
Setyo dengan perasaan marah datang menemui ibu nya, Nyonya Nur yang sedang duduk santai di depan cermin, sambil tersenyum sendiri, mengingat kejadian tadi, di mana dia sukses berakting di depan Salsa.
Melihat kedatangan Setyo yang marah, wajah nyonya Nur berubah kesal.
"Ada apa?" tanya nyonya Nur pada Setyo.
"Harusnya ibu tak perlu mengarang kalau aku sakit!!" sentak Setyo.
"Terpaksa dengan begitu kamu dan Salsa akan tidur terpisah!" balas Nyonya Nur.
"Jadi ibu tidak percaya sama aku!" omel Setyo lagi.
"Bukan begitu, ibu hanya takut, ibu tak mau punya cucu dari rahim gadis pengamen itu!" sarkas Nyonya Nur, membuat Setyo terdiam, tanpa berkata-kata apa-apa lagi Setyo keluar dari kamar itu, lalu masuk ke dalam kamar nya lagi.
"Besok saja kamu pindah kamarnya, biar pelayan membersihkan dahulu kamar kosong di ujung sana" ucap Setyo.
"Baiklah" jawab Salsa pelan, Setyo menghampiri Salsa, duduk di sampingnya memeluk Salsa erat, mencium ceruk leher Salsa yang jenjang.
"Maafkan aku" lirik Setyo.
"Untuk apa?" tanya Salsa.
"Karena tak memberitahukan penyakit ku pada mu" jawab Setyo.
Salsa terdiam "jadi benar Setyo sakit jantung, Salsa tadi masih berharap bahwa itu hanya akal-akalan dari Nyonya Nur untuk memisahkan mereka". bathin Salsa
"Lupakan, aku juga tak masalah, semoga kamu lekas sembuh" balas Salsa.
Setyo mengeratkan kembali pelukannya "maafkan aku yang telah berbohong padamu" bathin Setyo, malam itu Salsa tidur dalam pelukan Setyo sampai pagi, Setyo tahu mamah nya menelepon dirinya beberapa kali, malam itu. Tapi Setyo membiarkannya bahkan mematikan teleponnya, begitu tahu siapa yang meneleponnya, Setyo tahu ibunya pasti menyuruhnya keluar dari kamar.
Setyo hanya sedang merasa ingin tidur sambil memeluk Salsa malam ini, tanpa ada gangguan dari siapa pun, karena mulai besok dia tak akan bisa melakukannya.
***
"Sialan!!" umpat nyonya nur saat sambungan teleponnya di matikan oleh Setyo.
"Apa sih, maunya anak itu!" umpat nyonya nur lagi.
Nyonya Nur, naik ke atas tempat tidurnya dengan kesal dan marah, nyonya nur membaringkan tubuhnya, lalu memejamkan matanya, untuk mengurangi rasa kesalnya.
"Biarkan saja malam ini mereka tidur berdua, Setyo pasti bisa menjaga dirinya, dari godaan gadis pengamen itu!" pikir Nyonya Nur, untuk menenangkan hatinya.
***
Salsa pagi-pagi sekali sudah bangun, Salsa bangun dengan perlahan supaya tidak menganggu tidur nyenyak nya Setyo.
Setelah selesai mandi, Salsa keluar dari kamarnya, bersiap untuk pulang ke rumahnya.
Salsa belum menemukan orang untuk mengurus adik-adik nya, hingga terpaksa ia harus bolak-balik.
__ADS_1
"Cepat, hari ini aku harus pagi-pagi pergi ke kampus!" sinis Chika ketika membuka pintu untuk Salsa, Salsa menarik nafas panjang, Chika tak pernah berubah.
Salsa dengan cepat menyiapkan sarapan untuk adiknya pagi itu.
"Mana sarapan ku, kak?" ucap Chika.
"Ini" jawab Salsa sambil menyodorkan sepiring nasi goreng kepada Chika.
Chika tanpa banyak bicara langsung melahap nasi goreng itu,hingga akhirnya tidak bersisa.
"Aku berangkat ka" pamit Chika mencium tangan Salsa.
"Hati-hati!" pesan Salsa.
"Iya" jawab Chika ketus.
Setelah kepergian Chika, Salsa membangunkan adik-adiknya yang kecil dan juga Restu.
"Restu bangun, sekolah!" Salsa mencoba membangunkan Restu dengan menggoyangkan tubuh Restu beberapa kali.
Setelah Restu bangun, Salsa kembali ke dapur, selama adik dan ayahnya sarapan Salsa merapihkan kamar adik-adiknya.
"Aku akan mencari seorang pembantu untuk kalian" ucap Salsa pada ayah nya.
"Terserah kamu" jawab Baron.
Salsa keluar dari rumah menemui tetangga sebelah ujung rumahnya, yang katanya sedang mencari pekerjaan sebagai pembantu.
Setelah selesai menemui bi Marni, Salsa pergi ke kantor Danuarta, hari ini ada pelajaran untuk nya.
Danuarta yang beberapa hari ini tidak bertemu dengan Salsa, menatap Salsa dengan tatapan penuh rindu, membuat Salsa sedikit risi karenanya.
"Maafkan aku" ucap Danuarta pada Salsa setelah sadar kalau dirinya telah membuat Salsa serba salah.
"Lupakan, apa gurunya sudah datang?" tanya Salsa tak ingin melanjutkan masalah nya dengan Danuarta.
"Dia di sana" tunjuk Danuarta.
"Halo nyonya Salsa yang cantik" sapa Bu Mona saat di melihat Salsa.
"Maaf saya sedikit terlambat" ucap Salsa.
"Tak masalah, masih bisa di maafkan" balas Bu Mona dengan senyum yang lebar.
"Hari ini kita belajar yang sedikit rumit, aku harap kamu bisa mengikuti nya" ucap pelan Bu Mona.
"Aku akan berusaha keras" respon Salsa.
Apa yang di katakan Bu Mona memang benar, laporan keuangan membuat otak Salsa berputar-putar.
__ADS_1
***
Setyo dengan perlahan-lahan membuka matanya yang terpejam, lalu segera turun dari tempat tidurnya untuk pergi ke kamar mandi.
Setelah merasa rapih, Setyo keluar kamar nya menuju ruang makan untuk sarapan.
"Pagi Setyo" sapa Rihana sambil menggandeng tangan Setyo manja, saat mereka berpapasan.
"Pagi" balas Setyo, sambil mencoba melepaskan tangannya dari tangan Rihana.
"Tenang saja, istri kamu sudah pergi dari tadi pagi, mungkin menemui pria lain di luar sana" bisik Rihana.
Setyo terdiam, Setyo ingat yang dikatakan semalam oleh Salsa, kalau besok pagi dia masih harus kembali ke rumahnya untuk menyiapkan sarapan untuk adik-adiknya dan menemui seorang yang akan bekerja di rumahnya.
Setyo, tidak menggubris apa yang di katakan oleh Rihana, karena Salsa telah pamit padanya semalam.
Setyo sarapan dengan tenang, cuti menikah untuk Salsa dan dirinya tinggal dua hari lagi.
Setyo berniat akan mengajak Salsa menonton di bioskop, Setyo memesan dua tiket untuknya dan Salsa, tanpa memberitahukan Salsa terlebih dahulu.
Setyo melirik jam di tangannya, hari sudah hampir sore, tapi Salsa belum juga kembali, Setyo yang gelisah keluar dari kamarnya, untuk menunggu Salsa di ruang depan.
Setelah merasa cukup lama menunggu Salsa, tapi Salsa tak kunjung kembali, Setyo mengambil handphonenya, berniat menelepon Salsa.
"****! aku bahkan tak punya nomer handphone istriku sendiri!" umpat Setyo pada dirinya sendiri.
Rihana yang melihat Setyo gelisah menghampiri Setyo, duduk di samping Setyo tanpa memberi jarak.
"Gelisah sekali, ada apa?" tanya Rihana dengan suara lembutnya.
"Bukan urusan kamu!" sentak Setyo kesal.
"Aku tahu kamu pasti sedang menunggu istri kamu itu, iya kan!?" tanya Rihana dengan nada tak suka.
Setyo menatap Rihana, lalu mengangguk pelan, ia melirik ke arah jam tangannya sekali lagi "jam 3 sore" gumam Setyo, sedangkan film akan di mulai satu jam lagi.
"Nanti juga dia pulang, tak mungkin dia meninggalkan harta nya begitu saja" ucap sinis Rihana.
Setyo menatap tajam ke arah Rihana, dia merasa tak suka mendengar apa yang telah di katakan oleh Rihana.
"Aku hanya terlanjur memesan dua tiket nonton, sayang kalau sampai tidak di pake" jawab Setyo.
"Bagaimana kalau kita saja yang nonton" usul Rihana, Setyo mendelikan matanya pada Rihana.
"Aku akan menunggu sebentar lagi" ucap Setyo.
Tiba-tiba terdengar suara mobil masuk ke dalam perkarangan rumah, Setyo membuka tirai jendela, ingin melihat siapa yang datang.
Setyo melihat Salsa turun dari mobil Danuarta, mereka terlihat bahagia sekali, senyum mereka berdua terlihat jelas di mata Setyo, Setyo menarik tirai jendela agak kuat.
__ADS_1
"Baiklah kita berdua saja, yang pergi" ucap Setyo tiba-tiba, membuat Rihana tersenyum lalu menghampiri Setyo yang masih berdiri dekat jendela.
"Mereka tampak akrab sekali" bisik Rihana.