
"tentang apa saja!" jawab Setyo, Rihana menatap ke arah Setyo, wajah Setyo begitu sangat berbeda dalam ingatan Rihana saat mereka kecil, dulu Setyo dimata Rihana sosok pria lembek yang hanya bersembunyi di ketiak ibunya, tapi kini Setyo sudah menjelma menjadi pria tampan dan gagah, namun sayang masih bergantung bahkan terlalu percaya pada ibunya yang jahat itu.
"Maafkan aku!" ucap Rihana membuka mulutnya.
"Buat apa?"
"Karena telah berbohong padamu, tapi aku tak pernah berniat jahat padamu" lanjut Rihana.
Sudahlah lupakan semua sudah terjadi, bagiku sekaranga adalah masa depan, lagi pula aku tidak dendam padamu, aku mengerti posisi kamu, kecuali!" Setyo menghentikan ucapannya.
"Kecuali apa?" tanya Rihana penasaran.
"Kecuali jika kamu mengulanginya lagi, maka tak ada ampun lagi bagi mu!" ancam Setyo.
***
Setyo menunggu Salsa, berharap jika hari ini mereka akan bertemu, Setyo bermaksud bercerita tentang Rihana pada Salsa. Setyo bergerak saat melihat pintu gerbang rumah Salsa bergerak namun Setyo harus kecewa karena bukan Salsa yang keluar dari gerbang itu melainkan Mona yang langsung menatap tajam ke arah Setyo, karena Mona tahu apa maksud Setyo ada di sana.
"Salsa sedang tak ada di rumah" ucap.Mona langsung dengan sinis.
"Benarkah?"
"Kamu pikir aku berbohong!" sentak Mona kesal.
"Bukan begitu, aku tahu kalau hari ini Salsa tak ada jadwal show, pasti Salsa ada di rumah" jelas Setyo pada Mona yang salah paham.
"Kamu pikir Salsa wanita yang sama seperti dahulu yang selalu di rumah, kini Salsa adalah wanita karir, di mana jam kerjanya sibuk, lagipula kamu pikir kerjaan. Salsa hanya Show!"
"Maafkan aku!"
"Ada perlu apa?" tanya Mona sekali lagi.
"Tidak ada! hanya ada sedikit kabar yang harus saya ceritakan pada Salsa!"
"Kabar apa?" tanya Mona lagi, Setyo terdiam lalu menatap Mona kebingungan dengan sikap Mona yang Ingin tahu.
"Dengar mulai sekarang akulah yang menjaga Salsa, aku tak akan membiarkan orang lain menyakitinya lagi!" ancam Mona.
Setyo diam, dari awal kenal dengan Mona, Setyo melihat sikap Mona terlalu berlebihan pada Salsa, Setyo meras ada yang aneh di sini.
"Aku tidak mengerti!"
"Tak perlu kamu mengerti, karena mulai sekarang kamu tak ada hubungan apapun dengan Salsa"
"Anda tak bisa seperti itu, yang bisa memutuskan itu semua hanya Salsa" protes Setyo.
"Tentu saja saya bisa!" bentak Mona.
__ADS_1
"Memangnya anda siapa?!"
"Karena aku ibunya!"
Setyo terkejut mendengar apa yang di ucapkan oleh Mona, apakah itu benar? Setyo menatap Mona lekat-lekat.
"Kamu tak percaya, tanyakan saja pada Salsa!" bentak Mona, lalu meninggalkan Setyo begitu saja.
Setyo dalam kebingungan berjalan menuju mobilnya, sepertinya keinginannya untuk bertemu Salsa saat ini harus di tunda dulu, Setyo harus mencari kebenaran semua ini terlebih dahulu.
***
Rihana yang sudah bisa kembali ke rumah, masuk ke rumah Setyo dengan tatapan tajam dari Nyonya Nur.
"Ingat walau anakku mengijinkan kami tinggal di sini, tapi kamu tak bisa Seema seperti dahulu" ucap Nyonya Nur.
Rihana tak menjawab apa yang di ucapkan Nyonya Nur, tapi Rihana memilih untuk masuk ke dalam kamarnya saja.
Rihana merasa hidupnya di rumah Setyo tak akan sama lagi, entah bagaimana Nyonya Nur akan memperlakukannya yang pasti Rihana tak akan membiarkan Nyonya Nur menindasnya dalam rumah ini.
Setyo yang kecewa karena tak bisa bertemu dengan Salsa kembali ke rumahnya dengan wajah lesu, Rihana yang melihat kedatangan Setyo menyapa dengan ramah.
"Sudah pulang!"
"Kamu sudah di sini?"
"Syukurlah"
"Aku ke kamar dulu, kita ketemu di ruang makan" pamit Setyo.
Rihana menatap kepergian Setyo dengan perasaan kesal karena Setyo bersikap dingin padanya. Rihana berjalan ke ruang makan, di sana sudah ada Nyonya Nur yang menunggu dengan pandangan tajam, Rihana sebenarnya menjadi hilang selera untuk makan malam, melihat Nyonya Nur, tapi perutnya yang terasa lapar memaksanya untuk tetap masuk ke sana.
"Harusnya kamu datang dari tadi, bantu lah Roma menyiapkan makan malam untuk kami!" ucap Nyonya Nur.
"Roma apa kamu masih butuh bantuanku?" tanya Rihana pada Roma salah seorang pelayan.
"Tidak nona, terima kasih"
"Dengar kata Roma, dia tak perlu bantuan dariku, dia bisa bekerja sendiri" ucap Rihana pada Nyonya Nur.
"Kalau begitu aku akan menambah pekerja kamu Roma" ucap Nyonya Nur.
"Ja_jangan Nyonya!" ucap Roma cepat.
"Tenang saja, aku sudah punya asisten untuk membantu kamu nanti!" lanjut Nyonya Nur, sambil tersenyum kecil pada Rihana.
Rihana mengepalkan tangannya, menahan rasa kesal dalam dirinya pada Nyonya Nur.
__ADS_1
"Jangan keterlaluan, ingat kartu kamu masih ada padaku!" ancam Rihana.
"Kartu apa?" tiba-tiba Setyo datang memotong pembicaraan antara Rihana dengan Nyonya Nur.
"Tanyakan saja pada ibu mu!" jawab Rihana, sambil menatap tajam ke arah Nyonya Nur.
"Kartu undangan pernikahan kamu dan Rihana"
"Apa!! bukankah sudah aku batalkan?"
"Iya, cuma masih saja mereka mencetaknya, tenanglah biar ibu yang mengurusnya"
"Makasih Bu, ibu memang selalu yang terbaik" puji Setyo pada ibunya.
Nyonya nur tersenyum lebar mendengar pujian dari Setyo, lalu melirik ke arah Rihana yang sedang asyik makan.
Rihana sebenarnya mendengar apa yang dikatakan Setyo pada nyonya Nur, tapi Rihana sengaja menuliskan telinga nya, agar tidak terlalu kesal mendengarnya.
Rihana dengan cepat menyelesaikan makan malamnya, rasanya, muak melihat Nyonya Nur yang selalu berlagak baik di depan Setyo.
"Aku sudah selesai, aku kembali ke kamar" pamit Rihana.
"Tunggu!" cegah Nyonya nur.
"Lebih baik kamu bereskan piringnya dulu, biar Roma cepat istirahat" ucap Nyonya Nur.
Rihana menatap tajam Nyonya nur yang ternyata masih berani mengusiknya, Rihana melihat ke arah Setyo, Setyo sepertinya tidak keberatan dengan apa yang di katakan Nyonya Nur barusan, artinya Setyo setuju. Dengan berat hati Rihana merapihkan piring bekas dirinya makan.
Nyonya Nur tersenyum lebar dirinya merasa akan aman bagaimanapun, karena Setyo tentu akan selalu mendukungnya.
"Sudah selesai" ucap Rihana.
"Apa sekarang aku boleh, pergi" pamit Rihana.
"Untuk malam ini cukup, lain kali kerjakan tugas kamu, sebelum kami minta" ucap Nyonya Nur.
Rihana mendengus kesal, lalu segera pergi dari ruang makan yang malam ini sangat menyesakkan dadanya.
Rihana masuk ke dalam kamarnya, setelah menguncinya rapat-rapat Rihana masuk ke dalam kamar mandi di sana Rihana berteriak sekerasnya.
"Tunggu pembalasanku! kalian semua akan hancur!"
Setelah merasa tenang Rihana keluar dari kamar mandi dan berbaring di atas tempat tidurnya.
"Sepertinya aku harus membongkar kejahatannya, dengan terencana, agar dampaknya akan menghancurkan mereka berdua"
"Tapi bagaimana?" Rihana merasa dirinya sendiri yang harus berjuang sekarang.
__ADS_1