Sajak Rindu

Sajak Rindu
CHAPTER 33: NG'DATE


__ADS_3

Ayni dan Aldi sudah pulang dari RS. Mereka beristirahat di kamar hotelnya.


Hari ini planningnya kita mau jalan-jalan bareng. Tapi berhubung kondisi Ayni masih lemah, jadi mereka jalan-jalan sendiri dulu deh. Menikmati pesonanya Negeri Gingseng.


"Dek, Mas Abi gak begitu kenal tentang Korea Selatan, lho... kamu yakin kita naik public transportation aja?" Tanya Abi dengan gaya bicara khas NY nya.


"Iya. Insya Allah aman." Jawab Anna yang sibuk menata planningnya hari ini.


Tadinya Anna mau *bungee jumpin*g tapi Adit bilang, kalau bungee jumping nanti saja kalau kita sudah kumpul semua.


Akhirnya Anna mempunyai planning untuk ng'date bersama sang suami mengelilingi Seoul.


"Are you ready, honey for our adventure today ?" Tanya Anna kepada Abi.


"I'm always ready. Let's go...." Ucap Abi semangat.


"Adek mau kemana dulu? Hari ini berapa tempat?" Tanya Abi yang begitu semangat.


"Mmm... 3 tempat aja kok. Namsan Seoul Tower, Itaewon, and Han Gang." Ujar Anna dengan melihat destinasinya.


"Mas Abi gak paham semua. Hahaha..." Abimanyu.


"Insya Allah, Anna paham Mas."


"Mas Abi ada kenalan atau teman gitu yang tinggal di Seoul ?" Tanya Anna.


"Kenalan dan teman mah ada beberapa. Tapi Mas Abi gak tau tuh mereka tinggal di sebelah mananya Seoul." Ucap Abi yang sedang menunduk menalikan tali sepatu Anna.


"Thanks, honey." Ucap Anna.


"Mas Abi, kita jalan menuju terowongan sana ya... kita naik kereta aja. Kalau naik subway jam segini kayaknya macet." Ujar Anna yang jadi GPS nya Abi hari itu.


"Okey. Let's go bahasa Koreanya apa deh, Dek?" Tanya Abi.


"Gaja." Ucap Anna.


"Gaja." Ucap Abi yang mengikuti Anna.


Mereka berjalan santai menyusuri jalanan kota Seoul yang indah dikala *autum*n.


"Mas Abi, mau aku ceritain sebuah sejarah gak?" Tanya Anna dengan melingkarkan tangannya di lengan Abi yang kokoh. Saat itu udara cukup dingin.


"Sejarah tentang Seoul ?" Tanya Abi dengan menautkan alisnya.


"Sejarah tentang Anna dan seseorang. Laki-laki, pernah singgah di hati Anna. Mau dengar atau gak usah cerita?" Tanya Anna kepada Abi.


"Mau dengar." Ucap Abi jelas.


"Dulu, waktu Anna masih kuliah di luar Negeri, Anna kan jadi asdos. Kebetulan saat itu dosen Anna ada pertemuan di Seoul, Korea Selatan. Anna ikut dong, semua akomodasi ditanggung beliau. Anna ikut mendampingi beliau kemanapun beliau pergi." Anna mulai bercerita.


"Ada acara seminar, workshop, itu banyak kan. Anna mendampingi di salah satu seminar dosen Anna dan bertemulah dengan sesosok laki-laki itu." Ujar Anna yang melihat reaksi Abi.


"Namanya David Park. Dia seorang dosen Sastra Prancis. Berkebangsaan Prancis blasteran Korea Selatan. Awalnya beliau tinggal di NY."


"Tapi, setelah menyelesaikan kuliah PhD nya, beliau kembali ke Negeri asal ia lahir, Prancis. Yang kemudian ia merindukan kampung halaman keduanya yaitu Korea Selatan." Lanjut Anna bercerita.


"Cukup lama buat Anna tinggal di Korsel ini. Emm... sekitar 3 bulan? Mungkin ini juga salah satu yang membuat Anna mengenal Seoul."


"Ketika ada seminar dengan topik Literasi Bahasa dan Sastra, David ada disana. Dosen Anna bilang kalau ada salah satu dosen disini yang tertarik dengan Anna."


"David Park namanya. Kata dosen Anna bilang gitu. Dari situ Anna mulai kenal David. Atau saat itu Anna manggilnya Dave."


"Anna tau, dia berbeda keyakinan dengan Anna. Sejak awal sudah Anna katakan kepada David bahwa kita, berbeda. Dari segala apapun." Ucap Anna yang menunjukkan raut wajah datarnya saat bercerita.


"David Park itu sosok laki-laki yang tangguh, romantis, mampu membuat Anna sering tertawa, tegas tapi lembut." Ujarnya sambil melihat rahang Abi yang terlihat mengeras. Anna mengelus lembut lengan Abi.


"Masih mau di lanjutin? Atau udahan aja?" Tanya Anna yang melihat raut wajah Abi sudah mulai mengeras.


"Lanjutin aja." Jawab Abi singkat.


"Mungkin karena kita sering bertemu, intensitas kami berkomunikasi lebih baik dari sebelumnya." Lanjut Anna.


Mereka memasuki kereta yang saat itu sedang lengang dan berhasil duduk bersebelahan.


"Terus, terus, dek?" Ucap Abi yang duduk disamping Anna, ia sudah tak sabar untuk mendengar kelanjutan ceritanya.


"Lalu, ada titik di mana dia bicara serius. Ia ingin menikahiku." Ucap Anna yang sukses membuat rona merah padam di wajah Abi.


"Anna bilang, kalau keyakinan kita berbeda. Tapi David tetap ingin maju. Ia belajar tentang Agama Islam. Anna mendukungnya saat itu. Karena Anna memang ada hati pada David. Duluuu..." Ucap Anna.


Tak terasa Anna dan Abi sudah sampai di Namsan Seoul Tower. Anna membeli dua gembok. Yang satu berwarna merah dan satunya berwarna biru.


"Dan... disinilah tempat Anna dan David mengakhiri semua hubungan kami. Kok di akhiri? Kenapa? Kan saling mencintai? Itu pertanyaannya ya?"


"Jawabannya cuma 1. Aku mengakhirinya karena aku mencintainya bukan karena Allah tapi karena tampilan semata. Kami bertemu dengan cara yang baik, kami mengakhirinya dengan cara yang baik pula." Ucap Anna dengan senyum teduhnya.


"Jadi, ini tempat kenangan adek sama David?" Tanya Abi dengan menghadapkan wajahnya di depan wajah Anna.

__ADS_1


"Bukan. Ini tempat yang pernah aku kunjungi. Sekedar berkunjung." Jawab Anna jelas dan tegas.


"Apa David juga masih tinggal di Korea?" Tanya Abi dengan seksama.


"Anna kurang tau. Karena sudah tak ada lagi komunikasi dengannya." Ujar Anna.


"Kalau kamu dipertemukan kembali dengannya, apa yang mau kamu lakukan?" Tanya Abi.


"Ucapin salam. Assalamualaikum..." Ucap Anna dengan candanya yang membuat Abi tersenyum.


"Bagaimana kamu tau kalau David itu bukan orang yang tepat?" Tanya Abi.


"Istikharah, Mas. Hampir setiap sholat aku istikharah tapi tak ada tanda David jodohku. Lagipula, setau Anna dia telah dijodohkan." Jelas Anna.


"Apa masih ada rasa tentangmu dan David?" Tanya Abi kemudian yang menundukkan wajahnya.


"Tidak. Tidak akan ada sedikitpun rasa kepadanya." Jawab Anna.


"Kenapa?" Tanya Abi.


"Karena laki-laki yang aku cintai, ada di hadapanku sekarang." Ucap Anna dengan menatap lembut wajah Abi.


"Anna cerita tentang David bukan untuk membandingkan antar Mas Abi dan David. Tidak !! Sama sekali tidak !! Anna hanya tidak ingin ada rahasia diantara kita. Daripada Mas Abi dengar dari orang lain. Lebih baik Mas Abi dengar dari mulut Anna sendiri bukan?" Jelas Anna kepada Abi.


"Iya dek. Harusnya memang seperti itu. Dan orang dewasa itu adalah orang yang menceritakan masa lalunya dengan tanpa keraguan dan justru malah tersenyum bahagia tanpa beban." Jelas Abi.


"Anna menceritakan tentang David karena Anna percaya sama Mas Abi. Tak ada rasa cemburu untuk Anna dan David. Karena memang tidak ada yang perlu di cemburui." Jelas Anna.


"David sudah bahagia dengan hidupnya dan aku bahagia dengan kamu." Ucap Anna yang menatap lembut Abi.


"Dek, kamu tau gak, kamu itu mempesona siapapun yang melihatmu. Gak heran, kalau sampai dosen aja bisa kamu taklukan, apalagi laki-laki lain? Ada juga pasti mahasiswa yang naksir kamu. Iya gak?" Tanya Abi kepada Anna yang saat itu Anna sedang menjepretkan kameranya ke Abi.


"Mahasiswa? Naksir aku? Banyak. Hahaha... Belagu banget ya?" Ucap Anna dengan tawanya.


"Emang cantik istriku ini. Jadi harus lebih super ketat jagainnya. Hehehe..." Ucap Abi dengan seulas senyum.


"Mas Abi, hal-hal yang seperti itu sebaiknya tidak usah terlalu dipusingkan. Kalau kita saling percaya satu sama lain, gak ada kata cemburu." Jelas Anna.


"Kalau mau dibilang cemburu, Anna sangat cemburu waktu Mas Abi sama temen-temen Mas bercerita tentang perempuan yang pernah dekat dengan Mas Abi." Lanjut Anna.


"Tapi, Anna tak ingin memusingkan hal itu. Kenapa? Karena Anna tau, setiap orang punya masa lalu. Kita gak bisa menyalahkan masa itu. Anna juga gak bisa menyalahkan Mas Abi atas masa lalumu Mas."


"Dan buat Anna, masa lalu ya masa lalu. Sekarang ya sekarang. Masa lalu hanya dipakai untuk sekedar mengingatkan ke kita jangan mengulangi hal bodoh seperti sebelumnya. Udah itu aja fungsinya masa lalu. Gak lebih."


"Buat Anna, masa sekarang Anna dengan Mas Abi itu jauuhh... lebih penting. Waktu yang kita miliki sekarang ini adalah waktu yang gak akan pernah ke ulang kembali. Anna hanya ingin memanfaatkan waktu bersama Mas Abi sebaik yang Anna bisa. Selagi Anna masih ada." Jelasnya panjang lebar.


"Kok adek ngomong gitu sih? Selagi masih ada." Ucap Abi dengan menatap Anna.


"Aku juga dek, sangat mencintaimu. Mas gak kebayang kalau gak ada kamu gimana dek. Jangan ngomongin hal itu. Mas belum siap." Ucap Abi sambil memeluk tubuh Anna.


"Siap gak siap, harus siap Mas. Mas Abi ini seseorang yang dititipkan Allah ke Anna. Allah mau lihat, mau menguji iman Anna. Lebih cinta ke Mas Abi atau ke Allah. Hehehe..." Ucapnya dengan seulas senyum.


"Iya, benar. Mas Abi jadi lebih tenang kalau melibatkan Allah. Serahin semua sama Allah ya, dek. Kamu juga wanita yang dititipkan Allah ke Mas Abi. Untuk menguji Mas Abi, mampu tidak Mas mengajakmu ke syurga." Ucap Abi dengan mengecup pelipis Anna.


"Percaya deh Mas. Kalau kita melibatkan Allah, apapun itu, kita pasti tenang. Hidup tuh damai. Indah... seru deh pokoknya." Ujar Anna dengan senyum lesung pipinya.


"Benar, dek. Apapun itu." Ucap Abi dengan mata sendunya.


"Anna gak tahan kalau ditatap Mas Abi gitu." Ucap Anna dengan memalingkan wajahnya.


"Lho, kenapa?" Tanya Abi bingung.


"Bikin salting, Mas. Akunya tuh jadi luluh gitu. Kau berhasil memporak-porandakan hatiku, Maas..." Ucap Anna sambil ngeloyor pergi memotret pemandangan.


"Hahaha... Mas Abi digombalin lagi nih?" Ujar Abi dengan tawanya.


"Udah lama gak gombalin Mas Abi. Hahaha..." Ucap Anna dengan candanya.


"Yee... senang betul kamu... hahaha..." Ucap Abi dengan mencubit hidung Anna.


"Mas, kamu kan jago gambar. Coba gambar Anna disini." Anna duduk di heart chair yang sedang melihat langit.


"Adek ada kertas sama pensil? Atau pulpen?" Tanya Abi.


"Ada dong... Bu Guru mah kemana-mana yang dibawa itu. Hahaha..." Ucap Anna yang mengundang tawa Abi juga.


Abi mulai melukis Anna. Abi itu suka sekali menggambar, melukis, dan akhir-akhir ini objek lukisan atau gambar Abi itu istrinya. Anna.


Abi juga suka dengan photography. Hasil jepretannya pun tak main-main indahnya.


"Done !" Abi menyelesaikan gambarnya dan memberikan kepada Anna.


"Masya Allah... bagus banget, Mas. Akunya ini cantiknya kok Masya Allah banget. Hahaha... pede bener..." Ucap Anna dengan senyum yang memperlihatkan deretan giginya.


"Hahaha... object nya cantik. Jadi view nya semua cantik ya?" Ucap Abi dengan tawa riangnya.


Tak habis pikir ia dengan istrinya yang mempunyai sisi humoris. Ada aja plesetan-plesetannya.

__ADS_1


Mereka turun dari Namsan Seoul Tower menaiki cable car.


Anna dan Abi menikmati waktu ng'date mereka berdua. Udara dingin di Negeri Gingseng telah membuat dua sejoli itu berpeluk mesra. Hingga yang melihatnya pun ikut bapeerrr...


"Mas, masih cemburu dengan David?" Tanya Anna meyakinkan kembali bahwa Abi baik-baik saja dengan kisah masa lalunya.


"Enggak. Mencemburui masa lalu gak ada gunanya." Ucap Abi yang memberikan back hug ke Anna.


"Karena?" Tanya Anna dengan sedikit melirik ke Abi.


"Karena Mas tau. Kamu cintanya sama Mas Abi. Tapi Mas Abi sama David, gantengan siapa, Dek?" Tanya Abi.


"Ganteng? Em... relatif sih kalau ganteng. Hahaha..." Pecah tawa mereka berdua.


"Ganteng tuh kayak Omar Borkan Al Gala, Mas..." Ucap Anna.


"Lho, itu bukannya laki-laki yang gara-gara ketampanannya dia dideportasi dari Negaranya, ya, Dek?" Ucap Abi bingung.


"Iya, betul. Itu baru ganteng. Sampai di deportasi buktinya. Kalau belum dideportasi dari Negaranya berarti belum ganteng. Ahahaha..." Ucap Anna yang membuat Abi ikut tertawa geli. Ada-ada saja istrinya ini.


"Berarti Mas Abi belum ganteng ya? Kan belum dideportasi dari Negaranya. Hahaha..." Ucap Abi dengan tawanya.


"Beruntung tuh berarti kamu Mas. Negaramu masih sayang sama kamu. Hahaha..." Ucap Anna senang betul meledek suaminya.


"Aku sukanya kalau berdua sama kamu gini nih, Dek." Ucap Abi yang mengecup pelipis Anna.


"Gini gimana maksudnya? Hughing ?" Tanya Anna.


"Bukan. Ngobrol sama kamunya yang bikin kangen. Hehehe..." Abi.


"Alhamdulillah... kalau Mas Abi selalu kangen sama Anna. Maaf ya, Anna tuh kalau ngomong suka losss gitu, gak ke kontrol. Kalau ada yang buat Mas Abi tersinggung, kasih tau ya... kalau punya lambe turah kan emang begini wujudnya Mas. Hahaha..." Ujar Anna yang mengundang tawa Abi.


"Ini nilai kamu makin plus. Cantik, smart, sociable, adaptable, selere humor yang tinggi, pandai mengenal karakter orang, jago banyak bahasa, mudah memperlajari suatu hal baru, pandai masak pula. Apa sih yang kamu gak bisa, Dek?" Tanya Abi dengan heran.


"Wuiihh... banyak. Anna gak bisa berenang. Bisanya gaya batu aja. Hahaha." Ucap Anna.


"Serius gak bisa berenang?" Tanya Abi terkejut.


"Serius. Maksudnya bisa berenang. Tapi paling cuma beberapa kali nyelem, terus udah. Padahal aku suka. Cuma, karena dulu punya pengalaman tenggelam, jadi panikan gitu kalau lihat air yang banyak." Terang Anna.


"Adek, pernah tenggelam? Dimana?" Tanya Abi seraya keluar dari *cable ca*r dan menggandeng Anna.


"Pernah. Waktu dulu. Masih umur 7 atau 8 tahun gitu. Yaa... namanya masih anak-anak Mas. Apa juga pengen di explore. Aku main di sungai. Ada air terjunnya gitu. Terus gak lama hujan deras. Air sungainya makin meluap. Anna terbawa arus, teriak minta tolong tapi kayak gak ada yang denger. Akhirnya Ayah yang nolongin. Anna pingsan, sampai seharian. Demam pula."


"Dari situ Anna suka takut kalau mau nyemplung di kolam berenang. Tapi kalau lagi sama Ayah, aku dimasukin aja ke kolam berenang. Aku minta tolong kayak apa juga gak ditolongin. Lama-lama bisa berenang sendiri walaupun masih kaku dan belum bisa lama-lama di kolam berenang." Celoteh Anna.


"Waktu aku tau Mas Abi bisa berenang, aku lega... hehehe..." Ujar Anna dengan cengir kudanya.


"Kenapa?" Tanya Abi seraya memberi hot chocolate Anna.


"Nantinya kalau kita punya anak, bisa belajar berenangnya sama kamu. Hehehe..." Ucap Anna.


"Ohh... hahaha... ada aja kamu, Dek." Ujar Abi dengan mengelus kepala Anna.


"Ada lagi yang Anna gak bisa." Ucap Anna seraya mereka menuruni tangga.


"Apa?"


"Anna gak bisa kalau disuruh ngitung-ngitung. Yang berbau ilmu hitung-menghitung gitu Anna gak ngerti. Gak suka malah." Ucap Anna dengan mencibikkan bibirnya.


"Oh, ya? Tapi bukannya kamu kemarin menangin lomba bareng sama teman-temanmu? Yang memecahkan soal matematika?" Tanya Abi bingung.


"Iyaa... tapi kan itu matematika anak SD Mas... cuma masalah ketangkasan aja kalau itu. Makanya Anna bisa. Kalau yang udah ada kuadrat, pangkat-pangkat, akar berapa di bagi akar berapa, ketemunya akar pohon. Hahaha... yang macem begitu Anna gak suka. Ribet." Ucapnya yang mengundang tawa Abi.


"Hooh... berarti kebalikannya dari Mas Abi dong. Mas Abi suka banget sama ilmu hitung. Karena itu hasilnya udah pasti, Dek. Beda gak kayak sejarah atau sastra yang butuh waktu untuk mengingat. Kayaknya gimana gitu... Mas gak begitu suka." Ujar Abi.


"Hmm... beda selera ya kita... saling melengkapi tapi... hehehe... Anna suka banget sejarah. Suka hal-hal yang berbau tentang sastra, makanya Anna suka travelling atau sekedar jalan-jalan aja. Karena bisa belajar banyak hal. Suka memperhatikan orang-orang dan belajar arti hidup seperti apa. Berat euyy... pembahasannya. Hahaha..." Terang Anna.


"Emm... pantesaann... kamu sociable banget. Karaktermu extrovert ya, Dek. Karakternya Mas Abi, introvert. Lengkap berarti kita. Hahaha..." Ucap Abi dengan tawanya.


"Iya Mas. Kamu itu karakternya lebih ke suasana yang tenang, damai, gak suka yang ribet, yang heboh tuh kamu gak suka. Iya kan?" Tanya Anna.


"Hehehe... iya. Kok tau?" Tanya Abi dengan cengiran kudanya.


"Tau dong... dari wajah sama sikap aja sudah terlihat bahwa kamu itu introvert, Mas. Untungnya Anna masih ada sisi introvert juga. Jadi sedikit banyak, tau lah... orang introvert itu seperti apa. Hehehe..." Jelas Anna yang tersenyum manis.


"Iya, kamu juga punya sisi introvert ya, Dek. Mas baru inget. Yang kamu bilang, kamu mau sendiri dulu, kalau sudah tenang baru menghubungi Mas. Itu introvert bukan?" Tanya Abi ke Anna.


"Iyup. Itu salah satu sisi introvertku. Daripada marah yang menggebu mending mundur dulu deh, tenangin hati sama pikiran. Baru ketemu Mas Abi. Itu sih yang aku pikirkan saat itu." Jelasnya.


"Emang harusnya begitu, Dek." Ucap Abi yang mengajak Anna untuk istirahat sekalian sholat dzuhur dan ashar di Seoul Central Mosque.


*****


kamu itu sederhana


tapi aku suka

__ADS_1


*****


Mohon maaf jika ada nama tempat dan bahasa yang belum sesuai. Boleh tolong di koreksi ya... Terima kasih 😇


__ADS_2