
DI DALAM PESAWAT
Ayni masuk ke dalam pesawat dengan pikiran yang berkecamuk. Hingga tak sadar kalau ia akan kejatuhan tas, jika tidak di halau oleh seorang laki-laki.
Sontak membuat Ayni tersadar dari lamunannya.
"Maaf ya, Mbak... ini tas saya. Mbaknya gak apa?" Tanya si bapak-bapak pemilik tas.
"Iya Pak. Gak apa kok saya." Jawab Ayni sopan.
"Terima kasih Mas___" Belum sempat Ayni melanjutkan kata-katanya, laki-laki itu sudah menyapanya terlebih dahulu.
"Hallo, Ayni. Apa kabar?" Sapa Adit.
Kok bisa ada Adit??? Tanya Ayni dalam hatinya.
"Hai, Dit." Jawabnya datar.
"Makasih ya. Udah ditolongin tadi." Ucap Ayni dengan berlalu meninggalkan Adit.
Intermezzo dikit: Adit terbang ke Swiss, baru sampai di hotel, Abi mendapat telepon dari perusahaannya yang di Jakarta. Bahwa mereka butuh salah satu di antara mereka. Akhirnya Abi mengirim Adit ke Jakarta dan Dito. Saat sampai di Jakarta, Adit mendapatkan info bahwa ia harus segera meeting dengan management perusahaan yang ada di Solo. Beginilah jadinya...
"Ayni duduk di kursi berapa?" Tanya Adit yang menyusul Ayni berjalan dari belakang.
"Disini." Jawab Ayni singkat. Sedangkan Adit, beberapa baris di depan Ayni.
Ayni sudah tidak ingin berurusan dengan yang namanya Aditya Reynand Wicaksono. Maka dari itu, Ayni hanya menjawab seperlunya saja. Untungnya Adit duduk jauh di depannya.
Pesawat mengumumkan bahwa akan segera berangkat.
Saat dalam perjalanan ada seorang ibu-ibu hamil 9 bulan. Yang sudah bulannya untuk melahirkan. (Kenapa malah naik pesawaattt... bingung aku tuh 😭)
Pramugari mengumumkan melalui pengeras bahwa ia meminta bantuan seorang Dokter yang bisa membantu dalam persalinan.
Laki-laki yang ada di samping Ayni berdiri. Padahal yang Ayni tau, laki-laki itu tertidur sejak tadi. Ia menutup wajahnya dengan majalah. Bahkan Ayni bilang permisi ke beliau, tidak di jawab. Tapi saat pramugari memanggil seorang Dokter, ia berdiri.
"Laki-laki ini mengingatkanku pada Mas Aldi." Gumam Ayni.
"Anda seorang Dokter?" Tanya salah satu pramugari.
"Iya. Saya Dr. Aldi." Jawab sang Dokter bedah yang masih belajar ilmu persalinan seperti apa.
Sontak saja membuat mata Ayni terbelalak.
"Maaf, Ayni. Aku tidak memberitahumu. Boleh bantu aku?" Ucapnya sambil duduk berjongkok di depan Ayni.
"Ayni..." Panggilnya lembut.
"Eh-e-eh... i iya Mas. Ayni bantu." Ayni masih shock, ia terbata-bata saat Aldi memanggilnya. Segera saja Ayni bangun dari duduknya.
Mereka menghampiri sang ibu hamil itu. Yang sudah keringat dingin, merintih kesakitan.
"Ayni, Mas tau kamu dulu pernah belajar tentang ilmu kedokteran. Kamu tau apa yang harus kamu lakukan?" Tanya Aldi seraya menyiapkan perlengkapan pembedahan.
"Tau Mas. Tapi Ayni kan gak ada seritfikat untuk melakukan hal itu. Ada yang bisa Ayni bantu selain hal tersebut?" Ayni bukannya tidak berani menyentuh ibu hamil tersebut. Tapi resikonya terlalu besar. Karena bukan Dokter kandungan yang bersetifikat. Hanya sekedar pernah belajar saja.
"Tapi aku tidak pernah membedah ibu hamil..??" Ucap Aldi dengan lirih kepada Ayni. Membuat Ayni ingin sekali tertawa. Tapi ia tahan karena tidak enak dilihat banyak orang.
"Yasudah, Ayni bantu arahkan ya..." Jawab Ayni lembut.
Belum sempat Ayni mengarahkan Dr. Aldi, datang perempuan cantik ahli dalam bidang persalinan. Dr. Dian Puspita Sari.
"Aldi??" Tanyanya yang membuat Ayni mundur karena Dr. Dian meminta Ayni mundur dengan kode tangan yang memintanya.
Dr. Aldi menengok ke arah panggilan suara. Tapi Aldi tidak terkejut. Justru malah malas.
Intermezzo dikit: Dr. Dian ini mantannya Dr. Aldi dulu waktu mereka kuliah di fakultas kedokteran. Namun, saat Dr. Aldi sedang cinta-cintanya dengan Dr. Dian, Dr. Dian justru mengkhianati Dr. Aldi. Dr. Aldi memergoki Dr. Dian sedang melakukan hubungan intim dengan sahabatnya. Perih sekali melihatnya. Ditikung sahabat sendiri. Udah gak karuan tuh hati. Close intermezzo.
Saat Ayni diminta mundur oleh Dian, Aldi memegang tangan Ayni.
"Disini aja." Ujar Aldi kepada Ayni. Ayni hanya menurut saja yang diminta oleh Aldi.
Proses persalinan ibu itupun berlangsung damai. Walaupun banyak adegan fisik seperti menjambak rambut Dr. Aldi dan menggigit tangan Ayni yang empunya sampai tidak merasakan sakitnya saking tegangnya.
Setelah persalinan, Ayni menggendong bayinya. Lucu sekali anak ini. Sangat tampan.
"Ibu, ini anak pertamanya?" Tanya Ayni yang masih menggendong si dedek bayi.
"Bukan. Ini anak kedua saya." Ibu tersenyum hangat.
"Tampan sekali, Bu. Coba lihat, hidungnya mancung banget. Bulu matanya lentik. Semoga kelak kamu menjadi anak yang sholeh, taat beribadah, dan menjadi laki-laki yang bisa melindungi wanita. Amin..."
"Lucu banget buuk... gemes." Ujar Ayni yang sejak tadi diperhatikan oleh Aldi. Aldi yang memperhatikannya, tersenyum lembut.
"Sudah ada Bu nama untuk si dedek bayi?" Tanya Ayni.
"Sudah. Ibu mau kasih nama Pak Dokter sama istrinya saja." Kata sang ibu.
"Dokter yang mana Bu?" Tanya Aldi.
"Dokter Aldi dan istri bapak. Bu Ayni kan?" Tanya sang ibu.
"Eee..., itu Bu. Kami___" Kalimat Ayni terpotong oleh si ibu.
"Dr. Aldi nama lengkapnya siapa?" Tanya si ibu.
__ADS_1
"Aldi Dewangga Wibowo." Jawabnya santai.
"Bagus sekali. Kalau Bu Ayni?"
"Ayni Larasati Bramantyo." Ucap Ayni dengan berusaha tersenyum lebar.
"Kalau gitu saya menamai anak saya Dewangga Bramantyo Harsono. Dipanggilnya Dewa." Ucap sang ibu yang begitu sumringah.
Dr. Dian yang melihatnya begitu tidak suka terhadap Ayni. Ia merasa Ayni itu sok polos, sok alim, sok kecantikan.
Author: "Maap itu Mbaknya... bukan sok. Tapi kenyataan." Author yang nulis, author yang gemes sendiri. 🤣
Pesawat pun landing di Bandara Adiseomarmo.
Ayni langsung menyambar kopernya dan memesan taxi untuk ke RS. Namun, langkahnya terhenti karena seseorang memanggilnya.
"Ayni!" Aldi.
Ayni menengok ke arah suara dan menunggu Aldi menghampirinya. Aldi datang dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Ay...hhh... ni.... hhh... cepet banget... hhh... sih... hhh... kamu jalannya... hhh..." Tanya Aldi yang berbicara sambil tersengal-sengal.
Ayni yang melihat tingkahnya ingin sekali tertawa. Tapi ia menahannya. Tak tega rasanya melihat Aldi yang berlari-lari seperti itu.
"Maaf, Mas. Ayni terburu-buru sekali." Jawabnya sambil senyum-senyum melihat Aldi yang masih mengatur nafasnya.
"Kamu tunggu disini. Bareng sama aku aja." Sahut Aldi yang masih dengan nafas beratnya.
Mobil jemputnya Aldi pun datang. Aldi memasukkan koper Ayni ke dalam mobilnya dan menggiring Ayni masuk ke mobilnya.
"Pak No, kita ke Dr. Moewardi Hospital." Ujarnya seraya menyandarkan kepalanya di jok mobil.
Ayni hanya bisa duduk mematung dan membuka beberapa pesan singkat dari teman-temannya. Setelah itu, ia melihat keluar jendela. Melamun?
"Ayni..." Panggil Aldi yang masih dengan mata terpejam.
"Iya, Mas." Jawab Ayni lembuut sekali suaranya.
"Terima kasih telah membantuku. Maaf karena tidak memberitahumu bahwa aku ada di pesawat itu." Ucapnya menjelaskan.
"Tidak perlu berterima kasih, Mas. Justru Ayni senang karena bisa membantu Mas Aldi. Soal di pesawat, tak apa." Jelas Ayni.
*****
Sampailah mereka di Dr. Moewardi Hospital. Ayni langsung menyambar kopernya dan pergi ke ruangan tempat Ayahnya di rawat.
Ayni masuk lift bersama dengan Aldi. Namun, lift tersebut dihalangi oleh tangan Dr. Dian. Dr. Dian masuk ke lift juga bersama mereka.
"Hi, Al. Apa kabar? Tadi di pesawat belum sempat menyapa." Sapa Dr. Dian.
"Hi. Kabar baik." Jawabnya singkat.
"Tidak." Jawab Aldi singkat. Sangat singkat.
Ting...
Pintu lift terbuka, Aldi dan Ayni keluar lift, disusul oleh Dr. Dian.
"Aldi!" Teriak Dr. Dian dengan menarik lengan baju Aldi. Untungnya saat itu tidak ada orang yang berlalu lalang. Sepi.
"Dian! Pelankan suaramu! Ini rumah sakit. Bukan lapangan!" Tegas Aldi kepada Dian.
Sontak membuat Dian terkejut. Karena tak biasanya Aldi seperti ini. Ini bukan Aldi yang Dian kenal. Batinnya.
"Kamu kok kasar banget sama aku? Kamu berubah gini gara-gara perempuan itu? Iya kan?" Tanya Dian dengan menunjuk-nunjuk Ayni.
"Mas Aldi, Ayni duluan ketemu Ayah ya." Ujarnya berbisik ke Aldi sambil menarik sedikit lengan baju Aldi.
"Iya. Nanti Mas Aldi menyusul." Jawab Aldi.
Setelah Ayni pergi dari tempat itu, Ayni menitikkan air matanya. Kata-kata Dr. Dian telah melukai hati Ayni.
Sesampainya di ruangan Ayahnya. Ayni menghambur memeluk Bunda Ita dan Ayah Tyo (orangtua dari Ayni). Di sana sudah ada Om Bowo dan Tante Isty (orangtua dari Aldi). Ayni menyalami mereka semua.
"Ndok, kenalkan mereka adalah calon mertuamu. Bunda sudah panggilkan penghulu kemari. Kami tinggal menunggu calon suamimu. Ayah ingin melihatmu menikah sekarang." Jelas Bunda Ita dengan mengelus lembut kepala Ayni.
"Ayni, ndak perlu takut Ndok. Anak Mama Isty pasti datang. Pasti. Mama yakin itu." Jelas Mama Isty yang juga memeluk lembut Ayni.
"Sebenarnya Ayni sudah bertemu dengan Mas Aldi, Bund, Ma. Sewaktu di pesawat tadi. Tapi kami tadi berpisah karena Mas Aldi sedang berbincang dengan temannya di bawah. Jadi Ayni kesini duluan. Karena sudah sangat khawatir dengan Ayah." Jelas Ayni kepada orang-orang di ruangan tersebut.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum..." Sapa Aldi.
"Waalaikumsalam." Sahut semua serempak.
Aldi menyalami Mama, Papa, Ayah, dan Bunda.
"Pak penghulu, mari silahkan kita mulai saja." Tetiba saja Pak Bowo meminta penghulu untuk bersiap dan menikahkan Aldi dan Ayni.
"Pa, bentar, bentar, ini aku gak di kasih jeda dulu?" Tanya Aldi yang bingung dengan keadaan ini.
"Sudah tidak ada waktu lagi, Aldi." Jawab Papa Bowo.
"Pa, setidaknya beri Aldi waktu untuk ganti pakaian. Lihat bajuku, bersimbah darah. Setelah bergelut dengan ibu hamil." Terang Aldi kepada Papanya.
__ADS_1
"Om Tyo, Aldi izin membersihkan diri sebentar saja. Boleh? Setelah itu, Aldi janji akan melaksanakan apa yang kalian inginkan. Om Tyo harus bertahan dan melihat Ayni menikah dengan saya." Aldi bicara berbisik di telinga Om Tyo. Calon mertuanya.
"Pa, Ma, Tante, Aldi bersih-bersih dulu."
"Pak Penghulu, tunggu sebentar, saya mau bersih-bersih dulu." Ujar Aldi.
"Ayni, kamu gak mandi sekalian? Barengan?" Sontak membuat orang-orang di ruangan itu membelalak terkejut dengan kata-kata Aldi.
"Aldi, kamu itu___" Belum sempat Mama Isty melanjutkan, Aldi memotongnya.
"Lha, bener dong Ma. Ayni tadi habis tolongin aku bantuin ibu melahirkan. Otomatis darahnya banyak dong. Ya harus bersih-bersih dan ganti. Bener kan?" Kata Aldi sambil berlalu masuk kamar mandi.
Ayni dan Bunda Ita yang melihatnya tertawa geli. Melihat tingkah lucu Aldi. Bahkan Ayah Tyo pun ikut tersenyum.
*****
Sebelum akad nikah dan ijab-kabul, Ayni meminta Aldi untuk keluar berbicara sebentar dengannya.
"Mas.." Panggil Ayni yang duduk di kursi depan ruangan Ayahnya dan melambaikan tangan, meminta Aldi untuk duduk disampingnya.
"Kenapa Ay?" Tanya Aldi.
"Mas Aldi mau menikahi Ayni kenapa? Apa sudah selesai urusan Mas sama Dr. Dian?" Tanya Ayni
"Aku mau menikahimu kenapa? Karena dijodohkan. Urusanku dengan Dian sudah usai sejak dulu. Tidak perlu dipermasalahkan lagi." Jawabnya tegas.
"Jadi benar karena memang di jodohkan." Gumam Ayni. Ia berdiri dan beranjak dari duduknya tapi tangannya di tarik oleh Aldi.
"Duduk dulu. Mas belum selesai bicara." Ujarnya dengan meminta Ayni untuk duduk.
"Dek, dengar Mas Aldi. Aku menikahimu memang karena dijodohkan. Karena wanita itu adalah kamu. Kalau bukan kamu, dek. Mas gak mau." Jelas Aldi kepada Ayni.
"Sekarang Mas Aldi tanya sama kamu. Kenapa kamu mau dijodohkan dan menikah sama Mas?" Tanya Aldi kepada Ayni.
"Karena Ayni sayang Mas Aldi." Jawabnya lembut sekali. Ayni menundukkan wajahnya dan tak terasa bulir-bulir air matanya jatuh satu-persatu.
Kata-kata yang keluar dari bibir Ayni membuat Aldi semakin mantap melangkah untuk menikahi Ayni.
Ia tahu bahwa akan ada prahara antar Aldi dan Adit atau Dian si pengganggu yang tidak suka dengan Ayni. Aldi tidak peduli. Yang Aldi pedulikan sekarang adalah Ayni gadis polos yang mengucapkan sayang kepada Aldi dan kesehatan Ayah mertuanya.
"Ayo, kita masuk. Kita sudah ditunggu." Aldi jalan terlebih dahulu memasuki ruangan.
*****
AKAD NIKAH: IJAB KABUL
"Saya terima nikah dan kawinnya Ayni Lestari Bramantyo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Lancarnya Aldi mengucapkan kata-kata itu. Gak sia-sia otak dokternya. Hahaha...
Sah... sah... sah.... serentak orang-orang di dalam ruangan itu menangis haru karena pernikahannya begitu sederhana tapi sakral.
Kakak Aldi yang pertama Rama Nugroho Wibowo bersama dengan istrinya Mba Irma. Kakak Aldi yang kedua pun juga datang Satria Manggala Wibowo beserta dengan istrinya Mba Susi. Mereka menyaksikan akad nikah dan ijab kabul tersebut.
*****
Ayni adalah anak semata wayang dari Bunda Ita dan Ayah Tyo. Meskipun anak semata wayang, Ayni tidak pernah dimanja. Ia mampu mendirikan usahanya sendiri.
Menjadi designer baju muslimah adalah cita-citanya. Sekarang baju-baju produknya sudah mencapai mancanegara. Banyak artis Indonesia juga yang mengenakannya.
Hidupnya semakin lengkap setelah menikah dengan seorang Dokter Bedah yang bernama Dr. Aldi Dewangga Wibowo. Meski perbedaan usia yang jauh, tapi mereka tetap saling sayang.
*****
Ayah Tyo sudah mulai membaik dan sudah bisa di bawa pulang. Namun, belum bisa pulang ke Jakarta. Karena kondisi Ayah masih lemah. Akhirnya Ayah tinggal di Solo dulu. Di rumah Eyang sampai Ayah sembuh.
Lalu Ayni? Tinggal sama suaminya dong... kan udah nikah.
*****
"Dek, Mas gak bisa lama-lama di Solo. Karena RS. Mitra Soenggono sedang membutuhkan Mas Aldi. Adek mau ikut Mas ke Jakarta atau masih mau disini?" Tanya Aldi kepada Ayni yang sedang duduk di bangku halaman depan rumah Eyangnya Ayni.
"Berarti kalau pulang ke Jakarta, Ayni tinggal sama Mas Aldi ya?" Tanya Ayni yang berada di pelukan dada bidang Aldi, seraya mendongakkan kepalanya melihat suaminya.
"Ya, iya dong... tinggal sama Mas Aldi. Masa mau tinggal sama Adit. Baku hantam Masmu ini sama dia nanti dek." Jawabnya nyeleneh banget.
"Ih, Mas ini. Orang ditanya beneran kok malah bercandaaa terus. Ledekin aja terus." Ucap Ayni dengan mencibikkan bibirnya. Membuat Aldi gemasss sekali dan mencium lembut bibir Ayni.
"Ya, Allah! Mas Aldi! Nanti kalau ketaun sama orang rumah gimana? Kan malu tau." Ujar Ayni sambil memukul lembut pundak Aldi dan tangan satunya menutup bibirnya.
"Soalnya, aku gemeesss syaaamaa kamuuu." Ucap Aldi dengan mencubit pipi Ayni yang gembul itu.
"Mas Aldi!" Ujar Ayni sambil memukul tangan Aldi dan tertawa riang. Kemudian Ayni menyambar kepelukannya Aldi yang tertata rapi otot-ototnya yang bidang itu.
"Mas, sini deh, Ayni bisikin." Jailnya Ayni baru kelihatan. Tapi Aldi nurut aja.
"Apa?" Tanya Aldi yang memelankan suaranya dan menundukkan kepalanya.
"Ayni, sayang sekali sama Mas Aldi." Ujarnya sembari mengecup singkat pipi Aldi dan pergi meninggalkan Aldi di bangku halaman.
"Ayni! Dek, tunggu! Mas juga mau bisikin, sini." Ujar Aldi kepada Ayni. Aldi bangun dari duduknya dan menyusul Ayni yang masuk ke dalam rumah.
*****
cinta akan mudah
jika kita bersama dengan
__ADS_1
orang yang benar
******