
ABIMANYU'S HOUSE
Abi memarkir Range Rover Sport Black nya di halaman rumahnya. Anna turun dengan membawa beberapa barang belanjaan.
Pak Karyo membantunya. Salah satu asisten rumah tangga bagian bersih-bersih luar rumah. Halaman, kebun, taman, dsb.
"Mari Non, saya bantu." Ujar Karyo yang membantu membawakan barang-barang Anna.
"Oh, iya, Pak. Langsung dibawa ke dapur aja ya, Pak Karyo. Ini barang-barang dapur. Nanti saya menyusul. Makasih Pak Karyo." Ucap Anna dengan seulas senyum manisnya.
"Dek, Mas Abi mau ke Pak RT sebentar ya. Mau kasih fotocopy KK." Ucap Abi.
"Fotocopy KK buat apa Mas?" Tanya Anna heran.
"Buat data warga disini. Kan kita juga baru pindah. Nanti kita dapat surat keterangan bahwa kita warga daerah sini." Terang Abi kepada Anna yang sibuk merapikan barang belanjaannya.
"Hoohh... buat data warga. Yaudah. Mas lama gak di sana?" Tanyanya.
"Enggak. Sebentar kok. Cuma ngasih, terus pulang. Tadinya mau minta tolong sama Mbok Nah. Tapi gak enak, kan kita warga baru. Ntar dikira sombong lagi. Hahaha..." Ujar Abi menjelaskan.
"Ohh... iya, bener. Yowes, Mas Abi jangan lama-lama..." Ujar Anna dengan memeluk Abi dan manjaaa... sekali.
"Istri aku dari tadi kok manja banget, nih? Jadi gemas Mas Abi." Ucap Abi sambil memeluk erat Anna dan mencubit gemas pipinya.
"Hehehe... yaudah sana. Nanti keburu malam. Gak enak sama Pak RT." Ujar Anna yang melepas pelukannya.
Abi pun pergi ke rumah Pak RT dengan membawa fotocopy KK.
Sesampainya di rumah Pak RT, Abi duduk dan ngobrol sebentar dengan Pak RT kemudian menyerahkan fotocopy KK dan izin pamit pulang.
Rumah Pak RT tak jauh dari rumah Abi. Hanya berjarak 2 blok dari rumah Abi.
Anna mandi dan bersih-bersih. Setelahnya ia ke dapur untuk membuat makan malam sederhana.
"Mbok Nah..." Sapa Anna dengan gembira.
"Eehh... Non, kapan dateng? Kok Mbok Nah gak liat?" Tanya Mbok Nah yang sedang mencuci piring.
"Gak liat lah... kan Anna datengnya pake karpet terbang, jadi gak keliatan. Hahaha..." Canda Anna kepada Mbok Nah.
"Hahaha... Non Anna ini. Ada-ada saja." Tawa Mbok Nah.
"Non, udah baikan sama Den Abi?" Tanya Mbok Nah. Mbok Nah ini sudah lama bekerja di keluarga Basupati Soenggono.
Jadi tau betul karakter Abimanyu seperti apa. Terkadang Anna suka kepo tentang Abi dan tanya-tanya ke Mbok Nah.
"Baikan? Gak ada yang berantem kok Mbok." Ucap Anna sambil mengambil panci dan mengisi air untuk merebus sayur-sayuran.
"Yang benerrr... yang semalem habis nangis terus sekarang ketawa, makan gula jawa gak nih?" Gurau Mbok Nah kepada Anna.
"Hahaha... Mbok, Mbok. Ada aja bahasanya. Kok Mbok tau kalau Anna nangis semalem? Mbok cerita ya sama Mas Abi?" Tanya Anna.
"Tau dong non... kan Mbok tukang kontrol. Iya, saya cerita sama den Abi, non. Habis, saya gemas melihat kalian. Marahannya lucu. Hahaha..." Ujar Mbok Nah yang tertawa riang.
"Waktu Mbok Nah cerita tentang Anna yang nangis. Mas Abi gimana, Mbok? Pasti sedih, ya?" Tanya Anna dengan raut wajah sedih.
Belum sempat Mbok Nah menjawab, Abi muncul dari belakang dan memeluk Anna.
"Suami mana yang gak sedih mendengar istrinya menangis gara-gara suaminya? Hm?" Ucap Abi sambil mencium ubun-ubun Anna.
Anna sempat terkejut sedikit saat Abi memeluknya dari belakang.
"Maaf ya sayang... sudah buat kamu sedih. Dosa deh Anna. Hehehe..." Ujarnya sambil mencium pipi Abi.
"Enggak kok. Justru Mas terus yang buat adek sedih. Kamu mau bikin apa dek?" Tanya Abi.
"Mau buat salad sayur. Mas Abi katanya lagi diet. Biar badannya makin seperti roti sobek dua tangkep ya? Hahaha..." Canda Anna.
"Nah, ini kalo nge-bully suaminya termasuk dosa gak ya?" Ujarnya.
"Hahaha... iya, iya maaf Maskuuhh..." Ucap Anna sambil mengecup singkat pipi Abi.
"Eeheeem... batuk." Mbok Nah, berdehem seolah sekedar mengingatkan bahwa ada beliau di situ.
Sontak membuat Anna dan Abi terkejut. Mereka lupa ada Mbok Nah disana. Hahaha... kalau udah jadi pemeran utama mah yang lain cuma figuran. 😂
"Mbok Nah, minggir aja deh ya... hehehe..." Ucap Mbok Nah yang berjalan mundur dengan membawa nampan berisi makanan untuk Pak Karyo dan Mang Jana (tukang kebun), Pak Ismanto/Pak Manto (sopir), Mbok Yem (ART), Bi Ijah (ART).
Anna dan Abi hanya tertawa geli melihat tingkah Mbok Nah.
"Mas Abi mau mandi dulu apa mau makan dulu?" Tanya Anna.
"Emm... makan dulu kali ya..." Ujar Abi.
"Okey. Sebentar ya, Mas. Anna siapin dulu." Anna masuk ke dapur dan menyiapkan satu piring salad sayur dan susu cokelat.
Anna kembali ke meja makan dan makan bersama dengan Abi. Setelah selesai makan, Abi mandi dan bersih-bersih. Anna mencuci piring
Setelah selesai mencuci piring, Anna masuk ke kamar dan mengambil ponselnya. Ponsel baru dengan bergambar buah ke gigit separo itu menjadi benda persegi yang akan menjadi list kedua setelah dompet untuk ada di tasnya.
Anna selama ini belum pernah memakai ponsel dengan merk buah-buahan tersebut. Terlalu mahal buat Anna gunakan. Karena Anna tau kalau ia tak pernah bisa awet untuk menggunakan ponsel buah-buahan tersebut.
Anna yang sedang mempelajari ponsel buahnya segera tersadar setelah melihat Abi telanjang dada.
__ADS_1
Dengan perut perseginya, rambut berjajar di dadanya, warna kulit agak kecokelatan, sorot mata tajam, dan air bekas ia mandi masih bergelayut manja di badannya.
Sontak Anna tertunduk kembali setelah ia yakini bahwa Abi tak melihatnya saat Anna melihat tubuh Abi.
*Laki tuh ya, gak pernah masalah mau telanjang dada di mana juga. Nah, kalau cewe gimana coba? Istigfar mulu kayaknya yang lihat juga. Hahaha... 😅
Malam itu hujan mulai turun. Awalnya hanya setitik, lama-lama menjadi ramai. Hujannya tawuran, saling baku hantam diantara daun dan pepohonan, menghujam atap dengan suara desiran kerasnya, dibumbui dengan sinar seperti laser yang menyala dan memekik kencang. Siluet hujan terpampang nyata di depan mata.
Saat itu lampu rumah Abimanyu padam seluruhnya. Anna panik dan berteriak sangat kencang. Anna itu phobia gelap. Dia akan sangat panik dan histeris kalau sekelilingnya gelap. Seperti saat ini. Untung Abi gak jauh-jauh dari Anna.
Duuaaarr duaaar duarrr
Suara petir menyambar tak hentinya-hentinya.
"Mas Abiiiiiii.... hiks hiks... Mas..." Pekik Anna memanggil sang suami.
Abi berlari menghampiri Anna. Ia pun juga terkejut karena semua lampu padam. Ia menyalakan flashlight di ponselnya.
"Mas Abiii... hiks hiks" Tangis Anna memanggil Abi yang sedang berusaha menghampirinya.
"Anna, Mas Abi disini, sayang." Abi datang dan mendekap Anna dengan erat.
Abi baru teringat pesan dari Bu Anin. Anna itu phobia gelap. Ia takut sekali dengan gelap. Anna akan menangis dan berteriak histeris, bahkan ia pernah pingsan karena terkurung dalam ruangan gelap.
Kalau sudah begitu, yang bisa menenangkan Anna hanya satu. Dipeluk dengan orang terdekatnya.
"Dek, Mas mau cek ke bawah, kayaknya sekringnya ada yang konslet kena petir tadi." Ujar Abi.
"Anna ikut, Mas..." Jawabnya dengan suara parau karena sudah menangis sejak tadi.
"Yasudah, ayo, jalan dekat Mas Abi." Ujar Abi.
Anna pun menurut apa yang dikatakan Abi. Ia tak membiarkan tubuhnya menjauh dari Abi sedikitpun.
"Mang Jana, ada yang konslet ya sekringnya?" Tanya Abi yang melihat para tukang kebunnya sibuk melihat sekring.
"Iya, Den Abi. Tapi sebagian aja karena yang kena sekring cadangan, den." Ujar Mang Jana.
"Yasudah, Mang. Besok saja. Ini sudah malam. Kita pakai sekring utama dulu deh. Besok saya coba hubungin temen saya yang ngerti listrik." Ujar Abi.
Lampu pun menyala semua dan hujan sudah mulai berhenti hanya tinggal tersisa gerimis saja.
Anna masuk kamar mandi membasuh wajahnya karena menangis tadi. Anna itu babyface banget.
Setelah di rasa ia sudah nyaman. Baru Abi mendekat.
"Sayang, sudah tenang?" Tanya Abi dengan membelai lembut rambut Anna.
"Sudah Mas. Maaf ya... Anna panik sekali tadi. Anna takut banget kalau udah gelap gitu. Ada petir pula." Ucap Anna dengan wajah lesu karena cukup lama ia menangis.
Hanya saja, Abi memendam hasrat itu. Karena hujan dan petir yang membuat istrinya histeris. Kau sukses hujan menggagalkan planning ku. Batin Abi.
Anna kembali lagi ke kamar mandi. Ia ingin buang air kecil rupanya. Setelah dari kamar mandi, Anna membaringkan tubuhnya disamping Abi. Abi pun memeluknya dengan erat.
Anna tau sebenarnya apa yang diinginkan Abi dan ia tau betul, suaminya ini akan meminta jika dirasa istrinya sedang baik-baik saja.
"Mas, itu ponsel Anna, makasih ya... tapi apa gak terlalu mahal?" Tanyanya dengan membelai lembut wajah Abi.
"Apanya yang mahal dek. Ponsel doang. Biasa aja." Jawab Abi dengan entengnya. Saat ini ia sedang berusaha untuk meredam hasratnya.
"Ganti yang biasa aja deh Mas... Anna gak paham cara pakainya. Hehehe..." Ujar Anna cengengesan sambil menaruh dagunya di dada Abi.
"Iya, boleh. Terserah adek aja. Besok Mas temenin kalau adek mau cari yang baru." Ujarnya dengan mengelus lembut rambut Anna.
"Thank you, honey..." Ucap Anna dengan mengecup lembut bibir Abi.
Abi yang sedang berbaring, sontak terkejut dengan perlakuan istrinya. Ia sedang meredam hasratnya. Tapi istrinya justru malah mengujinya.
"Mas Abi..." Panggil Anna berbisik di telinga Abi. Berdesir geli di telinganya.
"Kenapa, dek?" Tanya Abi dengan menjawab setenang mungkin.
"Mau sampai kapan Mas netralisir hasrat Mas itu? Sebegitu tidak menariknya kah Anna?" Tanyanya sambil bangun dari pelukan Abi.
Belum sempat Anna beranjak dari tempatnya, Abi sudah menariknya, Anna jatuh ke pelukannya Abi, Abi tak segan-segan langsung melumat bibir mungil Anna.
Anna pun meresponnya sama dengan lumatan yang Abi lakukan. Namun, mereka berhenti karena ada suara yang mengetok pintu.
Dengan kesal Abi beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan membuka pintu kamarnya.
"Maaf den, Mbok Yem ganggu. Mau kasih sisa uang belanja tadi pagi ke non Anna." Ujarnya yang sangat tau majikannya sedang asyik berdua itu. Merasa bersalah juga ia.
"Oohh... ambil aja Mbok Yem sisanya. Nanti biar saya yang bilang ke istri saya, Anna." Ujar Abi.
"Baik, den. Saya permisi. Maaf ganggu ya, den." Ujar Mbok Yem dengan senyum-senyum melihat ekspresi Den Abinya itu.
"Mbok Yem kenapa Mas?" Tanya Anna yang baru keluar dari kamar mandi. Habis pipis katanya.
"Mau kasih sisa uang belanja tadi pagi. Terus aku bilang buat Mbok Yem aja sisa uang belanjanya. Gitu." Ujar Abi yang duduk dipinggir kasur dan Anna berdiri di dekatnya karena sedang men-charge ponselnya.
"Dek..." Ucap Abi yang menarik lengan Anna.
"Kenapa, Mas...?" Tanya Anna dengan mengelus wajah Abi.
__ADS_1
"Lanjutin yang tadi, ya..." Ucap Abi sambil menarik Anna kepangkuannya.
"Tapi kasih tau Anna, ya. Kalau Anna bikin boring Mas Abi. Anna kan belum tau harus gimana." Ujarnya.
"Iyaaa... ayookk... tega banget sama Mas ditunda mulu." Ujar Abi sambil mencibikkan bibirnya.
Anna yang gemas melihatnya, akhirnya ia pun tak sanggup menahan hasratnya pula. Anna melumat bibir Abi yang sexy itu.
Panas yang tercipta di tubuh Abi membuatnya membuka t-shirt putih polos yang dikenakannya. Ia melemparnya tak tentu arah.
Ia melumat bibir Anna dan tangannya menjalar hingga bagian dua benda sintal Anna. Yang Abi sentuh dan remas, membuat yang empunya menjadi semakin bergairah. Hasrat cinta di keduanya yang bergelora membuat malam yang dingin menjadi panas.
"Mas Abi, Mas. Sebentar." Ujar Anna yang bangun dari baringannya dan terduduk di depan Abi.
"Kenapa, dek?" Abi yang sedang serius menikmati lumatannya di tubuh Anna, berhenti sejenak.
"Mas, pintu kamarnya belum di kunci. Sudah cek sekitar kamar belum? Sudah tertutup semua?" Tanya Anna.
"Oh, iya. Sebentar, Mas cek dulu." Abi turun dari kasur, mengunci pintu kamar, mengecek jendela kamar sudah terkunci dan menutup kordennya lalu menyalakan lampu tidurnya.
Anna bangun untuk menutup korden yang di dekat meja kosong tempat Abi biasa duduk menikmati udara pagi.
Abi yang melihat Anna tak sampai menggapai pengikat korden membuat Anna harus berjinjit dan otomatis gaun malamnya terangkat mempeihatkan bagian paha mulusnya.
Abi menghampirinya dan membuka pengait kordennya, lalu menutup jendela dengan korden. Abi berbalik menghadap Anna dan melumat kembali bibir mungil Anna.
Abi mendudukkan Anna di meja kosong tersebut, ia mencium leher Anna seraya *** dua benda sintal milik Anna. Yang menimbulkan sensasi hebat pada tubuh Anna.
Abi mulai mengecup lembut bagian dada Anna, lalu turun dan menemukan dua benda sintal di hadapannya. Ia mengecup lembut dan melumat habis dua gunungan tersebut hingga menimbulkan suara-suara lirih yang makin menggairahkan Abi.
"Mass... aahh... Mas Abi..." Anna melenguh lirih memanggil Abi. Membuat Abi semakin gencar melucuti tubuh Anna dengan ciuman-ciuman serta lumatan hebatnya.
Abi membuka perlahan bahan yang menempel pada tubuh Anna. Ia melihat kemolekan tubuh istrinya tanpa penghalang sedikit pun.
Abi menciumi dan melumat habis bagian tubuh Anna paling atas hingga bawah bahkan sampai ke dalam goa terdalam.
Abi melumat goa terdalam Anna dengan mengecup lembut dan memainkan kliteris Anna, membuat yang empunya semakin melenguh panjang.
"Aakkhh... Mas Abi... eummmhh.. hhh..." Anna melenguh tak tahan dengan permainan halus Abi.
Abi menggendong Anna dari meja tersebut hingga tempat tidurnya. Saat itu, lengan kekar, otot bisep, serta perut kotak-kotak Abi membuat Anna semakin meluapkan hasratnya dengan mencium dan melumat hingga dalam bibir Abi.
Abi yang mendapat respon positif dari Anna langsung melajukan ciumannya di sekujur tubuh Anna. Setelah dirasa puas, sekarang Anna yang menghujani Abi dengan ciuman dan lumatan bibir mungilnya.
Anna melucuti pakaian Abi, hingga keduanya bermain tanpa busana. Saat ini, Anna sudah berada di atas Abi. Ia mencium leher Abi dan mengelus lembut tengkuknya. Entah Anna tau dari mana. Ia hanya mengikuti feelingnya.
Hingga mata keduanya saling tatap. Anna mendekatkan bibirnya di telinga Abi.
"Mas, aku mau pipis dulu. Hehehe..." Ucap Anna yang kemudian bangun dari atas tubuh Abi dan mengambil handuk yang di gantung di dekat kamar mandi. Ia berlari karena sudah tak tahan mau pipis.
Abi yang mendengarnya hanya tertawa melihat tingkah laku istrinya yang selalu hebat membuatnya berada di puncak gairah cinta kemudian di jatuhkan tetiba saja.
Anna yang keluar kamar mandi hanya dengan balutan handuk, yang panjang handuknya hampir tidak menutupi bagian bawahnya, membuat Abi semakin bergairah.
Abi menyanggahkan bokongnya di meja kosong dan menarik pinggang Anna mendekati Abi yang saat itu benda pusaka milik Abi mulai mengeras.
Handuk yang Anna pakai sebagai pembatasnya sedikit banyak mulai bergesekan dengan benda kekar Abi bagian bawahnya.
"Mas..." Lenguh Anna.
"You are so sexy." Bisik Abi di telinga Anna. Membuat Anna semakin bergairah untuk melanjutkan permainannya.
Abi mencium dan melumat bibir Anna dengan lembut dan dalam. Ia menyelusuri setiap celah mulut dan bibir Anna. Ia bertarung dengan lidah lawannya.
Benda pusaka kekar Abi mulai bergesekan dengan paha mulus Anna yang membuatnya makin panas dalam permainan. Abi membuka handuk yang dipakai Anna dan menggesekkan pusakanya ke bagian mahkota Anna.
"Euummhh... Aahh... Mas... emmhh..." Lenguhan Anna makin membuat Abi gencar. Ia menggendong Anna dan mebaringkannya di tempat tidur.
Posisi saat ini GPS mengatakan Anna berada dekat dengan Abi. Dekat denga roti sobek Abi, Anna melumat seluruh tubuh Abi tanpa terkecuali. Ia mencium benda seperti lingkaran yang bertengger sejak lama di tubuh Abi dan melumat dengan lidahnya.
Tak hanya sampai disitu. Anna, menjulurkan tangannya *** lembut dan memainkan pusaka Abi. Hingga yang empunya pusaka, melenguh tak henti.
"Dek... aakkhh... heuuhh... euumhh... sayangg..." Lenguhan Abi membuat Anna semakin lembut memainkan jarinya di tubuh Abi. Anna mencium lembut bagian dua gunungan Abi yang kekar. Ia melumat bukit kecil di sebelah kanan sambil memainkan jarinya di bukit kecil sebelah kirinya.
Kemudian jari-jari tangan Anna menjalar ke tubuh bawah Abi dan sampai pada benda berbentuk lingkaran yang berada di perut Abi. Anna memainkan lembut jemarinya disana. Yang menimbulkan lenguhan dan deru nafas yang maskulin dari Abi.
"Oh, God ! Honey... Aahh, eemmhh... aakkhh..." Lenguhan Abi membuat Anna semakin gencar mengeksplore tubuh Abi.
Anna mencium bibir Abi dan melumatnya. Anna memberikan sinyal untuk Abi bangun dari baringannya dan duduk berhadapan dengan Anna.
Anna duduk dipangkuan Abi. Ia melumat habis leher, bawah telinga Abi dan mengatakan...
"Mas Abi... kamu seksi. Aku suka. Sangat suka." Bisik lirihnya di telinga Abi.
Sukses membuat Abi berada di puncak gairahnya. Ia membalikan posisinya saat ini. Anna berada di bawahnya dan Abi di atas. Abi mencium dan melumat kembali bibir Anna yang mungil dan pandai sekali bermain tarung lidah.
"Dek, Mas masukin ya... Ini pasti sakit. Sakiitt sekali." Ujarnya sambil membelai lembut wajah Anna.
"Iya, sayangg... gak apa." Jawab Anna dengan seulas senyum.
Abi memasukkan benda pusakanya ke goa terdalam Anna yang masih bermahkota tersebut. Agak sulit. Karena masih sangat kecil. Abi harus berusaha keras. Hingga di titik, Abi mendengar lenguhan panjang dari Anna dan darah segar keluar merambah seprei.
"Aaakkhh... Mas Abiii... eeuummhh... aahh, aahh..." Lenguhan Anna membuat hati Abi perih. Tapi kalau di hentikan akan merusak mood keduanya.
__ADS_1
\*\*\*\*\*