Sajak Rindu

Sajak Rindu
CHAPTER 13: PILIHAN


__ADS_3

RS. MITRA BASUPATI


Setelah mengantar Abi di bandara, Anna melajukan mobil Range Rover Sporty nya menuju rumah sakit. Ia mendapat jadwal untuk membuka jahitan dan perban.


Tak lama Anna sampai di rumah sakit, ia memarkir mobilnya di pelataran rumah sakit.


"Annaa..." Suara perempuan yang memanggilnya adalah Dr. Maira istri dari Dr. Reza.


"Tante Mai... apa kabar? Hari ini lagi tugas? Seneng banget bisa ketemu di sini." Ujar Anna yang memburu pertanyaan kepada Dr. Maira.


"Tante juga senaaanggg sekali... Tante jaga pagi, sore nanti baru pulang. Tukeran jadwal sama temenku. Soalnya mau nganter anak lomba balet. Kamu kesini ada perlu apa?" Jelas dan tanya Dr. Maira kepada Anna.


"Hoohh... Nara mau lomba balet Tant? Anna ada jadwal lepas perban sama jahitan. Disuruh ketemu sama Dr. Aldi katanya." Tanya Anna yang sambil berjalan bersama dengan Dr. Maira.


"Iyaa... Nara itu kan hobi banget balet, An. Padahal Tante udh brainstorm dia tentang ilmu kedokteran. Tapi ujung-ujungnya sukanya tetep balet. Hahaha... haduh emang anak-anak ya... lucu mereka." Ujar Dr. Maira dengan tawa renyahnya disertai Anna yang senyum sumringah mendengar cerita Dr. Maira.


"Eh, iya, An. Kamu disuruh lepas perban sama jahitan ke Dr. Aldi?" Tanya Dr. Maira ke Anna.


"Iya, Tant. Ruangannya di mana ya Tante?" Tanya Anna.


Ia bingung, RS segini besarnya mau mulai dari mana bertanyanya. Untung ada Dr. Maira yang membantu Anna. Dr. Maira mengantar Anna ke ruangan Dr. Aldi.


"Pagiii... Dr. Aldiii..." Sapa Dr. Maira. Dr. Aldi ini adek kelasnya Dr. Reza dan Dr. Maira ketika kuliah kedokteran.


"Wuuiidiihh... Pagi Kak Mai. Tumben pagi-pagi ke ruanganku. Ada maunya nih pasti." Ucap Dr. Aldi dengan candanya.


Anna meminta tolong Dr. Maira untuk menemaninya ke ruangan Dr. Aldi. Awalnya Anna yang mau masuk sendiri tanpa dibantu. Tapi mungkin Dr. Maira tidak enak kalau tidak mampir. Lagipula Dr. Maira khawatir kalau-kalau adek cantiknya ini digodain sama Dr. Aldi yang paling famous dengan ketampanannya itu dan di gilai banyak wanita.


"Ini siapa?" Tanya Dr. Aldi kepada Anna.


"Ini ponakan gue. An, sini" Ujar Dr. Maira.


"Ini Dr. Aldi yang membantu kamu untuk lepas perban dan jahitan___" Belum sempat Dr. Maira melanjutkan kata-katanya, Anna memegang jubah Dr. Maira, memberikan isyarat bahwa meminta tolong Dr. Maira jangan pergi.


"Tante disini. Al katanya ponakan gue, dia ada jadwal untuk lepas perban dan jahitan. Benar?" Tanya Dr. Maira.


"Sebentar... biar gue cek dulu." Aldi mengecek datanya di komputer.


"Iya benar. Namanya Anna Maheswari Prayogo benar?" Tanya Dr. Aldi kepada Anna.


"Benar, Dok. Saya Anna." Ucapnya.


"Baik. Ibu Anna, boleh duduk disebelah sini" Dr. Aldi meminta Anna duduk di pinggir kasur dan Dr. Aldi mendekat.


"Al, gue aja sini. Lo angkat telepon dulu sana." Sejak tadi memang ponsel Aldi berdering terus. Di layar ponselnya tertera Papa. Dr. Maira yang mengambil alih untuk membuka perban dan jahitan Anna.


Saat Dr. Maira yang melakukannya. Anna terlihat menarik nafas lega sekali. Dr. Maira yang mengerti dengan Anna, hanya tersenyum melihat Anna.


Dr. Maira segera merapikan peralatan setelah membuka perban dan jahitannya Anna. Kemudian membersihkan jahitannya sedikit dan memberikan resep salep oles yang perlu ditebus di apotek.


"Kak, Mai, udah selesai?" Tanya Dr. Aldi.


"Sudah. Beres. Lo tulis resep dulu deh buat ponakanku." Ujar Dr. Maira


"Makasih ya Kak Mai. Siap. Bentar gue tulis." Dr. Aldi mengambil secarik kertas dan bolpoin untuk menulis resepnya.


"Namanya Bu Anna. Usia?"


"Usia saya 27 tahun."


"Status?" Tanya Dr. Aldi dengan senyumnya.


"Sudah menikah dengan laki-laki terkaya se-Indonesia. Abimanyu Basupati Soenggono. Yang sedang sibuk mengurus perusahaannya. Betul?" Tanyanya dengan nada bercanda.


Belum sempat Anna menjawab. Dr. Aldi sudah langsung menjawabnya sendiri. Nanya sendiri jawab sendiri. Kadang-kadang emang Dokternya puyeng sendiri. Anna hanya cengar-cengir saja saat mendengar Dr. Aldi berbicara.


"Bingung ya Bu Anna? Saya Aldi temannya Abimanyu. Saya belum lama dipindah tugaskan di RS ini. Tadinya, saya bertugas sebagai Dr. Bedah di Afrika. Tapi kemudian mendapat panggilan untuk kembali ke Indonesia. Karena Dr. Reza sedang membutuhkan Dr. bedah yang ahli. Saya, walaupun masih belajar untuk menjadi Dr. bedah tapi cukup bisa diandalkan."


"Okey. Ini resepnya. Saya kasih resep salep oles yang manjur. Biar lukanya tertutup tidak kelihatan. Supaya Abimanyu makin bangga memamerkan istrinya kepada khalayak." Celoteh Dr. Aldi. Talkative juga ini dokter ya. Hahaha...


Setelah memberi resep kepada Anna, Dr. Maira bertanya kepada Dr. Aldi

__ADS_1


"Bokap lo sehat Al? Disuruh balik ke Surabaya?" Tanya Dr. Maira.


Anna hanya duduk dan melihat email masuk di ponselnya. Email tugas Mahasiswa/i nya.


"Iya. Kayaknya gue mau ngajuin cuti deh Kak. Bisa kali ya?" Tanya Dr. Aldi.


"Lo mau cuti mau ngapain?" Tanya Dr. Maira.


"Mau di jodohin." Jawab Dr. Aldi dengan tawanya.


"Hah?! Dijodohin? Sama siapa? Lo udah kenal belum?" Tanya Dr. Maira penasaran dan antusias.


"Seneng banget lo Kak denger gue di jodohin. Berasa hidup di zaman Siti Nurbaya, tau gak." Ujar Dr. Aldi dengan tawanya.


"Eh, tapi dijodohin gak selamanya buruk kok. Buktinya gue sama Mas Reza. Alhamdulillah rumah tangga gue baik-baik aja. Punya 2 buntut sekarang. Terus si Abi tuh sama Anna, mereka ok banget malah. Bikin mata memandang baper, buat yg jomblo. Buat yang udah nikah, bikin kangen terus sama suami sama istrinya. Al, gak selamanya di jodohin itu jelek. Karena orangtua kita tau banget karakter anaknya. Percaya deh. Seru tau itu. Bikin hati lo kayak roller coaster. Hahaha..." Tutur Dr. Maira dengan khas candaannya.


"Iya, gue paham. Bokap juga gak maksa sebenarnya. Terus gue juga minta lihat orangnya seperti apa. Minimal kirimin fotonya deh. Nih, barusan gue dapat chat. Lo tau apa Kak pesennya?" Tanya Dr. Aldi yang saat itu juga membelalakkan matanya karena terkejut.


"Apaan isi chat nya, Al? Iih... jangan bikin gue kepo dong..." Ucap Dr. Maira yang sungguh kepo.


"Masya Allah... cantik banget." Ujar Dr. Aldi yang langsung menunjukkan foto perempuan yang akan dijodohkan dengannya kepada Dr. Maira.


"Ya, Allah. Al, ini sih bidadari. Bukan manusia kali tuh." Ucap Dr. Maira yang mengagumi foto tersebut.


Anna yang sejak tadi hanya duduk mendengarkan juga ikut kepo. Betapa terkejutnya Anna ketika foto yang ditunjukkan Dr. Aldi adalah perempuan yang dia kenal. Anna kenal sekali perempuan itu. Sahabat Anna. Ayni Larasati Bramantyo.


"Astagfirullah..." Anna salah sebut, An...


"Kenapa Anna? Kok kamu kaget banget?" Tanya Dr. Maira.


"Jelas aku kaget tante. Dia... sahabat dekatku. Ayni namanya. Ya, Allah." Anna bingung tak tau harus bagaimana.


"Dr. Aldi, lupa?" Tanya Anna.


Anna baru ingat kejadian 5 tahun lalu yang dialami oleh Ayni. Setelah Dr. Aldi menunjukkan foto Ayni. Pantas sejak Anna masuk, wajah Dr. Aldi terasa pernah melihat sebelumnya.


FLASH BACK


Ayni Larasati Bramantyo. Gadis yang akan menikah namun batal. Karena calon suaminya melarikan diri entah kemana.


Malu, sedih, sakit, perih, pilu sekali hatinya. Gadis muda yang sudah sangat bersemangat untuk menikah. Namun, dihantam rasa kecewa sampai ke dasar hatinya. Sungguh malu dirinya.


Setelah berjalan jauh. Ia melewati gang yang remang-remang, diselimuti rasa takut. Ia ingin pergi tapi sudah tak terhindarkan. 5 orang laki-laki tak tau sopan santun dan tak pernah menghargai wanita, menyentuh tubuhnya.


Gadis itu berteriak keras. Kencang, sekencangnya hingga ia ingin semua orang mendengarnya. Ia mencoba berlari, beringsut mencoba keluar dari kerumunan laki-laki


b *****t.


Hampir gadis itu kehilangan keperawanannya kalau tidak segera seorang pria menolongnya. Pria berbadan tegap, kekar, dengan otot bisepnya, dan roti sobek khas ala-ala cowok-cowok idaman perempuan, datang dan melemparkan tinjunya pada gerombolan laki-laki b****b itu.


"Cepat hubungi polisi. Ambil ponselku. Disitu tertera kata " Police"." Teriak pria tersebut kepada sang gadis. Yang masih sibuk baku hantam dengan sebagian gerombolan laki-laki b******k.


Gadis itu beringsut mengambil ponsel dan menekan nomer polisi yang tertera kata "Police (Papa)". Gadis itu tak pikir panjang dan langsung menelponnya.


Saat pria itu sedang sibuk baku hantam, ada seorang laki-laki gerombolan tadi, yang membawa sebilah pisau ingin melukai pria tersebut. Tapi, gadis itu melihatnya dan...


Craaattt


Pisau itu sudah mendarat di perut sang gadis yang dibarengi dengan suara sirine polisi. Pria tersebut langsung menopang badan sang gadis. Darah sudah merembes di gaun putihnya. Dan perempuan itu berkata...


"Terima kasih, sudah mau membantuku. Jika kita bertemu kembali, aku juga akan membantumu, apapun." Ucap sang gadis.


"Termasuk menjadi istriku?" Tanya sang pria.


Gadis itu tersenyum dan mengucap kata "Iya." dalam suara yang lirih. Setelahnya ia pingsan tak sadarkan diri.


FLASH ON


Jika Anna mengingat kejadian yang menimpa Ayni 5 tahun lalu, ia begitu merinding. Untung saja saat itu yang menolongnya adalah seorang dokter. Jadi ia tau betul letak pisau itu bertempu. Bahkan sampai sekarang luka pisau itu masih bertengger di tubuh Ayni. Anna mengetahuinya karena Ayni pernah menunjukkannya pada Anna.


"Maksud kamu apa Anna? Kejadian 5 tahun apa?" Tanya Dr. Maira yang masih bingung dan belum mengerti.

__ADS_1


"Kejadian yang menimpa Ayni, sahabatku. Yang membuatnya takut untuk percaya dan dekat dengan laki-laki. Dan Anna rasa, cuma ada 1 laki-laki yang bisa membuatnya percaya dan berani. Untuk menghilangkan rasa takutnya." Jelas Anna kepada Dr. Aldi dan Dr. Maira.


"Masalahnya adalah, Ayni beberapa waktu lalu tidak sengaja bertemu dengan laki-laki yang dulu pernah ingin menikah dengannya lalu pergi meninggalkannya." Lanjut Anna bercerita.


"Siapa dia?" Tanya Dr. Aldi penasaran.


"Aditya Reynand Wicaksono. Kenal Dok?" Tanya Anna yang melihat ekspresi Dr. Aldi begitu shock.


"Ya, Allah... kenapa semua orang yang paling dekat denganku. Jelas saya kenal, Anna. Dia sahabatku." Ujar Dr. Aldi yang seraya *** wajahnya.


"Serius kamu, Anna?" Tanya Dr. Maira meyakinkan kembali.


"Serius 1000%. Anna juga taunya waktu Ayni cerita sama Anna di cafe. Gak cuma Dr. Aldi dan Tante. Anna pun saat itu cukup shock. Sangat terkejut. Bahkan Mas Abi dan teman-temannya juga terkejut. Anna ingin sekali menanyakannya kepada Adit tapi Adit kan juga sama sibuknya seperti Mas Abi."


"Tadi waktu Anna antar Mas Abi ke bandara, Adit bercanda seperti biasa saja ke Anna dan yang lainnya. Tapi Anna gak tau hatinya gimana. Karena Adit sempat menghilang beberapa hari. Anna juga baru ketemunya pas tadi di bandara. Kemarin ke kantor Mas Abi, Aditnya masih tidur. Jadi gak sama sekali ngobrolin hal itu."


"Dan Anna juga baru mau ketemu Ayni hari ini sama temen-temen Anna di butiknya Ayni. Ayni baru pulang dari Solo. Terus di group dia bilang, mau ketemu dan cerita sama kita-kita. Terus sekarang, Dr. Aldi cerita kalau Dr. Aldi di jodohkan dengan Ayni. Ini kejutan macam apa?" Jelas Anna.


Semua terdiam mencerna berita ini. Kejutan apalagi yang kau berikan, Ya Allah. Batin Anna.


"Al, pikirkan baik-baik perjodohan ini. Jangan ada penyesalan nantinya. Adit sahabatmu. Ayni, perempuan yang selama ini kamu cari. Yang rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkanmu. Pilihanmu menetukan masa depanmu, Al." Ujar Dr. Maira.


"Ayni perempuan yang Dr. Aldi cari selama ini? Maksudnya Tant?" Tanya Anna kepada Dr. Maira.


"Iya. Aldi tak pernah bisa melupakan gadis itu. Aldi tau sejak kejadian itu, gadis tersebut pasti akan mengalami takut yang luar biasa. Aldi ingin menemui gadis tersebut. Tapi Dr. mengatakan kalau gadis itu sudah dipindah RS. Aldi mencari RS di daerah Yogya, Surabaya, Solo, Jakarta, dia tidak menemukannya. Hingga sekarang, saat Aldi sudah mulai pasrah dan menyerahkan kepada Allah, dengan mudahnya Allah mempertemukan mereka beserta dengan ujiannya." Terang Dr. Maira kepada Anna.


Anna begitu terenyuh mendengar cerita tersebut. Hingga ponselnya berdering membuat ruangan tersebut ramai.


"Assalamualaikum" Ucap Anna dengan lembut.


"Waalaikumsalam. Sayang, kamu di mana?" Tanya Abi.


"Di RS Mitra Soenggono. Mas Abi di mana? Kok bisa telepon?"


"Sudah dilepas perban sama jahitannya? Adek, gak apa-apa? Mas lagi di toilet, ngumpet-ngumpet. Hehehe..." Ujar Abi yang cengar-cengir saja.


"Iya. Sudah Mas. Anna gak apa kok. Eehh... kok gitu. Yaudah, gak usah lama-lama kalau gitu. Nanti kalau sudah sampai saja teleponnya." Ucap Anna dengan senyuman khasnya. Lucu membayangkan suaminya yang ke toilet hanya untuk meneleponnya.


"Habis Mas masih kangen... jadi ngumpet-ngumpet gini deh. Hehehe..." Ujarnya dengan cengengesan.


"Yaudah, nanti lagi dilanjutin. Mas Abi nanti malah diomelin sama orang-orang di pesawat." Ucap Anna yang sebenarnya tidak ingin mengakhiri teleponnya dengan Abi. Tapi kalau tidak segera, Abi nanti yang kena masalah. Ada-ada saja suamiku ini. Batin Anna.


"Iyaaa... I love you, honey. I really miss you." Ucapnya sambil memberikan kecupan melalui ponselnya.


"Love you, honey. Always miss you." Lalu Anna mengakhiri sambungan teleponnya. Dr. Maira dan Dr. Aldi yang mendengar percakapan Anna hanya bergidik ngilu. Geli mendengarnya. Anna hanya menunjukkan barisan giginya.


Tak lama Anna menutup ponselnya, ponsel Anna berdering kembali.


"Assalamualaikum, An. Lo di mana?" Tanya Alisha di sebrang telepon.


"Waalaikumsalam, gue di RS, Cha. Kenapa?" Tanya Anna.


"Lo jadi kan dateng ke butiknya Ayni? Gue udah disini sama Aira, nih." Ujar Alisha.


"Jadi kok, setelah dari RS gue kesana. Ini gue mau ke apotek dulu nebus obat. Tungguin jangan ditinggal." Ucap Anna sambil merapikan barang dan tasnya.


"Tante Maira, Dr. Aldi, makasih ya... Anna harus pergi sekarang." Ucapnya yang terburu-buru.


"Anna, kamu mau ketemu sama Ayni?" Tanya Dr. Aldi yang melihat Anna terburu-buru.


"Iya. Udah di tungguin. Permisi Dok." Anna berpamitan kepada Dr. Maira dan Dr. Aldi.


Dr. Maira pamit karena ia masih bertugas untuk mengecek pasiennya.


Sekarang tersisa Dr. Aldi yang masih termenung memikiran tentang perjodohannya. Harus bagaimana dia?


 


\*


 

__ADS_1


__ADS_2