
Rihana pagi-pagi sudah siap ada di ruang makan, Rihana menyiapkan semua keperluan sarapan di bantu oleh seorang pelayan.
Rihana kemudian naik ke atas untuk menemui Nyonya Nur, kamar Nyonya Nur tidak terkunci, Rihana secara perlahan masuk ke dalam kamar itu, Rihana menuju meja rias yang berisi alat make up yang lengkap milik nyonya Nur, Rihana tersenyum lalu Rihana mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam kantongnya, sedikit demi sedikit Rihana menaburkan sesuatu dari botol itu ke make up Nyonya Nur.
Setelah itu Rihana segera keluar lagi, dan menutup pintu kamar rapat-rapat.
Rihana kembali ke dapur untuk melihat apakah pelayan yang pagi ini bertugas menyiapkan sarapan telah selesai mengerjakan tugasnya.
Rihana masuk kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri dan menunggu jam sarapan tiba.
"Aaaaa!" suara Nyonya nur teriak, membuat semua yang ada di rumah makan segera berlari ke kamar Nyonya Nur, Rihana pun sama seperti yang lain berlari menuju kamar Nyonya Nur.
"Ada apa Bu?" tanya Setyo menatap cemas ke arah ibunya.
"Make up ibu" seru Nyonya Nur.
Menunjuk ke arah meja rias, Setyo segera melihat apa yang menyebabkan ibunya teriak pagi-pagi.
"Kenapa semua seperti ini?" tanya Setyo.
"Ibu juga tak tahu, semua itu baru ibu beli dan cukup mahal namun kenapa bisa hancur dan menggumpal seperti itu!" jelas Nyonya Nur.
"Mungkin sudah kadaluarsa!" ucap Rihana.
"Bodoh! mana mungkin make up mahal seperti itu kadaluarsa" omel Nyonya Nur pada Rihana.
"Aku kan bilang tadi mungkin" jawab Rihana.
"Sudah besok aku ganti, sekarang ibu turun untuk sarapan, sebentar lagi aku harus pergi bekerja" ucap Setyo sambil menatap k arah ibunya.
"Sepertinya ibu lebih segar hari ini, aku senang melihat ibu seperti ini, kembali" ucap Setyo.
"Benarkah?" tanya Nyonya Nur, dengan wajah di pasang bahagia.
Rihana mendengus kesal, Rihana berharap Setyo melihat ibunya tanpa make up dan menimbulkan curiga di hati Setyo, tapi sepertinya Setyo memang polos tak pernah sedikitpun curiga pada ibunya.
Rihana segera kembali ke ruang makan, di susul Setyo dan Nyonya Rihana yang tampil tanpa make up pucat nya.
"Bagaimana kita ke rumah sakit untuk memeriksa kondisi ibu, untuk menyakinkan perkembangan kesehatan ibu, aku melihat keadaan ibu jauh lebih baik sekarang, aku begitu amat senang"
"Tidak usah ibu bisa pergi sendiri"
"Aku banyak waktu luang hari ini"
"Nanti saja, jika ibu sudah siap ibu pasti akan pergi sendiri ke sana"
"Terserah ibu saja!"
Rihana segera menyelesaikan sarapannya lalu membereskan bekas sarapannya tanpa berkata apapun.
__ADS_1
Rihana masuk ke dalam kamarnya, meluapkan kekesalannya karena rencananya gagal.
"Aku harus memikirkan rencana lain" ucap Rihana.
***
Salsa yang semakin terkenal membuatnya dirinya semakin sibuk jadwal show di mana-mana tawaran untuk tampil di acara televisi pun setiap hari, kehadirannya selalu saja di tunggu para penggemar nya. Tentu saja itu membuat Ratna meradang, bagaimana bintang baru seperti Salsa bisa begitu mudah naik, sedangkan dirinya butuh waktu bertahun-tahun dalam meniti karir agar sampai di tempat nya sekarang.
"Dia pasti melakukan hal yang tidak baik di belakang" ucap Ratna.
Ratna bangkit dari duduk menghampiri Salsa lalu menampar Salsa keras, membuat semua yang ada di sana terkejut.
"Apa yang kamu lakukan?!" teriak Salsa.
"Membalaskan sakit hati temanku!" jawab Ratna.
"Teman? teman yang mana?" teriak Salsa sambil memegang pipinya yang terasa sakit akibat tamparan.
"Teman yang kamu rebut calon suaminya"
"Dasar wanita licik! tidak tahu malu!"
Salsa yang tidak tahan lagi mendengar tuduhan Ratna, menjambak rambut Ratna dengan kuat-kuat membuat Ratna meringis kesakitan.
"Jangan suka menuduh tanpa bukti, aku akan membawa ini ke pihak yang berwajib!"
"Silahkan, akan aku buktikan semua yang telah kamu lakukan hingga kamu malu dan mundur dari dunia ini untuk selamanya!" ucap Ratna.
Ratna menatap Salsa tajam tak menduga jika Salsa berani melawan, Ratna pun segera meninggalkan Salsa.
Ratna merasa marah pada Salsa menelepon Rihana, menceritakan apa yang telah terjadi padanya, Rihana tersenyum kecil mendengar bahwa Salsa telah mempermalukan Ratna.
"Baiklah besok aku akan memberikan bukti itu padamu!" ucap Rihana.
Rihana membaringkan dirinya di atas tempat tidur, tersenyum lebar, akhirnya semua akan hancur bersama dirinya yang sudah hancur terlebih dahulu.
Rihana tertawa keras membayangkan yang akan terjadi nanti.
***
Rihana seperti biasa di rumah Setyo dia sedang berperan menjadi wanita baik dan penurut, tentu saja itu mendapat perhatian dari Nyonya Nur yang mengenal siapa Rihana, Rihana Taka akan mau turun ke dapur jika tak ada maksud tertentu, pagi itu Nyonya Nur mendatangi Rihana yang sedang menyiapkan sarapan pagi itu.
"Ehm!"
"Sudah bangun" ucap Rihana melihat Nyonya Nur datang.
"Seharusnya aku yang bilang seperti itu padamu!" balas Nyonya Nur.
"Aku sudah biasa bangun pagi belakangan ini, jadi tidak ada yang istimewa lagi"
__ADS_1
"Justru itu yang istimewa, melihat dirimu berusaha keras mengambil hati kami, agar tetap tinggal di rumah ini!" sindir Nyonya Nur.
Rihana menoleh ke arah Nyonya Nur lalu berkata pelan.
"Mungkin kamu benar, tapi aku bisa apa lagi, tak ada lagi yang aku punya"
Nyonya Nur tertawa kecil, bisa juga Rihana berperan menjadi wanita yang pasrah pada keadaan.
"Aku mau minta ijin keluar nanti siang, ada teman yang ingin bertemu, kami mempunyai urusan sedikit" lanjut Rihana.
"Tentu saja, silahkan kamu pergi, tak akan ada yang melarang" jawab Nyonya Nur.
"Baiklah terimakasih atas pengertiannya" balas Rihana lalu duduk di kursinya setelah selesai mengerjakan tugasnya.
Selesai sarapan dengan sigap Rihana mengerjakan tugasnya lalu pergi ke kamarnya.
"Sepertinya Rihana sudah berubah" ucap Setyo
"Jangan terlalu cepat menyimpulkan!" balas Nyonya Nur.
"Aku harus segera pergi ke kantor,ada rapat pagi ini!" pamit Setyo.
"Baiklah hati-hati"
"Tunggu!" seru Rihana melihat Setyo pergi.
"Ada apa?"
"Boleh aku ikut mobil kamu" ucap Rihana sambil tertunduk.
"Mau kemana?"
"Bertemu teman, tapi kamu tahu sendiri aku tak punya kendaraan bahkan uang" ucap Rihana lagi dengan wajah sedihnya.
Setyo menarik nafasnya mendengar perkataan Rihana.
"Bekerjalah, nanti kamu akan mendapatkan uang"
"Memang ada yang mau menerima aku bekerja di usia aku sekarang bahkan aku tak punya pengalaman apapun"
"Aku akan mencarikan yang cocok untuk kamu"
"Benarkah??"
"Tentu saja bukankah aku sudah pernah bilang"
"Maaf aku harus pergi sekarang, jika kamu mau ikut cepatlah"
"Aku sudah siap"
__ADS_1
"Baiklah" ucap Setyo yang tertegun melihat penampilan Rihana yang serba sederhana, biasanya jika keluar Rihana selalu memaksimalkan penampilannya.