
DI KEDIAMAN BASUPATI SOENGGONO
"Ma, Eyang Ti, Eyang Kung, dan Abi. Kemarilah, ada yang mau Papa bicarakan." Panggil Papa Adi kepada istri, Ibu dan Bapak Papa Adi, serta anak laki-laki semata wayangnya. Abimanyu Basupati Soenggono.
"Papa mau bicara apa?" Tanya Abi.
"Ayo, duduk dulu sini." Ujar Papa Adi.
"Papa langsung saja ya. Papa paling tidak bisa berbasa-basi." Ucap Papa Adi yang dengan lugasnya.
Mama Rani, Eyang Kung, dan Eyang Ti sudah tidak heran dengan sifat dan sikap Papa Adi. Apalagi Abi, sudah paham sekali karakter Papanya yang to the point.
"Abimanyu, menikahlah." Ucap Papa Adi kepada Abi yang sontak membuat Abi terkejut dan terlonjak dari duduknya dengan membalalakan matanya.
"Apa, Pa?! Menikah?! Maksud Papa apa?" Tanya Abi dengan nada emosi dan berapi-api.
"Papa masih gak percaya sama Abi? Abi ini normal Pa. Abi bukan homo. Abi masih menyukai seorang perempuan. Abi masih jantan. Sampai segitunya mau menjodohkan Abi? Maksud Papa apa?" Ujar Abi dengan menggebu-gebu. Ia tidak menyangka bahwa Papanya masih belum percaya dengan Abi. Dulu, kejadian di New York. Yang membuat gempar perusahaan.
"Abimanyu, Nak... tenang dulu. Papamu tidak ada maksud seperti itu." Terang Mama Rani mencoba menenangkan Abi.
"Mama juga masih percaya dengan gosip murahan itu? Iya? Ma, Abi laki-laki normal. Masih sangat normal, Ma." Ucap Abi lirih yang begitu sakit sekali melihat Mama dan Papanya yang belum percaya kepadanya sepenuhnya.
"Abi, le. Ayo, lungguh sek, yo. (Abi, Nak. Ayo, duduk dulu, ya). Kita dengarkan Papamu dulu." Ucap Eyang Ti, sambil mengelus lembut pundak Abimanyu.
"Adicandra, memangnya kamu sudah punya calon untuk Abi? Kalau perempuan itu bukan dari keluarga baik-baik dan justru merusak cucuku, aku yang akan membatalkan perjodohon ini sendiri." Ucap Eyang Kung kepada Papa Adi.
"Pak, Bapak ingat dengan Bagaskara? Laki-laki muda dan tampan yang dulu pernah menolong Bapak saat Bapak terjebak dari penculik-penculik itu? Laki-laki yang hampir kehilangan nyawanya karena menolong Bapak. Bagaskara Ghazawan Prayogo. Bapak ingat?" Jelas Papa Adicandra mengingatkan kembali peristiwa 25 tahun yang lalu atas penculikan Bapaknya karena pesaing bisnis.
"Aku sangat ingat Adicandra. Di mana anak itu sekarang? Aku begitu merindukannya. Aku ingin bertemu dengannya." Ucap Eyang Kung yang sedih jika mengingat peristiwa itu lagi.
"Dia ada di Jakarta, Pak. Ia masih menjadi TNI AU. Tapi sudah mau pensiun." Terang Papa Adi kepada Eyang Kung. Eyang mengangguk, arti pahamnya akan penjelasan Papa Adi.
"Abimanyu, Papa bukannya tidak percaya kepadamu. Justru karena Papa percaya padamu, makanya Papa mau menjodohkanmu dengan putri Om Bagas." Jelas Papa Adicandra.
"Maksud Papa?"
"Maksudnya, Papa ingin kamu melupakan traumamu itu. Usiamu sudah berapa Abi? 32 tahun. Kamu mau menunggu trauma itu hilang sampai kapan? Papa, Mama, Eyang Kung dan Eyang Ti, tidak bisa selalu ada buat kamu Abi. Umur tidak pernah ada yang tau. Mama dan Papa harus segera kembali ke New York, sedangkan Eyang Kung dan Eyang Ti juga harus kembali ke Yogyakarta. Kamu di Jakarta sendiri, Le." Terang Papa Adi kepada Abi.
"Papa tau, tau sekali bahwa kamu adalah laki-laki yang mandiri, yang mampu melakukan hal apapun tanpa bantuan kami. Papa juga percaya dan yakin bahwa kamu mampu hidup sendiri, mengurus dirimu sendiri. Tapiii... Abimanyu... semandiri apapun kamu, sehebat apapun kamu mampu menghidupi dirimu sendiri, kamu laki-laki, yang tetap butuh seorang perempuan untuk mendampingimu."
"Setidaknya ada teman berbagi untuk bercerita tentang keluh kesahmu. Papa tau, kamu punya sahabat. Mereka juga sangat setia padamu. Mampu mendengarkanmu. Tapi mereka laki-laki, Abi. Mereka juga masih single seperti kamu. Akan beda ceritanya kalau mereka sudah menikah."
__ADS_1
"Lagipula, seorang CEO perusahaan besar belum menikah akan banyak menimbulkan gosip, menimbulkan fitnah, Abimanyu. Kamu tidak ingin kejadian yang di New York terulang lagi, kan?"
"Papa yakin kamu suka dengan perempuan ini. Dia begitu sholehah. Berjilbab, cantik, sopan, ramah, dan cerdas. Dia baru menyelesaikan kuliah S2 nya dibidang Pendidikan. Begitu beretika. Beda dengan perempuan-perempuan kelas tinggi tapi tidak tau etika. Percaya sama Papa dan Mama, kami tidak akan salah pilih istri untukmu, Nak." Jelas Papa Adicandra panjang lebar.
"Dan Mama berharap dengan perempuan ini kamu bisa menghilangkan traumamu, Abi. Entah kenapa, Mama yakin sekali. Perempuan ini akan membantumu. Percaya ya sama Mama dan Papa, Nak." Ucap Mama Rani dengan lembut dan mengusap rambut Abimanyu.
"Ma, gimana mau nyembuhin trauma Abi. Abi aja dekat dengan perempuan gak bisa. Apalagi ini, menikah. Yang notebennya Abi harus melakukan hubungan suami-istri. Mama sama Papa paham kan maksud Abi?" Jelas Abi.
"Adicandra, apa gadis itu anak dari Bagaskara dan Anindira?" Tanya Eyang Kung.
"Iya, Pak. Kenapa, Pak?" Tanya Papa Adi.
"Gadis itu anak sulung atau anak bontot?" Tanya Eyang Ti.
Abimanyu berpikir, ini kenapa jadi pertanyaan gak jelas yang dilontarkan sih. Eyang Kung dan Eyang Ti nya benar-benar, deh.
"Anak sulung, usianya 27th. Dia bekerja dibidang pendidikan. Kenapa Pak, Buk?" Tanya Papa Adi kepada Eyang Kung dan Eyang Ti.
Setelah mendapat jawaban dari Papa Adi, Eyang Kung dan Eyang Ti, izin ke kamar karena ingin istirahat. Pegal-pegal katanya badannya.
Mama Rani yang paham akan pertanyaan Eyang Kung dan Eyang Ti, hanya tertawa geli melihatnya. Sedangkan Papa Adi, hanya bisa menghela nafas dan bergeleng-geleng dengan tingkah Eyang Kung dan Eyang Ti.
"Okey. Papa setuju. Berarti lusa kita bisa ke rumahnya, ya Ma. Untuk melamarnya." Jawab Papa Adi dengan sumringah.
"Iya, Pa. Mama juga kangen nih, mau ngobrol lagi sama anak gadis itu." Sahut Mama dengan gembira.
"Pa, Abi lihat foto perempuan itu dulu. Papa punya gak?" Tanya Abi seraya menyandarkan bahunya di sofa karena lelah habis berdebat dengan Papanya.
"Gak usah dilihat sekarang. Nanti malah gak bisa terkejut." Jawab Mama Rani dengan senyum sumringahnya yang membuat Abi menghela nafas dan hanya bisa pasrah.
"Minimal Abi tau namanya deh, Ma, Pa."
"Buat apa kamu mau tau namanya? Katanya tidak tertarik?" Ledek Papa Adi kepada Abi.
"Tertarik kok, tertarik. Siapa namanya?" Tanya Abi dengan lunglai.
"Namanya Anna Maheswari Prayogo". Jawab Papa Adicandra dengan jelas.
"Masa kamu gak tau, Bi? Tadi kan ada di tempat nikahannya Novi sama Heru." Ucap Mama Rani.
"Abi mana tau, Ma... kan tadi Mama sama Papa yang nyuruh Abi buat nyapa rekan bisnis yang ada di sana. Ya gak sempetlah ketemu sama sahabat karib Mama dan Papa." Terang Abi.
__ADS_1
"Nih, fotonya Papa udah WA ya, ke kamu Bi." Ujar Papa Adicandra dengan menunjukkan foto di ponselnya.
Abi dengan malas mengambil ponsel di saku celananya dan membuka WA dari Papa Adi. Ketika membuka foto tersebut, Abi terkejut bukan kepalang.
"Ya Allah, ini bukannya perempuan yang tadi? Yang jamaah bareng sama aku?" Gumam Abi.
Mama Rani dan Papa Adi dibuat bingung oleh tingkah anak laki-lakinya itu.
"Kenapa Bi?" Tanya Papa Adi.
"Pa, Allah tuh baik banget sama Abi. Baru aja Abi ucapkan, jadi kenyataan." Ujar Abi yang masih menatap foto itu lekat-lekat.
"Apaan sih, Bi. Mama gak ngerti deh?"
"Jadi tuh, Ma, Pa, tadi Abi kan sholat dzuhur dan ashar di masjid saat kita kondangan tadi. Dua kali berturut-turut Abi sholat berjamaah bareng sama gadis ini. Entah kenapa, masjid itu sepiii sekali. Sunyi senyap tanpa ada orang-orang lain yang datang ke masjid tersebut. Abi jadi imam sholat dzuhur dan ashar, dia makmumnya. Mama sama Papa tau apa yang lebih dahsyat lagi?" Jelas Abi dengan binar matanya yang semangat sekali menceritakan sosok gadis itu.
"Kenapa, Bi? Apa yang dahsyat?" Tanya Mama Rani dengan semangat.
"Abi mendengar gadis itu melantunkan ayat-ayat Al Qur'an. Suaranya begitu merdu dan indah. Abi jatuh hati, Ma, Pa." Terang Abi dengan wajah yang berseri-seri.
"Eeaallahh... Abimanyuuu... akhirnya setelah sekian lama. Ada juga perempuan yang bisa meluluhkan kerasnya batu hatimu itu, Nak." Ucap Mama Rani dengan gembiranya.
"Ma, kerasnya hati. Gak pake batu." Ujar Papa yang dengan tawa ringannya.
"Kan, kan, mulai deh... ngeledekin Abi." Ucap Abi dengan malas.
"Tapi, Ma, Pa. Kalau dia tau Abi trauma sama perempuan gimana? Apa dia akan ninggalin Abi?" Ucapnya yang lirih remuk rasanya hanya membayangkan gadis itu meninggalkannya saja.
"Tidak. Ia akan tetap disampingmu. Percaya sama Mama. Semangkaaa Abi... Semangaaatt Kakaaa Abi..." Ucap Mama Rani dengan menepuk pundak Abi dan ngeloyor pergi ke kamar dengan menggandeng Papa Adi.
"Semangat berjuaang, Abi. Luluhkan hatinyaa. Jangan lupa, lusa kita melamarnya. Cari cincin yang bagus. Siapa tau langsung ijab kobul." Ujar Papa Adi dengan menepuk punggung Abi dengan tawanya.
"Papa mau kemana?" Tanya Abi.
"Mau bikin adek buat kamu." Sahut Papa dengan candanya.
"Ya Allah. Pa! Ma! Aku gak mau punya adek!! Bikin malu aja!!" Ucap Abi yang sambil berlalu masuk ke kamarnya.
\*\*\*
__ADS_1