
MASIH DI KEDIAMAN PRAYOGO
Ternyata sejak Anna masuk kamar, Bu Anin dan Mama Rani sedang mendengarkan percakapan Anna dan Abi dari bilik pintu luar. Benar-benar ya, dua perempuan heboh ini. Kepooo 😆
Mendegar langkah Anna yang akan keluar kamar mereka berdua langsung masuk kembali ke dapur memasang wajah pura-pura tidak tau apa yang terjadi.
Melihat Anna yang keluar kamar dengan tertawa senang sekali. Mama dan Ibu, bertanya, ada apa gerangan.
"An, kamu kenapa? Kok happy banget pas keluar kamar? Udah malem pertama emang?" Tanya Bu Anin dengan candanya.
"Iihh, Ibu. Nanya gak pake sensor gitu deh. Enggak. Belum kepikiran malam pertama, Bu. Nunggu Mas Abi aja." Jawab Anna dengan berlalu mengambil segelas air putih dan meminumnya.
"Waahh... bakalan jadi pertarungan sengit nih." Sahut Mama Rani yang tertawa cekikikan dengan Bu Anin.
"Pertarungan sengit? Maksudnya Ma?" Tanya Anna belum mengerti maksud Mama Rani apa. Dengan mentautkan kedua alisnya yang tampak Anna sedang berpikir keras.
Namun, pemikirannya Anna seketika hilang saat Abi datang dari belakang dan memeluknya.
"Ya, Allah. Mas Abi, ngangetin Anna aja deh." Ucap Anna sambil memukul lembut lengan Abi yang kekar bukan main.
Abi mengecup lembut kening Anna, yang di saksikan oleh Mama Rani dan Bu Anin. Ini Abi gak sadar tempat apa gimana deh? Ada Mama sama mertuanya itu. Coba Abinya tolong di kondisikan. PTSD Abi apa kabar?
"Ya, Allah. Abiii... kamu gak sadar ada Mama sama mertuamu di sini? Bikin Mama kangen Papa aja." Jawab Mama Rani dengan tawa riangnya.
Yaah... Emaknya sama koplaknya kayak Abi. Hadeuuh...
"Hehehe... maaf ya Bu... kan udah halal." Jawab Abi cengengesan.
"Iya, ndak apa Abi. Asal jangan sering-sering aja. Daripada Anna dan Dika nanti punya adek lagi." Sahut Bu Anin dengan tawanya.
"Waahh... gak bener nih. Udah, Anna mau ke luar aja." Jawab Anna ngeloyor keluar dapur.
"Bu, Anna gak mau punya adek lagi. Satu aja udah pening." Tambah Anna berucap kepada Bu Anin.
Abi menyusul pergerakan istrinya yang mengarah ke ruang tengah yang sedang membawa nampan.
"Abi, udah enakan badanmu?" Tanya Ayah Bagas.
"Alhamdulillah, sudah, Yah. Maaf membuat semua khawatir." Ujar Abi.
Anna kembali masuk ke dapur bersama Mama Rani dan Bu Anin yang masih sibuk berkutat dengan persaingan sengit. Terdengar suara tawa riang mereka.
Anna hanya mendengarkan dan menggeleng-gelengkan kepalanya karena melihat Ibunya dan mertuanya begitu akrab. Bukannya tidak senang mereka akrab. Tapi, kalau udah ketemu, beeuuh... pasar kalah riuhnya. 😂
Tiba makan malam, semua makan bersama di meja makan, setelah itu melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Abi menjadi imam sholat maghrib saat itu. Setelah sholat maghrib, mereka berbincang-bincang di ruang tengah. Papa Adi yang membuka pembicaraan.
"Bi, what's your next planning? Do you wanna stay here or in my home?" Tanya Papa Adi dengan khas New York nya.
"I'll ask my wife to stay in my apartment, Dad." Jawab Abi.
"Have you talk with your wife? Is she agree?" Tanya Ayah Bagas. Gak mau kalah, Dika juga jawab pakai bahasa Inggris.
"You will bring my sister? I'm so glad. Freeeddoomm..." Ucap Dika dengan membuka lebar lengannya ke atas dan menengadahkan kepalanya.
"Mbok yo nek ngomong ki boso indonesia wae, lha, wong kita neng indonesia ngono lho. Inggris-inggrisan ki opo. (Coba kalau bicara tuh pakai bahasa Indonesia aja, orang kita di Indonesia gitu, lho. Bahasa Inggris tuh apa)." Ucap Bu Anin yang mengundang tawa semuanya.
"Abi sudah tanya Anna, Pa. Bahwa kami untuk sementara akan pindah ke apartment dulu. Karena rumah yang satu lagi kan masih dalam tahap pengerjaan." Jelas Abi kepada keluarga Basupati dan Prayogo.
"Yasudah, kalau itu keputusan kalian berdua. Kapan rencana kalian akan pindah?" Tanya Papa Adi.
__ADS_1
"Besok, Pa. Lebih cepat, lebih baik." Jawab Abi.
"Jangan lupa untuk ke Dokter Reza, ya Abi. Cek kesehatanmu. Kalau kamu sakit, yang jagain anak Ayah nanti siapa." Ledek Ayah Bagas.
"Iya, Yah. Pasti. Abi gak akan buat Anna sedih seperti tadi lagi." Ucapnya sembari mengusap punggung istrinya.
Tak lama mereka berbincang-bincang, adzan isya terdengar dan mereka melaksanakan sholat berjamaah. Kali ini, si bontot Dika yang menjadi imamnya.
Intermezzo dikit: Dika ini salah satu laki-laki yang cukup digandrungi perempuan di kompleknya, sekolahnya (waktu masih sekolah dulu), dan di kampusnya sekarang (meski gak terlalu sering bertemu wanita, tapi nama Dika sudah sampai ke telinga perempuan yang ada di sekolah penerbangan itu). Selain karena wajah tampan dan cerdas. Dika juga mampu memikat dengan suara murotalnya yang khas Arab punya. Hadeuuhh... bikin cewe ketar-ketir deh pokoknya. Tapi Dika lebih senang dengan wanita sederhana. Anaknya arogan banget kalau di luar tapi kalau lagi sama keluarganya doi iseng banget. Intermezzo close.
Setelah sholat isya berjamaah, mereka masuk kamar masing-masing untuk beristirahat. Malam itu Papa Adi dan Mama Rani menginap di rumah Prayogo. Mereka tidur di kamar tamu. Sedangkan Abi...
"Mas Abi, tidur di kamar Dika aja." Ajak Dika kepada Abi yang saat itu meminta Anna menemaninya duduk di kebun belakang.
"Udah, kamu masuk kamar sana. Ganggu Mas sama Mbanya aja." Ujar Bu Anin yang mendorong punggung Dika untuk segera masuk kamar.
Abi dan Anna hanya tertawa saja saat melihat adiknya di marahi Ibu seperti itu.
"Mas Abi, mau Anna buatin teh? Kopi? Atau susu hangat?" Tanya Anna yang saat itu udara di luar begitu dingin. Mungkin karena sore tadi sempat hujan dan masih ada sisa rintiknya yang lumayan menggigit kulit.
"Gak usah, dek. Makasih. Sini duduk dekat Mas." Pinta Abi kepada Anna yang menepuk kursi panjang untuk Anna duduk mendekat dengannya.
"Tadi kan kita udah dekat-dekat, Mas. Nanti kalau terlalu sering, Anna takut Mas kambuh lagi..." Ujarnya sambil ragu-ragu untuk duduk berdekatan dengan Abi.
"Enggak, sayang... sini." Abi meyakinkan Anna dengan senyum hangatnya.
Anna begitu pengertian dan perhatian sekali kepada Abi. Membuat Abi semakin terpicu untuk menghilangkan bayang-bayang trauma tersebut.
"Anna, dengar Mas baik-baik. Kalau Mas Abi bilang, kita perlu berjarak, itu berarti Mas lagi kambuh. Kalau Mas Abi bilang, Mas gak apa. Itu artinya Mas Abi benar-benar tidak apa-apa. Mengerti, ya sayang?" Ucap Abi sembari mendekap erat tubuh Anna dan mengecup keningnya.
Perkataan Abi dijawab dengan anggukan lembut Anna. Tak tega Abi dengan istrinya yang terus menerus merasa takut dan khawatir saat berdekatan dengannya. Abi harus segera sembuh. Pikirnya.
"Mas Abi, dingin. Masuk aja, yuk..." Ajak Anna yang masih asyik bergelendot mesra di dada Abi yang bidang itu.
Gak usah minta di ceritain ya mblo... ntar makin ngenesss... 😂✌. Tenangg... belum malam pertama kok. 😆
*****
Paginya, Abi dan Anna pergi berpamitan kepada Ayah dan Ibu untuk pindah ke apartment. Abi meminta Anna untuk tidak membawa pakaian terlalu banyak, supaya saat mereka menginap di rumah Ayah dan Ibu tidak sulit mencari pakaian.
Pak Man, Mama Rani dan Papa Adi pulang bersama dengan Pak Man sebagai sopirnya. Eyang Kung dan Eyang Ti sudah pulang dari semalam karena harus segera kembali ke Yogyakarta.
Saat di mobil, Abi sibuk menelpon entah siapa yang jelas ia meminta seseorang untuk membersihkan apartment nya. Anna yang tau Abi belum sarapan, dengan sigap, menyuapi Abi dengan sepotong buah apel.
Anna senang sekali melakukan ini ke Abi. Karena dari dulu, Anna mengimpikan kalau mempunyai suami, ia ingin sekali melakukan hal ini. Saat suami menyetir, ia menyuapi suaminya. Klasik, norak-norak gitu, sih... tapi seru. Hahaha...
"Dek, mampir sebentar ke kantor Mas, boleh?" Tanya Abi yang sudah membelokkan mobilnya untuk menuju kantor.
"Bilang gak boleh juga, Mas Abi udah terlanjur belok." Jawab Anna candanya.
"Hehehe... Janji deh, gak akan lama. Cuma naro berkas aja." Ucap Abi dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya itu.
"Iyaa... sayang..." Ujar Anna yang sontak membuat Abi membelalak melihatnya. Terkejut Abi mendengar ucapan istrinya. Belum sempat Abi bicara, Anna sudah menyahut.
"Gak usah komen. Anna tau Mas mau ngomong apa. Ssstt, pura-pura gak denger aja." Ujar Anna dengan menunduk dan berusaha sekali menyembunyikan rona pipinya. Imut sekali istriku kalau sedang malu-malu seperti ini. Batin Abi.
__ADS_1
*****
DI KANTOR ABI
Abi memarkir mobil Range Rover Sport, Black nya di tulisan VVIP CEO. Gak usah tanya kayanya si Abi seperti apa, 7 turunan juga gak kelar tuh duit. 😆
Setelah memarkir cantik mobilnya, Abi mengajak Anna turun sambil membawa berkas-berkasnya. Mereka melewati lobby kantor Abi yang luar biasa megah dan mewah.
Abi menggandeng tangan Anna, yang saat itu banyak mata memandang mereka. Dengan santai Abi menghampiri recepcionist yang tertulis di papan namanya "Rendi".
" Pagi, Ren." Sapa Abi dengan kharismanya.
"Pagi, Pak. Tumben pagi-pagi sudah ke kantor, Pak. Eheem..." Sapa Rendi yang sejak tadi melihat Anna, dan terus menerus digandeng oleh Abi (udah kayak mau nyebrang aja gandengan).
"Iya. Ada berkas yang harus saya kirim. Oh, ya. Kenalkan. Istri saya. Anna, namanya." Ujar Abi dengan wajah datar tanpa ekspresi dan sukses membuat orang-orang yang melihatnya makin menatap menyelidik Anna.
"Bersikap baiklah dengan Anna. Kalau perlu, tempel foto saya dan istri saya di seluruh gedung." Ucapnya sambil berlalu mengambil beberapa titipan berkas di receptionist.
Anna yang sejak tadi hanya diam mengikuti Abi dan sesekali melempar senyum kepada yang melihatnya, mulai membuka suara saat mereka berdua di lift.
"Mas Abi, segitunya banget harus ditempel fotoku sama Mas? Narsis aja..." Ujar Anna sambil tertawa ringan.
"Biarin. Biar satu kantor tau, kamu siapa. Biar gak pada sembarangan mencibir orang." Ucap Abi yang dengan memonyongkan bibirnya dan dicubit gemas oleh Anna pipi Abi.
Ting Tong...
Lift di lantai 25 terbuka. Terlihat 2 sosok laki-laki tampan, gagah, kekar, berbisep-bisep badannya yang dipastikan punya roti sobek tersusun rapi, dengan style casual-machonya.
Yup. Adit dan Aryo. 2 sahabat Abi yang tampan abiss...
"Weedeiihh... bro bro bro... my dude. Kemane aje luh? Udah balik dari surga dunia?" Siapa lagi kalau bukan Adit. Laki kece dengan lambe turahnya itu. 😄
"Bi, udah balik lo? Kok gak ngabarin? Kapan lo sampe sini?" Sederetan pertanyaan diajukan oleh Adit. Kalau doi agak kalem. Paling pengertian sama Abi. Sohib abis deh.
"Gue udah balik dari 3 hari yang lalu, cuma ada urusan keluarga dulu. Jadi gak sempet ngabarin. Sorry." Ucapnya yang datar tanpa ekspresi. 2 sahabatnya sudah tidak heran kalau Abi seperti itu.
"Eheeem, brur gak ada yang mau lo ceritain? Secret banget emang?" Tanya Adit yang sejak tadi memperhatikan tangan Abi menggenggam tangan Anna.
"Nanti aja. Kasian istri gue shock ngeliat lo berdua." Jawab Abi sambil keluar lift dan meninggalkan mereka berdua di dalam lift.
Anna memang agak terkejut ketika melihat Adit dan Aryo. Namun, sepertinya Adit dan Aryo lebih terkejut dibanding Anna. Lihat saja.
"Mas Abi, kok datar banget sih ngobrol sama orang. Senyum dikit dong... kasian tuh temen-temennya Mas Abi. Sampe mematung dengar Mas bilang Anna ini istri Mas Abi." Ucap Anna sambil menahan tawa karena mengingat ekspresi Adit dan Aryo.
"Tenang, dek. Sebentar lagi mereka ke sini. 1,2,3." Suara ketukan pintu terdengar dan tanpa aba-aba mereka menyambar ruangan Abi. Menyerang Abi dengan bertubi-tubi pertanyaan.
"Abimanyu! lo kalo becanda lihat sikon dong. Apa-apaan ini? Pulang perjalanan bisnis bawa cewe lo aku-akuin jadi istri lo, kalau Om Adi sama Tante Rani tau, lo abis di penggal sama mereka, Bi." Ucap Adit dengan berapi-api.
"Bi, gue tau lo jomblo udah lama. Tapi gak halu kayak gini juga kali. Masa setega itu lo sama kita. Nikah gak ngabarin. Yang bener dikit dong kalo ngomong." Tambah Aryo.
"Pokoknya gue laporin lo sama Om Adi dan Tante Rani. Diem-diem lo di sini." Tatap Adit geram kepada Abi.
Abi menarik lengan Anna untuk duduk di sofa besar, di ruangannya itu. Abi melingkarkan tangannya di pinggang Anna. Anna hanya diam dan tersenyum melihat 2 sahabat Abi yang sibuk menelpon Papa Adi dan Mama Rani.
"Waahh... gila luh yak. Parah. Asli. Waah... gak nyangka gue. Kejam." Ucap Adit yang sejak tadi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Abimanyu! Cerita sekarang." Ujar Aryo dengan tegas.
__ADS_1
\*