang mau gue ceritain sama lo dan Anna." Ujar Aryo dari sebrang ponselnya.
"Kok bawa-bawa istri gue? Kalau soal kantor jangan bawa-bawa Anna. Urusannya sama gue." Terang Abi dengan tegas.
"Yak elaah... Bi. Sensi banget deh lo. Ini bukan urusan kantor. Ini urusan hidup. Udah deh, gak usah kelamaan. Ketemu di tempat biasa." Ujar Aryo yang terdengar suaranya sedang berlari.
"Ini anak rese banget. Kalau bukan urusan kantor, terus urusan apa coba? Hidupnya dia? Hidupnya bukannya udah rusuh dari dulu, ya?" Ucap Abi yang tak henti ia berceloteh karena kesal kepada Aryo.
Anna yang melihat suaminya bersungut seperti itu membuatnya menjadi gemas. Langsung saja Anna membungkam celotehan Abi dengan ciuman dan lumatan yang hebat, hingga Abi merasa kualahan dengan ciuman dadakan Anna tersebut.
"Hehehe... habis Mas Abi dari tadi nyanyi terus. Udah punya berapa album?" Ujar Anna.
Sontak perkataannya mengundang tawa Abi yang terbahak-bahak. Akhirnya mereka mengakhiri adegan eksotisnya dan bersih-bersih kemudian rapi-rapi untuk pergi menemui Aryo dan entah siapa satu lagi.
*****
CAFE COFFEE
Sore itu Abi melajukan mobil BMW X5 black nya dengan OOTD (Outfit of The Day) t-shirt hitam, jaket hitam, dan celana jeans hitam, serta ikat cepol rambutnya. Tak lupa sepatu a****s hitam menghias kaki Abi.
Sedangkan Anna dengan memakai rok tutu berwarna navy panjang, sweater navy dan jilbab navy motif bunga sakura yang panjang sedada. Dilengkapi dengan mini tas ransel navy. Serta sepatu kets putih yang tali sepatunya bikin gemas pengen ngiket. 😅
Anna dan Abi itu tipikal pasangan yang kalau pakai baju gak suka ribet. Maunya yang simple dan warnanya yang kalem atau gelap.
Tak lama mereka sampai di Cafe tersebut. Abi sedang sibuk memarkir mobil, tapi Anna justru sibuk melihat Abi begitu serius dengan rahangnya yang maskulin.
Abi sedang memarkir mundur mobilnya dan Anna? Sibuk memperhatikannya. Anna melihat lengan kekar Abi yang memegang kemudi dengan satu lengan. Abi begitu lihai memarkir mobil di lahan terbatas tersebut.
"Sudah lihatin, Mas Abinya?" Tanyanya yang sedang melepas seatbelt nya.
"Hehehe... ketahuan ya?" Ujarnya dengan senyum cengar-cengir kuda.
"Iyalah ketahuan. Orang tuh kalau lagi diperhatiin ngerasa tau." Ucap Abi sambil menyimpan tiket parkir mobilnya.
"Gitu ya? Ya maap deh kalau buat gak nyaman." Ujar Anna dengan mencibikkan bibirnya.
Anna melepas seat belt dan ingin mengambil tas di jok belakang. Namun sayang, tangannya terlalu pendek. Abi yang melihat itu, langsung saja mengambilkan tas Anna.
"Makasih." Jawab Anna singkat. Agak kesal sebenarnya Anna dengan ucapan Abi. Entah kenapa akhir-akhir ini Anna sensitif sekali dengan kata yang dilontarkan oleh Abi.
Anna yang hendak keluar dari mobil, ditarik lengannya oleh Abi.
"Dek, Mas gak mau kita pergi dengan masalah. Adek pindah ke jok belakang. Mas menyusul." Tegas Abi ke Anna.
Agak takut sebenarnya Anna dengan ucapan Abi. Tapi, ia tak bisa berkutik kalau Abi sudah tegas seperti itu. Pindahlah Anna ke jok belakang. Tak lama, Abi pun masuk mobil di jok belakang dan menutup pintu mobil.
"Adek, kenapa? Kok ketus gitu bilang " Makasih" ke Mas Abi?" Tanya Abi dengan suara lembut.
Tak terasa Anna meneteskan bulir-bulir air matanya di pipi yang lalu ia hapus. Anna tak tau kenapa perasaanya saat ini begitu sensitif.
"Tadi, Mas Abi sendiri yang bilang "Orang kalau diperhatiin itu pasti merasa" berarti Mas Abi gak nyaman dong pas Anna perhatiin." Ujar Anna dengan tangis sesegukannya.
__ADS_1
Abi duduk mendekati Anna dan saat ia ingin menghapus air mata Anna, Anna menepisnya dengan lembut.
"Gak usah Mas. Aku bisa hapus sendiri. Air mataku." Ujarnya masih tetap dengan bahasa yang lembut dan posisi wajah Anna yang menunduk membuat Abi ingin sekali mendekapnya.
"Sayangg... kok Mas Abi sedih ya. Sudah tidak boleh menghapus air mata kamu lagi?" Ucap Abi dengan mengelus lembut kepala Anna.
Air mata Anna kembali mengalir. Kali ini, Anna tak menepisnya. Ia membiarkan Abi menghapus air matanya.
"Dek, kamu salah paham, sayang. Maksud Mas Abi bukan karena tidak nyaman kamu memperhatikan Mas. Justru Mas malah senang kalau kamu perhatikan seperti itu." Jelas Abi.
"Tapi kenapa harus bicara seperti itu? Kan buat Anna jadi sedih. Anna kan hanya melihat. Apa itu salah? Hiks... kalau salah ya maaf. Anna gak gitu lagi." Ujarnya yang masih sibuk menghapus air matanya.
"Sayanggg... sama sekali tidak ada maksudku menyinggungmu. Sama sekali tidak. Kamu tidak salah, sayang..."
"Aku senang, sangat senang diperhatikan olehmu. Oleh istriku sendiri. Buat apa aku marah? Kenapa aku harus tidak nyaman? Kamu istriku Annaa... yang sangat aku cintai." Terang Abi yang sedikit menundukkan kepalanya dan memegang dagu Anna.
"Sensitif sekali hati perempuan ini. Ya Allah... Ini alasanmu kenapa laki-laki harus kuat fisik dan lembut hati. Sungguh, suami macam apa aku, yang sangat sering membuat istriku menangis." Batin Abi.
"Soalnya tadi Mas Abi nada suaranya agak tinggi gitu. Terdengar ketus di Anna. Jadi... hiks... hiks... Anna pikir, Mas Abi... hiks hiks... gak nyaman dan gak suka, hiks... hiks... saat Anna perhatiin Mas Abi. Hiks... hiks." Jelas Anna dengan terbata karena tangisannya.
Abi yang mendengar penjelasan dari Anna merutuki dirinya yang terkadang suka lupa ia sedang berbicara dengan sang istri.
"Sayang, maaf. Aku gak tau kalau kamu merasa seperti itu. Mas sama sekali gak keberatan kamu perhatiin. Aku justru malah senang. Maafin Mas, ya dek..." Ujar Abi yang mendekatkan tubuhnya ke Anna, memeluknya erat, dan mengecup lembut keningnya.
Anna menanggapi pelukan Abi dan menangis sejadinya di dekapan Abi.
"Ia benar-benar menangis terisak. Karena aku berbicara terlalu keras. Duniaku, kumohon, berhentilah menangis, karena aku rapuh tanpamu, sayang." Batin Abi.
Mereka tidak saling bicara, yang terdengar hanyalah isak tangis Anna yang semakin lama semakin memudar. Karena sudah tenang mungkin.
Abi tak berhenti untuk menciumi ubun-ubun Anna. Andai Abi boleh menangis, ia akan menangis. Sakit sekali hatinya melihat istrinya menangis tersedu-sedu seperti ini dan penyebab isak tangisnya adalah dia sendiri.
"Anna sudah selesai nangis. Maaf, berhentinya lama. Mas jadi kelamaan ketemu sama Aryo." Ucap Anna yang melepas pelukannya dari Abi dan menyeka air matanya dengan punggung dan telapak tangannya.
"Biarkan Aryo menunggu. Buat Mas Abi, adek jauh lebih penting. Sangat penting. Tidak perlu minta maaf. Karena Mas yang salah disini." Ucap Abi seraya mengelus lembut pipi Anna.
"Anna juga minta maaf ya Mas. Anna terlalu sensitif dengan kata-kata Mas Abi. Anna sendiri juga gak tau kenapa Anna sesensitif ini. Padahal Anna orang paling cuek dengan segala hal apapun." Ujarnya yang memeluk kembali tubuh kekar suaminya itu.
"Mungkin adek lagi pengen sesuatu yang belum dilakukan?" Tanya Abi seraya mengecup kening Anna.
"Gak ada perasaan..." Ucap Anna sambil berpikir keras.
"Beneran gak pengen apa-apa? Cerita sama Mas, adek pengen apa?" Ujar Abi yang sekarang berhadapan dengan Anna. Anna justru malah tersenyum jahil.
"Emang lagi manja, lagi pengen dimanja, pengen berduaan dengan dirimu saja. Ahahahahaha..." Anna menyanyikan salah satu lirik lagu dan seketika membuat Abi tertawa terbahak-bahak.
"Ya, Allah... dek... kamu tuh, adaaa... aja ide jahilnya. Mas lagi serius, kamu malah bercanda gitu. Hahahaa... jadi lagi pengen dimanja nih...???" Ucap Abi yang meledek Anna.
"Manjain kaliii... masa, laptop aja dimanja. Terus akunya kapan dong? Asik asik. Hahaha... geli ya Mas dengernya. Anna juga. Hahahaha..." Ujar Anna dengan ledekan dan tawa riangnya.
"Hahaha... dek, dek. Kamu tuh ya... tadi nangis tersedu-sedu sampai bikin hati Mas perih tau. Melihatmu nangis terisak seperti itu. Sekarang, giliran udah tenang, jahiillnyaaa... Astagfirullah... Hahaha... unik banget kamu ya dek." Ucap Abi yang masih tertawa geli.
"Hehehe... maap ya... Maskuuhh... udah buat kamu terpotek-potek hatinya. Hahaha... tapi aku tetep cinta kok. Beneran deh, gak pake manja kali ini. Hahaha..." Ujar Anna yang masih tertawa geli dengan Abi.
Hingga dering telepon Abi membuat mereka langsung turun dari mobil dan berjalan memasuki Cafe.
Saat dalam perjalanan tadi, Anna melihat ice cream. Ia meminta Abi untuk membeli ice cream rasa cokelat.
Saat Anna sedang asyik makan ice cream, Abi meminta Anna untuk memegangi ice creamnya. Anna bingung dengan sikap Abi.
Abi berjongkok di depan Anna, Anna yang sedang berdiri, sontak terkejut dengan yang dilakukan Abi. Abi mengikat tali sepatu Anna yang sejak tadi tidak terikat dengan baik.
Seorang Abimanyu Basupati Soenggono. CEO Basupati Groups. Berjongkok dihadapan seorang wanita hanya untuk membantu wanita tersebut mengikat tali sepatunya. Luarrr biasaa kau Anna Maheswari Prayogo.
Setelah selesai, Abi berdiri dan mengambil ice creamnya. Anna mencium bibir Abi sekilas dan berlalu meninggalkan Abi. Abi cukup terkejut. Tapi ia segera sadar dan menggandeng tangan Anna yang tadi sempat meninggalkannya sejenak.
"Woyy, broo... lama bener dah luh..." Ucap Aryo dengan memberi salam highfive nya.
Belum sempat Abi dan Anna menyapa Aryo, mereka dikejutkan dengan sosok seorang yang mereka kenal baik.
"Icha?!! Kok lo disini?? Ngapain??" Tanya Anna heran.
"Alisha, ada perlu sama Aryo?" Tanya Abi heran.
"Abi, Anna. Kenalin, istri gue. Alisha Hasna Amira. Icha." Ucap Aryo tegas.
"WHAT???!!!"
*****
tidak ada yang pernah tau
akan kau tambatkan hatimu di mana
yang kau tau hanya menjaganya
dari luka dan perih
__ADS_1
*****