Salsa

Salsa
bab 22. Sandiwara kedua


__ADS_3

"Ibu!!" pekik Setyo.


Setyo begitu terkejut melihat ibu nya, meringis kesakitan. Setyo segera menghampiri ibunya, mengusap tangan ibunya, agar ibu nya merasa tenang.


"Baiklah, aku akan tetap tinggal bersama ibu" ucap Setyo akhirnya, sambil menahan nafas, karena ini adalah keputusan yang amat berat baginya, mendengar itu, nyonya nur menatap Setyo sekilas lalu berusaha mengatur nafas nya pelan-pelan, berangsur-angsur nafasnya pun kembali teratur dan normal, Setyo langsung memeluk ibunya.


Setelah melihat ibu nya tertidur, Setyo keluar dari kamar, lalu pergi dari rumah itu, Rihana yang melihat kepergian Setyo dengan wajah bingung, tersenyum lalu segera masuk ke dalam kamar nyonya Nur.


Rihana menghampiri dan duduk di sisi tempat tidur nyonya nur "


kasian Setyo telah di permainkan oleh ibu nya sendiri bathin Rihana yang melihat nyonya nur tertidur.


"Apa dia sudah, pergi?" tanya nyonya nur, membuat Rihana terkejut, karena Rihana menyangka kalau nyonya nur tadi benar-benar tertidur pulas.


"Iya, dia sudah pergi, kasian Setyo terlihat bingung" ucap Rihana sedikit gagap, karena terkejut.


"aku, sudah berhasil membuatnya untuk tetap tinggal di rumah ini!" seru nyonya nur dengan gembira.


"Benarkah!?" tanya Rihana dengan tak percaya.


"Tentu saja!" mereka berdua tertawa gembira, karena mereka berhasil menahan Setyo di rumah ini.


Setyo kembali ke kantor, untuk menjemput Salsa, Salsa yang sudah menunggu kedatangan dengan gelisah,di ruangannya, Salsa mendengar tentang nyonya nur yang jatuh pingsan.


"Bagaimana keadaan ibumu?" tanya Salsa dengan penuh rasa cemas, melihat wajah Setyo yang lesu.


"Dia baik-baik, saja!" jawab Setyo, Salsa menarik nafas lega mendengar berita itu.


"Syukurlah!" ucap Salsa.


"Apa kamu, mengkhawatirkan ibu ku?" lirih Setyo.


Salsa menatap lembut, ke arah Setyo "tentu saja, dia ibu mu bukan?" jawab Salsa, Setyo menarik Salsa masuk ke dalam pelukannya.


"Maafkan, aku tapi aku tak bisa tinggal bersama kamu?" ucap Setyo.


"Kenapa? apa ibu mu melarang?" tanya Salsa pelan.

__ADS_1


"Begitulah, dia jatuh pingsan, saat aku bilang aku akan tinggal bersamamu!" jelas Setyo


Salsa melepaskan pelukan Setyo, lalu menatap Setyo, mata mereka saling bertemu, dengan tatapan sedih.


"Baiklah, aku akan kembali ke rumah ayah ku saja, jadi kamu tak usah khawatir!" ucap Salsa.


"Tidak!" protes Setyo cepat.


"Kita tetap cari rumah, aku akan mengatur kapan aku di rumah dan kapan kita di rumah kita, bagaimana?" tanya Setyo.


"Baiklah, terserah kamu saja!" Salsa memeluk Setyo sekal lagi.


Apa dia sudah mencintai ku atau dia masih bertahan sampai akhirnya aku menyerahkan semua padanya? bathin Salsa sedih.


***


Salsa hari ini pindah ke rumah baru, Salsa sangat senang, tapi juga sedikit bersedih karena Setyo tak bisa ikut pindah bersamanya. Salsa mengatur segala nya, di bantu Danuarta.


Semua barang sudah lengkap di rumah ini, Salsa tinggal membawa pakaiannya, saja.


"Anak-anakku!!" lirih Mona saat melihat Daffa, Restu dan Chika. Mona mengusap matanya,sekali lagi, untuk memastikan kalau itu benar adalah mereka, anak-anaknya.


Mona terkejut saat matanya bertemu dengan sepasang mata tajam, yang amat dia kenal siapa pemiliknya, tentu saja sepasang mata itu milik, Baron suami yang telah di tinggalkan olehnya, Mona takut Baron mengenali nya, segera memutuskan pandangan matanya dan berjalan kembali ke rumahnya, dengan hati yang tak karuan.


"Ada apa, sayang?" tanya Burhan melihat istri cantiknya, masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru.


"Ti_tidak! aku lupa sesuatu" bohong Mona.


Burhan memeluk istrinya, lalu menciumnya, Burhan merasa beruntung memiliki Mona sebagai istrinya, selain cantik, Mona juga pandai mengurus rumah dan anak mereka satu-satunya, bahkan Mona tak pernah bersikap aneh, seperti istri teman-temannya yang lain.


"Kamu, harus segera pergi, sayang!" ucap Mona, ketika Burhan tak kunjung melepaskan pelukannya.


Burhan tersenyum, lalu dengan berat hati melepaskan Mona untuk segera pergi ke rumah sakit, Mona mengantar Burhan hingga masuk ke dalam mobil "sepertinya, kita punya tetangga baru!" ucap Burhan.


"Iya" jawab Mona tak berani melihat ke arah rumah itu, Mona sekilas masih melihat Baron berdiri, melihat ke arah rumahnya, Mona langsung masuk kembali ke dalam rumah, setelah mobil Burhan tidak terlihat lagi.


Mona terduduk lemas di atas sofa, bagaimana mungkin mereka pindah tepat di depan rumahnya. Mona mengusap wajahnya, berkali-kali, mencoba memahami situasi ini.

__ADS_1


Sedangkan Baron, masih berdiri di tempatnya, Baron benar-benar tak melepaskan pandangannya dari rumah yang ada di depannya.


"Ayah, cepat kita makan dulu!" teriak Restu, memaksa Baron untuk berbalik arah.


"Ada apa, ayah?" tanya Restu melihat wajah ayahnya terlihat sedikit murung.


"Tidak ada apa-apa!" jawab Baron.


"Jangan bilang, ayah rindu sekaleng bir!" tebak Restu.


"Kamu!!" sentak Baron, merasa Restu meledek dirinya, Restu tertawa melihat ayahnya kesal.


"Restu, jangan buat ayah marah!" teriak Salsa. Salsa merasa senang Setyo memperbolehkan dirinya membawa keluarga nya tinggal bersamanya, di rumah baru mereka.


"Ayah yakin, tidak akan tinggal di sini?" tanya Salsa sekali lagi, melihat ayahnya pamit pergi.


"Dari sini terlalu jauh, dari tempat ayah bekerja" jawab Baron.


Salsa terdiam, Salsa sebenarnya ingin ayahnya berhenti bekerja, tapi Salsa takut ayahnya akan merasa bosan.


"Aku akan tetap mempekerjakan, bi Marni untuk menjaga ayah" ucap Salsa.Salsa melepaskan kepergian ayahnya, dengan sedih.


***


Salsa masuk ke dalam kamarnya, ia merasa sangat kecewa karena Setyo sama sekali tidak menunjukan batang hidungnya di rumah ini, bahkan menelepon pun tidak, merasa lelah memikirkan tentang Setyo, Salsa memutuskan untuk tidur saja, besok juga dia bisa bertemu dengan Setyo di kantor.


Benar apa yang dipikirkan Salsa, kalau dirinya akan bertemu dengan Setyo besok di kantor, Setyo telah menunggunya didepan ruangan nya, sambil tersenyum ke arah Salsa.


Salsa yang sedang merasa kesal dengan Setyo, tidak membalas senyuman itu "aku sedang tak ingin di ganggu siapapun, saat ini! bisa kamu atur itu untukku!" ucap Salsa, tidak memperdulikan Setyo, Salsa jalan masuk ke dalam ruangannya.


"Salsa, kita harus bicara!" cegah Setyo begitu melihat Salsa akan membuka pintu ruangannya.


"Nanti saja, aku sedang banyak kerjaan, saat ini!" jawab Salsa lalu meneruskan masuk ke dalam ruangannya lalu menutup pintunya.


"Apa dia, marah padaku?" tanya Setyo pada Danuarta.


"Entahlah, mungkin kesal pindah rumah tapi suami tidak datang!" jawab Danuarta,lalu meninggalkan Setyo, sendirian. Setyo menatap pintu ruangan Salsa sebentar, lalu pergi dengan kesal, menuju ruangannya.

__ADS_1


__ADS_2