Sajak Rindu

Sajak Rindu
CHAPTER 43: DITO & LALA


__ADS_3

YOGYAKARTA


Kota yang mempunyai nama panggilan Kota Pendidikan itu kini mampu membuat siapapun yang datang berkunjung kesana mengungkap kenangan lagi.


Sedikit kisah tentang dua sejoli yang sudah halal dan syah dalam ikatan agama dan hukum.


"Dek, ini mau langsung pulang ke rumah Eyang apa masih mau jalan-jalan lagi?" Tanya Dito kepada sang istri Lala.


"Pulang aja ya Mas. Aku capek." Ujarnya sambil menggandeng lengan sang suami yang membuat Dito tersipu malu.


*Yak elah Bang... baru dipegang lengannya udah tersipu malu. Apalagi dipegang yang lain.


*Biarin aja apa thor... biarin. Udah halal mah bebas. 😂


"Okey. Mau beli sesuatu dulu gak? Buat orang-orang di rumah?" Tanya Dito.


"Boleh. Cari bakpia dulu kali ya, Mas? Ibu tadi chat aku minta dibeliin bakpia buat acara besok." Ucap Lala yang berbicara dengan mendongakkan kepalanya karena tinggi mereka terpaut 20cm.


*Om Dito nyemilin galah kali yak 🤣


"Oh, gitu. Yaudah, ayo. Mas ambil mobil dulu. Adek tunggu sini ya." Ujar Dito yang disusul dengan anggukan Lala.


Ia berlari kecil untuk mengambil mobil di parkiran karena saat itu rintik hujan kembali datang.


Dito dan Lala melajukan mobilnya untuk menelusuri toko-toko bakpia untuk membeli beberapa kotak bakpia untuk acara temu keluarga besok.


"Mas, sudah semua nih. Buat besok sudah lengkap. Makanan, cemilannya, teh, kopi, susu, gula, sudah sepertinya." Ujar Lala yang begitu handal untuk mengurus keperluan ibuk-ibuk.


"Ada lagi gak yang mau dibeli? Lala perlu apa? " Tanya Dito kepada Lala sembari mengelus lembut kepala Lala.


"Gak ada Mas. Buat saat ini belum. Ini aja dulu. Udah yuk pulang. Udah malam. Besok harus bangun pagi lagi. Buat bantu Ibu siapin semua." Ujarnya yang sudah dengan mata lelahnya.


"Atau Mas Dito yang mau cari sesuatu? Ada yang mau dibeli dulu?" Tanya Lala yang berhadapan dengan Dito dan memegang lengannya.


"Enggak dek, persediaan kopi masih banyak. Hehehe..." Ujarnya sambil mengelus lembut pipi Lala.


"Yasudah kalau gitu. Kita pulang ya." Ucap Lala kemudian disusul Dito yang berjalan berdampingan dengan istrinya menuju mobil.


Sesampainya di rumah Eyang Kung dan Eyang Ti, semua sudah tidur kecuali Raffasya. Adik Lala.


"Fa, belum tidur?" Tanya Dito.


"Belum Kak. Masih ngedit video nih." Ujarnya sambil menunjukkan laptop yang bertengger cantik dihadapannya.


"Wuiidih... keren... eh, lo udah lulus kuliah kan?" Tanya Dito.


"Udah Kak. Sebulan yang lalu." Jawab Raffa.


Intermezzo: Raffa kuliah di jurusan design grafis gitu. Baru menyelesaikan kuliah S2 di kampus lokal.


Udah tua dong? Belum. Doi masih muda. Karena setelah lulus S1, doi langsung melanjutkan ke jenjang selanjutnya.


Raffa ini termasuk anak laki-laki yang otaknya encer kayak bubur. SMA nya masuk kelas akselerasi.


Karakter Raffa ini cenderung Melankolis-Koleris. Penampilan jutek. Hati hellokitty. 😄


IQ (intelligence quotient)? Gak usah ditanya. Itu dia masuk kelas akselerasi. 😆


EQ (emotional quotient)? Masih belajar senyum. Diajarin itu juga sama Lala. 😅


Perawakan Raffa itu seperti almarhum Ayahnya. Tinggi, besar, kulit putih. Anak bule dulu waktu kecil panggilannya.


Karena memang Ayah Raffa berasal dari Negara Tembok Berlin. Jadi masih ada gen mata birunya. Hehehe...😁


Ganteng gak?


Gantenglah kan laki. Kalau Lala cantik. Kan perempuan. 😄


Bodomat 😑


Close intermezzo


"Kata Mba Lala, Raffa kerja ya?" Tanya Dito yang masih duduk menatap layar laptop Raffa di hadapannya.


"Freelancer Kak... masih ngelamar-ngelamar gitu." Ucapnya yang masih terpaku dengan benda elektronik tersebut.


"Oohh... masih freelancer. Eh, di tempat Kak Dito aja gimana? Perusahaan advertising gitu. Kebetulan emang lagi nyari anak-anak muda berbakat. Coba aja lamar di perusahaan Kak Dito kerja. Siapa tau keterima." Jelas Dito.


"Wwaahh... boleh tuh. Raffa bikin surat lamarannya sekarang deh. Besok Raffa send ke perusahaan tempat Kak Dito kerja." Ujarnya.


"Sip !" Ucap Dito singkat.


Dito berpamitan kepada Raffa untuk kembali ke kamarnya bersama dengan istri tercinta.


"Mas..." Panggi Lala.


"Iya, dek." Jawab Dito.

__ADS_1


"Bersih-bersih dulu. Tadi bajunya Mas kena gerimis. Basah tuh. Ganti dulu. Nanti masuk angin. Udah Lala siapin di kursi dekat tempat tidur ya." Terang Lala.


Dito menurutinya, ia bersih-bersih dan mengganti pakaiannya yang basah terkena hujan.


Lala dan Dito sudah siap untuk tidur.


"Lho, Mas, kok bawa bantal? Mau kemana?" Tanya Lala bingung.


"Mau tidur di sofa, dek." Jawab Dito.


Lala yang merasa bersalah karena kebodohannya yang membiarkan malam pertama kemarin Dito tidur di sofa kini ia tak ingin mengulanginya.


"Kok di sofa? Terus Lala tidur sendiri?" Tanyanya kepada Dito.


"Adek gak apa kalau kita tidur bareng?" Tanya Dito.


"Aku akan kenapa-kenapa kalau Mas gak temenin aku." Ujar Lala dengan manjanya.


"Seriously ? Are you ok for that ?" Tanya Dito menyakinkan kembali sembari menaruh bantal di tempat tidur.


"Iyaa..." Jawab Lala sambil memeluk manja Dito.


"Maafin Lala ya Mas. Harusnya kemarin malam Lala gak bersikap menjauh kepada Mas Dito. Jadinya gini deh." Ujar Lala yang melepaskan pelukannya ke Dito.


"Tidak sayang... Mas Dito gak apa. Mas tau, mungkin ini mengejutkan untukkmu. Mas memaklumi itu. Sudah, Mas tak apa. Jangan menyalahkan dirimu seperti itu. Kita tidur ya. Sudah malam." Jelas Dito yang sembari menggiring Lala ke tempat tidur.


Saat itu Lala bingung. Ia mempunyai pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya.


"Kok Mas Dito gak ajak berkegiatan intim? Kok Mas diam saja? Apa sudah lelah ya? Apa pakaianku tidak terlalu menggoda? Apa aku tidak menarik? Tak menggairahkan kah aku buat Mas Dito?" Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul di kepala Lala.


"Sayangg... bukannya kamu tidak menarik. Hanya saja besok kita harus bangun pagi. Karena acaranya cukup padat. Kita harus istirahat ya. Berhubungan intimnya besok saja. Lain waktu bisa kan?" Terang Dito yang membuat Lala diam terpaku.


Lala hanya mengucapkannya dalam hati, tapi Dito tau semua? Keren. Kalah cenayang 😅✌


Namun, entah kenapa hati Lala jadi sakit ketika mendengar ucapan Dito. Ditolak? Tidak. Hanya waktu yang kurang pas saja. Mungkin Dito ingin di tempat yang lebih privacy.


Lala hanya diam tak bersuara dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur dengan hasrat cinta yang sudah membuncah. Namun, harus ia pendam karena suaminya belum menginginkannya.


*****


"La... ndok... tolong Ibu itu bawakan kue yang ada di dapur. Yang piring warna hijau." Ucap Ibunya yang sedang sibuk menata meja untuk tamu-tamunya hari ini.


Hari ini mood Lala begitu amburadul. Sejak pagi tadi ia tidak ingin bertemu dengan Dito. Dito yang merasa Lala dingin sikapnya terhadapnya menjadi bingung. Kenapa? Ada apa? Pikir Dito.


"To, kenapa? Kok gusar seperti itu?" Tanya Papanya Dito.


"Lala ada di dapur. Tadi bantuin Mama sama Ibu." Jawab Papa yang seolah tau Dito sedang mencari Lala.


"Kamu apain Lala? Kok bisa bikin kamunya pusing sendiri gitu?" Tanya Papa.


"Dito gak apa-apain Lala, Pa. Sumpah!" Jawabnya mantap dan yakin.


"Oohh... pantesan. Belum di apa-apain? Wajar kalau dia dingin sama kamu." Ujar Papanya yang langsung membangunkan Dito dari kalutnya kekhawatiran Dito kepada Lala.


"Pa, Dito belum berbuat karena sebelumnya Lala juga belum mau melakukannya." Ujar Dito.


"Lalu apa yang terjadi semalam? Lala yang menolakmu atau kamu yang menolak Lala?" Tanya Papa langsung menghujam Dito.


Dito sadar sekali semalam Lala begitu mempesona dan sangat menggoda Dito. Tapi Dito memendam hasratnya karena Lala tak bicara bahwa ia bersedia melakukannya.


"To, perempuan itu hatinya seperti kapas. Kau tolak sedikit saja, ia terluka. Kau tau, tadi pagi waktu Papa datang. Papa menemukan Lala dengan mata sembabnya. Setelah shubuh itu. Papa gak tau apa yang kalian lakukan. Itu bukan urusan Papa."


"Tapi akan menjadi urusan Papa kalau kamu tidak bisa menjaga dan melindungi istrimu sendiri. Sebaiknya tinggalkan Lala jika kamu tidak sanggup membahagiakannya." Ujar Papa tegas.


"Papa! Kok gitu ngomongnya? Dito sayang Pa, sama Lala. Aku sangat mencintainya." Ujar Dito kepada Papanya.


"Katakan itu pada Lala. Jangan pada Papa. Apa kamu pernah mengatakannya kepada Lala secara langsung? Apa dia mengetahuinya?" Ujar Papa.


Ucapan Papanya membuat Dito tersadar. Ia belum pernah mengucapkan hal itu kepada Lala.


"Ajak istrimu bicara. Hampiri dia. Katakan dengan lembut. Jangan pernah meninggikan suaramu padanya." Ucap Papa kepada Dito.


Setelah berbincang dengan Papanya, Dito menghampiri Lala yang sedang di dapur menata makanan untuk makan siang para tamu.


"Dek.." Panggil Dito ke Lala.


"Mas, kok disini? Kenapa?" Tanya Lala yang melihat Dito kemudian fokus lagi dengan kerjaannya.


"Ikut Mas Dito sebentar ya." Ucap Dito yang menggandeng tangan Lala.


"Mau kemana Mas? Lala masih banyak kerjaan." Ucapnya yang ingin menghindari Dito tapi tak bisa. Tangan kokoh Dito sudah menggenggam erat tangan Lala.


"Mas, ada apa? Hm?" Tanya Lala lembut kepada Dito.


Saat itu mereka duduk di batu-batu pinggir sungai. Suara gemericik air sungai menambah keelokan alamnya.


"Adek, marah sama Mas?" Tanya Dito sembari duduk disamping Lala.

__ADS_1


"Tidak. Aku gak marah sama Mas." Jawab Lala tanpa melihat Dito.


"Dek..." Ucap Dito dengan memegang dagu Lala dan mengangkat kepalanya yang tertuduk dengan lesu.


"Mas... Aku kesal sama Mas Dito. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku sudah bersolek secantik mungkin." Ucap Lala.


"Aku tau ini terlalu kekanakan. Aku juga salah sama Mas karena tidak melayanimu karena kebodohanku. Apa Mas Dito mencintaiku? Terlintas pikiran itu, Mas..." Belum sempat Lala melanjutkannya, Dito sudah memeluknya.


"Maafin Mas Dito sayang... Mas tidak peka dengan hal itu. Mas mencintaimu, dek. Sangat." Ucap Dito dengan mengelus lembut kepala Lala.


Pecah sudah tangis Lala di pelukan Dito. Dito semakin mengeratkan pelukannya.


Lala tak melepaskan pelukannya sedikitpun dari Dito.


Hingga membuat baju suaminya basah karena air matanya.


"Mas.. pulang yuk... gak enak sama orang rumah. Kita udah kelamaan keluar." Ucap Lala setelah tenang dan masih berada di dekapan eratnya Dito.


"Okey, kita pulang ke rumah. Habis itu kita rapi-rapi barang. Kita ke hotel." Ucap Dito dengan lugas.


"Ke hotel? Mau apa Mas?" Tanya Lala bingung.


"Mau main tanpa gangguan sama kamu." Ujarnya dengan senyum penuh makna.


"Hahaha... Mas Dito... yaampun. Kamu bikin aku malu deh..." Ucap Lala yang menyembunyikan wajah meronanya di dada bidang Dito.


"Hahaha... kenapa harus malu? Kan kamu istriku, aku suamimu. Gak perlu malu sayang..." Ujar Dito sembari mengecup pelipis Lala.


Lala yang masih tersipu malu, akhirnya mendongakkan kepalanya menunjukkan rona merah pipinya yang sukses buat Dito semakin gemas dan menciumnya.


Mereka berdua kembali ke rumah yang sudah ditunggu oleh kedua keluarga. Acara begitu meriah. Riuh ramai canda tawa mereka.


Tak lama acara selesai, Lala dan Dito berpamitan kepada orangtua mereka. Mereka akan menginap di hotel beberapa hari.


Selain itu, Dito juga ada urusan yang harus dia selesaikan dengan client nya. Ia meminta Lala untuk menemaninya.


Mereka mengendarai mobil BMW X-5 nya menuju hotel tempatnya bersinggah.


"Mas, tadi bawa clutch aku gak yang warna pink ?" Tanya Lala yang sibuk mencari dompet kecil isi perlengkapan make up.


"Ohh... yang isinya perlengkapan lenong ya, dek?" Tanya Dito sambil menyetir dan melihat sisi kanan dan kiri untuk putar balik.


"Yeee... perlengkapan sulap itu. Bisa menyulap yang tidak mungkin menjadi mungkin. Hahaha..." Ujar Lala dengan tawanya.


"Bim salabim jadi apa, prok, prok, gitu ya? Hahaha..." Ucap Dito dengan tawa riangnya.


"Kok tepukannya gak asing ya? Hahaha..." Ucap Lala.


Tawa riang mereka memecah keriuhan malam yang saat itu cukup padat di tengah jalanan kota Yogya.


"Mas Dito besok mau ketemu client ?" Tanya Lala sambil menyuapkan sepotong buah apel ke mulut Dito yang sedang menyetir.


"Iya katanya gitu, dek. Pak Abi belum ngabarin lagi." Jawab Dito santai.


"Ohh... mau ketemuannya dimana, Mas?"


"Paling gak jauh, masih disekitaran Malioboro."


"Lala di hotel aja kalau gitu ya?"


"Enggak. Kamu harus ikut. Temenin Mas Dito."


"Lho, kenapa? Kan Mas Dito lagi kerja. Lala gak mau ganggu."


"Yang nyuruh kamu ganggu itu siapa? Mas minta kamu temenin aja."


"Seriusan? Lala nemenin Mas Dito gak apa?"


"Iyaa... besok kan kamu bisa ngobrol sama Bu Anna. Bu Anna ikut kok."


"Ohh... Mba Anna ikut. Okey. Lala ikut gak apa kalau gitu. Ada temennya. Hehehe..."


"Dek, mulai sekarang, kalau Mas Dito harus ketemu client, adek ikut ya. Kalau adek bisa. Kalau gak bisa gak apa. Selagi adek bisa, adek ikut. Ya." Ujar Dito dengan lugasnya.


"Emang kenapa Mas?"


"Ikut aja pokoknya." Ujar Dito dengan mengelus lembut kepala Lala.


Dito hanya ingin menunjukkan kepada Lala tentang pekerjaannya saat ini. Ia hanya tak ingin ada praduga tentangnya yang membuat Lala khawatir.


Sebenarnya bukan khawatir karena pekerjaannya. Tapi khawatir karena lingkungan kerjanya yang akan banyak menimbulkan fitnah.


Maka dari itu, Dito ingin menunjukkan kepada Lala seperti apa lingkungan kerjanya. Orang-orang di lingkungan kerjanya.


*****


terkadang tindakan perlu diiringi dengan ucapan. Karena perempuan tak hanya butuh tindakan, namun pernyataan dan penjelasan kadang diperlukan.

__ADS_1


******


__ADS_2