
DI KEDIAMAN BASUPATI SOENGGONO
"Mamaaa... ayo dong, buruan. Udah siang ini." Panggil Papa Adi ke Mama Rani.
"Iya, Pa. Sebentar dong. Kan Mama lagi siap-siap ini." Jawab Mama Rani dengan memasukan kotak kecil dan 2 benda berbentuk lingkaran besar dan kecil. Yup. Cincin nikah. Wasiat turun-temurun dari nenek moyang zaman batu kayaknya... 😆. Awet banget soalnya.
"Pa, Abi gimana? Udah landing belom? Udah di mana sekarang?" Tanya Mama Rani ke Papa Adi yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya untuk menghubungi anak laki-lakinya di luar sana.
Namun, suara (nomer yang anda tuju sedang tidak aktif). WA gak di bales-bales. Kusut juga Papa Adi dengan sikap anak laki-lakinya itu.
" Papa udah nelponin berapa kali, tapi gak aktif, Ma. Lihat saja, kalau dia tidak datang ke acara lamaran hari ini, Papa jadiin perkedel jagung dia." Ujar Papa Adi dengan geram.
"Udah, ah. Gak usah kesel. Ayo, kita berangkat aja Pa. Kasian Anin sama Bagas sudah menunggu. Sama calon mantu Mama... Hahaha." Ucap Mama Rani penuh semangat '45.
*****
DI BANDARA SOEKARNO-HATTA
"Den, Abi.!" Panggil Pak Man yang sedang sibuk berlari kecil mengampiri Abi.
"Pak Man, jemput saya? Makasih ya Pak." Jawab Abi sumringah. Karena Abi sudah hampir terlambat ini. Semoga jalanan lengang, Amin...
"Den, kita mau kemana dulu nih?" Tanya Pak, Man
"Langsung ke rumah Om Bagas sama Tante Anin aja, Pak Man." Sahut Abi sambil dengan mendudukan badannya di kursi belakang dan menyandarkan kepalanya di jok. Lelah sekali rasanya ia sekarang.
DI KEDIAMAN PRAYOGO
"Ndok, udah selesai bercerminnya?" Ledek Bu Anin kepada anak sulungnya.
Anna sedang mencoba baju gamis modern nya di depan cermin. Dengan warna cokelat susu polos dan jilbab simple yang menjuntai hingga menutupi bagian dadanya.
"Ayune, koe, Ndok. Wis gede cah wedok'e Bu'e (Cantiknya kamu, Nak. Sudah besar anak gadis Ibu)." Ujar Bu Anin dengan memegang pundak Anna. Anna yang dipuji, memperlihatkan senyum manisnya. ☺
"Buuuk... Anna... Sudah selesai belum itu dandannya? Ayo kita sambut calon besan kita." Ucap Ayah Bagas semangat sekali.
"Iya, Yah. Anna, keluar." Anna pun, mengajak Bu Anin untuk keluar dan menyambut calon mertuanya.
Entah apa yang terjadi. Semua begitu cepat. Anna sebentar lagi menjadi seorang istri dari keluarga Basupati Soenggono. Ada kekhawatiran yang menyelimuti hatinya.
Keluarga Basupati Soenggono terlalu mewah untuknya. Apakah dia pantas untuk bersanding dengan seorang laki-laki, satu-satunya pewaris Basupati Soenggono? Hhh... entahlah... semoga bisa. Pikirnya.
Tak lama kemudian, terdengar suara orang mengucapkan salam.
"Assalamualaikum" Serentak Papa Adi, Mama Rani, Eyang Kung, dan Eyang Ti ucap salam.
Mereka masuk ke rumah Ayah Bagas dan Bu Anin dengan membawa beberapa buah tangan.
Rumah Anna itu garasinya di bawah dan kalau mau masuk ke rumah Anna, harus menaiki beberapa tangga dulu. Di depan rumahnya di suguhkan mini halaman yang terdapat beberapa tanaman-tanaman. Sedangkan bagian belakang rumahnya kebun yang lumayan untuk menanam pohon mangga dan tanaman-tanaman lainnya. Tempat favorit Anna. Dibawa pohon.
"Eeehh... calon besan. Masuk, masuk, sini. Maaf ya, rumahku tak selebar rumahmu. Tapi cukuplah untuk menampung." Ucap Ayah Bagas kepada Papa Adi yang dirangkul pundaknya.
"Kau ini, Gas. Sama saja. Rumahku juga biasa saja." Papa Adi merendah.
Apanya yang biasa aja. Rumah dengan luas 1 hektar, 3 lantai, dengan kebun dan halaman yang luasnya Masya Allah, ditambah kendaraan roda dua dan roda empat berjajar seperti di dealer, seperti itu biasa aja??? Coba itu Papa Adi tolong dikondisikan 😅
Ketika berbincang-bincang, Anna terlihat bingung. Mana calon suaminya? Apa ia tidak datang bersama? Batin Anna. Mama Rani mengerti sekali atas kekhawatiran di wajah Anna. Ia pasti bingung karena calon suaminya tidak ada di sini, batin Mama Rani.
"Ndok." Panggil Mama Rani kepada Anna.
"Iya, Tante." Jawab Anna sopan.
"Tenang saja. Abimanyu sedang berada dalam perjalanan. Dia ada perjalanan bisnis kemarin ke Singapore. Jadi tidak bisa bareng kami ke sini. Dia pasti datang. Tenang saja." Ujar Mama Rani dengan senyum hangatnya.
__ADS_1
"Iya, Tante. Ndak apa." Jawab Anna dengan dibubuhi senyum manisnya.
*****
Tak lama ketika mereka berbincang, terdengar suara sapaan dari luar.
"Assalamualaikum." Ucap seorang laki-laki dengan tubuh tegap dan kekarnya di depan pintu rumah Anna.
Abi mengenakan pakaian brown long coat dengan black shirt, celana jeans panjang, sepatu pantopelnya dan tas berwarna hitam di punggungnya, serta kacamata hitam yang ia gantungkan di bajunya plus dengan rambut gondrong yang diikat cepol.
"Waalaikumsalam." Jawab serentak semua yang ada di dalam rumah.
"Kamu sudah datang, Abi? Sini, sini, masuk, Nak." Ujar Ayah Bagas yang meminta Abi segera masuk ke dalam dan duduk untuk merebahkan dirinya di sofa empuknya itu.
Abi masuk dan menyalami semua orang yang ada disitu. Tapi kalau sama Dika, pake tos ala-ala anak zamannya. 😄
"Abi, kamu kok dihubungi susah banget? Papa sampe senewen nelponinnya." Ucap Papa Adi dengan bersungut.
"Maaf, Pa. Ponsel Abi lowbet. Tadi pas mau menghubungi Papa." Ucap Abi yang merasa bersalah telah membuat khawatir.
Anna yang sejak tadi di dapur untuk menyiapkan minum dan makanan ringan, hanya mendengarkan suara perbincangan mereka.
"Calon suamiku datang. Ya Allah, kok ya deg degan banget." Ucap Anna dihatinya. Ia berkali-kali menghirup nafas dan mengeluarkannya. Nervous banget Anna.
"Ndok, sekalian bikin minum untuk, Nak Abi ya." Ucap Bu Anin kepada Anna.
"Oohh... Namanya Abi, ya Bu?" Tanya Anna kepada Bu Anin.
"Iya. Ganteng ndok. Ibu kalau masih muda udah kepincut kali sama doi." Bu Anin itu gaul banget guys. Hahaa...
"Yeee... Ibu, ada-ada aja." Jawab Anna yang saat itu membawa nampan isi minuman dan makanan ringan.
"Ayo, mari, silahkan dicicipi." Ucap Bu Anin kepada semua yang ada di ruang tamu tersebut. Anna kembali ke dapur untuk menyimpan nampan.
"Sepertinya kita harus segera memulai acaranya saja." Ucap Papa Adi yang membuka pembicaraan.
"Bagas, kami sekeluarga kemari berniat baik untuk melamar anakmu Anna. Yang akan kunikahkan dengan anakku Abi. Bagaimana Bagas?" Papa Adi.
"Saya terima niat baik kalian. Yang ingin menikahkan Abi anakmu dan Anna anakku. Saya sangat senang mendengarnya. Tapi semua jawaban ada pada anak-anak kita. Bagaimana Abi dan Anna?" Tanya Ayah Bagas kepada Abi dan Anna.
"Saya senang jika niat baik saya diterima oleh anak Om Bagas." Ujarnya dengan menatap lekat Anna.
"Anna? Kamu gimana ndok?" Tanya Ayah Bagas. Bu Anin yang duduk disebelah Anna mengelus punggungnya. Ia seperti tau bahwa anaknya begitu deg degan.
"Iya, Yah." Jawab Anna singkat dengan mendongakkan kepala dan memberikan senyum lesung pipinya tersebut.
Anna merasa sejak tadi Abi memperhatikannya dan ketika Anna mendongakkan wajahnya, sontak ia terkejut. Laki-laki yang menjadi calon suaminya adalah laki-laki yang menjadi imam sholatnya waktu itu.
Masya Allah... tampan sekali laki-laki ini. Yang membuat wajah Anna bersemu merah karena malu dan menundukkan kepalanya.
"Baiklah kalau begitu. Papa dan Mama senang mendengarnya. Bukan begitu Bagas? Anin?" Tanya Papa Adi.
"Iya. Apalagi Mama. Seneeeennggg... banget" Ucap Mama Rani yang mulai angkat bicara.
"Langsung kita tentukan tanggal pernikahannya saja." Ucap Papa Adi.
"Bagaimana kalau minggu depan? Hari Minggu." Jawab Papa Adi semangat sekali.
"Iya. Kita bikin garden party gitu ya Anin yang seperti kita bicarakan sebelumnya." Ujar Mama Rani yang sama semangatnya dengan Bu Anin.
"Sebaiknya kita tanyakan kepada Abi dan Anna saja." Ucap Ayah Bagas yang ingin mendengarkan keputusan Abi dan Anna.
"Kalau Abi, lebih cepat, lebih baik Pa, Om. Karena Abi juga ada perjalanan bisnis ke London yang membutuhkan waktu agak lama. Inginnya Abi sudah menikah saat itu. Tapi Abi juga mau dengar pendapatnya Anna. Bagaimana, dek Anna?" Tanya Abi kepada Anna.
__ADS_1
"Boleh, Mas Abi." Jawab Anna singkat dengan melemoar senyum kepada Abi. Yang membuat Abi salah tingkah.
Abi senyum sumringah, ia senang sekali lamarannya diterima oleh Anna. Mama Rani dan Papa Adi menyarankan untuk mengadakan resepsi di minggu tersebut. Namun Anna kurang setuju dan Abi pun juga.
"Maaf Ma, Pa, Abi gak bisa kalau harus ada resepsi dalam waktu dekat. Karena perjalanan bisnis ke London itu penting banget." Jawab Abi mencoba menjelaskan. Yang membuat Mama Rani menjadi kesal. Mana lebih penting, menikah atau bisnis. Tak habis pikir Mama Rani dengan Abi.
"Abimanyu! Ini pernikahanmu. Kenapa masih memikirkan bisnis, sih. Kamu ini!" Ucap Mama Rani dengan kesal.
"Ma, bukan begitu maksud Abi___" Belum sempat Abi meneruskan kata-katanya, Mama Rani langsung menepis tangan Abi yang mencoba memegang tangan Mamanya tersebut.
Anna yang melihat kejadian ini angkat bicara. Karena sebenarnya Anna juga tidak bisa di minggu-minggu itu.
"Maaf, kalau Anna menyela pembicaraan. Tante Rani, Anna setuju dengan Mas Abi. Kalau untuk resepsinya kita adakan nanti saja ya. Karena di minggu tersebut Anna juga tidak bisa. Anna ada kegiatan di sekolah fieldtrip anak-anak. Yang kebetulan, Anna menjadi PIC (Personal In Charge). Anna punya tanggung jawab besar atas acara tersebut. Boleh kita adakan acara resepsinya setelah Anna dan Mas Abi mempunyai waktu yang sama-sama luang?" Terang Anna dengan jelas.
"Okey. Kalau kalian tidak bisa resepsi sekarang. Setidaknya menikahlah dulu. Dan satu lagi. Anna, panggil saya dengan sebutan Mama Rani dan Papa Adi juga. Bukan Tante dan Om. Kami ini mertuamu. Orangtuamu juga." Pinta Mama Rani.
"Iya, Ma." Jawab Anna singkat penuh senyum.
"Yasudah kalau gitu, akad nikah kita adakan ba'da dzuhur saja. Bagaimana?" Tanya Papa Adi.
"Ba'da dzuhur? Pa, secepat itu?" Tanya Abi dengan terkejutnya.
"Kenapa Abi? Kamu gak bisa lagi? Urusan bisnis lagi?" Tanya Mama Rani dengan nada yang agak tinggi. Sontak membuat Anna yang duduk di sampingnya mengelus lembut lengan Mama Rani.
Ayah Bagas dan Bu Anin tertawa geli. Alih-alih sebal, mereka malah lucu melihat Rani yang mengomel kepada anaknya. Karena Ayah Bagas dan Bu Anin tau, Mama Rani hanya pura-pura.
"Ma, bukan gitu. Ini Abi baru banget datang lho, Ma. Belum siap apa-apa." Jawab Abi yang dengan nada lembutnya.
"Kamu gak usah nyiapin apa-apa. Mama udah bawain semua. Kamu mandi dulu sana. Bersih-bersih. Mama udah bawain pakaian ganti. Udah cepeeett." Ucap Mama Rani dengan mendorong badan Abi ke kamar mandi rumah Ayah Bagas.
"Okey, Okey. Abi, ambil perlengkapan Abi dulu." Lalu Abi berdiri dari duduknya dan berjalan keluar rumah karena ia harus mengambil perlengkapan mandinya di koper yang ada di mobil.
Anna menyusul Abi yang melangkahkan kaki keluar rumah untuk mengambil barang-barangnya.
"Mas Abi, Mas..." Panggil Anna yang menyusulnya setengah berlari.
"Iya, dek. Ada apa?" Tanya Abi yang berhenti mendadak membuat Anna hampir terjatuh karena hampir menabrak Abi.
"Mas, apa mau kita undur saja akad nikahnya? Mas Abi dari tadi belum istirahat juga kan? Biar Anna yang bilang sama keluarga di dalam." Ucap Anna dengan melihat wajah Abi. Posisi mereka berbicara di tangga garasi mobil Anna.
Kaki Anna memijak tangga dan Abi sudah turun dari tangga. Membuat mereka berdiri sejajar walau sebenarnya Abi jauh lebih tinggi dari Anna. Kalau Anna tidak di tangga, ia pasti berjinjit atau pakai kursi malah. 😄
"Tidak perlu, dek. Lebih cepat, lebih baik kan? Mas gak apa. Nanti setelah dari sini bisa langsung istirahat." Ucap Abi dengan nada suara yang berat tapi lembut.
"Mas Abi yakin gak apa?" Tanya Anna dengan wajah khawatirnya. Karena ia tau, Abi pasti lelah sekali.
"Iya. Mas yakin. Sudah, kamu masuk lagi ke dalam. Mas mau ambil perlengkapan mandi dulu." Jawabnya sambil tersenyum dan berlalu dari Anna. Anna pun mengikuti apa yang di katakan Abi. Ia masuk dan menunggu Abi di dalam.
Setelah Abi selesai bersih-bersih, mereka sholat dzuhur berjamaah. Pak penghulu sudah dihubungi oleh Papa Adi semenjak Abi bersih-bersih. Sholat dzuhur selesai, dan mereka bersiap untuk acara sakral tersebut.
"Semua sudah siap?" Tanya Pak Penghulu kepada orang-orang disekitar. Di sana ada Mama Rani dan Papa Adi, Ayah Bagas dan Bu Anin, Eyang Kung dan Eyang Ti yang sejak tadi senang sekali duduk-duduk di kebun belakang, Dika, serta Pak Man supir Abi dan Bi Surti asisten rumah tangga Anna. Setelah semua siap. Acara pun dimulai.
Dan setelah mengucap ijab kobul, Abi dan Anna pun sah menjadi sepasang suami istri dalam agama dan hukum. Berdoa bersama. Setelah doa, Pak Penghulu meminta Anna untuk mencium tangan suaminya.
Saat Anna mendekatkan dirinya, Abi menjauh. Sontak, membuat Anna terkejut dan orang-orang di sekitar pun juga.
Badan Abi bergetar, terlihat wajahnya memerah dan muncul ruam di tangannya. Anna tentu shock dengan Abi sekarang.
Kenapa Mas Abi? Pikir Anna. Tentu saja saat itu membuat Anna sedih, karena suaminya tidak ingin bersentuhan sedikitpun walau hanya barang bersalaman dengannya. Membuat mata Anna panas dan ingin mengeluarkan bulir-bulir air matanya.
Tentu pemandangan itu tak luput dari Abi. Ia terlihat merasa bersalah karena telah memperlakukan istrinya seperti itu. Saat itu Abi keringat dingin, kepalanya berputar, dan...
Bruugggg...
__ADS_1
Abi pingsan.