Salsa

Salsa
bab 44. Nyonya Nur


__ADS_3

Ekspresi takut yang di tunjukan oleh orang tersebut, terlihat jelas di mata Salsa, Salsa tersenyum lalu berdiri lagi.


"Maaf, tapi aku harus kembali ke kamar ku!" pamit Salsa, kali ini tak ada yang berani menahannya.


Salsa berjalan agak cepat menuju kamarnya, sebelum para wartawan itu berubah pikiran dan mengejar dirinya.


Danuarta yang baru saja keluar dari kamarnya terkejut melihat Salsa yang berjalan cepat, Danuarta segera menghampiri Salsa, hingga membuat Salsa terkejut dan hampir jatuh, untung dengan sigap Danuarta bisa menangkap pinggang Salsa dengan tepat, hingga kini Salsa ada dalam dekapannya. Wajah mereka berdua bertemu dan saling memandang satu sama lain. Tiba-tiba sebuah kilatan cahaya merusak moment tersebut, membuat Salsa dan Danuarta menoleh ke arah asal cahaya itu, di sana ada sebuah kamera yang sedang mengarah ke arah mereka berdua.


Danuarta segera melepaskan tangannya dari pinggang Salsa, hingga Salsa agak menjauh dari dirinya. Salsa menatap ke arah Danuarta, meminta jawaban apa yang harus di lakukan sekarang, tapi Danuarta diam saja, bahkan Danuarta tidak berkomentar apapun. Danuarta hanya memperhatikan gerak gerik wartawan tersebut, apa yang di inginkan olehnya, tapi wartawan itupun tidak melakukan apapun dia hanya tersenyum, lalu menunjukan kameranya, lalu segera pergi dari tempat tersebut.


Melihat wartawan itu pergi Salsa menghela nafas lega dan panjang, lalu tersenyum pada Danuarta, tapi ekspresi Danuarta begitu datar, membuat Salsa serba salah.


"Jangan senang dulu, besok berita tentang kita pasti akan terdengar! berdoa lah agar itu berita baik, bukan berita yang dapat membuat kita serba salah!" jelas Danuarta.


Salsa mengangguk, mengerti apa yang di maksud oleh Danuarta.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Salsa tiba-tiba.


"Iya, kenapa?" tanya Danuarta heran mendengar pertanyaan Salsa yang seperti itu.


"Soal kemarin" Salsa ragu untuk meneruskan perkataannya.


"Aku minta maaf, soal yang kemarin! pasti kamu kaget!" ucap Danuarta.


Salsa tersenyum kecil, kemarin dirinya memang sedikit terkejut, melihat Danuarta yang biasa bersikap tenang, pada saat itu sangat brutal, seperti bukan Danuarta yang dia kenal selama ini.


"Bukan itu, masalahnya! pasti hal itu berbuntut panjang dan akan membuat kamu kerepotan lagi" ucap Salsa.


"Jangan di pikirkan akan aku urus semuanya, apapun hal yang mengenai dirimu, sekarang adalah tanggung jawab ku!apalagi sekarang semua karena aku!" balas Danuarta.

__ADS_1


Salsa mengangguk, lalu pergi meninggalkan Danuarta sendirian, Salsa tak akan membiarkan seseorang mengambil kesempatan dari kedekatan dirinya dan Danuarta, dengan terus berlama-lama berdiri bersama Danuarta.


***


Rihana setelah mengurus pemakaman ayahnya di bantu oleh seseorang, pulang ke rumah Setyo, dengan ceria. Rihana masuk ke dalam rumah Setyo dengan senyum lebar di wajahnya, Nyonya nur yang melihat hal itu mendengus kesal waktu kamu cuma sebentar lagi! bathin Nyonya Nur.


Rihana yang merasa di perhatikan menengok, tapi dia tidak menemukan siapapun.


Tentu saja Rihana tidak menemukan siapapun karena Nyonya Nur memperhatikan Rihana lewat Cctv yang ada di kamarnya.


Nyonya nur tersenyum melihat Rihana kebingungan, Setelah Rihana masuk dalam kamarnya, Nyonya Nur segera turun dari tempat tidurnya, lalu keluar dari kamarnya.


Nyonya nur mengetuk pintu kamar Setyo, begitu Setyo membuka pintu kamarnya, nyonya Nur langsung masuk ke kamar Setyo, Setyo menatap ke arah ibunya dengan pandangan anehnya.


"Kita harus bicara tentang Rihana?" ucap Nyonya Nur.


"Kehamilannya!" Jawab Nyonya Nur.


"Itu bukan bayiku!" bentak Setyo.


"Mungkin!" jawab Nyonya nur.


"Apa maksud ibu?" tanya Setyo terkejut.


"Rihana tetap ngotot bahwa itu bayi kamu, bahkan dia mau melakukan tes DNA!" jawab Nyonya Nur, Setyo terdiam.


Benarkah, itu bayiku? Bathin Setyo, rasanya tak mungkin karena dirinya sama sekali tidak merasa melakukan hal itu pada Rihana,


Setyo terduduk di tepi tempat tidurnya, ia menoleh ke arah ibunya.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menunggu sampai anak itu lahir, jika dia memang anakku, aku pasti akan menikah dengannya!" ucap Setyo.


"Gila kamu! Kasihan Rihana, dia akan banyak menerima ejekan dari orang, melahirkan tanpa suami!" jelas Nyonya Nur dengan nada sedikit tinggi.


"Itu resiko dia!" balas Setyo.


"Pikirkan lagi! Ibu tahu kamu tidak mencintai Rihana! tapi bagaimana jika benar itu adalah bayi kamu? kamu mau anak kamu jadi omongan tetangga!" ucap Nyonya Nur, sedikit memaksa Setyo agar menikahi Rihana, Setyo terdiam lalu menatap ibunya sekali lagi.


"Entahlah? akan aku pikirkan lagi!" jawab Setyo akhirnya, Setyo bingung harus bagaimana? Setyo beranjak dari duduknya, kemudian ke luar dari kamarnya, menutup pintu kamarnya dengan keras, meninggalkan ibu nya, dengan perasaan kesal.


Setelah kepergian Setyo, Nyonya nur menatap dirinya cermin besar yang ada di hadapannya, lalu tersenyum lebar maaf aku harus menggunakan kamu lagi untuk memperoleh semua harta ini bathin Nyonya Nur, lalu tertawa keras.


Setelah meras puas tertawa Nyonya Nur menatap langit-langit kamarnya ini semua karena kamu, suamiku!jika saja kamu tidak berulah pasti putra kamu tak akan pernah tersiksa lagi! ucap Nyonya Nur.


Nyonya nur menyalahkan almarhum suaminya yang mewariskan hartanya pada orang lain, hanya untuk membuatnya kesal dan marah.


Nyonya Nur kembali menatap dirinya di cermin, mendekati cermin tersebut, mengusap wajahnya yang terlihat tua, karena harus berakting pucat di depan Setyo, hingga Setyo percaya kalau dirinya terlihat benar-benar sakit.


"Aku terlihat jelek, sekali! aku rindu bedak dan lipstik ku! ini semua gara-gara kamu!" ucap nyonya Nur menyalahkan semuanya pada Almarhum suaminya lagi.


Nyonya nur, menggosokkan wajah nya dengan kedua tangannya, kuat-kuat. Seumur hidupnya ia tak pernah lepas dari bedak dan lipstik nya, tapi sudah hampir sebulan ini, dia terpaksa tidak menggunakan nya.


Ingin rasanya dia memukul pecah cermin yang ada di depannya sampai pecah, karena telah berani menampilkan wajahnya yang pucat dan terlihat jelek itu.


Dengan perasaan kesal, Nyonya Nur keluar dari kamar Setyo. Lalu masuk kembali ke kamarnya, hatinya kesal seumur hidupnya selalu berusaha untuk bisa mendapatkan harta suaminya, karena sepanjang menikah, suaminya walau pun memberikan jatah yang cukup banyak padanya, tapi Nyonya nur selalu merasa tidak pernah puas karena tujuannya menikah dengan suami nya, dari awal adalah untuk menguasai harta nya, tapi sampai sekarang hal itu belum juga tercapai, padahal suaminya telah tersingkir.


Nyonya nur menutup rapat pintu kamarnya, dengan terpaksa karena sandiwara nya ia harus mengurung diri di kamarnya, sepanjang waktu.


Kegiatan barunya yang menarik sekarang adalah melihat layar Cctv rumahnya dari kamarnya, melihat apa yang semua anggota keluarga ini lakukan,agar dirinya tahu apa yang mereka lakukan, hingga kejadian pada suaminya, yang mewariskan harta pada orang lain tidak ia ketahui, bahkan sekarang secara diam-diam Nyonya Nur juga telah memasang Cctv di kantor Setyo tanpa sepengetahuan Setyo, Nyonya Nur tertawa kecil melihat semua yang terekam di layar, matanya menatap Setyo yang sekarang sedang berada di depan kamar Rihana, Nyonya Nur, menunjukan senyum liciknya lagi.

__ADS_1


__ADS_2