
3 Minggu Kemudian
Anna dan Abi sedang sibuk berkeliling Mall untuk mencari kado. Alisha dan Dian melahirkan belum lama ini.
Setelah pulang dari Yogyakarta, Anna dan Abi mendapat kabar bahwa Dian melahirkan dan tak lama kemudian Alisha.
"Anaknya Dian itu perempuan ya, Dek?" Tanya Abi yang sedang mencari sepatu untuk hadiahnya.
"Iya, Mas. Kalau Alisha anaknya laki-laki. Jangan ketuker ya Mas." Ucap Anna yang melihat raut wajah Abi begitu pusing.
"Gimana? Pusing ya?" Canda Anna kepada Abi.
"Pusing sih, tapi seru. Banyak benda-benda lucunya." Ucap Abi yang terlihat begitu senang.
"Kita masih bisa usaha kan ya Mas? Untuk dapat yang lucu-lucu gini." Ucap Anna dengan seulas senyumnya.
Abi yang mengetahuinya langsung saja memeluk Anna dengan satu lengannya dan mencium kening Anna.
Karena sebenarnya Anna dan Abi tidak mempunyai masalah apapun. Kondisi kesehatan keduanya normal.
Mereka juga sudah mencoba pengobatan-pengobatan lainnya. Yang disarankan oleh orang-orang terdekat kepada mereka.
Tapi belum ada hasil. Sekarang tugas mereka hanya ikhtiar dan berdoa. Plus dengan kesabarannya.
Setelah selesai berbelanja kado untuk si baby. Anna dan Abi meluncur ke RS tempat Alisha melahirkan.
"Assalamualaikum..." Sapa Anna dengan membuka pintu ruang rawat Alisha.
"Annaaa..." Pekik Alisha.
"Jahat. Baru dateng." Ujar Alisha.
"Iya, Maaf ya, Cha... gimana kondisi lo? Sehat?" Tanya Anna.
"Alhamdulillah sehat, An. Cuma emang sakit banget. Sumpah." Ucap Alisha.
Anna tersenyum mendengar celotehan sahabatnya ini.
"Gimana honeymoon nya? Honeymoon melee... gue gak di ajak apa yak?" Ujar Aira dengan candanya.
"Lagian kalo ngajak lo, mutunya dimana ya?" Ucap Anna.
"Hehehe... iya ya..." Ujar Aira.
"Ay, si kembar kok gak di ajak?" Tanya Anna.
"Iya, An. Mereka lagi gak enak badan. Semalam baru habis dari dokter." Ujar Ayni.
"Lah, suami lo kan dokter. Gak tau emang cara ngobatin anak-anak?" Tanya Alisha.
"Tau... cuma kan bukan spesialis anak. Suami gue kan spesialis bedah." Ujar Ayni kepada teman-temannya.
"Oh, iya. Gue lupa, Ay. Inget gue, suami lo dokter umum. Ternyata khusus bedah ya?" Ucap Alisha.
"Iya, Cha. Beda aliran. Hahaha..." Ujar Ayni.
"Kandungan lo masuk berapa bulan, Ra?" Tanya Anna.
"Masuk 5 bulan. Kondisi emosi gue naik turun banget deh. Kadang gue suka kasihan sama Mas Arka. Gak tega kalau lagi capek, terus gue minta macem-macem yang gak masuk akal. Hehe..." Ucapnya sambil tersenyum getir.
"Itu sudah menjadi resiko ibu hamil dan suami siaga yang mendampingi sang istri." Ujar Ayni.
"Iya, Ra. Gak apa. Nikmatin aja waktu-waktu ini. Belum tentu waktu sekarang akan terulang kembali." Ucap Anna.
"Wah... dapet wejangan lo Ra dari Mama Anna dan Mama Ayni." Ledek Alisha.
"Icha, Icha, ada aja bahasa lo, Cha." Ucap Anna dan Ayni.
Saat para ibuk sedang berbincang di dalam ruangan, sang bapak berbincang di luar ruangan.
"Gimana, Bi? Honeymoon seru banget kayaknya. Makin awet muda luh. Hahaha..." Ujar Arka.
"Seru lah pokoknya. Puas." Ucap Abi dengan senyum sombongnya.
"Rese luh. Liat aja nanti kalau Anna hamil, gak bisa lagi lo leluasa memuaskan hasrat lo." Ucap Aryo.
"Makanya, kemarin gue puas-puasin. Mumpung bisa. Gue puas-puasin deh." Ujar Abi dengan tawanya.
"Eh, Al, si kembar kemana? Perasaan gue gak lihat dari tadi?" Tanya Abi penasaran.
"Waah... Bi jangan tanya. Semaleman gak tidur gue sama Ayni." Ucap Aldi.
"Pantesan mata lo beler banget. Gue pikir lo mabok kali. Haha..." Ujar Abi dengan candanya.
"Emang kembar kenapa? Sakit Al?" Tanya Aryo.
__ADS_1
"Iya. Gue ngantuk parah. Karena Kenzie sama Kenzo panasnya tinggi banget. Akhirnya malem gue bawa ke RS." Jelas Aldi.
"Demam aja katanya?" Tanya Arka.
"Awalnya pas gue cek, mulut mereka kok beda. Lidahnya sama langit-langit mulut kok ada kayak bercak merah lebar gitu." Jelas Aldi.
"Gue duga itu sariawan. Kalau orang gede mah, panas dalam kali ya. Gak tega gue juga ngeliatnya." Ujar Aldi.
"Semaleman gue beneran gak tidur sama Ayni. Ayni yang menyusui, gue yang capek lihatnya. Ayni lebih capek dari gue." Ucap Aldi dengan wajah lesunya.
"Tapi kalau kembar gitu sekalian repotnya, sekalian capeknya Al." Ujar Aryo.
"Iya, bener. Sekaligus. Gue cuma gak tega aja ngelihat istri gue. Karena gue gak bisa selalu ada buat dia kan." Ucap Aldi dengan wajah tertunduk.
"Jam kerja gue yang gak kayak orang kantoran, buat Ayni semakin sendirian dalam ngerawat si kembar. Ngerasa bersalah aja gue." Ucap Aldi dengan menghela nafas.
"Hidup itu emang begitu Al. Apa yang sudah lo putuskan, ya lo harus jalanin." Ucap Arka.
"Si Arka mabok oncom kali. Bisa bener doi ngomong. Haha..." Ucap Aryo.
"Kampret luh. Orang gue lagi kasih motivasi buat Pak Dokter." Ujar Arka dengan bersungut.
"Terus kondisi si kembar gimana sekarang? Masih demam atau gimana?" Tanya Abi kepada Aldi.
"Tadi sih waktu gue cek, udah gak demam. Udah turun demamnya. Udah gak rewel seperti semalam." Ujar Aldi
"Alhamdulillah kalau gitu. Kalau lo punya waktu senggang, ajak Ayni sekali-kali untuk jalan-jalan. Berdua aja. Biar makin romantis." Ucap Abi.
"Iya, Bi. Gue paham itu. Kemarin gue sempat nawarin ke Ayni, tapi Ayni bilang, si kembar masih butuh ASI."
"Oh, iya bener. Lupa gue, Al. Sorry. Hehe..." Ucap Abi.
"Santuy..." Ujae Aldi.
"Tapi beneran deh, Bi. Menghadapi wanita hamil itu extra sabarnya harus berkali-kali lipat. Gue yang biasa bar-bar banget sekarang mau gak mau, suka gak suka harus sabar parah. Ngadepin permintaan Aira." Terang Arka.
"Iyalah, Ka. Wajar wanita hamil nyebelin. Karena pengaruh hormonal itu. Makanya Dokter kan selalu bilang, wanita hamil itu gak boleh stress. Harus selalu happy." Jelas Aldi.
"Iya, Al bener. Gue ngerasain banget waktu Alisha hamil. Ya... Allah... itu rasanya gue yang mau jedotin kepala. Kalau gak sabar, sabar, waahh... emosi semua udah." Ucap Aryo.
"Bi, sorry ya. Kita cerita gini buat sharing aja. Buat lo jadiin referensi. Biar nanti lo gak kaget." Ujar Aldi yang tau betul sejak tadi Abi hanya menjadi pendengar.
"Yak elah... santuy... iya, buat referensi gue juga." Ucap Abi santai.
"Tapi lo udah coba buat konsul tentang kondisi lo berdua, Bi?" Tanya Arka.
"Bahkan gue sampe nanya berkali-kali sama Aldi, waktu kejadian penusukan, kondisi luka Anna gimana. Dan Aldi menjelaskan detail dan rinci bahwa gak ada masalah dalam kondisi Anna ataupun gue." Jelas Abi.
"Tapi kalau lihat kita-kita yang kayak gini hebohnya sama istri hamil dan melahirkan. Lo gak pengen, Bi?" Tanya Arka.
"Bohong kalau gue bilang, gue gak pengen ngerasain hal seperti kalian. Gue juga bilang kok sama istri gue. Tapi prioritas gue saat ini bukan itu, cuy." Ujar Abi.
"Gue pengen jadi suami yang bener dulu buat Anna. Mengingat kejadian waktu di Bandung. Wah... gue gak tau deh perasaan Anna gimana hancurnya." Jelas Abi.
"Oh, iya bener. Itu soal foto-foto lo yang di Bandung, gue lihat sendiri tuh foto. Pertama kali yang gue pikir, waduh... Anna gimana itu?" Ujar Aryo.
"Si Eros ngapain sih, emang? Gue kesel banget juga sama doi. Udah dibilang Maya itu ular berbisa. Gak paham apa gimana sih dia." Ujar Arka menggebu-gebu.
"Gue juga tau waktu Adit nemenin Dian melahirkan di RS. Gue kaget banget itu. Terus Anna gimana, Bi?" Tanya Aldi.
"Anna dapet kiriman amplop itu malam sebelum gue balik. Di Bandung tuh hati gue udah gak tenang pas teleponan sama Anna. Karena suaranya beda." Terang Abi.
"Akhirnya gue bilang ke Eros, minta meeting malam itu juga biar pagi gue bisa langsung pulang. Alhamdulillah, client mau meeting malam itu karena paginya ia harus terbang ke New York. Gue langsung meeting."
"Pagi, shubuh, gue bangunin Eros sama Pak Manto buat langsung pulang ke Jakarta. Sampe rumah, Anna nyambut gue kayak biasa. Tapi sikapnya beda. Kayak menghindari gue."
"Gue ke ruang kerja gue. Di meja kerja itu gue lihat amplop cokelat diluarnya menyebutkan bahwa Anna harus sabar dan tenang. Makin penasaran dong gue. Gue buka amplopnya. Dan yah... foto-foto biadab orang biadab."
"Anna masuk ke ruang kerja bilangin gue buat makan. Gue tanya Anna apa dia udah lihat fotonya. Dia bilang udah. Lemes deh gue."
"Anna pergi saat itu juga. Beneran gak pake nengok ke gue. Sumpah, gue udah kayak orang gila. Gue lacak Anna pake alat pelacak yang ada di kalungnya."
"Gue tau Anna di Yogya. Gue langsung hubungin pengawal-pengawal yang stay di Yogya. Gue gak langsung nemuin Anna. Gue ngawasin dia dari jauh. Sampai..." Lidah Abi kelu ketika mengingat kejadian Anna di keroyok oleh tiga orang laki-laki.
"Sampai apaan, Bi? Jangan gantung gitu dong." Ucap Arka.
"Sampai Anna di cegat sama 3 orang laki-laki tinggi besar."
"Astagfirullah..." Ujar Aryo.
"Yang lebih parahnya, istri gue ditarik, didorong sampai jatuh ke tanah, ditendang, ditarik lagi, dan gue baru dateng."
"Sumpah, kalau bukan Anna yang ngingetin gue buat berhenti mukulin mereka, gue yang ada di bui."
"Anna sudah lemas. Itu tenaga terakhirnya saat menghentikan gue. Dia pingsan. Gue bawa dia ke RS. Hati gue, perih. Melihat lebam di tubuhnya. Itu lebih sakit daripada apapun."
__ADS_1
"Gue udah buat istri gue dalam bahaya. Ini udah yang ketiga kalinya. Saat di RS, gue dapat laporan dari pengawal gue kalau ini adalah ulah Maya."
"Gue marah banget. Marah semarah-marahnya. Kalau Anna gak bangun saat itu, gue udah minta pengawal gue buat bunuh Maya."
"Tapi lo tau, apa? Anna bilang ke gue, kalau dia ingin hidup tenang. Anna nyuruh gue buat maafin semua perlakuan Maya. Gue gak sebodoh itu. Gue tetep laporin dia ke polisi."
"Karena ini udah tindak kriminal. Kalau gue saat itu gak dateng, mungkin gue akan kehilangan Anna selamanya. Gue gak kebayang deh." Jelas Abi.
"Hidup lo drama banget ya, Bi. Tapi gue salut sama kalian berdua. Bertahan lho sampai saat ini." Ujar Aldi.
"Ini karena istri gue yang hebat. Gak pernah habis maafnya dia ke gue. Padahal gue udah berkali-kali bikin dia dalam bahaya." Ujar Abi dengan wajah tertunduknya.
"Anna bahagia gak sama lo, bro?" Tanya Aryo dengan memegang pundak Abi.
"Sangat, Yo. Sangat bahagia dia sama gue. Itu yang selalu dia reminder ke gue." Ucap Abi.
"Yaudah, gak perlu pusing. Buat dia lebih bahagia dari sebelumnya, Bi." Ucap Aryo.
"Itu pasti, Yo. Tapi akhir-akhir ini, Anna tuh nempel banget sama gue. Gelendotin gue mulu." Ujar Abi.
"Lha, bagus dong. Berarti emang doi sayang sama lo." Ucap Aldi.
"Bukan, bukan itu maksud gue. Soal sayangnya Anna ke gue itu gue gak pernah ragu. Tapi buat takaran wanita yang independent seperti Anna, gelendotan sama gue tuh aneh. Karena gak biasanya doi kayak gini." Ujar Abi bingung.
"Mirip sama Aira tuh. Istri gue termasuk perempuan tangguh. Aira juga pernah kayak gitu. Manjaaanyaaa bukan Aira banget."
"Ternyata jarak beberapa minggu, kita baru tau, kalau Aira hamil dan itu bawaan ibu hamil. Gitu kata dokternya. Siapa tau Anna juga gitu, Bi. Hamil kali. Lo gak cek masa subur istri lo?" Jelas Arka.
"Eh, gue gak kepikiran sampe situ, Ka." Jawab Abi.
"Lo gak peka sih, Bi. Jadi orang peka dikit kenapa." Ucap Aryo.
"Coba Bi, cek masa subur istri lo. Kalau ternyata sama, berarti benar Anna hamil. Tapi kalau enggak, ya dia lagi pengen di perhatiin sama lo. Lo nya sibuk bener sih... Boss mah beda." Ujar Aldi.
"Sue. Gue di bully mulu." Ucap Abi.
"Hahaha... tau gak Bi. Pertama kali gue lihat foto itu, gue sempet kepikiran, si Abi liar juga ternyata dia kalau sama cewek ya? Hahahaha..." Tawa Arka terbahak-bahak.
"Sial. Gue sampe sekarang masih suka gemetar dan ruam kalau ketemu perempuan. Dibilang Anna doang yang bisa buat gue luluh." Ucap Abi.
"Bagus dong, Bi. Buat lo lebih sadar diri kalau mau dekat perempuan." Ujar Aldi.
"Iya. Gak ada trauma itu juga gue Insya Allah bisa jaga diri." Ucap Abi.
"Jaga diri, tapi disosor diem aja. Hahaha..." Ucap Arka.
"Sue bener lo, Ka." Ucap Abi.
Setelah perbincangan panjang para bapak, Anna menghampiri mereka.
"Mas Abi..." Panggil Anna.
"Iya, dek." Jawab Abi.
"Wuidiihh... bapak-bapak kumpul disini nih? Hahaha..." Tanya Anna dengan tawa sumringahnya.
"Yoi, lo mau kemana deh, An?" Tanya Arka.
"Mau ke rumah Mba Dian. Lo gak jadi kesana emang?" Ujar Anna.
"Eh, iya, gue lupa. Istri gue mana yak? Lo mau berangkat sekarang?" Tanya Arka.
"Iya, nanti keburu sore. Ayo..." Ujar Anna.
"Iya, bentar. Gue panggil Aira ya." Ucap Arka.
"Mas Abiii... ayoo..." Ajak manja Anna.
"Iya, iya, sayang..." Ucap Abi yang segera berdiri dari tempat duduknya.
Abi, Anna, Aira, dan Arka berpamitan kepada Aryo dan Alisha untuk pulang duluan karena ingin menjenguk Dian yang baru melahirkan.
*****
"Assalamualaikum..." Ucapa Anna, Abi, Arka, dan Aira.
"Waalaikumsalam...." Jawab Adit dan Dian.
"Haiii...." Pekik Anna, Aira, dan Dian.
Perempuan heboh kalau ketemu. Laki mah selooo. Beda perempuan, beda laki.
Yang laki-laki ngobrol di ruang tengah, heboh ketawa-ketiwi. Sedangkan perempuan, ghibah bareng di kamar dedek bayik.
Obrolan mereka begitu riuh ramai. Hingga malam menjelang, Anna, Abi, Arka, dan Aira pamit pulang.
__ADS_1
*****