Sajak Rindu

Sajak Rindu
CHAPTER 34: BUNGEE JUMP


__ADS_3

Anna dan Abi masih stay di Korea Selatan. Mereka menghabiskan waktu berdua untuk berjalan-jalan.


"Dek, kita kan belum honeymoon. Adek mau honeymoon nya kemana?" Tanya Abi.


"Emm... habis resepsi ya? Akhir tahun gitu bukannya malah rame ya, Mas?" Tanya Anna kepada Abi.


"Yaa... jangan akhir tahun. Adek bisanya kapan, kita pergi. Kalau Mas kan masih bisa resechedule." Ujar Abi.


"Resepsi kita aja bulan depan lho Mas. Untung udah di urus EO. Tinggal dateng aja ya... hahaha... kalau enggak, aku gak ngerti harus bagi waktu gimana. Hahaha..." Ujar Anna yang memang pusing, jadwalnya begitu padat.


"Resepsi kan kita tinggal duduk manis. Honeymoon nya yang seperti apa adek maunya?" Tanya Abi dengan mengelus lembut rambut Anna.


"Emm... Anna pengeenn... banget nyobain naik balon udara. Hehehe... itu dimana ya?" Tanya Anna dengan cengiran kudanya.


"Sini, deh dek." Ucap Aryo yang meminta Anna untuk duduk berdekatan dengan Abi di sofa yang panjang, di balkon hotel.


Anna duduk mendekat, Abi mendekap erat tubuh Anna. Karena udara cukup dingin saat itu, posisi ini paling perfect.


Anna yang saat itu mengenakan soft pink flowers night gown menjadi hangat karena dekapan lengan kokoh Abi.


"Kenapa, Adek pengen naik balon udara?" Ucap Abi yang berbaring di sofa seraya menyandarkan tubuhnya dan memberikan satu lengannya kepada Anna.


"Pengen aja, nyobain terbang yang benar-benar bisa nikmatin alam bebas." Ucap Anna dengan memperlihatkan jejeran gigi putihnya.


"Kamu suka *hikin*g, Dek?" Tanya Abi.


"Suka. Naik gunung suka, travelling suka, bacpackeran juga suka. Pokoknya yang menyatu dengan alam, aku suka. Percaya atau enggak, aku suka Extreme Sports lho, Mas... hehehe..." Terang Anna.


"Oh, ya? Wow! Kita bisa jelajah dunia kalau gitu, Dek. Hehehe... itu kenapa kamu pilih bungee jump?" Tanya Abi dengan menaikkan alisnya.


"Hahaha... iya. Aku pengen nyobain. Tapi gak berani kalau sendiri. Jadi nunggu punya suami dulu baru berani naiknya. Hahaha... aneh ya?" Ucap Anna dengan tawa riangnya.


"Untung suaminya pemberani. Gak takut sama yang macem begituan. Ceteek..." Ujar Abi dengan menyentilkan jari kelingking dan ibu jarinya.


"Beneran? Bungee jump disini itu lumayan tinggi lho, Mas... berani? Yakin?" Ujar Anna meledek Abi.


"Tingginya seberapa sih... paling gak nyampe 70 atau 80 meter kan? Cetek..." Ujar Abi dengan muka remehnya.


"Yaampun... pede banget ini orang. Suami siapa sih nih. Hahaha... gemess" Ucap Anna dengan memencet hidung Abi.


"Hahaha... beneran. Aku bukannya belagu. Tapi emang udah pernah ngerasain yang macem gitu. Coba sekarang Mas Abi tanya. Adek udah pernah belum paragliding ? Atau skydiving ?" Tanya Abi.


"Belum..." Ucap Anna dengan menundukan wajahnya dan menggelengkan kepalanya.


"Nah, kalau belum, berarti emang harus coba *bungee jum*ping dulu. Karena itu salah satu stimulus biar gak takut-takut banget nyobain yang lebih extreme dari itu. Mas sudah pernah coba semua. Bareng sama antek-antek Mas. Hahaha..."


"Seru ya pasti?" Tanya Anna.


"Yang suka dengan permainan adrenalin, ya suka dek. Yang gak suka, ya... gak suka. Kebetulan, Mas Abi suka dengan X-Games gitu. Nanti kapan-kapan kita coba ya..." Ucap Abi dengan mendekap tubuh Anna ke tubuhnya dan mengecup ubun-ubun Anna.


"Asiikk... tapi sama Mas Abi ya... kalau sendiri, gak tau mampu apa enggak. Mencintai Mas Abi aja yang aku mampu. Ahahaha..." Ucap Anna yang mengundang tawa Abi.


"Ahahaha... yaah... Mas Abi digombalin lagi deh, nih. Gimana gak baper coba Mas Abimu, Dek..." Ujarnya dengan mencubit gemas pipi Anna yang chubby.


"Hahaha... biarin. Biar makin cinta sama Anna." Ucapnya dengan manja.


"Itu sih udah pasti. Hahaha..." Abimanyu.


"Mas, masuk yuk..." Ucap Anna yang mulai merasa dingin tubuhnya.


"Masuk kemana, Dek?" Ujar Abi dengan tatapan memburunya.


"Masuk kamar, Mas... Hahaha..." Anna yang tau maksud Abi tertawa geli sekali melihat ekspresi wajah suaminya.


Abi berdiri dari baringan sofanya. Anna yang begitu manja meminta untuk digendong.


"Mas Abi... gendong... hehehe..." Ucap Anna dengan manjanya.


"Mas gemes kalau adek manja gini. Gemeess..." Ucapnya sambil menciumi pipi Anna bertubi-tubi.


*****


Pagi harinya mereka semua sudah bersiap menuju Bungee Jump Gapyeong Top Land yang jaraknya tidak terlalu jauh dari kota Seoul.


Berangkatnya mereka naik kendaraan umum. Yang bisa bahasa Korea, paling depan. Anna paling depan tentunya.


Kenapa gak naik travel aja dari hotel? Kenapa harus naik public transportation?


Jawabannya: Karena sisi kebersamaannya lebih seru.


Ayni kondisinya sudah mulai membaik. Aldi terus mengecek kondisi Ayni. Walaupun terlihat sesekali Aldi begitu posesif kepada Ayni. Maklum... pengalaman pertama.


Dian dan Adit juga ikut saat itu. Dan kalian tau apa? Dian berjilbab lho... Masya Allah...


"Assalamualaikum..." Ucap salam Dian kepada Anna, Ayni, Aira, dan Alisha.


"Waalaikumsalam... Masya Allah... Mba Dian... cantik sekali..." Ujar Anna, Ayni, Alisha dan Aira.


"Waalaikumsalam..." Ujar para suami yang disapa Adit.


"Senengg... bangeett... lihatnya..." Ucap Alisha yang heboh dengan penampilan Dian.


"Makasih ya semua. Sudah disambut hangat dan baik oleh kalian. Aku senang... sekali." Ucap Dian dengan senyum sumringahnya.


"Keren lo, Dit. Salut gue." Ucap Aryo dengan menepuk pundak Adit.


"Dian yang mau. Gue support aja. Awalnya juga gue kaget waktu dia memutuskan untuk sekarang berhijab. Cuma tekadnya kuat bro... gue sebagai suami support terus lah. Selagi hal itu positif buat Dian." Ucapnya sambil melihat istrinya yang begitu bahagia menemukan keluarga barunya.


"Cantikan mana, Dit? Pake hijab atau gak pake hijab?" Tanya Arka usil.


"Gak pake hijab cantik. Pake hijab, jauh lebih cantik. Puas lo." Ucap Adit yang mencibikkan bibirnya ke Arka.


"Perempuan berhijab itu pesonanya lebih memikat. Apalagi istri gue. Hehe..." Ucap Aryo.


Abi yang mendengar celotehan temannya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sudah menjadi tontonan yang biasa untuknya melihat tingkah gila sobat-sobatnya itu.

__ADS_1


"Hey... ayo, keretanya sudah datang." Panggil Anna dengan melambaikan tangannya kepada teman-temannya.


Mereka masuk kereta yang tidak terlalu padat tapi cukup ramai. Karena Ayni sedang hamil, ia butuh tempat duduk.


"Joesonghabnida, imsanbu jeon-yong jwaseog-i issseubnikka? (sorry, is there a special seat for pregnant women?)" Tanya Anna kepada salah satu petugasnya.


"*G*euleohseubnida. Daleun jjog kkeut-e anj-a (Yes, there is. Sit at the other end)." Ucap salah seorang petugas.


"*N*e gamsahabnida (Yes. Thank you)." Ucap Anna.


"Gimana, gimana An?" Tanya teman-temannya.


"Ada, di ujung sana tempat duduknya." Ucap Anna dengan menunjuk ujung kursi di kereta tersebut.


"Habis ini, kita turun dimana?" Tanya Alisha yang bingung dengan huruf Hangul itu.


"Turun di Yongsan Station." Ucap Anna yang sambil melihat petanya.


"Nyasar, lo tanggung jawab ya, An. Hahaha..." Ujar Arka.


"Hahaha... bareng-bareng ini kan?" Ucap Anna dengan mengundang tawa semuanya.


Ting... tong...


"Yuk, turun. Udah sampe." Ujar Anna.


Mereka mengikuti Anna saja. Karena Anna GPS nya saat itu. Setelah perjalanan yang menempuh waktu kurang lebih 1 jam tersebut, sampailah mereka di Gapyeong Top Land.


Mereka mengurus semuanya dibantu dengan salah satu tour guide yang mampu bahasa Indonesia, Inggris, dan Korea.


"Ayni gak diizinin kan ya? Terus tunggu dimana Ay?" Tanya Aira.


"An, coba tolong tanyain." Ucap Alisha.


"Joesonghabnida, butaghabnida imsanbuui gyeong-u eodieseo gidaligo issseubnikka? (Sorry, I want to ask, sir. For pregnant women, where are they waiting for?)" Tanya Anna kepada salah satu petugas di bungee jump.


"Daegisil-eseo gidalil su issseubnida. geudeul-eun yeojeonhi ​​keun yulieseo bol su issseubnida. (They can wait in the waiting room.They can still see from the big glass)." Ujar petugas tersebut.


"Ne, gamsahabnida (Yes. Thank you)." Ucap Anna.


"Ay, nanti lo nunggu di ruang tunggu aja. Ruang tunggunya di bawah. Nanti lo masih bisa lihat kita dari sana kok. Lo sama siapa?" Tanya Anna kepada Ayni.


"Sama gue An." Jawab Aldi.


"Lho, Al, lo gak ikutan?" Tanya Adit.


"Gue skip dulu deh. Gue jadi penonton aja kali ini. Hahaha..." Ujar Aldi dengan tawanya.


Alisha itu phobia ketinggian. Tapi karena ada Aryo, Alisha mencoba memberanikan diri.


Sesampainya di atas, Anna bicara kepada teman-temannya.


"Cuy, udah tau kan kalau tingginya 63M?" Tanya Anna dengan santainya. Walaupun dia juga deg-degan.


"Hah?! Astagfirullahalazim... Anna... lo gak bilang ya. Lo cuma bilang, ini tinggi." Ucap Aira yang refleks langsung memegang lengan Arka.


"Abimanyu, tuh lihat, kelakuan istri lo yang jail banget sama sobatnya sendiri. Emang bener-bener deh Anna..." Ujar Alisha yang sudah keringat dingin. Aryo mengusap-usap punggung Alisha untuk menenangkannya.


Abi hanya senyum-senyum saja. Anna melingkarkan tangannya di lengan Abi.


Sebelum mulai bungee jumping mereka mendapatkan pelatihan cara menggendong pasangan mereka disaat bungge jump. Supaya tidak terluka.


Arka mencobanya duluan bersama dengan Aira. Arka menggendong Aira dan Aira harus melingkarkan tangannya di leher Arka dengan erat. Arka harus menopang tubuh Aira dengan kedua lengannya. Aira pun harus menangkupkan wajah dan kepalanya di belakang pundak Arka.


Kelihatannya mudah, tapi ternyata sulit. Lebih mudah bungee jumping sendiri. Kalau punya nyali sih... 😆


"Mas Abi, pernah cobain yang *coupl*e ?" Tanya Anna.


"Belum pernah. Kan aku gak bisa deket sama perempuan kecuali keluargaku. Mas taunya sendiri." Ujar Abi yang masih memperhatikan si couch nya melatih Aira dan Arka.


"Oh, iya bener. Hehehe... lupa aku." Anna.


"Gimana, Ar?" Tanya Abi.


"Karena couple kali ya, jadi agak lebih rumit rules nya. Karena resikonya dua orang. Tadi Couch nya bilang gitu." Ujar Arka yang menenggak minumannya karena haus.


"Berat badan lo juga harus seimbang sama pasangan lo, Bi." Ujar Arka setelah menenggak air mineralnya.


"Waktu ditimbang tadi dibawah, seimbang kita ya, dek." Ucap Abi seraya melihat Anna dan Anna mengangguk meng-iyakan.


"Alhamdulillahnya, berat badan kita seimbang semuanya." Ujar Aryo.


Times to go...


Mereka hompimpa yang kalah terjun duluan. Hahaha... kayak bocah deh. Tapi itu serunya. Sayangnya, Adit dan Dian yang mendapat giliran pertama untuk terjun.


"Mas... aku takut..." Ucap Dian ke Adit dengan suara lirih.


"Percaya sama aku. It's okay. Everything will gonna be alright. Okey, sweetheart." Ucap Adit dengan mengecup pelipis Dian.


"Okey, I'll count it start from 1, 2, 3, Jump." Couch nya yang ngarahin.


Terdengar teriakan nyaring dari Dian dan Adit. Ayni dan Aldi yang menyaksikannya dari bawah, sempat terkejut.


"Ya, Allah... Mas Al... itu Adit sama Dian? Aku ngilu lihatnya. Hihihi..." Ucap Ayni yang mendekatkan tubuhnya ke Aldi.


"Hahaha... Adit mukanya kocak banget, dek." Tawa Aldi yang geli seraya merangkul erat tubuh mungil istrinya.


Yang kedua adalah Alisha dan Aryo. Nih, dramanya panjang. Karena Alisha phobia ketinggian jadi agak lama ngebujuknya. Hingga akhirnya tamat dramanya ketika mereka bungee jumping.


Suara Alisha terdengar dengan isak tangisnya. Aryo yang masih menggendongnya menepuk-nepuk punggung Alisha.


"Mas Yo... Icha mau turun... hiks hiks..." Ucapnya dengan suara lirih.


"Iya, sayang... ini kita turun kok." Ujar Aryo yang siap untuk turun ke perahu yang akan mengantarnya ke kursi duduk.

__ADS_1


Aryo & Alisha bergabung duduk dengan Adit & Dian, serta Aldi & Ayni.


Sekarang bergilir ke Arka dan Aira.


"Sekarang giliran couple siapa deh?" Tanya Adit kepada teman-temannya.


"Abi sama Anna ya?" Tanya Aryo yang sedang membukakan tutup botol air mineral untuk Alisha.


"Bukaan... Arka sama Aira itu." Jawab Aldi yang menunjuk Arka dan Aira dari bawah.


"Aira mah masih berani dia." Ucap Ayni.


"Aira suka extreme sports gini juga, dek?" Tanya Aldi ke Ayni.


"Suka. Sama kayak Anna. Cuma Anna lebih gila aja. Kalau Aira sadar diri. Bedanya mereka disitu." Ujar Ayni dengan menyuap cemilan kentang di piring.


"Arka lengannya kekar juga ya ternyata. Gue baru tau lho tadi. Pas di atas kita latihan Karena dulu kan doi paling males ng-gym gitu." Ucap Adit kepada Aryo dan Aldi.


"Sadar diri kali dia. Udah punya istri harus bisa angkat istri. Bukan angkat burble lagi. Hahaha..." Ucap Aldi yang mengundang tawa teman-temannya.


"Itu Arka sama Aira udah mau start tuh. Aira kelihatan takut banget ya?" Ujar Dian.


"Karena Aira udah lihat ke bawah duluan. Jiper doi." Ucap Adit.


"Iya juga ya..." Ujar yang lain.


"1, 2, 3.Jump !"


"I love you Airaaa..." Ucap Arka dikala ia terjun.


Sontak tingkah Arka membuat teman-temannya yang dibawah tertawa geli. Norak sih... tapi Aira suka.


Saat mereka masih bergelantung diatas, Aira sempat menitikkan air mata. Karena Arka rela mempermalukan dirinya dihadapan teman-temannya dan kemudian...


Chuuuu...


Aira memberikan kiss scene menarik diatas bersama dengan Arka.


"Nado, saranghae. (I love you too)." Ucap Aira berbisik di telinga Arka.


Jarak wajah mereka yang hanya berbeda 0,15cm membuat Arka mampu mengecup dalam bibir Aira.


Halal mah bebas dah yak... 😅


"Gilaaa... Arka noraakk abiees... hahaha..." Ucap Adit dengan tawa membahananya.


"Udah turun tuh mereka." Ujar Aldi


"Mas... Aira gak kuat jalan. Masih gemeteran tuh..." Ucap manjanya ke suami.


"Hehehe... sini, sini, sayang... Mas Arka gendong." Ucap Arka yang menggendong Aira di balik punggung kokohnya tersebut. Aira senang betul.


"I love youu Arkaaa..." Canda Adit kepada Arka yang sukses mendapat tinju kecil dari Arka di lengan bisepnya Adit.


"Ar, si Abi sama Anna belakangan?" Tanya Ayni.


"Iya. Mereka mah extreme banget deh. Lo liat aja ntar." Jawab Arka sambil menenggak air mineralnya.


"Eh, couch nya udah mulai ngitung tuh." Ucap Dian yang sejak tadi memperhatikan teman-temannya yang lompat.


"Are you ready ?" Couch.


"Yes!" Ucap Anna dan Abi.


"Come on, 1, 2, 3, jump...!" Couch.


Anna yang dengan posisi memeluk Abi dari depan, sudah siap dari awal. Saat terjun, Abi melihat ke langit dan Anna melihat ke bawah yang air semua isinya.


"Lah, itu mereka beda posisi?" Tanya Aldi.


"Kan tadi gue bilang, orang gila, ketemu orang gila, ya begitu jadinya." Ujar Arka yang sedang membuka tutup botol air mineral untuk Aira.


"Mereka beneran terjun posisi kayak gitu? Itu serem banget kan?" Tanya Alisha.


"Buat Anna macem begitu mana ada seremnya. Serem tuh kalau dia disuruh makan durian, baru serem." Ujar Ayni yang sejak tadi menempel terus dengan Aldi. Tak ingin pisah.


Selama hamil, Ayni merasakan ia begitu sangat manja kepada Aldi. Biasanya gak pernah begini. Gak pernah mau jauh dari Aldi.


Terdengar suara teriakan dari Abi dan Anna yang baru saja melakukan terjunnya. Sama-sama pecinta extreme sports. Beda deh...


Anna terlihat tertawa bahagia. Senang betul Anna. Abi pun juga sama.


"Gue seneng deh, lihat Abi tertawa lebar gitu. Mana pernah doi ketawa sampai kelihatan gusinya. Ya, sob?" Ucap Arka yang membuat semua teman-temannya hening.


"Sebegitu arogannya kah Abi?" Tanya Alisha.


"Bukan arogan sayang. Tapi sebegitu sendirinya kah dia. Tak ada teman berbagi rasa. Meski kita sahabat." Ujar Aryo.


"Abi, bukan orang yang mudah untuk memberikan hatinya pada orang lain. Trauma yang membuatnya bertahun-tahun menyendiri, sekarang hilang begitu saja seperti di telan bumi. Anna hebat." Ucap Arka.


"Kasarnya Abi, arogannya, galaknya, ketusnya, sekarang kita hampir gak pernah nemuin itu. Walaupun sesekali kadang masih ada. Tapi kita lebih sering melihat dia tertawa daripada murung." Ucap Adit.


"Abi itu, sosok yang dingin diluarnya tapi lembut dalamnya. Batu yang keraspun lama-kelamaan akan terkikis. Itu Abi. Dulu hatinya begitu keras. Tak ada yang bisa menasehatinya. Tapi sekarang, coba lihat, betapa mudahnya Abi melontarkan senyum. Betapa mudahnya dia tertawa lepas. Aku senang dengan perubahan positifnya Abi." Terang Aldi panjang lebar.


"Mungkin gue bukan orang yang kenal dekat dengan Abimanyu. Tapi gue tau betul. Bahwa Abi itu laki-laki yang bertanggung jawab. Gak tegaan. Tapi juga tegas. Cocok sama Anna yang anggun, smart, independent, sociable pula. Mereka serasi. Gue juga baru kali ini lihat Abi tertawa lepas. Anna itu perempuan yang hebat." Ujar Dian dengan seulas senyum.


"Kalau gitu, Abi dan Anna saling melengkapi ya... Anna itu sosok yang independent, butuh laki-laki yang bisa memimpinnya juga. Abi bisa melakukannya." Ujar Alisha.


"Anna itu, terlalu baik. Disakiti seperti apapun ia tak pernah melawan. Ia hanya diam. Ia justru membalasnya dengan senyum. Sekarang Anna punya pelindung. Yang bisa berbagi sedih atau senangnya Anna." Ujar Aira.


"Anna dan Abi memang sudah di wujudkan dalam lauhul mahfudz. Gak ada yang bisa melawan takdir Allah. Mereka saling melengkapi. Sama seperti kita." Ujar Ayni dengan seulas senyum.


*****


karena yang nyaman itu sulit

__ADS_1


*****


__ADS_2