
"Ada apa ini?" tanya Salsa saat melihat Chika sedang membersihkan sisa pecahan kaca yang berasal dari sebuah gelas.
"Ada apa?" tanya Salsa.
Chika tidak menjawab, Chika menutup rapat mulut nya, membuat Salsa makin penasaran.
Salsa mengejar Chika yang terlihat marah sekaligus sedih itu.
"Brakk!!" suara pintu dibanting keras.
"Klik!" suara pintu di kunci, Chika menghentikan pengejaran Salsa di depan pintu kamarnya, dengan menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
Salsa tidak berkata apa-apa lagi, baru kali ini Salsa, melihat adiknya yang satu itu, begitu marah nya, walaupun dia terlihat keras di luar tapi Salsa selalu merasa Chika adalah adiknya yang baik. Walaupun mulut nya selalu pedas padanya, tapi selama ini Chika lah yang membantu nya mengurus adik-adiknya.
Salsa kembali turun ke bawah, ke tempat di mana pecahan gelas berserakan, Salsa meminta salah seorang pembantu untuk membersihkannya, sedangkan di keluar, Salsa menemukan ayahnya sedang bicara dengan Mona, mereka terlihat sedang menangis, dengan rasa penasaran Salsa mendekati mereka, belum juga Salsa mendekat dari kejauhan Salsa melihat ayahnya jatuh tergeletak di atas rumput, membuat Salsa seketika panik dan langsung berlari serta berteriak memanggil nama ayahnya. Salsa menangis sambil memeluk tubuh ayahnya, Salsa menoleh ke arah Mona, mulutnya rasanya terkunci rapat ketika ingin menanyakan apa yang telah terjadi, Mona melihat Salsa pun, hanya bisa menangis sedih, hatinya bagai teriris-iris melihat hal ini.
Mona menelepon ambulance, Baron di bawa ke rumah sakit, Chika yang mendengar suara ambulance datang kerumahnya, keluar dari kamarnya, lalu segera berlari ke arah ambulance, Chika menangis saat melihat ayah nya, di masukan ke dalam ambulance, Mona menghampiri Chika lalu memeluk Chika, tapi Chika segera menepis nya dengan kasar.
"Kamu bukan ibuku!!" teriak Chika, lalu Chika berlari masuk ke dalam rumah sambil menangis sedih.
Mona yang mendengar itu, tidak bisa menahan tangisnya lagi, air matanya turun bagaikan air hujan yang deras. Bahkan punggungnya yang kecil terlihat bergetar.
Salsa di dalam ambulance terus menangis, melihat ayahnya terbaring tidak berdaya, setelah sampai di rumah sakit, Danuarta datang menemani Salsa, Salsa memeluk Danuarta erat dan menangis di sana.
__ADS_1
"Dokter keluar!" ucap Danuarta, Salsa segera berlari ke arah dokter, menanyakan bagaimana keadaan ayahnya.
"Maaf kami tak bisa menolong ayah anda, beliau sudah tiada" ucap dokter, Salsa yang mendengar itu, histeris menangis memanggil nama ayahnya, Danuarta mencoba menenangkan Salsa.
"Tenanglah, kasihan ayah kamu, jika menangis seperti ini, ikhlaskan kepergian nya" bisik Danuarta, Salsa terdiam mendengar ucap Danuarta.
proses pemakaman, berlangsung hari itu juga, Setyo menemani Salsa di saat itu.
Air mata Salsa tak berhenti turun selama proses pemakaman ayahnya, walaupun dia bukan ayah yang baik, tapi Salsa sangat menyanyangi nya, karena dia tak pernah sedikit pun meninggalkan anak-anak nya.
Setyo memeluk Salsa erat, tak pernah menjauh dari Salsa yang sangat bersedih dengan kematian ayahnya.
"Sudahlah sayang, ikhlaskan jangan menangis terus kasian ayah kamu" ucap Setyo menenangkan Salsa.
Salsa yang begitu terpukul berjalan dengan lesu menuju kamarnya, meninggalkan keramaian yang ada di ruang depan, saat masuk kamar Salsa mendengar handphone Setyo berbunyi, Salsa melihat ada satu pesan, Salsa membuka dan membacanya, jantung Salsa seketika berhenti saat tahu pesan itu berasal dari Rihana yang mengabarkan dirinya telah hamil, dan menuntut tanggung jawab Setyo.
Setyo yang melihat Salsa tak ada di tempatnya pergi ke kamar mencari Salsa, Setyo melihat Salsa sedang memeluk kedua lututnya di atas tempat tidur.
Setyo menghampiri Salsa dan memeluknya.
"Sayang!" ucap Setyo.
Salsa hanya diam tak bergeming, dia mencoba untuk menahan diri nya agar tidak membicarakan masalah ini, untuk tujuh hari ke depan, untuk mengenang ayahnya.
__ADS_1
Setyo yang melihat Salsa tidak bergerak lebih mempererat pelukannya "menangis lah, jika itu membuat mu lebih baik" ucap Setyo, Salsa tetap diam
tak bergeming.
"Keluarlah biarkan aku sendiri" ucap Salsa yang membuat Setyo sedikit terkejut, tapi Setyo tidak membantah, dia keluar dengan membawa handphone nya.
Salsa menangis tiada henti setelah Setyo keluar dari kamar, Salsa berharap dengan menangis hidupnya hatinya akan menjadi lebih ringan. Salsa harus kuat, karena setelah ibu pergi, sekarang ayah, tak ada lagi yang dapat melindungi adik-adiknya dan soal Setyo bukannya dari awal Salsa sudah tahu kalau Setyo menikahi nya karena warisan itu, Salsa merasa tak harus terlalu bersedih karena kejadian ini, Salsa dari awal memang telah mempersiapkan diri bahwa suatu saat dia harus berpisah dengan Setyo, sakit hati adalah resiko yang harus di ambil Salsa karena memutuskan untuk tetap meneruskan perkawinan ini setelah dia tahu kalau Setyo hanya mempermainkannya, rasa cinta dalam hati Salsa yang makin tumbuh subur, itulah yang membuat rasa sakit dalam hatinya makin menyakitkan, Salsa harus bisa mulai mengubur rasa cintanya pada saat ini juga.
Salsa menghapus air matanya dengan kasar, tiba-tiba rasa mual menyerang dirinya, Salsa pergi ke kamar mandi dan memuntahkan semuanya, Setyo yang merasa sudah cukup membiarkan Salsa sendirian di kamar, masuk kembali ke kamar untuk melihat keadaan Salsa, tapi Setyo terkejut saat mendengar suara Salsa di kamar mandi sedang muntah-muntah, Setyo segera menghampiri Salsa, mengusap punggung nya, tapi Salsa segera menepisnya.
"Lebih baik kamu pulang! ada seseorang di rumah yang telah menanti kedatangan kamu!" ucap Salsa dengan dingin.
"Apa maksud kamu?" tanya Setyo.
"Aku di sini akan baik-baik saja! di sana Rihana sedang menunggu kedatangan ayah dari janin yang di kandungnya" lanjut Salsa masih dengan ekspresi yang sama, tanpa melihat ke arah Setyo.
"Aku tidak tahu apa maksud kamu?" tanya Setyo lagi.
"Rihana mengirim pesan, bahwa dia telah hamil!" ucap Salsa lagi sambil berusaha untuk tidak menangis lagi di depan Setyo.
Setyo mundur beberapa langkah,mendengar berita itu, tiba-tiba tubuhnya lemas tak tertahankan, hingga dia terduduk di atas tempat tidur, berita inilah yang tak ingin pernah dia dengar, tapi, malah Salsa yang mendengarnya pertama kali sebelum dirinya, hatinya pasti hancur begitu pula dirinya karena dalam hati Setyo benar-benar mencintai Salsa dan tak ingin berpisah dengan Salsa, tapi dengan apa yang terjadi sekarang akankah, Salsa memaafkannya, Setyo menoleh ke arah Salsa yang berdiri di hadapannya, wajah Salsa terlihat pucat, bengkak karena terlalu banyak menangis,Setyo yakin tangisan itu bukan tangisan karena kehilangan ayahnya saja tapi tangisan yang di sebabkan oleh nya, Setyo bangkit menghampiri Salsa, tapi Salsa melangkah menjauhi Setyo.
"Mulai sekarang jangan sentuh atau mendekat padaku, lagi!" bentak Salsa.
__ADS_1
Setyo masih terus menatap Salsa dengan tatapan sedih, tapi Salsa seperti tidak perduli, Salsa berjalan mundur lagi saat Setyo mulai mendekat lagi padanya.
"Pergi!!" usir Salsa.