
DI HOTEL
Setelah menempuh perjalanan yang riuh ramai saat malam hari di kota Yogya. Akhirnya mereka sampai disalah satu hotel mewah di bilangan Malioboro,Yogyakarta.
Dito memarkirkan mobil BMW X-5 warna putihnya di pelataran Hotel. Mereka turun membawa koper dan menuju meja resepsionis.
Dito dan Lala mendapatkan kamar hotel di 6969. Aneh ya? Tapi lucu. Kok seperti tau sekali bahwa mereka pengantin baru. 😄
"Mas, mau aku duluan yang mandi atau Mas Dito?" Tanya Lala sambil merapikan baju yang ada di kopernya.
"Mas duluan deh. Atau mau mandi bareng aja?" Ujarnya sambil memeluk Lala dari belakang.
"Hahaha... mandi dulu sayang... bersih-bersih dulu, ya..." Ucap Lala sambil membalikkan tubuhnya yang berhadapan langsung dengan Dito dan mengelus lembut pipinya.
Dito langsung menuju kamar mandi dan menikmati kucuran air yang mengalir pada tubuh maskulinnya itu.
Tak lama Dito selesai mandi, ia keluar kamar mandi berbalut handuk yang menutupi pusakanya dari pinggang hingga lutut.
Tubuh kecokelatan kekarnya tersebut sudah menggoda Lala sejak semalam. Lala melihatnya, namun mengalihkannya kembali pada baju-baju yang bertumpuk di lemari pakaian.
"Dek, baju Mas yang mana?" Tanya Dito.
"Yang di dekat kursi dekat cermin, Mas. Pakai itu gak apa?" Ujar Lala. Ia menunjukkan kaos putih polos tipis dengan celana pendek warna navy nya.
"Iya gak apa. Ini ok kok." Ucap Dito sambil memakai pakaiannya.
"Aku mandi dulu." Ucap Lala setelah menyiapkan pakaian.
Lala mandi, membersihkan setiap celah tubuhnya agar membuat Dito betah berlama-lama bermain bersamanya.
Tak lama Lala keluar kamar mandi dengan berbalut handuk yang dililitkan pada bagian dada menjulur sampai atas lutut. Memperlihatkan tubuh jam pasir Lala.
Bokong Lala yang menonjol sudah membuat kalut pusaka Dito sejak tadi. Dito yang melihat istrinya begitu seksi saat itu, sudah merasakan pusakanya berkedut antusias.
Lala selesai berpakaian. Malam itu ia begituuu seksi. Lala memakai night gown berwarna merah polos dengan jubah tidur warna merah pula.
Lala duduk di depan meja rias. Ia memberi pelembab pada wajah dan bibirnya.
"Dek..." Ucap Dito yang sudah kalut melihat istrinya begitu cantik saat bersolek.
"Kenapa Mas? Mm?" Tanya Lala yang menyudahi aktivitas bersoleknya dan fokus dengan suami tercintanya.
Lala membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan Dito. Jarak wajah mereka hanya 1cm yang membuat Lala mampu mendengar deru nafas Dito yang sudah mulai memburu.
"Dek, beneran udah siap tempur malam ini?" Tanya Dito yang mendudukkan Lala di meja dekat jendela kamar. Supaya posisi mereka tak terlalu jauh.
"Iya, Mas... Lala ikut Mas Dito aja. Lala gak paham soalnya. Hehehe..." Ucapnya kepada Dito dengan bumbu senyum manisnya. Semakin membuat Dito ingin memburu bibir manisnya.
Tanpa bicara dan kata, Dito langsung memajukan bibirnya dan menautkannya pada bibir Lala.
Ciumannya begitu lembut, mencoba mencari celah, menelusuri setiap ruang yang ada di mulut Lala.
"Mas, Lala harus gimana?" Tanyanya sewaktu Dito melepas ciumannya dari Lala.
"Adek ikutin Mas aja ya..." Ujar Dito yang kemudian mencium perlahan bibir Lala.
Kali ini Lala menanggapinya. Ia juga mengecup dan membalas ciuman Dito dengan lembut.
Dito mengawalinya dengan perlahan dan lembut. Karena ini baru pertama kali untuk keduanya.
Lala begitu menikmati setiap ciuman yang Dito lajukan pada bibirnya. Mereka sempat berhenti sejenak saat berciuman.
"Mas, Lala baru tau. Ternyata ini yang dimaksud bahwa perempuan dan laki-laki harus segera menikah. Hehehe..." Ujar Lala yang mendekatkan hidungnya dengan hidung Dito.
"Iya. Karena nikmat. Yang nikmat-nikmat itu dosa dek, kalau belum halal. Adek, suka?" Tanya Dito sembari mencium kening Lala.
"Mm'em... suka banget. Maaf ya, Mas. Adek belum bisa seagresif itu." Ujar Lala yang menundukkan kepalanya.
"Sayang... tidak apa. Mas juga baru pertama melakukannya. Kita sama-sama baru pertama melakukannya, dek." Ujar Dito sembari mengelus rambut Lala yang panjang sepunggung itu.
"Mas yakin baru pertama berciuman? Hahaha..." Ujar Lala yang meledek Dito.
"Waahh... ngeledek nih adek. Beneran pertama kali, dek. Emang kenapa? Aneh ya ciumannya?" Tanya Dito.
"Enggak. Ciumannya Mas buat Lala candu. Mau lagi..." Ujarnya yang melingkarkan tangannya di tengkuk Dito.
"Lanjut sampai pagi ya? Hahaha..." Ujar Dito dengan tawa gembiranya.
"Hahaha... kita lihat siapa pemain yang bertahan?" Ujar Lala dengan mengedipkan matanya dengan nakal kepada Dito.
"Waah... adek nantangin Mas nih? Iya? Hahaha..." Ujarnya yang semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Lala.
Dito mulai melayangkan ciumannya kembali di bibir Lala. Kali ini ciumannya cukup antusias dan semangat. Lala pun menanggapinya, sudah tidak terlalu kaku.
Lala mampu mengikuti tempo permainan Dito yang semakin membuat Dito gencar untuk mengeksplore tubuh meliuknya Lala.
Dito mulai melancarkan serangan pada tubuh Lala. Ia melajukan tangannya dengan membuka jubah Lala.
Dito sempat terkejut dengan lingerie merah merona yang dipakai Lala. Ia tak tinggal diam. Tangan kekar dan jari jemarinya mulai turun menyapa dua pegunungannya Lala.
Dito memegang, merabanya, kemudian meremasnya yang ia ingin dengar suara lenguhan istrinya, Lala.
Dito *** dan memainkan jemarinya pada benda cilik di pegunungan tersebut dan sontak Lala berucap.
"Ah... ah... Mas..." Ujarnya di telinga Dito.
Dito bukan berhenti, tapi melancarkan terus serangannya. Tidak ada gencatan senjata. Yang ada luncuran meriam pada dua gunungan Lala.
Yang membuatnya melenguh tanpa henti. Dito cukup handal sebagai orang yang pertama kali baru berbuat.
"Ah... ah... sayang... eumh..." Lenguh Lala sambil *** rambut cepak Dito dan tengkuknya.
__ADS_1
Dito kembali melumat bibir Lala tapi jari jemarinya tetap berpatroli di tubuh Lala. Ia menjulurkan jarinya untuk menelusuri tubuh molek istrinya tersebut.
Ia meraba bagian perut, menuju lubang kecil diperut Lala dan memainkan jemarinya disana.
Lalu Dito menuruni bukit dan bertemu pada lembah kenikmatan. Ia tak menemukan hutan rimba disana. Tak ada hutan, yang ada hanya goa tertutup yang masih asri.
Dito melepas ciumannya dan membuka pakaian dalam Lala, lalu mengangkat kedua kaki Lala mendekapkan tubuhnya berhadapan dengan tubuh Lala.
*Tenang... belum di mulai. Baru sekedar perkenalan. Tak kenal maka tak sayang kan katanya. 😁✌
*Thor, rese amat 🤣
Dito melajukan jemarinya untuk berkenalan dengan benda-benda mungil di goa asri Lala tersebut.
Lenguhan demi lenguhan diluncurkan dari mulut Lala.
"Eumh... ah... ah... Mas..." Lenguh Lala sembari menggigit bibir bawahnya.
Dito me-notif kegiatan Lala yang menggigit bibir bawahnya. Tak tinggal diam, Dito melajukan bibirnya dan menautkannya di bibir Lala.
Dito dengan lincahnya memainkan jemarinya pada benda mungil di goa tersebut yang sukses membuat si empunya goa mendesah tak henti.
Tak hanya jemarinya, Dito pun memberi banyak stamp pada tubuh Lala. Stamp terakhir ia landaskan pada benda mungil di goa asri Lala.
Ia melajukan lidahnya, menciuminya, memainkan tempo lidah yang masuk dan keluar dari goa.
Tubuh Lala merasakan beragam sensasi. Sensasi yang colorful. Membuat Lala depresi kalau Dito tak melanjutkannya.
"Mas... hhh... hh... sayang... ah... mmh..." Lenguhan Lala membuat Dito menghentikan aktivitasnya di goa lembah kenikmatan.
Dito menggendong Lala didepannya seraya menciumi bibir Lala yang terlihat si empunya bibir mulai membuncah hasrat bercintanya. Ia membaringkan istrinya di tempat tidur.
"Sayang... hh... hhh..." Ucap Dito dengan suara beratnya.
"Iya, Mas... hhm...?" Jawab Lala dengan deru nafas hasratnya.
Saat itu Dito masih memainkan jari-jarinya pada benda kecil di goa Lala.
"Ah ah ah... eumh..." Desah Lala dengan suara lirihnya yang justru semakin membuat Dito menancapkan gas kemudinya.
Tracking Dito kali ini membuat pusakanya yang sudah membesar meraba tubuh Lala dari atas pegunungan, melewati bukit kecil, lalu menuruni dataran rendah, dan menyapa goa asri Lala dengan hanya sekedar bersentuhan, lalu pergi, datang lagi, bersentuhan, pergi lagi.
Dito menggesekkan pusakanya pada bagian sensitive Lala. Membuat Lala tak berhenti melenguh dan mendesah.
"Mas... ah ah... hhh... emh..." Desah Lala.
Dito yang merasa dipanggil, mendekatkan tubuh dan wajahnya di hadapan Lala.
"Adek, Mas masukin sekarang ya?" Tanya Dito kepada Lala.
Tapi Dito terus masih memainkan dan *** gunungan Lala dengan benda kecil penghias pegunungan tersebut.
"Tapi ini akan teramat sangat sakit, dek. Adek boleh teriak sekuat adek. Karena benar-benar sakit kalau pertama kali." Jelas Dito kepada Lala.
"Iya, sayang..." Jawab Lala dengan pasrah.
Setelah itu, Dito membuka lebar kaki Lala, dan mengangkatnya ke atas tempat tidur, lalu ia mulai memasukan pusakanya ke dalam lembah kenikmatan goa terdalamnya Lala.
Yang membuat si empunya goa melenguh panjang.
"Aakkhh... ah ah... eumh... hhh... hh... Mas Dito..." Lenguhnya lirih. Tak terasa air matanya mengalir karena sakit yang begitu nikmat.
Dito melihat darah pekat yang merambah seprei putih di tempat tidurnya. Ia tau ini begitu menyakitkan untuk Lala. Tapi ia tak bisa berhenti begitu saja.
Perih rasanya hati Dito melihat Lala yang menahan sakit luar biasa. Tapi tetap membiarkan Dito melancarkan hasrat cinta yang menggebu padanya.
Dito menghampiri Lala dan mengecup lembut bibir Lala.
"Maaf ya, dek..." Ujarnya dengan mengecup kening Lala.
"Gak apa Mas... adek suka." Ucapnya dengan wajah yang meringis menahan perih-perih nikmat. 😄✌
Dito terus memasukkan dan mengeluarkan pusakanya. Menggoyangkannya, disambi dengan *** gunungannya Lala.
Mereka terus melakukannya hingga puncaknya tubuh mereka bergetar dan Dito menanamkan spermanya di goa Lala.
Dito mengeluarkan pusakanya dan berbaring lemas di samping Lala.
"Terima kasih ya sayang. Aku sangat mencintaimu." Ujar Dito seraya memeluk Lala dan mengecup keningnya.
"Tak perlu terima kasih Mas. Sudah jadi kewajiban Lala sebagai seorang istri. Lala juga suka kok. Aku sangat suka." Ucapnya sembari mengecup bibir Dito singkat.
Lala ingin ke toilet. Ia bangun dari baring tidurnya dan menurunkan satu kakinya dari tempat tidur. Namun...
"Ah, ssshp..." Ujar Lala yang merasa perih dan sakit di goa tersembunyinya yang sudah terbuka lebar.
"Adek, biar Mas bantu." Ujarnya yang segera menuruni kasur dan menggendong Lala ke kamar mandi.
Dito menurunkan Lala di dekat closet. Lala hampir terjatuh kalau Dito tak menopangnya dengan lengan bisepnya itu.
"Mas, adek mau pipis. Mas tunggu diluar dulu aja gak apa. Nanti adek panggil kalau sudah selesai, ya..." Ucap Lala sembari mengelus pipi Dito.
"Panggil Mas Dito ya. Aku tunggu diluar." Ucap Dito yang kemudian keluar dari kamar mandi.
Setelah menyelesaikan buang air kecil. Lala memanggil Dito. Ia segera masuk ke kamar mandi.
"Aku udah Mas..." Ujar Lala yang berdiri dan merasakan betapa perihnya selangkangannya.
Dito mendudukkan Lala di dekat cermin. Ia melumat bibir Lala.
"Mas mau apa sayang...?" Tanya Lala dengan senyum sumringahnya karena tau bahwa suaminya ingin lagi.
__ADS_1
"Mau lagii..." Ucap Dito dengan mendesah di telinga Lala. Membuat Lala merasakan sensasi berdesir di tubuhnya.
"Yakin? Masih sanggup?" Tanya Lala meledek.
"Yah... Mas Dito di tantangin. Heuuh... gemees..." Ucapnya sambil mencubit lembut hidung Lala.
"Hehe... habis Mas lucu sih..." Ucap Lala yang menautkan tangannya di pipi Dito hingga membuat Dito memonyongkan bibirnya dan di cium singkat oleh Lala.
"Adek udah mulai paham ya? Hehe..." Ujar Dito.
"Hm'emh. Kan diajarin sama Mas Dito. Hehe..." Ucapnya dengan menunjukka deretan gigi putihnya.
"Mas gak ngajarin. Mas hanya mencontohkan." Pecah sudah tawa keduanya yang kini berubah menjadi nafas yang saling memburu.
"Mas Dito mau lagi, dek. Boleh?" Tanyanya memastikan bahwa Lala tak apa dengan permintaannya.
"Boleh sayang... boleh banget." Ucapnya sambil mencium bibir Dito dan melumatnya cukup lama dan dalam.
"Mau adek duluan apa Mas duluan?" Tanya Dito memberikan kesempatan kepada Lala untuk mengeksplore tubuhnya.
"Emm... Mas duluan deh... hehehe" Ujar Lala.
Tak banyak berkata, Dito langsung mencium dan melumat bibir Lala. Lala melingkarkan tangannya di leher Dito.
Lala sudah mengerti caranya. Ia meresponnya. Dito yang tau bahwa Lala yang lebih agresif, ia membiarkan Lala meratui tubuhnya.
Sakit yang dirasa Lala dibagian vaginanya sekarang bukan lagi menjadi persoalan utama.
Persoalan utamany adalah dia harus meluapkan hasrat cintanya yang membuncah.
Dito membawa Lala ke dalam bilik kamar mandi. Melepas balutan sprei yang ada pada tubuh Lala.
Mereka berdua bermain tanpa busana. Lala memimpinnya sekarang. Ia menciumi seluruh tubuh Dito.
Lala mengeksplore keseluruhan tubuh Dito dan melumat setiap bagian tubuhnya. Jari jemarinya terus memainkan dua bukit kecil di dada Dito.
Ia mencium, melumat, memainkan dengan lidahnya pada bukit kecil tersebut yang menimbulkan suara lenguhan-lenguhan Dito yang maskulin.
Lala yang sudah mengetahui kenimatan tiada tara, ia tak berhenti dari situ. Dengan gencar ia menelusuri bibir Dito dengan mencium lembut, penuh arti dan hasrat cinta.
Shower yang dinyalakan Dito menambah gairah keduanya dalam bercinta. Lala mencium dan melumat bibir Dito yang jemarinya seraya memainkan pusaka Dito.
Ia terus memainkan pusaka Dito dengan lembut dan menimbulkan desahan-desahan cinta.
"Dek... ah ah... eumh mmh... hhh... akh..." Dito terus mendesah dan melenguh.
Ia mengakui bahwa permainan Lala membuatnya terbuai dalam gairah nafsu yang memburunya.
Bibir Lala yang begitu agresif sampai pada lembah kenikmatan. Ia mencium bagian pinggir lembah. Melumatnya, memainkannya dengan lidahnya.
"Akkhh... sayang... hh... hh... aarrggh..." Lenguh Dito yang tak menyangka sensasi yang Lala berikan begitu nikmat.
Lala terus menghujani Dito dengan ciuman, lumatan, permainan lidahnya, dan permainan jari jemarinya yang sukses membuat Dito terus melenguh dan mendesah tanpa henti.
Lala mencium benda pusaka Dito. Ia menciumnya, melumatnya, dan menggigit-menggigit kecil benda pusaka tersebut.
"Sayangg... aakkhh... aarrghh.... heumh..." Lenguhan Dito yang mengaduh.
Kemudian Lala kembali mendaki melumat tubuh Dito dan sampai pada bagian dadanya. Lala memainkan dua gunungannya di dada Dito.
Ia menggesekkan ujung benda sintal itu pada bukit kecil yang Dito punya. Kemudian ia menggesekkan juga benda pusaka Dito pada vaginanya.
Kenikmatan yang sesungguhnya. Mereka melenguh dan mendesah bersamaan. Saling beradu bibir, melumat hingga ke rongga bagian dalam, bertarung lidah, hingga Dito tak tahan lagi dengan gairah panasnya.
Ia memasukkan benda pusaka yang sudah membesar itu ke dalam goa terdalam Lala. Sekarang rasanya tak begitu sakit seperti awal.
Justru semakin dalam Dito memasukkannya, Lala semakin menikmatinya.
"Mas... ah ah... mmh... akh..." Lenguh lirih Lala.
"Aakhh... aarrgghh... hheummh... arrgh" Desah maskulin Dito.
Mereka terus membuat sang pusaka bermain indah di dalam goa berlembah kenikmatan di tempatnya Lala.
Yang empunya tempat, sungguh menikmatinya.
Dito dan Lala benar-benar dalam puncak gairah dan hasrat bercinta. Ia melakukannya lagi, lagi, dan lagi.
Entah berapa episode yang jelas lama dan panjang. Puas sekali mereka.
"Mas Dito... terima kasih untuk malam ini." Ujar Lala yang sudah lemas terkulai di ranjang dan sekarang berada di pelukan Dito.
"Mas juga terima kasih. Mas bahagia sekali malam ini." Dito mengecup lembut kening Lala.
"Aku mencintaimu Mas. Sangat mencintaimu." Ujar Lala yang menitikkan air matanya.
"Aku lebih mencintaimu sayang... lebih dari apapun. Jangan pernah tinggalkan Mas Dito." Ujarnya yang mendekap erat tubuh Lala.
"Gak akan mungkin Lala ninggalin Mas. Terlalu bodoh buat Lala. Makin mencintaimu, itu pasti. Tapi pergi meninggalkanmu, itu hal yang mustahil, sayang..." Ucap Lala seraya bangun dari baringannya dan mengecup lembut bibir Dito.
"Adek, mau lagi?" Tanya Dito dengan senyum sumringahnya.
"Boleh?" Tanya Lala dengan mata berbinarnya.
"Dengan senang hati, sayang..." Ucap Dito yang langsung mendekap tubuh Lala.
*RACE START
AGAIN*...
******
__ADS_1