Sajak Rindu

Sajak Rindu
CHAPTER 39: DEEP IN TALK


__ADS_3

Setelah kegiatan kunjungan ke RS, Anna, Bu Guru dan anak-anak kembali ke sekolah setelah melewati banyak prahara.


Ganesh yang hactic dengan rasa penasarannya. Ken yang ingin bermain dengan makhluk astralnya. Anak-anak murid yang lain, yang heboh dengan barisannya. Yang pada akhirnya mereka berbaris sesuai dengan absen atau abjad A-Z.


Anna tau bahwa Abi sedang memperhatikannya sejak tadi. Saat ia menggiring anak-anak ke bus, ia sempat melambaikan tangannya ke Abi.


"Bi, Anna hebat banget, ya. Om aja yang udah punya dua anak masih belajar tuh cara ngadepin anak gimana. Tapi Anna, santai banget ketemu anak yang beragam." Ujar Dr. Reza (Omnya Abi).


"Anna tuh hebat dari segala hal apapun. Aku yang suaminya selalu saja dibuat terkejut olehnya. Aku gak pernah tau kalau Anna pandai bernyanyi dan main musik." Ujar Abi yang masih menatap bus Anna dan anak-anak muridnya.


"Emang Anna gak cerita?" Reza.


"Cerita. Tapi aku gak nyangka aja kalau dia melakukannya lebih dari yang Abi pikirkan." Abimanyu.


"Kau kan juga bisa main musik, Bi. Itu drum kemana emang? Masih ada kan?" Tanya Reza.


"Masih. Cuma Abi gak bawa ke rumah. Abi balik, Om." Ujar Abi menepuk pundak Reza.


"Abimanyu. Kau sudah berapa lama gak ngobrol sama Anna?" Tanya Reza ketika Abi hendak keluar ruangannya.


"Udah hampir 2 minggu Om. Abi ada project baru di kantor buat Abi jadi kurang ngobrol sama Anna." Ujar Abi dengan raut wajah rindunya.


"Jangan terlalu sibuk, Bi. Inget, waktu bersama dengan orang yang kita sayang itu berharga banget. Ajaklah Anna liburan. Kau lucu sih, dari awal nikah, belum pernah istri kau ajak honeymoon. Om tebak, Anna pasti sering ketiduran nunggu kau balik kantor. Iya, gak?" Ucapan Om Reza seperti tamparan untuk Abi yang segera saja ia tersadar.


"Bi, perempuan seperti Anna itu jarang bisa ditemuin. Jangan pernah buat dia nunggu. Percaya sama Om. Kau yang nyesel nantinya kalau gak luangin waktu buat Anna. Udah pulang sana. Ajak istrimu liburan. Om juga mau ketemu sama Maira. Kangen Om sama dia. Hehehe..." Ujar Om Reza.


Abi hanya tersenyum simpul. Melihat Om nya yang begitu menyayangi Tante Maira.


Ia melajukan mobil Range Rover Sport nya ke arah kantornya. Sesampainya di kantor, Abi memarkir mobilnya dengan cantik di VVIP Parking area.


Ia masuk ke ruangannya dan sudah ada beberapa temannya yang menunggu untuk meeting hari itu.


*****


Hactic nya Anna dan Bu Guru yang lain segera berakhir setelah anak-anak pulang sekolah.


Setelah isoma (istirahat, sholat, dan makan) mereka semua meeting untuk mengecek kembali rapor untuk dibagikan minggu depan.


Ketika sedang bincang-bincang ringan setelah meeting, ponsel Anna berdering dan tertera di layar ponselnya "My Husband"


"Assalamualaikum Mas." Sapa Anna.


"Waalaikumsalam. Adek masih di sekolah?" Tanya Abi.


"Masih. Kenapa Mas?"


"Mas jemput sekarang ya?"


"Lho, katanya Mas Abi hari ini pulang malem? Kan ada project baru. Gak apa nanti Anna pulang naik ojek online saja." Ujar Anna yang memang semenjak menikah dengan Abi, ia tak mengizinkan Anna membawa kendaraan sendiri. Istri mah nurut aja sama suami deh.


"Hari ini Mas pulang cepat. Bisa jemput adek."


"Gak apa kalau Mas memang gak bisa. Jangan ninggalin urusan kantor yang butuh Mas Abi hanya untuk jemput Anna." Ucap Anna dengan lembut sekali.


"Ndak apa dek. Urusan kantor udah Mas serahin sama Arka kok. Mas mau ketemu sama adek." Ujar Abi yang dari balik ponselnya sambil bersiap untuk menjemput Anna.


"Yasudah kalau begitu. Tapi gak usah jemput ke sekolah ya, Mas. Jemput Anna di Mall B*C aja. Soalnya Bu Guru ngajakin kesana. Anna udah bilang ikut. Gak enak kalau dibatalin." Ujar Anna menjelaskan.


"Okey! Siap, My Princess !" Ujar Abi dengan mengedipkan matanya. Yang sebenarnya Anna gak bisa lihat juga. 😅


"Hahaha... makasih sayang..." Dan percakapan mereka berakhir ketika Anna menutup ponselnya.


*****


Bu Guru sedang asyik berbincang di sebuah tempat makan. Bukan berbincang sih... ghibah lebih tepatnya 😅


Bukan... ya kali Bu Guru begitu. Mengulas hari mereka tentang kegiatan kunjungan anak-anak ke RS tadi.


Kegiatan tadi ada yang kurang apa enggak, ada anak-anak yang heboh banget apa enggak, ada anak yang luka-luka apa enggak.


Itu sudah menjadi topik utama Bu Guru kalau setelah selesai acara apapun pasti akan ada review atau evaluasi.


"Mba An, dirimu dijemput hari ini?" Tanya Lala.


"Iya, Mba Lala. Tapi masih agak lama kayaknya. Kenapa emang? Dirimu bawa motor?" Tanya Anna.


"Enggak. Tadi aku dianterin sama adekku. Aku minta jemput adekku. Masih nungguin dia. Bareng nunggu maksudnya. Hehehe..." Ujar Lala.


"Oohh... iya, bareng-bareng aja. Mba Ina juga sama tuh. Lagi nunggu dijemput suaminya, ya Mba Na?" Ucap Anna.


"Iya. Tapi masih jalan dari kantor katanya. Agak lama mungkin." Ujar Ina.


Tak lama Bu Guru pamit pulang kecuali Anna, Ina, dan Lala. Yang masih menunggu untuk dijemput.


Tak lama berselang, Dimas datang menghampiri istrinya, Ina.


"Hai, sayang... maaf lama nunggu ya." Ucap Dimas kepada Ina.


"Deuuh... bapak. Bisa banget... datengnya pas Bu Guru udah pada pulang. Takut dimintain traktiran apa? Hahaha..." Ujar Lala.


Emang tuh anak somplak. Ngomong sama Boss begitu masa. 🤣


"Bukan, Mba Lala. Saya lagi ada kerjaan tadi di kantor. Hehehe..." Ucap Dimas.


"Bapak males ketemu lambe ya, Pak? Hahaha?" Ledek Anna.


"Nah... itu. Kan situ tau... hahaha..." Tawa Dimas.


"Kadang apa ya? Saya juga gak habis pikir aja. Saya sering dengar kalau Ina kadang suka diledek-ledekin karena nikah sama Boss. Bingung saya. Ckckck..." Ucap Dimas.

__ADS_1


"Lha, Pak. Kan emang nikahnya sama Boss. Emang mau siapa Pak?" Tanya Lala.


"Bukan maksudnya, emang kalau nikahnya sama atasannya kenapa? Ada yang salah? Toh kan saya single, istri saya sebelum nikah sama saya juga single. Kita saling sayang, ya nikah. Kalau pacaran itu wasting time. Sampai saya pernah dengar ada omongan kalau Ina pakai pelet apa sampai Boss mau sama Ina. Ya Allah... kepikiran begitu ya? Ckck" Jelas Dimas.


"Yah, Pak. Namanya lambe, apa juga dibahas. Tingkat peng-kepo-an mereka cukup tinggi. Wkwkwk..." Tawa Lala.


"Iya makanya. Saya ngontrol dari jauh aja. Hahaha..." Ucap Dimas.


"Wkwkwk... jadi selama ini ada spy ya?" Ucap Anna dengan tawanya.


"Iya, gue... makhluk jelas yang transparan. Hahahaha...." Ujar Ina.


Ketika mereka sedang berbincang Abi, Arka, dan Dito datang.


"Dek, lama nunggu ya?" Panggil Abi yang duduk disebelah Anna.


"Mas Abi? Udah dateng?" Tanya Anna dengan binar matanya.


"Iya, dek. Maaf ya... telat. Nungguin dua orang tuh dandan mulu kayak perawan." Ucapnya sambil bersungut.


Namun ia tak lupa melayangkan kecupan singkat ke pelipis Anna dan Anna menyambutnya dengan mencium punggung tangan Abi.


"Yee... bukan gue kali. Dito noh lama." Ucap Arka.


"Si Boss mah bisaan nyindirnya. Hahaha..." Jawab Dito.


Anna, Ina, dan Lala hanya senyum-senyum saja mendengarkan para lelaki bercerita.


"Mba An, tungguin bentar lagi ya... adekku masih di tol nih... 15 menit lagi katanya sampe." Ucap Lala kepada Anna.


"Iyaa... santuuyy cuy..." Ujar Anna dengan menepuk pundak Lala.


"La, rapor udah kelar?" Tanya Ina kepada Lala.


"Udah lumayan deh... lumayan ada nama anak dulu. Hahaha..." Tawa Lala.


"Wkwkwk... sama ajaaahh... Anna tuh pasti udah semua, ya An?" Ujar Ina.


"Udah lah... gue mau leyeh-leyeh pokoknya. Tinggal ngprint doang." Ucap Anna dengan cengiran kudanya.


"Enak benerr... aku masih 5 anak lagi..." Ucap Lala dengan bibir manyunnya.


"Samiii... hahaha..." Ucap Ina dengan tawanya.


Dito yang sejak tadi diam-diam memperhatikan Lala sampai tidak konsen dengan pembicaraannya bersama para atasannya. Salah fokus ya... liat Lala yang imut nan lucu. Pengen cubit pipi chubby nya.


"Iya, gak To?" Tanya Arka yang menyenggol siku Dito.


"Oh, iya. Kenapa ya Pak?" Tanya Dito yang kebingungan dengan pertanyaan Arka.


"Yee... si kupret di ajak ngomong dari tadi, gak nyambung ternyata. Mikirin apaan sih?" Tanya Arka.


Abimanyu, tahu betul kalau pegawainya yang satu itu sedang memperhatikan temannya Anna.


"Dek, peka dikit kenapa? Kasian itu temenku, udah pengen banget di kenalin." Ujar Abi kepada Anna.


Sontak Anna yang sedang meminum green tea latte nya tersedak. Bingung dengan maksud suaminya.


"Anna gak peka? Mas Abi minta dikenalin sama siapa??" Tanya Anna dengan nada agak tinggi.


"Sayangg... bukan Mas Abi. Itu Dito udah ngiler dari tadi diajak meeting gak fokus." Jelas Abi kepada Anna.


"Ohh... kirain Mas Abi minta dikenalin. Emang Dito mau dikenalin sama siapa?" Tanya Anna yang masih belum mudeng dengan Abi.


"Heett deh... si Anna. Lola juga. Abi ngomong kalau si Dito gak konsen karena dari tadi salah fokus ngeliatin temen lo terus." Terang Arka.


"Temen Anna? Siapa?" Ucap Anna sambil menautkan kedua alisnya sambil berpikir dan menyambungnya kembali...


"Eh, iya... Ya Allah, lupa. Ditooo... maaap... saya gak peka... hahahaa..." Ujar Anna yang baru sadar dan paham maksud Abi.


"Dekk... kemana ajaa?? Hahaha..." Ucap Abi sambil mencubit gemas pipi Anna.


"Hahaha... maaf, Mas... Anna baru mudeng. Iyaa..., Dito kenalin. Ini Lala. Temen ngajar kita." Ucap Anna yang kemudian paham dengan maksud Abi dan Arka.


"Oohh, iya. Dito." Ucapnya dengan senyum tegas.


Membuat Lala langsung menundukkan pandangannya untuk menutupi rona merah pipinya.


"Saya Lala." Ucap Lala dengan seulas senyum yang membuat hati Dito jadi berdesir ngilu.


Intermezzo : Dito itu salah satu tangan kanannya Arka atau orang kepercayaannya Arka. Dia lulusan salah satu Universitas terbaik di luar Negeri.


Gak main-main, Dito termasuk pegawai dengan IQ cerdas. Dia berkarakter Melankolis-Koleris. Wajah gahar dengan penampilan body six pack nya. Tinggi menjulang seperti bambu. Galah aja sekalian yak 😅


Dito sebenarnya bukan anak yang biasa. Ia mempunyai background keluarga yang cukup terpandang di daerahnya.


Namun, keluarganya tidak menyarankan Dito untuk meneruskan usaha yang keluarganya lakukan.


Justru Bapak dan Ibunya yang tinggal di Semarang menyarankan Dito untuk bekerja di luar usaha Bapak-Ibunya.


Intermezzo close.


"Ejieehh... Lala... wahh... kayaknya Bu Guru kondangan lagi nih? Hahaha..." Ucap Dimas dengan tawa riangnya.


"Mass... kamu tuh seneng banget ngeledekin Bu Guru." Ujar Ina yang menepuk lengan Dimas yang kekar.


"Hahaha... habis lucu, sayang... hahaha..." Tawa Dimas dengan riang.


Lala yang diledek hanya senyum-senyum dengan semu merah di pipi chubby nya.

__ADS_1


Saat mereka sedang berbincang, terdengar dering telepon Lala yang tertera di layarnya "Raffa" (Muhammad Raffasya Aditya) adik Lala.


"Mba Anna, Mba Ina, Lala pulang duluan ya. Sudah dijemput." Ujar Lala.


"Oh, iya, La. See you next week..." Ujar Anna.


"Bye, Lala... semangat buat ngerjain rapornya. Hahaha..." Ucap Ina.


"Itu harus. Deadline buukk... hahaha... yaudah aku duluan ya... Pak Dimas, Om Abi, semua, marii... saya duluan." Ucap Lala berpamitan kepada semua.


"Dek, temen ngajar kamu yang waktu itu pernah kamu ceritain independent woman ada atau gak ada bapaknya, itu Lala bukan?" Tanya Abi kepada Anna.


"Iya, Mas. Karena Lala itu tulang punggung keluarga. Ayahnya meninggal 2 tahun lalu kalau gak salah, ya Mba Ina?" Terang Anna.


"Iya, Bi. Lala tuh anaknya mandiri banget. Setahun yang lalu dong, An... kan belum lama kayaknya deh. Lala lucu tau anaknya... hahaha..." Ucap Ina.


"Meninggalnya kenapa Bu Anna, Bu Ina?" Tanya Dito yang sejak tadi baru buku suara.


"Kecelakaan mobil. Tabrakan kalau gak salah. Waktu perjalanan dari luar kota. Karena pengen banget datang dan hadir di wisuda S2 nya Lala waktu itu." Terang Ina.


"Sedih banget. Orang besok pagi Lala wisuda, malamnya dia dapet kabar, Ayahnya kecelakaan dan meninggal." Jelas Anna.


"Ibunya masih ada?" Tanya Dito.


"Masih. Ibunya baik banget deh. Seru ngobrol sama Ibunya Lala mah. Lupa waktu kadang-kadang. Hahaha..." Ucap Ina.


"Berarti Lala cuma tinggal bertiga aja dirumahnya?" Tanya Dito.


"Iya. Lala, Ibunya, sama adeknya Raffa." Ucap Anna.


"Ibunya kerja Bu An?" Dito masih penasaran. Nanya terus kayak tukang ojek 😆.


"Kalau gak salah katering gitu deh." Jelas Anna.


"Ohh... berarti fulltime di rumah ya?" Tanya Dito lagi.


"Iya. Lala aja yang kerja. Dia juga masih biayain adeknya Raffa." Ucap Ina.


"Tapi Raffa udah mau lulus dia. Eh, apa udah lulus ya? Lupa. Haha... kayaknya sih udah lulus. Tapi lagi nyari kerja. Apa gimana ya, aku gak begitu jelas." Terang Anna.


"Oh... gitu. Emang adeknya kuliahnya jurusan apa, Bu Anna?" Tanya Dito, again !!


"Kuliah jurusan apa ya? Pokoknya Lala pernah cerita, kalau adeknya kerja dirumah aja dapet duit. Apa sih namanya? Programmer ya? Kalau gak salah sih itu." Terang Anna.


"Programmer, dek?!" Tanya Abi yang mengagetkan Anna dan teman-teman lainnya.


"Iya, sayangg... kamu ngagetin aja deh." Ujar Anna dengan mengelus dadanya.


"Maaf sayang. Mas Abi kelewat semangat. Hahahaha..." Abimanyu.


"An, bisa kali tanyain ke Lala adeknya gimana itu. Kita lagi nyari orang buat project baru kita." Ucap Arka.


"Emang kakak ipar sama adek ipar diizinkan satu kantor, Bi? Hahaha..." Tanya Dimas dengan tawanya.


"Waahh... Pak Dimas, kalau bercanda kadang suka bener nih. Hahaha..." Ujar Dito dengan tawa membahanannya.


"Udah, To. Kalau emang mau nyari yang serius, Lala tuh perempuannya. Kakak ipar-adik ipar satu kantor gak masalah dah. Yang penting profesional. Hahaha..." Jelas Abi dengan tawa riangnya.


"Yee... gak bisa juga Pak saya langsung nikahin. Kan harus kenal sama keluarganya dulu." Ucap Dito.


"Pacaran maksud lo, To?" Tanya Abi.


"Ya gak harus pacaran juga. Minimal kenal dulu sama Lala dan keluarganya." Jelas Dito.


"Kalau gue sih, tidak menyarankan pacaran ya To. Gue lebih suka kenal terus langsung nikah. Diistikharahin tapi..." Ujar Arka.


"Iya, bener tuh, To. Lagian pacaran mah buang-buang duit, buang-buang waktu juga. Kalau jadi dan sampai ke pelaminan. Kalau enggak, gimana? Rugi bandar dong. Hahaha..." Terang Dimas.


"Lagipula, To. Lala itu udah gak pengen pacaran-pacaran. Dia nyari yang serius. Lala pernah cerita kalau dia pengennya langsung menikah. Yang serius. Gak pengen yang main-main lagi." Jelas Ina.


"Iya, ya Mba Ina. Lala tuh pengennya kalau emang suka dan serius, langsung aja ketemu orangtuanya. Tapi setiap ada laki-laki yang deketin dia, pasti ngajak pacaran dulu. Lalanya gak mau. Hahaha..." Terang Anna.


"Dito, kalau memang kamu cari yang serius, Lala benar orangnya. Tapiii... kalau hanya sekedar untuk main-main, silahkan cari yang lain." Ujar Ina menjelaskan.


"Kalau Dito mau sama Anna dalam arti kata serius ke jenjang pernikahan. Insya Allah, aku sama Mba Ina bantu. Tapiii kalau hanya sekedarnya saja, mohon maaf, silahkan berjuang sendiri. Karena apa, Mba Ina?" Terang Anna.


"Karena Lala terlalu berharga untuk disia-siakan begitu saja. Walaupun kalau ngomong kadang gak pake di ayak. Hahaha... tapi doi anaknya baik. Baiknya pake banget. Hehehe..." Ucap Ina.


"To, yang beneran laki itu berani ngajak perempuan untuk serius ke jenjang pernikahan. Itu baru laki. Terima apapun yang terjadi. Bertanggung jawab. Gue dukung penuh lo kok, To. Kalau emang lo serius." Ujar Abi.


"Pak Abi kok bisa yakin gitu? Emang udah pernah ketemu Lala?" Tanya Dito.


"Udah. Dan sering dapat cerita dari Anna kalau Lala itu baik banget. Orangnya gak neko-neko. Supporter terdepan deh gue kalo lo mau serius langsung nikah sama dia. Hahaha..." Ujar Abi.


"Tapi kan saya belum kenal banget sama Lala Pak. Terus saya juga gak tau Lala gimana sama saya. Suka atau enggaknya sama saya." Ucap Dito.


"To, yang namanya hati lo gak akan pernah tau. Yang mampu membolak-balikkan hati hambanya itu cuma Allah. Dekati pemilik hatinya. Gue juga awalnya sama istri gue biasa aja. Tapi pas menjelang pernikahan, Masya Allah... langsung dibikin cinta gue sama istri gue." Ujar Arka.


"Tumben Arka bener. Biasanya gesrek otaknya. Hahaha..." Ujar Dimas.


"To, gue, Abi, sama Arka itu menikah tanpa tau calon istri kita siapa lho. Kita menikah dengan pilihan orangtua kita. Dan apa hasilnya? Lo bisa lihat sendiri kami seperti apa." Ujar Dimas.


"Gue, tau banget karakter guru-guru di sekolah gue seperti apa, To." Lanjut Dimas.


"Kalau saya serius, kalian semua mau bantu? Beneran?" Tanya Dito dengan wajah bersungguh-sungguh.


"Pasti. 100% kita support." Jawab Abi.


"Aku sama Anna bantu dari pihak Lala ya..." Ujar Ina yang senang betul dia.

__ADS_1


*****


__ADS_2