
Mendengar jawaban Salsa, Burhan seperti menelan pil yang begitu pahit.
Salsa yang saat itu begitu belia bisa bersikap dewasa demi semuanya.
Burhan menatap Salsa, ternyata selain cantik, hatinya pun begitu bersih, entah mengapa Chika tidak bisa melihat hal itu, sikap Salsa yang selalu mengalah mengingatkan dirinya pada Mona.
Mona yang selalu mengalah dan sabar menghadapi dirinya yang selalu ingin menang sendiri, Salsa seperti Mona, mungkin aku akan menyesal jika sampai kehilangan Mona, ucap Burhan dalam hatinya.
"Aku harap anda bisa menjauhi Chika, karena Chika tak bisa melakukan hal itu, ia terlalu marah padaku dan ibu"
Burhan mengerti apa yang di ucapkan Salsa, yang akhirnya membuat Burhan mengangguk pelan.
"Terimakasih, telah membantuku dan minta maaf jika adik dan ibuku telah merepotkan"
"Tak masalah!" jawab Burhan.
Merasa Masalah mereka telah selesai, Burhan dan Salsa pun mengakhiri pertemuan mereka.
Salsa pulang dengan hati yang tenang, Salsa merasa senang ternyata Burhan bisa di ajak bicara tenang, semoga besok terjadi keajaiban yang membuat orang-orang di sekitarnya bahagia, doa Salsa.
***
Chika bangun dengan wajah yang ceria, Chika ingat apa yang terjadi dengannya kemarin dengan Burhan.
Kemarin Burhan sangat perhatian padanya, Burhan membuatnya tenang berada dalam pelukan dada bidangnya.
Chika tak menyangka Burhan bisa selembut itu padanya. Chika merasa rencananya kemarin tidak sia-sia.
Sebenarnya Chika menyewa preman itu untuk mengganggu dirinya, Chika tersenyum sendiri, Chika mengambil handphonenya lalu menelepon seseorang, tapi dengan kesal teleponnya di putus olehnya, karena tidak juga mendapat respon.
"Apa dia sibuk sekali, sampai tak bisa mengangkat telepon dariku?" omel Chika.
Dengan perasaan marah Chika turun dan keluar dari kamarnya menuju ruang makan, di sana sudah berkumpul anggota keluarga yang ada di rumah tersebut.
"Ka antar kami ke sekolah!" rengek si bungsu pada Chika, Chika yang saat itu sedang tak enak hati, sedikit marah dengan sikap manja adiknya itu.
"Sama ka Salsa saja! aku sibuk!" ucap Chika kesal.
"Ta_tapi ka" ucap si bungsu sambil menoleh ke arah Salsa dengan sedih.
"Aku akan antar kalian, mungkin ka Chika sedang ada urusan hari ini" jawab Salsa.
__ADS_1
Chika yang sedang sibuk dengan handphone, tidak memperhatikan ke sekeliling nya, Chika hanya terus mengumpat, karena telepon dan pesannya belum juga ada yang di balas.
Sedangkan Salsa mengajak kedua adiknya agar mengikutinya, Salsa tak ingin kedua adiknya terus-terusan mendengar sumpah serapah yang keluar dari mulut Chika.
Chika mempercepat sarapannya, karena telepon dan pesannya tak ada yang di balas, Chika memutuskan untuk menemui orang yang bersangkutan. Hingga sekarang Chika sudah berdiri di hadapan orang itu, dan membuat orang tersebut terkejut.
"Ada apa?" tanya Burhan setenang mungkin.
"Kenapa telepon dan pesanku tak ada yang kamu balas!" omel Chika.
"Kamu tak lihat aku lagi sibuk!" jawab Burhan.
"Apa semenit saja, tak bisa mengangkat telepon!"
Burhan menatap tajam ke arah Chika, Burhan merasa agak sedikit kesal karena Chika mengganggu pekerjaannya.
"Memangnya harus, siapa kamu?!" tanya Burhan sinis.
Chika terdiam mendengar perkataan dari Burhan, apa maksud semua ini, baru saja kemarin Burhan bersikap manis dan hangat padanya, tapi kini dia sudah kembali ke mode semula dingin dan kaku.
"Tapi kita kan_"
Chika kesal, dia berdiri dari duduknya lalu melangkah pergi dari ruangan Burhan, dengan marah hingga tanpa sengaja atau tidak Chika membanting pintu ruangan Burhan dengan kuat, hingga suaranya terdengar cukup keras.
"Bisa repot, kalau aku harus mempunyai hubungan dengan gadis seperti dia!" umpat Burhan.
"Siapa dia dok?" tanya seorang perawat yang kebetulan ada di sana.
"Gadis pemarah!" jawab Burhan.
Chika menangis sedih melihat perubahan sikap Burhan hari ini, dalam mimpinya semalam Chika berjalan berdua dengan Burhan, sambil bergandengan tangan, hatinya sangat gembira, tapi kenyataannya tidak sama dengan mimpi nya semalam membuat Chika marah.
Burhan setelah bertemu dengan Salsa sudah mengambil keputusan untuk memberikan Mona kesempatan kedua, lagipula dirinya sangat mencintai Mona, kemarin dia hanya sakit hati karena tahu Mona telah membohongi dirinya, padahal Mona tahu hal yang paling di benci dirinya adalah kebohongan.
Tapi melihat bagaimana ketulusan Salsa, Burhan berpikir sangat merugi jika dia sampai kehilangan Mona karena masa lalunya.
Dan soal Chika, Burhan sebenarnya tidak menyukai Chika sama sekali, dia hanya ingin sedikit memanfaatkan Chika dalam situasi yang sedang di hadapi pada Mona.
Burhan tahu Chika mempunyai perasaan padanya, tapi itu tak mungkin Burhan terima, selain umur mereka yang berbeda jauh, sikap Chika yang begitu menggebu-gebu membuat Burhan sedikit tidak nyaman bersama Chika.
Oleh sebab itu Burhan memutuskan untuk menjauhi Chika, dan memutuskan untuk berhenti melanjutkan rencananya.
__ADS_1
Semalam setelah bertemu dengan Salsa, Burhan menemui Mona yang saat itu sedang tidur dikamar Thomas putra mereka.
Saat itu Burhan tak langsung membangunkan Mona, Burhan menatap ke arah wajah Mona yang sedang tertidur itu, begitu polos dan cantiknya istri nya itu.
Burhan merasa apa yang di katakan Salsa benar, dirinya akan rugi besar jika sampai kehilangan Mona, dalam hidupnya.
Setelah puas memandangi wajah Mona, Burhan membangunkan Mona dengan lembut dan mengajak Mona tidur di kamar mereka, semalaman Burhan tidur sambil memeluk Mona.
***
Salsa terkejut saat melihat Chika pulang sambil marah-marah.
"Apa ini perbuatan kamu?" tanya Chika.
"Apa maksud kamu?" tanya Salsa balik.
"Burhan menjadi dingin lagi padaku!"
"Memangnya apa yang bisa aku lakukan?" tanya Salsa.
Chika menatap Salsa dengan wajah sedihnya, lalu kemudian menangis tersedu-sedu, Salsa menjadi terharu, dia menarik Chika dalam pelukannya, Salsa tak menyangka ternyata rasa suka Chika pada Burhan nyata, tapi tetap saja itu tidak benar dan harus segera di hentikan.
Salsa memeluk Chika erat tanpa berani berkata apapun, Salsa membiarkan Chika menangis sepuasnya hingga rasa sedih di hatinya hilang. Tak lama kemudian Chika pun berhenti menangis, Salsa mulai berani membuka suaranya.
"Dia bukan untukmu,dia sudah beristri, tak boleh kita merusak rumah tangga orang, kasihan anaknya, kamu pasti tahu bagaimana rasanya jika di tinggal salah satu orang tua kita" ucap Salsa.
Chika melepaskan pelukannya dari Salsa, menatap Salsa lalu berbicara "aku hanya benci ibu".
"Tenanglah, hapus rasa benci itu, kita sekarang sudah kehilangan ayah untuk selamnya kini hanya tinggal ibu yang kita punya" jelas Salsa lagi.
"Tapi dia telah meninggal kan kita, ka"
"Itu bukan sepenuhnya salah dia, kakak yang menyuruhnya pergi karena tak tahan melihat ibu selalu kena pukul ayah setiap mabuk" jelas Salsa.
"Apa?!" seru Chika.
"Maafkan Kaka, malam itu Kaka melihat dengan mata kepala sendiri, ibu di pukuli ayah"
"Tapi kenapa Kaka tak pernah bilang sama kami?"
"Aku takut kalian membenci ayah, sedangkan tinggal ayah yang bersama dengan kita, aku tak mau membuat kalian menjadi yatim piatu"
__ADS_1