Sajak Rindu

Sajak Rindu
CHAPTER 12: SESAAT


__ADS_3

DI KAMPUS


Anna saat itu sedang bersiap menjadi salah satu pembicara di kampus. Ia salah seorang dosen dijurusan pendidikan terutama Pendidikan Anak Usia Dini dan Taman Kanak-kanak.


Anna sudah bergelut dibidang pendidikan selama 7 tahun. Ia sudah merasakan mengajar mulai dari PAUD hingga Mahasisw/i. Seperti sekarang ini, ia menjadi pembicara di sebuah ballroom yang luas.


Topiknya tentang "Berdamai dengan anak". Apa sih maksudnya? Maksudnya adalah belajar melihat dari sisi anak. Bukan dari sisi orang dewasa.


Anna mengenakan pakaian long dress berwarna mustard lengan pendek yang dilapisi dengan outer lengan panjang berwarna hitam dan jilbab panjang sampai dada bercorak mustard dan hitam.


Sebelum masuk ballroom Anna bercermin dan memegang pelipisnya yang masih agak perih karena jahitan dan diperban sedikit tidak terlalu tebal seperti sebelumnya. Ia memajukan jilababnya supaya menutupi perbannya dan tidak menjadi topik pertanyaan.


Apakah Abi tau profesi Anna? Jawabannya: Iya. Abi mengetahui bahwa istrinya adalah salah seorang tenaga pendidik yang sudah cukup lama bergelut dibidang pendidikan.


Apakah Abi tau bahwa Anna sering menjadi salah seorang pembicara disebuah seminar/workshop ? Jawabannya: Iya. Abi tau. Tapi ia belum pernah melihat langsung istrinya tampil di depan khalayak.


Tak lama menunggu pembawa acara memanggil Anna. Tepuk tangan yang riuh ramai dan banyak yang bersiul manja kepada Anna. Tidak bisa dipungkiri bahwa Anna adalah salah seorang pengajar yang fans Mahasiswa/i nya cukup banyak. Seminar ini dibuka tidak hanya untuk jurusan pendidikan tapi untuk semua jurusan yang ada di kampus. Terang saja banyak yang datang karena Anna sebagai pembicara.


Saat itu Abi datang ke seminar Anna. Ia tidak tau bahwa Abi juga datang. Abi duduk di paling belakang ballroom dari mulai acara hingga akhir acara. Sesekali ia melihat istrinya memegang pelipisnya. Pening mungkin. Tapi tidak dihiraukan oleh Anna. Ia tepis rasa sakitnya begitu saja.


Abimanyu tak menyangka bahwa istrinya begitu banyak yang mengagumi. Istrinya begitu pandai dalam berbicara. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang serius hingga nyeleneh. Membuat Abi tertawa sendiri dari belakang. Bahkan ada seorang pemuda yang dengan santai dan pedenya ia menyatakan perasaannya kepada Anna. Apa jawaban Anna?


"Ms. Anna, saya Revano. Maaf kalau saya di sini hanya menyita waktu anda. Tapi saya ingin sekali mengatakan ini kepada anda. Ms.Anna saya menyukai anda, apakah anda bersedia menjadi pendamping hidup saya?" Tanya Revano yang mengundang banyak gelak tawa dan riuh ramai.


"Terima kasih Revano untuk pertanyaan dan pernyataan cintanya. Mohon maaf, saya sudah menikah." Ucap Anna singkat padat dan jelas yang mengundang banyak gelak tawa dan ledekan-ledekan dari Mahasisw/i.


Sampai salah satu Mahasiswa/i yang berteriak dari kursinya.


"Ms.Anna, kau kejam. Kau patahkan hati kami sebagai lelaki." Ucap pemuda itu dengan sambutan tawa riang dan olok-olokan bercanda mereka.


Itu sebagian pertanyaan-pertanyaan nyelenehnya. Yang serius ada? Ada. Pertanyaannya maksudnya... hahaha...


"Ms. Anna, saya Indri dari fakultas Management Pendidikan. Saya ingin tanya, bagaimana sikap kita kepada anak yang senang sekali menonton kartun? Pengalaman saya, keponakan saya senang sekali menonton kartun di TV. Tapi orangtuanya membiarkan saja. Bukankah kartun tidak baik? Lalu bagaimana cara saya agar dapat memberi pengertian kepada orangtuanya?" Tanya Indri salah satu Mahasiswi.


"Saya jawab langsung ya, Kak Indri. Yang ke-1: Bagaimana sikap kita kepada anak yang senang sekali menonton kartun? Sebelum kita menentukan sikap, lihat dulu nih, kartun seperti apa yang ditonton. Kalau kita sudah tau kartun itu baik, bahasanya bagus, mengandung norma-norma yang sopan, tidak apa. Asalkan, pola menonton kartun di TV itu baik.


"Maksudnya pola? Jam menonton, hari saat menonton kartun kita harus punya aturan main dengan anak. Di sini poinnya. Terkadang kita orang dewasa hanya melihat dari sisi kita. Kita tidak pernah menjadikan diri kita diposisi anak. Ini topik kita "Berdamai dengan anak" caranya? Posisikan diri kita sebagai anak, tentukan aturan main/buat perjanjian dengan anak, ulas/review kembali apa yang anak lakukan dengan obrolan yang menyenangkan."


"Saat menonton kartun, lihat isi kartunnya, buat aturan saat menontonton kartun. Aturan menonton kartun seperti apa? Tentukan waktu menonton kartun berapa lama anak kita mau menonton kartun. Misalnya, anak meminta 30 menit, kalau peraturan ini baru dibuat, ikuti dulu mau si anak. Tapi kalau peraturan sudah diterapkan, kurangi sedikit demi sedikit porsi menonton kartunnya. Lalu apa lagi?"


"Ada interaksi untuk membahas isi yang ditonton. Makanya banyak kan ya di TV ada tulisan "Dewasa, Anak-anak, Semua umur." Itu menjadi salah satu fungsi kita untuk mengontrol tontonan anak. Ada lagi kah? Ada. Sikap tubuh saat menonton. Seperti apa sikap tubuhnya? Duduk, tidak terlalu dekat dengan TV."


"Kita orang dewasa ini sebagai fasilitator anak. Bukan hakim untuk anak. So, kalau ada anak yang suka nonton kartun, yasudah biarkan saja. Asalkan, kita tau kartun seperti apa yang boleh ditonton. Film kartun itu mampu menstimulasi kinerja otak kita lho? Seni kreatifitas meningkat, kognitif anak meningkat, bahasa literasi anak bertambah, motorik halus anak yang suka menggambar lebih meningkat. Itu sudah berapa aspek buat anak tuh? Kalau gak ada anak yang suka kartun, hidup gak colorfull." Ucap Anna yang membuat seisi ballroom tertawa.


"Jadi, istilah "Follow the child with freedom limitation " itu dipake. Follow the child disini bukan seperti anak yang lari-lari di restaurant sampai naik-naik ke atas meja kita biarkan. Tidak! Ingat "Follow the child with freedom limitation" itu ada normanya. Kalau tidak melanggar 2 norma ini, maka biarkan tapi tetap diawasi dan diingatkan. Apa normanya? Norma kesopanan dan etika yang kedua Aman tidak membahayakan keselamatan anak maupun orang-orang disekitarnya."


"Pertanyaan yang ketiga dari Kak Indri. Bagaimana cara saya memberitahu orangtuanya? Kenapa sibuk memberitahu? Kenapa tidak kita mulai dari diri sendiri. Orang lain, yang di luar ballroom ini belum tentu tau apa itu "Berdamai dengan anak" mereka belum tentu mengetahui aturan main ke anak. Belum tentu, jadi, sebaiknya, mulai saja dari diri kita sendiri. Kita terapkan sendiri dulu. One day orangtuanya akan bertanya, kok anak saya bisa teratur nonton kartun di TV ya? Baru saat itu anda bisa jelaskan. Durasinya berapa lama kita harus mempraktekannya. Tak terhinggaaa. Allah saja memberikan hidayah sama kita bisa bertahun-tahun dan tidak pernah mengeluh. Kita? Harusnya juga belajar untuk seperti itu. Baik, mungkin itu saja yang dapat saya sampaikan."


"Poin di sini adalah: 1. Mengerti dan memahami karakter anak. 2. Menerapkan aturan bermain yang konsisten. 3. Belajar memposisikan diri kita sebagai anak. Semangat semua. Kita berjumpa di lain waktu. Terima kasih telah datang dan menyempatkan waktunya untuk seminar ini. Saya akhiri dengan Wassalamualaikum."


Anna menjelaskan panjang lebar mengenai seminar tersebut. Banyak sekali yang mengejar-ngejar Anna hingga keluar ballroom Anna harus dikawal dengan beberapa bodyguard. Luar biasa...


Anna kembali ke ruang tunggu dan di sana sudah ada Abimanyu. Anna terkejut sekali dengan Abi yang membawa 1 buket bunga mawar yang indah. Holang kaya mah bebas mau berapa buket juga. Hahaha...


"Mas Abi??" Anna langsung berlari menghambur ke Abi yang sudah membuka tangannya untuk menyambut Anna.


"Maaf ya sayang... Mas baru bisa datang." Pelukan Anna begitu erat. Abi tau Anna sangat khawatir padanya. Tau Anna bersikap seperti ini, ia akan meninggalkan kantor dan menemui Anna sebentar. Abi merutuki dirinya sendiri. Abi memeluk erat tubuh mungil Anna dan mengecup lembut ubun-ubunnya.


Anna menangis karena meluapkan kerinduannya kepada Abi. Jarak yang menyadarkannya bahwa betapa pentingnya Abi untuknya.

__ADS_1


Anna melonggarkan pelukannya dan Abi mengusap lembut air mata Anna yang berjatuhan di pipinya. Abi begitu menyesal telah melupakan istrinya seharian kemarin. Tidak! 2 hari malah.


"Sayang... maafin aku ya... maaf aku melupakanmu. Maafin Mas Abi." Ucapnya penuh dengan penyesalan.


"Iya... akunya dilupain, tapi cinta ke akunya gak pernah lupa kaaann?? Hehehe..." Ujar Anna dengan tawanya.


"Istriku ini selalu bisa merubah suasana hati dari mendung, kelabu, terus tetiba aja ada matahari." Ucap Abi dengan candanya.


"Kayak mataharinya Teletabis ya? Cengar-cengir aja tapi imut. Hahaha..." Jawab Anna dengan tawa riangnya.


"Mas Abi sudah telepon Mama Rani belum? Sudah tau kalau Mama semalam pingsan?" Tanya Anna sambil memeluk tubuh suaminya dan mendongakkan kepala melihat Abi.


"Sudah. Sudah dapat lagu satu album." Tawanya renyah. Anna langsung tertawa riang sekali. Maksudnya Abi, ia sudah telepon Mama Rani dan sudah mendapat omelan bertubi-tubi.


"Uuhh... kasihan suamikuu... udah dengerin satu album full ya? Dari akunya belum. Hahaha..." Ujar Anna dengan candanya.


Saat itu ia teringat ucapan Dr. Reza yang meminta mereka untuk tidak berhubungan suami-istri dulu. Anna langsung melepas pelukannya dan menjauhkan dirinya dari Abi. Membuat Abi terkejut.


"Kenapa dek?" Tanya Abi bingung.


"Lupa. Kan gak boleh deket-deket dulu katanya Dr. Reza." Ucap Anna masih dengan rasa bersalah sambil mengecek tubuh Abi.


"I'm fine. I'm ok, honey." Jawab Abi yang merasa kesal karena ulah Dr. Reza, ia tidak bisa berdekatan dengan istrinya.


"Aku gak apa-apa. Justru aku akan kenapa-kenapa kalau gak peluk kamu." Langsung saja Abi menarik tangan Anna dan mendekap Anna di dada bidangnya.


"Mas Abi..." Panggil Anna dengan suara manjanya.


"Iya, sayang..." Jawab Abi lembut.


"Masih haruskah ke kantor?" Tanya Anna kepada Abi. Berat sekali Abi mengatakannya.


"Luka kamu gimana? Tadi Mas lihat kamu beberapa kali memegang keningmu?" Tanya Abi khawatir.


"Oh, ini. Gak apa kok. Udah mendingan. Hari ini juga bisa dilepas perbannya sama jaitannya. Aku nanti mau ke RS." Terang Anna kepada Abi.


"Mas anterin ke RS. Mas temenin kamu." Ujar Abi yang ingin sekali melihat Anna sehat. Sedih melihat istrinya harus menahan sakit seperti ini.


Ponsel Abi berdering. Terlihat dari layar ponselnya "Aryo". Urusan kantor sepertinya. Abi mengangkat teleponnya. Ia berbicara cukup serius dengan Aryo.


Anna tau bahwa ia pasti akan ditinggal lama lagi oleh suaminya. Anna melepas pelukannya dari Abi dan merapikan kertas-kertas yang tadi untuk seminar. Ia mengambil tas dan mengecek ponselnya.


Anna mendapat pesan dari teman-temannya Ayni, Aira, dan Alisha. Mereka ingin bertemu di butiknya Ayni. Ada yang ingin dibicarakan. Anna membalasnya, dengan satu kata " Okey." Abi menghampiri Anna.


"Dek, ayo Mas antar dulu ke RS." Ujar Abi. Yang terlihat sekali dari raut wajahnya ia khawatir dengan Anna tapi disisi lain, ia masih harus menyelesaikan urusan kantornya.


"Terima kasih untuk tawarannya Mas. Tapi tidak perlu. Mas Abi... Anna gak apa. Anna masih bisa kerjain sendiri. Udah tenang aja. Mas Abi ke kantor sekarang. Itu ponselnya bunyi terus dari tadi." Ucap Anna dengan nada setenang mungkin.


Walaupun sebenarnya ia juga enggan melepas Abi. Ia masih merindukan Abi. Tapi, yang saat ini butuh Abi bukan Anna. Tapi karyawan di kantornya. Saat Abi ingin bicara, ponselnya kembali berdering.


"Angkat dulu, Mas... kasiha mereka. Nungguin Mas Abi." Dengan wajah kesal Abi mengangkat teleponnya. Anna yang ada disampingnya mengelus punggung Abi. Abi tau bahwa Anna mencoba menenangkannya.


"Dek, Mas___" Suaranya terhenti. Berat sekali ia harus meninggalkan istrinya seperti ini.


"Iyaa. Tak apa. Sudah, ayo, buruan ke kantor. Kasihan orang kantor nunggu Mas Abi." Ucap Anna dengan senyum hangatnya.


"Tapi aku antar kamu dulu ke RS___" Belum sempat Abi meneruskan perkataannya. Ponselnya berdering kembali. Kali ini wajah Abi kaget bukan main. Abi menutup teleponnya dengan penuh wajah kesal, sedih, sudah tidak tergambarkan.


Abi memeluk Anna erat, erat sekali. Anna mengelus punggung Abi dengan lembut dan hangat. Anna teringat pembicaraannya dengan Papa Adi bahwa Abi akan ada perjalanan bisnis ke luar negeri ke Negara di Eropa. Perjalanannya dan stay di sana selama beberapa minggu.

__ADS_1


Pikir Anna, ada sisi positivenya. Ia dan Abi otomatis berjarak jauh. Jadi mereka tidak bisa bersentuhan atau melakukan hubungan suami-istri. Sisi negativenya, mungkin gak bisa yang setiap hari Video Call.


Abi dan Anna kembali ke apartment, Abi bersih-bersih, Anna menyiapkan keperluan Abi. Setelah selesai semua, Anna mengantar Abi dengan mobil Abi ke bandara internasional. Sampai di bandara, Abi sudah ditunggu oleh Adit, Aryo, Arka, Dito, sudah siap dengan perlengakapan dan peralatan tempurnya.


Anna mengantar sampai batas pengantaran. Anna juga minta izin karena mungkin beberapa hari ini akan bertemu beberapa teman-temannya dan aada kegiatan seminar/workshop.


Abi mengizinkan, asalkan Anna tetap jaga kesehatan. Karena Abi pikir, Anna akan bosan jika harus berdiam diri di rumah. Anna bukan tipe wanita yang senang jika tidak melakukan apa-apa. Justru Anna harus melakukan sesuatu untuk menghilangkan stressnya.


Abi membebaskan Anna ingin melakukan hal apapun yang ia sukai. Asalkan ingat pada porsinya dia sebagai seorang istri. Karena Ayah Bagas dan Bu Anin sedang di luar kota, jadi Anna berganti izinnya ke Mama Rani dan Papa Adi selama Abimanyu tugas di luar Negeri.


Abi sudah telepon Mama Rani dan Papa Adi untuk titip Anna dan menjaganya. Bukan karena Abi tidak percaya kepada Anna, hanya saja ia khawatir Anna kenapa-kenapa.


*****


DI BANDARA


"Hi, An. Sorry suami lo kita culik dulu." Ucap Arka cengar cengir.


"Iya gak apa. Dibalikin lagi tapi ya." Jawab Anna dengan candanya.


"Sorry ya, An. Kita mungkin akan mesra-mesraan sama suami lo di Eropa. Abi buat kita dulu ya. Hehehe..." Ujar Aryo.


"Hahaha... iya. Hati-hati ya. Kalau kerja, inget makan. Jangan inget mantan." Ucap Anna yang membuat semua tertawa terbahak-bahak.


"Emang kenapa kalau inget mantan, An?" Tanya Adit masih dengan tawanya.


"Kalau inget mantan, nanti bisa kekurangan ION tubuh. Jadi dehidrasi. Hahaha..." Jawab Anna dengan candanya yang mengundang gelak tawa.


"Inget mantan juga butuh energi." Sambung Anna yang membuat Adit, Aryo, Arka, dan Dito tertawa tak henti-henti.


Pengumuman untuk penumpang pesawat tujuan *Swis*s segera memasuki pesawat.


"Hati-hati ya Mas Abi. Kasih tau Anna, kapan Anna bisa menghubungi Mas. Supaya tidak mengganggu Mas Abi di sana." Ucapnya saat memeluk Abi. Anna mengelus lembut punggung Abi.


"Dek, Percaya sama Mas Abi, kan?" Tanyanya yang membuat Anna penasaran.


"Insyallah Anna percaya Mas Abi. Kenapa Mas?" Tanya Anna bingung.


"Apapun yang terjadi, apapun kejadiannya, Anna harus percaya sama Mas Abi. Karena apapun informasi yang Anna dapatkan dari orang-orang tentang Mas Abi, jangan pernah dipercaya kecuali Mas Abi yang cerita. Paham? Anna ngerti kan maksud, Mas Abi?" Abi memeluk Anna kembali. Sangat erat.


"Iya. Anna ngerti kok. I trust you, honey. I love you." Bisik Anna dalam dekapan Abi.


"I love you more than anything, honey." Ucap Abi seraya mencium kening Anna, pipinya, dan mendaratkan bibirnya di bibir Anna. Rasanya Abi tidak ingin melepasnya. Abi mendekatkan keningnya di kening Anna.


"Aku sangat mencintaimu." Ucap Abi sambil mencium kembali kening Anna.


"Anna uhibbuka fillah." Ucap Anna dengan mengecup lembut kening Abi.


Sedih, tapi ini resikonya menjadi seorang istri dari CEO terpenting di Indonesia. Perjuangannya untuk menyelamatkan orang-orang yang bekerja untuk kantornya dan keluarganya.


"Mas Abi, sayang... selalu lakukan semua dengan kata Bismillah. Hati-hati ya, Mas. Anna tunggu Mas Abi disini." Seketika itu, lepas saja bulir air mata jatuh dipipinya.


"Iya, dek. Pasti. Allah selalu nomer 1. Mas Abi berangkat ya. Doakan semua lancar dan mudah. Supaya Mas cepat kembali." Ujarnya.


"Pasti. Jaga kesehatan ya sayang. Anggap kita sedang menjalankan perintah Dr. Reza yang tidak boleh berhubungan suami-istri." Ucap Anna yang seketika membuat Abi teringat kembali dengan Om nya yang menyebalkan itu.


"Hehehe... iya dek. Aku sayang kamu." Ujar Abi dengan memeluk kembali Anna dan mencium keningnya lembut.


Abi berangkat ke Swiss untuk menyelesaikan pekerjaan kantornya. Anna sibukkan dengan janji temu bersama teman-temannya dan acara seminarnya.

__ADS_1


\*\*\*


__ADS_2