
SEKOLAH BUMI PERTIWI
"Mba Annaaaa... berita macam apa lagi ini? Hah?!!" Ucap Bu Kepsek yang cukup lantang kepada Anna.
"Tadi pagi kita baru denger pengakuan dari Mba Ina dan Pak Dimas kalau mereka adalah suami-istri. Sekarang Mba Anna dianterin ponsel dengan banyak makanan ringan dan dianterinnya sama suaminya?? Apa-apaan ini? Menikah tanpa kami diberitahu? Kalian berdua memang benar-benar!" Ujar Bu Kepsek yang masih setia dengan celotehannya.
"Bu Maya, saya minta maaf Bu. Kalau berita ini akan sampai sebelum saya menyampaikan. Saya membenarkan bahwa status saya sekarang adalah seorang istri. Saya sudah menikah Bu. Saat liburan sekolah kemarin. Karena saya tau kalian pasti sibuk dengan keluarga kalian, makanya saya belum berani bicara. Saya memang akan memberitahu ketika mulai masuk mengajar." Jelas Anna kepada Bu Kepsek, Bu Guru dan lain-lainnya.
Anna menceritakan awal pertemuannya dengan Abi hingga pernikahannya saat ini. Banyak sekali omongan yang membuat telinga dan hati Anna sakit.
Tapi Anna tau, bahwa sebenarnya mereka hanya bergurau. Di sekolah ini memang gak boleh ucapannya di masukin hati. Karena kalau di masukkin hati bikin BAPER. 😂
Seharian itu pembahasannya hanya tentang Ina dan Anna yang menikah ketika libur sekolah.
"Tuh, Mba Lala, orang mah kayak Mba Ina sama Mba Anna. Diam-diam nikah. Gak pake ngumbar-ngumbar taaruf. Tuh, mereka juga macem taaruf, di jodohin langsung jadi." Ucap Bu Vita bagian administrasi sekolah.
"Iya, tenang aja Mba Vita. Aku gak mau nikah buru-buru. Takutnya nanti kalau buru-buru malah kayak dirimu. Udahan disaat masih sayang. Hahaha..." Ujar Lala yang sambil memakan buah strawberynya.
"Jiaahh... hahahaha... dalem. Tenggelamkan saja dirimu." Jawab Cindy diikuti tawa oleh guru-guru lain.
"Eh, Cind, aku gak apa-apa deh divorce sama suami. Tapi udah pernah ngerasain nikah. Nah, dirimu? Belum ngerasain nikah tapi udah jatuh sakit sesakit sakitnya. Melihat orang yang kita sayangi menikahm dengan orang lain. Hahaha..." Ucap Vita dengan tawanya dan membuat orang disekitarnya tertawa berbarengan.
Sebenarnya tidak ada maksud untuk mem-bully. Namun, terdengarnya seperti itu. Kalau belum kenal sepenuhnya pasti cembetut mendengar omongannya Bu Guru.
"Kalau Mba Ina sama Pak Dimas kan resepsinya sabtu depan. Di mana deh?" Tanya Bu Putri.
"Di daerah Jakarta Barat. Garden party gitu ya kan, Mba Ina?" Tanya Vita ke Ina. Ina hanya senyum-senyum saja.
"Kalau Mba Anna di mana nih?" Tanya Bu Putri ke Anna.
"Insyallah, segera dikabarkan ya... hehehe..." Ujar Anna dengan senyum sumringahnya.
"Minimal kita dikenalin dong Mba Anna sama suaminya. Masa cuma dapet ceritanya doang." Ucap Cindy dengan mencibikkan bibirnya.
"Hahaha... iya, insyallah. Kapan-kapan ketemu ya." Jawab Anna dengan tawa candanya.
"Kapannya kapan nih Mba An?" Tanya Lala dengan senyum jahilnya.
"Lo nanya apaan sih La? Gak nyambung cumii." Ucap Cindy.
"Yee... situ aja kali yang otaknya gak respon. Buktinya yang lain paham. Iya kan?" Tanya Lala meyakinkan yang lain dan Cindy hanya terdiam tak berkomentar.
"Udah, udah. Kok jadi kalian yang heboh. Mba Anna, kali ini resepsi kami di undanga ya... kalau sampai kami tidak di undang juga, kebangetan!" Ujar Bu Maya.
"Hahaha... iya Bu Maya. Pasti di undang kok." Jawab Anna dengan khas cengiran kudanya.
Kalau sudah menjadi topik bahasan seperti ink, rasanya ingin sekali ia bertemu Abi dan memeluknya. Anna rindu Abi.
Pkl. 15:45
Anna menelepon Abi.
Tut... tut... tut...
*Author: Ini suara telepon ya guysss... bukan kereta. Anggaplah seperti itu 😆
Anna mencoba 3x telepon Abi, namun tidak diangkat. Mungkin sedang meeting, pikir Anna.
"Mas Abi, masih di kantorkah? Jemput Anna bisakah? " Isi pesan singkat Anna ke Abi.
Anna menunggu sampai jam 16:30.
Ponsel Anna berdering. Tertera di layar ponselnya "My Husband".
"Mba Annaaa... ada telepon tuh. My Husband katanya. Hahaha..." Panggil Lala.
Lala menghampiri Anna yang sedang melipat mukena setelah sholat ashar.
"Mba An, ponsel dirimu bunyi tuh. Ada telepon dari My Husband. Ejieehh... asik asik jos." Ujar Lala diikuti tawa riang oleh guru-guru.
__ADS_1
Anna tidak menghiraukan mereka dan langsung mengangkat teleponnya.
"Assalamualaikum, Mas." Sapa Anna.
"Waalaikumsam, dek. Kamu masih di sekolah? Maaf ya... Mas Abi tadi lagi meeting sama Arka. Ponselnya tadi lowbet jadi Mas taro di meja sambil nge-charge." Jelas Abi kepada Anna.
"Iya Mas, gak apa. Mas pulang malam hari ini?" Tanya Anna yang mengambil buah anggur dan langsung masuk ke mulut Lala.
Tadinya mau dimakan sama Anna tapi malah dicaplok sama si kupret Lala. Benar-benar memang anak itu. Sopan banget sama orangtua.
"Enggak kok, dek. Mas jemput adek di sekolah? Jam berapa?" Tanyanya begitu semangat.
"Anna baru keluar jam 5'an. Mas beneran bjsa jemput?" Tanya Anna.
"Bisa banget. Yaudah, Mas siap-siap dulu deh." Ujarnya.
Bu Maya memberikan kode telunjuknya ke ponsel Anna untuk mengizinkannya berbicara dengan Abi.
"Mas, Bu Maya Kepsek, mau ngobrol sama Mas Abi. Boleh?" Tanya Anna dengan suara lembut.
"Hahaha... kenapa dek? Kamu udah masuk berita di lambe-lambe ya?" Tanya Abi dengan candanya.
"Iya nih... Mas. Aku udah jadi artis seharian. Banyak paparazi. Hahaha..." Anna tertawa riang sekali.
Bu Maya mencolek lengan Anna, tanda ia tak sabar ingin berbicara dengan Abi.
"Mas, ini Bu Maya ya..." Ujar Anna.
"Iya. Sini mana, Mas Abi juga mau ngobrol. Kasih aja dek, ponselnya." Ucap Abi kepada Anna.
"Assalamualaikum, Pak Abi." Sapa Bu Maya ramah.
"Waalaikumsalam, Bu Maya." Jawab Abi di loudspeaker ponsel Anna.
"Pak Abi, ini saya tadi pagi habis sidang istrinya Pak Abi nih. Namanya Mba Anna. Betul itu istri bapak?" Tanya Bu Maya dengan nada yang sok-sok dibuat arogan.
Karena ia sebenarnya sudah tau kalau Anna pasti dapat banyak pertanyaan dari teman-teman mengajarnya.
"Pak Abi, bisa di jelaskan kenapa bisa menikah tanpa memberitahu kami? Apakah kami orang-orang yang tidak penting?" Tanya Bu Maya yang masih dengan nada sok-sok arogannya. Aneh sih dengernya, tapi lucu. Membuat Bu Guru tertawa lirih, cekikikan.
"Bu Maya sudah mendapatkan cerita yang Bu Maya inginkan dari istri saya bukan? Cerita saya dan istri saya pasti sama." Ucap Abi dengan sopan tapi tegas.
Belum sempat Bu Maya melanjutkan pembicarannya, Pak Dimas yang sejak tadi hanya diam tak bergeming. Sekarang ia justru mengambil ponsel Anna dan berbicara dengan Abi.
"Bi, ini gue Dimas." Ucap Dimas dengan lantang.
"Oi, Dim." Jawab Abi singkat.
"Lo di mana? Mau ke sekolah gak? Udah lama kita gak ketemu dan ngobrol". Mampirlah ke sekolah guw yang ecek edut ini." Ujar Dimas.
"Ecek edut tapi isinya anak artis semua. Huuu... gabus goreng luh. Hahaha..." Ucap Abi guraunya kepada Dimas. Mereka adalah teman satu kampus saat kuliah di New York.
"Hahaha... sompret. Gak sekalian ikan teri." Jawab Dimas yang senang sekali bercakap dengan Abi.
Saking asyiknya mereka bercakap, mereka tidak sadar bahwa banyak pasang mata yang melihat mereka heran. Kok bisa Pak Abi dan Pak Dimas kenal? Batin mereka.
Tak terasa Dimas dan Abi bercakap hingga 20 menit lebih. Setelah itu, Dimas memberikan ponselnya kepada Anna.
"Hallo, Mas Abi?" Tanya Anna.
"Iya, sayang. Mas jemput sekarang ya. Kelamaan ngobrol sama Dimas, jadi lupa mau jalan jemput kamu. Haha..." Ucapnya begitu senang.
"Hahaha... kamu tuh Mas. Gak panas apa telinganya? Yasudah, Anna tunggu di sekolah ya. Hati-hati ya Mas." Ujar Anna.
"Okey. Siap 'Ndan!! Hehee..." Ucap Abi yang diakhiri percakapan via telepon tersebut.
Anna, Bu Kepsek, dan Bu Guru yang lain sedang menunggu jemputan di lobby.
Tak lama Abi pun datang dengan mobil Range Rover Sport Black nya. Ia mengenakan pakaian yang casual. Jaket denim, t-shirt putih, celana jeans, sepatu kets, rambut kuncir cepol.
__ADS_1
Bu Guru yang berada di lobby, sontak terheran-heran melihat Abi berdandan yang sporty seperti itu.
"Assalamualikum... semua." Sapa Abi yang berjalan masuk ke lobby.
"Waalaikumsalam..." Jawab Bu Guru serempak.
"Mba An, pantesan nikahnya gak ngomong-ngomong. Orang lakinya ganteng bener, ya diumpetin lah." Ucap Lala yang asal ucap saja.
Ucapan Lala sontak membuat semua yang ada di sana tertawa terbahak-bahak.
Abi hanya menangkupkan kedua tangannya. Tanda ia tidak ingin bersentuhan dengan teman-teman Anna. Alasannya ada dua. Satu, bukan makhramnya. Dua, karena PTSD nya.
"Waduuhh... penampilan sporty, kece, agamis ya... Masya Allah... nemu di mana An?" Tanya Bu Maya kepada Anna.
"Di hati saya, Buk." Jawaban Anna membuat semuanya tertawa termasuk Abi.
Pak Dimas keluar bersama dengan Bu Dimas. Eh, Bu Ina maksudnya. Hehehe...
"Abiii..." Sapa Dimas seraya memeluk dan menepuk keras punggung Abi. Lalu salam highfive nya.
"Apa kabar, Bi?" Tanya Dimas.
"Alhamdulillah, baik. Lo makin berisi, Dim?" Tanya Abi.
"Iyalah. Susunya cocok." Jawab Dimas asal yang membuat para staff nya tertawa. Ina hanya senyum-senyum saja mendengar candaan suaminya.
"Gak berubah lo. Masih aja somplak. Hahaha..." Ujar Abi dengan tawa manisnya.
"Hahaha... yaa... gitu lah. Eh, kemaren gue ketemu sama Aldi. Lo udah ketemu sama dia belum?" Tanya Dimas.
"Belum sempet gue. Padahal doi kerja di RS tempat Om gue. Hahaha..." Ujarnya.
"Kumpulah, sabtu depan gue resepsi. Harus dateng pokoknya. Gue undang temen-temen yang lain." Ujar Dimas.
"Insyallah. Infoin aja ke istri gue. Nanti pasti sampe ke gue." Ujar Abi.
"Siplah." Dimas menutup percakapan mereka karena hari sudah mulai gelap.
Semuanya pulang dengan dijemput oleh suaminya ada juga yang pulang dijemput kendaraan online. Kan belum punya pasangan... hehehe... 😁
*****
Sepanjang jalan di mobil, Abi terus menerus melihat Anna. Anna yang dilihat Abi seperti itu jadi gemas dengan suaminya.
"Kenapa Mas? Kok ngeliatan Anna terus?" Tanya Anna yang sedang sibuk mengupas buah jeruk yang dibelinya di supermarket tadi.
"Kangen sama, adek." Jawab Abi tenang tapi membuat hati Anna berdenyut kencang.
"Makasih lho... udah di kangenin. Kalau dicintai masih gak?" Tanyanya sambil tertawa riang.
Membuat Abi mencubit gemas pipi Anna.
"Pokoknya ntar malem harus jadi. Semua asisten rumah tangga Mas suruh jalan-jalan sampe hari Minggu baru pulang." Ucap Abi yang sudah tak bisa lagi membendung hasrat cintanya kepada sang istri.
"Silahkan. Nanti Anna ikut pergi ya. Hahaha..." Ujar Anna yang senang sekali membuat suaminya gemas sama dia.
"Jangan pergi dong, dek. Aku akan buat kamu jatuh cinta setiap hari sama aku. Supaya gak pergi-pergi. Aku ikat kamu sama cintanya aku ya." Ucap Abi dengan mata berbinar.
"Gak usah dibuat jatuh cinta, hati ini sudah memilih mencintaimu, Mas." Jawab Anna singkat. Membuat Abi semakin mencintainya.
*****
hai, jarak
terima kasih telah mengajarkanku
tentang arti rindu
*****
__ADS_1