
ADIT AND DIAN'S WEDDING
Mereka begitu sibuk. Si para istri memakai kebaya brukat berwarna cokelat terang, dengan rok kain batiknya yang simple langsung tinggal pakai, dan jilbab cokelat polos simple yang panjang menutupi dada.
Yang laki-laki, paling simple. Hanya memakai baju batik lengan panjang, celana bahan hitam, dan sepatu klimis mereka.
"Masya Allah... Anna Maheswari, kamu cantik sekali, sayang..." Ujar Abi yang begitu terperangah melihat istrinya begitu cantik.
"Hehehe... makasih Maskuuh... sekarang, boleh bantu Anna cari sepatu? Perasaan tadi sudah Anna siapkan di dekat pintu, kok gak ada ya?" Ujar Anna.
"Adek, yang nyimpen di dekat sofa siapa ya?" Tanya Abi yang menunjukkan sepatu Anna.
"Oh, iya. Lupa. Hehehe..." Ujar Anna dengan khas cengiran kudanya.
"Dek, kamu bawa apa?" Tanya Abi yang melihat Anna membawa salep dan hansaplast yang dimasukkan ke dalam sling bag nya.
"Oh... ini salep Mas. Sama hansaplast. Soalnya kaki Anna suka sakit. Kalau kelamaan pake sepatu heels atau wedges gitu. Hehehe..." Jelas Anna.
"Kamu cari sepatunya yang bahan dalamnya empuk dek. Biar gak lecet." Ujar Abi.
"Sudah sayangkuu... tapi tetap lecet. Makanya Anna jarang pake sepatu-sepatu seperti ini. Kalau bukan acara-acara penting. Hehehe..." Ujarnya dengan senyum kudanya.
"Kalau sakit bilang ya, dek. Biar Mas Abi ambilin flatshoes atau kets shoes." Jawab Abi merasa agak khawatir dengan istrinya tersebut.
*****
Indahnya wedding party Adit dan Dian. Mereka terlihat bahagia. Melihat senyum keduanya yang sangat bahagia dan tanpa beban apapun membuat siapapun terhanyut dalam acara sakral ini.
"Bro, congrats ya. *Happy weddi*ng. Sakinah, mawadah, warahmah." Ucap Abi dengan merangkul dan menepuk pundak Adit yang tetap saja Abi lebih tinggi dari Adit.
"Dian, congrats ya... happily ever after." Ucap Anna dengan cipika-cipiki ke Dian.
"Makasih ya, dek. Kamu baik banget. Udah mau bantu urus kostum bridemaids nya." Ujar Dian kepada Anna.
"Hahaha... bukan saya Bu Dokter. Yang bantu penuh itu Ayni. Sang perancang." Ujar Anna dengan menunjuk Ayni.
"Hi, Kak Dian. Selamat ya atas pernikahannya. Semoga langgeng terus sampai kakek nenek. Hehehe..." Ucap Ayni dengan seulas senyum.
"Iyaa... makasih ya Ayni... maafkan atas semua kesalah pahamanku terhadapmu selama ini dan terima kasih telah membantuku untuk kostum bridemaids nya." Ujar Dian yang tulus.
"Sama-sama Kak. Gak masalah. Yang lalu biarlah berlalu." Ujar Ayni dengan senyum bahagianya.
"Wuiidihh... Pak Bos. Gak mau kalah banget. Kita ijab kabul. Lo langsung broo... rame banget acara lo. Keren." Ujar Arka dengan gurauannya.
"Lo tuh ya, Ar. Sehari gak nge-bully gue ada yang kurang apa? Kok kayaknya bahan bully banget gue ya sama lo? Kampret." Ucap Adit seraya menepuk punggung satu sama lain.
Tak lupa Adit juga mengucapkan selamat atas terlaksana dengan syahnya pernikahan antara Adit dan Aira.
"Dit, selamat ya. Bahagia selalu buat lo, sob." Ujar Aldi yang menghampiri Adit. Terlihat canggung awalnya tapi...
"Pasti, sob. Maafin gue ya. Childish banget gue waktu itu. Tapi, b**i lo aman kan? Hahaha..." Tanyanya tanpa sensor. Yang membuat orang-orang disekitarnya kaget bukan main Adit bertanya seperti itu.
"Sial! Sue, lo Dit! Ya masihlah. Aman banget. Ada juga lo tuh. Orang masih kecil juga udah kawin aja. Berbuah? Hahaha..." Tanya Aldi kepada Adit.
"Tadinya berbuah Al. Tapi mungkin Allah berkehendak lain. Jadi buahnya diambil. Kosong. Rapet lagi deh. Orang udah 3 tahun lebih gak disentuh." Jelas Adit kepada Aldi.
"Apanya? Buahnya gak disentuh maksudnya?" Tanya Aryo yang menyambar percakapan mereka.
"Yee... bocah. Gak usah ikutan deh lo. Buah masih kecil, pusaka gak seberapa juga luh. Belagu." Ucap Arka yang kemudian bergabung dengan mereka.
"Lo juga samanya, kampret. Emang udah jajalin lo? Kalau belum mah gak usah ngomong." Ujar Aryo yang mencibikkan bibirnya.
"Wooy... ini acara mau dibakar aja apa gimana?" Tanya Abi yang berusaha menghentikan pembicaraan mereka.
"Udah, udah, cuy... Big Boss mendekat." Ujar Arka yang memang suka sekali ngebanyol.
"Sompret luh pada! Sini luh!" Ujar Abi yang kesal sekali dengan sohib-sohibnya itu.
Lain laki, lain perempuan. Sang perempuan duduk di kursi dengan meja bundar berselimut kain putih utuk menutupi meja tersebut.
"Ayni, kamu kok pucat sekali?" Tanya Dian yang memang jiwa dokternya kuat sekali.
"Ini kayaknya masuk angin Kak. Badannya gak enak banget." Ujar Ayni yang memang agak pusing saat itu.
Ayni mencoba berdiri. Namun...
Bruuggh...
"Ayni??" Panggil Abi berteriak. Sontak membuat tamu undangan melihat ke arahnya semua.
Aldi yang saat itu merasa ada yang aneh dengan sikap Ayni. Ia langsung menghampiri Ayni. Namun, saat ia menghampirinya, Ayni jatuh tak sadarkan diri.
"Ya Allah... Aynii..." Pekik teman-temannya.
Ayni dibawa ke dalam ruangan ballroom tersebut. Yang tak ada orang dan jauh dari kebisingan.
__ADS_1
"Aldi !! Lo itu dokter. Masa istri lo hamil. Lo gak tau? Udah gila kali ya, lo!" Ujar Dian yang begitu kesal dengan Aldi.
Sontak membut Aldi dan teman-teman yang lain tekejut mendengar perkataan Dian. Mereka senang, senangg sekali. Mendengar Ayni hamil.
"Udah. Minggir ! Gue yang cek. Lo tuh jadi suami gimana sih !" Ujar Dian dengan kesalnya.
"Sayang, boleh tolong ambilin tas kerjaku di meja?" Ucapnya kepada Adit. Adit segera membawakannya. Dian memeriksa kondisi Ayni.
"Al, lo peka dikit dong jadi laki. Lo udah punya istri. Dokter pula. Jaga istri lo baik-baik! Lo tau gak kalau Ayni sudah mengandung masuk dua bulan?" Ucap Dian yang semakin membuat Aldi shock dengan ucapannya.
2 bulan??? Dan Aldi sama sekali gak tau kalau sensitifnya Ayni selama ini karena dia sedang hamil. Ya Allah... merutuki diri sendiri Aldi.
"Gak tau kan lo? Gue rasa Ayni juga gak tau. Dan___" Ucapnya terhenti.
"Kondisi istri lo lemah banget. Bawa dia ke RS tempat gue kerja. Dia butuh perawatan. Disini gue gak ada alatnya." Ujar Dian.
"Al !! Janinnya terlalu lemah. Coba nanti kalau lo sampai RS, minta cek ke USG. Lo tau apa yang harus lo lakukan. Udah, bawa ke RS deh." Ujar Dian dengan menelepon pihak RS untuk menyiapkan bangsal buat Ayni.
Arka dan Aira membantu Aldi membawa Ayni ke RS. Sedangkan Anna, Abi, Aryo, dan Alisha masih dalam acara pernikahannya Adit dan Dian sampai selesai.
*****
Wedding party was done !!
Aldi sudah di RS tempat Ayni membaringkan tubuhnya karena tak sadarkan diri tadi.
"Mas..." Ayni memanggil Aldi yang duduk di bangku samping tempat tidurnya.
"Aku dimana?" Tanyanya yang masih menahan rasa pening di kepalanya.
"Sayang... kamu sudah sadar? Kamu di RS dek. Maafin Mas Aldi ya... Maafin Mas dek.." Ucap Aldi seraya mengecup kening Ayni.
"Ada apa Mas sebenarnya? Ayni pingsan?" Tanyanya yang bingung akan kejadian ini.
Aldi menceritakan semuanya kepada Ayni. Bahwa Ayni hamil. Namun, kondisi Ibu sangat lemah, jadi kondisi janinpun ikut lemah.
"Sayang, maafin Mas Aldi ya. Mas dokter tapi istri hamilpun Mas gak tau." Ucapnya sembari mengecup punggung tangan Ayni.
"Gak perlu minta maaf, Mas... Ayni juga salah kok. Harusnya Ayni lebih peka sama tubuh Ayni. Tapi ini terasa pun tidak. Tak apa, Mas Aldiku sayang... tak perlu merasa bersalah seperti itu." Ujar Ayni dengan mengelus lembut pipi Abi.
"Yang penting sekarang kita sudah tau bahwa ada Aldi junior disini." Ucap Ayni sambil menunjuk perutnya.
"Hehehe... Aldi junior. Lucu juga namanya, dek." Ucap Aldi yang seraya mengelus perut Ayni.
*****
Setelah kembali dari RS dan Aldi meminta Arka serta Aira kembali ke hotel untuk mengabarkan kepada yang lainnya agar tidak terlalu khawatir.
Kembalilah Arka dan Aira ke hotel. Ia mengabari teman-temannya bahwa Ayni baik-baik saja dan sudah ditangani oleh dokter pribadinya. Ya... siapa lagi kalau bukan Aldi.
*****
"Dek, capek gak?" Tanya Arka kepada Aira.
"Lumayan, Mas. Kenapa?" Tanya Aira.
Aira yang sedang berganti pakaian tersebut agak sedikit terkejut saat Arka memeluknya dan mencium tengkuknya.
"Mas Arka, salah gak kalau mau minta itu sekarang?" Tanyanya yang membenamkan wajahnya di pundak Aira.
"Mas..." Panggil Aira dengan lembut dan membalikkan tubuhnya menghadap Arka.
"Aku ini istrimu, sayang... aku tak boleh menolak, jika suamiku ingin. Mas Arka tak perlu sungkan. Sayang... aku sudah seutuhnya milikmu." Ujar Aira dengan suara lembutnya dan mengelus lembut pipi Arka.
"I love you, sweetheart." Ucap Arka yang sudah dengan deru nafas hasrat cintanya.
"Mas, sudah di kunci pintu dan jendela? Ini di hotel lho Mas. Takut ada yang aneh-aneh." Ucap Aira.
"Iya, Mas Arka cek dulu ya." Setelah di cek oleh Arka dan di rasa aman. Arka mengganti pakaian batiknya dengan pakaian tidurnya.
Aira memakai night gown yang begitu memikat hasrat Arka untuk segera menghampirinya.
"Sayang..." Ucap Arka yang memeluk Aira dari belakang. Deru nafas Arka yang memburu di tengkuk Aira, membuat Aira tergoda untuk memutar tubuhnya dan menghadap Arka.
Aira yang saat itu sedang berada di dapur untuk mengambil air minum, menjadi ikut bernafsu ketika Arka menghujam bibirnya dengan bibir Arka.
Arka mendudukkan Aira di kitchen set tersebut dan memulai aksinya. Aira? Mengikuti alur Arka saja. 😁
*****
Alisha dan Aryo sudah bersiap untuk istirahat. Namun, dering ponsel Aryo membuatnya terbangun kembali dari tidurnya.
Dari kantor sepertinya. Ketika Alisha melihat jam dinding, ini sudah sangat malam. Tapi kenapa orang kantor masih menelepon? Batinnya.
"Telepon dari siapa Mas?" Tanya Alisha.
__ADS_1
"Dari Dito. Dia lupa kali kita di Korea, dek. Dia pikir kita di Indonesia. Jadi masih belum terlalu malam. Padahal kita di Korea." Jelas Aryo.
"Emang Dito dimana Mas?" Tanya Alisha.
"Di London. Hehehe..." Jawabnya dengan khas cengar-cengirnya.
"Ohh... pantesan. Icha pikir dari siapa..." Ujarnya seraya membaringkan tubuhnya di dekat Aryo.
"Emang adek pikir, Mas Yo dapat telepon dari siapa?" Tanyanya dengan seulas senyum.
"Dari cewek ganjen yang neleponin suami orang malem-malem." Ujar Alisha agak kesal.
"Yaampun dek... aku mah kamu aja udah cukup. Gak ada niat buat nambah lagi. Udah, cintanya sama kamu. Hehehe..." Ujar Aryo dengan mengecup kening Alisha.
"Serius??" Tanya Alisha dengan wajah curiga.
"Iyaaa... sayangkuu..." Ujar Aryo yang mencubit gemas pipi Alisha dan menciuminya bertubi-tubi.
"Mas... hahaha... geli tau. Udah, ayo. Istirahat. Dari tadi pagi kita belum istirahat lho..." Ujar Alisha.
"Dek... tapi Mas mau... itu... gak jadi deh." Ucap Aryo yang agak ragu memintanya kepada Alisha karena tau Alisha juga capek.
Alisha yang mengerti maksud Aryo segera saja mencium bibir Aryo dan melumatnya. Aryo? Tak mungkin tinggal diam. Dia menyambut dengan lembut ciuman hangat dari sang istri.
Yang tadinya sekedar kecup, sekarang berubah menjadi cium hangat, yang berujung menjadi ciuman panas penuh hasrat.
*Tau deh, habis itu ngapain 😆
*****
"Mas Abiiii... sakiitt..." Ujar Anna yang berucap manja kepada Abi.
Kesleo. Pasti. Anna itu paling gak bisa pake sepatu dengan heels yang tinggi. Padahal itu heelsnya gak tinggi-tinggi banget. Paling cuma 7cm.
"Dek, ini direndam pakai air hangat ya... supaya gak bengkak. Besok pagi bisa normal lagi dan gak terlalu pegal." Ujar Abi kepada Anna yang saat ini posisi Abi sedang berjongkok dihadapan Anna. Pewaris tunggal itu... Anna luarrr biasa. Hahaha 😆
Abi menyiapkan air hangat di bathtub dan membawakam baju ganti untuk Anna. Karena ia pasti tak nyaman dengan pakaiannya saat ini.
Abi keluar kamar mandi dan mengganti pakaiannya juga. Ketika Abi kembali ke kamar mandi, Anna hanya memakai balutan handuk yang menutupi dada hingga bagian paha atasnya.
"Mas... kayaknya udah gak terlalu bengkak." Ujar Anna kepada Abi yang sudah berada di kaki Anna, sekarang untuk memijat kaki Anna.
"Masih sakit gak dek kalau Mas pijit dekat mata kaki?" Tanya Abi yang begitu telaten memijat Anna.
"Enggak Mas. Gak ngilu juga. Udah okey, nih kaki Anna. Makasih ya sayang..." Ucap Ana sambil mengelus lembut pipi Abi.
"Kiss nya mana?" Tanya Abi yang sudah siap memajukan bibirnya ke bibir Anna. Anna memberikan kecupan singkatnya ke Abi.
Setelah itu, Anna beranjak dari bathtub dan ingin berjalan keluar untuk mengambil baju gantinya.
Namun, Abi menghalanginya. Dengan tubuh kekarnya, Anna bisa apa?
"Mas Abi, kenapa sayang?" Tanya Anna yang bingung dengan tatapan wajah Abi.
"Aku mau itu." Ujar Abi dengan menunjuk dua benda sintal milik Anna.
"Sebentar ya... Anna ganti baju dulu boleh?" Tanyanya kepada Abi.
"Gak perlu ganti baju. Gini aja, dek." Abi langsung menyambar bibir Anna dan menghujani ciuman dan lumatan dibibir Anna.
Malam yang panjang, yang semakin terasa hasrat cinta memanas.
*****
Pengantin baru? Jangan tanya. Mereka bisa lebih heboh dari 3 pasangan di atas. 😅
"Sayang..." Ucap Adit yang sudah dengan deru nafasnya yang berat.
"Cek semua dulu, baru kita mulai ya sayangg..." Ucap Dian dengan melumat habis bibir Adit.
Kemudian Dian melepaskan lumatannya. Meminta Adit mengecek kamar hotelnya yang dirasa sudah aman.
"Dian... sweety." Panggil Adit ke Dian.
"Iya, sayang... aku lagi ambil minum sebentar." Ketika Dian baru sampai di sofa hotel, Adit sudah merangkul pinggulnya dan melumat habis bibir Dian.
Abi mengambil gelas yang dibawa oleh Dian dan menaruhnya di meja tanpa melepas ciumannya kepada Dian.
Dian mempunyai tubuh idealnya seorang wanita. Perempuan manapun akan iri dengan tubuh idealnya.
Membuat Adit semakin memburunya. Ciuman yang awalnya hangat, kemudian berubah menjadi panas.
Semakin malam, semakin panas. Hotel dengan kedap suara itu pun hanya akan menjadi saksi bisu pertempuran para pejuang sperma malam ini.
******
__ADS_1