
ABIMANYU'S HOUSE
"Good morning, honey." Sapa Anna yang menghampiri Abi di tempat tidur.
"Morning, sweetheart." Ucap Abi yang masih memejamkan matanya.
"Bangun yuk. Udah pagi. Mas biasanya ng-gym." Ujar Anna dengan mengusap rambut Abi.
"Hm'emh. Ini bangun." Ucap Abi yang segera bangun dari baringannya dan bersih-bersih. Lalu mulai masuk ke ruang gym-nya.
Anna yang sedari tadi melihat Abi sibuk dengan alat-alat gym-nya hanya tersenyum.
"Dek, terpesona lihat Mas Abi?" Tanyanya dengan senyum sumringah.
"Banget." Ucap Anna yang menghampiri Abi dengan membawa air mineral hangat untuk suaminya.
"Seriously ? Terpesona karena apa?" Tanyanya sambil meminum air mineral yang dibawakan Anna.
"Karena kamu Abimanyu." Ucap Anna sembari ngeloyor beranjak pergi.
Abi menarik tangan Anna, memutar badannya dan menyatukan kedua bibir mereka.
"Mas Abii... ini masih pagi." Ujar Anna dengan mencubit gemas pinggang Abimanyu.
"Justru karena masih pagi, makanya Mas beraksi." Ucap Abi yang semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Anna.
"Mau apa sayang? Mm?" Tanya Anna sembari membelai wajah Abi yang penuh keringat.
"Mau kamu..." Ucapnya sambil mencium pipi Anna.
"Gemeess..." Ujar Anna yang mencubit gemas hidung Abi.
Tanpa kata, Abi langsung mencium dan melumat bibir Anna. Ia menggendong Anna berada di depannya.
*pokoknya ciuman deh. 😆
"Dek, kamu lihat jas Mas yang warna navy gak?" Tanya Abi di ruang ganti.
"Dek..." Panggil Abi yang tidak mendapat jawaban dari Anna.
"Sayang..." Panggil Abi sekali lagi. Ia sudah mulai panik.
Ia mengecek kamar mandi dan benar saja Anna ada disana.
"Dek... kamu di dalem?" Tanya Abi dengan suara lantangnya.
"Iya Mas..." Jawab Anna dengan lemas.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Abi bingung.
"Gak tau Mas, asam lambungku kambuh kayaknya. Mual banget dari pagi tadi." Ujarnya yang merasa semua berputar dan hampir pingsang saking lemasnya. Dengan sigap Abi menopangnya.
"Sayang... udah, kamu istirahat dulu deh. Kita ke dokter ya." Ucap Abi sambil menggendong Anna dan mendudukkannya di sofa kamar tidur.
"Gak apa Mas. Anna minum obat juga udah mendingan kok. Biasanya gitu." Jelas Anna.
"Tadi Mas Abi tanya apa deh? Anna gak dengar karena lagi di kamar mandi." Ucapnya.
"Gak apa-apa nanti Mas cari dulu aja." Ujar Abi yang tidak ingin membuat Anna semakin lelah.
"Sayang..." Ucap Anna yang mengelus lembut pipi Abi.
"Mas tadi tanya, jas navy Mas Abi dimana. " Ucapnya.
"Oh... ada di lemari putih. Di paling pojok. Bentar, Anna ambilin." Ujarnya sambil berdiri dari duduknya.
"Gak usah, gak apa-apa, Dek. Nanti Mas Abi aja yang ngambil." Ucap Abi yang langsung mendudukkan Anna kembali di sofa.
"Udah, gak apa. Mas bantu Anna aja boleh?" Tanya Anna.
"Bantu apa dek?" Abimanyu.
"Boleh tolong bawain buku-buku Anna gak? Mau Anna sumbangin ke anak-anak di panti." Ujarnya.
"Okay. Mas harus taro dimana?" Tanya Abi.
"Taro di depan aja Mas. Tadi si Mita udah Line aku katanya 5 menit lagi sampe. Mereka bawa mobil kok. Anna minta tolong ya." Ucap Anna.
"Everything for you, princess. Hahaha..." Ujar Abi.
"Thank you, honey." Ucap Anna sembari mengecup singkat pipi Abi.
Pagi itu mereka disibukkan dengan angkut-mengangkut barang untuk disumbangkan ke panti.
Siang harinya, Anna yang mulai disibukkan kembali untuk menyiapkan baju pesta.
Ya. Malam ini adalah pesta ulang tahun perusahaan Basupati Groups.
Mama Rani dan Papa Adi sudah menelepon Abi & Anna sejak pagi tadi.
Mereka tak berhenti mengingatkan Anna & Abi untuk acara ulang tahun perusahaan.
*****
Di mobil Abi sudah mengingatkan Anna untuk bilang ke Abi jika ia merasa tak enak badan. Karena sejak pagi tadi, Anna terlihat pucat dan lemas.
Sesampainya di salah satu hotel terkenal, termewah di Jakarta. Abi langsung di sambut dengan jepretan lensa yang menyilaukan.
Abimanyu membuka pintu mobil untuk Anna. Ia menggandeng Anna dan masuk ke hotel tersebut dengan gagahnya.
Malam itu, Abi memakai jas berwarna navy, kemeja putih, dasi navy, jam tangan rolex, dan sepatu pantopelnya.
Sedangkan Anna malam itu memakai long dress navy dengan jilbab polos biru mudanya dan sepatu heels.
Anna begitu anggun dengan dress navynya. Abimanyu pun tak hilang pesonanya dengan jas navy yang bertengger di tubuhnya.
Mereka terlihat begitu elegan. Abi yang menggandeng Anna memperlihatkan garis rahang tegasnya dan brewok tipisnya yang semakin menambah kemaskulinannya.
Ketika Abimanyu Basupati Soenggono dan istri Anna Maheswari Prayogo memasuki ballroom semua mata tertuju pada mereka.
Banyak mata memandang dan bibir berbisik. Ada yang kagum, benar-benar kagum. Ada yang kagum versi perezz, ada yang mencibir namun sebenarnya kagum hanya enggan untuk mengakui.
"Dek, Are you okay, honey ?" Tanya Abi ketika mereka berjalan memasuki ballroom.
"I'm not okay." Jawab Anna sambil menarik nafas dan mengeluarkannya secara perlahan.
__ADS_1
"Pa, lihat Anna deh. Mama kagum sama dia." Ujar Mama Rani yang dari jauh sedang memandang anak dan menantunya.
"Kagum karena?" Tanya Papa Adi.
"Karena Anna mampu menutupi rasa gugupnya dengan senyum manisnya. Hingga tak ada orang yang sadar kalau Anna itu nerveous banget. Haha... lucu deh Anna." Terang Mama Rani.
"Mama nih ada-ada saja. Orang anaknya lagi gugup kok malah dibilang lucu." Ujar Papa Adi.
"Nurun dari Ayahnya tuh, Ran." Ucap Bu Anin yang datang dari toilet. Ikut serta doi ke acara pesta ultahnya perusahaan Basupati Soenggono.
"Iyalah. Anak Ayah." Jawab Ayah Bagas yang segera menjawab ketika selesai mengantar Bu Anin dari toilet. Mesra ya mereka. Hahaha...
"Mba Anna mah jaim itu... hahaha..." Ujar Dika.
"Kamu tuh, Dik. Senang betul Mbanya susah. Hahaha..." Ucap Mama Rani.
"Eehh... jeng Rani... apa kabar? Makin awet muda aja." Sapa seorang ibuk-ibuk sosmed yang gahooll abiezzz.
"Eh, jeng Sherly. Alhamdulillah, kabar baik. Jeng gimana kabarnya?" Tanya Mama Rani tak kalah hebohnya.
Dan para "Jeng" itu pun menjadi hiruk pikuk karena sapa-menyapanya. Bu Anin tak kalah gahoolll dongzz...
Anna menemani Abi untuk menyapa para sahabat bisnisnya di ballroom tersebut.
"Wuidihh... Boss. Gitu luh ye... kawin gak kabar-kabar. Rese luh... hahaha..." Ucap salah seorang laki, teman Abi.
"Hahaha... kawin. Emang gue kucing." Ucap Abi dengan candanya.
"Boss bisa bercanda juga? Hahaha..." Ucap salah seorang teman perempuan Abi. Suami-istri sama aja. 😆
"Haii... Abi... apa kabar?" Tanya seorang perempuan yang aduhai bohai bodinya. Udah kayak gitar spanyol.
"Oh, hai." Udah gitu aja nyapanya si Abi mah. Doi malah takut kalau di deketin sama cewek macem gini.
"Bi, mana istri tercinta lo? Katanya lo udah nikah... penasaran gue kayak apa perempuannya? Lebih cantik dari gue emang? Sampai-sampai lo nolak gue." Ujar sang empunya bodi gitar spanyol.
"Kenalin. Istri gue. Sini, dek." Ujar Abi yang menggandeng tangan Anna.
"Oh, ini perempuan yang bisa buat Abi bertekuk lutut. Kok lo mau sih, Bi. Perempuan kampungan macem gini. Gak modis. Betah lo sama dia? Gue sih kalau jadi laki, gak bakalan betah. Eh, kenalin. Gue Cinta. Yang sangat mencintai Abi." Ucapnya.
"Hai, salam kenal. Anna." Ujarnya dengan seulas senyum.
Abi tak habis pikir dengan Anna. Terbuat dari apa hatinya. Hingga ia begitu tahan dengan nyinyirannya Cinta cewek modern gak paham etika.
"Sayang, kesana yuk. Belum sapa saudara sebelah sana." Ucap Abi merangkul pinggang Anna dan mendekapnya erat.
"Abimanyu, kalau lo bosen. Boleh lho... calling gue." Ujar Cinta dengan suara genit dan kedipan mata sebelahnya.
*Kok gue geli ya... 😅
*Yak elah thor... emang di kelitikin geli 😂
Abi mengacuhkannya. Ia berjalan bersama Anna untuk menyapa para saudara Basupati Soenggono. Bude, Pakde, Om, Tante, Bulek, Pak Lek, Eyang Kung, Eyang Ti. Banyak deh.
"Hallo semua..." Ucap Abi dan Anna dengan sopan.
"Eehh... Abimanyu... ponakannya Bude. Apa kabar, Le? Baik kabarmu?" Tanya salah seorang Bude Abi yang super heboh penampilannya. Bude-bude sosmed kayaknya. 🤣
"Alhamdulillah kabar baik, Bude." Ujar Abi sopan.
"Iya, Pakde. Ini istri Abi." Ucapnya.
"Hallo, Pakde. Salam kenal, Anna." Ujar Anna dengan seulas senyum dan sangar sopan.
"Oh, iya. Abi gimana? Sudah punya keturunan?" Tanya sang Bude.
"Hehehe... belum Bude. Do'ain aja ya, semoga lekas diberikan momongan." Ucap Abi ramah.
"Lho, kok belum? Kamu kan pewaris tunggal Basupati Groups. Kalau tidak ada penerusnya bagaimana?" Ujar sang bude yang cukup sudah, hati Anna tersayat oleh kata-katanya.
"Kalau gak bisa kasih penerus, ya tinggalin aja Bi. Cari istri yang lebih cantik. Yang selevel sama kamu. Cantik enggak, pinter dan selevel juga enggak. Nanti Bude cariin istri yang subur. Yang bisa kasih kamu keturunan. Lagi kamu nemu perempuan kampung gini dimana sih?" Ujar sang Bude.
Abi yang begitu geram dengan kata-kata budenya, ingin sekali menerkamnya. Tapi, coba lihat Anna. Hanya tersenyum santai dengan ucapan Budenya.
"Eehh... Abi... apa kabar? Jahat banget sih kamu, nikah masa gak nyapa-nyapa Tante. Tante sampai penasaran. Yang mana sih menantu pewaris tunggal Basupati Groups? Secantik apa dia sampai Mama dan Papamu gak mau mengenalkannya kepada kami." Terang si Tante panjang lebar.
"Maaf ya Tante. Gak semua keundang juga kok. Hehehe..." Ujar Abi sopan.
Abi masih asyik mengobrol dengan para pejabat publik, teman-teman bisnis, serta beberapa teman-temannya.
"Mas, Anna mau ke toilet dulu ya." Ujarnya berbisik kepada Abi.
"Ayo, Mas Abi anter, dek." Ucap Abi dengan lembutnya.
"Makasih sayang. Tapi Anna sendiri masih bisa, kok. Sebentar ya..." Ucap Anna yang melepas genggaman tangan Abi dan langsung ke toilet.
Di toilet, Anna bertemu dengan Aira. Aira yang sejak tadi tau obrolan para tamu yang begitu menyakitkan untuk Anna, membuatnya terus mengawasi Anna.
"An..." Ucap Aira yang keluar dari toilet dang mengusap punggung Anna.
Tangis Anna pecah seketika. Anna memeluk Aira yang dipeluk pun juga ikut menangis. Mereka tak saling berucap sepatah katapun.
Tapi Aira tau betul apa yang dirasakan oleh Anna. Anna menangis hingga terisak.
Abi yang sedang berbincang dengan rekan bisnis dan teman-temannya merasa tak tenang meninggalkan Anna.
"Bi, lo kenapa deh? Gak fokus banget?" Tanya Arka.
"Anna bilang mau ke toilet. Tapi kok belum balik ya sampe sekarang." Ucapnya dengan khawatir.
"Ngantri kali. Toilet perempuan kan ngantrinya ngelebihin toilet laki. Udah santai aja. Lagi ngobrol kali sama Aira. Istri gue juga ke toilet tadi." Terang Arka.
Tak lama Arka berucap bahwa Aira sedang berbincang dengan Anna, Aira datang menemui Arka.
"Lho, Ra, kok lo sendiri? Anna mana?" Tanya Abi yang mulai panik.
"Anna belum kesini? Tadi dia bilang mau duluan ke ballroom. Makanya gue dari toilet langsung kesini. Gue pikir Anna udah disini. Kemana ya?" Penjelasan Aira membuat Abi kalut.
"Anna gak bilang mau kemananya, Dek?" Tanya Arka.
"Enggak. Dia cuma bilang mau ke ballroom duluan. Udah gitu aja." Ucap Aira sembari duduk di kursi karena pegal pinggangnya. Maklum bumiil...
Abi sudah siap beranjak dari ballroom itu. Tapi Arka menghentikannya. Karena Abi harus memberikan sambutan sebentar lagi.
Abi memohon kepada Arka untuk dia saja yang berpidato dan mengisi acara penyambutan.
__ADS_1
Tapi Arka menolak karena menurutnya Abi lah yang pantas. Pewaris tunggal.
Saat Abi ingin beranjak pergi, sang MC menyebutkan namanya dan memintanya untuk naik ke atas panggung.p
Abi meminta Eros untuk mencari Anna. Saat Abi beradad di panggung. Anna masuk dan muncul saat Abi pidato.
Penyemangat Abi datang. Abi kembali berani untuk berbicara di depan khalayak. Anna melambaikan tangannya kepada Abi. Anna berdiri tak bergeming hingga Abi turun dari panggung.
Ketika Abi sedang menuruni tangga, Anna tak ada lagi disana. Abi seketika kalut. Ia pamit kepada Papa Adi dan Mama Rani untuk mencari Anna.
Abi terus melihat ponselnya. Ia mengecek keberadaan Anna.
"Aku disini, sayang..." Ucap Anna yang berada di depan Abi. Anna berada diluar ballroom. Ia berdiri di dekat kaca gedung.
Abi yang begitu mengkhawatirkan Anna langsung memeluknya dengan erat.
"Uhuk, uhuk. Mas A..abii... A..nnaa... gak bisa nafas." Ucapnya tersengal-sengal.
"Maaf dek. Maaf. Hehe..." Ujar Abi yang mengelus lembut kepala Anna.
"Mas Abiii... hiihh... nyebelin. Uhuk, uhuk..." Ujar Anna yang masih terbatuk-batuk.
Abi kembali memeluk Anna. Kali ini dekapannya biasa saja. Lebih hangat tapi.
"Mas Abi, kenapa?" Tanya Anna yang mengusap punggung Abi.
Tak ada jawaban, tak ada kata yang keluar dari mulut Abi. Anna menangkap sinyal bahwa Abi begitu khawatir.
"Masuk yuk." Ajak Anna kepada Abi yang menggandeng tangan Abi lalu melingkarkan tangannya di lengan Abi.
"Gak usah, dek." Ucapnya sembaru menarik tangan Anna.
"Lho, kenapa? Acaranya belum selesai kan, Mas?" Tanya Anna.
"Belum. Tapi Mas Abi mau pulang. Capek." Ujarnya. Anna hanya melihatnya dan menerawang. Kenapa suaminya ini. Batin Anna.
Belum sempat mereka beranjak pulang. Salah satu pengawal sedang tergesa-gesa.
"Pak Abi..!" Panggil salah satu pengawalnya.
"Iya, Pak. Ada Apa?" Tanya Abi santai.
"Interpreter untuk investor dari Korea Selatan gak ada Pak. Interpreternya sakit dan dirawat di RS sekarang. Baru mengabarkan kami barusan. Gimana Pak Abi?" Ujar salah satu pengawalnya.
"Apakah interpreternyaa harus bersetifikat?" Tanya Anna ragu.
"Enggak kok, Bu Anna." Ucap pengawal tersebut.
"Yaudah, saya bisa kalau gitu. Ayo, masuk. Kasihan yang di dalam sudah menunggu." Ajak Anna yang menarik lengan Anna.
Abi pasrah saja saat lengannya di tarik Anna masuk kembali ke ballroom.
Anna begitu semangat ketika menerjemahkan bahasa Korea tersebut. Saat itu orang-orang yang mencibir Anna semua dibuat bungkam oleh Anna yang mampu menerjemahkan lebih dari 2 bahasa.
"Mas, Anna kok pusing ya?" Ujarnya yang setelah turun dari panggung.
Wajahnya begitu pucat, bibirnya biru, keringat dingin mengucur.
"Anna...!!!" Pekik Abi yang sedang menopang Anna karena pingsan.
Abi segera membawanya ke ruang kesehatan. Untungnya Dr. Reza dan Dr. Maira sedang di acara tersebut. Segeralah mereka menghampiri Anna.
Mama Rani, Papa Adi, Ayah Bagas, dan Bu Anin segera menyusul Abi yang membawa Anna ke ruang kesehatan.
"Abimanyu !!!" Pekik Dr. Maira yang begitu emosi melihat Abi.
"Kamu ini. Apa sih peranmu sebagai seorang suami? Istri hamil kamu gak tau? Benar-benar kebangetan!" Ucap Maira.
Abi diam membisu mencerna perkataan Tantenya.
"Maksud Tante?" Tanya Abi yang masih belum percaya.
"Anna hamil. Sudah masuk minggu ke 3. Masa kamu gak merasakan ada yang aneh dari Anna?" Tanya Maira.
"Anna memanh beberapa hari ini mengeluh mual terus dan sangat manja sama Abi, Tant. Terkadang permintaannya cukup aneh. Abi benar-benar gak tau Tante." Ujar Abi yang sudah tak tahan lagi membendung air matanya.
Abi begitu bahagia. Ia mencium kening Anna berkali-kali. Meski Anna masih tak sadarkan diri.
"Abi, buat Anna senang. Buat dia bahagia. Jangan terlalu stress. Tante lihat, Anna sepertinya habis menangis. Iya?" Tanya Maira kepada Abi.
"Siapapun akan menangis Tant, mendengar cibiran orang-orang tentang dirinya." Ucap Abi sambil duduk di samping tempat tidur dan menggenggam tangan Anna lalu menciumnya dalam.
Tante Maira meminta Mama Rani, Papa Adi, Ayah Bagas, Bu Anin, juga Dika untuk keluar dari ruang kesehatan. Untuk membiarkan Abi berdua dengan Anna.
"Mas Abi..." Panggil Anna dengan suara paraunya.
"Anna, dek. Kamu sudah sadar? Ada yang sakit? Hm?" Tanya Abi bertubi-tubi kepada Anna sambil mengelus lembut pipi Anna.
"Gak ada Mas. Cuma agak pusing aja. Mas Abi kenapa? Hm?" Tanya Anna dengan lembut.
Abi tak berkata, ia lama sekali mencium kening Anna.
"Mas Abi..." Ucap Anna yang mengelus lembut pipi Abi.
"Sayang, tadi Tante Mai cek kondisi kamu dan kamu tau apa?" Tanya Abi.
"Apa Mas?"
"Kamu hamil, dek. Kamu hamil sayang..." Ujar Abi dengan wajah senangnya dan mata berbinar.
"Mas Abi serius?" Tanya Anna dengan wajah bingung.
"Iya. Serius Anna. Kan Tante yang cek sendiri." Ujar Dr. Maira yang kembali lagi untuk mengecek kondisi Anna.
"Gimana keadaanmu? Masih terasa pusing" Tanya dokter Maiya.
"Gak kok Tant."
"Yaudah, ini ada beberapa vitamin dan istirshat yang cukup ya, Anna." Ujar Maira ssng Dokter.
Anna yang mengangguk lemas kembali bersemangat. Ia begitu bahagia dengan berita kehamilannya.
Abi memeluk dan mencium mesra Anna. Ia mengingatkan kepada Anna untuk menjaga janinnya dengan baik.
******
__ADS_1