Sajak Rindu

Sajak Rindu
CHAPTER 31: PERJALANAN KE NEGERI GINGSENG


__ADS_3

BANDARA SOETTA


Setelah hactic dengan resepsi Dimas dan Ina. Sekarang mereka diberikan kesibukan dengan pernikahan Adit dan Dian.


Yup. Abi & Anna, Aldi & Ayni, Aryo & Alisha, Arka & Aira.


Mereka siap terbang ke Negeri Gingseng untuk menghadiri pernikahan sahabat manjanya itu.


"Kenapa gak di Indonesia aja sih tuh kampret. Ribet kan jadinya. Hadeuh." Ujar Arka yang menggerutu.


"Mas Arka... udah dong marah-marahnya. Kita mau perjalanan jauh. Gak baik menggerutu seperti itu." Ujar Aira yang mengelus punggung Arka untuk meredakan emosinya.


"Anna happy banget doi kita mau ke KorSel. Impian lo tercapai An... Hahaha..." Ujar Alisha seraya menyesap hot milk chocolatenya.


"Iya, ya Cha. Kok bisa pas banget gini ya? Travelling sekalian kita." Ujar Aira yang senang sekali.


Arka melihatnya jadi ikut bahagia. Ngapain juga ngegerutu tadi ya? Hahaha... batin Arka.


"Anna kan pengen banget ke Namsan Tower ya, An? Dulu tuh dia pengen banget ke sana tapi maunya sama suami. Katanya gitu. Terwujud tuh An. Hahaha..." Ucap Ayni yang sedang memakai jaketnya.


Abimanyu yang melihat tingkah istrinya begitu manja, bahagia sekali. Tak pernah ia melihat senyum bahagia istrinya seperti ini.


Tau gitu, diajak travelling terus sama Abi. Masalahnya bukan di budget. Tapi di waktu. Anna sekarang lebih sibuk dari Abi. Hahaha...


Jadwal ngajarnya padat merayap. Seminarnya juga. Workshopnya apalagi. Wanita karir ya...


"Dek, kamu suka?" Tanya Abi yang sejak tadi memperhatikan senyum Anna.


"Suka dongg... yah... itung-itung liburan lah... dari segala rutinitas aku." Ujarnya dengan memeluk lengan Abi dan menyandarkan kepalanya di lengan Abi.


"Kalau ada waktu, kita jalan-jalan ya, Mas. Mau gak? Kalu ada waktu... kalau gak ada, ya gak apa... Hehehe..." Ujarnya kepada Abi.


"Pasti ada waktu. Selalu. Buat kamu mah apa sih yang enggak? Hahaha..." Ucap Abi dengan tawa renyahnya.


"Jiaah... Anna di gombalin. Hahaha..." Ucapnya.


"Dikit, gombalinnya. Emang adek mau kemana? Ke Namsan Tower itu? Seperti teman-temanmu bilang?" Tanya Abi kepada Anna.


"Itu mau. Tapi ada satu tempat dan aku pengeeenn banget cobain itu." Ucapnya sambil memperlihatkan cengiran kudanya.


"Kemana?" Tanya Abi sambil menyesap kopi hangatnya.


"Bungee jumping." Sontak teman-temannya yang ada disekitarnya terkejut bukan main.


"Anna! Udah gila apa luh, yak? Bungee jumping ? An, disana banyak tempat romantis. Kenapa harus permainan kayak gitu sih?" Ucap Aira dengan mencibikkan bibirnya.


"An, disana ada Nami Island lho... bagus banget. Apalagi pas banget mau masuk winter ini. Indah pasti. Kita kesana aja ya..." Ucap Ayni menenangkan.


"Anna, sahabatku yang paliinggg cantik. Kita jalan-jalannya kulineran atau belanja aja di Dongdaemun Market ya." Ucap Alisha meyakinkan.


"Kan katanya yang menang mecahin soal matematika dia yang bisa nentuin tempat jalan-jalannya? Berarti gue bebas dong mau kemana?" Ujar Anna yang membuat para suami jadi semakin bingung.


"Nanti dulu, nanti dulu. Ini ada apaan nih? Kita bingung? Coba tolong di jelasin." Ujar Aryo.


Anna menjelaskan bahwa beberapa hari yang lalu mereka berlomba untuk memecahkan persoalan MTK dasar.


Anna memenangkannya. Ia mendapat kartu ajaib. Kartunya tentang menetapkan tujuan wisata untuk jalan-jalan di Korsel.


"Gitu ceritanya." Ujar Anna menjelaskan.


"Terus dapet berapa kali kesempatan? Yang menang itu? Untuk menentukan tujuan wisatanya.?" Tanya Aldi.


"3x kesempatan." Jawab Anna enteng.


"Pilihan pertama lo di mana, An?" Tanya Arka ke Anna.


"Emm... Namsan Tower kayaknya." Ujar Anna.


"Yasudah deh, kita ngikut aja..." Ujar Alisha pasrah.


"Pasrah banget sih Neng... tujuan gue cuma satu kok. Mau menguji kekuatan dan keberanian para suami." Ucap Anna dengan melirik Abi.


"Maksudnya?" Tanya Ayni bingung.


"Tantangan buat suaminya, Bungee jumping bersama istrinya dan sendiri. Berani para suami?" Tanya Anna dengan lirikan jahilnya.


"Berani! Siapa takut!" Ujar para lelaki tersebut.


*****


DI DALAM PESAWAT


"Mas Abi... Anna takut." Ujarnya yang sudah lama sekali ia tak pernah naik pesawat perjalanan jauh.


"Sini dekat Mas Abi. It's ok, honey. We are flying. We can see the sky. It's beautiful sky. Feel that you like a bird and enjoy the wind to bring you go up, go up, and go up to the sky." Abi berbisik di telinga Anna dengan memeluk tubuh Anna.


Anna begitu nyaman di pelukannya Abi. Hingga ia tertidur pulas. Abi senyum-senyum sendiri. Melihat Anna yang begitu semangat sejak semalam sampai ia tak nyenyak tidur.


Berceloteh tentang Korsel. Tempat wisata yang ingin sekali ia kunjungi bersama dengan suaminya. Alhamdulillah terwujud.


Makasih sama Adit dan Dian ya... yang nikahnya dekat banget. Saking deketnya sampai harus bawa-bawa koper dan kawan-kawannya.


Aldi yang tau kalau Ayni akan mabuk udara, sudah mempersiapkan sejak awal. Ia meminta Ayni untuk setengah berbaring supaya tidak terlalu mual.


"Mas Al... pusing..." Ujar Ayni yang mengaduh kepada Dokter pribadinya itu. Siapa lagi kalau bukan Aldi. Suaminya.


"Iya, sayang. Itu efek kamu minum obat tadi. Obatnya mengandung efek ngantuk luar biasa. Kamu tidur aja ya... biar mualnya berkurang." Ujar Aldi yang mengelus lembut kepala Ayni.


Lain Anna, lain Ayni. Kali ini Alisha yang memang sangat takut ketinggian. Ia mengeluarkan keringat dingin.


"Sayang... kamu pakai jaket dulu ya. Dingin ini nanti pasti kalau sudah menjelang malam." Ujar Aryo yang meminta Alisha memakai jaket.

__ADS_1


Aryo membantu Alisha memakai jaket dan membaringkannya di sebelahnya dengan menggenggam erat tangan Aryo.


Alisha mencoba memejamkan matanya dan lama-lama ia terlelap dalam buaian lembut tangan Aryo yang menyentuh pipinya.


Ternyata Aira juga sama aja. Dia sangat mual dalam perjalanan naik pesawatnya.


"Mas Arka, Aira gak sanggup. Mual banget." Ucap Aira yang sejak tadi bolak-balik ke toilet karena mualnya.


Arka yang tak tega melihatnya, meminta obat mual kepada Aldi yang tadi sempat diminum oleh Ayni.


"Dek, minum obat ini dulua ya. Biar gak mual. Tadi dikasih sama Aldi. Diminum, ya sayang. Efeknya ngantuk parah. Tapi bisa mengurangi mual kamu." Ujar Arka kepada Aira.


Sekarang tugasnya para suami yang jagain istrinya. Karena suami-suami mereka yang paling sering naik-turun pesawat dengan kondisi pesawat apapun.


"Bi, lo udah coba hubungin Adit? Bilang kalau kita udah di pesawat?" Tanya Aryo yang jarak duduknya hanya depan dan belakang dengan Abi.


"Udah. Tadi gue udah telepon. Dia bilang, dia gak bisa jemput kita langsung ke bandara. Karena besok sore acaranya." Jelas Abi.


"Waduh, berarti kita sampai, naro barang doang di hotel terus langsung ke nikahannya Adit? Tepar dong bini gue..." Sahut Arka yang duduk di depan Abi.


"Sama kali, Ar. Ini Ayni, apa gak pucet banget. Tapi mudah-mudahan lancar lah semua." Ucap Aldi yang sudah bersiap untuk tidur dan mendekap Ayni.


"Yee... si Aldi mah mesum di umbar." Ujar Arka yang kemudian menyusul untuk berbaring di samping Aira dan memeluknya.


"Lo juga samanya, panjuull..." Ujar Aryo yang kemudian menyelimuti Alisha hingga batas lehernya Alisha dan menyandarkan kepalanya di kursi pesawat.


Abimanyu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Mendengar para sohibnya berceloteh tak henti.


Ia menyandarkan tubuhnya di kursi pesawat dan menangkupkan wajah Anna dalam dekapannya.


*****


Setelah perjalanan 7 jam lamanya mereka sampai di Incheon Airport. Mereka sudah disambut oleh tim dari Adit dan Dian yang sudah tau akan kedatangan sahabat-sahabatnya itu.


"Assalamualaikum. *Annyeonghas*eyo ?" Sapa orang-orang yang menjemput mereka.


"Waalaikumsalam. Annyeonghaseyo. Joheun achim imnida." Ucap Anna dengan lancarnya.


Abi takjub sekali dengan istrinya. Yang ia tak sangka-sangka bisa berbicara bahasa Negeri Gingseng tersebut.


"Dangsineun Indonesia chulsinibnikka ? (Are you from Indonesia, right ?)." Ujar salah satu tour guide asal Korsel tersebut.


"Ye. Majseubnida. Ulineun Adit-wa Diana chingu ibnida. (Yes. That's right. We are Adit and Dian friends)." Ucap Anna yang membuat teman-temannya terperangah karena ia begitu fasih mengucapkannya.


"Dek, kamu bisa bicara bahasa korea? Mas Abi pikir, kita perlu interpreter (orang yang menerjemahkan secara lisan)." Ujar Abi yang takjub dengan istrinya.


"Dikit Mas Abi... bisanya cuma conversation biasa. Hehehe..." Ucapnya dengan cengir kuda.


"hotel-e gaja ulineun gyeolhonsig patie gal su-issneun geosboda hyusig-eul chwihal su issseubnida. (Let's go to the hotel. You can take rest than we can go to the wedding party)." Ucap si bapak tour guidenya.


"Okey." Ucap Anna dengan senyum manisnya.


"Tour guide nya ngajak kita ke hotel. Habis itu istirahat dan sorenya baru ke nikahannya Adit dan Dian. Gitu maksudnya. Udah ayo, buruan." Ucap Anna yang memimpin kelompoknya tersebut.


"Bi, lo beneran gak tau istri lo bisa bahasa korea?" Tanya Arka.


"Gak tau. Sumpah. Mertua gue gak cerita apa-apa. Anna juga gak cerita apa-apa." Ujarnya yang cukup bingung saat ini.


*****


DI HOTEL, GANGNAM


Mereka masuk kamar hotel sesuai dengan nomer kamarnya.


502 (Aryo & Alisha), 503 (Arka & Aira), 504 (Aldi & Ayni), 505 (Abi & Anna).


*****


502 (Aryo & Alisha)


"Mas, mau mandi dulu? Atau mau rebahan sebentar?" Tanya Alisha ke Aryo.


Aryo duduk dipinggir tempat tidur dan menarik Alisha di dekatnya.


"Adek masih mual gak?" Tanya Aryo yang mengecek suhu tubuh Alisha karena tadi sempat agak anget badannya.


"Enggak. Icha baik-baik saja. Alhamdulillah." Ujarnya dengan seulas senyum.


"Kita rebahan bentar deh dek. Habis itu baru cek baju. Mas ngantuk banget." Ucap Aryo yang memang sejak tadi ia terlihat lesu sekali.


"Iya, Mas Yo, istirahat dulu deh. Gantian. Kan tadi udah jagain Icha di pesawat. Makasih, sayang..." Ujarnya sambil menciun lembut pipi Aryo dan Aryo mengelus lembut pipi Alisha.


Aryo tidur, Alisha sibuk menyiapkan bajunya dan baju Aryo.


*****


503 (Arka & Aira)


Arka melepas jaket dan sepatunya. Ia langsung mendaratkan tubuhnya di kasur.


"Mas Arka mau tidur dulu?" Tanya Aira yang juga sedang melepas jaketnya.


"Iya dek. Gak tau ini kenapa berat banget matanya." Ujar Arka yang menelungkupkan tubuhnya di kasur.


Aira menghampirinya dan duduk dipinggir tempat tidur seraya mengelus kepala Arka.


"Makasih ya, sayang... sudah mau jagain Aira tadi di pesawat. Maaf, merepotkan." Ujar Aira yang merasa bersalah karena sudah membuat Arka letih seperti itu.


"Aku gak merasa direpotkan. Sama sekali enggak. Aku senang kalau kamu merasa aku bisa jagain kamu." Ujarnya dan mencium punggung tangan Aira.


Tak lama, Arka pun sudah berada di alam mimpinya. Aira? Sibuk menata kopernya dan koper Arka. Menyiapkan pakaian untuk wedding party.

__ADS_1


*****


504 (Aldi & Ayni)


"Dek, kamu masih mual?" Tanya Aldi yang sedang duduk di sofa.


"Enggak kok Mas. Dari turun pesawat tadi Ayni sudah tak apa." Ujar Ayni yang sedang melepas jaketnya.


Aldi pindah posisi. Ia duduk di tempat tidur. Entah mengapa saat ia tidur di pesawat dan bangun dari tidurnya, badannya terasa remuk redam. Gak enak banget lah pokoknya.


Aldi merebahkan tubuhnya di tempar tidur.


"Sayang... sini deh, sebentar." Ucap Aldi yang bangun kembali dari baringannya.


"Kenapa Mas Al?" Tanya Ayni yang sedang membongkar koper jadi tertunda karena panggilan Aldi.


"Dek, kamu tau kan Adit itu siapa dan Dian itu siapa. Keduanya pernah ada di sejarah masa lalu kita. Kita tutup lembaran lama dan mulai dengan lembaran baru ya sayang..." Ucapnya dengan mengelus lembut pipi Ayni.


"Mas Aldi, sayangkuu... dari awal aku menikah denganmu, buatku itu sudah lembaran baru. Apa Mas Aldi tidak merasa seperti itu? Masih adakah rasa bersalah dengan Adit karena Mas menikahiku?" Ujar Ayni yang sudah tak sanggup menahan bendungan air matanya.


"Hey... sayang... Mas Al gak bermaksud seperti itu. Mas hanya takut kamu masih terbayang masa lalu itu." Ucap Aldi yang seraya menghapus air mata Ayni.


"Berarti Mas Al gak percaya sama Ayni?" Ujarnya yang berdiri dari hadapan Aldi dan berjalan menjauh dari Aldi.


"Dek... Mas gak ada maksud seperti itu. Mas hanya___" Belum sempat Aldi menyelesaikan ucapannya Ayni langsung menyahut.


"Mas hanya belum sanggup untuk merasa bersalah atau menyesal menikahi Ayni? Begitu maksudnya?" Ucap Ayni yang sudah dengan tangis sesegukannya.


"Sayanggg... bukan itu maksud Mas Al. Mas hanya terlalu mencintaimu. Mas takut kehilanganmu. Kau tau betapa khawatirnya aku setiap hari karena terbayang kau dan Adit akan bertemu lagi. Aku takut kau meninggalkan aku Ayni. Aku terlalu mencintaimu. Tak sanggup rasanya aku harus melepasmu. Membayangkannya saja aku tak sanggup sayanggg..." Jelas Abi dengan mendekati Ayni kembali dan mencoba memeluknya.


"Mas Al, gak percaya sama Ayni kalau begitu." Gerak mundur Ayni membuat Aldi semakin panik karena takut Ayni akan pergi.


"Enggak, dek. Mas sangat percaya padamu." Ucapnya yang mencoba mendekati Ayni kembali.


"Mas Al, disini, sakit... Mas (Ayni menunjuk dadanya). Suamiku sendiri tak mempercayaiku. Apa aku masih punya hak untuk mencintaimu, kalau kamu saja tak percaya padaku, Mas..." Ujarnya dengan bergerak mundur menjauhi Aldi.


"Sayang... Mas minta maaf. Mas Al tidak bermaksud menyakitimu. Aku mohon, percaya padaku, dek. Aku hanya tak sanggup hidup tanpamu. Ayni... Mas Al mohon. Percaya sama Mas, ya." Ujarnya dengan segera memeluk Ayni yang menangis jatuh terduduk karena tak sanggup menopang tubuhnya.


Aldi begitu bodoh. Ia merutuki dirinya sendiri. Untuk apa masih mengurusi sejarah lamanya. Ia terlalu bodoh dan sekarang, lihat? Ayni terluka hatinya.


"Ayniii... maafkan Mas Aldi. Maafkan Mas yang membuatmu sakit hati. Mas akan menebusnya dengan apapun. Aku mohon, sudahi sedihmu, sayang..." Ucap Aldi dengan mengecup lembut kepala Ayni.


"Jangan pernah katakan itu lagi, Mas. Ayni tak sanggup menahan sakit hatinya Ayni atas perkataanmu." Ucap Ayni yang dengan lemasnya tubuh.


"Iya. Mas Aldi janji gak akan ulangin lagi. Maafin Mas sayang. Maafin Mas. Aku sangat mencintaimu, Ayni." Ujarnya dengan mencium kening Ayni.


Aldi menggendong Ayni ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya. Mereka berbaring berhadap-hadapan.


"Mas Al... aku sangat mencintaimu Mas. Jangan pernah ulangi perkataan itu lagi. Aku sakit Mas..." Ujar Ayni dengan suara paraunya.


"Iya, sayang. Mas Al juga sangat mencintaimu. Maafkan Mas yang telah menyakitimu. Maafkan Mas Aldi, sayang..." Ucap Aldi seraya mengecup pelipis Ayni.


"Mas, kamu perlu tau. Adit sudah tidak ada di dalam hatiku. Bahkan sejarah itu telah kuhapus bersih dari ingatanku. Karena aku tau, kau yang lebih berarti dari apapun Mas. Buat Ayni, ada Mas Aldi itu udah cukup. Ayni gak mau apa-apa. Cukup kamu Mas..." Ucap Ayni dengan sisa tenaganya.


"Maafin Mas yang terlalu takut kehilanganmu, dek. Karena ketakutan itu menjadi buah yang tak percaya padamu. Maafkan Mas Aldi. Kamu jauh segalanya buatku, Ayni. Melebihi apapun. Aku sangat mencintaimu. Maafkan aku, sayang..." Ujarnya seraya mencium kening Ayni.


*****


505 (Abi & Anna)


"Mas Abi, mau mandi dulu apa istirahat dulu?" Tanya Anna kepada Abi.


"Dek, kenapa kamu gak cerita kalau kamu bisa bicara bahasa korea?" Tanya Abi yang bernada agak marah sepertinya.


"Maaf Mas, Anna tidak bermaksud untuk tidak bercerita. Karena Anna juga tidak fasih dalam Bahasa Korea. Anna hanya sekedarnya tau bahasanya. Itupun Anna hanya mendengar dari drama ataupun lagunya. Tak lebih dari itu Mas..." Ucap Anna yang berhenti dari aktivitas membongkar koper dan mendekati Abi duduk di sofa kamar hotel tersebut.


"Mas Abi marah sama Anna?" Tanya Anna dengan nada lembutnya.


"Iya. Mas Abi marah. Karena adek gak pernah cerita sama Mas tentang hal ini. Mas jadi merasa canggung saat teman-teman Mas bertanya apa kamu bisa bahasa korea? Mas tak bisa menjawab. Karena Mas tidak tau." Terang Abi kepada Anna.


"Maafin Anna ya Mas... Anna gak ada maksud sama sekali untuk gak cerita atau menutupinya dari Mas Abi. Sama sekali gak ada. Anna akan cerita semuanya ke Mas Abi mulai sekarang, ya... apapun. Okey." Ucap Anna dengan mengelus pipi Abi.


"Janji?"


"Iya. Janji."


"Peluukk..." Ucap Anna dengan manjanya.


"Maaf ya... Mas Abi tadi marah sama kamu. Nada bicara Mas tinggi ya ke kamu, dek?" Tanya Abi.


"Enggak kok. Tapi Anna takut." Ujarnya yang masih berada dipelukan Abi.


"Takut? Kenapa?" Tanya Abi.


"Takut. Mas Abi mukanya serem banget. Udah kayak singa mau nerkam mangsanya. Hauumm... Hahaha..." Ucap Anna dengan candaanya yang membuat Abi tak bisa menutupi senyumnya.


*****


aku yang memutuskan


menjadi partner hidupmu


apapun kamu


bagaimanapun kamu


kamu, ya kamu


pilihanku


*****

__ADS_1


__ADS_2