
APARTMENT ABI
Anna pulang menggunakan jasa caroline (car online). Sesampainya di rumah, adzan maghrib berkumandang. Anna bersih-bersih, sholat maghrib, dan membaca Al Qur'an.
Anna membuka ponselnya, namun, tak ada kabar dari Abi. Bahkan pesan chat nya belum dibaca Abi. Tak lama, ponsel Anna berdering. Tertera dari layar ponsel Anna "Mama Rani".
Kok pas banget ya, Anna baru mau telepon Mama Rani. Ternyata Mama Rani sudah menelponnya. Sejak akad nikah, Anna belum bisa bertemu dengan Mama Rani. Hanya sekedar mengirim pesan singkat.
" Assalamualaikum, Ma." Ujar Anna yang begitu gembira mendengar suara Mama Rani.
"Waalaikumsalam, sayang... Mama kangeeenn... sekali sama kamu, Anna..." Ucap Mama Rani dari sebrang telponnya.
"Anna juga, Ma. Mama Rani apa kabar? Sudah pulang dari Dubai ?" Anna terlihat senang sekali mengobrol dengan Mama Rani.
"Sudah, Ndok. Mama kangen banget sama kamu. Main dong ke rumah Mama Rani. Malam ini bisa gak? Soalnya Papa Adi sibuk banget di kantor. Gak ada yang bisa digangguin deh di rumah. Hahaha..." Celoteh Mama Rani.
"Malam ini, Ma? Tapi Mas Abi belum pulang. Anna kan belum minta izin sama Mas Abi. Terakhir Anna komunikasi sama Mas Abi tadi siang. Cuma sebentar di telpon. Kalau besok saja bagaimana, Ma?" Tanya Anna dengan pelan, takut Mama Rani tersinggung.
"Emang tuh ya, Bapak sama anaknya benar-benar deh. Gak ada satupun yang bisa dihubungi. Mama juga tadi telpon Papa Adi cuma tadi siang. Sore udah gak bisa dihubungin. Anna, Mama akan jemput kamu. Kita pergi tanpa sepengetahuan mereka. Biar sekali-kali butuh di kasih pelajaran. Kita disuruh terus menghubungi dan menunggu. Tapi, mereka gak ada yang bisa dihubungi. Biar Mama omelin tuh Papa Adi sama Abi. Benar-benar deh mereka. Mama kesal! Kesaall sekali!!!" Ucap Mama Rani penuh emosi yang berluap-luap karena Papa Adi tidak bisa dihubungi.
Anna juga meras khawatir dengan Abi. Tapi Anna tau, bahwa kekhawatiran atau amarah tidak akan menyelesaikan apa-apa.
"Ma, sabar... mungkin Papa Adi sama Mas Abi memang sedang banyak pekerjaan yang tidak bisa mereka tunda. Mama harus jaga emosi. Nanti darah tingginya naik lagi." Ucap Anna yang sejak tadi menjadi pendengar Mama mertuanya itu baru bisa ngomong setelah Mamanya berhenti bicara.
"Mama, mau Anna ke rumah sekarang. Kalau tidak, Mama gak mau lagi ketemu sama Anna." Ucap Mama Rani dengan kesal dan menutup ponselnya keras.
Anna dibuat bingung dan bimbang. Disatu sisi Anna tidak ingin mengecewakan Mama Rani. Disisi lain Anna belum bisa menghubungi Abi, belum mendapat izin dari Abi. Anna sholat isya terlebih dahulu, setelah itu, ia ingin mencoba menghubungi suaminya.
Ponsel Anna kembali bedering. Tertera di ponsel Anna "Rumah Mama".
" Assalamualaikum." Ucap Anna hati-hati.
"Waalaikumsalam. Non ini Mbaok Yem. Non, Anna. Nyonya, nyonya pingsan, non. Non Anna bisa ke rumah tidak?" Ucap Mbok Yem, salah satu asistant rumah tangga di rumah Mama Rani.
Anna terkejut bukan main. Barusan, beberapa menit lalu, Mama Rani baru selesai bicara dengannya. Tak pikir panjang lagi, Anna langsung menyambar tas, memakai jilbab, dan memesan caroline.
Di lift, Anna mencoba berkali-kali menghubungi Abi. Namun, tidak diangkat. Anna juga sudah mengirim pesan singkat kepada Abi.
"Mas Abi, Anna minta izin untuk pergi ke rumah Mama Rani. Karena tadi Anna mendapat telpon dari Mbok Yem yang mengabarkan bahwa Mama jatuh pingsan. Anna sedang dalam perjalanan ke rumah Mama. Maaf ya Mas Abi, Anna pergi tanpa izin ke Mas Abi. Ini darurat, Mas. Maafkan Anna, Mas Abi."
Tak lama kemudian, Anna sampai di depan rumah Basupati Soenggono tersebut dibilangan Jakarta Selatan.
"Assalamualaikum..." Ucap Anna sembari masuk ke dalam. Ia bertemu dengan Mbok Yem.
"Non, Anna. Maaf sudah mengganggu malam-malam. Mbok juga kaget waktu Nyonya pingsan setelah teleponan sama Non Anna." Terang Mbok Yem
"Sekarang Mama di mana Mbok?" Tanya Anna setelah mendengar cerita dari Mbok Yem.
"Di kamar Non. Sudah Mbok siapin bubur sama teh anget kalau Nyonya sudah bangun nanti." Jelas Mbok Yem.
"Makasih ya, Mbok. Sudah telpon Dr. Maira, Mbok Yem?" Tanya Anna. Karena dalam perjalanan menuju rumah Mama Rani, Anna meminta Mbok Yem untuk menghubungi Dr. Maya.
"Sudah, Non. Sedang dalam perjalanan ke rumah ini." Jawab Mbok Yem.
"Yasudah, nanti minta tolong, langsung ke kamar Mama aja ya, Mbok." Ujar Anna.
"Iya, Non. Baik." Jawab Mbok Yem.
"Makasih Mbok Yem. Maaf selalu merepotkan." Ucap Anna sembari senyum kepada Mbok Yem.
"Non Anna ini, kami ini kan memang sudah tugasnya membantu, Non. Non Anna gak perlu sungkan." Ujar Mbok Yem kepada Anna.
"Makasih ya, Mbok. Saya ke atas dulu." Ucap Anna seraya menaiki tangga ke lantai 2.
Anna menghampiri Mama Rani. Ia pegang kening Mama Rani, panas. Sepertinya Mama Rani kecapean setelah perjalanan jauhnya ke Dubai kemarin. Jadi sakit seperti ini.
Anna berulang kali mengompres Mama Rani dengan handuk kecil dan menaruhnya di kening agar panasnya Mama Rani turun.
"Anna, bagaimana kondisi Mba Rani?" Tanya Dr. Maira yang datang untuk memeriksa Mama Rani.
"Sepertinya demam Dok. Suhu badannya cukup tinggi." Ujar Anna kepada Dr. Maira
Dr. Maira memeriksanya dan ia menyarankan membeli beberapa obat di apotek untuk Mama Rani.
"Biar Anna yang membelinya." Jawab Anna.
"Tidak! Aku tidak mengizinkannya. Kamu tunggu di rumah, biar Mang Udin yang membelinya." Ujar Dr. Maira dengan tegas
kepada Anna. Anna tentu menurut saja.
Mang Udin yang membeli obat. Anna menunggu Mama Rani. Dr. Maira pamit pulang karena ia belum bertemu dengan anak-anaknya. Tentu Anna mengizinkannya.
Waktu sudah semakin larut. Dilihatnya, ponselnya tidak berdering sama sekali dan tidak ada kabar dari Abi.
__ADS_1
Pkl. 21:45
Papa Adicandra pulang kantor. Setelah ditelpon berkali-kali oleh Anna. Anna mengabarkan bahwa Mama Rani jatuh pingsan dan demam. Papa Adi masuk kamar Mama Rani. Anna salim, cium tangan, dan keluar kamar Mama Rani.
"Anna, terima kasih, yo Ndok. Maafkan Papa, baru mengangakt telponmu. Karena tadi di kantor luar biasa crowded ." Ucap Papa Adi yang sudah terlihat begitu lelah.
"Ndak apa, Pa. Apa Papa mau istirahat dulu? Biar malam ini Mama Rani, Anna yang jagain." Ujar Anna menawarkan bantuan.
"Tidak perlu. Terima kasih tawaranmu, tapi Papa ingin menjaga Mama sendiri. Karena Mama pasti kecewa sama Papa hari ini." Ucap Papa Adi dengan senyum hangatnya.
Ternyata Abi mendapatkan sisi hangatnya dari Papa Adi. Meski terlihat arogan, tapi Papa Adi begitu perhatian dengan keluarganya.
"Mama Rani tadi sempat telpon Anna. Mama sempat kesal karena Papa Adi tidak bisa dihubungi. Hehehe..." Ujar Anna kepada Papa Abi.
"Iya. Di kantor sedang sibuk-sibuknya. Kami harus mengejar penipu yang hampir membuat perusahaan kami bangkrut Anna. Abi juga sedang sangat sibuk. Maafkan ya... membuat kalian khawatir seperti ini." Jelas Papa Adi. Yang sedikit banyak dapat menenangkan hati Anna. Karena ia tahu, suaminya sedang benar-benar sibuk.
"Ndak apa, Pa. Mungkin saat ini kantor yang lebih membutuhkan Mas Abi. Anna kan besok-besok masih bisa, Pa. Hehehe..." Ucap Anna seyum tidak ingin menambah beban pikiran Papa Adi.
"Terima kasih, Anna. Tak salah Papa memilihmu menjadi istri Abi. Maafkan segala kekurangan Abi, ya. Dan mungkin kamu dalam waktu dekat ini akan ditinggal Abi lagi. Karena Abi harus mengurus bisnisnya di 3 Negara Eropa sekaligus. Maaf ya, Anna..." Terang Papa Adi.
"Iya, Pa. Gak apa-apa. Selagi hal itu positif untuk Mas Abi. Anna pasti support terus kok." Ujarnya seraya membuka pintu kamar Mama Rani.
"Pa, Mama sepertinya bangun, Anna tinggal keluar ya... takut kena semprot lagi. Hihhii.." Ucapnya sambil berlalu dari kamar Mama.
"Anna, kamu tidur di kamar Abi saja. Kamarnya ada di pojok ruangan dekat teras samping. Biar Papa yang menghubungi untuk segera pulang." Ujar Papa yang sedikit mengeluarkan kepalanya di pintu.
"Siap, komandan!" Ucap Anna dengan memberi hormat kepada Papa Adi.
*****
KAMAR ABI
Anna masuk ke kamar Abi. Abi itu simple. Di kamar itu hanya ada warna putih cat dindingnya dan benda-benda yang ada di kamrnya berwarna hitam. Hampir jarang ada benda pajangan. Hanya ada 1 tempat tidur besar. Yang bahkan kalau berdua tetep aja masih lega, sepertinya. Stand mirror, ada ruang ganti dengan 2 lemari panjang dan lebar berwarna putih.
Lemari tersebut mengelilingi ruang ganti. Di tengan ruang ganti ada semacam lemari yang tersusun apik jam tangan ber merk punya Mas Abi. Di apartment gak ada, hanya ada 2 jam tangannya Mas Abi. Lemari untuk rak sepatu dan tas.
Kamarnya di sebelah samping ada terasnya bisa melihat keluar ada siapa yang datang.
*****
terkadang kita memang harus berjarak
supaya kita mengenal apa itu rindu.
*****
"Ya, Allah... Mas Abi kemana belum pulang. Apa pulangnya ke apartment ya?" Batin Anna.
Ia naik ke atas ke kamar Abi. Anna mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat sepertiga malamnya.
Sholat, membaca Al Quran sudah ia lakukan. Anna melihat ponselnya, belum juga ada kabar dari Abi.
"Mas Abi... Anna rindu sekali." Tak terasa, bulir air matanya jatuh membasahi pipi Anna.
Mama Rani yang terbangun saat itu, melihat Anna sedang menangis terisak merindukan suaminya. Sakit sekali Mama Rani melihatnya. Tapi, Mama Rani tidak ingin menghampirinya. Ia tak ingin mengganggu Anna.
Mama Rani, masuk ke kamarnya dan melihat suaminya baru menyelesaikan sholat malam.
"Pa, Mama mau bicara sebentar boleh?" Tanya Mama Rani dengan hampir suara berbisik berbicara kepada Papa Adi.
"Ada apa, Ma?" Tanya Papa Adi yang seraya merapikan sajadahnya.
"Pa, Abi kemana? Kok belum pulang sampe sekarang? Ini udah pagi lho, Pa." Tanya Mama yang merasa khawatir dengan Abi.
"Apa Ma? Abi belum pulang? Padahal Papa sudah sampaikan ke Arka agar Abi cepat pulang. Istrinya sudah menunggu. Papa sudah bilang begitu kok. Apa Arka lupa menyampaikan ya? Kenapa Ma, memangnya?" Tanya Papa Adi dengan nada suara yang menurun dan lembut. Karena tadi sempat bernada agak tinggi. Setelah melihat Mama Rani meneteskan air mata dan menunduk. Papa Adi menurunkan suaranya.
"Mama tadi ngecek kamar Abi. Anna sedang sholat. Dia menangis sesenggukan, ia begitu merindukan suaminya, Pa. Abi tak bisa di hubungi sejak kemarin. Bahkan Abi janji mau jemput Anna di Mall, tapi Abi gak datang dan Anna pulang naik car online. Pa, coba itu tolong kasih tau Anna, harus ketemu Abi di mana. Kalau memang Abi tidak bisa menemui Anna. Biar Anna yang menemui Abi. Mama gak tega lihat anak Mama menangis seperti itu." Ujar Mama yang penuh isak tangis.
"Iya. Nanti setelah shubuh, Papa akan beritahu Anna di mana bisa menemui Abi. Kita minta Pak Man untuk antar Anna ke Abi, ya Ma. Udah Mama jangan sedih. Nanti darah tingginya naik lagi." Ucap Papa Adi berusaha menenangkan Mama Rani.
Shubuh usai, Anna turun dan memasak beberapa lauk pauk dan nasi untuk Mama Rani, Papa Adi, dan Abi. Karena saat shubuh berjamaah tadi. Papa Adi mengizinkan Anna untuk menemui Abi di kantornya dan memberikan akses kartu untuk masuk ke ruang rahasia Abi.
Setelah selesai menyiapkan semua, Anna bersih-bersih dan meminta tolong ke Pak Man untuk mengantarnya ke kantor Abi. Anna berpamitan dengan Papa Adi dan Mama Rani. Ia begitu riang, dengan senyum sumringahnya Anna pergi menemui Abi.
*****
DI KANTOR ABI
Anna melihat banyak karyawan Abi yang sudah sangat sibuk di pagi hari. Anna masuk lift dan naik ke ruangan Abi. Ia mengetuk pintu namun tak ada jawaban. Anna memutuskan untuk masuk ke ruangan Abi.
Adit, Arka, Aryo, dan Abi sedang tertidur pulas. Berkas-berkas menumpuk. Komputer masih menyala. Laptop yang batreinya sudah berkedip-kedip minta diisi. Anna tidak tega melihat mereka. Akhirnya, Anna merapikan semua. Bekal untuk Abi dan makanan untuk semua karyawan Abi akan di antar pagi dan siang ini.
Salah satu sekertaris Abi, bawahannya Arka, namanya Dito. Ia menyapa Anna dan ingin membantu Anna, namun Anna memintanya turun ke bawah membawa sarapan untuk karyawan yang belum sarapan.
__ADS_1
Setelah merapikan semua berkas, menge-charge laptop yang lowbet. Anna menghampiri Abi yang tertidur pulas di sofa. Ia membelai wajah Abi. Mengecup kening Abi cukup lama. Anna begitu merindukannya.
Anna menaruh pakaian ganti untuk Abi. Sebelum ke kantor Abi, Anna meminta Pak Man untuk ke apartment dahulu, mengambil pakaian ganti dan perlengkapan mandi untuk Abi. Dito masuk ke ruangan Abi. Belum sempat, Dito melaporkan bahwa sarapannya sudah ia bagikan ke karyawan kantor. Dito sudah dibuat kagum oleh istri Big Boss nya itu.
"Maaf, Bu Anna___" Belum sempat Dito melanjutkan bicara. Anna sudah memberikan kode satu telunjuk di bibirnya.
"Sssttt... kita bicara di luar." Ajak Anna kepada Dito.
"Iya, Bu. Sarapannya sudah saya bagikan ke karyawan kantor. Ada lagi yang bisa saya bantu Bu Anna?" Tanya Dito.
"Makasih ya, Pak Dito untuk bantuannya. Bantu saya jaga Big Boss mu yang super duper menyebalkan itu ya. Hehe..." Ucap Anna dengan candanya.
"Iya, Bu Anna. Pasti itu. Terima kasih ya, Bu Anna." Ucap Dito.
"Jangan berterima kasih sama saya. Tapi sama orang-orang yang sudah berjuang dan bertahan di keadaan seperti sekarang ini. Yasudah, saya mau langsung pulang. Ada kegiatan lagi soalnya." Ujar Anna yang berjalan menuju lift.
"Bu, Anna. Biar saya antar sampai bawah, Bu." Ucap Dito.
"Terima kasih. Tapi tidak perlu. Mau nganter saya apa mau di suruh push up one stand sama suami saya? Haha... Sudah. Assalamualaikum." Ucapnya sambil masuk ke lift.
"Waalaikumsalam." Jawab Dito yang masih duduk termangu mengagumi kesopanan istri Big Boss nya yang berbanding terbalik dengan karakter Boss nya.
*****
Anna senang sekali karena ia bisa bertemu dengan Abi. Lebih tepatnya melihat Abi.
"Mas Abi capek banget. Tidurnya pulas sekali. Bahkan aku kiss aja gak berasa. Hihihi..." Mengingatnya membuat Anna senyum-senyum sendiri.
Hari itu, Anna diminta kampus tempatnya mengajar untuk menjadi pembicara pada sebuah seminar. Seminarnya tentang "Berdamai dengan anak."
*****
Abi bangun dan mendapati ruangannya bersih, kinclong, dan semua tersusun rapi. Saat itu Dito masuk.
"To, thanks ya, ruangannya udah di rapihin." Ucap Abi.
"Hah?! Saya Pak? Bukan saya Pak." Jawab Dito dengan santainya.
"Terus siapa yang ngerapihin?" Tanya Abi bingung.
"Lho, Pak Abi emang gak ketemu sama istri Bapak?" Ucapan Dito membangunkan orang-orang yang ada di ruangan Abi.
"Istri saya? Anna maksudmu?" Tanya Abi yang masih terkejut.
"Ya, iyalah Pak, Bu Anna. Emang Bapak punya berapa istri lagi?" Tanya Dito dengan polosnya .
Saat itu Abi melihat bekal dan pakaian ganti yang Anna siapkan. Di tempat bekal bertuliskan "Selamat makan, Mas Abi. Semoga suka makanannya, ya. Kerja boleh, asal tetep isi tenaga. Semangat, sayang..!! 😘"
Sedangkan di kantong pakaian ganti bertuliskan "Ayo, mandi Mas Abi. Masa Big Boss bau... gak seru. Yang ganteng ya... jangan lupa, selalu mencintaiku. Anna rindu sekali sama Mas Abi. Semangat kerjanya ya Mas. 😘"
Segera saja Abi mengambil ponselnya dan melihat semua pesan yang tertera di layar ponselnya. 200 panggilan, 300 pesan singkat dari Anna. Abi merutuki dirinya sendiri. Ia lupa bahwa ia janji akan menjemput Anna. Ia me-mode getarkan hp nya. Jadi ia tidak mendengar ada pesan atau panggilan masuk.
"Ya, Allah, aku melukai hati istriku lagi. Abiii... bodoh sekali kau." Abi merutuki dirinya dengan mengusap kasar wajahnya. Ia menghubungi Anna tapi tidak diangkat.
"Bapak nelpon Bu Anna? Bu Anna sibuk kali Pak. Tadi Bu Anna bilang, hari ini beliau ada seminar di kampus daerah Depok." Ucap Dito yang sedang mengecek data di laptop.
Abi melangkah menuju pintu ruangannya, namun lagi-lagi terhenti karena Dito.
"Pak Abi, niat mau bikin Bu Anna malu apa gimana? Bersihin diri dulu kali, Pak. Disana banyak mahasiswa/i." Ujarnya dengan melirik sedikit ke Bossnya yang sedang mengambil perlengkapan mandinya.
Abi mandi dan membersihkan dirinya. Perusahaannya sudah aman terkendali. Ia meminta izin kepada kawan-kawannya untuk menemui istri tercintanya.
"Bi, lo mau pergi gitu aja?" Tanya Adit.
"Emang mau ngapain? Kan gue mau nemuin istri gue." Jawab Abi polos.
"Yah elaahh... ini orang, percuma IPK lo cumlaude tapi urusan cewe otak lo jongkok." Ujar Arka ke Abi.
"Setidaknya lo bawa bunga kek, cokelat kek, ajak lunch bareng gitu kek. Apa gitu, yang biasanya bikin istri lo seneng. Parah banget sih lo, janji-janji, malah gak ditepatin. Bagus kalo istri lo itu sabar gak minta pisah. Kalo gak sabaran gimana?" Jelas Aryo kepada Abi.
Setelah mandi, bersih-bersih, wangi, dan tampan. Ia mengambil kunci mobilnya dan Abi melesat membawa mobil Range Rover Sport nya menuju ke tempat Anna seminar.
******
langit tak pernah membenci senja yang datang hanya sekilas dan pergi
karena langit tahu senja pasti kembali dengan rona merahnya
\*
__ADS_1