Salsa

Salsa
bab 52. Saingan baru


__ADS_3

Ratna menarik nafas, lalu mulai membuka suaranya, perhatian penonton mulai teralihkan sedikit demi sedikit padanya.


Tapi saat Salsa berdiri dari tempatnya, bermaksud meninggalkan tempat itu, perhatian para penonton mulai teralihkan lagi, membuat Ratna mendengus kesal.


Salsa yang berjalan membuat para penggemar nya seketika berdiri dan ingin bersalaman dengannya, Salsa dengan senang hati membalasnya.


Salsa hari ini benar-benar menjadi primadona di acara tersebut.


Ratna yang sudah selesai bernyanyi, langsung turun dan meninggal kan acara itu, dengan perasaan marah.


"Artis baru itu! sungguh membuatku marah!" umpatnya.


"Dia lagi terkenal, jadi seperti itu" balas managernya.


"Tapi dia sangat angkuh!"


"Menurutku tidak, dia baik" manager Ratna membelanya.


Mendengar itu Ratna mendengus kesal.


"Aku tetap akan beri dia pelajaran!" gerutu Ratna.


***


Setelah sekian lama diam Salsa membuka mulutnya, dan suaranya pada Danuarta.


"Apa di tempat kamu ada lowongan pekerjaan?" tanya Salsa.


"Maksud kamu?" tanya balik Danuarta.


"Untuk Chika"


"Kebetulan bagian administrasi di kantor akan cuti melahirkan, untuk sementara Chika bisa menggantikan posisinya"


"Benarkah?"


"Tentu saja, aku lihat Chika anak yang pandai, dia selalu mendapat beasiswa bukan?"


"Begitulah"


"Minta dia datang besok ke kantor" lanjut Danuarta.


Tanpa pikir panjang Salsa langsung menelepon Chika, dan memberikan kabar tersebut padanya.


Salsa tersenyum lebar pada Danuarta lalu mengucapkan terimakasih padanya.


"Terimakasih, kamu selalu bisa aku andalkan"


Danuarta merasa sangat bangga bisa membantu Salsa setiap Salsa membutuhkannya, entahlah dengan Salsa Danuarta merasa ingin selalu menjadi yang terbaik.


Danuarta merasa apapun akan dia lakukan untuk Salsa, Danuarta selalu merasa senang jika Salsa tersenyum padanya.


"Bagaimana tadi di atas panggung? aku lihat penggemar kamu semakin banyak, perhatian mereka selalu kepada kamu"


"Itu semua berkat kamu"


"Apa yang kulakukan? aku hanya mengantar kamu ke sana dan ke sini!"


"Tapi kamu yang telah membuatku seperti sekarang"

__ADS_1


"Itu semua karena pekerjaan"


"Apapun alasannya aku tetap berterima kasih"


"Sudahlah, lupakan! nanti aku besar kepala"


"Tapi kepala kamu memang sudah besar" ucap Salsa asal, membuat Danuarta menatap tajam ke arahnya.


Salsa tertawa lepas, hingga membuat Danuarta gemas melihatnya, andai saja dia tidak dalam posisi menyetir, rasanya Danuarta akan menarik hidung Salsa yang mancung itu kuat.


"Hari ini bukankah kita ada dua pekerjaan?" tanya Salsa setelah berhenti tertawa.


"Tidak, yang satu minta ganti hari" jawab Danuarta.


"O_ya! berarti saat ini kita bebas!" seru Salsa.


"Begitulah!"


"Bagaimana kalau kita berjalan-jalan sebentar, rasanya aku ingin membagikan rasa bahagiaku pada semua orang"


"Baik sekali kamu!" balas Danuarta.


"Kamu ingin kemana?" tanya Danuarta akhirnya menyetujui usul Salsa.


"Kemana saja"


"Serius?"


"Tentu"


Dengan cepat Danuarta memutar balik arah mobilnya, Danuarta tahu keman dia harus mengajak Salsa.


"Iya, bukankah wanita suka belanja, lagi pula uang kamu sudah cukup banyak, bersenang-senang lah sedikit" jawab Danuarta.


Salsa tersenyum mendengar ucapan Danuarta, memang selama ini,Salsa belum pernah mempergunakan uang hasil jerih payahnya untuk dirinya, selam ini hanya kebutuhan keluarganya yang paling utama baginya.


Danuarta yang melihat Salsa hanya diam, menarik tangan Salsa untuk segera masuk ke dalam bersamanya.


"Apa yang ingin kamu beli?" tanya Danuarta.


"Aku ingin membeli pakaian untuk adikku" jawab Salsa.


"Baiklah aku antar kamu ke tempat di mana banyak terdapat baju anak-anak"


Tanpa melepaskan pegangan tangannya dari Salsa, Danuarta menuntun Salsa menuju tempat tujuan mereka.


"Silahkan!" ucap Danuarta ketika sampai di tempat tujuan.


Salsa tersenyum lebar melihat apa yang ada di dalam toko itu, baju anak tergantung rapi di sana, semuanya bagus-bagus, pasti adiknya terlihat cantik dan tampan memakai salah satu baju di toko ini.


Tanpa berkata lagi Salsa segera memilih salah satu baju, selama setengah jam memilih akhirnya Salsa membeli empat setel baju untuk adik-adiknya.


"Apalagi yang ingin kamu beli?"


"Aku ingin membeli sepatu dan sandal juga untuk mereka" jawab Salsa lagi.


Danuarta dengan senang mengantar Salsa membeli sepatu dan sendal yang di tuju.


"Apa lagi?"

__ADS_1


"Baju untuk Chika bekerja"


jawab Salsa


"Kamu tak ingin membeli sesuatu untuk kamu sendiri?" tanya Danuarta, Salsa menggeleng lemah


"Kenapa, kamu tak ingin sesuatu seperti tas atau perhiasan?" tanya Danuarta.


"Tidak, buat apa? semua yang aku punya sudah cukup!"


Danuarta menatap Salsa, Salsa memang berbeda dari wanita lain, Salsa selalu memikirkan orang lain terlebih dahulu di bandingkan dengan dirinya sendiri.


Danuarta menarik tangan Salsa ke suatu tempat, Danuarta mengajak Salsa ke sebuah restoran.


"Aku akan mentraktir kamu makan, kamu tak akan menolak bukan?" ucap Danuarta.


Salsa tersenyum lebar, Danuarta selalu saja tahu bagaimana membuat dirinya menerima pemberian nya.


"Oke" jawab Salsa lalu duduk di depan Danuarta, tapi baru saja Salsa duduk dia melihat seseorang yang sangat dia kenal..


"Setyo!"


Danuarta mendengar apa yang di katakan oleh Salsa, dia menoleh ke arah kemana Salsa melihat.


Memang tak jauh dari mereka, Danuarta melihat Setyo yang sedang duduk sendirian menikmati secangkir kopi.


"Sepertinya dia sedang menunggu seseorang!" ujar Danuarta.


Sudah sekian lama, Salsa tak bertemu dengan Setyo, mereka sama sekali tak pernah saling berhubungan setelah pertemuan mereka yang terakhir kalinya.


Setyo terlihat agak kurus namun terlihat sehat, ingin sekali Salsa menanyakan kabarnya tapi itu tidak mungkin, dan juga buat apa? di antara mereka berdua sudah tak ada hubungan lagi.


Mereka sudah berjalan di dunia masing-masing. Walau sebenarnya dalam hati Salsa nama Setyo masih terukir indah, namun Salsa coba untuk melupakan nya.


Danuarta melihat ke arah Salsa yang menatap ke arah Setyo dengan intens, ada perasaan tidak suka mengetahui hal ini, Salsa seharusnya sudah melupakan Setyo, tapi melihat bagaimana Salsa melihat Setyo, Danuarta tahu Salsa belum bisa melupakan Setyo sepenuhnya.


"Aku dengar dia mau menikah" ujar Danuarta.


"O_" respon Salsa mendengar ucapan dari Danuarta tentang Setyo


"Memang sudah seharusnya, dia sebentar lagi akan mempunyai bayi" lanjut Salsa.


"Apa kamu yakin, bayi itu bayi Setyo?" tanya Danuarta.


"Apa maksud kamu?" tanya Salsa tak mengerti.


"Bisa jadi bayi yang sedang di kandung Rihana bukan bayi dari Setyo" lanjut Danuarta.


"Itu tidak mungkin, tak mungkin seorang perempuan berbohong tentang hal itu"


"Itu menurut kamu, yang selalu berpikir lurus, tidak dengan mereka yang selalu berpikir buruk pada orang lain" ucap Danuarta lagi.


Salsa terdiam, mungkinkah yang dikatakan oleh Danuarta adalah benar? tapi rasanya itu tak mungkin, sudah beberapa kali Salsa melihat Setyo keluar dari kamar Rihana.


"Sudahlah aku dan Setyo sudah berpisah dan tak mungkin lagi bersatu, kami sangat berbeda"


Danuarta melihat ke arah wajah Salsa, Danuarta memperhatikan ekspresi wajah Salsa saat mengatakan hal itu.


"Kamu berbohong!" ucap Danuarta dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2