
CAFE COFFEE
"WHAT?!! MENIKAH??!!"
"Annaa... maaf. Gue gak ngabarin ke lo soal ini. Ini semua dadakan baget, An. Maaf ya..." Ucap Alisha dengan wajah menunduk.
"Sorry, ya Bi. Gue gak ngabarin lo. Ini tanpa gue duga. Asli, gue kadang masih bingung sama keadaan sekarang." Ujar Aryo dengan wajah bersalahnya.
"Tapi kenapa bisa kalian berdua?" Tanya Anna dengan wajah heran.
"Jadi ceritanya Mama pergi ke Semarang sama Papa buat jenguk Eyang gue. Terus mereka sekalian mau reunian SMA. Pas di reunian SMA Mama ketemu sama Bunda Anita sama Papa Aris. Orangtuanya Mas Aryo. Entah apa yang diperbincangkan oleh mereka." Jelas Alisha
"Sampai titik dimana kami berdua harus ke Semarang, mengadakan pertemuan keluarga, keluarga Mas Aryo datang ke rumah Eyang dikenalkan denganku, lalu menentukan tanggal pernikahan. Tapi gue juga gak tau An, yang mana calon suami gue. Seperti apa wajahnya pun gue gak tau. Tadinya Mas Aryo mau dikenalkan ke gue esok hari tapi, ternyata qadarullah, Bunda Anita masuk RS." Terang Alisha.
"Lo tau kan, Bi.. Bunda itu punya penyakit jantung. Gue gak bisa menolak permintaan Bunda karena saat itu keadaan Bunda sedang kritis. Kalau gue tolak, Bunda... yah lo tau lah..." Sambung Aryo.
"Akhirnya akad nikah dan ijab kabul kita lakukan di RS. Gue juga baru tau dan baru ketemu sama Alisha di RS. Kalau dibilang kaget? Ya kaget banget. Gue berpikir dunia itu sempit. Sangat sempit menurur gue dan jalan Allah itu ada aja Bi." Jelas Aryo dengan seulas senyum.
"Maaf ya Anna... gue beneran gak ada maksud buat gak ngabarin lo. Karena waktu itu hectic banget. Gue sama sekali gak kepikiran untuk ngabarin lo dan Mas Aryo juga bilang kalau kita ajak kalian ketemu aja dulu. Baru kita ceritain duduk permasalahannya apa." Terang Alisha kepada Abi dan Anna.
"Sorry, Bi. Gue ninggalin kerjaan dan ngurusin keluarga gue dulu." Ujar Aryo.
"Yak elah... selo... Yo. Kayak sama siapa aja. Gue juga gak marah kalian baru ceritain ke kita. Gak masalah kok Yo, toh yang nikah kan lo sama Alisha. Yang jalanin kehidupan pernikahan, lo dan Icha. Gue sebagai sohib cuma bisa support aja." Jelas Abi kepada Aryo dan Alisha.
"Iya Cha. Gue gak apa kok. Waktu gue nikah juga kalian gak ada yang gue kabarin. Gue juga ngomong langsung sama kalian. Lo mending ini ngajak ketemuan di tempat kongko. Lhaa, guee?? Tetiba dibawa ke kantor Mas Abi, terus ketemu sohibnya yang super heboh pas tau Mas Abi udah nikah. Hahaha..." Jelas Anna kepada Alisha dan Aryo.
"Hahaha... iya ya, An. Gue kaget banget itu. Makanya gue nanya sama Mama Rani dan Papa Adi. Ternyata bener... Hahaha..." Ucap Aryo dengan tawa riangnya.
"Senang betul tawa lo, Yo." Ujar Abi dengan mencibikkan bibirnya.
"Iyalah... gak nyangka gue. Seorang Abimanyu menikah. Deket sama cewek aja merinding. Ini nikah?! Siapa yang percaya. Hahaha..." Sahut Aryo dengan senangnya.
"Terus nyokap lp gimana, Yo kabarnya? Udah sehat?" Tanya Anna kemudian
"Alhamdulillah udah, An. Cuma masih di awasin terus aja kesehatannya. Karena masih istirahat dan lemes banget. Gue tadinya mau nemenin, tapi orang kantor udah neleponin terus. Yaudah, gue balik. Lagipula istri gue mau kerja kan... gak bisa juga." Ujar Aryo menjelaskan.
"Eejieehh... istri. Iya dah suami." Canda Abi kepada Aryo.
"Rese lo." Sahut Aryo dengan memonyongkan bibirnya.
"Hahaha... terus, terus, Cha, lo kaget dong waktu tau calon suami lo Aryo?" Tanya Anna antusias.
"Kaget lah An... shock banget gue. Tapi udah gak bisa berkutik. Udah skakmat. Ibarat kata mah gitu." Jelas Alisha.
"Ejieeh... skakmat apanya nih? Hatinya? Hahaha... hatinya udah skakmat sama Aryo? Wakakak..." Canda Anna dengan tawa riangnya.
"Yee... puas lo ngeledekin gue. Rese lo." Ujar Alisha dengan mencibikkan bibirnya dan meyesap jus strawberry tersebut.
"Maksudnya skakmat hati apaan, An?" Tanya Aryo penasaran.
"Coba langsung saja tanya sama Icha. Ya, gak Cha? Hahaha..." Ujar Anna dengan senangnya.
Icha jadi salting (salah tingkah) saat Aryo menatapnya. Wajahnya bersemu merah yang lalu ia menyesap jus strawberrynya lagi. Untuk menghilangkan raut wajahnya yang malu.
Aryo dengan segaja menatap Icha tak henti. Ia senang sekali melihat wajah Icha yang malu-malu dengan rona merah pipinya.
"Yo, itu si Adit sama Arka udah lo kabarin belum?" Tanya Abi sambil menyesap ice mocacino nya.
"Belum." Ujar Aryo dengan cengar-cengir kuda.
"Waahh... ngamuk tuh anak orang dua. Gak kebayang mukanya Arka sama Adit. Hahaha..." Ucap Abi dengan tawa riangnya.
"Udah pasang badan gue, Bi. Hahaha..." Ujar Aryo dengan tawa riangnya.
"Terus Cha, lo tinggal bareng sama Aryo sekarang?" Tanya Anna seraya menyesap jus lemon mint nya.
"An, coba kalau nanya yang kreatif dikit. Nanya gue tinggal apa enggak sama suami gue. Ada aja pertanyaan lo, An... Hahaha..." Ujar Alisha.
"Hahaha... bukan, maksudnya lo tinggal dimana sekarang?" Tanya Anna yang masih ayik dengan lemon mint nya.
"Sama Mas Aryo di apartmentnya. Ya, Mas Yo." Ucap Alisha.
"Di apartment lo, Yo? Bukannya jauh ya dari kantor?" Tanya Abi.
"Iya, buat sementara aja sih, Bi. Sekarang tinggal di apartment dulu sambil nunggu jadi. Kasian istri gue juga kerjanya kejauhan." Ujar Aryo.
"Aseek, istri. Iya, suami. Hahaha..." Ledek Abi ke Aryo.
Icha yang mendengar ledekan Abi segera saja menggeser sedikit duduknya dari Aryo. Maluu... 😆
Aryo yang melihat Alisha menggeser tubuhnya, segera memegang pinggang Alisha dan menarik mendekat kepadanya.
Alisha yang kaget dengan tindakan Aryo, menutupinya dengan mengalihkan pembicaraan kepada Anna.
"An, lo udah tau belum kalau Aira sekarang kerja di kantor Mas Aryo sama Abi." Ujar Alisha.
"Oh, ya? Kok gue gak tau. Belum tau gue." Ucap Anna yang agak terkejur dengan ucapan Alisha.
"Mas Abi tau, Mas?" Tanya Anna kepada Abi.
"Mas belum lihat datanya dek. Udah di kirim ke email. Tapi Mas belum sempet cek. Lo tau, Yo?" Tanya Abi ke Aryo.
__ADS_1
"Tau lah, Bi. Orang yang interview gue sama Arka." Jawab Aryo seraya menyusun pesanan makanan yang diantar oleh pelayan cafe.
"Aira kerja sebagai apa Mas Abi?" Tanya Anna kepada Abi sambil mengambil peralatan makan untuk Abi.
"Setau Mas, kalau gak salah jadi asistennya Arka deh. Karena Arka lagi dapet project untuk penyalur hobi gambar kayak semacam komikus gitu. Bergambar dan ada ceritanya." Jelas Abi.
"Hooh... pantesan Aira masuk kandidatnya. Diterima pula lagi. Karena karyanya Aira juga udah beberapa diterbitin. Apa karena itu diterima kerjanya Mas Yo?" Tanya Alisha ke Aryo sambil Alisha menyiapkan beberapa peralatan makan untuk Aryo.
"Bukan cuma karena itu. Tapi cara kerja Aira yang *deadline*rs itu yang buat kita percaya bahwa ia bisa bekerja dibawah tekanan. Dalam arti kata ia gak mundur atau bertele-tele saat dapat project." Jelas Aryo.
"Lo udah liat komik-komik terbitannya Aira, Yo?" Tanya Abi yang menerima peralatan makan dari Anna.
"Makasih sayang..." Ucap Aryo dengan seulas senyum manisnya dan ditanggapi anggukan oleh Anna.
"Udah beberapa. Komiknya tuh unik menurur gue. Gak boring buat gue yang gak terlalu hibi baca komik. Ok sih, Bi." Ucap Aryo seraya mengambil peralatan makan dari Alisha.
"Makasih ya..." Ucap Aryo dengan mengelus lembut kepala Alisha. Membuat wajah Alisha bersemu merah lagi.
"Ohh... keren dong. Penasaran gue jadinya." Ujar Aryo yang sedang memperhatikan Anna memilah daun bawang dan daging cincang. Anna tidak suka keduanya. Abi hanya tersenyum melihatnya.
"Baca deh, Bi. Bikin penasaran ceritanya. Arka sih yang rekomendasiin ke gue. Arka kan hobi banget baca. Diantara lo, gue, Arka, Adit, sama Aldi. Yang hobi sama tulisan berderet ya cuma Arka sama Aldi. Makanya mereka kalau ngobrol nyambung banget. Hahaha..." Terang Aryo yang sesekali melihat Alisha sang istri berusaha sekali memotong daging pesannya.
"Aira emang keren banget kalau bikin cerita dan doi gambar sendiri. Cerita sendiri, gambar sendiri. Kan... Pe-eR banget ya... hebat sih Aira." Ujar Anna yang sambil menyendok soto mie baksonya.
"Lo udah baca yang judulnya "Ngakak" belum, An? Sumpah itu bikin ketawa gak berenti. Hahaha..." Ucap Alisha yang tanpa sadarnya Aryo sudah memotongi daging katsunya.
Alisha terperangah dengan sikap Aryo. Aryo yang tampak cuek dengan ekspresi Alisha melanjutkan ngobrolnya dengan Abi.
"Eh, iya bener. Asli, parah ngakaknya sih itu. Hahaha..." Ujar Anna dengan tawa riangnya.
"Kalau yang itu baru baca setengahnya. Yang setengahnya belum. Nanti deh kalau udah ada waktu." Ujar Aryo sambil mengunyah daging katsunya.
"Itu seru deh Mas. Kamu harus baca sampai habis. Dijamin kayak orang gila. Ketawa sendiri. Hahaha..." Ucap Alisha kepada Aryo.
"Serius? Sampe segitunya?" Tanya Aryo kepada Alisha.
"Iya, Mas... beneran deh. Gak akan nyesel bacanya. Lucu banget. Hehehe..." Ucap Alisha denga seulas senyumnya.
"Waahh... ntar mereka cinlok (cinta lokasi) lagi. Hahaha..." Ujar Anna dengan candanya.
"Eh, An, seru kali ya kalau kita travelling atau naik gunung bareng-bareng sama pasangan kita. Hehehe..." Ujar Alisha yang saat itu sedang berbincang riang dengan Anna. Abi dan Aryo sedang ke toilet.
"Iya ya, Cha. Udah lama banget kan kita gak jalan-jalan bareng?" Tanya Anna ke Alisha.
"Tapi Aira gimana ya? Kalau lo kan udah pasti sama Abi. Gue sama Mas Yo, Ayni udah pasti sama Dr. Aldi. Lha, Aira?? Sama siape tuh anak?" Ujar Alisha.
"Yaudah, tunggu Aira ketemu jodohnya aja. Hahaha..." Ucap Anna dengan senangnya.
"Eh, jodohin aja sama Arka. Hahaha..." Ucap Anna.
"Ya kali. Mereka kayaknya gak usah dijodohin, udah falling in love sendiri deh. Hahaha..." Ucap Alisha.
"Naik gunung apa travelling nih? Seruan yang mana nih An?" Tanya Alisha yang sedang melihat-lihat tujuan tempat kita jalan-jalan.
"Emm... travelling dulu kali ya... tapi kemana?" Tanya Anna kepada Alisha.
"Travelling ke____" Belum sempat Alisha melanjutkan Abi dan Aryo sudah kembali dari toilet bersama dengan Arka dan Aira yang sejak tadi dibahas oleh yang lain.
Abi dan Aryo bertemu mereka setelah keluar dari toilet. Mereka ingin mengerjakan komik sambil kongko-kongko cantik. 😆
"Hayoo... lagi ngomongin apa? Kok Mas Yo denger ada travelling gitu? Mau jalan-jalan ya?" Tanya Aryo kepada Alisha.
"Iya Mas, aku sama Anna lagi planning mau jalan-jalan. Bingung mau naik gunung atau travelling." Ujar Alisha yang menundukkan kepalanya
Arka dan Aira menyapa Anna dan Alisha. Setelah mereka duduk bersama. Saat itu Aira senang sekali bertemu dengan sahabat-sahabatnya.
Alisha sekalian saja cerita tentangnya dan Aryo. Awalnya Aira dan Arka histeris, terkejut dan tak habis pikir. Tapi, mereka turut bahagia dengan kebahagiaan sahabat-sahabatnya.
"Cha, lo ingat gak sih, waktu itu Anna pernah bilang, semoga kita berempat (Anna, Ayni, Alisha, dan Aira) dipertemukan dengan lelaki yang saling bersahabat seperti kita. Ingat gak sih An?" Tanya Aira kepada kedua sahabatnya.
"Ingat. Anna bilang pas kita lagi backpackeran kayak orang gila. Keliling Yogya gak jelas. Hahaha..." Ucap Alisha kepada kedua sahabatnya yang percakapannya di dengar oleh Abi, Aryo, dan Arka.
"Terus dari kalian berempat yang belum ketemu sama tambatan hatinya siapa?" Tanya Arka bergurau.
"Aira tuh... doi tuh walaupun terlihat tegas luarnya. Hatinya hellokitty. Rapuh... Hahaha..." Ucap Alisha dengan khas candaannya.
"Mulai deh lo Cha... ng-bully gue." Ujar Anna denga mencibikkan bibirnya.
"Hahaha... lo tuh berdua kayak Tom & Jerry. Kalau ketemu berantem. Gak ketemu nanyain satu sama lain. Aneh lo berdua." Ucap Anna dengan tawanya.
"Aira kan gitu cara kangennya ke gue. Galak-galak tapi kangen tuh... Hahaha..." Ujar Alisha meledek Aira. Aira yang hanya menjulurkan lidahnya dan meledek Alisha hanya dibalas senyum cengir kudanya Alisha.
Malam itu percakapan mereka begitu penuh canda tawa. Bahagia sekali mereka. Hingga tawa mereka hening ketika ponsel Aira berdering.
"Iya, Ma. APA?!! Iya, iya Aira ke sana sekarang." Aira yang asyik mengobrol dengan sahabat-sahabatnya sekarang berubah panik dan buru-buru harus pulang. Raut wajahnya yang tak menentu, membuat sahabat-sahabatnya khawatir.
"Ra, Kenapa? Ada Apa?" Tanya Anna dengan memegang bahu Aira.
"Ayah, masuk RS. Jantungnya kambuh dan harus di rawat di ICU." Ucapnya dengan terburu-buru.
"Biar gue yang anter." Ucap Arka kepada Aira.
__ADS_1
"Gak usah, Pak. Sudah malam. Saya bisa pesan kendaraan online sendiri." Ujar Aira dengan wajah yang sudah bersimbah air mata.
"Masih mau keras kepala juga?!" Ucap Arka dengan nada agak tinggi. Membuat Abi dan Aryo terkejut. Karena belum pernah Arka sekhawatir itu dengan wanita.
"Gak usah ngebantah! Ini perintah! Udah, ikut gue!" Jawabnya denga wajah garang dan menarik tangangan Aira setelah berpamitan denga sohib-sohibnya.
"Ra, kabarin kita ya... lo harus kuat!" Ucap Anna yang entah mengapa ini akan menjadi sebuah ujian untuk Aira tapi sekaligus kebahagiaan untuk Aira. Feeling Anna dari dulu gak pernah meleset.
"Dek, udah. Biar Aira selesaikan urusannya dulu. Kita tunggu kabar dari dia aja ya." Ucap Abi kepada Anna dan ditanggapi anggukan oleh Anna.
Tak lama Aira dan Arka pergi ke RS, Anna, Abi, Aryo dan Alisha meraka pulang. Meski dengan perasaan gundah gulana.
DI MOBIL ARYO (JAGUAR F-PACE BLACK)
"Dek, kamu dari tadi diam saja kenapa? Hm?" Tanya Aryo yang memperhatikan Alisha sejak tadi dan mengelus lembut waja Alisha.
"Mas, Alisha gak tenang ninggalin Aira gitu. Boleh gak, kita ke RS?" Tanya Alisha kepada Aryo.
"Coba kamu telepon Aira, diizinkan atau tidak. Kalau menurut Mas Aryo kita kesana besok saja. Sambil menunggu kabar dari Aira. Tapi kalau Icha maunya sekarang, Mas anterin. Telepon dulu Aira supaya dapat jawaban pasti." Jelas Aryo kepada Alisha.
"Iya Mas." Jawab Alisha sambil mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Aira.
Setelah Aira dan Alisha berbincang, hasil akhirnya adalah Alisha diminta untuk menunggu kabar dari Aira. Benar yang Mas Aryo bilang. Pikir Alisha.
Akhirnya mereka pun pulang. Ketika sampai di apartmentnya, mereka bersih-bersih dan siap istirahat.
Ponselmu gak usah dimatiin dek, nanti kalau-kalau Aira menghubungi, bisa." Ujar Aryo kepada Alisha.
DI RS
"Mama, Papa? Kok ada disini?" Tanya Arka kepada Mama dan Papanya yang tergopoh-gopoh mencari kamar Ayah Aira.
"Kok Mama sama Papa Kenal?" Tanya Arka heran kepada Mama dan Papanya.
Ternyata Mama dan Papa Arka itu bershabat dengan Ayah dan Bunda Aira. Merek tak ingin bercerita panjang lebar. Karena ingin segera menemui Ayah dan Bundanya Aira.
Sampai di ruangan, Ayah Aira begitu lemah. Banyak selang yang terpasang di tubuhnya. Saat Arka masuk berserta keluarganya ke ruangan tersebut. Ayah Aira meminta Aira segera menikah dengan Arka.
Itu permintaan terakhir Ayah Aira kepadanya. Ternyata dari awal mereka memang sudah dijodohkan oleh orangtua mereka.
"Ayah, kalau minta sesuatu yang Aira bisa wujudin dong, Yah..." Jawab Aira sekenanya sambil mengelus lembut punggung Ayahnya.
"Ndok, Ayah tau. Sangat tau. Siapa laki-laki yang dibutuhkan anak Ayah. Kamu butuh Arka, Ndok... laki-laki yang mampu bertanggung jawab." Ucap Ayah Aira dengan suara lemasnya.
"Iya. Yah... insyallah Arka gak ngecewain semuanya." Ujarnya dengan seulas senyum. Ing
"Yah, biar Aira ngobrol sebentar sama Pak Arka ya." Ujar Aira lembut kepada Ayahnya.
DI LUAR RUANGAN AYAH AIRA
"Pak! Bapak kenapa menyanggupi omongan Ayah." Tanya Aira tanpa basa-basi.
"Terus saya harus menolak gitu? Melihat Ayahmu terbaring lunglai seperti itu" Ujar Arka dengan emosinya.
"Biar saya yang bicara denga Ayah dan Bunda." Ucap Aira seraya berdiri dari bangku pajang.
"Tidak!! Saya belum selesai bicara." Ujar Arka kepada Aira.
"Kenapa sih, Ra. Selalu menghindar dari saya?" Tanya Arka dengan tatapan tajamnya ke Aira.
"Saya tidak ingin bapak menikah dengan keterpaksaan dari orangtua saya." Terang Anna.
"Siapa yang bilang ini keterpaksaan kalau kita menikah atas dasar cinta." Ucap Arka.
"Pak, kita menikah karena keterpaksaan kedua orangtua kita. Saya tidak ingin jadi penghalanga mimpi bapak. Saya cukup jadi supporter bapak saja sudah sangat senang." Ucap Ayni kepada Arka.
"Kenapa harus jadi supporter? Sedangkan kamu bisa menjadi partner hidup saya. Kenapa kamu berpikir bahwa kita menikah bukan atas dasar cinta? Kenapa, Ra?" Tanya Arka bertubi-tubi.
"Maksudnya Pak Arka bagaimana? Bapak mencintai saya?" Tanya Aira secara langsung dan tegas.
"Iya. Sejak awal bertemu." Ucap Arka kepada Aira.
Ketika Arka dan Aira berbincang-bincang, datang adik Aira (Alina) namanya. Ia memanggil Aira. Belum sempat Anna menyelesaikan perbincangannya dengan Arka, Alina datang.
"Mba, Mba Ra, Ayah kritis lagi." Panggil Alina dengan wajah pucat dan berderai air mata.
*****
jodoh itu emang gak akan kemana
dan hati itu cuma milik Allah
kita bisa suka sesukanya sama orang
karena dikasih rasa cinta sama Allah.
tapi kita juga bisa sebenci-bencinya
karena, apapun hati kita memilih
Allah tahu apa yang terbaik untuk kita
__ADS_1
*****