Salsa

Salsa
bab 25. menyatakan cinta


__ADS_3

"Deg!" Jantung Setyo terasa berhenti sesaat, tapi kemudian Setyo tersenyum pada ibunya


"Baguslah, jadi aku tidak terlalu merasa bersalah, karena Salsa bisa bertemu dengan pria yang lebih baik dari ku" cerocos Setyo.


Setyo meneruskan langkahnya, yang kini terasa berat!.


Setyo mengambil kunci mobilnya, dengan perasaan tak karuan Setyo mengendarai mobilnya, menuju rumah Salsa.


Setyo berencana menemui Salsa, untuk membicarakan tentang masalah kemarin yang belum usai di antara mereka.


Begitu tiba, Setyo langsung masuk ke dalam rumah Salsa, di sana ada Juna, yang sedang duduk santai di sofa, sendirian.


"Bugh!" Juna meninju perut Setyo, kuat secara tiba-tiba. Membuat Setyo mengeluh kesakitan.


"Ada apa ini!?" tanya Setyo


"Itu, buat kebohongan kamu!" ucap Juna tajam. Setyo terdiam, karena mengerti dengan maksud dari ucapan Juna.


"Maaf!!" lirih Setyo.


"Dengar! Jika kamu tak menginginkan Salsa, lepaskan dia!" lanjut Juna.


"Bukan urusan kamu!" sarkas Setyo.


Salsa yang mendengar pertengkaran Setyo dan Juna, menarik tangan Setyo agar mengikuti dirinya. Salsa akan membawa Setyo ke dalam kamarnya, karena mereka memang perlu bicara berdua saja, dan menurut salsa sekarang adalah waktu yang tepat bagi mereka.


"Tunggu!" cegah Juna.


Salsa dan Setyo menoleh ke arah Juna.


"Kamu yakin, akan bicara dengannya lagi?" tanya Juna pada Salsa.


"Kami, harus menyelesaikan masalah di antara kami sampai tuntas, hari ini juga!" jelas Salsa.


"Baiklah! Kalau begitu aku permisi!" ucap Juna dengan wajah kecewa, lalu pergi meninggalkan rumah Salsa.


***


"Bagaimana keputusan kamu?" tanya Salsa langsung, begitu mereka ada di dalam kamar


Setyo terdiam, dia memandang wajah Salsa, wajah yang selalu dia rindukan beberapa malam ini, bahkan Setyo hampir tak bisa tidur setiap malam, karena wajah yang sekarang sedang ada di depannya.


"Aku tak mau berpisah, denganmu!" ucap Setyo perlahan.


"Lalu bagaimana dengan ibumu!?" tanya Salsa.

__ADS_1


Setyo terdiam, dia tak bisa memilih antara Salsa atau ibunya, Setyo ingin memiliki keduanya, tapi rasanya itu tidak mungkin, Setyo merasa putus asa sendiri.


"Ahh!" teriaknya melepaskan rasa di dadanya.


"Bagaimana, kalau kita berpisah sementara, menunggu ibu sembuh!" usul Setyo.


"Sampai kapan?" tanya Salsa, Setyo menggeleng lemah, dia juga tidak tahu berapa lama ibunya akan sembuh.


"Kalau begitu, kita berpisah saja?"


"Tidak!" tolak Setyo cepat.


"Kenapa?" tanya Salsa pelan.


"Karena aku cinta sama kamu!" ucap Setyo menatap lembut ke arah Salsa, Salsa yang mendengar ucapan Setyo menatap balik Setyo, mencari kebenaran di kedua mata Setyo, yang sayu itu, Salsa melihat mata tak ada kebohongan di sana, Setyo jujur padanya.


"Kamu bohong!'" seru Salsa.


Setyo mendekati Salsa duduk di samping salsa, menyentuh kedua telapak tangan Salsa, lalu menciumnya.


"Aku telah jatuh cinta padamu!" ulang Setyo.


"Sejak kapan?" tanya Salsa tak percaya.


Salsa mengangkat wajahnya yang tertunduk, lalu menatap Setyo sekali lagi, kemudian memeluk Setyo erat.


"Benarkah?" tanya Salsa sekali lagi, Salsa masih sedikit ragu dengan pengakuan Setyo.


Tapi kemudian "Aku mencintaimu, juga" bisik Salsa.


Setyo, terdiam mendengar pengakuan Salsa itu, Setyo menarik Salsa ke dalam pelukannya, Setyo merasa hatinya melayang entah kemana, mendengar kata cinta yang dibisikkan oleh Salsa, di telinganya.


Setyo melepaskan pelukan mereka, lalu menatap wajah Salsa, kemudian menatap bibir tipis Salsa yang menggoda, yang sangat dia rindukan, mereka akhirnya berciuman, melepaskan semua perasaan yang mereka simpan selama ini.


Hingga akhirnya, siang itu terjadi lah pertarungan suami istri untuk pertama kalinya antara Salsa dan Setyo di atas tempat tidur.


Setyo memeluk tubuh Salsa yang polos dengan erat, hingga menyentuh kulitnya, yang juga polos, Setyo merasakan kehangatan, yang luar biasa disana, Setyo ingin rasanya kemesraan ini tidak akan pernah berakhir, seumur hidupnya, baru kali ini Setyo merasakan kebahagiaan yang sangat luar biasa, Setyo berjanji tak akan pernah melepaskan tubuh dalam dekapannya saat ini, untuk selamanya, mulai sekarang.


"Kamu sudah bangun?" tanya Salsa, merasa kan pergerakan Setyo di sampingnya.


"Sudah dari tadi!" jawab Setyo sambil mengecup kening Salsa lembut.


"Kamu baik-baik saja, kan?" lanjut Salsa.


"Tidak, aku tidak baik-baik saja, dada ku sesak!" jawab Setyo, membuat Salsa langsung terduduk, lalu menatap cemas ke arah Setyo.

__ADS_1


"Aku bohong, sayang" lanjut Setyo, tak tega melihat ekspresi ketakutan di wajah Salsa.


"Yakin?"


"Tentu saja, malah sekarang aku ingin melakukan itu sekali lagi!" ucap Setyo langsung menyerang Salsa, dengan cepat.


Setyo dan Salsa, siang itu kembali bersama melakukan penyatuan, hingga mereka lemas tak berdaya, terbaring di atas tempat tidur.


Wajah Salsa dan Setyo terlihat berseri setelah masalah nya dengan mereka selesai, siang itu.


Setyo mengecup bibir Salsa sekilas sebelum Setyo kembali ke rumahnya dengan perasaan gembira, semua masalah di kepala Setyo sekejap hilang, saat itu, Setyo pun langsung masuk ke dalam kamarnya, begitu tiba di rumah.


Rihana yang melihat kedatangan Setyo melihat dengan sinis "jika dia, setiap saat selalu berada di dalam kamarnya, bagaimana aku menjebaknya" gumam Rihana.


Rihana berjalan mendekati kamar Setyo, berdiri beberapa saat lamanya di depan kamar Setyo, lalu kemudian tersenyum licik, Rihana turun ke bawah untuk mencari salah seorang pelayan di sana.


***


Setyo turun, saat jam makan malam tiba. Wajahnya yang bahagia , terlihat oleh siapapun yang memandang ke arah Setyo saat ini, nyonya nur dan gerombolan nya saling tatap satu sama lain, baru kemarin mereka bergembira, jangan sampai sekarang menjadi sedih lagi, dengan rasa penasaran yang ada, nyonya nur bertanya kepada putranya.


"Ada berita bagus?" tanya Nyonya nur dengan hati cemas.


Setyo mengangguk, lalu menatap ibunya "iya Bu!" jawab Setyo.


"Berita apa?" tanya nyonya nur yang makin penasaran.


"Bukan apa-apa, tidak berhubungan dengan ibu!" jawab Setyo, nyonya nur menarik nafas lega mendengar hal itu.


"Maaf ibu, aku terpaksa berbohong" ucap Setyo dalam hatinya.


Rihana yang melihat kegembiraan di wajah Setyo, tersenyum sinis *sebentar lagi, aku yakin senyum itu akan lenyap kembali di wajahmu!* bathin Rihana.


Rihana melirik ke arah pelayan, kepercayaan nya, memberi tanda, pelayan itu mengangguk pelan.


Setyo yang sudah selesai dengan makanannya, segera bangun dari duduknya "aduh!" keluh Setyo merasa kepalanya pusing dan tubuhnya lemas, Rihana yang tahu, apa yang sedang terjadi dengan Setyo segera bangun dari duduknya, dan menawarkan diri untuk mengantar Setyo ke kamarnya.


Setyo yang lemah, terpaksa menyetujui keinginan Rihana untuk mengantar dirinya ke kamar.


Sepanjang jalan senyum Rihana mengembang dengan lebar, dengan perlahan Rihana, mengantar Setyo ke kamarnya, lalu membaringkan tubuh Setyo yang lemah di atas tempat tidur.


Rihana menatap ke arah Setyo yang tertidur, lalu menatap ke arah seluruh bagian kamar Setyo, yang dulu pernah Rihana masuki dengan bebas, masih kamar yang sama, namun dalamnya sungguh berbeda.


Rihana duduk di atas tempat tidur Setyo, lalu mendekati Setyo, membuka baju Setyo satu persatu hingga Setyo terlihat dalam keadaan polos, senyum Rihana makin melebar melihat tubuh Setyo yang polos, Rihana mulai membuka pakaian nya, sendiri, hingga sama polos nya dengan Setyo.


Kemudian Rihana berbaring, dan melakukan sesuatu di dada Setyo, setelah itu, Rihana pun tertidur di samping Setyo sambil memeluk Setyo, sepanjang malam.

__ADS_1


__ADS_2