Sajak Rindu

Sajak Rindu
CHAPTER 37: HACTIC


__ADS_3

SEKOLAH BUMI PERTIWI


Setelah acara resepsi Abi dan Anna di Bali, mereka semua kembali ke Jakarta. Abi yang melanjutkan aktivitasnya di kantor dengan project barunya begitu disibukkan hingga akhir-akhir ini sering pulang malam.


Anna? Bukan main sibuknya. Kalau ada yang bilang:


"Jadi guru TK mah enak ya, cuma dateng, nyambut anak, main-main, nyanyi-nyanyi, terus pulang. Simple banget."


Coba itu yang ngomong bawa kesini orangnya biar saya slepet dulu lambenya. Kalau ngomong tuh pakai dicerna dulu dong.


Lihat Anna. Doi sibuk banget dari sebelum sampai setelah acara resepsi itu persoalan rapor belum kelar. Dikata ngomongin anak orang gampang kali. Pake mikir cuy...


Terkadang suka miris sama orang-orang yang berpikir bahwa jadi guru tk itu enak, gampang, hura-hura, happy. Padahal kenyataannya tidak seperti itu.


Guru TK itu sibuknya dan ribetnya ngalahin ibuk-ibuk yang berdesak-desakan nyari diskonan.


Setiap di awal tahun ajaran, pertengahan tahun ajaran, dan akhir tahun ajaran itu gak ada rehatnya.


Kalau mau cuti, bisaaa... tapi pasti kepikiran anak-anak. Seperti Anna kemarin saat cuti untuk resepsi, ia ngambil cuti 3 hari tapi tetep aja kepikiran dan sering nanya sama Mba Ina anak-anak gimana.


Belajar merasakan perasaan seorang Ibu yang khawatir jika meninggalkan anaknya sendiri atau pada orang lain.


Walaupun itu anak didik Anna, tapi Anna tetap tidak bisa yang namanya cuti gak mikirin anak-anak.


Itu bedanya kerja di perusahaan besar, mewah, megah, dan elegan dibandingkan hanya di sekolah.


Meski terlihat simple dan cara kerjanya biasa saja. Tapi jadi guru itu bebannya berat. Bukan cuma beban ngedidik.


Tapi beban di akhirat juga. Tanggung jawab seorang guru itu dipertanyakan juga lho di akhirat. Mulia sekali bukan?


Sebenarnya profesi di dunia ini itu cuma ada satu yaitu "Guru".


Profesi yang selama ini kita gadang-gadangkan dan banggakan, kalau tidak ada guru, apakah akan menjadi sebuah profesi?


Bukan berarti profesi yang lain gak bagus. Bagus. Bagus banget. Hanya saja, seharusnya profesi guru lebih di hargai.


Anna begitu hactic dengan persoalan anak-anak muridnya yang luar biasa itu. Sekolah tempat Anna mengajar itu adalah sekolah umum. Yang siapa saja berhak dan layak untuk belajar.


Anna mengajar bersama dengan Mba Ina. Di kelas untuk anak-anak yang usianya terbilang sudah cukup besar. Di TK B.


Di dalam kelas berjumlah 15 anak. Dengan 3 anak yang membutuhkan penanganan khusus (autisme, hiperaktif, dan tunarungu-tunawicara).


Bukan berarti anak-anak yang lain tidak diprioritaskan. Hanya saja, keperluan kebutuhan mereka berbeda levelnya.


Seperti sekarang di sekolah Anna sedang ada kunjungan ke Rumah Sakit Soenggono karena sedang belajar tentang fasilitas umum.


Saat itu Anna meminta izin kepada Om Reza untuk kunjungan ke Rumah Sakit.


Sekolah Anna diizinkan oleh Om Reza untuk datang ke Rumah Sakit melihat ruangan atau pengenalan tentang dunia kedokteran yang ringan topiknya untuk anak.


Anna sudah cerita dengan Abi bahwa hari ini ia akan ada kunjungan ke Rumah Sakit Soenggono untuk mengenalkan kepada anak tentang Rumah Sakit.


Anna turun dari bus dan mengecek Rumah Sakit bahwa anak-anak sudah siap turun. Karena kebetulan PIC hari itu adalah Anna.


Anna, Bu Maya (Kepsek), dan Lala (Guru Playgroup A), turun bersama dari bus yang berbeda menuju meja yang bertuliskan receiptionist.


"Selamat pagi, Mba. Saya Anna__" Belum sempat Anna menyelesaikan kalimatnya, Mbanya udah celoteh duluan.


"Selamat pagi, Bu Anna. Istrinya Big Boss, Pak Abi ya? Iya Bu. Untuk kunjungan Sekolah Bumi Pertiwi ya? Langsung masuk saja Bu Anna. Sudah ditunggu di dalam." Ujar Mba Ika yang namanya bertengger di dadanya.


"Oh, okey, Mba Ika. Makasih ya..." Ujar Anna.


"Beda ya Bu May, kalau bawa istri Big Boss mah. Hehehe..." Ujar Lala dengan ledekannya.


Anna yang tak menghiraukan celotehannya Lala langsung berkomunikasi dengan Ina yang ada di bus.


Kasihan Mba Ina sendirian dengan 15 anak. Gak kebayang hactic nya seperti apa.


Abi melihat semua kegiatan itu dari lantai atas Rumah Sakit. Ia menuruni tangga bersama dengan Om Reza.


Abi pernah melihat Anna di sekolah walau sekilas. Tapi baru kali ini Abi melihat istrinya begitu berkharisma ketika mengajar anak-anak didiknya.


Abi kagum dengan ketangkasan Anna yang memegang 2 anak, berkomunikasi melalui HT dan menanggapi pembicaraan anak-anak didiknya yang lain.


Abi tau bahwa di kelas tempat Anna mengajar ada 3 anak yang berkebutuhan khusus. Abi belum pernah melihat secara langsung menangani anak-anak itu seperti apa.


Tapi ketika melihat Anna yang begitu hactic seperti ini...


"Ganesha Gandhi Mahendra. Duduk!" Ucap Anna tegas ketika melihat Ganesha berlari mulai dari turun bus hingga masuk RS.


"Ganesh mau lihat ke dalam. Sebentar" Ucapnya yang langsung berlari menaiki tangga untuk menuju ruangan lantai 2.


Anna mengejarnya dan memegang tangan Ganesha erat. Lalu mengajaknya duduk sebentar di dekat tangga.

__ADS_1


"Kenapa sih!! Ganesh mau lihat kesana gak boleh! Mau lihat ke atas gak boleh!" Ujarnya dengan emosi berapi-api.


"Bukannya tidak boleh. Tapi semuanya ada waktunya. Semua punya giliran. Kita bergantian. Ganesh tau kita sedang apa sekarang?" Tanya Anna tegas.


"Lagi di Rumah Sakit." Jawabnya dengan malas.


"Iya. Betul. Lalu sedang apa sekarang teman-temannya?" Tanya Anna kembali.


"Lagi duduk. Memperkenalkan diri. Ganesh gak suka dilarang-larang. Aku cuma mau lihat aja kok!" Ujarnya dengan kesal.


"Boleh. Boleh banget. Tapi kita perkenalan dulu disini. Ada waktunya Ganesh. Kita bergiliran." Ucap Anna yang memberikan penjelasan secara real.


Kenapa? Karena Ganesha termasuk anak hiperaktif tersebut. Tapi dengan IQ di atas rata-rata anak seusianya. Jadi butuh penjelasan dan alasan yang real, yang kuat untuk bisa mengalahkan egonya. Kuat-kuatan negosiasi kalau ini.


Setiap melihat ruangan atau tempat baru, ia akan sangat antusias dan bersemangat lebih dari apapun.


"Ganesha gak mau dengerin Bu Anna! Ganesh gak suka sama Bu Anna!" Ucapnya kepada Anna dan membuang muka.


"Oh, ya gak apa-apa. Silahkan disini. Bu Anna harus kembali kepada teman-teman." Ucap Anna sembari berdiri dan beranjak melangkah meninggalkan Ganesha.


"Iihh!! Harusnya dengerin penjelasan Ganesha dulu dong. Kok malah pergi sih?!" Ganesha panggil Anna maksudnya.


Hingga ia berlari menarik tangan Anna.


"Ada apa?" Tanya Anna datar.


"Dengerin Ganesh dulu dong. Kan Ganesh belum selesai bicara." Ujarnya yang masih bersungut.


"Oh... Ganesha bicara sama Bu Anna. Soalnya gak panggil nama Bu Anna." Ujar Anna dengan santainya.


"Bu Anna, dengerin Ganesha dulu dong." Ucapnya yang mulai melembut nadanya.


"Kenapa Bu Anna harus dengar Ganesha? Untuk apa? Sedangkan Ganesh sendiri tidak mau mendengarkan Bu Anna." Ucap Anna yang bersiap untuk beranjak dari tempatnya.


"Maaf Bu Anna..." Ujarnya dengan muka menunduk.


"Ganesha... Bu Anna tidak melarangmu untuk masuk ke ruangan-ruangan tersebut. Tidak sama sekali. Tapi itu semua ada waktunya dan sekarang bukan waktunya." Ujar Anna tegas.


"Saat ini, sekarang, kita sedang duduk, mendengar penjelasan Pak Dokter tentang Rumah Sakit. Setelah dari sini, kita akan ke ruangan yang lain. Saat itu Ganesh boleh bereksplorasi." Ucap Anna jelas.


"Maaf ya Bu Anna..." Ujar Ganesha dengan tertunduk merasa bersalah.


Lain Ganesha, lain I Gusti Kenandra Mahapatih.


Ken berlari mendekati eskalator untuk naik ke lantai dua.


Segera saja Anna merangkul Ken dan menggendongnya. Namun, Anna yang justru hampir hilang keseimbangan akan jatuh jika Abi tak menahannya.


"Mas Abi?" Ucapnya terkejut tapi berbisik karena takut terdengar oleh yang lain.


"Adek, gak apa?" Tanya Abi dengan wajah khawatirnya.


"Anna gak apa, Mas. Mas Abi kok bisa disini?" Tanya Anna bingung.


"Iya. Habis ketemu sama Om Reza tadi." Abi sebenarnya masih ingin berbincang dengan Anna.


Beberapa minggu terakhir, Abi dan Anna sedikit sekali berbincang karena kesibukan mereka masing-masing.


Percakapan mereka terhenti ketika Ken memberontak dari dekapan Anna dan berlari lagi memutari ruangan tersebut.


"I Gusti Kenandra Mahapatih! Bu Anna, tidak suka. Duduk!" Tegas Anna yang membuat Ken langsung duduk.


"Ken, mau apa tadi ke dekat eskalator?" Tanya Anna yang merendahkan nada bicaranya.


"Ken mau lihat ke atas. Ada teman Ken disana. Ken diajak main kesana." Ujar Ken yang menunjuk gedung di lantai dua tersebut.


Ken adalah salah satu anak autisme yang indigo. Anna yang mempunyai pengalaman tersebut tak heran lagi.


Abi hanya mendengar dari jauh dan ia menatap ke lantai dua tapi tak dilihatnya apapun. Apa anak ini bisa melihat sesuatu yang tak bisa kita lihat? Pikir Abi.


"Oh... tapi Kenandra kan sedang disini sama Ganesh, sama Bima, di atas hanya ada Pak Dokter dan Bu Dokter kan ya?" Ucap Anna.


"Mainnya disini aja deh sama temen-temen Ken, ya. Kan kita belum diizinkan naik ke lantai atas. Jadi disini dulu aja. Ok?" Ucap Anna yang mengalihkan Ken dengan kegiatan lain.


Belum sempat Anna menghela nafas sudah ada lagi.


"Kan tadi, aku yang barisnya di depan. Kamu kan dibelakangnya Via. Kok jadi menyelak sih." Ujar Revan.


"Aku gak nyelak kok. Orang tadi di depanku kosong barisannya, ya aku maju dong." Jawab Dio.


"Aku kan tadi cuma lihat lantai dua. Terus lihat adik-adiknya baris." Jawab Revan.


"Ya mana aku tau kamu mau begitu. Aku kan taunya cuma kosong aja barisannya. Ya aku maju." Jawab Dio tak mau kalah.

__ADS_1


Dilanjutin panjang nih.


"Kenapa???" Tanya Anna yang dengan santainya menghampiri mereka.


Anna dan Ina melihat kejadiannya. Betul memang Revan keluar barisan hanya sekedar ingin melihat adiknya berbaris.


Kelas TK B mereka sudah mempunyai peraturan tertulis dan tidak tertulis yang sudah diterapkan dalam kegiatan sehari-hari yaitu, jika keluar barisan, maka baris dari belakang.


Jika ingin keluar barisan, izin dulu dengan teman yang di depannya dan dibelakangnya agar menjaga barisannya. Tapi... jika belum izin, maka ulangi barisnya dari belakang.


Tujuannya apa?


Mengenalkan dan mengajarkan kepada anak tentang budaya antri. Melatih Sosial Emosional anak seperti bersabar saat antri. Melatih daya ingat anak juga. Ia berada di dekat siapa saat antri, di sebelah mana antrinya, dan di antrian ke berapa.


Karena untuk kunjungan ke ruangan Dokter Gigi harus bergantian, Anna dan Ina mendudukkan kelas TK B terlebih dahulu sebut saja kelas Bumi.


"Teman-teman Bu Anna dan Bu Ina ingin bicara. Boleh tenang dulu?" Ucap Anna yang dengan suara lantangnya.


"Bu Anna ingin mengingatkan kembali peraturan yang kita buat bersama sebelum berkunjung ke Rumah Sakit. Ada yang tau apa saja peraturannya?" Tanya Anna kepada anak-anak muridnya.


"Berjalan saja dan tidak boleh jauh dari Bu Anna dan Bu Ina." Ucap Via.


"Jika ingin pergi ke suatu tempat izin dulu." Ucap Nara.


"Berbaris sesuai absen." Ucap Dio.


"Bersabar saat menunggu giliran." Ucap Nathan.


"Jika diingatkan 3 kali belum bisa bersikap baik, kembali ke bus. Sendiri." Ucap Rama.


"Hebat! Keren! Kelas Bumi! Terima kasih ya Via, Nara, Dio, Nathan, dan Rama sudah mengingatkan teman-temannya." Ujar Ina.


"Lalu, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat di Rumah Sakit?" Tanya Anna.


"Berjalan saja." Ucap Lina.


"Mencoba jubah dokter." Ucap Rangga.


"Memakai stethoscope dokter tapi izin dulu." Ucap Cinta.


"Mendengarkan Pak Dokter dan Bu Dokter." Ucap Arsya.


"Boleh mengeksplorasi jika sudah diizinkan." Ucap Bima.


"Good job ! Hebat ! Terima kasih ya Lina, Rsngga, Cinta, Arsya, dan Bima." Ucap Anna dengan seulas senyumnya.


"Kalau yang tidak boleh dilakukan apa?" Tanya Ina.


"Berlari di Rumah Sakit." Ucap Ganesha


"Berteriak-teriak." Ucap Ken.


"Pergi tanpa izin, Bu Anna." Ucap Fadhil.


"Melompat-melompat di bukan tempatnya." Ucap Tania.


"Mengobrol. Karena nanti tak tau harus melakukan apa kalau ngobrol terus." Ucap Risti.


"Waaahh... hebat sekali teman-teman." Ucap Ina.


"Tapi adakah yang merasa belum bersikap baik dan belum tenang hari ini?" Tanyanya Ina. Ina itu Ibu perinya kelas TK B.


Dan semua anak-anak mengacungkan tangannya.


"Hebatnyaaa... teman-teman. Bu Anna senanggg... sekali karena kalian mau jujur. Tapi Bu Anna dan Bu Ina akan jauuhh lebih senang kalau kalian bisa tenang dan bersikap baik. Bisakah?" Tanya Anna dengan senyum sumringahnya yang menunjukkan deretan gigi putihnya.


Tetiba Ganesha berlari dari baris belakang, memeluk Anna dan mencium pipi Anna.


Sontak Abi terkejut melihatnya yang sejak tadi belum beranjak dari tempatnya.


"Bu Anna, maafin Ganesh ya. Tadi Ganesh sudah marah sama Bu Anna dan belum bersikap baik. Ganesh janji akan bersikap baik dan jadi anak hebat. Aku sayaangg sekali dengan Bu Anna." Ujarnya yang sontak membuat Anna dan Ina terkejut bukan main.


"Terima kasih Ganesha. Makasih ya anak hebat. Sudah mau jujur. Keren." Anna mengacungkan kedua ibu jarinya ke Ganesha.


"Tapi lain kali kita bersalaman atau peluk saja ya. Kan Ganesh tau, yang boleh dicium siapa?" Tanya Anna.


"Mama dan Papa." Ucapnya.


"Iya betul. Jadi kalau sama Bu Anna atau Bu Ina cukup bersalaman saja. Ok!" Ujar Anna.


Abi yang melihat tingkah anak-anak murid Anna dan melihat cara Anna yang begitu tak mudahnya menghadapi mereka jadi tau bahwa pekerjaan Anna bukanlah sekedar pekerjaan. Tapi sebuah tanggung jawab besar untuk masa depan anak-anak muda nantinya.


******

__ADS_1


__ADS_2