Salsa

Salsa
bab 46. kesabaran Salsa


__ADS_3

"Apa itu salah?" tanya Salsa dengan tenang.


"Tentu saja!" jawab Chika.


"Di mana letak kesalahan nya?" tanya Salsa.


Chika menatap tajam ke arah Salsa yang berdiri tenang di depannya.


Chika tidak menangkap raut wajah kesal di wajah Salsa, sebaliknya Salsa tampak penuh perhatian padanya, dan itu membuat Chika makin membencinya.


Chika mendengus kesal, seharusnya Salsa terpancing emosinya setelah di tantang sedemikian rupa. Tapi ternyata usaha itu tidak berhasil, sama sekali.


Salsa menunggu, dengan sabar apa yang akan di lakukan Chika selanjutnya.


"Aku pasti akan menghancurkan dirimu!" ucap Chika pelan namun jelas dan dengan wajah yang menyeramkan, Salsa melihat hal itu tak menyangka Chika begitu membencinya, dari kedua bola mata milik Chika, Salsa melihat hal tersebut, hati Salsa sedikit merinding namun melihat tatapan penuh kebencian itu, tapi Salsa berusaha untuk tidak memperdulikannya, Salsa menyentuh pundak Chika, lalu menarik Chika masuk ke dalam pelukannya.


Salsa memeluk Chika erat, sejak dulu Salsa tahu Chika sangat rindu akan sebuah pelukan, Salsa menyesal tidak melakukannya sejak dulu, mungkin karena dulu Salsa pun sebenarnya membutuhkan dukungan seseorang.


Chika mendorong kuat tubuh Salsa, agar melepaskan pelukan dirinya, Salsa dengan terpaksa melepaskan pelukan adik nya itu, mereka saling menatap, entah di sadari atau tidak tanpa mereka sadari ada setetes air mata turun membasahi pipi mereka berdua, Chika yang menyadari hal itu, segera pergi dari tempat itu, untuk menghindari luluh hatinya melihat air mata Salsa dan juga Chika tidak mau memperlihatkan air matanya pada Salsa.


Salsa menatap kepergian Chika dengan sedih, Salsa harus bisa merubah pola pikir Chika yang keliru, sebelum Chika melakukan hal di luar nalar.


***


Keesokan harinya, Salsa pagi itu menuruni anak tangga rumahnya dengan hati-hati, kemudian dia pergi ke dapur dan ruang makan di sana ternyata sudah banyak makanan untuk sarapan yang tersaji di meja makan, Salsa tersenyum, lalu segera berlalu dari tempat itu, Salsa menuju kamar adik-adiknya yang kecil untuk membangunkan mereka, saat kepergian nya ke luar kota, entah siapa yang membangunkan adik-adiknya itu, dengan senyum lebar Salsa membuka pintu kamar adik bungsunya, namun Salsa terkejut saat melihat Chika sudah ada di dalam sana, Salsa terdiam sebentar namun kemudian tersenyum lebar, Salsa mendekati adik-adiknya itu.


"Kita sarapan bersama!" ucap Salsa, adik-adiknya terdiam mendengar perkataannya itu.


Salsa lebih mendekat ke arah kedua adik kecilnya, bermaksud ingin memeluk mereka untuk melepaskan rasa rindu nya, tapi Salsa terkejut melihat reaksi mereka yang di luar dugaannya, kedua adik kecilnya itu, menolak bahkan menghindar dari pelukan Salsa mereka turun dari tempat tidur mereka dengan cepat, lalu segera berlari keluar dari kamar itu.


"Sebentar lagi kamu akan! sendirian! Jika kamu tetap menerima wanita itu sebagai ibu kita!" ucap Chika sambil tersenyum tipis, kemudian berjalan keluar juga dari kamar itu menyusul adik-adiknya dan meninggalkan Salsa.

__ADS_1


Salsa termenung, apa yang di katakan Chika hingga kedua adik kecilnya yang polos bersikap seperti tadi padanya, Salsa pun segera menyusul mereka.


Salsa melihat kedua adiknya.dan Chika duduk di meja makan, sambil tersenyum satu sama lain, tapi kemudian berhenti saat melihat Salsa juga ada di sana.


Salsa perlahan mendekati meja makan, lalu duduk di mana dia biasa duduk di sana, sambil tersenyum lebar Salsa melihat ke arah adiknya, Salsa teringat Restu yang masih dalam penjara, Salsa merasa menyesal karena ia belum sama sekali melihat keadaan Restu selama dia dalam penjara sampai sekarang, walau awalnya ingin memberikan sedikit pelajaran buat Restu.


Sebenarnya Salsa tidak sepenuhnya melepas tanggung jawabnya, selama ini dia selalu mendapatkan laporan dari Mona, tentang keadaan Restu, karena Salsa mengijinkan Mona untuk mengurus masalah Restu, agar Mona lebih dekat dengan Restu, Salsa tahu Mona melakukan itu, ingin mendapatkan hati Restu, agar suatu saat Restu akan menerima Mona sebagai ibu, karena Mona memang ibu kandung Restu, dan hubungan darah bagaimanapun tidak bisa di rumah.


Salsa melihat sarapan adik-adiknya yang ada dipiring mereka telah habis, Salsa tersenyum, adik-adiknya yang kecil itu sekarang sudah pandai.


"Kalian sekolah hari ini, aku akan mengantar!" ucap Salsa.


"Tidak usah!" jawab Karin jutek.


Salsa sedikit terkejut mendengar jawaban Karin adik paling kecilnya itu, biasanya dia yang paling senang jika dirinya mengantar dia ke sekolah.


"Kenapa?" tanya Salsa penasaran.


"Hari ini aku libur!" jawab Salsa.


"Jangan suka memaksa kehendak, jika tak ingin di benci!" sela Chika, tanpa memandang ke arah Salsa.


"Apa maksud kamu?" tanya Salsa tak mengerti.


Chika mendengus kesal, Salsa selalu saja bersikap sok polos.


"Pikir saja sendiri!" ucap Chika sambil berdiri dari duduknya karena sarapan nya telah selesai.


"Ayo kita pergi sekarang!" lanjut Chika mengajak kedua adiknya, untuk pergi dari meja makan dan bersiap akan pergi ke sekolah.


Salsa memandang kepergian adik-adiknya yang kecil dengan wajah yang sedih, apa mereka sekarang juga membenci dirinya, seperti Chika? Salsa berdiri dari duduknya, lalu menyusul kedua adik kecilnya.

__ADS_1


"Biar aku saja yang mengantar" ucap Salsa sekali lagi.


Melihat adik-adik kecilnya hendak berangkat.


"Kan sudah aku bilang, jangan pernah memaksa kehendak kamu!" ucap Chika jutek.


Salsa tidak menghiraukan Chika, Salsa menatap kedua adik nya, mereka tertunduk melihat wajah Salsa yang sedih, tanpa menoleh kembali ke arah Salsa,.


Salsa tertunduk dan terduduk di sofa, ia menghela nafas panjang, Salsa merasa harus berbuat sesuatu, untuk membuat kedua adik kecilnya, kembali menyanyangi dirinya seperti semula. Salsa bangun dari duduknya, mengambil handphonenya lalu menelepon seseorang, setelah itu Salsa bergegas pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.


Salsa dengan sedikit ragu menekan bel pintu, setelah beberapa kali menekan bel, dari dalam rumah seseorang membuka pintu rumah yang Salsa tuju.


Salsa tersenyum lebar saat melihat siapa yang menyambut kedatangannya, begitu pula dengan Mona, Mona begitu gembira melihat Salsa mau main ke rumah nya, senyum pun berkembang indah dari bibir Mona, bahkan Mona memeluk Salsa dengan erat.


"Aku senang kamu main ke sini, ayo masuk!" ajak Mona, Salsa dengan sedikit ragu


masuk ke dalam rumah Mona, Mona seperti mengerti apa yang di khawatir kan Salsa tersenyum.


"Suamiku sedang tak ada di rumah, dia ada tugas di luar kota" jelas Mona, Salsa menatap ke arah Mona, lalu tersenyum mendengar apa yang di ucapkan Mona, Salsa dengan langkah pasti masuk ke dalam rumah Mona atau ibu kandungnya.


Salsa sangat mengagumi rumah tempat tinggal ibunya sekarang, semua tertata rapih dan indah.


Salsa merasa senang karena selama ini ibu nya ternyata hidup enak, jadi ibu pasti tidak terlalu merasa menyesal meninggalkan anak-anaknya untuk hidup yang lebih baik.


"Aku senang ternyata hidup ibu, bisa menjadi lebih baik di bandingkan saat bersama ayah dulu" ucap Salsa, Mona yang mendengar itu tersenyum kecil, tapi kemudian bersedih.


"Tapi ibu selama ini tetap saja tidak tenang karena telah meninggal kan kalian" ucap Mona sedih.


"Sepanjang hidup ibu, hanya kalian yang selalu ada di dalam pikiran ibu, ibu merasa telah amat bersalah meninggalkan kalian" lanjut Mona. Salsa memeluk erat ibu nya, ia sangat mengerti bagaimana perasaan ibunya.


"Gubrak!!" suara barang jatuh dengan keras terdengar membuat Salsa dan Mona melepaskan pelukan mereka.

__ADS_1


__ADS_2