Sajak Rindu

Sajak Rindu
CHAPTER 10: TERKEJUT


__ADS_3

Anna sudah bersiap untuk pergi. Ia mengenakan longdress navy dengan jilbab panjang sedada. Anna mencoba menelpon Abi, namun tidak ada jawaban. Tidak diangkat. Mungkin masih meeting, pikir Anna. Anna mengirimkan pesan singkat ke Abi.


"Mas Anna berangkat sekarang. Ke Mall xxx mau ketemu sama Mba Ina. Temen Anna mengajar di sekolah. Mas masih meeting ya?"


Pesan terkirim ke My Husband


Anna memesan caroline (car online) dan menuju ke Mall untuk bertemu dengan Mba Ina.


Intermezzo dikit: Mba Ina adalah salah satu partner ngajar Anna di sekolah yang cukup dekat. Mereka sudah dipartnerkan selama kurang lebih 4 tahun. Deket kan tuh. Mba Ina ini sosok yang sangat cerdas, profesional dalam bekerja, cekatan, orang tercuek kedua setelah Anna. Sosok perempuan yang lemah lembut, tapi gak baperan, dan kuat. Strong woman bangetlah pokoknya. Hampir mirip seperti Anna.


Mereka bertemu di toko buku. Mba Ina dengan penampilan muslimahnya. Longdress salem dan jilbab panjang sedada.


"Assalamualaikum, Bu Haji...?" Canda Anna. Anna memang senang sekali bercanda dengan Ina. Nama mereka aja mirip. Anna dan Ina.


"Eehh... waalaikumsalam, Mbaknyaa..." Jawab Ina dengan senyum sumringahnya.


"Apa kabar, Mbae? Long time no see. Hahaha..." Ucap Anna ke Ina.


"I'm fine thanks. Udah segitu aja gue bisanya. Hahaha..." Canda Mba Ina.


"Kamu sendiri apa kabar? Lama gak nongol di group. Terus itu jidat kenapa lagi?" Tanya Ina kepada Anna.


"Alhamdulillah, baik Mba Ina. Dirimu juga. Kalau gak dipanggil, gak nyaut. Hahaha... Biasaa... jidat lagi kangen sama aspal. Hehehe..." Ucap Anna dengan tawanya.


Anna sama Ina itu samanya. Mereka kalau di sekolah, dibilang orang yang cuek banget, kalau tidak ada hubungannya dengan mereka, beneran yang cuek. Tapiii... semenjak Bu Kepsek mengarahkan, mereka mulai peduli dengan lingkungan sekitarnya.


"Di group heboh apaan deh? Udah ada 1000 pesan aja. Aku gak engeh. Udah kebanyakan, males baca. Hahaha..." Ujar Anna dengan tawa tanpa rasa bersalah.


"Itu mereka lagi ngomongin soal kegiatan guru-guru nanti. Jalan-jalan itu lho... An..." Jelas Mba Ina kepada Anna yang sejak tadi sibuk melihat buku cerita anak tentang Ilmu Pengetahuan.


"Hoohh... yang jalan-jalan kayak waktu kita ke Yogya itu ya?" Ujar Anna.


"Iya. Pake nginep gitu. Kan PIC nya Mba Lala. Jadi doi yg ngurusin semua." Terang Ina.


"Ohh... emang udah ada pembagian PICnya? Perasaan baru di fieldtrip kecil, besar, sama Pensi. Iya gak sih?" Tanya Anna yang tidak begitu yakin dengan ingatannya.


"Yeee... ketauan banget gak up to date, hahaha... kan semua infonya di group, eceuu..." Ujar Ina yang gemes banget sama partner nya ini.


"Ahahaha... dirimu kan tau Mbae, aku orangnya kudet sama info-info begitu. Jadi, PIC untuk fieldtrip jalan-jalan, Mba Lala. Ada info lagi gak Mbae?" Tanya Anna yang masih berkutat dengan buku cerita.


"Iya, paham banget gue sama lo. An___" Belum sempat Ina bicara, ponsel Anna berdering. Di layar ponsel tertera nama "My Husband". Sontak membuat Ina terkejut. Ada yang belum Anna ceritakan kepada Ina.


"Assalamualaikum, Mas" Ucap Anna.


"Waalaikumsalam. Dek, maaf, tadi aku masih meeting. Kamu di mana?" Tanya Abi di sebrang sana yang terdengar sangat riuh.


"Udah di toko buku kok. Mas Abi lagi di mana? Kok rame banget?" Tanya Anna yang mendengar cukup bising.


"Iya. Mas lagi di luar dek. Sebentar, Mas pindah dulu. Maaf ya, dek. Tadi lagi di restaurant. Baru selesai pertemuannya. Adek sudah makan siang belum?" Ucap Abi dengan berbondong-bondong pertanyaan.


"Anna sebentar lagi makan kok Mas. Mas Abi pulang malam hari ini?" Tanya Anna.


"Mas usahain enggak. Kepalanya masih sakit, dek?" Tanya Abi yang khawatir dengan kondisi istrinya.


"Enggak kok. Udah ndak apa." Jawab Anna.


Anna mendengar bahwa Abi sedang dipanggil oleh salah satu pegawainya.


"Udah, Mas lanjutin dulu kerjanya. Ngobrolnya bisa kita lanjutin lagi nanti." Ucap Anna dengan nada agak kecewa. Karena entah mengapa, ia begitu rindu dengan suaminya.


"Adek, pulang jam berapa? Biar Mas Abi jemput." Ujarnya


"Sore mungkin Mas. Makasih tawarannya, sayang... tapi gak usah gak apa kok. Nanti Anna bisa bareng sama Mba Ina." Ujar Anna dengan senyum.


"Kabarin Mas Abi pokoknya kalau sudah selesai ya. Dek, Mas rindu sekali sama kamu." Ucap Abi kepada Anna.


"Harus rindu dong. Jangan lupa selalu mencintaiku, ya... hehehe..." Ucap Anna yang membuat orang disebrang sana makin merindu padanya.


"Itu sih gak pernah lupa. Setiap detik juga selalu jatuh cinta sama kamu, dek. Hahaha..." Jawab Abi dengan candanya.


"Yaudah, Mas Abi lanjutin deh kerjanya. Nanti lagi disambung. Okey. I love you, Mas Abi." Ucap Anna dengan berbisik. Takut ada yang dengar.


"I'm always love you, honey. Miss you. Assalamualaikum, sayang..." Ucap Abi.

__ADS_1


"Miss you too. Waalaikumsalam, Mas." Ujar Anna dan sambungan telepon pun ditutup.


Ina yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka, langsung menginterogasi Anna.


"Maaf, Mba Ina... belum sempet cerita..." Ucap Anna dengan wajah tertunduk merasa bersalah.


"Ndak apa, An. Masih banyak waktu buat dengerin ceritamu kok. Malah mungkin aku juga sama." Ucapan Ina membuat Anna semakin bingung.


"Mba Ina, dirimu gak marah karena aku gak cerita ke dirimu? Terus maksudnya sama apa?" Tanya Anna bingung.


"Kita cari tempat makan dulu aja ya... biar enak ngobrolnya." Ujar Ina yang menaruh buku cerita anak.


Setelah mencatat judul buku-buku cerita anak tersebut, yang akan digunakan untuk referensi mengajar, mereka keluar toko buku dan mencari tempat untuk makan siang.


Setelah berjalan-jalan dan mencari tempat makan, sampailah mereka di rooftop tempat makan anak zaman Now yang lagi nge-hitz.


"An, mau pesen apa?" Tanya Ina yang sedang asyik membolak-balikan daftar menu makanan.


"Mmm... apa ya? Nasi-ayam geprek kayaknya enak. Pedes-pedes gitu..." Jawab Anna yang memang pedas lovers.


"Ayam rica-rica juga enak An. Eh, ada baso cuanki. Annaaa... ada es teler... Masya Allah... pesen semua aja..." Ucap Ina yang seketika membuat mata Anna terbelalak.


"Astagfirullah... Mbae, situ cukup emang penampungannya? Hahaha... Gini aja kalau enggak, kita pesen beberapa, terus makannya barengan. Icip-icip gitu." Jawab Anna memberikan solusi.


"Jangan sedih, An. Kecil juga badan doang. Penampungan mah luas. Ahahaha... Boleh-boleh An, kita pesan beberapa, terus makannya barengan." Ujar Ina menyetujui ide Anna.


Setelah take order, mereka menunggu sambil berbincang-bincang.


"An, lo cerita deh, kenapa itu di hp bisa ada nama "My Husband" bikin orang histeris aja." Ucap Ina dengan santai.


"Jadi ceritanya..." Anna menjelaskan dari awal pertemuannya dengan Abi hingga ia menikah dan menjadi pasangan suami-istri. (ada di chapter 1-4).


"Ya, Allah. Anna... selamat ya... senang banget denger berita bahagiamu... akhirnya... bye status jomblo ya... say good bye dulu kalii... Hahaha..." Ujarnya dengan tawa riangnya.


"Berarti laki lo orang paling kaya ya An, se Indonesia? Ap se-Amerika? Hahaha... " Candanya ke Anna.


"Biarin dah mau kaya se-Indonesia kek, se-Amerika kek, se-jabodetabek, gak ada hubungannya sama gue. Yang gue nikahin kan orangnya, bukan hartanya." Ujar Anna.


"Buat gue Mba Ina, gue menikah dengan laki-laki yang kaya, mapan, dan tampan, itu bonus dari Allah." Lanjut Anna bercerita.


"Iya bener tuh, An. Harta, mapan, tampan, itu nikmat dunia. Nikmat akhiratnya, suami kita bisa jadi taman syurga buat kita, ya gak? Masya Allah... tausiyah cinta. Hahaha..." Ujar Ina yang masih dengan senyum cengar-cengirnya.


"Sekarang cerita sama gue. Lo nikah sama laki yang mana? Gue gak dikenalin kok. Gak diceritain." Ucap Anna yang sambil bersungut.


"Lo pasti gak akan percaya An. Bakalan terkejut. Karena gue juga gitu. Kok lo tau gue udah nikah sih?" Terang Ina.


"Orang manapun tau, Mbanyaa... kalau dirimu udah nikah. Itu cincin yang melingkar di jarimu ketauan dirimu udah dimilikin sama suamimu. Yeeeii..." Terang Anna ke Ina.


"Hehehe... iya nih. Ini pun perjodohan dari Ibu sama Bapakku Anna dan lagi orangtua dari suamiku waktu itu sedang sakit. Jadi dia mau pernikahannya segera. Bukan pertunangan." Jelas Ina.


"Ohhh... jadi sebelumnya Mba Ina itu mau tunangan dulu? Tapi karena orangtua suaminya Mba Ina waktu itu lagi sakit jadi gak jadi pertunangan jadinya langsung akad?" Ujar Anna.


"Iya. Aku kaget, bingung gak tau harus ngapain. Akhirnya aku ikutin mau Ibu & Bapak. Dan yang lebih bikin shock nya, dirimu tau apa??" Jelas Ina.


"Suamikuu... Anna... Pak Dimas!!" Ucap Ina dengan high tone nya.


"Hah?!! Pak Dimas?? Pak Dimas yang mana??" Tanya Anna bingung dan tidak percaya.


"Dimas Aryastya Hermawan. Boss loooo..., Ya Allah..." Ucap Ina, yang kesal dengan Anna karena koneknya lama.


"Masya Allah... seriusan??? Ya, Allah... Mba Inaaaa... selamaattt yaa... kau sebut nama doi di sepertiga malammu, Mbae?? Hahaha..." Ledek Anna ke Ina.


"Udah puas ngeledeknya? Masih mau diterusin gak ceritanya?" Tanya Ina dengan bersungut.


"Iya, iya. Ampuunnn.." Ucap Anna sambil menangkupkan kedua tangannya di atas kepala.


"Emang waktu dirimu dijodohin, gak lihat orangnya yang mana Mbae?" Tanya Anna penasaran.


"Enggak. Pokoknya waktu aku balik ke Yogya pas liburan kemaren, keluargaku udah sounding bahwa lebaran nanti harus pulang. Karena ada yang mau dikenalin. Aku iya-in dong. Pas udah di Yogya, sampe lebaran ke-6 di sana, orang yang mau dikenalin sama aku gak dateng-dateng kan. Karena mereka bilang lebaran ke-3 atau ke-4 mau ke rumah. Udah, pokoknya disitu aku cuma pasrah deh."


"Terserah Ibu sama Bapakku aja. Terus di hari lebaran ke-7 pagi-pagi, Bapak di telpon katanya harus segera ke RS. Ibu sama Bapak aku bawa naik mobil. Biar cepet lah gitu maksudnya. Pas di mobil, Bapak minta untuk jemput satu orang lagi. Aku bingung deh tuh. Siapa ya? Pikirku. Tapi, yaudah, jalan lagi, jemput orang itu. Terus langsung ke RS."


"Sampe di RS, masuk ruang VVIP. Bapakku bilang, "laki-laki yang terbaring lunglai itu adalah calon mertuamu. Sebentar lagi, calon suamimu datang". Bapakku ngomong gitu."

__ADS_1


"Ndak lama tuh, An. Pintu ruangan terbuka. Aku tau sekali suara Mas Dimas itu seperti apa___" Belum diteruskan Anna menyelanya.


"Eejieeh... Mas Dimas. Mas Dimas tak uuk. Wkwkwk 😆😆." Ledek Anna.


"Terus aja ledekin." Jawab Ina dengan memonyongkan bibirnya.


"Lanjut, lanjut, tapi dari Pak Dimas sama Mba Ina gak ada yang tau sama sekali kalau kalian dijodohkan?" Tanya Anna penasaran. Seperti wartawan saja Anna ini.


"Aku gak tau, An. Aku taunya ya pas udah di RS itu. Mas Dimas buka pintu, masuk sama kakak-kakaknya dan si bapak yang tadi bareng sama aku, ternyata doi penghulu coba. Bapakku emang bener-bener. Sepanjang aku nganterin Bapak sama Ibu ke RS gak ada sedikitpun Bapak atau Ibuku cerita tentang laki-laki yang dijodohkan olehku. Mereka hanya bilang, bahwa aku pasti tidak akan menyesal dan akan sangat mencintainya. Udah gitu doang, clue dari Bapak sama Ibuku."


"Terus, terus, Pak Dimas kaget juga dong kalau dirimu calon istrinya Mbae?" Tanya Anna.


"Enggak. Mas Dimas gak kaget sama sekali. Justru malah langsung menerima perjodohan ini. Tanpa menolak katanya. Curang tuh emang suamiku nyolong start duluan. Hahaha..." Ina tertawa riang.


"Terus akhirnya dirimu akad nikah di RS dong, Mbae?" Anna masih keppooo...


"Iya. Aku ijab-kobul di RS. Mertuaku sudah gak bagus kondisinya. Waktu dibilang ijab kobul habis ashar, aku langsung tanya ke Bapak sama Ibuku. Tapi sudah tidak ada waktu lagi. Akhirnya setelah ashar, aku sama Mas Dimas melangsungkan akad nikah. Prosesnya cepet banget deh, An. Aku sendiri aja sampe sekarang kalau tidur, pas bangun suka kaget, ada seseorang disampingku. Hahaha... lucu, seru, unik, shock terapi, cuma harus tebel muka sama kuping aja pas di sekolah. Kalau enggak mah, bisa baper banget. Hahaha..." Terang Ina dengan jelas.


"Weidihh... Ibu Boss. Asek asek..." Canda Anna kepada Ina.


"Hahaha... Ibu Boss. Biasa aja dong mukanya." Canda Ina.


"Berarti Mba Ina, selama ini tuh feeling Anna bener tentang Pak Dimas yang ada rasa sama dirimu. Iya, gak?" Tanya Anna ke Ina.


"Iya, An. Benar ternyata apa yang kamu bilang. Awalnya aku gak percaya. Feeling mu itu keren. Selalu benar. Tapi, apa kabar Cindy ya? Aku gak enak sama dia. Dari beberapa hari lalu aku udah bahas sama Mas Dimas. Tapi Mas Dimas bilang, tidak usah dipikirkan. Gitu aja." Ujarnya yang agak kecewa raut wajahnya.


"Iya benar. Apa yang dibilang sama Pak Dimas benar. Biarkan saja. Diamkan saja. Tidak perlu dipikirkan. Setuju sama Pak Dimas." Ucap Anna dengan menggebu-gebu.


"Tapi kan tetep aja gak enak, Anna..." Ujar Ina yang masih merasa belum menemukan solusi.


"Terus, Mba Ina maunya apa? Berbagi suami gitu sama Mba Cindy? Enggak kan?" Sahut Anna.


"Nauzubillah, An. Jangan sampai berbagi suami. Aku udah sayang sama Mas Dimas." Jawabnya sambil senyum-senyum. Ahaaii... jatuh cinta doi. hahaha...


"Tapi Pak Dimas tau gak Mbae, kalau dirimu mau jalan sama aku hari ini?" Tanya Anna.


"Tau. Dari semalem juga aku udah cerita. Terus Mas Dimas bilang, iya gak apa boleh. Gitu, yaudah aku langsung chat kamu. Katanya Mas Dimas mau jemput. Tapi kayaknya masih di kantor. Aku bilang gak usah jemput, gak apa. Aku pulang sama Anna nanti. Aku bilang gitu." Terang Ina kepada Anna.


Mereka terus berbincang-bincang hingga suara adzan ashar terdengar. Mereka menuju mushola Mall dan sholat bersama.


Setelah selesai sholat, ponsel Ina berdering. Tertera di layar ponselnya "My Hubby".


" Assalamualaikum." Ucap Ina.


"Waalaikumsalam, sayang." Jawab Dimas.


"Kamu masih cari buku sama Anna?" Tanya Dimas lagi.


"Sudah selesai kok, ini baru selesai sholat ashar. Mas Dimas jadi jemput?" Tanya Ina.


"Iya, jadi kok. Ini baru mau jalan jemput, bisa tunggu dulu?" Tanya Dimas.


"Okey." Jawab Ina.


"See you, sweetheart." Ucap Dimas yang mengakhiri percakapan.


Saat Ina bercakap-cakap dengan suaminya di telpon, Anna sedang mengirim pesan ke Abi.


"Mas Abi, Anna sudah selesai cari buku. Mas Abi jadi jemput Anna? Kalau memang sibuk, tak apa. Anna nanti pulang sendiri saja. Karena Ina dijemput suaminya. Semangat kerjanya, ya suamikuuhh 😘."


Tak lama mereka berjalan-jalan, Ina mendapat pesan, bahwa suaminya sudah menjeputnya. Anna sempat bertemu dan berbincang dengan ledekan-ledekannya ke Pak Boss dan Bu Boss nya itu.


Anna mencoba menelpon Abi beberapa kali, namun tak diangkat. Akhirnya Anna memutuskan untuk naik caroline (car online) untuk menuju apartment.


*****


Disaat kau ingin menyangkal takdir


Takdir itu semakin mendekat


Disaat kau menerima takdir


Kau diuji olehnya

__ADS_1


*****


__ADS_2