Sajak Rindu

Sajak Rindu
CHAPTER 30: ADIT & DIAN


__ADS_3

CAFE COFFEE


"Ngomong-ngomong, Adit apa kabar ya?" Ucap Aryo yang membuat suasana menjadi hening.


"Terakhir gue teleponan seminggu yang lalu. Dia masih sibuk ngurusin kantor yang ada di Jepang." Ujar Arka.


"Doain aja semoga baik-baik dia disana." Ujar Abi.


"Tapi dia bisa aja nanti ketemu sama Dian lagi. Lo juga waktu itu ketemu sama Dian kan, Al?" Tanya Arka.


"Iya. Terakhir waktu di RS Solo. Kurang baik pertemuannya." Ujar Aldi.


Tak lama, teman lama Abi pun muncul. Yang di tunggu-tunggu dateng juga akhirnya.


"Assalamualaikum..." Sapa Dimas dari jauh.


"Waduh, waduh, Pak Bos... duduk, duduk Pak." Ucap Arka yang ramah sekali sekaligus ngeledek.


"Abimanyu, Aldi, Aryo, Arka. Gilaaakk... gue kangen banget sama lo semua. Gimana-gimana kabar lo?" Tanya Dimas yang memecah hening saat itu.


Dimas datang bersama dengan Mba Ina. Senang sekali bertemu dengan Mba Ina.


Para suami sibuk bernostalgia para istri sibuk mendengarkan obrolan masa lalu mereka. Pasang telinga lebar-lebar.


Bedanya obrolan laki-laki dan perempuan itu dari cara atau sikap mereka menanggapi sebuah topik.


Kalau perempuan menanggapi topik masa lalu dengan wajah getir atau terluka. Tapi kalau laki-laki dengan wajah sumringah dan cengengesannya. Padahal sebenarnya yang diceritakan itu menyakitkan atau bahkan memalukan.


Kadang Anna suka heran sama jenis spesies ini. Kok bisa ya mereka tertawa padahal seharusnya moment yang mereka lakukan pada saat itu menyedihkan atau bahkan memalukan.


Tapi itulah uniknya manusia. Allah menciptakan berpasang-pasangan supaya kita mengerti satu sama lain.


Supaya saling bertoleransi dan saling belajar tentang karakter masing-masing. Mengerti dan mengetahui tentang karakter seseorang itu penting lho... supaya apa?


Supaya gak BAPER 😆


"Mba Ina, mau ngundang nih ceritanya?" Tanya Aira dengan meledeknya.


"Hahaha... iya. Maaf ya, datengnya cuma pas ngundang nikah aja. Dateng ya ke resepsiku sama Mas Dimas." Ujar Aira dengan senyumnya.


"Insya Allah. Aku dateng." Ucap Alisha.


"Aku? Sendirian aja?" Sahut Aryo yang mendengar percakapan Alisha dengan Ina.


"Hahaha... iya, iya. Sama Mas Yo, kok." Ucap Alisha meralat perkataannya.


"Anna dateng ya..." Ucap Ina dengan wajah memohon.


"Insya Allah. Anna dateng sama Mas Abi." Ucapnya sambil memegang lengan Abi.


"Lo ngundang siapa aja, Dim?" Tanya Arka.


"Beberapa temen SMA sama Kuliah aja sih. Kenapa emang, Ar?" Tanya Dimas.


"Wuidihh... temen SMA? Abi, mantan ada mantan? Hahaha..." Arka tuh seneng banget bangunin Macan. Haumm...😅


"Emang di SMA Abi punya mantan? Bukannya doi gak suka di deketin sama cewek ya?" Tanya Dimas dengan heran.


"Wiihh... jangan sedih Dim. Abi tuh punya mantan. Gak keliatan aja tapi." Ujar Aryo dengan candaannya.


"Eh, mantannya Abi itu si Maya bukannya?" Tanya Aldi yang sekarang ikutan mem-bully Abi.


"Bukaan... Al... itu mah waktu pas kuliah di New York. Ini kita bahas yang pas SMA cilok rebus, dasar." Ujar Arka yang sontak membuat semua yang ada di meja tersebut tertawa.


"Hoohh... gue pikir yang kuliah. Yang kuliah ada kan tapi? Maya kalau gak salah namanya. Yang menggilai Abi ampun-ampunan. Hahaha..." Ujar Aldi dengan tawa riangnya.


"Emang mantan Abi waktu SMA siapa deh? Banyak banget tau cewek yang suka sama Abi. Sampe bingung gue." Ujar Aryo.


"Si Anggun bukan? Mantannya Abi waktu SMA. Cantik tuh doi waktu dulu. Bodynya aja aduhai banget." Ucap Dimas yang tanpa sadarnya Ina sedang melihatnya.


"Anggun tuh cinta mati sama Abi. Bahkan doi sempet rela mau terjun dari gedung sekolah supaya Abi mau jadi pacarnya kan waktu itu?" Ujar Arka yang menambah panas ruangan.


"Lah, iya bener. Gue inget, gue inget, sampe Abi juga frustasi sama dirinya sendiri. Karena gak bisa deketin Anggun. Hahaha... sumpah kocak banget luh, Bi. Cupu..." Ujar Aldi dengan tawa yang diaminkan oleh teman-temannya.


"Tapi gue denger-denger Anggun sekarang tinggal di NY. Waktu kita kuliah, kalau gak salah gue pernah liat Anggun. Gue sempet di kirimin akun ig nya Anggun sama si Ipul." Ujar Arka yang seraya menyedot jus jeruknya.


"Gue sekilas liat ig nya juga. Waahh..." Ujar Dimas yang menggantungkan kata-katanya.


"Waahh, gimana maksudnya?" Tanya Aryo yang tidak mengerti dengan bahasa Dimas.


"Lo liat sendiri dah ig nya. Bi, ati-ati luh. Anggun bahaya. Nekat doi orangnya." Ujar Dimas.


"Nekat gimana maksudnya?" Tanya Arka.


"Lo tau Hendro? Dia kan bulan lalu mau nikah. Gak jadi. Batal. Gegara calon istrinya tau kalau Hendro selingkuh. Selingkuhannya si Anggun itu." Ucap Dimas.

__ADS_1


"Kok bisa Hendro ketemu Anggun? Bukannya Anggun gak suka banget sama Hendro dulu ya?" Tanya Arka.


"Ya... gak ngerti deh gue. Gue cuma tau kalau Anggun bahkan dateng ke akad nikah Hendro dan ngaku-ngaku kalau dia hamil anak Hendro. Rumit. Gak paham gue ceritanya. Gitulah pokoknya. Hahaha..." Ujar Dimas saat itu yang sambil menyesap ice cappucino nya.


"Si Hendro diporotin doang kali ya. Udah kelar duitnya ditinggalin. Gitu kan maksudnya? Gak jauh-jauh dah drama hidup." Ujar Arka.


"Yah... Anggun kalah sama Maia. Si Maia itu lebih gila lagi dari Anggun. Dia bahkan rela belum nikah sampe sekarang cuma karena nungguin Abi." Ucap Arka tanpa rasa bersalah.


"Maia mah rela banget ngorbanin dirinya buat Abi. Rela mati buat Abi." Ucap Aryo menambahkan.


"Maia itu dulu hampir berhasil bikin Abi tertarik. Tapi gagal." Ucap Arka.


"Gagal karena traumanya Abi ke cewek. Kalau enggak mah, mereka udah nikah kali." Lanjut Arka yang tanpa sadar membuat Anna jadi tak enak hati.


Anna berdiri dari duduknya dan izin kepada Abi untuk ke toilet.


"Dek, Mas temenin?" Ujar Abi yang tak ingin membuat hati istrinya merasa terluka.


"Gak apa. Anna sendiri aja. Aduh, Anna udah kebelet pipis. Titip tas." Melajulah Anna ke toilet.


"Tenang Bi... Anna bukan tipe perempuan yang pencemburu kok." Ujar Ayni yang melihat kegelisahan wajah Abi.


"Anna itu orangnya super duper cuek dan dia paham betul karakter orang-orang. Percaya deh, doi gak secepat itu tersinggung kok." Ucap Alisha.


"Coba aja lihat reaksinya Anna. Dia pasti cekikikan denger cerita lo zaman dulu." Ucap Aira.


"Udah tenang aja. Anna baik-baik aja. Dia emang kebelet pipis itu." Ujar Ina menambahkan.


"Heiiy... para suami. Tolong kalau mau bahas masa lalu, biarkan kami pergi dulu dari sini. Setelah itu, bolehlah kalian bernostalgia. Terkadang meski terlihat biasa saja. Tapi hati sakit lho dengernya." Ujar Aira kepada para sang suami.


"Maaf, maaf, kami terlalu senang bertemu kembali. Setelah lama tak jumpa." Ucap Dimas.


Tak lama, Anna datang dari toilet. Abi memperhatikan Anna. Adakah letak kesedihan di wajahnya?


"Hey, kok ngeliatin Anna gitu. Kenapa?" Tanya Anna yang mengelus pipi Abi. Seraya dia duduk di kursinya.


"Gak apa. Kok lama?" Tanya Abi dengan menyembunyikan kekhawatirannya.


"Iya. Ngantrinya Mas... uudduuhh... bikin geleng-geleng." Ujar Anna yang tak sanggup membayangkan antrian toilet itu.


"Mau kemana, Ay?" Tanya Anna.


"Toilet. Mau pipis." Ujarnya.


"Toilet bawah aja. Yang di atas full. Parah." Ucap Anna dengan menyilangkan lengannya membentuk tanda X. Tidak menyarankan.


Abi yang tak ingin sama sekali melepaskan Anna dengan menggenggam tangan Anna dan memainkan sela-selah jarinya.


Ada saja ulahnya yang buat Anna menggeleng tak heran dengan tingkah Abi kalau sedang manja.


"An, sorry ya. Tadi ngomongin nostalgia, lupa kalau ada lo." Ujar Dimas.


"Iya... santai Pak Dimas." Ucap Anna sambil mengelus lembut lengan Abi.


Percakapan malam itu begitu riuh ramai oleh cerita masa lalu para suami. Sedangkan si istri menjadi pendengarnya.


*****


RS. DI JEPANG


Adit saat itu sedang mengantar salah satu karyawannya karena kecelakaan. Tidak terlalu parah.


Kebetulan Dian sedang bertugas di sana selama 3 bulan. Dan...


"Dian?" Ucap Adit tak percaya dengan pertemuannya dengan Dian. Perempuan yang pernah singgah. Bukan. Bertahan bertahun-tahun di hati dan pikirannya. Yang sulit sekali ia lupakan.


"Adit?" Ucap Dian.


Adit yang saat itu ingin berbicara lebih ke Dian tapi suster sudah memanggilnya. Ia urungkan niatnya untuk berbincang dengan Dian.


Dian memeriksa pasien yang kebetulan karyawan kantor Adit yang kecelakaan. Setelah di jahit beberapa jahitan di kening dan lututnya, Dian keluar mencari udara segar.


*****


DI TAMAN RUMAH SAKIT


"Dian, Dian, Dian Puspita Sari." Ucap Adit yang mengejar dan memanggil Dian.


Dian berhenti dari pelariannya yang menghindari Adit. Ia tak ingin membuat hasrat rindunya kepada Adit membuncah.


"Dian! Kumohon berhenti!" Ucap Adit dengan tegas dan lantang.


Adit yang tanpa aba-aba langsung memeluk Dian. Tanpa kata, tanpa bicara, hanya dengan rasa.


Rasa mereka yang melihat pasangan masa lalunya sudah hidup bahagia dengan pujaannya.

__ADS_1


Dan kini, mereka yang harus rela menerima bahwa yang mereka inginkan tak melulu itu yang mereka harapkan.


Air mata Dian tumpah ruah membasahi kemeja Adit. Tak bisa dipungkiri bahwa rasa antara mereka berdua memang masih ada.


Tingkah bandel mereka dahulu pun Adit paham bahwa Dian hamil anaknya. Namun, Adit berusaha mencari Dian tapi nihil.


"Maafkan aku Adit. Maafkan aku..." Ucap Dian lirih.


"Kenapa minta maaf?" Tanya Adit lembut.


"Aku kehilangannya... hiks..." Semakin pecah tangis Dian karena anak yang dikandungnya tak lahir ke dunia.


"Aku begitu egois. Aku lupa kalau aku sedang mengandung. Hingga aku tau, aku butuh kamu." Perih rasanya hati Adit melihat Dian berderai air mata.


"Aku menghindarimu karena ku tau kau akan menikah. Maka dari itu aku menyembunyikan kehamilanku. Aku tak ingin membuat biduk rumah tanggamu hancur." Ucap Dian.


"Tapi setelah aku bertemu Aldi, ia menceritakan bagaimana gilanya kamu meninggalkan acara pernikahan itu. Wanita yang bersama Aldi, adalah calon istrimu dulu bukan? Awalnya aku kira dia selingkuh darimu. Ternyata justru aku yang hampir merusak pernikahan mereka." Ujar Dian dengan isak tangisnya.


"Mereka sudah berbahagia Dian. Biarkan. Sekarang tinggal kita. Apa kau akan terus menghindariku atau tetap bersamaku?" Ujar Adit seraya menghapus air mata Dian.


"Aku yang memulai, aku yang harus mengakhirinya Dian. Kamu, aku yang memperawanimu, aku yang akan bertanggung jawab menikahimu. Cuma aku yang berhak disampingmu. Tak boleh yang lain." Ucap Adit dengan wajah tegasnya.


"Hiks... hiks... aku rindu kamu Adit." Ujar Dian yang menghambur kepelukan Adit.


"Aku jauh sangat merindukanmu, sayang..." Ujar Adit dengan mencium ubun-ubun Dian.


"Kita menikah. Bulan depan." Ujar Adit yang membuat Dian terkejut bukan kepalang.


"Aditya, kita baru bertemu dan kau mengajakku menikah?" Tanya Dian dengan terkejutnya.


"Aku tidak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya. Itu hal terbodoh dalam hidupku Dian. Kumohon, ikuti mauku sekali ini saja." Ucap Adit dengan yakin.


"Apa kau yakin?" Ujar Dian.


"Sangat yakin. Aku akan segera menghubungi keluargaku dan keluargamu." Ujar Adit yang membuat Dian diam seribu bahasa tak tau harus berkata apa.


"Adiitt... tapi__" Belum sempat Dian berucap, Adit sudah berbicara.


"Aku yang akan mengurusnya. Kamu tinggal pilih tempat untuk menikah dan gaunnya." Ujar Adit yang begitu sumringah.


Adit sudah berjanji kepada dirinya sendiri. Ia bertekad untuk mencari Dian kembali setelah kejadian baku hantamnya dengan Aldi sahabatnya.


Dan ini mungkin cara Tuhan untuknya. Adit berjanji jika ia bertemu dengan Dian, dia akan langsung menikahinya tanpa ada keraguan sedikitpun.


*****


Adit memberi tau sahabat dekatnya di Indonesia bahwa ia akan menikahi Dian. Sontak membuat sohib-sohibnya terkejut bukan kepalang.


Adit meminta sohibnya untuk datang ke Korea Selatan. Karena Dian berpindah tugas di RS Negeri Gingseng tersebut.


*****


MEMILIH GAUN


"Sayang, yang ini aja gimana?" Tanya Dian yang begitu semangat seharian ini memilah gaun-gaunnya.


Adit dengan semangat menemaninya. Betapa cantiknya wanitanya. Selama ini dia kemana, tak pernah hadir untuknya.


Intermezzo: Dian Puspita Sari itu adalah anak tunggal. Ibunya sudah meninggal sejak ia berusia 7 tahun dan Ayahnya menikah lagi yang sekarang tinggal di Jerman bersama dengan istri atau mama tiri Dian.


Dian sempat tinggal di Jerman sampai ia lulus SMA di sana. Namun, saat kuliah Dian meminta izin Ayahnya untuk kuliah di luar Negeri. Jadilah ia melanglang buana ke Negeri-Negeri orang yang membuatnya menjadi wanita yang mandiri, tangguh, dan elegan.


Hingga saat kuliah kedokteran ia bertemu dengan laki-laki tampan. Adit, Aldi, Aryo, Arka, dan Abi. Awalnya yang membuat tertarik adalah Aldi, makanya ia pacaran dengan Aldi.


Tapi saat Dian berusaha mendekatkan temannya dengan Adit, justru malah Dian yang kepincut hatinya kepada Adit. Jadilah mereka berselingkuh.


Hingga pada tahap pergaulan yang tak seharusnya mereka lakukan dan Aldi mengetahuinya.


Hancur sudah saat-saat itu. Dian menghilang. Adit di jodohkan dengan Ayni saat itu. Aldi pergi meneruskan kuliah kedokterannya.


Mereka berpencar dan sekarang dipertemukan kembali dalam bentuk hubungan yang romantis.


Dan sudah mempunyai pasangannya masing-masing. Tuhan itu adil banget. Tau banget apa yang kita butuhkan.


intermezzo close.


"Kayaknya yang mini bagus tadi, Yang. Hehehe..." Ujar Adit dengan senyum jahilnya.


"Iihh... mesum banget. Dasar." Ucap Dian yang seraya mencium lembut bibir Adit.


Adit menanggapinya dengan senang hati tentunya. Bahkan tak ingin berhenti begitu saja. Tapi tak bisa. Mereka harus memastikan gaun mana yang ingin dipakainya.


*****


Setelah sekian lama, akhirnya mereka mendapatkan gaun tersebut. Mereka mengecek dan menelepon sohib-sohibnya yang dalam perjalanan ke KorSel untuk menghadiri pernikahan Adit dan Dian.

__ADS_1


******


*Cuy Adit dan Dian ini pola penggambaran karakter mereka itu adat kebaratan ya... jadi jangan kaget kalau ada selipan-selipan adegan yang agak sensual. Hehehe... 😁✌


__ADS_2