
Mona dan Salsa menoleh ke arah suara keras berasal, Mona dan Salsa terkejut saat tahu siapa yang menjadi biang keributan.
"Juna!" seru Salsa, sedangkan Mona menatap dengan pandangan yang tak tahu bagaimana perasaan nya, di matanya terlihat rasa terkejut di barengi rasa takut dan juga bingung dan rasa penuh p
tanda tanya.
Mona melihat ke arah Juna, memperhatikan ekspresi wajah Juna, Mona penasaran apakah Juna mendengar obrolan dirinya dan Salsa barusan, ingin rasanya Mona bertanya langsung, tapi itu tak mungkin bisa di lakukan begitu saja.
Mona menoleh ke arah Salsa yang masih memandang ke arah Jauna berada. Mona melihat senyum lebar Juna terlihat untuk Salsa.
"Ehm!" gumam Mona, menyadarkan Salsa dan Juna.
Salsa menoleh ke arah Mona, lalu tersenyum malu, Mona tersenyum kecil membalas senyum Salsa.
Salsa mendekati Juna lalu bertanya "apa kabar, lama tidak bertemu?"
"Baik, kamu bagaimana?" tanya balik Juna.
"Sepertinya yang kamu lihat!" jawab Salsa.
Mona dengan sedikit ragu meminta Juna menemani Salsa, sedangkan dirinya masuk ke dalam untuk membuatkan minuman untuk Salsa yang belum sempat ia lakukan sebelumnya dan tentu juga untuk Juna.
Juna menatap Salsa yang ada di hadapannya, makin di lihat Salsa terlihat semakin cantik, ingin rasanya Juna menyentuh wajahnya yang cantik itu.
"Apa ada yang salah denganku?" tanya Salsa
"Tidak, kamu hanya terlihat makin bersinar hingga sulit untuk aku lihat karena Kilauan dirimu membutakan mataku" ucap Juna.
Salsa yang mendengar itu tersenyum, Juna pun sudah terlihat berbeda, Juna terlihat lebih rileks.
Mona yang selesai membuatkan minuman terpaku melihat Salsa dan Juna yang asyik mengobrol, mereka terlihat bahagia.
*Apa Juna tadi mendengar obrolan kami?* bathin Mona bertanya-tanya.
Di lihat dari sikap Juna tadi sepertinya dia tidak mendengar, tapi entah mengapa tadi dia sempat membuat keributan, atau hal itu tidak di sengaja.
Mona mendekati Salsa dan Juna dengan membawa dua gelas minuman.
"Asyik sekali kalian!" ucap Mona basa basi.
***
__ADS_1
Di tempat lain, Chika yang sudah selesai mengantar adik-adiknya, mengeluarkan handphone nya dari dalam tas, lalu menelepon seseorang.
"Halo" suara bervolume bas ciri seorang pria yang tampan menerima telepon darinya.
"Halo aku Chika"
Burhan terdiam saat tahu siapa yang sedang menelepon dirinya.
"Mau apa kamu?" tanya Burhan.
"Tak bisakah kamu sedikit lembut padaku" lanjut Chika.
Burhan terdiam, apa yang sebenarnya di mau oleh gadis ini, kenapa akhir-akhir ini sering mengganggu dirinya.
"Ada apa?" Burhan melembutkan suaranya pada Chika membuat Chika tersenyum lebar.
"Bisa kita ketemu?" tanya Chika.
"Kenapa?"
"Apa kamu tak ingin tahu siapa anak dari istri kamu?"
"Haruskah?" tanya Burhan.
"Itu tergantung kamu, jika kamu masih sayang sama istri kamu lupakan saja hal ini, tapi jika kamu ingin tahu kebenarannya datanglah ke kafe pelangi jam makan siang nanti, kita makan siang bersama" ucap Chika lalu mematikan sambungan teleponnya.
Burhan terduduk lemas di kursinya, jika benar apa yang harus di lakukan pada Mona,
bagaimana dengan Thomas, putranya?.
Chika melihat jam di tangan nya lalu seger pergi ke tempat di mana dia akan bertemu pria matang yang tampan, yang sering menggelitik hatinya belakangan ini.
Setengah jam Chika sudah menunggu kedatangan Burhan, tapi Burhan belum juga kelihatan batang hidungnya, membuat Chika kesal sendiri.
Tapi Chika tak berniat meninggalkan tempat tersebut, dia lebih memilih untuk sabar menunggu kedatangan Burhan, Chika yakin Burhan akan datang menemuinya.
"Siang!" suara khas Burhan terdengar merdu di telinga Chika .
Chika tersenyum lebar pada Burhan, tapi Burhan tak membalasnya, hingga Chika sedikit mendengus kesal.
"Langsung saja!aku tak punya banyak waktu!" ucap Burhan langsung.
__ADS_1
"Tapi aku sudah memesan makanan dan aku berniat menghabiskannya dahulu baru bicara denganmu"
Burhan memandang ke arah Chika, gadis muda yang cantik dan menarik.
*Dia cantik seperti kakaknya, tapi dia sedikit terlihat nakal* bathin Burhan.
"Apa aku cantik?"
Burhan yang mendapat pertanyaan seperti itu, terkejut lalu mengembangkan sedikit senyumannya.
"Cepatlah kamu, aku ada janji dengan pasien sebentar lagi!" Burhan mengeluarkan kata-kata, dengan tidak menjawab pertanyaan Chika barusan.
Burhan tidak tahu harus bagaimana menghadapi gadis yang ada didepannya sekarang, dia sebenarnya menarik namun tingkah dan gayanya membuat Burhan sedikit tidak suka.
"Katakan siapa anak Mona?" tanya Burhan langsung.
"Aku" jawab Chika dengan jelas.
"Salah satunya" lanjut Chika melihat Burhan tidak percaya kata-katanya.
"Jadi ada berapa? anak Mona"
"Lima, kamu pasti tahu siapa mereka"
"Apa Salsa termasuk di dalamnya?" tanya Burhan, Chika langsung mendengus kesal mendengar Burhan menyebut nama Salsa.
"Kenapa? Kamu seperti tidak menyukai Salsa!"
"aku tak suka dia, karena dia selalu merasa benar tak pernah salah"
"apa kamu punya bukti jika kamu adalah anak Mona?"
"tidak! tapi aku bersedia tes DNA jika hal itu benar"
Burhan terdiam berarti Chika mengatakan yang sebenarnya, Burhan tak menyangka jika Mona adalah wanita jahat berwajah lembut, Burhan merasa tertipu oleh Mona, Burhan di bawah meja menyembunyikan kepalan tangannya.
"diamlah!" ucap Chika pada Burhan, Burhan menatap aneh pada Chika, Chika mengangkat tangan kanannya lalu mengambil tissu dan menyeka dengan lembut, bekas kopi pada sisi bibir Burhan, membuat kedua mata mereka saling beradu pandang untuk sekian lamanya.
kamu akan menjadi milikku, bathin Chika.
Dia termasuk wanitq lembut, hingga aku bisa merasakan perhatian nya, bathin Burhan
__ADS_1