Sajak Rindu

Sajak Rindu
CHAPTER 7: SOHIB 2


__ADS_3

DI KANTOR ABI


"Abimanyu! Cerita sekarang!" Ucap Aryo dengan tegas.


*****


"Gue minta maaf sebelumnya sama kalian berdua. Karena kejadian ini benar-benar cepat. Gue sendiri aja kadang masih gak percaya kalau gue punya istri sekarang. Kenalin dulu deh, ini istri gue. Sah, disaksikan keluarga gue. Mama Rani, Papa Adi serta keluarga istri gue. Dek, kenalin, ini teman dekat Mas Abi." Abi memperkenalkan Anna kepada Adit dan Aryo. Mereka pun saling senyum, salaman pun tidak saling bersentuhan.


"Terus maksudnya lo udah akad resepsi nyusul tuh gimana? Mama Rani happy banget lagi ceritanya. Gue yang denger panas banget." Jelas Adit masih merasa kesal.


"Lanjutin, Bi." Sambung Aryo yang sedari tadi menyimak cerita Abi.


Abi menceritakan awal pertemuan Anna dan Abi dari kedua orang yang tidak saling kenal, lalu bertemu di sebuah masjid, sholat berjamaah bareng, kemudian dijodohkan, bertemu, mau resepsi langsung, tapi Anna dan Abi sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing, jadi resepsinya diundur, jadi akad nikah dulu, selesai akad ingin bersalaman sang istri pada suami, suami malah pingsan, cerita PTSD Abi, cerita Abi harus ke kantor dan tinggal di apartment dulu karena rumah sebelumnya masih dalam tahap pengerjaan.


"Gitu deh, ceritanya." Jelas Abi kepada 2 sohibnya tersebut.


"Gilak! Kejadiannya secepat itu. Wah... keren lo, Bi". Ucap Adit yang mengacungkan 2 ibu jarinya.


" Anna, maaf ya, kalau sikap kita tadi gak sopan sama kamu. Kami pikir, kamu perempuan dari mana yang di gandeng Abi. Karena setau kami, Abi paling tidak bisa dekat dengan perempuan." Ujar Aryo dengan penyesalan.


"Iya, Pak Aryo. Ndak apa. Kalau Anna jadi Pak Aryo juga, Anna pasti shock. Apalagi sahabt sendiri." Ucap Anna dengan senyumnya.


"Bi, beruntung banget lo, ketemu istri cantik macem Anna. Untung Anna gak minta mundur waktu Abi pingsan. Jodoh, ya... " Ucap Adit dengan menyilangkan kedua tangannya.


"Ok, mungkin akad nikah kita gak dateng. Tapi kalau sampai resepsi juga lo gak ngasih tau, lo, gue, END!" Ucap Aryo dengan sengit.


"Hahaha... iya, iya. Pasti ada lo berdua." Jawab Abi dengan tawa candanya.


"Terus lo ke kantor hari ini ngapain?" Tanya Adit heran. Karena biasanya Abi paling anti dateng ke kantor weekend.


"Gue cuma mau naro berkas aja. Lagipula, gw juga harus cepet balik ke apartment." Jelas Abi kepada Adit dan Aryo.


"Berarti Anna udah tau tentang PTSDnya Abi?" Tanya Aryo kepada Anna yang sedari tadi hanya menjadi penyimak obrolan mereka.


"Sudah Pak, Aryo." Jawab Anna singkat dengan senyumnya.


"Jangan manggil Pak, dongg... tua banget kita." Sahut Adit.


"Lah, emang lo udah tua." Sambung Arka yang baru saja datang dan sepertinya sudah mengetahui semua pembicaraan mereka.


"Wiidihh... Big Boss ke 2. Arkaaa... what's up broo?" Sambut Adit dengan menepuk pundak Arka.


"Hai, Anna, saya Arka. Sekertaris pribadinya Abi. Temen dari orok. Cuma kita beda habitat aja. Hahaha..." Ujar Arka yang tersenyum ramah dan sopan kepada Anna.


Abi, Arka, Adit, dan Aryo itu teman sejak SMA. Mereka disebut A4. Seperti ukuran kertas ya... 😆


Ketika masa-masa sekolahnya, mereka cukup terkenal. Bukan cukup malah. Tapi sangat. Teramat sangat terkenal. Terkenal paling sering bikin patah hati wanita (Abi). Terkenal karena jago main basket (Adit). Terkenal karena jago sepak bola (Aryo). Terkenal karena jago ilmu hitung (Arka). Mereka hebat dalam bidanya masing-masing. Tetep aja dari semuanya yang paling arogan Abi.


"Eh, Bi. Lupa gue mau ngasih tau lo. Ada reunian SMA. Acaranya di hotel daerah Jakarta. Ikutan lah yuk, udah lama juga kan kita gak ketemu. Ajak Anna aja." Ucap Arka dengan santainya.


"Iya. Ada Maya juga, Bi. Yak naksir berat sama lo. Dari dulu, sampe sekarang. Wkwkwk..." Ledek Adit kepada Abi.


"Yoi, tapi Abinya gak mendekat sama sekali, ngejauh, iya. Hahaha..." Sahut Aryo.


"Tapi si Maya itu emang beneran cinta mati sama lo, Bi. Sampe kemaren aja masih tuh gue lihat di group chat kalau dia mau datang, kalau lo datang. Kan gilaaa... Hahaha..." Ujar Arka dengan tawa hebohnya.


"Ikutan, Bi. Setidaknya hanya bertegur sapa." Ucap Aryo.


"Iya. Ajak Anna aja. Lo kan tenangnya kalau ada Anna aja. Kalau gak ada Anna, kayak orang kesetanan, kalau gak kayak gitu, pingsan. Bisaan banget tuh si Abi. Hahaha..." Ujar Adit masih dengan ledekannya ke Abi.


Abi yang sejak tadi hanya diam, ia hanya berucap kepada Anna.


"Dek, gak usah didengerin." Ucap Abi, yang saat itu menarik Anna untuk beranjak dari obrolan gak jelas sohibnya.

__ADS_1


"Mas Abi, mau kemana?" Tanya Anna dengan lembut.


"Pulang. Ke apartment, sayang... aku capek. Mau istirahat." Ujarnya seraya meninggalkan ruangan dan membawa sling bag Anna.


"Wooiyy... penganten baru. Udah ngebet banget. Gak niat ngajak kita?" Ucap Adit dari ruangan Abi.


Abi yang saat itu melewati sofa ruang tunggu CEO, segera saja melempar cushion ke Adit seperti lempar lembing. Sakit itu kayaknya. Adit sampai meringis kesakitan. Lagian sih, macan dibangunin. 😆


Ketika di lift, Anna melingkarkan tangannya di lengan Abi.


"Mas, temen-temenku mau ajak ketemuan hari ini... bolehkah?" Tanya Anna dengan manja kepada Abi.


"Di mana dek? Jam berapa mau ketemunya?" Tanya Abi dengan mengelus lembut kepala Anna dan mengecup sekilas ubun-ubun Anna.


"Di cafe xxx, jam 7 malam. Kayaknya aku juga bakalan disidang sama mereka. Hehehe..." Ucap Anna sambil tertawa riang.


"Perasaan kita gak punya salah ya, dek. Tapi kenapa dapet surat panggilan mulu. Hahaa..." Jawab Abi dengan tawa riangnya.


"Aku soalnya di group gak muncul-muncul. Terus sekalinya muncul, bilang kalau udah punya suami. Sekarang kalau mau kumpul, izin dulu. Eehh... rame langsung satu group. Hhh..." Jelas Anna yang saat itu melingkarkan tangannya di pinggang Abi.


"Hahaha... samanya kayak sahabat-sahabat Mas Abi. Berarti mereka care sama kita, dek. Yasudah, nanti Mas anter ya. Mau di temenin apa ditinggal aja sama temen-temen, biar ada privacy mungkin." Tanya Abi memberikan pilihan kepada Anna.


"Temeniinn..." Ujar Anna dengan manjanya sambil memeluk Abi.


Abi senang sekali dengan sikap manjanya Anna seperti ini dan yang paling lucu saat ia bermanja ria dengan Anna, ia selalu memonyongkan bibirnya. Menggugah hasrat Abi ya...


Abi pun melajukan mobilnya ke apartment. Ketika mereka sampai, Anna sudah tau bahwa ini bukanlah apartement murah. Dari dekorasi apartementnya saja sudah mewah. Apalagi dalamnya. Ckckck...


Lift semakin naik ke lantai 15, 20, 25, dan...


Ting tong...


Pintu lift terbuka dan sampai di lantai 30. Ini lantai gak ada yang lebih tinggi lagi? Gak kira-kira 😅


Anna memasuki ruangan yang luas dan hanya dibatasi dengan partisi-partisi modern. Abi segera membawa tas Anna ke dalam ruang ganti pakaian.


Anna mengikuti langkah kaki Abi. Abi masuk ke dalam kamar utama. Kamar tidur mereka berdua yang dengan warna monokromnya membuat tenang...


"Annaaa... sayang, kok kamu melamun terus dari tadi? Kenapa?" Tanya Abi dengan lembutnya.


"Gak melamun kok Mas. Anna takjub buat ini semua. Hehehe..." Jawab Anna dengan polos dan dianggukan oleh Abi.


Abi menjelaskan setiap sudut ruangan apartement nya.


"Dapurnya, Mas?" Tanya Anna mulai memasuki dapur. Perutnya sudah memanggil-manggil untuk makan.


Abi menjelaskan semua letak perlengkapan dapur. Ia juga sudah meminta tukang bersih-bersih untuk membeli beberapa sayuran untuk disimpan dan dimasak sebagian di lemari es.


Anna yang saat itu sibuk memasak, tetiba Abi datang menghampiri Anna di dapur dan memeluknya dari belakang.


"Maass... Anna lagi masak, ini." Ucap Anna.


"Tau. Yang bilang kamu lagi mandi, emang siapa?" Tanya Abi dengan candanya.


"Hahaha... dasar, Maskuuhh..." Ujar Anna sambil memencet hidung Abi.


Anna meminta Abi untuk menyiapkan perlengkapan makan. Kalau tidak dimintai tolong seperti itu, Abi tak akan melepaskan pelukannya. Pikir Anna.


Selesai memasak, mereka makan berdua. Anna menyiapkan dan mengambil makanan untuk Abi.


"Dek, kalau misalnya, temenku juga ikut boleh?" Tanya Abi kepada Anna. Ia tahu bahwa teman-temannya itu biang rusuh. Jadi Abi minta izin dulu ke Anna.


"Kalau Anna gak apa, Mas. Tapi temen-temen Anna, gak apa, gak ya? Coba nanti Anna tanyain ya..." Sahut Anna.

__ADS_1


Setelah makan, mata Anna begitu mengantuk hingga ia tertidur di pangkuan Abi, yang saat itu Abi sedang membaca beberapa laporan perusahaan dan Anna sedang membaca buku.


Abi yang melihat istrinya tertidur pulas, segera membaringkan Anna di kasur dan tidur bersama disamping Anna.


Abi merasa bahwa ia tidak pernah kambuh selama dekat dengan istrinya. Bahkan traumanya hampir tidak pernah muncul dan ia sekarang lebih tenang beban hatinya. Semoga PTSDnya segera menghilang dengan adanya Anna.


Anna bangun terlebih dahulu ketika mendengar adzan ashar. Mereka tidur siang ternyata. Kirain tidur malam. 😆


Anna membangunkan Mas Abi untuk sholat ashar berjamaah. Abi bangun dengan gontai ke kamar mandi dan melaksanakan sholat berjamaah bersama dengan istrinya.


Selesai sholat, Anna mencoba menghubungi teman-temannya. Anna meminta izin untuk suaminya bisa mengajak teman-temannya berkumpul.


Teman-teman Anna menyambut dengan gembira. Anna juga mempunyai teman sejak kecil. Mereka berkawan sejak SD hingga saat ini. Keren banget.


"Mas Abi, Mas..." Anna memanggil-manggil Abi yang sedang berada di teras.


"Mas, Anna panggil kok gak jawab?" Ucap Anna.


"Anna manggil Mas Abi tadi? Maaf ya, Mas Abi gak dengar." Jawabnya dengan menarik lengan Anna untuk duduk disampingnya.


Tanpa diberi aba-aba, Abi langsung mendaratkan bibirnya ke bibir istrinya. Anna tidak bergeming. Ia diam mematung. Lalu, Abi melepas ciuman singkatnya itu.


"Mas Abi tuh ya, gak pernah kasih aba-aba dulu ke Anna. Aku kan jadi bingung. Seneng banget ya, ngeliat Anna kayak patung tadi?" Ujar Anna yang berbicara dengan memanyunkan bibirnya.


"Hahaha, habis kamu imut banget sih, dek. Mas kan jadi gemes." Ucap Abi me-landing kan ciuman di bibir Anna, sekali lagi. Gemes apa gemes, om nyaah... 😑


"Mas Abiiii... iih! Kasih kode kek. Yaampunn..." Ucap Anna nyaring sekali. Hahaha...


Anna bercerita bahwa temannya mengizinkan teman-teman Abi untuk datang. Mereka pun bersiap-untuk pergi bersama.


*****


DI CAFE


"Annaaaa..." Sapa Nabila senang sekali.


Berpelukanlah 4 teletabis ini. Hahaha... Senang sekali Anna bertemu dengan sahabat-sahabatnya. Baru duduk, sudah diberondong banyaaakk pertanyaan.


"Anna, kita gak bisa nunggu lama lagi. Pokoknya cerita." Terang Alisha tegas.


Anna menceritakan tentang awal pertemuannya dengan Abi yang bertemu di masjid, sholat berjamaah bersama, dijodohkan, pertemuan ketika perjodohan, hingga ijab kobul.


"Ya, Allah, Anna... Allah tuh emang tau banget yang kita butuhkan ya." Ucap Ayni yang senang sekali mendengar Anna bercerita. Seraya menggenggam tangan Anna.


"Maaf, ya semua. Gue salah. Gak cerita sama kalian. Tapi ini kejadiannya cepet banget. Parah. Bahkan gue sendiri kadang masih bingung dan kaget kalau gue udah punya suami. Hehehe..." Jelas Anna kepada ketiga temannya.


"Gak apa-apa, An. Yang penting kan sekarang kita tau. Ngomong-ngomong suami lo mana, An?" Tanya Alisha.


"Ada tuh, tadi di luar lagi nunggu temen-temennya." Jawab Anna.


"Semoga semua berjalan lancar, ya Anna... kita punya ponakan baru nanti..." Ucap Aira kepada Anna.


Seketika tawa mereka begitu riuh membahas hal-hal berbau dewasa.


Intermezzo dikit: Sahabat karibnya Anna ini beragam profesi. Ada yang jadi designer baju muslimah (Ayni) ada yang seorang artist komikus lebih tepatnya (Aira), dan sebagai design grafis unggul dibidangnya (Alisha atau Icha). Mereka termasuk wanita muslimah berhijab panjang. Seperti sekarang ini, mereka memakai gamis panjang modern dan jilbab yang menutupi dada. Mereka adalah perempuan-perempuan tangguh, cerdas, sopan, ramah, baik, dan berbakat. Close intermezzo.


"An, temen suami lo laki?" Tanya Icha


"Iya. Kan tadi di group gue udah bilang. Masa lo gak tau, Cha?" Jawab Anna.


"Bukannya gak tau. Belum baca aja. Hahaha..." Ucap Icha dengan cengiran kudanya.


 

__ADS_1


\*


 


__ADS_2