Sajak Rindu

Sajak Rindu
CHAPTER 17: HUJAN


__ADS_3

APARTMENT ABI


Anna sedang sibuk memasak di dapur. Ia memasak sarapan untuknya. Meskipun Abi tidak di rumah, Anna tetap bangun pagi dan membuat sarapan.


Ia menelepon Abi. Sepertinya di sana sedang malam. Terdengar suara nada sambung tapi tidak di angkat-angkat. Anna coba video call Abi, tapi belum ada jawaban juga. Akhirnya Anna mengirim pesan singkat kepada Abi.


"Mas Abi, Anna hari ini ada seminar di kampus daerah Bogor. Kemungkinan pulangnya malam ya. Anna naik kereta ke Bogor. Anna coba telepon Mas Abi, tapi sepertinya lagi sibuk. Jaga kesehatan ya Mas... Love you honey 😘"


SEND


******


Naik kereta pagi-pagi itu menguji kesabaran. Padat merayap oleh orang-orang. Berdesak-desakan. Ibukota yang jika ia bisa berteriak, ia akan berteriak, cukuup! Aku lelah!.


Anna mengecek ponselnya berkali-kali, namun belum ada balasan dari sang suami. Sepertinya masih sibuk, yasudahlah.


*****


DI KAMPUS BOGOR


Anna mengenakan pakaian longdress hijau toska. Lalu jilbab panjang sampai dada yang membalut kepalanya dan memakai sepatu kets. Ia menjadi salah satu pembicara di seminar tersebut. Pembahasannya masih tentang seputar anak-anak.


Seminar berlangsung ramai, teratur, tertib dan menyenangkan. Anna mempunyai banyak sekali fans. Saat ini Anna sedang disibukkan untuk menulis buku. Setelah acara seminar selesai Pkl. 12:00, ia mendapat panggilan telepon dari sahabatnya Ayni.


"Assalamualaikum..." Sapa Ayni di sebrang sana.


"Waalaikumsalam..." Jawab Anna di balik ponselnya.


"Hei, lagi di mana? Ke butik dong... main sini..." Ajak Ayni kepada Anna.


"Boleh. Ajak Aira dan Alisha juga ya..." Ucap Anna dengan semangat.


"Okey." Ujarnya.


Anna langsung memesan kendaraan online untuk menuju stasiun kereta. Dari situ ia turun di stasiun kereta tanah abang dan transit naik kereta lagi. Perjalanannya cukup panjang. Hingga maghrib tiba ia baru sampai butik.


DI BUTIK AYNI


"Hhaaaiiii...." Sapa Ayni, Aira, dan Alisha serentak.


"Haaii... kangeeennn..." Ucap Anna sangat bersemangat.


"Eh, gue belum maghrib. Maghriban dulu kali ya..." Ujar Anna.


"Iya. Ayo, siap-siap.


Merekapun sholat berjamaah. Setelah itu mereka menelepon makanan online yang di antarkan ke butik Ayni. Setelah makan dan kenyang, Alisha angkat bicara.


" Ay, mulut gue gatel mau ngeledekin lo dari tadi. Hahaha..." Ujar Alisha yang masih mengunyah buah anggur.


"Sama gue juga. Gue nunggu ada yang mulai. Hahaha..." Sahut Aira. Ini sohibnya Ayni emang pada somplak semua.


"Ay, itu jari tjakep benerr... ada benda apaan itu??" Ujar Anna yang sedari tadi ingin bertanya namun hanya ditahannya.


"Coba tebaakk... benda apaan...??" Tanya Ayni dengan candanya...


"Pasti itu cincinan emas yang biasa di jual abang-abang ya? Yang dua rebuan. Hahaha..." Ujar Aira dengan tawa riangnya.


"Bodoamat Ra. Cincin mehong dibilang cincin yang dijual abang-abang. Emang bener-bener deh si Aira mah... Kelamaan jomblo sih luh..." Ucap Anna yang tertawa meledeknya.


"Jari gue juga kasihan ini. Sepi banget. Gak ada yang mau numpang naro apa gitu kek disini. Biar rame." Ucap Alisha.


"Naro apa? Naro duit?" Sahut Aira dengan tawa terbahak-bahaknya.


"Itu tolong yang udah pada punya suami bisa kali bungkusin satu buat akikaahh... Hahaha" Ujar Alisha dengan tawa riangnya.


"Udah ah, ngomongin laki mulu. Gak ada topik lain apa?" Ucap Ayni yang menyudahi obrolan itu.


"Ada topik lainnya. Lo sama Dr. Aldi gimana? Udah jadi nikah?" Tanya Anna kepada Ayni.


"Si Anna mah gak bisa pake basa basi. Langsung masuk content. Orang mah pake opening kali cuy..." Ujar Aira.


"Kan gue udah pake opening. Gue nanya cincin, lo pada nyamber kemana-mana. Sekarang gue masuk content dibilang gak pake opening. Heett... wadon (perempuan\=bahasa jakarta)." Ucap Anna dengan mencibik.


"Hahaha... iya, iya sorry cuy... eh, cerita, ayo, ayo, ayo..." Ujar Alisha.


"Iyaa... gue sudah melepas masa jomblo. Bye bye status jomblo. Hahaha..." 😆


"Sama Dr. Aldi?" Tanya Aira


"Iya. Sama suami akuuhh..." Ucap Ayni di manja-manja.


"Idihh... ini Ayni, nih? Macem gini?" Ujar Anna yang merasa geli mendengarnya.


"Bodo..." Sahut Ayni dengan mencibikkan bibirnya.


"Ayo dong, Ay... cerita. Penasaran nih gue."


Akhirnya Ayni bercerita dari ia naik pesawat, hampir kejatuhan tas, dibantu sama Adit, duduk di sebelah Dr. Aldi, membantu ibu-ibu melahirkan, bertemu dengan mantan Dr. Aldi yaitu Dr. Dian, akad nikah di RS yang disaksikan oleh keluarga Ayni dan Aldi, kembali ke Jakarta, Dr. Aldi baku hantam dengan Adit, dan Ayni yang terkena tinju pula.


"Ya, Allah... heboh ya hidup luh, Ay..." Ujar Alisha.


"Jadi itu bibir biru-biru karena habis ditinju sama mantan. Hahaha...?" Ucap Aira dengan tawa riangnya.


"Hahaha... mantan apaan? Mantan kenangan? Hahaha..." Ucap Ayni dengan tawa candanya.


"Ejieehh... masih aja bahas mantan. Emang punya. Wakakakak..." Ucap Anna.


"Eehh... kok ini jadi ngomongin mantan. Dulu mah dulu kali... sekarang ya sekarang. Move on dong, move on... Hahahaha..." Ujar Ayni dengan tawanya.


"Gue seneng kita masih bisa ketawa hari ini." Ujar Aira yang tetiba melow.


"Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang. Hahahaha..." Ucap Alisha.


"Emang, somplak luh ya, Cha. Hahaha..." Ucap Aira.


"Somplak juga kan waktu sama kalian. Sama yang lain mah gue alim. Hahahaha..." Ujar Alisha.


"Pengaruh buruk dong kita ya? Hahaha... Hadeeuh... gak bagus." Ucap Ayni.


"Tapi kan baiknya kita belum ditunjukin sama author. Ya gak thor? Wikikikik..." Ujar Anna yang tertawa cekikikan.

__ADS_1


"Baik mah gak usah diumbar. Orang juga bisa liat kali kita baik atau enggak. Mereka bisa nilai sendiri." Ujar Ayni.


"Mending baik yang diumbar, daripada aurat yang diumbar... kan dosa." Ucap Aira.


"Sama aja cumii. Mau baik, mau aurat. Gak boleh diumbar-umbar. Katanya kan gitu." Jelas Anna.


"Kata siapa, An?" Tanya Ayni.


"Kata gue barusan. Ahahahaha..." Pecah tawa kita.


Dering ponsel Anna menghentikan tawa mereka. Saat Anna melihat di layar ponselnya tertera nama "My Husband" segera saja Anna mengangkatnya.


"Assalamualaikum" Sapa Anna dari ponselnya.


"Waalaikumsalam" Jawab sang suami disebrang sana.


"Lagi di mana, dek?" Tanya Abi dengan suara lemas.


"Lagi di butiknya Ayni. Mas baru bangun tidur?" Tanya Anna.


"Iya. Baru selesai shubuhan. Lagi pada ngerumpi ya di butik Ayni? Hehehe..." Tanyanya. Suara Abi terdengar lelah sekali.


"Enggak juga. Lagi dengerin Ayni cerita akad nikahnya sama Dr. Aldi." Ujar Anna dengan suara setenang mungkin. Dia senang sekali Abi meneleponnya. Namun, mendengar suara Abi yang lelah, Anna tak tega. Ingin sekali ia memeluknya.


"Hah??!! Nikah sama siapa, dek??" Tanya Abi kaget. Seketika Anna menepuk keningnya. Dia lupa cerita ke Abi tentang Dr. Aldi, Ayni, dan Adit.


"Ayni nikah sama Dr. Aldi karena dijodohin sama orangtua mereka Mas... ceritanya panjang deh. Nanti kalau Mas Abi sudah pulang ke Jakarta Anna ceritain. Atau denger langsung aja versi aslinya. Hehehe..." Jawab Anna dengan candanya.


"Berantem dong mereka?" Tanya Abi sambil membuang nafas. Abi tau karakter sohibnya, jadi ia tak perlu bertanya panjang lebar, sudah tau apa yang dilakukan oleh sohibnya.


"Iya. Babak belur. Tiga-tiganya. Dr. Aldi, Ayni, dan Adit." Jawab Anna.


"Yasudahlah. Mereka sudah tau apa yang harus dilakukan dan tidak harus dilakukan." Ujar Abi dengan tegasnya.


"Iya. Sudah paham perasaan masing-masing sepertinya." Jawab Anna.


"Adek, udah makan? Kening yang bekas jahitan gimana? Udah sembuh?" Tanya Mas Abi masih dengan suara paraunya.


"Makan udah. Kening juga udah sembuh. Lukanya berangsur menghilang. Mas Abi sakit ya?" Terang Anna. Ia mendengar suara Abi yanga parau, membuatnya menjadi khawatir.


"Enggak sakit kok. Cuma tidurnya kemaleman aja." Jawab Abi melengos.


"Kalau mau boong itu yang bagus dikit. Mana ada tidur kemaleman bisa bikin suara parau. Bikin ngantuk mah, iya." Ujar Ayni dengan mencibikkan bibirnya.


"Hahaha... kamu tuh ya dek. Mood Booster nya aku." Ucap Abi masih dengan candanya.


"Alhamdulillah, kalau bikin Mas Abi senang." Jawab Anna dengan senyumnya.


"Kamu selalu buat Mas Abi senang, sayang... Mas aja yang bikin kamu sedih terus ya?" Ujarnya yang seketika membuat Anna menitikkan air mata dan sesegera mungkin menghapusnya.


"Enggaaakkk... Mas tidak pernah buat Anna sedih. Kalau buat Anna semakin mencintai Mas, iya bener. Hahaha..." Jawabnya sambil mengalihkan suara tangisnya.


"Hahaha... bisaaa aja gombalin suaminya. Jadi makin kangen ya sama kamu, dek." Ucapnya yang disertai dengan desahan lelahnya.


"Haruuss... donggg... harus selalu bikin kangen. Biar cepet pulang. Hehehe..." Ucap Anna dengan candanya.


"Aku segera pulang. Makanya kerjanya sampai larut supaya gak numpuk dan bisa cepet pulang. Hehehe..." Ujar Abi dengan tawa renyahnya.


"Iyaa... sayang... aku masih mau ngobrol banyak sama kamu. Tapi sudah harus bersih-bersih dan berangkat. Doakan ya, semoga semua pertemuannya dipermudah dan dipercepat. Semoga besok Mas bisa pulang ke Indonesia." Jelas Abi kepada Anna.


"Pasti. Anna pasti doain yang baik-baik buat Mas Abi. Jaga kesehatan ya, sayang... Makan yang teratur. Anna rinduuu... sekali sama Mas Abi." Ucap Anna yang lagi-lagi menitikkan air mata.


"Mas juga rinduuu... sekali sama kamu, dek. Sampai gak tau mau gambarin rindu itu seperti apa karena saking rindunya." Ujar Abi yang sedih sekali hanya bisa mengatakannya kepada Anna. Ia ingin memeluk Anna.


"I love you, honey." Ucap Anna.


"I love you more than anything, honey. Assalamualaikum." Ucap Abi yang menyudahi percakapan.


"Waalaikumsalam." Anna menutup ponselnya dan menghapus air matanya. Biasanya saat ia sedih dan menangis, Mas Abi yang selalu menghapus air matanya. Sekarang, mandiri dulu deh ya... Anna hapus sendiri dulu deh air matanya.


Anna masuk ke ruangan Ayni kembali dengan mata yang sembab. Kawan-kawannya sudah tau kenapa mata Anna sembab.


"Sini, ndok. Duduk sini." Ucap Ayni.


"Abi kan pergi jauh juga buat kamu, An. Buat keluarganya. Mereka lagi butuh Abi. Yang sabar ya cantiikk..." Ucap Alisha.


"La Tahzan... Siapa tau, Allah sedang mempersiapkan hadiah kebahagian untuk kalian. Sabar ya, sayanggg... uududuu..." Ucap Aira.


"Tumben si Aira bener dikit. Biasanya paling belok doi. Hahahaha..." Ucap Alisha.


"Yee... temen bener di nyinyir, temen gak bener lebih di nyinyir. Rese luh." Ujar Aira yang sambil memonyongkan bibirnya.


"Ayoo, debat lagi, gue panggilin penghulu nanti. Hahaha..." Ujar Ayni dengan tawa candanya.


"Pak penghulunya lagi sibuk, Ay. Hahaha..." Ucap Anna yang semakin membuat suasana malam menjadi riuh.


Malam semakin larut. Mereka pun berpamitan pulang satu-persatu. Karena malam itu Alisha membawa mobil, jadi Aira dan Anna pulang bersama Alisha. Ayni? Di jemput sama suaminya.


Gelapnya langit dibumbui dengan rintik hujan yang berawal sepi hingga riuh ramai. Membawa mereka larut dalam pikirannya masing-masing.


Tak lama mobil Alisha berhenti di apartment Anna. Anna mengajak Alisha untuk mampir ke apartment nya. Namun, Alisha bilang sudah malam. Ia mau langsung pulang saja.


"Thank you, Cha. Hati-hati ya di jalan. Jangan ngebut-ngebut." Ucap Anna.


"Siap! Komandan! Hahaha..." Ujarnya dengan canda.


Anna masuk ke apartment nya. Bersih-bersih dan rebahan di kasur. Tetiba air matanya titik demi titik berjatuhan hingga sama derasnya seperti hujan.


"Mas Abi, aku rindu..." Piluu sekali hati Anna. Sakit. Menahan rindu itu sakit.


Benar yang dikatan Dilan. Rindu itu berat. Kamu tidak akan kuat. Biar aku saja.


intermezzo dikit.


Ia mengambil baju yang biasa Abi pakai tidur, lalu dipeluknya hingga ia terlelap dalam heningnya malam.


*****


Ayni sedang menunggu Aldi di teras butiknya. Hujan semakin deras. Petirnya begitu menggelitik telinga. Ayni takut sekali. Tepat saat itu, Aldi datang dengan mobil BMW X7 blacknya.


Aldi keluar dari mobil dengan membawa payung untuk Ayni. Ayni tersenyum sumringah karena suaminya datang menjemput.

__ADS_1


"Ayni, maaf ya. Mas telat jemput. Tadi operasinya lumayan agak lama. Maaf ya, sayang... kamu nunggu lama banget ya?" Ujar Aldi dengan rasa bersalahnya.


"Gak apa Mas. Kan tadi Mas Aldi juga sudah mengabarkan bahwa akan terlambat jemput. Aku jadi masih bisa rapi-rapi butik." Jawab Anna menenangkan Aldi. Ia tidak ingin suaminya merasa bersalah.


"Makasih ya, sayang. Sudah mau menungguku. Kita pulang sekarang ya." Ujar Aldi yang langsung merangkul tubuh Ayni merapatkannya di dekapan tubuhnya dan memayunginya.


*Di dalam mobil.


"Mas, sudah makan malam belum?" Tanya Ayni seraya melihat Aldi yang sedang sibuk memundurkan mobilnya.


"Belum sempat, dek." Jawabnya singkat. Karena banyak mobil berlalu lalang. Aldi sibuk melihat kanan dan kirinya.


"Kok suamiku kalau lagi serius, bisa ganteng banget gitu ya?" Batin Ayni.


"Dek, kok melamun. Mas tanya, kamu sudah makan belum?" Tanya Aldi masih fokus dengan jalanan.


"Tadi siang udah. Malam belom. Mas mau makan di rumah atau di luar?" Tanyanya.


"Di luar aja gimana? Aku pengen itu deh, apa namanya... ayam sambal matah. Kok kayaknya enak ya... Hehehe..." Jawab Aldi dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya.


"Okey. Let's gooo!!" Ucap Ayni yang membuat Aldi tertawa riang.


Ayni dan Aldi makan malam bersama. Di tempat makan pinggir jalan. Gak ada tuh yang namanya pilih-pilih tempat makan. Mau di tempat mewah atau sederhana, buat Aldi dan Ayni gak masalah. Buat Aldi dan Ayni makan dipinggir jalan itu nikmat banget. Bisa nikmatin alam yang lebih alami.


Setelah selesai makan, mereka pulang. Rumah Aldi termasuk dalam kawasan elite. Setiap mau masuk ke area rumahnya, Aldi harus menunjukkan kartu kepada Pak Satpam. Kalau orang luar, harus meninggalkan kartu identitas.


Cuma, minusnya, terlalu individualis. Kadang Ayni juga bingung kok orang-orang yang tinggal disini betah-betah banget gak keluar rumah. Kalau Ayni justru malah suka ngobrol sama tetangga.


Kalau ada apa-apa kan tetangga duluan yang bantuin. Jadi, menjaga hubungan baik dengan keluarga boleh dong... tapi kalau disini tetangganya malah gak mau dikenal. Hahaha... gak paham.


Rumah Aldi itu modern minimalis. Yang letak garasinya berada di bawah rumah. Entah, Aldi lebih senang ukuran rumah yang besar dan luas.


*****


"Mas, mau mandi sekarang atau nanti? Biar aku siapin air hangatnya." Ujar Ayni yang sedang menyiapkan perlengkapan mandi Aldi.


"Mandinya sama kamuuu..." Ucap Aldi yang memeluk Ayni dari belakang. Dan menciumi tengkuk Ayni."


"Mas, geli. Mas mandi duluan kalau gitu. Aku siapin air hangatnya." Ucap Ayni yang hendak beranjak ke kamar mandi. Tapi, Aldi membalikkan badan Ayni dan memburu bibir Ayni. Mengecupnya penuh hasrat.


Ayni tau kalau dia memang sudah hampir seminggu ini tidak melakukan hubungan suami-istri dengan Aldi. Karena jadwal Aldi yang begitu padat. Ayni melepas bibir Aldi dan menciumnya sekilas.


"Mas" Panggil Ayni ke Aldi yang masih sibuk menciumi leher Ayni.


"Mas Aldiii... sayang, sebentar. Maaass... sebentar." Akhirnya Ayni mampu menghentikannya dengan mengangkat kedua wajah Aldi dan bicara setenang mungkin.


"Mass Aldii... sayangku... boleh boleh banget. Tapi mandi dulu. Kamu kan udah seminggu ini mandinya di RS. Emang gak gatel-gatel apa badannya? Mandi dulu ya..." Rayu Ayni ke Aldi.


"Tapiii dek, aku mau ituu..." Aldi menunjuk dua benda sintal di hadapannya dan menunjuk kasur.


"Boleh, sayangg... boleh banget. Tapi, mandi. Ayo, cepet. Ntar kalau kemaleman aku malah ngantuk, malah gak jadi. Hayo, pilih mana. Hehehe..." Ledek Ayni ke Aldi.


Apakah Ayni tidak trauma disentuh laki-laki? Jawabannya tidak. Asalkan itu Aldi. Karena cuma Aldi yang mampu menenangkannya.


"Beneran ya dek. Jangan tidur dulu. Aku cepet-cepet mandinya." Ujar Aldi dengan memperingatkan Ayni dan berlari ke dalam kamar mandi.


Saat Aldi mandi, Ayni turun dari kamar. Ia mau memberi uanh belanja ke Mbok Yem. Yang biasa mengatur keuangan rumah Aldi.


"Mbok Yem." Panggil Ayni.


"Iya, Bu." Jawab Mbok Yem.


"Mbok, ini uang belanja bulanan buat keperluan rumah." Ujar Ayni sembari memberikan uang yang di masukkan ke dalam amplop.


"Makasih, ya Bu. Sekarang sudah enak kami, Bu Ayni." Ucap


"Enak? maksudnya gimana Mbok Yem?" Tanya Ayni yang masih bingung.


"Iya, Bu. Dulu waktu Pak Aldi belum menikah, Pak Aldi menyerahkan semuanya kepada saya jika menyangkut urusan rumah. Sekarang sudah ada Bu Ayni, jadi saya bisa berbagi tugas ya, Bu. Hehehe..." Jelas Bi Yem.


"Hhoohh... kirain apa. Alhamdulillah, kalau adanya saya disini bisa membantu Mbok Yem." Ujar Ayni.


"Dek, Sayang... Ayni..." Panggil Aldi ke Ayni yang segera menyusulnya ke bawah. Benar saja, Ayni pasti sedang ngobrol dengan Mbok Yem.


"Iya Maasss... Ayni di dapur." Jawabnya Ayni yang sedang menyiapkan susu untuk Aldi. Sambil masih ngobrol dengan Mbok Yem.


"Sayaanngg... aku panggil juga." Ujarnya yang menghampiri Ayni seraya memeluknya dari belakang.


"Ayni sudah jawab Mas. Aku bilang, aku di dapur. Lagi bikin susu buat Mas Aldi. Kemarin Mas Aldi kan disuruh banyak minum susu sama Dr. Maira. Tadi aku tambahin madu. Soalnya Mas kan gak suka susu tanpa rasa. Diminum dulu, Mas." Jelas Ayni sambil menyodorkan segelas susu hangat ke Aldi.


"Udah abis." Jawabnya dengan memberikan gelas susu kepada Ayni.


"Dek, ayook..." Ujar Aldi, yang sejak tadi sudah menahan hasratnya.


"Iya, sayang... ayo, ayo, ke atas. Kita ke atas, ya." Ucap Ayni yang mendorong punggung Aldi.


Di kamar, tutup pintu, kunci, ganti lampu yang remang-remang.


"Mas, tapi Ayni..." Belum sempat Ayni menyelesaikan kalimatnya. Aldi sudah menangkupkan kedua lengan kekarnya di pinggul Ayni.


"Iya, Mas ngerti. Mas coba pelan-pelan ya, sayangg... kalau kamu terbayang dengan trauma itu, dorong Mas. Supaya Mas tau. Okey." Ujar Aldi yang mencium kening Ayni.


Malam itu, Ayni dan Aldi benar-benar saling menjamaah tubuh mereka satu sama lain.


*****


*Adegannya gak usah diceritain. Bayangin sendiri-sendiri aja.


******


malam yang dingin


tolong bantu aku


menitipkan suara rindu ini


kepadanya yang sedang sibuk


menata masa depan.


****

__ADS_1


__ADS_2