
2 BULAN KEMUDIAN
Setelah kejadian yang mengejutkan untuk keluarga Basupati Soenggono dan keluarga Prayogo yaitu penusukan Anna di rumah Abi yang dilakukan oleh partner bisnis Abi sendiri yang merasa iri dengan kemajuan bisnis Abi.
Anna harus dioperasi dan mendapatkan perawatan yang cukup intens setelah kejadian penusukan tersebut.
Abi yang begitu geram dengan tindakan sang partner bisnis, langsung menjebloskannya ke penjara. Projectnya tetap berjalan karena investor sudah ready semua.
Biar soal bisnis urusan Abi. Sekarang tugas Anna adalah rehat sejenak dari segela rutinitasnya.
Abi meminta Anna untuk mengurangi jam mengajarnya. Abi tidak melarang Anna untuk mengajar, hanya saja Abi tidak ingin Anna kenapa-kenapa. Mengingat kejadian mengerikan sebelumnya.
Beberapa minggu lalu Abi sempat mendiskusikan tentang pekerjaan mereka. Abi tetap bekerja di kantor.
Sedangkan Anna, Abi memberikan 2 pilihan kepada Anna. Anna lebih memilih mengajar di TK atau mengajar di Kampus?
Setelah menjalani banyak negosiasi dengan Abi, akhirnya Abi mengizinkan Anna untuk tetap mengajar di kampus, namun hanya 2 kelas.
Saat ini Anna sedang di rumah mempersiapkan perjalanannya untuk honeymoon.
Abi?
Ada di kantor. Abi sedang meninjau project yang ia serahkan kepada teman-temannya. Tak lama ia di kantor. Sore hari sudah pulang. Abi tidak ingin meninggalkan Anna sendiri lama-lama seperti sebelumnya.
"Assalamualaikum..." Sapa Abi yang baru saja pulang kantor.
"Waalaikumsalam" Jawab Anna yang berada di dapur.
"Mas Abiiii...." Pekik Anna yang senang sekali suaminya datang lebih awal.
Langsung saja Anna berhambur menghampiri Abi dan memeluknya. Anna mengaitkan tangannya di leher Abi dan melingkarkan kakinya di pinggang Abi dengan menautkan kakinya.
"Uuhh... sayangnya Mas Abi lagi apa nih? Kangen berat sama Mas ya?" Ujar Abi dengan menempelkan hidungnya dengan hidung Anna.
"Kangennya Anna pake banget. Mas Abi kenapa pulangnya lama...?" Tanya Anna dengan memonyongkan bibirnya.
"Maaf ya dek... Mas harus tanda tangani beberapa berkas di kantor dan didiskusikan ulang. Jadi terlambat deh pulangnya." Terang Abi sembari mengecup singkat bibir Anna.
"Ohh... okey. Mas Abi udah makan kah?" Tanya Anna sembari turun dari gendongan Abi di kamar.
"Belum. Adek gak usah masak ya. Kita makan diluar. Mau?" Tanya Abi dengan mendekatkan tubuhnya kepada Anna.
"Mas Abi mau makan dimana?" Tanya Anna sembari memeluk mesra Abi.
"Emm... Mas lagi pengen makan di angkringan gitu deh, dek." Ujar Abi yang semakin erat memeluk Anna.
"Ayo, yang di dekat kampus tempat Anna ngajar enak tempatnya Mas. Makanan di angkringannya juga enak." Ucap Anna sambil melonggarkan pelukannya dan mendongakkan kepalanya ke Abi.
"Mas gak mau angkringan yang di daerah sini." Ujar Abi.
"Mm... gitu. Terus Mas maunya angkringan yang dimana?" Tanya Anna sambil menenggak air mineral di botol yang selalu sedia di kamarnya.
"Di Yogya." Jawab Abi yang sukses membuat Anna tersedak ketika menenggak minumannya.
"Mas Abi! Ya, Allah... kamu yang beneran dikit dong Mas. Ya kali kita ke Yogya sekarang. Gak prepare apa-apa." Ujar Anna yang sangat terkejut dengan keinginan ajaib suaminya tersebut.
"Gak usah prepare macem-macem. Kita backpackeran aja." Ucap Abi dengan mata berbinar.
"Waahh... Mas Abi lebih parah dari Anna. Dadakan gini Mas? Belum nyari tiketnya." Ujar Anna yang masih terkejut dengan tindakan Abi.
"Tiket gampang dek... yang penting kita berangkat sekarang. Ya... ayo dong... please..." Ucap Abi dengan wajah memelas imutnya.
"Hadeeuuhh.... kamu ngidam apa gimana deh Mas?" Ujar Anna yang menaruh botol air minumnya.
"Dek..." Ucapnya sekali lagi.
"Okey. Kita backpacker ya. Anna ikut aja pokoknya. Nemenin Mas Abi." Ujar Anna yang akhirnya mengalah dengan permohonan Abi tersebut.
Sumpah ya, ada orang macem gitu. Pengen apa langsung dilakuin. Wahh... holang kaya mah bebas.
"Yeeeiiyy... horree... makasih sayangnya Mas Abiii..." Ucap Abi dengan memeluk dan menciumi pipi Anna bertubi-tubi.
"Iya, iya, iya. Udah, sekarang Mas bersih-bersih deh. Anna packing dulu." Ujar Anna yang gemasss sekali dengan suami tercintanya.
Kalau sudah maunya, ya maunya. Benar-benar gak bisa di ganggu gugat. Tepok jidat deh Anna.
Saat Abi sedang mandi, Anna mempersiapkan semuanya. Ia menyiapkan 2 tas ransel. Untuknya dan untuk Abi.
Setelah dirasa siap semuanya. Anna membuka ponsel untuk mencari tiket keberangkatan.
Abi keluar dari kamar mandi dengan sexy look. Lilitan handuk di bagian tubuh bawahnya membuatnya menampakkan tubuh roti sobeknya.
"Mas, kita mau naik apa? Kereta? Bus? Pesawat? Apa motor aja? Hahaha..." Ujar Anna yang sama gilanya seperti suaminya.
"Motor seru kayaknya dek. Hahaha..." Ujar Abi dengan jawaban gilanya.
"Mas mah... udah ayo buruan mau naik apa? Aku lagi nyari tiket kereta nih." Ucap Anna yang masih serius dengan benda elektroniknya.
"Naik pesawat aja kali dek." Ucap Abi yang duduk menghampiri Anna dengan masih berbalut handuk.
"Yaah... naik pesawat mah bukan bacpackeran keleuss... hahaha..." Ujarnya yang mulai dag dig dug jantungnya karena Abi di dekatnya.
"Kalau naik kereta berarti nyampenya besok dong?" Tanya Abi yang mendekatkan tubuhnya dekat Anna dan mengambil ponsel Anna untuk melihat tiket kendaraan.
Gak sadar diri ini mah. Udah tau tampan. Menggoda melulu. Pengen di terkam sama ratunya petualang kasur apa? 😅
"Yaudah naik pesawat kalau gitu. Kalau mau yang cepat." Ujar Anna yang berdiri dari duduknya untuk membenahi detak jantungnya.
"Iya, naik pesawat aja dek. Lagian juga lebih cepat ke airport dibanding ke station." Jawab Abi dengan khas NY nya.
"Yaudah, Mas siap-siap deh. Terus penginapannya gimana? Belum pesan nih Mas." Ujar Anna yang masuk ke ruang ganti. Abi menyusulnya dari belakang.
"Gak usah pesen Mas Abi ada tempat untuk kita stay disana. Tinggal Mas Abi telepon aja nanti. Letaknya juga gak jauh dari pusat kota Yogya kok." Ujarnya dengan santai memakai baju yang disiapkan oleh Anna.
"Beneran ada? Nanti kita sampai sana, penuh." Ujar Anna.
"Enggak. Kita pakai yang private swimming pool aja. Biar bebas bisa ngapain aja." Ucap Abi.
"Yasudah. Pokoknya Anna cuma ikut aja ya Mas..." Ujar Anna sambil beranjak dari ruang ganti.
Yang ternyata malah ditarik Abi dan di dekapnya Anna, di ***** bibir Anna hingga tak bercelah.
__ADS_1
"Adek, kok tahan banget. Mas Abi belum menggoda berarti buat kamu ya? Hehehe..." Ujarnya setelah memakai baju tersebut.
"Mas Abi senyum aja imanku udah tergoda Mas. Tadi mah di tahan aja." Ucap Anna yang mengundang tawa Abi.
"Kenapa harus di tahan?" Tanya Abi yang masih dengan tawanya.
"Dipupuk. Biar membuncah waktu di Yogya." Ucap Anna sembari keluar dari ruang ganti karena takut disergap orang yang dikenal.
Bodoamat An... 😅
"Hahaha... adek. Udah niat banget apa?" Tanya Abi dengan suara lantang dari ruang ganti. Anna hanya menanggapi dengan senyumnya.
Setelah mereka makan dan rapi-rapi. Pak Manto sang sopir Abi dan Anna mengantarnya ke Bandara Soetta.
Abi dan Anna menaiki pesawat yang mengantar mereka ke Yogya. Tempat Abi ingin kongko makan di angkringan.
Holang kaya mah bebas... 😅
Sampai di Bandara Adisutjipto. Sebelumnya Abi sudah menghubungi orangnya yang berada di Yogya bahwa ia dan istri akan berkunjung ke Yogya malam ini.
Boss yang satu ini selalu saja bisa membuat pegawainya ketar-ketir. Kadang Anna sesekali memberitahu Abi bahwa hal tersebut tidak baik dilakukan. Mendadak.
Didengar sih sama Abi. Diikuti juga. Abi pun juga sadar bahwa ia sering mendadak memberitahu pegawainya. Namun, kali ini Abi mengulanginya. Anna tidak berkata apa-apa.
Tapi Abi langsung meminta maaf kepada pegawainya karena tak enak hati harus dadakan seperti ini.
Mereka menuju salah satu guest house yang Abi punya di Yogya. Mereka stay di private room.
"Mas, mau bersih-bersih dulu apa mau langsung ke angkringan?" Tanya Anna yang sedang merapikan bawaannya di lemari dan Abi merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Ini jam berapa ya, dek?" Tanya Abi.
"Jam 20:00. Masih bisa kok kalau mau ke angkringan. Kan emang bukanya dan ramenya jam segini." Ujar Anna yang menutup lemari dan ikut merebahkan tubuhnya di tempat tidur bersama Abi.
"Adek capek gak?" Tanya Abi dengan mendekatkan wajahnya ke Anna.
"Gak terlalu capek. Duduk aja sebenarnya kan dari tadi. Cuma luka bekas operasi kemarin agak ngilu." Ucap Anna yang meringis karena luka diperutnya yang masih belum 100% sembuh total.
"Serius, dek? Yaudah, besok aja deh jalan-jalannya. Kamu kecapean berarti. Maaf ya... Mas Abi terlalu semangat jadi lupa ngecek kondisi, adek." Ucap Abi dengan wajah bersalahnya.
"Gak apa Mas. Udah gak ngilu kok. Udah tiduran nih. Yaudah, ayo, kita cari makan. Anna laper... hehehe." Ujarnya yang bangun dari baringannya.
"Gak besok aja dek? Makannya kita pesan aja ya, sayang... kamu nanti malah sakit kalau kecapean." Ujar Abi yang khawatir dengan kondisi Anna.
"Yaah... Mas Abi. Aku gak apa kok. Beneran deh. Tadi ngilunya juga cuma sebentar. Kan udah jauh-jauh kesini masa makannya di kamar lagi, di kamar lagi... ayo dong..." Ucap Anna dengan rengekannya.
"Okey, okey, kita makan di angkringan. Tapi adek janji ya. Kalau sakit bilang sama Mas Abi. Jangan diam saja dan di tahan-tahan. Do you understand ?" Terang Abimanyu.
"Yes. I do. Ayooo..." Ajak Anna yang menarik tangan Abi untuk bangun dari tempat tidurnya.
Mereka berjalan-jalan mengitari jalan legendaris, Jl. Malioboro. Mereka menyusuri setiap penjaja makanan disana.
Anna senang sekali. Terlihat dari wajahnya yang begitu sumringah. Abi menggandeng Anna dengan erat. Ramai sekali ternyata jika sudah malam Malioboro ini. Pikir Abi.
Mereka berhenti di satu rumah makan. Cukup sederhana, namun hangat sekali. Anna dan Abi singgah di tempat kongkonya anak muda Yogya sambil menunggu hujan reda.
Ya, di Yogya saat itu sedang hujan. Menambah kehangatan dan keromantisan suasana di kota yang memikat kenangan ini.
"Dek, kamu ngelihat apa yang Mas Abi lihat?" Tanya Abi yang masih tak percaya dengan penglihatannya.
"Mas, itu Dito kan? Ada Lala juga? Mereka berdua? Ngapain?" Ujar Anna yang sangat bingung dengan situasi ini.
Kabar berita tentang perkenalan Dito dan Lala memang semua sudah tau. Tapi mereka tak tau sama sekali jika Dito dan Lala begitu dekat.
"Dek, samperin aja apa ya?" Tanya Abi kepada istrinya.
"Tapi kalau ganggu gimana Mas? Siapa tau mereka mau berduaan aja?" Tanya Anna.
"Bukan makhramnya. Berduaan itu patut di cegah. Udah ayo samperin. Sebelum ada fitnah." Ucap Abimanyu dengan tegasnya.
Mereka menghampiri Dito dan Lala yang sedang duduk di pojok ruangan dekat jendela lebar.
"Assalamualaikum..." Ucap Anna dan Abi bersamaan.
Yang disapa begitu terkejut. Terkejutnya sebentar terus udah gitu aja.
"Pak Abi? Bu Anna?" Tanya Dito bingung.
"Mba An? Kok bisa disini?" Tanya Lala yang terheran.
"Ada juga saya yang nanya sama kamu, To. Kamu ngapain disini? Katanya cuti mau ketemu sama keluarga. Kok ini malah disini?" Tanya Abi dengan nada yang mulai agak tinggi. Anna mengelus lembut lengan Abi tanda untuk memelankan suaranya.
"Duduk dulu Pak." Ucap Dito yang mempersilahkan Anna dan Abi duduk dan Dito pindah duduk di samping Lala.
"Eehh... kok malah kamu pindah kesana, To? Bukan makhramnya." Ujar Abi.
"Maaf Pak Abi. Kami sudah halal kok Pak." Ujar Lala yang membuat Anna dan Abi terkejut bukan main.
"Ya Allah... La, kapan?" Tanya Anna yang ambigu pertanyaannya jika di dengar orang lain.
"3 hari lalu Mba An." Ucap Lala malu-malu dengan rona merah pipinya.
"Jadi ini urusan keluarga saya, Pak Abi." Ucap Dito dengan tegas.
"Hahaha... Dito. Maaf saya salah paham sama kamu." Ujar Abi dengan tawanya.
"Masya Allah... Lalaaa... aku ikut happy ya... senannggnyaaa... aahh... Lala gak jomblo lagi. Hahaha..." Ujar Anna yang begitu senangnya melihat Lala bersanding dengan laki-laki yang tak biasa.
"Iya Mba Anna. Makasih ya..." Ucap Lala dengan senyum sumringahnya.
"Alhamdulillah, jomblo di sekolah mulai berkurang. Hahaha..." Ucap Anna dengan tawanya.
"Hahaha... bisa aja Mba An. Tapi Mba An, jangan bilang-bilang dulu sama yang lain ya... biar anak-anak masuk sekolah dulu. Kan kita lagi liburan." Terang Lala.
"Iya... tenang aja. Gue gak selambe itu. Hahaha..." Ujar Anna kepada Lala.
"Terus Pak Abi sama Bu Anna sendiri ngapain ada disini?" Tanya Dito.
"Mau bikin anak." Jawab Abi yang mengundang tawa satu mejanya tersebut.
"Iya, iya, boleh, boleh." Ujar Dito.
__ADS_1
"Lo gimana, To? Udah bikin anak apa baru kenalan aja pusakanya?" Tanya Abi yang tanpa sensor itu.
Lala yang sedang meminum jus strawberrynya tersedak mendengar Abi bertanya seperti itu kepada Dito.
Dito yang melihatnya dengan sigap mengambil tisu sembari menepuk-nepuk punggung Lala.
Anna yang juga terkejut dengan perkataan Abi, sontak memukul lengan kekar Abi.
"Mas Abi. Itu ngomongnya gak pake sensor banget sih. Haduh." Ucap Anna yang beneran bisa buat Abi cengar-cengir kuda.
"La, cerita dong... mau denger kalian bisa sampai titik ini gimana?" Tanya Anna dengan antusiasnya.
Lala pun mulai bercerita tentang awal perkenalannya dengan Dito. Mereka berkenalan melalui applikasi chat.
Keduanya saling mendapatkan nomer dari Anna yang memberi tahu nomer Lala ke Dito.
Sering chat membuat keduanya saling menautkan rindu.
Belum lama berkenalan, Dito sudah bicara serius ingin menikahi Lala. Dito pulang ke Semarang untuk menemui Bapak dan Ibunya, untuk menceritakan dan meminta bantuan Bapak dan Ibunya untuk meminangkannya dengan perempuan pilihannya.
Bapak dan Ibu Dito langsung mengiyakan permintaan anak bungsunya tersebut. Dito bicara kepada orang tua sang perempuan.
Dito mengabarkan kepada Lala bahwa ia akan datang ke rumah Lala bersama dengan Bapak dan Ibu.
Setelah pertemuan dua keluarga, mereka memutuskan untuk menikah di Yogya karena Mbah Putri dan Mbah Kakung Lala ingin melihat cucu perempuaannya menikah.
Mereka baru melangsungkan akad nikah dan ijab kabul. Untuk resepsi, menyusul.
"Jadi gitu Mba An ceritanya." Ujar Anna.
"Karena saya gak mau nambah dosa dengan setiap hari merindukan Lala, jadi saya langsung nikahi saja dia." Ucap Dito dengan percaya diri. Lala yang mendengarnya hanya tersipu malu.
Pesanan makanan mereka pun datang.
"Saya ngikutin saran Pak Abi tuh. Langsung nikahin. Karena yang halal itu lebih nikmat. Hahaha" Ucap Dito yang mengundang tawa orang-orang di meja tersebut.
"Cakeepp...!!! Lanjutkan, To!! Makan yang banyak To. Buat isi tenaga. Jaga-jaga aja. Hahaha..." Ujar Abi dengan sendau guraunya kepada Dito. Itu obrolan mereka doang yang tau.
Meski Abi sibuk berceloteh dengan Dito tapi ia tak lupa untuk memotongkan daging ayam untuk sang istri.
Setelah selesai memotong daging ayamnya, Abi menukarnya dengan menu yang Anna pesan.
"Makasih sayang..." Ucap Anna dengan mengelus lembut pipi Abi.
Lala yang melihat itu jadi kepikiran dengan Dito yang sejak tadi ingin bersentuhan dengan Lala namun tak berani. Karena Dito tau, Lala mungkin belum siap.
"La, jangan buat suamimu sedih atau bahkan kecewa. Karena kamu belum berani untuk di sentuh. Kamu harus ingat, kalian sudah halal. Apapun yang ada di kamu, suami berhak untuk itu." Terang Anna kepada Lala.
Kenapa Anna berbicara hal itu? Karena Anna melihat Dito dan Lala begitu kaku. Dito yang begitu hati-hati saat menyentuh Lala, dan Lala yang terlihat masih belum siap menerima kehadiran Dito.
Namanya sudah suami istri gak perlu lagi ditutu-tutupin. Ungkapkan apa yang kalian rasakan. Diskusikan dengan baik. Berdiskusi juga termasuk salah satu terciptanya keromantisan hubungan suami istri lho...
"Mba An... dirimu tuh kalau ngomong gak pake opening ya. Langsung ke *c*ontent." Ucap Lala dengan tawa candanya.
"Bener tuh La. Gak perlu malu-malu. Udah halal mah bebas... hahaha" Ujar Abi.
Hujan tak kenal ampun. Sudah malam ia terus memberikan dingin yang menggigit kulit. Sinar lasernya juga tak segan untuk menampakkan dirinya. Yang sekali tampak membuat mereka ketakutan.
"Mas, hujannya kok serem banget ya?" Ujar Lala kepada Dito.
Duaaar Duaarrr Duarrrr
Petir yang bersahutan, kilat yang menakutkan, rintik hujan yang tak lagi mengundang kenangan tapi mengundang kecemasan.
Duaarrr duarrr
"Allahuakbar" Ucap Anna sambil memeluk Abi ketika melihat sinar laser menyala di gelapnya langit.
Lala yang begitu takut hujan, ia merapatkan tubuhnya ke Dito dan menutup telinganya. Dito yang melihat Lala ketakutan langsung mendekap tubuh Lala.
Lala baru menyadari, ternyata tubuh suaminya begitu hangat. Hingga mungkin ia bisa terlelap di pelukan suaminya jika tak ingat ada Abi dan Anna.
Lalu Abi dan Anna?
"Mas Abi, ini ada apa ya? Kok hujannya begini?" Tanya Anna yang bersembunyi dari balik jaket Abi.
"Kayaknya perpindahan cuaca deh. Karena beberapa bulan terakhirkan kemarau. Sekarang baru mulai hujan. Jadi ini luapannya." Jelas Abi.
"Iya, ya. Perpindahan cuaca. Dari kemarin sudah mulai hujan di Yogya, Pak Abi." Tutur Dito kepada Abi.
Ketika Anna dan Abi sedang menuju sang pramuniaga (pelayan restoran) untuk meminta pindah duduk. Apakah bisa pindah atau enggak.
"Mas..." Panggil Lala kepada Dito yang sedang meminum jus jeruknya.
"Kenapa, sayang?" Tanya Dito yang membuat hati Lala bersemu merah pipinya.
"Maaf ya... Lala baru mulai berani sekarang." Ujar Lala dengan senyumnya.
"Gak apa, dek. Mas tunggu sampai kamu benar-benar siap." Ujar Dito.
"Sekarang juga Lala siap." Ucapnya dengan senyum mantap dan mata berbinar.
Dito yang mendengarnya menarik Lala dan mendekapnya erat.
"Seriusan kamu dek?" Ujar Dito dengan binar matanya.
"Hm'emh." Lala mengangguk tanda setuju.
Dito yang begitu senangnya, ia mencium ubun-ubun Lala.
"Woiyy... masih sore..." Ujar Abi yang memecah kemesraan mereka.
"Biarkan... sudah halal Mas... hahaha..." Ledek Anna kepada Dito dan Lala.
Dito dan Lala hanya tersipu malu. Tertangkap basah oleh Anna dan Abi mereka sedang bermesraan.
Tak lama berselang, hujan pun reda. Anna dan Abi pamit undur diri. Memberikan ruang untuk Lala dan Dito bermesraan.
*****
halal itu sebuah nikmat tak terhingga
__ADS_1
*****